Clouds

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 15 March 2013

Hari ini terlihat hujan yang sangat deras. Jalananpun basah olehnya dan daun daun pun juga basah. Hari ini cuaca memang sangat tidak mendukung, meski begitu aku tetap berniat mengunjungi rumah sakit yang dimana di rumah sakit itu hanya orang orang yang mengidap kanker. Ya, memang aku sering sekali mengunjungi rumah sakit itu, mungkin sekedar menghibur orang orang disana. Bagaimanapun mereka butuh hiburan, apalagi banyak sekali anak anak yang terkena kanker disana, memang miris.

Kulewati lorong demi lorong Rumah sakit yang bernama “Healthy of Cancer” dengan cepat. Akupun segera menuju aula kecil yang disana sudah banyak anak anak dan para remaja yang telah menungguku. Terlihat keceriaan diwajah mereka, terkadang aku terharu melihat keceriaan mereka diatas penyakit yang terus menyiksa mereka dan sewaktu waktu mereka akan pergi bersama tuhan.
“pagi kak dina, kok datengnya lama sih kak? Kan depi udah kangen” ucap seorang anak kecil bernama devi.
“pagi juga sayang, maaf tadi kan hujan nah jalannya macet. Maafin kak dina ya sayang” akupun menjelaskan pada anak itu dengan lembut.
“oh gitu ya kak” ucap devi ddengan senyumnya yang sangat terlihat manis dengan gigi yang bolong ditengahnya.

Akupun segera menuju panggung dan mengajak bercanda semuanya yang ada disitu. Aku mengajak mereka bernyanyi, bermain, sampai ada yang cerita mengharukan. Sangat senag sekali saat aku berada disampng mereka, terasa sangat nyaman. Saat sedang bercerita, tiba tiba ada seorang anak yang bertanya.
“kak dina, emang kalo sakit kanker pasti meninggal ya kak? Berarti reno juga meninggal ya kak. Tapi reno takut kematian kak, reno takut.” Tanya seorang anak yang mungkin berumur 12.
“reno, jangan bilang kayak gitu ah. Sakit kanker insaallah bisa sembuh sayang, jadi kamu gak boleh ngomong kayak gitu ahhh” jelasku, dan tidak terasa buliran air mata telah jatuh dipipiku. Anak anak disana memang sering bertanya tentang kematian, sangat sedih memang saat ditanya tentang kematian mereka, merka anak anak kecil yang tidak punya dosa tapi sudah diberikan sakit yang seperti ini.

Seusai menghibur mereka, akupun menyinggahi kamar, demi kamar yang ada disana. Kali ini aku mengunjungi paviliun yang disana tempat penderita kanker yang seumuranku. Pertama aku masuk ke ruangan bernomor 27, disana tertulis nama “bisma karisma”. Akupun masuk kedalam seraya meberikan senyum kepadanya, memang tampan si bisma itu, tapi kenapa dia harus terkena penyakit mematikan ini?.
“hai bisma, gimana keadaanmu?” tanyaku basa basi.
“hmmm… seperti yang lo lihat, gw semakin kurus, dan semakin sakit.” Ucapnya sedikit cuek.
“enggak kok, kamu gak kurus banget, hehehe… kamu malah tambah ganteng loh, ini jujur tauk..” ucapku bercanda.
“aissshhh… kan kalo ganteng dari dulu gw ganteng :p” ucapnya yang mulai tidak cuek terhadapku.
“hahaha iyadeh nurut. Udah minum obat?” uapku
“udah” jawabnya singkat.
“hahahah kamu bilang udah? Noh lihat dimeja masih ada obat tuh, gak usah bohong deh. Minum gih, jangan sampe telat.”
“yah gw gagal bohongin lo deh, bego banget gw.. hahahah” ucapnya tertawa lepas. Kini suasana mulai lebih enak, bisma juga sudah mulai mau bergaul denganku. bismapun segera meminum obatnya yang sudah disediakan suster.

“hueekkk…huekkk…” tiba tiba saja bisma muntah, dan lantai menjadi kotor dan sedikit terkena bajuku.
“bisma, kamu tidak papa? Kamu mual ya?” tanyaku hati hati.
“gak, gak papa kok. Maaf gw ngotorin baju elo, sini gw bersihin.” Ucapnya seraya mengambil tissue yang ada di meja samping tempat tidurnya.
“udah gak papa kok, gak usah dibersihin. Oh iya aku ambil lap pel dulu buat bersihin ini” ucapku seraya berlalu menuju gudang. Setelah mendapatkan lap pel itu aku bergegas kembali ke kamar bisma, terlihat bisma yang sedang menekuk kedua kakinya diatas ranjang dan menelengkupkan kepalanya diantara kedua tangannya. Namun saat aku mendekati ranjangnya, dia langsung menoleh kearahku. Terlihat dia sedang mengelap matanya, sepertinya dia habis nangis.
“bis, kamu nangis?” ucapku seraya mengelus lembut rambut cepaknya.
“jangan sentuh gw! Gw emang nangis, terus masalah buat elo?!” tiba tiba bisma berubah menjadi kasar terhadapku. Sakit rasanya saat ia membentakku, seperti ribuan pisau yang menyaya hatiku, sakit banget.
“bis, hiks… hiks… maaf” ucapku dengan isak tangis, akupun mengambil tas dan bergegas keluar kamar bisma, namun tiba tiba bisma beranjak dari kasurnya dan memanggil namaku.
“din, maaf” ucapnya seraya mendekatiku dengan berjalan gontai kearahku. Dan apa yang ia lakukan? Dia memelukku ya tuhan, dia memelukku. Sangat hangat saat dia memelukku, aku tidak bisa menahan air mataku, aku menangis di pundaknya dan sepertinya dia juga menangis, karena bajuku terasa basah. Entah kenapa aku deg… degan saat bisma memelukku? Apa mungkin aku jatuh cinta dengannya. Tapi kenapa tiba tiba dia mau memeluku?

“enggak kok bis, kamu gak salah. Aku yang salah. Aku ngerti kok, mungkin tadi kamu lagi emosi karena kondisi kamu.” Ucapku mulai melepaskan pelukannya. Ya aku memang ngerti, kalu missal aku ada diposisi dia. Diposisi dimana dia punya penyakit yang mematikan, dan mungkin hidupnya gak akan lama lagi.
“din, hmmm… aku mau cerita, tapi bantuin aku ke kasur dulu ya, gak kuat berdiri gw.” Ucap bisma. Akupun membantunya kembali keranjangnya. bisma memang sudah di vonis lumpuh oleh dokter, karena kanker Leukimia yang di derita bisma sudah menyebar ke otak dan sistem syaraf gerak.
“hhmm… din, missal gw suka sama orang., tapi orang itu bertolak belakang denganku, alias dia sehat dang gw sakit. Menurut lo salah gak kalo gw cinta sama dia?” ucapnya sembari memandang lurus.
“kamu gak salah kok mencintai seorang wanita, meskipun kamu sakit, gak ada kata gak boleh. Semua sama kok. Kita sama sama manusia yang bisa saling mencintai.
“tapi gw takut, gw takut disaat gw udah gak bisa melangkah lagi, dia bakal ninggalin gw. gw juga takut gak bisa ngejagain orang yang gw cinta.” Ucapnya masih memandang lurus.
“yang pasti kamu harus tetep memperjuangkan cinta kamu” ucapku dengan senyum. tiba tiba saja ada setes darah yang jatuh diatas ranjang bisma, tepat di depan bisma. ternyata bisma mimisan.
“darah? bis kamu mimisan.” ucapku, kemudian kuambil tissue di meja dan aku lapin kehidung bisma.
“Thanks ya din, udah mana tissuenya.” ucapnya
“sama sama. mending kamu tiduran dulu, biar darahnya berhenti.” ucapku sembari membantunya tidur. “Oh iya aku kekamar yang lain ya” ucapku. Bismapun hanya mengangguk, rasanya tidak tega meninggalkannya sendiri.

Akupun kini berpindah ke kamar nomor 28, yang disitu tertulis nama “Rangga dewamoela Soekarta”. Akupun masuk kedalam dan menyapanya yang mebuatnya tersentak kaget melihatku dan rangga segera menutup sebuah buku kecil, entah buku apa itu. Akupun mendekatinya dan saat aku melangkahkan kakiku ke ranjangnya aku melihat secarik kertas betuliskan “aku ingin damai disisi Allah :D”, sangat terharu saat melihat tulisan singkat itu. akupun mengambil kertas itu dan memberikannya kepada rangga, dan rangga hanya tersenyum memandangku.sangat manis senyumnya memang.
“lagi ngapain kamu ngga?” ucapku basa basi.
“lagi nulis aja sih, lagi bête soalnya. Sepi lagi disini.” Ucapnya sambil menaruh bukunya diatas meja kecil.
“oh lagi nulis, nulis apaan hayo?”
“ihhh kamu kepoo :p” ucapnya tertawa kecil.
“kan aku emang sukanya kepo, kan aku kepo lovers..hahaha” ucapku seraya tertawa kecil.
“ada ada aja kamu, ada kepo lovers juga, baru denger.” Uapnya. “perut aku sakit, aku ke kamar mandi dulu ya” ucapnya seraya berjalan menuju kamar mandi.
“bisa aku bantu jalan?”
“jiahhh, aku mah bisa jalan sendiri. Gak perlu dibantu kali.” Ucapnya tersenyum kearahku. Padahal terlihat rangga berjalan dengan gontai sambil memegangi dinding untuk membantunya berjalan. Saat aku mendekat kearahnya untuk sekedar membantunya dia hanya menggelengkan kepalanya yang tandanya dia tidak mau dibantu.

“aku gak lemah, aku bisa sendiri.” Ucapnya singkat. Akupun kembali duduk diranjangnya, karena bosan menunggu akupun mengambil buku kecil yang tadi dipegang rangga, kemudian aku membuka halaman depan yang bertuliskan “Rangga dan tuhan” lalu aku melihat dihalaman selanjutnya, disitu terlihat 3 lembar foto, mungkin itu foto keluarganya dan sahabat sahabatnya. Aku terus membuka di halaman selanjutnya. Akupun tertarik pada tulisan dihalaman ke empat. “rangga memang gak sempurna, rangga sakit, rangga gak punya waktu lama, rangga lemah, rangga akan mati, rangga gak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ayah, rangga dari kecil udah sakit, rangga sakit kanker hati, rangga ingin bersama tuhan yang damai dan rangga akan bahagia. Gak tau sampai kapan rangga bisa menghirup segarnya udara, melihat burung setiap pagi, ngelihat matahari terbit, ngelihat indahnya dunia, rangga gak tau tuhan. Rangga pernah takut akan kematian, karena rangga divonis dokter, mama, suster kalau rangga gak akan bisa bertahan lama, semua orang selalu memperlakukan rangga seakan akan rangga akan mati besok, tapi sekarang enggak takut lagi dengan kematian. Rangga udah terbiasa mendengar kata kematian dihidup rangga. Semua orang juga pasti akan mati, begitupun rangga. Akan tetapi rangga takut ngelihat mama, kakak, adek, temen temen sedih disaat rangga udah gak ada di dunia, disaat rangga udah di sisi tuhan, rangga takut. Tapi inilah hidup rangga, rangga yang gak sempurna dan gak akan pernah ngerasain kebahagiaan. Rangga gak bisa lari larian sama temen temen, hujan hujanan, main bola, itu semua gak akan dirasain rangga lagi setelah dokter memvonis rangga terkena kanker hati. Dan satu lagi tuhan, rangga takut jatuh cinta.” Belum selesai membaca buku kecil itu yang ternyata buku diarynya sudah terdengar suara pintu, akupun segera meletakan buku diary rangga ketempat semula. Rangga berjalan sambil membawa infusnya ke ranjangnya.

“lama ya din? Hehehe.” Ucapnya tersenyum kearahku.
“gak kok, biasa aja.” Ucapku lembut. “oh iya, makan dulu gih, tadi susternya nganterin makan.” ucapku lagi
“gak ah, lagi gak mood makan. rasanya pingin muntah” Ucapnya singkat.
“kalo gak makan ntar malah tambah mual rangga, perutnya kan belum keiisi.ayolah, biar cepet sembuh” ucapku menyemangati
“mau makan sebanyak apapun, mau minum obat berapapun sampai ngabisin biaya mahal, aku juga gak bakal sembuh.” Ucapnya memandang lurus.
“gak boleh ngomong gitu ah, kamu harus berjuang rangga. Kamu masih sayangkan sama mama kamu, temen temen kamu, kamu gak maukan mereka sedih? Jadi makan yang banyak. Kamu harus bertahan demi kita semua :D” ucapku. Ranggapun memakan sesuap nasi dan sup ayam yang mungkin rasanya hambar. Dengan malasnya ia mengunyah makanan itu.
“ngga, aku pamit dulu ya, aku mau keruangan pasien yang lain, makannya di habisin loh” ucapku berlalu
Akupun mengunjungi satu persatu ruangan pasien, sekitan 8 ruangan yang sudah aku kunjungin. Karena hari sudah sore dan cuaca sangat tidaklah mendukun, akupun berniat pulang dan besok seusai sekolah aku kembali kesini, dan aku berniat mengajak sahabat sahabatku ikut.

Kini matahari telah menenggelamkan cahanya, burung burung mulai kembali kesarangnya dan ssuara adzan magrib telah terdengar nyaring ditelingaku. Akupun segera mengambil air wudhlu untuk melaksanakan salat magrib dan tidak lupa mendoakan keluargaku dan untuk semua penderita kanker. Seusai shalat akupun mengerjakan tugas sekolah, namun saat aku melihat ada secarik kertas didalam tasku, entah siapa yang memasukannya. Tulisannya sangatlah singkat yaitu “aku ingin bersamamu disisa waktuku”, aku tersentak kaget saat membaca tulisan itu, dan berfikir siapa yang memasukan kertas itu kedalam tasku? Akupun berbaring di tempat tidur sambil membaca buku pelajaran, dan akhirnya aku tertidur.

Kring… kring… kring… terdengar sangat berisiknya alarm doraemonku membangunkanku dari tidur. Akupun bersiap siap untuk berangkat kesekolah. Selesainya beres beres aku menuju ruang makan yang disana sudah terlihat kakaku yang sedang memakan sehelai roti berisikan selai coklat kesukaannya. Aku juga mengambil sehelai roti dan kuoleskan selai blueberry kesukaanku. Setelah itu aku berangkat menuju sekolah dengan mengendarai motor matic yang biasa aku bawa kemanapun. Sampainya di kelas aku langsung mengobrol dengan sahabat sahabatku.
“hei din, udah ngerjain PR?” Tanya sesil kepadaku.
“udah dong, gw gitu…” balasku
“baguslah kalo gitu, eh entar hangout yuk, males dirumah gw” ucap morgan
“hmmm…oke, tapi gw mau ngajak hangout ke tempat special.pokoknya lu pada harus nurut gak boleh nolak, atau ngeluh. “ucapku
“kemana din? Lo gak ngajak ketempat anehkan?” ucap dicky
“ya enggak lah. Tempatnya seru kok. Ntar lu juga bisa dapet pahala. Tapi ntar anterin gw ke mall dulu buat beli jajan okey” ucapku
“okey dina” ucap mereka bebarengan.
Tet…tet…tet… bell sudah berbunyi 3 kali artinya waktu pulang sekolah. Aku dan sahabat sahabatku langsung menuju parkiran menuju mall untuk membeli jajanan untuk anak anak di RS.

Kini mobil morgan sudah berhenti di sebuah RS kanker.
“loh din, katanya mau hangout? Kok di RS healthy of ancer? Lo gak usah berccanda deh. Hangout kan harusnya ketempat rekreasi bukan di rumah sakit dinnn” oceh dicky panjang lebar.
“inget kata gw, gak boleh ngeluh kemanapun yang gw mau.” ucapku seraya menarik tangan dicky dan diikuti sesil dan morgan. Aku, morgan, diky, sesil langsung menuju aula kecil yang disana sudah banyak anak kecil yang menungguku. Akupun segera menuju depan anak anak semua dan ada sedikit anak remaja dan di pojok sana ada… bisma, ya bisma yang ada diujung sedang duduk dengan kursi rodanya. Dia terlihat sangat pucat, tapi tersirat kebahagiaan diwajahnya saat melihatku, dia tersenyum kearahku dan akupun membalas senyum itu.
“pagi adek adek semua, kakak bawa temen temen kakak nih. Jadi rame kan? Kenalin yang di sebelah kakak namanya dicky, sebelah kak dicky ada kak morgan, dan kakak yang cantik itu namana kak sesil. Akupun memperkenalkan mereka pada anak anak disitu. Aku juga masih melihat bisma duduk dipojok sambil melihatku.

-BISMA P.O.V-
Apa mungkin bisa gw milikin elo din? gw sakit, dan mungkin hidupku gak akan lama lagi. Gw udah cukup bertahan 6 tahun untuk melawan kankerku, apa mungkin gw masih bisa milikin lo din? Sedangkan disebelah lo ada cowok, yang sepertinya dia kekasihmu atau entahlah tapi sepertinya laki laki itu mencintaimu. Mungkin memang gw ditakdirkan seperti ini, ditakdirkan sebagai manusia lemah, sakit, tak berdaya dan aku tidak akan pernah merasakan sentuhan, kehangatan, dan cinta seorang wanita. Mungkin gw hanya bisa mencintaimu dari jauh, gw hanya bisa mengagumimu din, tapi sebenarnya gw mencintaimu dan menyayangimu setulus hatiku, tapi sangat tidak mungkin gw milikin lo. Tak terasa buliran air mata telah berjatuhan dipipiku, entah berapa banyak yg sudah gw keluarkan.
-BISMA P.O.V END-

Sembari aku menghibur anak anak, aku terus meliha kearah bisma dan sepertinya dia menangis? Dia menangis? Sepertinya dari tadi tidak ada cerita yang mengarukan, malah semuanya tertawa, tapi kenapa bisma menangis? Akupun menghampirinya.
“hei bis, kok nangis?” ucapku pelan.
“hah nangis? Gw gak nangis, lo lagi ngehayal kali. Orang daritadi gw gak nangis.” Ucapnya bohong.
“okey kalo gitu,” akupun hanya bilang oke, padahal aku tau kalau tadi bisma bener bener nangis, aku lihat dengan jelas. Tapi biarkan saja.
“hhmmm, mau ikut ketaman belakan bareng anak anak main?” ucapku sambil duduk didepan kursi rodanya.
“ah enggak deh, ntar gw gaanggu elo sama cowok lo” ucapnya datar.
“cowok? Aku gak punya cowok bis, semuanya sahabatku. Ikutlah, kamukan bisa nyanyi sambil gitar, ntar sekalian hibur mereka giman? Setuju?” ucapku tersenyum manja.
“hmmm oke” ucapnya juga tersenyum lebar. Akupun mendorong kursi rodanya menuju depan dan semua anak melihat kearah bisma, sepertinya anak anak itu sangat mengenal bisma, apa bisma juga sering menghibur anak anak itu?
“kak bisma…kak bisma…kak bisma…” Teriak anak anak memanggil nama bisma.
“kak bisma, main lagi yuk kak, ajarin tata main gitar lagi” ucap tata seorang anak penderita kanker darah yg biasa disebut leukemia. Bisma hanya memamerkan deretan behelnya.
“okey, kalo gitu kita menuju ke taman belakang kita main bersama”ucapku sembari mendorong kursi roda bisma dan morgan, sesil, dicky dan para ssuster mendorong anak anak yang memang sudah menggunakan kursi roda. Saat berjalan di koridor aku melihat rangga yang sedang melihat keluar dengan kursi rodanya, akupun mengajaknya juga menuju taman.
“ngga, ikut ketaman yuk. Kita main, ada bisma juga.” Ucapku pada rangga. Rangga hanya menggelengkan kepalanya. namun saat sesil melewatinya rangga langsung menganggukan kepalanya dan berkata “okey” sepertinya rangga menyukai sesil. Kitapun bersama sama bermain ditaman itu, ada yang bermain bola, ada yang hanya bermain Barbie, ada yang sedang belajar bermain gita bersama bisma, yang pasti tata, dan masih banyak lagi.
Lalu bismapun menyanyikan sebuah lagu, lagu yang memang untuk member semangat penderita cancer yang berjudul CLOUDS by Zach Sobiech
I fell down… down… down… into this… dark and lonely hole…
There was no… one… there… to care about me… anymore…
And I needed… a way… to climb and grab a hold… of the edge…
You were sitting… there… holding a rope…

Chorus 1

And we’ll go up… up… up…
But I’ll fly a little higher…
Go up… in the clouds… because the view’s… a little nicer…
Up here… … … my… dear… … …
It won’t be long now…
It won’t be long now…

Verse 2
When we get back… on… land… well I’ll never get my chance…
Be ready… to… live… and it’ll be ripped right out my hands…
And may…be someday… we’ll take… a little ride…
Go up… up… up… and everything… will be just fine…

Chorus 2
We’ll go up… up… up…
But I’ll fly a little higher…
Go up… in the clouds… because the view’s… a little nicer…
Up here… … … my… dear… … …
It won’t be long now…
It won’t be long now…

Bridge
If only… I had a little bit more… time…
If only… I had a little bit more… time… with… you…

Verse 3
We could go up… up… up… and take that little ride…
We’ll sit there holding hands… and everything… will be just right…
May…be someday… I’ll see you again…
We’ll float up in the clouds… and we’ll never… see the end…

Chorus 3
We’ll go up… up… up…
But I’ll fly a little higher…
Go up… in the clouds… because the view’s… a little nicer…
Up here… … … my… dear… … …
It won’t be long now…
It won’t be long now… … … …

Itulah lagu yang dinyanyikan bisma, aku sangat terharu. Tak sedikit air mata yang keluar dari mataku. Bisma, rangga, morgan, dicky, sesil dan anak anakpun menngis terharu. Itu memang lagu yang sering dinyanyikan oleh bisma, jadi anak anak mengerti isi dari lagu tersebut. Karena hari sudah sangat sore aku mengantarkan anak anak ke kamarnya masing masing. Dan aku mengantar bisma ke kamarnya.
Di kamar bisma aku langsung menanyakan tentang kertas yang tadi malam kutemukan di dalam tasku, .
“bis, aku mau Tanya sesuatu boleh? Tapi kamu jujur ya.” Ucapku lembut sambil merogoh tas ranselku untuk mengambil kertas itu.
“bis, ini punya kamu? Kamu yang naruh kertas ini?”tanyaku hati hati.
“nghh…eng.. enggak kok. enggak. mana mungkin gw nulis kayak gini.enggak.” ucapnya gugup. Aku tau dia pasti berbohong padaku
“bis, tolong jujur sama aku… pliss. Aku gak marah kok kalo kamu jujur. Aku gak akan ngejauhin kamu.” Ucapku pelan.
“i…iya itu gw yang masukin. gw salah ya masukin itu?” Ucapnya, terlihat bisma menangis.
“loh kok nangis bis? Kenapa? Kamu gak salah kok.” ucapku seraya menghapus air matanya. Tiba tiba saja memelukku erat, dan seperti tidak ingin lepas.
“gw… gw cinta sama lo din. Tapi gw takut, gw takut lo gak suka gw, gw takut lo bakal jauhin gw, gw takut umurku gak akan lama dan gw gak bisa…ja…” ucapnya, belum selesai berbicara aku sudah membungkam mulutnya.
“sssttt… kamu boleh kok cinta, sayang sama aku. Aku gak bakal jauhin kamu, aku yakin kamu bisa bertahan bis. Aku yakin.hiks…hiks…” sebenarnya aku tidak yakin bisa bertahan hidup, kata dokter tadi waktu ngeliha hasil lab bisma, kanker leukimianya ada di dua jenis yaitu Acute Lymphotic leukemia dan chronis Myleoid leukemia dan kata dokter sudah tidak ada harapan lagi untuk bisma. Bisma juga sudah tidak mampu berjalan tegak dan lebih baik menggunakan kursi roda. Sebenernya aku juga mencintai bisma.
“gak din, gw udah cukup bertahan selama ini, gw udah gak kuat ngelawan penyakitku. Jalan aja gw udah gak mampu, apalagi jagain elo, gw gak mampu. Nantinya gw cuman nyusahin elo din.” Ucapnya
“hmmm… bis kalo aku juga cinta sama kamu, kamu mau gak jadi pacar aku? Aku tulus bis. Memang gak sewajarnya cewek nembak cowok. Tapi karena cintaku sama kamu bis. Kamu mau kan jadi pacar aku.” ucapku sambil memandangnya lekat lekat.
“enggak din, gw gak bisa, gw gak bisa jadi pacar lo. Percuma kalau kita pacaran, gw bakal nyusahin elo din…” ucapnya yang langsung mendonrong kursi rodanya menuju ranjangnya dan kemudian ia menenggelamkan kepalanya .
“bis…” Ucapku seraya menepuk pelan pundaknya.
“enggak din, kamu pergi sekarang. Pergi!” teriaknya padaku. Sakit!sakit yang sekarang aku rasain. Bisma marah sama aku lagi, rasanya sakit banget. Akupun berlari keluar dan duduk di kursi depan RS dengan isak tangis.
“din, lo kenapa?” aku hanya diam tak bersuara, hanya terdengar suara isak tangis.
“din, bisma apain elo din? Din…dina…” ucap sesil sembari mengelur rambutku. Aku hanya menggeleng.
“din, lo jujur deh sama gw” ucap sesil lagi. Akupun langsung berhambur kepelukan sesil, entah kenapa rasanya sakit banget diperlakukan bisma seperti itu.

Tiba tiba terdengan suara keriuhan suster yang memanggil dokter dan membawa alat alat medis kedalam ruangan bisma. Bisma? Bisma..!!
“sil, bisma sil, bisma!! Gw mau keruangan bisma sekarang.” Ucapku langsung berlari menuju ruangan bisma. Saat akan masuk keruangan bisma, suster menyuruhku menunggu diluar.
“hikss… hiks… bisma… bisma… hiks… hiks..” tangisku semakin pecah. Lalu ada anak kecil yang menemuiku.
“kak dina, kak dina kenapa? Kenapa dengan kak bisma? Kak bisma kenapa kak din?” ucap anak itu. Akupun langsung memeluk anak itu erat. Anak itupun menangis sesenggukan. Anak itu adalah tata, yang memang dekat dengan bisma.
“kak bisma gak papa sayang, kita berdoa aja.” Ucapku.
“aku sayang kak bisma… Kak bisma gak boleh pergi, kak bisma harus sembuh. Tata mau diajarin main gitar lagi sama kak bisma.hiks..hiks…” tangis tata di depan pintu ruangan bisma. Karena mendengar tutur tata membuatku semakin menangis. Aku terus berdoa untuk kesembuhan bisma, semoga bisma bertahan ya allah, aku gak mau kehilangan sosok bisma, aku sayang bisma. Setelah menunggu sekitar 1 jam, keluar seorang dokter.

“dok, gimana dengan bisma? Bisma gak papa kan dok? jawab dok.” Ucapku taksabar.
“bisma…bisma masih bisa tertolong, namun penyakit bisma semakin… kamu tau kan gimana perkembangan bisma?” ucapnya. Aku hanya mengangguk lesu.
“sekarang saya bisa nemuin bisma?” tanyaku.
“iya boleh, tapi jangan diganggu, dia sekarang sedang tertidur karena obat bius.” ucap dokter itu. Akupun segera masuk kedalam ruangan itu bersama tata. Sepertinya baru saja aku melihat bisma yang ceria, bisma marah sama aku, dan sekarang bisma terbaring lemah.
“bis, maafin dina. Tadi dina gak bermaksud buat kamu marah yang bikin kamu drop kayak gini.bangun bis, bangun. Ini ada tata bis, dia pingin main gitar lagi sama kamu. Bangun bis, demi kita semua.” ucapku sambil terus memegang telapak tangannya dan sesekali aku mencium telapak tangannya, dingin yang aku rasakan saat memegang tangannya. Tatapun naik diatas ranjang bisma dan mengelus rambut bisma dan mengecup kening bisma. Sepertinya tata memang sangan menyayangi bisma sebagai kakak. Beberapa saat kemudian bisma terbangun.
“bis.. bis kamu udah bangun bis.” ucapku senang.
“kak bisma, kak bisma udah bangun.” ucap tata yang langsung berhambur memeluk bisma.
“bisma hanya diam tak berkata, mungkin bisma gak mau ngeliat aku. Akupun pergi dan meninggalkan tata disitu. Namun saat aku melangkahkan kakiku tiba tiba bisma memanggilku.
“din…dina…maafin bisma.” Ucapnya lembut. Akupun berhenti melangkah dan membalik arah kearah bisma.
“maafin aku din, aku…aku mau jadi pacar kamu. Aku cinta sama kamu.” Ucapnya lemah. Akupun langsung memeluknya erat, lalu akupun duduk disampingnya bersama tata. Tiba tiba anak anak masuk kedalam ruangan bisma, mereka bernyanyi bersama untuk menyemangatin bisma. Mereka bernya lagu yang biasa dinyanyikan bisma

I fell down… down… down… into this… dark and lonely hole…
There was no… one… there… to care about me… anymore…
And I needed… a way… to climb and grab a hold… of the edge…
You were sitting… there… holding a rope…

Chorus 1

And we’ll go up… up… up…
But I’ll fly a little higher…
Go up… in the clouds… because the view’s… a little nicer…
Up here… … … my… dear… … …
It won’t be long now…
It won’t be long now…

Verse 2
When we get back… on… land… well I’ll never get my chance…
Be ready… to… live… and it’ll be ripped right out my hands…
And may…be someday… we’ll take… a little ride…
Go up… up… up… and everything… will be just fine…

Chorus 2
We’ll go up… up… up…
But I’ll fly a little higher…
Go up… in the clouds… because the view’s… a little nicer…
Up here… … … my… dear… … …
It won’t be long now…
It won’t be long now…

Bridge
If only… I had a little bit more… time…
If only… I had a little bit more… time… with… you…

Verse 3
We could go up… up… up… and take that little ride…
We’ll sit there holding hands… and everything… will be just right…
May…be someday… I’ll see you again…
We’ll float up in the clouds… and we’ll never… see the end…

Chorus 3
We’ll go up… up… up…
But I’ll fly a little higher…
Go up… in the clouds… because the view’s… a little nicer…
Up here… … … my… dear… … …
It won’t be long now…
It won’t be long now… … … …

Mereka bernyanyi bersama. Bisma tidak bisa lagi membendung air matanya, yap bisma menangis.
“terimakasih adek adeku semua. Kalian penyemangat kakak. Oh iya, kakak mau minta maaf kalu kakak punya salah sama kalian, kakak minta maaf kalo kak bisma udah gak bisa nyanyi lagi, udah gak bisa main gitar lagi, oh iya kak bisma udah jadian sama kak dina loh.hehehe” ucapnya. Semua anak bersorak senang.
“makasih din, lo udah mau jadi pacar gw, udah rawat gw, udah jagain gw, makasih buat semuanya. Din, kalo boleh jujur gw udah gak kuat lagi hidup, gw gak kuat buat ngelawan penyakitku. gw pingin berada disisi tuhan, damai dan gak ada rasa sakit lagi.” Ucapnya membuatku terharu.
“kalau memang itu yang kamu mau, tidurlah bis, tidurlah disisi tuhan, aku ikhlas bis kalau memang itu yang bikin kamu tenang, bahagia dan gak akan ngerasain sakit lagi.” Ucapku sambil terus memegang kedua telapak tangannya dan menagis.
“ terimakasih din, I love you dina.” Ucapnya dengan seketika bisma memejamkan matanya dan alat kardiograf sudah terlihat flat… aku hanya bisa menangis atas kepergiannya.
“kak dina, kakak kok nangis? Kak bisma lagi tidur ya kak?” Tanya salah satu anak kecil.
“hikss… hiks… kak… kak bisma pergi, pergi ninggalin kita semua sayang. Kita harus ikhlas.
“enggak!kak bisma gak boleh pergi, kak bisma bangun, kak bisma bangun, kak bisma bangun…” teriak anak anak. Kemudian datanglah seorang dokter. Dan kita semua menunggu keluar.
Sekarang Bisma benar benar pergi, pergi dari kita semua. Akupun masuk kedalam kamar bisma dan menemukan vcd dan lalu aku menyetelnya bersama anak anak di aula kecil.
Dan isinya ternyat bisma, bisma mengatakan sesuatu.

Hai semua, hai adek adekku tercinta, hai dina, kak bisma mau nyanyi nih, kalian pasti tau lagunya, lagi lagi bisma menyanyikan lag yang biasanya
I fell down… down… down… into this… dark and lonely hole…
There was no… one… there… to care about me… anymore…
And I needed… a way… to climb and grab a hold… of the edge…
You were sitting… there… holding a rope…

Chorus 1

And we’ll go up… up… up…
But I’ll fly a little higher…
Go up… in the clouds… because the view’s… a little nicer…
Up here… … … my… dear… … …
It won’t be long now…
It won’t be long now…

Verse 2
When we get back… on… land… well I’ll never get my chance…
Be ready… to… live… and it’ll be ripped right out my hands…
And may…be someday… we’ll take… a little ride…
Go up… up… up… and everything… will be just fine…

Chorus 2
We’ll go up… up… up…
But I’ll fly a little higher…
Go up… in the clouds… because the view’s… a little nicer…
Up here… … … my… dear… … …
It won’t be long now…
It won’t be long now…

Bridge
If only… I had a little bit more… time…
If only… I had a little bit more… time… with… you…

Verse 3
We could go up… up… up… and take that little ride…
We’ll sit there holding hands… and everything… will be just right…
May…be someday… I’ll see you again…
We’ll float up in the clouds… and we’ll never… see the end…

Chorus 3
We’ll go up… up… up…
But I’ll fly a little higher…
Go up… in the clouds… because the view’s… a little nicer…
Up here… … … my… dear… … …
It won’t be long now…
It won’t be long now… … … …
Nah gimana? Mungkin ini terakhir kalinya kakak bisa nyanyiin buat kalian.

Hidup kakak emang gak lama lagi, buat adek adek terus berjuang, jangan pernah menyerah dengan kanker, kanker musuh kita, jadi kita harus lawan.
Kanker tidak untuk ditakuti, kanker tidak untuk ditangisi. Kanker harus dilawan dengan semangat dan kesabaran. Pokoknya kalian harus berjuang hidup.
Buat dina, aku mau bilang makasih untuk semuanya, untuk kasih sayangmu disaat kamu ngerawat aku. Pokoknya terimakasih buat semuanya.
Bye… bye…

Semua anak anak berteriak mengucapkan “I LOVE YOU KAK BISMA.”
Aku akan selalu mencintaimu meskipun kamu udah gak ada lagi, tapi kamu masih ada di hatiku. jika suatu saat aku udah ngedapetin laki laki lain aku akan terus mencintaimu sampai kapanpun. kamu udah berjuang bis, kamu udah bisa melawan penyakitmu selama 6 tahun dan itu tidaklah cepat. mungkin memang ini takdirmu, kamu pergi ninggalin semua. semoga kamu bahagia disana 🙂 I LOVE YOU.

Cerpen Karangan: Nanda Fitria Santi
Blog: nandafitriasanti.blogspot.com

Cerpen Clouds merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Secret Admirer

Oleh:
Relis melihat cahaya terang menelusuri lorong sekolah tempat ia duduk dengan teman-teman akrabnya. Cahaya itu semakin dekat dan semakin membuat Relis tak kuat menahan detakan jantungnya. Aroma cahaya itu

Sebuah Es Krim

Oleh:
“Kau! Kau sudah menghabisinya! Kau akan membayar untuk semua ini!!”, teriakku penuh dendam, armor putih yang kukenakan gugur berjatuhan. Harus kuakui, Jake memang lebih kuat dariku, armornya bahkan tidak

Aku Lebih Memilih Setia

Oleh:
Pikiranku kembali menerawangi langit dikala senja. Ya, karena aku adalah gadis pengagum senja. Dan senja bagiku adalah teman sejatiku disaat aku kehilangan teman nyataku. Sesekali aku melihat deburan ombak

Pesan Tersimpan

Oleh:
Perkenalan aku dengan dia bermula saat aku mencoba mendaftar sebagai admin di salah satu sosial media. Awalnya aku tidak menyadari bahwa dia juga ikut, bahkan aku juga belum mengenal

Tulang Rusuk Takkan Tertukar

Oleh:
“kriiiing, kriiiiiing,”, suara yang tak asing lagi bagi telinga Zahra, ya jam beker berbentuk hati berwarna ungu yang berada di meja kecil di sebelah ranjang Zahra. Jarum pada jam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *