Cintaku Juga Darahku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 18 June 2016

Sejak kejadian beberapa tahun silam, seiring berjalannya waktu yang aku lewati dengan rasa trauma yang sangat mendalam. Sejak kejadian bencana alam itu tejadi, masih ku ingat betapa isi bumi ini hancur dengan sekejap kedipan mata, semuanya terluluh lantahkan. harta benda yang tak tersisa, dan begitu pula dengan ribuan orang harus pergi meninggalkan seluruh keluarganya, dan salah satunya yaitu ibu dan adikku yang entah kemana, mungkinkah sudah terseret ombak ataupun masih selamat hingga sekarang. Ku cari di antara ribuan orang tersebut yang telah terkapar dengan mata tertutup dan tanpa hembusan nafas, juga di antara orang yang terlunta-lunta mencari keluarganya, seta ribuan orang yang sedang merintih dengan rintihan kesakitan. Pada umur ku yang masih 12 tahun aku melihat hal tersebut melihatnya tanpa kasat mata. Entah kemana ibu dan adikku salah satu keluarga yang masih tersisa dan menemani hidupku yang sangat aku sayangi…

Saat itu pun aku mulai memulai petualangaku, setelah sekian lamanya aku mencari ibu dan adikku yang tak kunjung aku temui, aku biasa pergi ke pelabuhan dimana aku dan adikku selalu menemani ibu untuk mencukupi kebutuhan keluargaku dengan menjual jenis hasil laut, dan kini tempat itu hanya tinggal sebuah kenangan, dengan penuh lukisan masa laluku dengan ibu serta adik ku. Tak henti-hentinya ku memandang tempat itu, dan hanya dengan cara itulah aku mengenang mereka. Air mataku tak dapat ku tahan, ingin rasanya aku membwa ibu dan adikku dalam kehidupanku yang sekarang ini, kan ku tuntun ibuku dan kurangkul adikku denga berkata “kalian surgaku dan kini aku sudah berhasil meraih apa yang diimpikan sejak dulu”.
“Nak Syafi ya, benar ini syafi” perempuan tua memegang pendakku dengan tangannya yang keriput dan rambutnya yang sudah memutih. Tak lain ia adalah bu Yam yang menemaniku dulu sebelum aku pergi ke jakarta di usia ku yang masih 12 tahun silam. Dan ternayata orang tua ini masih mengingatku, ku peluk dia layaknya ibuku sendiri, karena aku baru melihatnya sekarang disaat umurku genap 26 tahun. “Bu Yam, benar ini Syafi, subhanallah Bu Yam gimana keadaannya? Kabar dari orang setempat, bu Yam pindah ke kampung sebelah.” Dengan percakapan yang sedkit singkat aku berpamitan pulang karena rekan kerja ku. Ari telah meneleponku karena ada urusan meating yang mendadak. Sangat menyesal rasanya pertemuan ini harus cepat berakhir dengan wanita yang sudah lama aku cari sebagai pengganti ibuku sejak ia tak lagi bersama ku.

“Kerja yang sangat baik Syaf, selamat kawan” Ari menjabat tanganku sedangkan beda dengan wanita yang berjalan di sampingku, ia tidak banyak berkata hanya melihatku dengan tersenyum dengan kata “Alhamdulillah, semoga tetap dalam kesuksesanmu”. Ia adalah Riva, wanita yang mempunyai kepribadian baik, dengan akhlak yang mulia dan juga selalu berhijab kemanapun ia pergi dengan dalam situasi seperti apapun. Sungguh bagai bidadari surga atas kecantikan budi pekertinya dan kelembutan hatinya yang terpancar dengan keindahan paras wajah nan anggun. “terimakasih, tanpa kalianlah pekerjaan ku tidak akan berjalan dengan baik”. Mereka memang rekan kerja sekaligus sahabat yang sangat baik, dengan segala dukungan dan bantuan mereka sehingga semuanya berjalan dengan lancar tanpa suatu halangan. “Syaf, aku duluan ada sesuatu yang harus aku selesaikan”. Ari pun segera menuju mobilnya. Sedangkan Riva harus menunggu minibus di halte depan kantor. “Va, sekalian aku anterin kamu saja, dari pada harus menungguu minibus yang nantinya larut malam, lagian ini bukan jam seperti biasanya, dan sekarang ini juga sudah malam”. ajakanku agar Riva pulang bersamaku saja. Karena aku juga tidak tega dengan meninggalkan sosok perempuan seperti Riva sendiran malam-malam dengan menunggu minibus yang tidak pasti jamnya. “eh, tidak apa-apa mas Syafi, Riva bisa pulang sendiri kok nungguin minibus disini”. ucapnya entah apakah ia menolak atau tidak ingin merepotkanku. “tapi Va, tidak apa-apa, aku tidak macam-macam, aku tidak ingin meninggalkan wanita sendirin malam-malam, aku juga tidak merasa direpotkan, aku akan merasa senang jika kamu berkenan untuk diantarkan ku pulang”. tawaranku lagi, dengan memastikan jawaban dari Riva. “baiklah aku akan pulang dengan diantar olehmu, terimakasih”. Akhirnyya Riva pun berkenan untuk diantrakanku pulang ke rumahnya.

Pada hari ini kantor ku terasa sepi tanpa kehadiran Riva. aku tidak melihat Riva saat ini, rasanya kelengkapan ini terasa kurang jika tiada Riva, aku rasa aku sedang jatuh cinta kepada Riva, karena kelembutan hatinya ini semua bisa terjadi, selain itu aku melihatnya ia merupakan wanita yang sangat berbeda dengan wanita lainnya, oh bidadari surgaku…
“Stop ngelamun pada saat bekerja!”. ternyata Ari yang diiam-diam sejak tadi di sampingku dengan membawa beberapa berkas di tangannya. “kamu selalu datang disaat aku mulai melamunkannya” ucapku sedikit bercanda dengannya. “kalau cinta ya sudah tinggal dilamar saja, jangan melamunkan terus, nambah dosa juga, cepat halalin selagi masih belum dihalalin orang lain, Riva istimwa Syaf, sangat banyak laki-laki yang antri di belakang untuk menjadi imamnya”. Karena Ari sudah paham dengan semuanya, dengan saran yang bagus. Setelah aku menandatangani semua berkas itu Ari segera kembali bekerja. Mengingat dengan semua pembicaraan Ari aku mempunyai keinginan untuk segera menghalalkan Riva, karena aku sudah mantap dengan isi hatiku selama ini. Ia wanita yang sangat tepat untuk perhiasan duniaku.

Selesai sudah semua pekerjaanku, segera aku memutuskan untuk pergi membeli sesuatu untuk kuberikan kepada Riva sang bidadari surgaku. Benar-benar di batas angan keinginanku untuk cepat mempersunting Riva. Betapa indahnya sebuah keluarga jika diisi perhiasan seperti sosok Riva, lagi lagi pikiranku menuju kepada hal yang seperti itu. “Tidak, tidak kamu memang harus bertindak cepat, sebelum bidadari surgamu hidup bersama dengan orang lain”. Hatiku menuntun dengan sangat dipenuhi rasa ingin memelikinya.

Sedangkan Riva di rumahnya merasakan sesuatu yang beda. Ia tidak pergi bekerja karena masih teringat saat Syafi mengantarkannya, dengan sedikit ketenangan di rumah lebih baik. Rasa bahagia yang ia rasakan, namun di sisi lain menurut Riva hal tersebut merupakan hal konyol dan bodoh. Mana mungkin Syafi menaruh hati padanya. “aah.. sudah Riva, kamu bukan siapa-siapa, pasti Syafi seleranya sangat tinggi” Riva berbicara kepada dirinya sendiri di depan cermin dengan sedikit menghembuskan nafasnya. “tapi rasa ini sangat aneh, rasanya perasaanku sangat kuat, dan ini beda, dulu saja pada saat noval melamarku rasanya tidak seperti ini, tetapi mengapa dengan Syarif hatiku terasa terikat dan terasa ada maghnet yang rasanya saling tarik menarik”. Curhatan Riva kepada cermin di kamarnya, karen ia tidak mempunyai siapa yang dapat mendengarkan keluhan semacam ini. Yang sangat dianggap mustahil bagi dirinya sendiri

Hari telah berlalu, segala pemikiran yang telah aku pikirkan matang-matang, tentunya dengan harapan yang tidak mengecewakan. Dengan berharap apa yang aku impikan menjadi sebuah kenyataan. Keringat dingin di telapak tanganku pun mulai terasa “optimis Syarif, pasti bisa dengan semuanya, kejarlah bidadarimu, jangan biarkan ia terlepas dari genggaman hatimu, bismillah”. Jeritan semangat yang keluar dari hati kecil ku dan ku langkahkan kaki ku untuk segera menemui ruang kerja Riva. Disana aku lihat ia tidak terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Kuberi pengumuman agar semuanya berhenti sejenak dan disana juga terlihat ada Ari yang mengepalkan tangannya merupakan suatu isyarat semangat untukku. “perhatian semunya, silahkan untuk berhenti sejenak dari pekerjaannya ada hal penting yang akan saya bicarakan”. kataku santai namun sedikit juga di selingi dengan rasa nervous. “Hari ini merupakan hari yang akan berarti bagi saya, bahwa saya akan mengumumkan atas hadirnya bidadari surga yang selama ini mampu membuat saya berhayal untuk menggapai surga dengannya, Riva, yaa.. Riva ialah bidadari surgaku yang telah merasuki jiwaku selama ini” ucapku dengan menghampiri Riva dan menggenggam tangannya, aku membungkukkan badanku di dupan tangannya dengan megeluarkan cincin berlian yang telah ku persiapkan dari jauh harinya. Ku lihat ia tertunduk, apakah ia malu atau malah merasa tidak suka dengan caraku yang seperti ini. “Riva, selama ini aku sangat mengagumimu secara diam, dan aku merasa sangat ingin menjadi bagian hidupmu, akan kupinang kau atas ridho-nya, maukah kau menjadi bidadari dunia maupun bidadari surgaku?” ku genggam tangannya dengan masih keadaan aku membunggkuk di hadapannya. Ternyata aku melihat air mata dari pipi Riva dengan tersenyum haru dia memegang kedua pundakku dengan dan membuatku berdiri tegap di hadapannya. “Selama ini aku juga menyimpan perasaan secara diam, aku merasakan hal yang sangat kuat ketika sedang bersama mas Syarif, yakinlah mas tidak akan mengecewakan ku?”. ucap Riva yang kelihatannya ia memimta aku untuk meyakinkannya. “Insha allah, bidadari surgaku akan tetap ku jaga, dan akan tetap aku lindungi dalam keadaan apapun”. ucapku dengan meyakinkan Riva sekali lagi. “atas ridho Allah, Riva akan menjadi bidadari surga untuk mas Syafi”. Jawaban itu sungguh sangat menggetarkan seluruh jiwaku, kebahagiian ini sekarang lengkap sudah. Akhirnya ia sekarang benar-benar akan menjadi bidadri surgaku. Akan kusayangi ia sepenuh hatiku dan aku akan menjaganya. Ia merupakan anugerah terindah dan amanat dari Allah yang benar benar harus ku lindungi dan ku jaga sebagaimana suatu amanat yang telah dititipkan serta yang sebagaimana telah diamanatkan.

Kali ini aku ingin menunjukkan sebuah pemandangan yang sangat indah dan niatan untuk menceritakan semua kenangan lamaku yang ku cari-cari selama ini. Dengan melabuhkan semua isi hatiku kepadanya. Di bawah pohon yang rindang dengan pemandangan danau yang luas menambah kesejukan hati, apalagi dengan di temani bidadari surgaku. Hatiku mendorong untuk menceritakan segala apa yang telah terjadi dan pada akhirnya aku memulai semua ini entah dari kisah yang mana terlebih dahulu.
“Va, berjanjilah dengan tetap di samping ku dan menjadi sandaran kepiluanku serta menjadi perhiasan duniaku”. Mendengar kata-kataku Riva menoleh ke arahku dengan tersenyum dan mengangguk dengan sangat lembut. Sungguh ciptaan tuhan yang benar-benar telah sempurna. “Masa laluku yang membuatku merasakan trauma dan bayangan yang tidak bisa membuatku lupa dengan kejadian bencana alam di tahun silam, aku kehilangan orangtuaku dan juga adik ku, aku telah mencarinya kemana-mana dalam waktu yang lama, namun mereka tak kunjung aku temukan. Entah kemana perginya mereka, tapi hingga saat ini aku merindukan mereka dan sangat menyeyangi mereka”. Aku bercerita dengan banyak. Namun Riva, ia memandangku dengan mata berkaca-kaca “aku juga mengalami hal yang sama, namun aku harus ditemukan oleh para penyelamat dan aku diangkat sebagai anaknya hingga mereka meninggal dalam suatu kecelakaan maut”. Ia menceritakan kehidupan pada masa silamnya juga yang kelihatannya juga tak seindah dugaanku. “tetapi aku bersyukur, ada seorang wanita yang sudah mau merawatku hingga aku merantau pergi kesini, ia mengganti namaku, Syarif Hidayat dengan menjadi Syafi, wanita hebat itu bernama Bu Yam”. Tambahku lagi, namun respon Riva kaget dengan jawabanku ia menagis dengan sambil memelukku “Kau lah kakak tersayangku, kau lah yang selama ini aku cari, kau yang selama ini aku tunggu”. tangisnya yang sangat terisak-isak dengan memelukku erat. “tunggu, maksudmu apa Va, aku tidak mengerti mengapa kau bilang bahwa aku ini kakak mu?”. dengan rasa penasaran yang sampai pada puncaknya. “Aku Sari kak, adikmu yang hilang pada kejadian stunami 14 tahun yang lalu, karena aku yang tidak sempat ingat apapun maka keluarga itu memberiku nama Riva. Nama tersebut merupakan nama dari anak mereka yang telah meningggal disaat seusiaku dulu, dan ternayata rasa yang aku rasakan selama ini, hati yang terasa terikat tak lain merupakan ikatan batin antara seorang adik dan kakak?”. Tangisnya semakin terasa sakit, aku juga ikut menagis dengan tak dapat membendung air mataku, kubalas pelukannya, rindu yang sekian lama akhirnya tertumpahkan pada saat ini. Akan tetapi kenapa aku harus mengenalnya sebagai sosok gadis yang aku cintai dan ternyata aku menjalin ikatan dengan adik kandungku sendiri, mejalin pertunangan dengan adik kandungku. “Haruskah cinta sedarah ini terjadi” teriakan di dalam hatiku. Batinku menolak namun apa daya teryata Riva sang bidadari surgaku yaitu adalah Sari surga kecilku dahulu yang telah terpisah bertahunn-tahun lamanya karena suatu bencana dahsyat yang melanda. Akhirnya aku pun mengumumkan di kantor kepada para saksi cinta bahwa ternyata bidadari surgaku merupakan Bidadari kecilku yang telah lama hilang. Sungguh kuasa Allah yang sudah mengatur semuanya dan menjadikan hidup ini penuh dengan sebuah anugerah.

Cerpen Karangan: Soviya (Viviy)
Facebook: Viviy

Cerpen Cintaku Juga Darahku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kapan Cahaya Nyata Itu Datang, Bu

Oleh:
Pernahkah kalian merasa seperti gila? Ya mungkin kalian belum dan aku sudah. Aku merasa diriku sudah gila, aku tertekan karena keadaanku yang seperti ini. Aku seperti hidup di dua

Gadis Bermata Sendu

Oleh:
Gadis itu berlari, tak peduli angin menerpa. Matahari begitu terik, sampai burung tak berkutik. ia terus melangkah dengan derap yang sangat cepat. “Ibu kembali, Bu! Kumohon” teriak si gadis

Boyfriend

Oleh:
“hei, kan sudah kubilang kalau yang itu jangan pasang di sudut sana tapi pasang di atas, ngerti nggak sih kalian!” “udahlah Sel, hampir seluruh anggota panitia yang ada disini

Tangisan Terakhir

Oleh:
“Abi ayo cepat hari ini nur upacara apalagi nur sebagai protokol, nanti kalo gak ada nur upacaranya bisa hancur dong” pinta Nur pada abinya. “Iya nak abi bawa motornya

Pisang Goreng Mama

Oleh:
Ya kalian pasti tau kan rasa pisang goreng itu sangat enak? Tapi ini beda banget rasanya. Sejak kecil aku sangat menyukai makanan yang namanya pisang yang digoreng, walaupun aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *