Cintaku Semanis Coklat (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 19 June 2014

“coklat… coklat… coklat” itulah kata yang selalu terucap dari mulutku tiap hari, sambil berkeliling dengan sepeda kecilku mengayuh dari desa tempatku tinggal hingga ke desa tetangga. Teriknya matahari yang menyengat kulitku sudah biasa kurasakan, apalagi aku juga harus menyebrangi jalan raya untuk sampai ke desa tetangga, memang lelah rasanya namun apa boleh buat aku harus melakukannya karena disanalah banyak langganan coklatku. Yap, aku harus membantu kedua orangtuaku karena penghasilan mereka tidak banyak sebab ayahku hanyalah seorang buruh kuli, belum lagi ditambah untuk sekolahku dan adikku.

Perkenalkan namaku Alvionella Kimberly Cheza panggil saja Vio, kini aku duduk di bangku 1 SMA sekolah di SMAN 02 Harapan Bangsa. Aku bisa dibilang orang yang cukup beruntung, karena aku bisa masuk di sekolah yang fasilitasnya lumayan bagus dan lengkap juga termahal antara SMA yang lainnya, aku bisa masuk disana karena aku mendapatkan beasiswa dari sekolah, karena aku selalu juara kelas.

Tiap sepulang sekolah aku harus sudah bersiap-siap untuk berjualan coklat keliling, yap terdengarannya sih cukup aneh namun memang kenyataannya begitu. Dengan mengandalkan keahlianku dalam membuat coklat, aku bisa berjualan coklat keliling untuk penambahan uang untuk makan dan sekolah, aku berjualan keliling karena aku tidak punya modal untuk membuka toko.

Kadang setiap aku sedang berkeliling berjualan coklat, tak jarang banyak teman sekelas ku melihat aku yang sedang berjualan. Banyak di antara mereka yang selalu menertawakan aku, karena aku terlihat kumel dan dekil dengan pakaian ku yang terlihat berwarna seperti lumpur yang berserakan di badan ku dan “uhh, bau air comberan! Belum mandi ya, haha…” itulah yang selalu mereka katakan setiap aku bertemu dengan mereka. Aku sih biasa-biasa aja, buat apa malu toh asalkan halal lagi baik.

Namun ketika sedang asik berjualan coklat tiba-tiba tak sengaja ada seseorang yang menabrak sepedaku hingga akhirnya membuat coklat-coklatku jatuh dan rusak semua. “hei, kalo jalan pake mata dong” terdengar ocehan seseorang terhadapku. “dia yang nabrak gue, malah dia yang ngocehin gue! Emang edan manusia sekarang!” kesalku dalam hati. Aku pun membersihkan coklat-coklatku yang terjatuh di tanah dan perlahan-lahan aku pun berdiri. “hei mbak, punya mata gak sih! Gara-gara mbak mobil saya jadi penuh coklat nih!” ocehnya. “hei, asal anda tau ya! Lo yang nabrak gue pake nyalahin gue lagi, gak tau diri banget jadi cowok” kesalku. Namun pria itu tak memperdulikan ocehanku dan juga coklat-coklatku yang rusak semua akibat ulahnya, ia pun pergi meninggalkan aku disitu dan melajukan mobilnya dengan sangat kencang seperti angin yang lewat secara tiba-tiba dan tidak terlihat. Begitupun dengan aku, aku tidak memperdulikan siapa namanya, alamatnya, dan sekolahnya dimana. Yang akan selalu ku ingat akan ganti rugi atas kerusakan coklat-coklatku tadi.

Seiring berjalannya waktu langit seakan-akan disulap berubah menjadi jingga, matahari perlahan-lahan ditelan oleh bumi. Tanda waktu malam hari akan segera tiba, aku pun bergegas mengayuhkan sepedaku kearah jalan pulang ke rumah. Tak lama kemudian aku pun sampai di rumah dan menceritakan semua kejadian tadi siang kepada ibuku. “sudahlah nak, ikhlaskan saja! Mungkin belum rezeki aja, ya udah sana tidur besok sekolah” kata ibu dengan nada lembut. Mungkin bisa dibilang aku agak marah sama ibu ku, karena ibu ku sangat baik sampai-sampai mengikhlaskan itu semua begitu saja, tapi ya sudahlah mungkin benar yang dikatakan ibu kalau itu semua belum rezekinya. Sehabis berbincang-bincang kepada ibu aku pun perlahan-lahan menerjunkan diri ke pulau kapuk ku dan sedikit demi sedikit aku pun memejamkan mataku dan akhirnya aku pun terlelap sudah.

Cerpen Cintaku Semanis Coklat

“hai!” kata seseorang dengan memegang pundak ku. “hai juga” jawabku sambil melihat wajahnya yang hanya terlihat hanya sedikit. Namun tiba-tiba pria itu pergi tanpa sebab, aku pun mengejarnya. “hei, mau kemana? Namamu siapa? Hei tunggu..” kataku. Namun tiba-tiba “aaa..aaa..aaa..” gubrak. “aduh sakit, ternyata cuma mimpi!” kataku dengan memegang kepalaku yang sakit. Dengan malas berdiri terlihat kedua tanganku sedang mengobrak-abrik meja, yap aku sedang mencari jam waker ku dan akhirnya kedua tanganku pun berhasil meraihnya dan dengan mata masih terpejam aku pun melihat jam dan “Aaaa.. jam 7” dengan wajah kaget. Akhirnya aku pun dengan terburu-buru langsung ke kamar mandi dan bersiap-siap ke sekolah. Dengan terburu-buru aku pun ke ruang makan sambil memegang 1 buah roti dan langsung pergi dengan sepedaku dan berpamitan.

Tak sampai 5 menit akhirnya aku pun sampai di gerbang sekolah, setelah sampai aku pun memakirkan sepedaku dan pergi ke kelas. Seperti biasa Bela, Indah dan Karin selalu setia menungguku di kelas, aku pun menyapa mereka dengan melontarkan senyuman. Yap, mereka adalah teman-temanku yang paling baik mereka tidak pernah membeda-bedakan teman tidak seperti yang lainnya, namun saat kami sedang asik bercanda bel pun berbunyi.

Anak-anak terlihat bergerombolan masuk ke kelasnya masing-masing, begitu pun dengan kami yang terburu-buru masuk ke kelas, yap karena pelajaran pertama yaitu pelajaran bahasa indonesia yang terkenal gurunya sangatlah galak, namanya Bapak Arman. Sebenarnya sih gak galak, tapi ya gitulah kata anak-anak yang lain. Terlihat di samping Pak Arman ada seorang pria, mungkin anak baru. Tapi sepertinya aku pernah bertemu dengannya, aku pun dengan telitinya mengingat wajah itu dan ternyata itu adalah orang yang pernah menabrakku waktu itu. “ngapain tuh orang disini, awas aja tuh anak” batinku.

“baiklah anak-anak, sebelum ke materi bapak akan memberitahukan kepada kalian bahwa kita kedatangan murid baru. Baiklah perkenalkan dirimu” kata Pak Arman. “hai semua, perkenalkan namaku Aldi Joy Steven panggil saja Aldi aku pindahan dari SMAN 01 Mutiara” katanya dengan nada ramah. “jadi Aldi namanya, sok ramah banget tuh anak” kesalku dalam hati. “baiklah Aldi, kamu duduk di bangku yang kosong! Yang kosong ada di…” kata Pak Arman sambil melirik ke meja-meja yang lain dan lirikannya tiba juga ke meja punyaku. “itu, kamu duduk disitu” sambil menunjuk ke arah meja punyaku.

Langkah demi langkah akhirnya ia pun sampai di mejaku dan “lho” katanya kaget setelah melihatku. “lo sekolah disini! WHAT, gimana ceritanya. Tukang penjual coklat keliling bisa sekolah di SMA termahal ini! Haha..” katanya sambil menertawakanku. “emang ada ya undang-undangnya kalau anak penjual coklat keliling gak boleh sekolah di SMA mahal ini. Songong banget lo, udah merasa paling kaya aja” jawabku sinis. “dilihat-lihat cantik juga nih cewek kalau lagi marah! Ya, walaupun agak dekil, bau, udah itu dandanannya norak banget” batin Aldi sambil seyum-senyum sendiri melihatku.

Terlihat genk Angel, Maurin dan Pita lewat depan kelasku sambil bengong melihat Aldi. “entah kenapa gue kok gak suka sih kalau genk Angel ngelihat Aldi sampe segitunya! Ahh.. apa an sih” batinku. “anak baru itu cakep banget” kata Maurin. “eh, itu cowok punya gue! gue kan cewek tercantik di sekolah ini, pasti dia suka dong sama gue. namanya siapa sih, penasaran” kata Angel dengan pedenya. “ih, pede tingkat gila lho” jawab Pita. Tak disangka Pak Arman melihat mereka yang senyum-senyum sendiri di depan kelasku. “ehem.. ngapain?” kata Pak Arman. Mereka akhirnya sadar dan mulai mencari 1000 alasan agar tidak dihukum nantinya. “emm.. ki.. kita abis dari kantor Pak, ngambil buku bahasa indonesia” jawab Angel dengan rasa cemas, karena sebenarnya mereka abis dari kantin. Yap, kerjaan mereka memang begitu sukanya absen terus setiap pelajaran bahasa, karena “kalau sudah ketemu pelajaran bahasa sudah pusing duluan kepala” kata Angel, Maurin dan Pita.
“abis ngambil buku kok kalian gak ada yang megang buku?” kata Pak Arman semakin penasaran. “tadinya sih mau ngambil pak, cuma…” kata Pita terpotong. “cuma apa?” kata Pak Arman. “Cuma tadi ketinggalan pak jadi sekarang mau balik lagi” kata Angel. “iya pak.. ketinggalan” lanjut Pita dan Maurin. “oh” jawab Pak Arman. Namun saat mereka akan melangkahkan kaki untuk pergi “bentar, bapak tau kok sebenarnya kalian gak ngambil buku kan! Gini deh kalau kalian gak mau dihukum, jawab dulu pertanyaan dari bapak. Kalau benar, bapak gak akan hukum kalian, kalau salah sebaliknya” kata Pak Arman. mereka pun mengangguk. “apa artinya dari fiksi” kata Pak Arman. “emang apaan pak?” jawab Pita. “fiksi itu khayalan” kata Pak Arman. “nah itu bapak tau, kenapa nanya sama saya kan saya gak tau pak! Ya udah karena bapak udah jawab kami mau pergi ke kelas dulu ya pak!” jawab Pita.

Genk Angel pun akhirnya pergi meninggalkan kelasku, di sisi lain Pak Arman masih bingung dengan perkataan Pita dan yang lainnya, seperti ada yang aneh. “dasar guru aneh, mau aja sih dibodohin murid” kesalku dalam hati. Semua murid senyum-senyum sendiri sambil menahan rasa tawa, disamping itu juga aku tak sengaja melihat Aldi yang sejak tadi melihatku. “dilihat-lihat dia manis kalau lagi senyum, apa-apa an sih! Stress kamu Vio.. Vio.. jangan sampe gue jatuh cinta sama nih cowok” batinku.

Setelah 8 jam berada di sekolah akhirnya bel pun berbunyi 3 kali, tanda waktunya pulang. Namun saat aku sudah berada di parkiran, mataku lirik sana lirik sini mencari kemana perginya sepedaku. “aku yakin seribu persen deh kalau aku makirin sepeda disini, tapi kok sekarang gak ada? Masa aku lupa sih, gak mungkin deh” pikirku. Namun saat aku tak sengaja melihat ke atas pohon, ternyata sepedaku ada di atas sana. “kenapa sepedaku ada di atas sana? Siapa yang udah naruh di atas pohon” gumanku. Aku pun sempat berfikir “tak lain tak bukan pasti dia, awas aja ya besok” kataku dengan yakinnya.

Keesokan harinya, aku pergi ke sekolah sangat pagi-pagi guna untuk membalaskan dendam kepada orang yang sudah mengerjaiku kemarin. “Tin.. tin.. tin..” terdengar bunyi mobil Aldi. “nah itu orangnya udah datang vi, emang lho yakin kalau Aldi yang udah naruh sepeda kamu di atas pohon?” kata Bela. “iya benar tuh kata Bela, kenapa gak kamu tanya dulu sama orangnya siapa tau bukan dia” lanjut Karin. “yakin seribu persen, siapa lagi coba yang benci sama gue kalau bukan dia lagi pula kalau nanya gak bakal dia jawab kali rin, mana ada sih penjahat yang mau ngaku” kata Vio. “terserah kamu aja deh” kata Indah.

Genk Aldi pun akan segera masuk ke kelas, begitu pun dengan genk Vio yang siap-siap untuk mengerjai Aldi, dan kebetulan Aldi yang pertama masuk ke dalam kelas dan yang terjadi. Byuurr… baju Aldi pun basah semua, “hahaha.. rasain lo, emang enak! Siapa suruh kemarin naruh sepeda gue ke atas pohon, makan tuh haha..” kata Vio. “naruh sepeda lo!! Di atas pohon? Ngaco deh lho, asal lo tau gue emang benci sama lo benci banget, tapi gue gak pernah ngelakuin hal terkeji itu! Camkan!” kata Aldi dengan sedikit agak kesal dengan perbuatan Vio dan langsung pergi meninggalkan Vio dan yang lainnya. “kalau bukan dia, terus siapa?” batin Vio.

Bel masuk pun berbunyi semua murid masuk ke dalam kelas masing-masing, mata Vio pun melirik sana sini seakan-akan sedang mencari sesuatu. “kemana ya Aldi, kok gak ada? Perasaan tadi sekolah deh?” batin Vio dengan cemas. Pelajaran pertama yaitu pelajaran matematika, setelah selesai waktunya istirahat. Namun di samping itu Vio masih tidak mengerti siapa sebenarnya yang sudah menaruh sepedanya kemarin siang dan Vio juga bingung kemana perginya Aldi padahal dia tadi sekolah. “apa mungkin dia marah kali ya sama gue? kenapa gak dari pertama gue nanya dulu sama dia, bodoh banget sih gue! Aargghh…” kata Vio dengan kesal. Sangking kesalnya tak sengaja dia membuang semua bukunya yang ada di mejanya, semua orang kaget akan tingkah laku Vio, begitu pun dengan ke tiga teman baik Vio. “lo kenapa vi? Lo baik-baik aja kan?” kata Bela. “gue baik-baik aja, gue ke kantin dulu ya! Bye..” jawab Vio dengan singkat.

Namun saat Vio akan jalan ke kantin tak sengaja ia mendengar perbincangan antara Angel, Maurin dan Pita. “haha.. misi kita berhasil” kata Pita. “betul tuh, lucu ya ekspresinya waktu tau kalau sepedanya udah ada di atas pohon, haha..” kata Maurin. “iya, coba waktu itu divideo terus masukin youtube! Haha.. siapa suruh dia dekat-dekat sama my prince Aldi terus saling tatap muka sambil senyum-senyum” lanjut Angel. Setelah mendengar semuanya Vio pun langsung menyesal akan tuduhannya kepada Aldi dan juga ia sudah membuat Aldi gak masuk ke kelas hari ini, sambil berjalan Vio masih terus dihantuin oleh rasa penyesalannya. Namun saat sedang berjalan tiba-tiba sebuah bola basket menuju ke arahnya dan yang terjadi. Brakk.. bola itu pun mengenai kepala Vio dan membuat Vio pingsan tak sadarkan diri.

“hei bangun.. lho gak apa-apa kan?” terdengar suara seseorang yang juga sambil mengelus keningku yang sakit akibat terkena bola basket. “ih, apa an sih” kataku. “lo.. lo kemana aja?” lanjutku. “lo gak apa-apa kan, sorry ya tadi gue ngelempar bolanya kekencangan” kata seseorang yang ternyata orang itu adalah orang yang dari tadi kucari yaitu Aldi, Aldi yang udah membuatku cemas, panik, dan terus-terusan dihantuin oleh rasa bersalah. “gu.. gue.. mau minta maaf sama lo atas kejadian tadi pagi, ternyata bukan lo yang salah. Gue nuduh lo karena Cuma lo yang benci banget sama gue! tapi kenapa tadi lo gak masuk ke kelas, apa lo tadi marah sama gue? gue minta maaf ya” kataku malu. “oh.. tadi gue gak masuk ke kelas karena baju gue basah, ya udah gue main bola basket aja! Lagian pelajaran matematika bikin pusing kepala aja” jawabnya lembut. “oh.. kirain” kataku sambil senyum-senyum sendiri.

Setelah itu aku pun pulang ke rumah dengan mengayuh sepedaku sambil senyum-senyum tak menentu, gak tau kenapa tiba-tiba aku kefikiran dengan Aldi. Sesampainya di rumah aku pun tak seperti biasanya, aku langsung pergi masuk ke kamar dengan rasa yang sangat gembira entah kenapa, apa yang sebenarnya membuatku sebahagia ini. Apa mungkin Aldi yang membuatku sebahagia ini? Entahlah tak menentu hati ini, aku pun mengambil buku diary pink ku.

Perlahan-lahan aku pun mulai menulis kata-kata tentang perasaanku ini. “Dear Diary, Selasa 20 Agustus 2013. Aku menyadari bahwa aku telah jatuh cinta kepadanya sejak pertama ia menabrak sepeda coklatku kadang, meski marah atas apa yang telah dilakukan dia yang aku cinta, aku tetap tak mampu berhenti mencintainya.. Dan ketika dua hati saling tulus mencintai, mereka akan selalu temukan cara tuk tetap bertahan, tak peduli betapa sulitnya tuk terus bersama. Dan aku benar-benar tulus mencintaimu, aku selalu sebutkan namamu dalam doaku, meski aku bukan siapa-siapa bagimu. Cinta sejati tak datang begitu saja. Banyak proses yang harus dilalui bersama, menderita, menangis, dan tertawa bersama. Aku akan selalu menunggu itu! Aku diam-diam suka kamu… Aldi akankah cintaku semanis coklat buatanku?”

Setelah selesai menulis aku langsung meletakkan buku diaryku di atas meja dan berniat untuk tidur siang, namun saat akan tidur terdengar suara orang menggetuk pintu kamarku aku pun membuka pintu. Dan ternyata itu adalah ibuku. “Vio kamu antarkan pesanan coklat punya Ibu Sinta dulu ya ini alamat rumahnya, ibu mau belanja bahan-bahan coklat dulu untuk besok buat coklat” kata ibuku. “baik bu” jawabku.

Aku pun langsung bersiap-siap, setelah 5 menit aku mondar-mandir mencari alamatnya akhirnya ketemu juga “ini dia alamatnya! Gila besar amat nih rumah, rumah apa istana?” kataku kagum. Tiba-tiba ada seseorang yang memegang pundakku dari belakang “maaf dek, adek ini siapa? Ada yang bisa saya bantu?” kata satpam rumah besar itu. “iya pak, benar ini rumah Ibu Sinta?” kataku. “benar dek, ada apa ya?” jawab satpam. “saya mau nganterin pesanan coklat Ibu Sinta, Ibu Sintanya ada?” kataku. “mari, saya antarkan” jawab satpam.

Cerpen Karangan: Gesta Farera
Facebook: gestafarera[-at-]facebook.com

Nama: Gesta Farera
Kelas: 9f
Alamat: Negara Ratu, Pasar Senin Lampung Utara
Nama Twitter: @tatagesta_1 *follow ya :-)*
Nama Facebook: Gesta Farera *add ya :-)*

Cerpen Cintaku Semanis Coklat (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bukan Cinta

Oleh:
Sebuah nama yang ada di alam bawah sadarku akhir-akhir ini muncul ke permukaan. Nama seorang wanita yang pernah aku coba untuk dihapus dari memory otakku, kini muncul kembali. Dia

Isi

Oleh:
Hari ini cuaca kurang mengenakkan, hujan deras jadi otomatis gue neduh di teras depan kelas. Di sana cuma tinggal aku dan satu lelaki satu lokalku. Ya tapi aku tidak

Harapan Dalam Genggaman

Oleh:
Kamu lihat itu? Iya 2 tangan berbeda yang saling menggemgam. Saling melengkapi.. Kita pernah seperti itu, bukan? Iya aku rindu genggaman mu. Bagiku genggaman itu yang membuat aku takut.

Kehilangan Rini

Oleh:
“Ini bukan salahku.” “Sudah jelas itu salah kamu, Wil. Ingat, kamu orang terakhir yang bertemu Rini. Setelah itu dia hilang entah ke mana, bak ditelan bumi.” “Iya bener tuh.”

Bertepuk Sebelah Tangan (Part 1)

Oleh:
Malam minggu di sebuah caffe… “Begini nasib jadi bujangan. Kemana-mana, asalkan suka. Tiada orang yang melarang. Hati senang walaupun tak punya uang, ooh. Hati senang walaupun tak punya uang,”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *