Citarasa Cinta Masa SMA (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 19 August 2016

Namanya Aldiara Sanjaya. Begitu sempurna untuk dikagumi para kaum hawa di sekolahku. Secara fisik, ia tinggi, atletis dan jelas saja tampan. Seorang yang berotak encer dalam bidang akademik dan juga olahraga, bisa dibilang terlalu romantis ketika sedang memetik gitar. Semua teman-temanku akan meleleh jika melihat Aldi, entah mereka akan histeris ketika cowok itu sedang bermain basket, bermain gitar, atau bahkan hanya sekedar menyapa. Misterius dan dingin, semakin membuat mereka takluk pada karismanya. Tapi, aku? TIDAK.

Awalnya aku bahagia bersama kekasihku. Namanya Bram, seorang pemain basket juga sama seperti Aldi. Entah apa penyebabnya tiba-tiba, tepat pada acara anniversary pertama, cinta kami kandas begitu saja. Aku begitu membencinya, hanya saja aku masih memiliki sahabat yang memberiku kekuatan. Sampai pada suatu hari di lift yang akan membawaku ke lantai empat, tempat dimana kelasku berada, aku bertemu dengan Aldi.

Pertemuan yang tidak pernah aku inginkan, karena jelas saja menimbulkan efek sirik para fansnya. Ia menyapaku dan memberi undangan acara sweet seventeennya, yang jelas saja sangat limited edition. Sesampai di koridor kelas XI, aku berpisah dengannya. Kelas kami berbeda, walau masih dalam jurusan yang sama. Aku kelas XI MIPA 1 sedangkan Aldi berada di kelas XI MIPA 3, kelasnya berselang satu kelas dari kelasku.

Jam istirahat pertama, aku dan kirana membuka bekal yang kami bawa untuk menghemat uang jajan. Setelah makan, kuperlihatkan undangan yang diberikan Aldi padaku, bisa kutebak ekspresi wajahnya berseri dan jelas saja kaget.

“Gila ya, seorang Aldi ngundang seorang Vira yang gak famous?”
“Jahat amat sih lo jadi sahabat ngatain gue, mungkin dia ngundang gue karena Bram?”
“Hmm.. kalo prediksi lo kaya gitu sih gue no komen deh. Tapi lo datang kan?”
“Mungkin, tapi gue gak ada couple, kalo lo mau gue mau ngajak lo ran” jawabku menyiratkan sedikit keraguan.
“Kalo lo ngajak gue gak nolak, kalo lo gak ngajak gue maksa nih. Siapa tau lo jadian sama dia, jadi gue kebagian deh harum-harumnya”
Kuberikan satu jitakan di kepalanya, Kirana memang selalu begitu. Dia sering menjodoh-jodhkanku dengan Aldi karena menurut penilaiannya Aldi sering memperhatikanku. Aku memang pernah menyimpan rasa untuk Aldi, hanya saja yang kudapatkan bukan dia tapi Bram, sahabatnya.

Malam ini aku bersiap-siap dengan malas, sudah tujuh kali poselku berdering, siapa lagi kalau bukan Kirana. Ia sudah siap sejak 30 menit yang lalu dan sedang menungguku menjemputnya. Sedangkan, aku baru saja berhias. Hanya sedikit riasan natural dan rambut yang kubuat sedikit lebih anggun. Dress yang dipilihkan bunda sesuai dengan yang kuinginkan, simple dan berwarna biru dongker seperti perintah dresscode yang tertera pada undangan.

Sudah hampir pukul tujuh, aku bergegas untuk segera berangkat menjemput Karina. Bagitu tiba di depan rumahnya, aku disambut wajah terkejut dan kusut.

“Lo dandan kayak emak-emak mau ke kondangan aja, lama banget sih”
“Enak aja, lo tuh yang kecepetan, ini baru juga jam tujuh, masih 30 menit lagi kali”
“Iya juga sih, hehehe. Tapi ini beneran sahabat gue si Vira anak mak komprah kan? Cantik bener, ternyata lo pinter dandan yah, natural gini”
“Sialan lo ngatain gue anak ibu kantin. Hahahaha, pinter dandan? Ini aja gue setengah mati, apa gue emang cantik dari sononya ya?”
“Gak salah denger nih gue? Hahaha. Udah deh buruan yuk” Karina menarikku untuk segera berangkat. Di mobil, kami sibuk membahas kado apa yang dia bawa, lalu pembicaraan kami berlanjut sampai ke dress dan sepatu. Begitu sampai di Gapuran perumahan rumah Aldi, aku dan Kirana sontak bungkam, benar-benar megah. Seluruh rumah disana tidak satupun memiliki bentuk yang sama, semua besar dan megah, aku melihat ke arah Kirana, ia pun mengangguk. Pikiran kami sama, ini adalah hunian elite kelas atas. Tak pernah aku berpikir bahwa rumah Aldi berada disini, aku hanya memberi tahu supirku untuk mengantar ke alamat yang tertera pada undangan.

Mobil melaju membelah jalan di perumahan itu sampai sedikit masuk ke arah pedalaman, mungkin di bagian tengah mobilku berhenti. Sebuah rumah megah, menurut penilaian kami inilah rumah terbesar. Berada di sisi kiri, ada beberapa mobil terparkir di dalam halaman rumah yang gerbangnya telah terbuka lebar, sorang satpam mempersilahkan mobil kami masuk. Aku dan Kirana kambali terpana, tak pernah terbayang di otak kami akan datang ke rumah semegah ini, taman yang begitu tertata dengan kolam air mancur di tengahnya, dipercantik dengan bunga, kursi taman, lampu dan juga ayunan. Sungguh, ingin rasanya duduk di rumput lembut itu sambil memandang air mancur di kejauhan.

Di teras rumah terlihat si pemilik acara dan beberapa teman-temannya. Aku dan Kirana menyapa mereka, kulirik wajah Kirana yang memerah, Rafa si cowok blasteran yang sudah ditaksirnya sejak SMP tiba-tiba mengajaknya masuk menuju ruang pesta. Aku hanya tersenyum dan membiarkannya bersenang-senang, bahkan aku lupa bahwa aku sendirian.

“Lo dateng sendiri? Bram gak ikut?”
“Lo emang gak tau atau cuma pura-pura gak tau sih?” Sontak moodku amburadul dibuatnya
“Sorry, gua gak ngerti maksud lo. Gue udah gak care lagi sama Bram”
“Gue putus. Jangan lo tanya atau sebut nama dia di hadapan gue, sekalipun lo sohibnya” kekesalan yang kutahan akhirnya meluap. Aldi terlihat kaget saat aku berkata bahwa aku putus dengan Bram. Namun, di sisi lain aku melihat sesuatu di matanya, entahlah aku tidak mau menerka.

Tiga puluh menit kemudian acara dimulai, diawali dengan berbagai acara sampai pada acara inti, yaitu potong kue. Aku terlalu malas untuk berbaris di bagian depan, berdesak-desakan di antara beberapa fansnya hanya untuk mengetahui kepada siapa first cake itu akan diberikannya. Di sudut kiri kulihat Bram datang bersama Vannia, orang yang menjadi salah satu pemicu kandasnya hubunganku. Bram terlihat tampan dengan kemeja birunya tengah menggandeng Vannia di sebelahnya. Aku kesal, sedangkan di depan sana, Kirana sedang asik bersama Rafa. Aku sendiri, membosankan.

“Vira Atahira damora” namaku dipanggil, aku terkejut. Kulihat Aldy membawa sebuat cake ke arahku diiringi oleh tatapan serigala para cewek di belakangnya.
“Thanks lo udah dateng ke acara ultah gue, first cake gue buat lo” ia menyodorkan cake ke arahku, kupikir ini mimpi, kuterima first cake itu dengan senyum setengah hati. Aldy hanya melihatku dengan tatapan menahan tawa, aku semakin sebal dibuatnya, hanya saja di seberang sana Bram melihat ke arahku dengan sayu. Apakah dia cemburu?

Acara berlanjut, musik DJ menggema ke seluruh penjuru ruangan. Aku memilih menyendiri di pinggir kolam renang sambil duduk santai di ayunan, setidaknya degup musik tidak membuat kepalaku semakin pusing.

“Lo galau?” Seseorang tiba-tiba duduk di sebelahku. Hmm.. ternyata Aldy.
“Dikit sih, gue numpang duduk disini deh, bisa budeg gue kalo kelamaan denger musik lo”

Aldy hanya tertawa, tawa yang dulu pernah sangat ku kagumi. Malam ini dia benar-benar tampan, hanya saja aku masih belum bisa move on dari Bram. Aldy memanggil pelayan dan membisikan sesuatu padanya, entahlah aku tak ingin banyak bertanya. Pandanganku fokus pada air kolam yang beriak pelan. Tiba-tiba Aldy memainkan gitar, sebuah lagu yang pernah kuberikan untuknya dahulu. Pandangan kami bertemu, matanya menatapku dengan lembut sambil terus bernyanyi dan memetik gitar. Perasaanku lebih tenang, rasa galau itu mulai berkurang.

“Lo cantik Vir, jangan galau lagi. Ada yang jauh lebih mencintai lo dari pada Bram” Ia mengakhiri petikan gitarnya, lalu bangkit dan kembali ke ruang pesta. Meninggalkanku yang bingung dan debaran halus itu kembali menggetarkan hatiku.

Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh, namun pesta belum juga berakhir. Aku mencari Kirana untuk mengajaknya pulang, sayangnya Kirana sudah menyanggupi ajakan Rafa yang tadi mengajaknya pulang bersama. Aku sebal, ia lupa padaku, tapi biarlah ia bahagia. Aku menemui Aldy dan kukatakan padanya bahwa aku akan pulang lebih dahulu sebelum acara usai. Ia bertanya padaku siapa yang akan menjemputku, hanya saja hiruk pikuk musik DJ membuat suaranya mengabur, bahkan tidak terdengar. Karena malas membuang-buang waktu, langsung kutinggalkan saja ruangan itu, di teras aku mencoba untuk menelepon supirku. Dinginnya angin malam membuatku sedikit mengigil.

Cerpen Karangan: Widya Saraswati
Facebook: Widya Saraswati
namaku Ni Putu Widya Saraswati. akrab dipanggil saras. kelahiran 18 agustus 1998 aku kelas XI di SMAK KESUMA MATARAM. terdampar di jurusan ipa dengan hobi sastra indonesia. mau sharing tentang cerpen? kontak aku ya. pin BBM : 5E4EC260

Cerpen Citarasa Cinta Masa SMA (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bernafas Tanpamu

Oleh:
Andai aku bisa kembali, pasti bahagia yang akan ku dapati. Andai aku tak terkalahkan akan keegoisanku dulu, pasti semua akan baik-baik saja. Mengapa penyesalan selalu datang di akhir? Disaat

Pertemuan

Oleh:
Pagi itu matahari sedang bersemangat untuk menebar sinar hangatnya di bumi pertiwi ini. Aku pun tak mau kalah dengannya karena sekarang adalah saat yang aku tunggu yaitu saat aku

Sesuatu Yang Menghilang

Oleh:
Diambilnya kertas dari buku tulis pelajaran bahasa indonesia lalu disobeknya sembarangan setelah itu digumpalkannya dengan keinginannya. Lalu seonggok kertas yang sengaja digumpal itu menjalankan tugasnya. Dibidik kepala seseorang yang

Teman Hidup Sejati

Oleh:
Kata orang berlian itu sangatlah indah, namun menurutku dia lah yang paling indah. ‘Dia’, wanita yang membuatku jatuh hati pertama kalinya, rambut panjang lurus berwarna coklat gelap, namun ketika

Merindukan Hujan

Oleh:
Kata orang temu adalah penawar rindu. Tapi bagaimana jika merindu namun tidak ada celah untuk bertemu? Memuncak, bertambah, bertumpuk-tumpuk sudah pasti. Sama dengan hari-hari sebelumnya. Hujan menjadi viral di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *