Cokelat Story

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 5 August 2013

Aku dan Anton sebenarnya sudah kenal lama, kami teman sekelas waktu SD. Aku masih teringat kebiasaan buruknya, karena kebiasaannya itu sempat membuatku marah. Suatu ketika kaos kaki kesayangannya yang hampir seminggu tidak pernah ganti dilempar-lemparkan. Tiba-tiba kaos kaki itu melayang tinggi dan prakkk… akhirnya mendarat tepat di wajahku. Pufft… Aku tak tahan dengan bau khasnya sampai akhirnya aku pingsan. Semakin lengkap penderitaanku karena sehari kemudian aku sakit. Mamaku sangat cemas siang malam setia merawatku, meskipun terkadang mamaku cerewet. Aku hanya tertunduk dan diam saat mama menasehati atau mengomeli aku.
“Santi, kamu tahu roda itu pasti berputar!”
Kata-kata itu sering keluar saat mama menasehatiku. Aku mencoba menghubung-hubungkan ucapan dari mama itu dengan keadaanku sekarang ini.
“Apa benar yang dikatakan mama, roda itu pasti berputar, yang buruk bisa menjadi baik, yang miskin bisa menjadi kaya, yang dulunya benci bisa menjadi suka”, gumamku dalam hati. Dahulu memang karena keusilan Anton, saya menjadi sangat benci terhadapnya, tapi sekarang bagai roda berputar, rasa benci itu telah tergantikan menjadi cinta teramat besar, bahkan bulan depan hubunganku dengan Anton sudah menginjak 3 tahun.

Pernah aku ingin tuk memberikan suatu kejutan kecil di hari jadianku dengan Anton, aku ingin memberikan sesuatu yang spesial buatnya, dan saya pikir tas merupakan pilihan yang sangat tepat baginya, karena menurutku tas yang sampai sekarang dipakainya sudah usang, padahal dia kemana-mana gak pernah lepas dari tas kecil yang selalu ia pakai untuk membawa Galaxy Tab kesayangannya. Sering tas coklat yang dipakainya itu menjadi bahan guyonan kami berdua. Akan tetapi sampai sekarang keinginan itu belum terwujud, karena Anton masih setia dengan tas bututnya itu.

Suatu ketika aku mengajak Anton untuk mengantarkan aku membeli sepatu baru, tas coklat usang itu sudah pasti menjadi teman bagi kami berdua.
“Ach.. tas itu lagi beb” sindirku.
“Gak apa-apa cinta, kamu tahu gak asal-usul tas ini?” sahut Anton dengan nada serius.
“Enggak, emang darimana?” sahutku dengan penuh rasa penasaran.
“Tas ini peninggalan dari eyangku sewaktu ikut perang kemerdekaan dulu buat membawa peluru” jawab Anton dengan senyum kecil nampak di wajahnya.
“Ahh.. kamu itu ada-ada aja beb, mungkin kaos kaki yang kamu lempar tepat mengenai wajahku dulu juga peninggalan eyangmu juga ya, pantas baunya sangat bersejarah sekali, gak ilang-ilang sampai sekarang” balasku sambil kami berdua tertawa terbahak-bahak ketika mengingat masa lalu itu. Yah memang kami berdua sering saling melempar canda, tapi tidak ada rasa tersinggung di antara kami berdua.
“Udah siang nih beb, ayo kita langsung ke SunShop, keburu malam entar pulangnya” ajakku dengan tergesa-gesa.
“Oke cinta, ayo kita meluncur!” jawab Anton sambil menyalakan mesin motornya.

Sampai di tengah perjalanan menuju SunShop toko milik cak Dikin itu, jalanan macet, ditambah panas terik matahari yang hampir membakar kulit putihku, tapi tekad kami sudah bulat untuk meneruskan perjalanan kami yang hanya tinggal 3 kilometer itu.
“Puffft… jarak 3 kilometer saja sampai 15 menit sampainya” keluhku sambil menaruh helm di kaca spion motor yang diparkir di samping SunShop.
“Udahlah cin, gak usah mengeluh terus, yah beginilah perjuangan untuk bisa sampai toko matahari (SunShop), jelas panas lah!” canda Anton menghiburku.

Sampai di dalam SunShop hawa dingin mulai kami rasakan berdua, maklumlah toko milik Cak Dikin itu dilengkapi AC yang membuat nyaman bagi pembeli.
“Beb, sepatu putih ini bagus nggak?” tanyaku sambil menunjukkan sepatu yang ku maksud.
“Emmm… warna coklat di sebelahnya itu aja cinta!” saran Anton.
“Kamu itu beb, selalu aja warna coklat, bahkan kaos kaki putih pun kamu sulap menjadi warna coklat dengan bonus wewangian yang membius ku dulu” candaku sambil mengingat kembali tragedi kaos kaki yang membuat ku pingsan masa SD dulu.
“Hahaha… kamu itu cin, suka-sukanya mengungkit masa lalu, kenapa? Kamu kangen dengan kaos kaki ku yang dulu?” candanya.
“Ihhh… amit-amit dech! Lagian kamu inget nggak tahun lalu kan kamu udah membelikan aku sepatu warna coklat beb” sahutku mengingatkan dia.
“Oh iya aku lupa, sepatu putih pilihanmu itu juga bagus kok cin” Anton berkilah.
“Ya udah, aku ambil yang warna putih ini aja ya” sahutku
Setelah membayar di kasir, kami bergegas meninggalkan SunShop langgananku.

Di tengah perjalanan menuju ke rumah dengan mengendarai motor bebeknya, Anton mengajakku untuk santai dulu di Chocolatos Cafe dekat rumahku.
“Masih sore nih cin, kita mampir ke café dulu yuk, sambil nyoba wifi gadgetku” pinta Anton.
“Bolehlah, tapi sebelum maghrib pulang lho ya!” jawabku sambil memberikan syarat.

Sesampai di café, Anton memilih meja nomor 9, nomor mujur kata Anton yang juga suka nonton bola itu. Setelah duduk, saya pesan minum untuk kami berdua, karena Anton sudah sibuk mengeluarkan gadget dari tas coklat yang dibawanya itu.
“Kamu pesan apa beb?” Tanyaku serius.
“Sudahlah terserah kamu lah, yang penting kamu yang bayar ya!” jawab Anton santai sambil sibuk dengan gadgetnya.
“Ufff… menjengkelkan sekali kalau Anton sudah asyik maen dengan gadgetnya, sampai-sampai aku dihiraukan, bahkan mungkin kalau ada lalat yang nempel dihidungnya pun mungkin dia masih asyik dengan mainannya itu” Keluhku dalam hati.

15 menit setelah pesanan diantarkan, Anton masih mematung sambil memandangi gadgetnya, padahal capuccino pesananku sudah tinggal seperempat gelas, tapi Anton sama sekali belum meminum apa yang telah aku pesankan untuknya.
“Sudahlah beb, mbok ya berhenti sebentar mainnya, minumanmu masih utuh tuh, cepat diminum, hari sudah semakin larut” sela ku.
Tak lama Anton sambil konsen di gadgetnya meminum isi gelas yang ada tepat di depannya tanpa mengubah arah pandangnya. Akan tetapi setelah hanya meminum seteguk Anton langsung memalingkan pandangan dari gadgetnya, sambil melotot ke arahku dia bertanya
“Cin emang kau pesankan apa ini?”
“Oh itu cokelat panas beb, kenapa?” sahutku.
“Oalahhh… cinta, aku kan udah bilang ke kamu kalau aku alergi banget sama minuman yang namanya cokelat.” Jawab Anton sambil mengeluarkan sapu tangan untuk menutupi wajahnya dan terburu-buru untuk ke toilet sampai-sampai tas coklatnya masih menempel di bahunya.

Memang dulu Anton pernah cerita padaku kalau waktu umur 4 tahun dia pernah mengalami alergi yang tak biasa, dia menceritakan kalau waktu itu setelah menikmati es krim rasa cokelat, wajahnya yang putih itu mendadak memerah kehitam-hitaman dan terasa bengkak katanya. Sebelum memesan sebenarnya aku ingat akan cerita itu, tapi aku setengah tidak percaya dengan ceritanya, karena setelah bercerita Anton tersenyum simpul yang saya artikan kalau ceritanya itu hanyalah guyonan belaka. Kami berdua memang sangat suka bergurau, usil, juga pandai berakting, bahkan sesuatu yang serius dan candaan pun hampir tak dapat dibedakan.

15 menit berselang Anton tak kunjung keluar dari toilet, dalam hati mulai menghawatirkan keadaannya, tapi aku tak dapat menyusulnya ke toilet karena toilet laki dan perempuan dipisahkan di café itu.
“Apa mungkin cerita Anton itu benar ya? Kenapa juga tadi memesankan Anton cokelat panas, ribet dah jadinya sekarang” sesalku dalam hati.

30 menit sudah hati ini diliputi rasa kekhawatiran, sampai aku tak menyadari lingkungan sekitar, kabut sesal memberikan suasana mencekam pada lamunanku, dan aku terkagetkan dengan sentuhan tangan di bahuku.
“Ayo cin kita langsung pulang, semua sudah aku bayar kok!” kata Anton dari belakangku sambil tangan kirinya menepuk bahuku dan tangan kanannya masih memegang sapu tangan yang masih menempel di wajahnya.
“Oh beb, kamu mengagetkan ku, kamu gak apa-apa beb?” sahutku sambil terkagetkan dari sentuhan tangannya.
“Gak apa-apa, ayolah kita pulang!”
“Oh ya tolong tab ku masukin ke tas aku ya!” pinta Anton masih menutupi wajahnya.
“Kamu bener gak apa-apa beb?” tanyaku memastikan keadaannya sambil memasukkan tab ke tas yang nempel di bahunya.
Tanpa menjawab pertanyaanku dia langsung jalan menuju parkiran motor, dan aku pun mengikutinya dari belakang.
Hampir dekat dengan motornya, Anton berusaha meraih kunci motor yang ada di saku celana jeans nya yang ketat, dan tanpa disadari sapu tangan yang menutupi wajahnya itu terjatuh.
“Lho…” kataku terkagetkan setelah melihat wajah Anton yang lebih gelap dengan bibir yang sangat tebal. Wajah yang dulunya cakep itu pun berubah menjadi menjijikkan.
“Kamu bener Anton?” tanyaku.
“Kamu ngomong apaan sih, kamu gak lihat wajahku apa kalau aku ini bener-bener Anton” jawabnya dengan nada tinggi.
“Aku gak percaya kalau kamu Anton, meskipun kena alergi, gak mungkin wajahmu berubah sedrastis ini, aku bahkan tak mengenalmu lagi sekarang” sangkalku egois.
“Kamu memang keterlaluan ya, sudah tidak minta maaf, eh sekarang malah sok gak kenal ma aku akibat dari perbuatanmu sendiri” kata Anton marah.
“Jangan nipu aku ya Om, mana Anton pacarku?” kataku seakan bicara sama orang lain.
“Kamu tadi minum apaan sih, kok jadi mabok sekarang, aku ini Anton!” sindir Anton yang memang sudah tahu kalau aku tadi hanya minum capuccino.
“Gak percaya kalau kamu Anton, dan meskipun kamu Anton pun aku gak akan mau jalan denganmu!” jawabku emosi yang masih gak percaya kalau itu Anton.
“Kalau Om gak mau jujur, oke saya pulang sendiri” gertakku sambil nyelonong meninggalkan sosok yang tidak ku kenal itu.
5 meter aku berjalan gejolak batin bertambah besar dalam hatiku, hingga sampai tikungan aku berhenti dan mengintip sosok laki-laki itu yang masih terdiam di depan spion motornya Anton, sembari hati saling berdebat meyakini siapa sebenarnya laki-laki itu.
“Jelek gitu kok pede banget ngaku-ngaku Anton”
”Mungkin laki-laki itu masih berpura-pura dengan alasan berkaca di spion motor Anton sampai benar-benar memastikan aku tidak memperhatikannya”
“Tapi kok baju, celana, perawakannya, dan bahkan tas coklat yang dibawanya sama persis punya Anton ya, mirip pun gak mungkin, karena aku hafal betul keusangan tasnya sama persis dengan yang dibawa laki-laki itu” kata hatiku mulai berbalik mempercayai kalau laki-laki tersebut memang Anton.
“Ah bodohnya aku, mudah banget aku dibutakan oleh emosi, laki-laki itu pasti Anton”
Setelah sadar aku langsung menghampirinya yang masih berkaca melihat wajahnya.
“Anton… maafkan aku ya, tadi aku emosi!” pinta maafku pada laki-laki itu.
Sambil terkagetkan sosok laki itu menoleh ke belakang sambil berkata
“Udah gak apa-apa, kamu kan udah melepaskan aku setelah melihat wajahku jelek begini, aku iklas kok” jawab Anton dengan nada berat.
“Enggak Anton, aku bilang seperti itu karena aku emosi, karena merasa dibohongi oleh orang yang nggak aku kenal, tapi setelah aku melihat kamu dari kejauhan tadi, aku sadar bahwa kamulah Antonku” kataku terbata-bata.
“Meskipun kamu sejelek apapun, asalkan itu dirimu, cintaku gak berkurang sedikitpun kok”
Tak sadar ada yang meleleh di bawah mataku, sambil aku memeluk hangatnya tubuhnya Anton.
Tak lama kemudian ada teriakan yang memanggil namaku.
“Santi!!”
“Udah mau isyak, udah sholat maghrib belom? Cepet bangun dan mandi sana, Anton juga nungguin kamu nih!” teriak mama ku membangunkan aku.
Aku langsung bergegas bangun, dan melihat guling yang aku peluk tadi basah karena air mataku. “Ada-ada aja mimpi tidur di sore hari” gumamku dalam hati. Kata orang tua memang gak baik tuk tidur menjelang magrib, tapi gimana lagi tadi ku kecapekan baru datang dari kampus pukul 4 sore, niat hati mau mandi tapi rebahan sebentar, akhirnya tertidur dengan diberi mimpi seperti itu.

Setelah mandi dan sholat maghrib, aku menemui Anton, dan menerima kado darinya.
“Wow… makasih ya beb! Dalam rangka acara apa kamu ngasih hadiah ke aku?”
“Walah cin, kamu lupa ya, sekarang kan valentine day” jawab Anton.
Lansung aja aku buka bungkusan kertas kado yang membalut hadiah untukku.
“Asyik… cokelat almond, kamu tahu aja beb kesukaanku” kataku sambil tersenyum kecil mengingat mimpiku barusan.
“Oh ya beb, aku mau nanya tapi tolong kali ini dijawab serius ya!” tanyaku dengan nada serius.
“Tumben serius amat cin, okelah kalau kamu meminta aku tuk serius menjawab”
“Sebenernya cerita kamu dulu yang alergi sama cokelat itu beneran nggak sih?”
“Hahahh… itu cuma bergurau kok cin, masak sudah 3 tahun jalan ma aku masih belum bisa membedakan mana omonganku yang bercanda mana yang serius? Emang kenapa kok tanya begitu? Mau beliin aku cokelat ya” goda Anton.
“Ihh… ogah deh, val day itu yang pantes cowok memberikan cokelat ke ceweknya, bukan sebaliknya” jawabku canda dengan perasaan lega.

Yah beginilah resiko jalan sama orang yang sama-sama suka ngebanyol, harus pandai memilah-milah mana yang canda mana yang serius, untung kisah cokelat tadi tidak serius terjadi.

Cerpen Karangan: Moch. Khoirul Huda
Facebook: https://www.facebook.com/wong.huda

Cerpen Cokelat Story merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bekal Cinta Mama

Oleh:
“Ivani, bekal kamu mama taruh di tas kamu ya?” ucap mama lembut “hah, apa?!. Bekal?!. mah, Ivani itu sudah besar! nggak butuh bekal mama!. lagipula kalau Vani lapar, Vani

Regret

Oleh:
Pernahkah kau berpikir tentang aku yang selalu menemanimu dalam keadaan apapun? Pernahkah kau menyadari betapa aku menyayangimu? Pernahkah terlintas di benakmu tentang aku dan perasaanku padamu? Hal itulah yang

Aku Mengagumimu Selalu

Oleh:
Aku adalah seorang siswi yang kata orang cukup pintar. Aku sangat bersyukur atas kelebihan yang Allah berikan padaku. Sekarang aku duduk di kelas XI IPA 1 Madrasah Aliyah. Aku

Kepala Dingin

Oleh:
Di sebuah sekolah menengah pertama (SMP) terdapat seorang siswa lelaki, namanya Gilang. Gilang merupakan siswa lelaki yang manja juga pemalas, dia tak mau berpikir untuk mengerjakan tugas. Setiap ada

Hujan yang Membuat ini Terjadi

Oleh:
Disabtu malam yang kelabu aku menatap bintang yang indah,ditemani dengan boneka teddy bearku yang seakan tau isi hatiku sekarang . Dimalam itu langit seakan ikut larut dalam kesedihanku,ikut larut

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *