Cita Cita, Cinta Dan Waktu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 10 January 2018

Selalu aku mendengar deburan ombak di tepi pantai, begitu pun suara bunyi jangkrik. Begitu hening dan selalu aku membayangkan, apakah aku bisa menggapai mimpiku-mimpiku yang sebentar lagi akan aku mulai. Ketika tamat nanti, aku akan menjadi seorang marinir yang selama ini yang aku impi-impikan. Aku akan selalu berada di tengah laut dengan angin yang begitu sejuk yang selalu berhembus di tengah malam. Lamunanku terhenti ketika ibuku memanggil namaku, dan menyuruhku untuk membantu merapikan ikan-ikan yang telah ditangkap untuk dijual besok paginya ke pasar.

Senja pun selalu menyambutku dan aku mulai menggoet sepedaku menuju tempat aku mencari ilmu. Tak sengaja di perjalanan aku menabrak sepeda teman gadisku bernama Jeje.
“Kalo jalan itu pake mata dong, liat kan benyok jadinya.” Kata Jeje.
“Iya deh bawel, ntar aku perbaiki. Uda ayo masuk ntar lagi bel bunyi” kataku membalas.

Jeje adalah gadis cantik sekelasku, kami pacaran ketika di bangku kelas dua SMA, diamana pada saat itu aku telah lama mengejar-ngejarnya sejak kelas satu, namun dia selalu menolakku. Akhirnya kerja kerasku membuahkan hasil, dia mau menerima cintaku di kelas dua.
“Oke, Siapa yang bisa mengerjakan soal matematika ini, Ibu kasih tambahan nilai ujian.” Kata guruku.

Jeje pun mengangkat tangannya dan langsung mengerjakan soal yang diberikan guruku. Aku senyum-senyum sendiri melihatnya yang sedang mengerjakan soal di depan kelas. Memang Jeje anak yang pintar, selain pintar wajahnya pun begitu manis jika dipandang terus menerus.

Waktu pelajaran pun selesai, aku pun pulang bersama Jeje. Berjalan kaki sambil membawa sepeda kami masing-masing.
“Je, Kalo tamat nanti kamu mau ke mana?” aku pun bertanya
“Aku mau ke kota mengikuti ujian masuk Universitas Negeri, Kalo kamu?”
“Kalo aku ingin sekali menjadi seorang Marinir yang melindung Indonesia dari daerah laut. Tapi kamu emang mau jadi apa?” Aku bertanya kembali
“Aku ingin menjadi dokter hewan. Itu cita-citaku dari kecil.” Jawabnya penuh dengan pengharapan.

“Bagaimana kalau kita buat janji, sebentar lagi kan Ujian Nasional (UN), jadi siapa dari kita yang memiliki nilai tertinggi maka dia harus mau mentraktir makan selama sebulan, Gimana?” Aku bertanya sambil menggombal.
“Oke, aku terima!” Katanya dengan semangat.

Hari-hari pun berlalu, aku dan jeje pun belajar dengan giat disetiap harinya. Karena aku ingin menjadi marinir, selain belajar aku pun menambah aktivitasku dengan berolah raga rutin. Dan selalu ada Jeje yang selalu menemaniku dan membayangkannya bakal menjadi dokter yang begitu manis. Ketika selesai berlari sore, aku pun pulang dengan membonceng Jeje sambil menggoet sepeda.

“Bentar lagi UN, aku takut kenapa napa natinya…” Katanya.
“Kenapa mesti takut, apa yang harus ditakutkan, siap gak siap, harus dihadapi. Kita kan telah belajar sama-sama. Setiap try out kita lulus dengan nilai terbaik dan ketika kamu try out untuk masuk Universitas kamu selalu masuk dengan jurusan yang kamu tujuh, kenapa mesti takut?” Kataku sambil meyakinkannya.
Dia pun memeluk diriku dari belakang, dan sambil berkata, “aku bukan takut terhadap UN ini, aku takut kehilanganmu yang sebentar lagi kamu akan berada di pelatihan dan aku akan selalu menunggu kabarmu dari sana. karena aku yakin kamu akan masuk marinir.” Katanya sambil meneteskan air mata.
“Kamu kenapa mesti berpikiran begitu sih, Kamu seharusnya percaya sama aku. Itu cita-citaku, dan kamu juga harus menggapai cita-citamu. Aku yakin dan percaya, jika kita memang jodoh dan Tuhan memang mengizinkannya, maka aku akan selalu berada di sisimu pada saat itu.” Aku membalas ucapannya dengan rasa sedih yang tidak menyangka dia bakal mengucapkan hal seperti itu.
Aku begitu senang sekali melihatnya, aku pun mengantarnya pulang dan berpamitan terhadap kedua orangtuanya.

UN pun sudah tiba, kami menjawab soal-soal yang ada dengan percaya diri. UN pun selesai dan waktu pun terus berputar. Pengumuman UN sekitar tiga minggu lagi, Namun perjuangan kami tidak sampai di sini saja. Ini hanya awalnya, kami harus manggapai cita-cita yang kami punya. Jadi saat menjelang pengumuman aku dan Jeje tetap belajar dengan giat.
Akhirnya waktu pengumuman pun telah tiba, ternyata Jeje lah yang berada di peringkat ke tiga sedangkan aku berada di peringkat ke lima. Aku senang melihat tawa senyumnya karena memiliki nilai terbaik dan memenangkan taruhan yang kami buat. Apa boleh buat, selama sebulan aku akan selalu mentraktir dia.

Waktu trus berjalan, Jeje mengikuti ujian masuk Universitasnya sedangkan aku masih harus belajar dan berlatih agar bisa masuk ke angkatan tersebut. Saat kutanya gimana soal ujiannya, dia begitu percaya diri dan senang terhadap hasil yang dia jawab sendiri. Aku pun turut senang juga mendengarnya. Dan aku selalu mengingatkan tetap harus bersyukur apapun yang terjadi. Jangan terlalu banyak mengeluh dan setiap kejadian apa pun di kehidupan ini harus dijalani dengan syukur.

Tiba pengumuman penerimaan Mahasiwa/i bagi dirinya di Universitas yang dia coba dan ternyata dia lulus di peringkat ke dua belas. Begitu senang kulihat dia, sampai wajahnya memerah karena begitu senangnya. Aku pun turut senang dan memberi tahukan bahwa dua minggu lagi aku harus berangkat ke kota untuk mengikuti test ku. Dia tersenyum sambil memberikan aku semangat. Aku bisa melihat dibalik senyumnya ada kesedihan karena aku harus meniunggalkannya sementara waktu.

Waktu tidak dapat berhenti, aku harus menjalani hari-hariku dan aku tetap melakukan latihan fisik, dan Jeje selalu mau menemani latihanku. Tiba waktunya aku berangkat kekota dan aku pun berpamitan terhadap orangtuaku begitu juga Jeje. Sesampainya di kota, aku tetap fokus belajar, aku tidak mempedulikan teman-teman satu asramaku karena sebentar lagi aku akan mengikuti test yang diberikan oleh tim marinir. Setiap test yang kujalani baik kesehatan hingga test akademik, aku tetap menjalaninya dengan percaya diri yang dibarengi dengan doa.

Test pun berlalu, pengumuman akan diberitahukan setelah tiga minggu. Aku pun kembali ke rumah dengan kepala yang telah botak. Namun rasa senang, rinduku ketika sampai di rumah begitu mendalam hingga aku pun tak bisa membendungnya lagi hingga air matapun menetes ke lantai rumahku. Orangtuaku menyambutku dengan penuh harapan dan suka cita, berharap aku bisa diterima menjadi salah satu anggota marinir tersebut. Besoknya aku menjumpai Jeje, dia pun tertawa melihatku karena aku botak. Namun aku senang yang sebentar lagi cita-citaku akan tercapai. Sekarang hanya Tuhanlah yang akan bekerja terhadap hasil yang selama ini kuperbuat.

Tiga munggu pun telah berlalu, aku pun kembali ke kota untuk melihat pengumumanku. Sangat ramai kulihat orang-orang yang berada di depan pengumuman. Aku pun mencari namaku dari namor urut yang terakhir. Saat aku melihat listnya, aku tidak menemukan namaku di situ, namun aku tetap berjuang melihatnya. Aku terkejut ternyata namaku ada tertulis di situ, aku berada di nomor urut ke enam belas, aku begitu senang dan aku langsung pulang mengkabari kedua orangtuaku dan Jeje.

Sesampainya di rumah aku mengabari suka cita ini kepada orangtuaku. Akhirnya pintu cita-citaku terbuka juga dan akan tercapai seutuhnya. Kedua orangtuaku bangga akan hal itu dan ibu ku pun akhirnya membuat masakan yang enak-enak untuk hari ini. Waktuku disini hanya tiga hari setelah itu aku akan berada di asrama selama empat tahun. Selama itu aku tidak boleh pulang ke rumah. Aku pun bergegas menjumpai Jeje dia pun sangat senang mendengar kabar ini. Dibalik kesengangan kami, namun ada kesedihan yang akhirnya terwujud juga. Aku dan Jeje pun akhirnya berpisah untuk sementara waktu walau pun begitu lama, tapi kami berkomitmen akan cinta kami. Aku pen memberi kecupan di keningnya lalu memberikan kado berupa jam tangan dan meninggalkan pesan di dalamnya. Aku menyuruh dia agar membukanya ketika aku sudah berangkat.

Esoknya aku berangkat dan berpamitan lagi dari kedua orangtua ku, kedua orangtua Jeje dan juga Jeje. Aku begitu sedih harus meninggalkan mereka namun inilah jalan menuju cita-cita yang selama ini aku impikan akhirnya telah di depan mataku. Sesampainya Jeje di rumahnya dia pun membuka kado yang telah kuberikan. Dia pun membaca surat tersebut yang isinya “Ingatlah satu hal, perjuangan kita tidak sia-sia karena waktu yang kita punya tidak terbuang dengan percuma. Inilah hasil kerja keras kita selama ini, karena kita selalu menghargai waktu yang Tuhan telah berikan. Aku berharap semoga waktulah yang akan mempertemukan kita empat tahun mendatang.” Jeje pun membaca surat tersebut hingga meneteskan air matanya dan bersyukur karena apa yang telah dia perbuat selama ini dan apa yang telah diraihnya hingga hari ini.

Empat tahun berlalu, selama empat tahun aku dan Jeje selalu berkomunikasi dengan surat. Kami pun kembali seperti jaman dulu. Namun apa boleh buat inilah cara kami untuk melepas rindu. Tiba waktunya aku pulang ke rumah dengan pakaian marinir yang kukenakan aku bangga apa yang telah kuraih selama ini. Perjuangan, kerja keras yang tidak sia-sia akhirnya telah mempertemukanku terhadap cita-citaku. Sampainya di rumah aku mencium kedua tangan orangtuaku dan sambil memeluk mereka. Aku pun berkata “Inilah anakmu ma, pa, yang selama ini bandal dan terkadang tidak menurut. Akhirnya telah meraih cita-citanya yang selama ini aku impikan.” Aku pun menetaskan air mata dan membuat kedua orangtuaku bangga.

Aku pun menjumpai kedua orangtua Jeje, menyalami mereka dan meminta izin untuk mengajak Jeje jalan-jalan. Aku pun keluar berasama jeje dengan memakai pakai kaos biasa dan memboncengnya dengan sepedaku yang telah lama kutinggalkan namun tetap terawat oleh orangtuaku. Aku berkeliling di daerah pantai dekat rumahku pada sore hari. Matahari terbenam yang sangat indah menemani kami dan mengenang masa SMA kami dulu. Selama empat tahun tidak berjumpa dan aku melihat dirinya yang semakin dewasa.

“Kamu makin cantik aja dan makin dewasa, aku senang.” Kataku dengan senang.
“Ahh, kamu gombal.” jawabnya.
Keheningan pun melanda kami.

“Raka, kamu jangan tinggali aku lagi ya?” Jeje bertanya.
Aku pun terdiam dan menatap matanya yang berkaca-kaca. Aku pun memeluk Jeje, rinduku selama empat tahun akhirnya terluapkan hari ini. Aku senang bisa kembali lagi bersama dia dan mencium keningnya.
“Jeje, Aku janji, aku tidak akan meninggalkanmu. karena cuma kamu yang menemaniku hingga saat ini. Aku janji akan selalu bersamamu.”

Cerpen Karangan: Raja Christian Ritonga
Facebook: Raja Christian Ritonga
Seorang yang masih belajar dalam menulis.

Cerpen Cita Cita, Cinta Dan Waktu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The End (Last Part)

Oleh:
Leon membawa Richard keluar dari rumah sakit dan membantunya berjalan ke mobil. Keadaan Richard semakin melemah. Dua puluh menit di perjalanan, akhirnya mereka tiba di rumahku. Sebelum mengetuk pintu,

Borgol Penyalur Cinta

Oleh:
Anni mengendarai motornya menuju sebuah toko kue. Jarak antara toko kue dan rumahnya lumayan jauh sehingga anni berkendara agak ngebut. Sampai di sebuah toko kue ia turun dan masuk.

Diana Oh Diana

Oleh:
Diana sedang berjalan menuju taman sekolahnya, tiba-tiba ia melihat seorang cowok yang tidak asing lagi bagi dirinya sedang duduk di sebuah bangku di taman tersebut. Diana segera menghampiri cowok

Cinta Dibalik Selai Stroberi

Oleh:
Lia dan babe (ayah) berjalan menuju motornya yang dipenuhi keranjang berisi toples kaca selai stroberi yang akan ia jual ke kota, ia pamit pada babe. “Hati hati nak”. Pesan

Kemeja Putih

Oleh:
Ruang tamu rumahku berantakan. Meja, kursi, vas bunga, serta taplak meja tak beraturan. Meja tamu yang semestinya terletak di tengah tengah kursi, sekarang berada di pojok ruang. Sedangkan kursi-kursinya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *