Cintamu Lebih Besar Untuk Bangsamu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Nasionalisme
Lolos moderasi pada: 20 June 2020

Suara ledakan yang amat kencang itu membuat semua orang yang mendengarnya bergidik ngeri. Banyak anak menangis mencari orangtuanya, seorang ibu berlari sambil menggendong anaknya, dan ada banyak penduduk lain yang berusaha keluar dari reruntuhan bangunan. Mereka merintih kasakitan. Air mata yang mengring pun tercetak jelas pada wajahnya. Tidak lebih dari satu menit, mayat-mayat berserakan memenuhi jalanan. Warna jalan yang semula hitam mengkilat, kini berubah mengerikan akibat darah warga kota yang bercampur menjadi satu bak cat merah yang mengental. Pemandangan kota yang semula terlihat eksotis pun sirna. Seorang anggota pasukan khusus berlari terpogoh-pogoh sambil menggendong rekannya, berusaha mencapai tempat aman untuk berlindung dari serangan yang sewaktu-waktu dapat terjadi.

Sampailah mereka di sebuah bangunan tua di sudut kota. Dengan tangan kokohnya, Yudhistira meletakkan Arjuna diatas sebuah batu besar yang berlumut dan berdebu dengan penuh kehati-hatian. Yudhistira adalah salah seorang angota dari Pasukan Garuda, yaitu pasukan khusus asal Aceh yang ditugaskan untuk membantu Jakata dalam perang melawan Rusia.

Kemudian mata tegas Yudhistira menatap tubuh Arjuna yang penuh luka dengan persaan iba. Yudhistira berbisik, “Apa yang kau rasakan Arjuna?”. Satu detik, dua detik, hingga sepuluh detik lamanya Arjuna tidak menjawab pertanyaan Yudhistira. Hal ini membuat Yudhis kalang-kabut. “Bicaralah padaku Arjuna!,” teriak Yudhis dengan suara parau sambil menahan tangis kebenciannya. Arjuna telah tiada. Bendungan yang sedari tadi ia coba tahan akhirya runtuh dan membanjiri seluruh wajahnya. Tak sedikit pula air mengalir tepat ke dada Arjuna yang robek dan menyatu dengan darah yang dapat menggambarkan rasa sakit tiada tara. Rahangnya mengeras. Ia lalu teringat semua kebersamaanya dengan Arjuna yang kemudian dengan tiba-tiba digantikan oleh bayangan jeritan kesakitan rekannya yang tertembak pasukan Rusia. Rahangnya mengeras. Masih didepan seonggok daging yang sudah tak bernyawa bernama Arjuna, ia berjanji untuk berjuang sampai pada titik darah penghabisan dan membalaskan dendam rekan terbaiknya itu.

Hari beranjak gelap. Setelah dirasa cukup aman dan tidak terdengar ledakan susulan, Yudhis dengan tampang pucat dan rambut lurusnya yang berantakan pun lekas membawa Arjuna pergi ke markas pasukan.

Sesampainya di markas, mereka langsung disambut oleh para dokter yang dengan cekatan memindahkan Arjuna ke dalam ruang mayat. Keadaan di markas pun ternyata tidak sebaik yang ia bayangkan. Kursi dan meja yang berantakan, pecahan gelas dan pigura yang berserakan di lantai, kertas yang terbang kesana kemari, dan beberapa anggota pasukan yang hanya bisa duduk tak berdaya di sudut markas menunggu giliran untuk diobati, membuat rasa sesak di dadanya semakin bertambah. Kemudian ia melenggang pergi begitu saja menuju kamar mayat untuk menemani rekannya, yang ia rasa dapat mengobati sedikit luka dan sesak yang memenuhi rongga dadanya.

Saat Yudhis tengah melamun memandangi tubuh Arjuna, tiba-tiba pintu terbuka. Ia terkejut bukan main. Tangan yang sedari tadi ia gunakan untuk menyangga rahang kokoh berbalut lebatnya rambut yang dengan sekejap bisa membuat para wanita berteriak histeris itu meleset dan membuatnya terpentok besi tempat meletakkan mayat. “Sakit sekali,” keluhnya. Baru saja ia akan berteriak marah sebelum ia tahu bahwa seseorang yang tadi membuka pintu adalah sosok perempuan bertubuh mungil dengan kulit putih bersih dan sepasang bola mata almond yang seakan menyihir siapapun yang menatapnya. Yudhis menerka bahwa dia pasti seorang dokter. Terlihat dari jas putih bersih yang dijahit pas membentuk lekuk tubunya dan sepasang sepatu berbentuk lonjong yang serasi dengan jas putihnya.

Perempuan itu tersenyum menampakkan lesung pipit yang membuat wajahnya seakan bersinar. Kemudian si perempuan berjalan kearah Yudhis yang sekarang hanya bisa menatap kagum perempuan itu. “Hei, apa kau akan diam saja disini dan membiarkan lukamu mengering hingga tak lagi bisa diobati?,” sergah si perempuan. Yudhis yang sedari tadi melongo, hanya bisa menjawab pertanyaan si perempuan sekenanya. “Aku tidak terluka,” balas Yudhis. Kemudian perempuan itu mendekat dan menekan tangan Yudhistira yang ternyata terluka hingga pakaiannya penuh bercak darah. “Apa ini yang kau maksud tidak terluka?,” elak si perempuan. Ternyata rasa kehilangan Yudhis akan rekan terbaiknya terlalu dalam hingga abai dengan dirinya sendiri dan tidak merasakan sakit yang ada di tubuhnya. “Ayo biar kuobati,” kata si perempuan. Seakan tersihir, Yudhis benajak dari tempat duduknya dan mengikuti kemana perginya si perempuan.

Mereka pun sampai di klinik yang sengaja dibangun untuk keperluan perang. Letaknya pun dekat dengan markas pasukan khusus. Seakan ada yang menendang kepalanya, Yudhis baru tersadar setelah lukanya selesai diobati. Langsung saja ia berujar pada si perempuan, “Terimakasih sudah mengobatiku. Aku bahkan tidak sadar jika lenganku terluka.”. Perempuan itu hanya tersenyum miring. “Aku tau kau tidak akan sadar dengan lukamu itu. Mungkin sesak dalam dadamu melebihi rasa sakit yang ada di lenganmu. Jujur saja, aku kagum padamu dan teman-temanmu dalam membela negeri tercinta kita ini.” Katanya. Senyum terkembang begitu saja di wajah Yudhis. Dia merasa, sepertinya ia jatuh cinta dengan perempuan yang belum dikenalnya ini. Tanpa aba-aba Yudhis berkata, “Menurutku, kau bahkan lebih baik dariku dalam membela negeri ini. Tanpa bersatunya seluruh elemen, kita tidak akan bisa menyatukan kembali negeri nan indah ini”. Sambil menjulurkan tangan Yudhis melanjutkan, “Namaku Yudhistira Pradana. Kau?”. Dengan raut muka terkejut dan sedikit menyembunyikan senyum perempuan itu menjawab, “Aku Sabrina Fay”.

Pertempuran pun akhirnya usai. Dengan kekuatan yang disatukan serta semangat pantang menyerah para pejuang, akhirnya Ibukota Jakarta berhasil direbut kembali. Semua orang berpelukan. Tidak sedikit pula tetesan air mata kebahagiaan keluar dari pelupuk mata. Sorak-sorai yang tak kunjung usai. Kembang api warna-warni yang menjadikan malam selebrasi itu semakin meriah layaknya pergantian tahun yang selalu dinanti. Namun, walaupun pertempuran telah usai, sepertinya masih akan ada hal menyedihkan lainnya.

Hari ini, pasukan khusus harus kembali ke daerahnya masing-masing. Begitupun dengan Yudhis. Awalnya ia menolak untuk kembali karena memang ia merasa telah menemukan rumah barunya disini, Sabrina. Namun, karena iming-iming kenaikan jabatan yang terlalu menggiurkan itu, ia menjadi setuju untuk kembali ke Aceh. Setelah berunding dengan Sabi, – nama spesial yang diberikan Yudhis untuk Sabrina – akhirnya Sabi pun setuju. Tapi, ternyata Yudhis tidak menjelaskan alasan sebenarnya yang menyebabkan ia berubah pikiran.

Sesampainya di Aceh, Yudhis terkejut bukan main. Ternyata, iming-iming kenaikan jabatan itu paslu. Yudhis merasa sangat kecewa. Perjuangannya dan rekannya selama ini, hingga kematian Arjuna yang masih meninggalkan luka dalam dadanya tak diberi apresiasi yang tinggi.

Akan tetapi, beberapa hari setelahnya ia didatangi oleh beberapa rekan dan ditawari kerjasama agar bisa naik jabatan tanpa proses seleksi. Saking senangnya ia langsung menerima tawaran itu tanpa teringat bahwa jalan yang akan dia lalui itu menyimpang. Mungkin memang rasa luka dan kecewanya terlalu besar sehingga akal sehatnya terabaikan.

Akhirnya, Yudhistira berhasil naik jabatan dan bergaji tinggi. Alphard sudah mampu dibelinya. Saat itu Yudhis kembali teringat akan cinta pertamanya, Sabi. Ia pun langsung pergi ke Jakarta untuk menjumpai Sabi yang sangat ia rindukan. Yudhis juga berniat akan melamar Sabi dan memboyongnya ke Aceh.

Minggu pagi, 25 Maret 2017 ia sampai di depan rumah Sabi yang dulu sempat sekali dikunjunginya ketika mengantarkan perempuan cantik itu pulang. Di sana Yudhis sudah berdiri di depan pintu dengan mengenakan stelan jas berwarna abu-abu yang tidak dikancingkan. Di dalamnya ia memakai kemeja tipis yang membuat otot tubuhnya tercetak dengan jelas. Di tangan kirinya sudah tergenggam seikat bunga mawar putih yang diingatnya sebagai bunga kesukaan Sabi yang juga melambangkan tanda cinta. Dengan tangan gemetar dan jantung yang berdegup kencang, Yudhis mengetuk pintu rumah Sabi. Tak lama, pintu itu terbuka. Senyum gugup Yudhis menyapa Sabrina yang membuka pintu. Sabrina tidak terkejut dibuatnya. Pasalnya, ia sudah mengetahui rencana kedatangan Yudhis hari ini.

Setelah Sabi mempersilahkan masuk, mereka duduk berhadapan di ruang tamu. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut mereka. Udara sore yang dingin, ditambah AC yang sepertinya distel rendah ini menambah kecanggungan diantara mereka berdua, hinngga Bu Kinan keluar dari kamarnya menuju ruang tamu dan mencairkan suasana. “Apa kabar Dek Yudhis?,” sapa Bu Kinan. Kemudian dengan senyum ramahnya Yudhis menjawab, “Saya baik bu, saya harap ibu, Sabrina, dan ayah juga dalam keadaan sehat”. Bu Kinan membalas senyum seraya, “Syukurlah. Ada perlu apa Nak Yudhis kemari sore-sore begini?”. Dengan penuh keyakinan, akhirnya Yudhis menjawab, “Saya kesini ingin melamar putri ibu. Perempuan yang selama ini ada di dalam hati dan do’a saya”.

Seakan tersengat aliran listrik yang sangat tinggi, Sabrina merasa jantungnya berhenti berdetak dalam beberapa saat. Raut mukanya pun menjadi pucat pasi, namun berhasil ia kendalikan. Ia tak menyangka Yudhis masih seserius ini dengannya. Lidahnya kelu. Hanya keheningan yang tercipta dalam beberapa saat. Semakin lama, senyum yang terukir di wajah Yudhis pun memudar. Memahami keterkejutan putrinya, Bu Kinan menjawab pernyataan Yudhis, “Kalau ibu setuju saja. Tapi semua jawaban ada ditangan Sabrina. Jika Sabrina bahagia, Ibu pasti bisa menerima. Sebaiknya sekarang Ibu masuk dulu, kalian berbicaralah. Ibu serahkan ke Sabrina”.

Yudhis masih berpikir positif hingga Sabi menjawab, “Maaf, sekarang aku tidak bisa menerimamu”. Yudhis sangat terkejut. Ia menanggapi, “Ada apa? Kenapa Bisa? Apa kau sudah punya seseorang selain aku?”. Sabrina merasa geram. Yudhis tidak tau apa yang sudah diketahuinya. Sabrina menjawab, “Aku kecewa denganmu. Kupikir kau orang yang amat bijaksana dan setia seperti “Yudhistira”, namamu. Tapi ternyata anganku terlalu tinggi”. “Aku tahu apa saja yang kau lakukan selama di Aceh sana. Aku sangat tidak menyangka. Lalu apa bedanya kau dengan para koruptor yang makan gaji seperti tikus kelaparan itu?,” timpal Sabi dengan berapi-api.

Yudhis tidak bisa berkata apa-apa. Detik itu, ia tersadar akan kebodohannya selama ini. Dia bingung harus berbuat apa. Harga diri dan keberaniannya pun lenyap saat itu juga. Ia merasa tak pantas lagi untuk memiliki Sabrina atas pengkhianatan yang ia lakukan terhadap bangsanya sendiri.

Sebenarnya tanpa sepengetahuan Yudhis, Sabrina selalu mendapatkan informasi tentang keseharian Yudhis dari salah satu sahabat Yudhis yang tidak sengaja ia temui di Rumah Sakit Bhayangkara tempatnya bekerja pasca perang selesai. Ketika mendapat informasi bahwa Yudhis melakukan suap, hatinya mencelos. Sakit hatinya muncul. Kepercayaannya runtuh. Setelah kejadian itu pun, Sabi tak lagi mencari informasi tentang Yudhis. Tak ingin lagi ia menyiksa batinya.

Yudhis masih diam. Kemudian Sabrina melanjutkan, “Untuk apa gaji banyakmu itu? Aku tidak akan sudi menikah denganmu dan hidup dengan gaji-gaji kotormu itu. Dengan begini, itu artinya kau hanya hidup untuk dirimu saja, bukan untuk bangsamu”. Yudhis semakin merasa malu. “Apakau tak merasa malu? Kau pakai tanahnya, kau minum airnya, dan kau nikmati indahnya senja, tapi apa balasanmu bagi Ibu Pertiwi? Maafkan aku membentakmu, tapi aku hanya ingin menyadarkanmu. Jika kau saat ini sadar, berubahlah. Sekarang waktunya kamu untuk mengabdi pada negerimu. Hidupmu tak akan berarti tanpa mengabdi”.

Mendengar perkataan Sabrina, Yudhis membulatkan tekadnya. “Terimaksih Sabrina. Maafkan aku, aku memang salah. Aku terlena dengan segala kemegahan jabatanku dan gaji-gaji yangku terima. Terimakasih pula kau telah menyadarkanku bahwa hidup bukan hanya untuk menyejahterakan diriku sendiri, tapi agar bermanfaat untuk orang lain. Bukankan yang kukatakan kepadamu saat aku mengobatimu itu benar Sab? Bahwa kamu lebih mencintai negeri ini dan lebih banyak berjuang untuk bumi pertiwi. Aku ingin mengatakan kekagumanku lagi untukmu. Aku sadar, cintamu lebih besar untuk bangsamu daripada untukku yang sudah bisa dibilang sebagai koruptor ulung ini. Aku tidak pantas lagi untukmu. Aku yakin kau akan menemukan cinta sejatimu yang pastinya lebih baik dari aku. Selamat tinggal Sabrina,” pungkas Yudhistira kemudian. Setelah mengucapkan kalimat itu, Yudhistira akhirnya pamit dan langsung pulang menuju tempat asalnya.

Cerpen Karangan: Bunga Fata
Blog / Facebook: Bunga Fata

Cerpen Cintamu Lebih Besar Untuk Bangsamu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Indahnya Cinta

Oleh:
Pagi yang cerah, dengan bersemangat Dera berangkat sekolah. Tak lupa dia berpamitan dengan orangtuanya. “Ma, pa.. Dera berangkat dulu ya” ucapnya sambil mencium tangan kedua orangtuanya. “Hati-hati ya” ucap

Kembali

Oleh:
Kata kembali sering kudengar di mana-mana, di tempat-tempat yang kusinggahi. Bertahun-tahun aku menunggunya di sini berharap dia kembali, kekasihku. Tahun demi tahun, malam berganti malam bagai kertas yang mengusam,

Saat Cinta Tiba

Oleh:
Sinar matahari telah menembus cela-cela ventilasi kamar, tapi adi masih tertidur lelap. Terdengar dering jam weker yang telah disetting jam 6. Dengan kaget adi pun terbangun dari mimpi indahnya.

Hujan Bulan September

Oleh:
Dulu kamu bukan siapa-siapa untukku. Aku yang cuek tidak pernah memperhatikan lingkungan sekitar secara detail. Aku hanya tahu namamu itu pun karena kamu pembimbing saat aku masa orientasi di

Rasanya Cinta

Oleh:
“hey… hey… hey, semuanya dengar. Kalian udah dengar gosip hari ini?” teriak sisi saat memasuki kelas “memangnya gosip apaan, penasaran gue” tanya linda. Linda memang adalah ratu gosip di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *