Come Back (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 3 June 2020

Namaku Edman D. Philiph, aku adalah salah satu mahasiswa blasteran Inggris raya yang sejak kecil sudah hidup di Indonesia, dan aku akrab disapa anak-anak dengan panggilan Maman, namun sahabat terbaikku memanggil mancung, karena memang hidungku mancung dan lancip.

Nama sahabatku adalah Ivana Larasati cewek asli pribumi yang cantiknya benar-benar wajah Indonesia banget. Ia adalah sahabatku yang terbaik dari saat aku masih sekecil biji beras hinggaku menjadi salah satu mahasiswa di Universitas Negeri di Kota Pahlawan.

Tak pernah seharipun aku lepas dari dia sejak kecil bahkan saat di SMA banyak yang mengira aku adalah pacarnya, namun dengan tegas aku menyangkal, karena memang tidak ada hubungan khusus antara aku dan dia. Ketika aku kembali berpasangan di Kuliah bersamanya aku dan dia pun menegaskan kepada semua temanku, kalau kami tidak ada hubungan khusus.

Teman-teman kuliah bahkan teman sekelasku bertanya padaku tentang Ivana remaja yang memang bisa dikatakan begitu cantik dan menawan di mata para pria dan para gadis-gadis yang iri padanya, karena langsung populer sejak awal masuk kuliah.

“Eh Man, denger-denger kamu akrab banget ya sama Ivana anak fakultas ekonomi,” ucap benny teman sekelasku.
“Iya, kenapa Ben?” jawabku.
“Aku boleh gak deket sama dia? Aku tertarik banget saat melihat dia,”
“Waduh, kalau masalah itu aku gak bisa ngasih keputusan, coba tanya dia langsung aja,” jawabku santai.
“Kamu kan temennya men, bantuin kek temen sekelasmu ini sedikit-sedikit,”
“Bantu gimana, sejak jaman sekolah sampai kuliah, semua temanku selalu meminta tolong untuk pdkt in ke dia, tapi dianya gak mau bro, mending langsung temuin dia deh,”
“Huft, oke deh kalau begitu, cuma kalau aku sudah bisa kenalan, kamu bantu ya,”
“Siap deh bos hahaha,” jawabku dengan tertawa.

Aku begitu santai dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Benny padaku, bahkan aku juga tidak tahu kenapa si Ivana selalu menolak seluruh orang yang meminta tolong padaku. Hanya itu yang setiap hari aku rasakan dari teman-teman kelasku.

Jarum jam menunjukkan tepat jam 12 siang, jam mata kuliahku pun sudah selesai semua, aku beranjak dan berjalan ke parkiran untuk mengambil motorku dan pulang, namun si pembuat onar langsung mendatangiku dan mengagetkanku.

“Hoooeeee, mancung cuek amat sih, sampai gak nyapa aku???” teriak Ivana di telingaku.
“Eh… Buset ini anak, ini kuping wooee, bukan mikrofon,” ucapku jengkel.
“Hehehe, cung… tadi ada anak kelasmu lo yang mau kenalan sama aku, namanya Benny,”
“Hmmmm… iya aku tahu kok, tadi dia langsung aku suruh kenalan sama kamu daripada aku bantuin dia, pasti bakal merepotkan,” dengan ekspresi datar aku menjawab.
“Cung kamu kenapa sih, ekspresimu gitu amat,”
“Gak kenapa-kenapa sih, bosen aja dari jaman kita masih kecil sampai segede gini, aku masih aja jawab pertanyaan yang sama dari prajurit-prajurit berkuda cokelatmu,”
“Hmmmm… kamu cemburu ya Cung??? Maaf ya Cung, maklum kan aku kece dan famous hahaha,” jawabnya membanggakan diri.
“Hadeh, iya..iya yang famous, ayo jadi pulang gak?”
“Oh iya Cung, ayo pulang,”

Kami berdua pulang dengan kuda maticku yang selalu menemani sejak SMA, kulihat di spion motorku betapa cantiknya perempuan yang setia bersamaku ini, dalam khayalku selalu bertanya-tanya apa bisa dia menjadi milikku nantinya. Dengan lamunanku itu kemudian dari belakang aku dipukul olehnya tepat di helm.
PRRKKKKKK “Woooe Cung, awas depanmu ada orang nyeberang tuh,” ucapnya sambil memukul kepalaku.
Aku langsung tersadar dan melambatkan laju kendaraku yang awalnya bisa dibilang cukup kencang, dalam hatiku berkata, untung saja aku tidak merenggut nyawa orang.

Setelah perjalanan yang cukup panjang, karena padatnya kendaraan bermotor, kami pun sampai di rumah sahabatku yang paling cantik. Ia turun dan langsung masuk ke dalam pagar.
“Cung, kamu gak mau mampir dulu, mama lagi masak masakan kesukaanmu loo,”
“Enggak deh, aku langsung pulang aja,” jawabku tak bersemangat.
“Kamu kenapa heh? Dari tadi keliatannya bete aja,”
“Gak kok, kecapekan aja, banyak kerjaan tadi di kampus,”
“Ya sudah deh, hati-hati ya cung,” dengan wajah yang masih bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi padaku.

Aku pulang dengan cepat, karena memang jarak antara rumahku dengan Ivana hanya beberapa komplek saja. Sesampainya aku di rumah, aku hanya bisa terdiam sambil memandangi langit-langit rumah dan mengulang kenangan indah saat masih kecil bersama Ivana. Dengan sangat rinci dan bagaikan melihat masa lalu, di langit-langit rumah aku seakan memutar film masa laluku.

“Hei Ipan, ayo kita main ke taman belakang sekolah, ada banyak anak-anak disana, jadi kita bisa main petak umpet bareng yang lain,” ucapku yang masih berusia 6 tahun.
“He’em, ayo Man,” angguk Ivana kecil.

Kami bedua berlarian menuju ke taman belakang sekolah, namun saat tiba di taman, tiba-tiba Ivana langsung terdiam dan takut melihatnya banyak anak-anak yang tidak ia kenal. Ia bersembunyi di punggungku dengan sedikit mengintip ke arah anak-anak yang lain.
“Lho kenapa Ipana sembunyi?”
“Ipana gak mau main sama anak-anak itu, mau mainnya sama Eman aja,”
“Mereka baik kok, ayo kamu main bareng Edman ya,”
“He’em,” angguknya setuju.

Aku pun berlarian bersamanya dan langsung dalam permainan petak umpet yang sangat seru kala itu, melihatnya ceria waktu itu begitu membuatku senang dan setiap hari pun kami berdua selalu pulang bersama setelah kotor-kotor. Tidak jarang kita kena’ semprot oleh ibu-ibu rempong kita, namun kita terus mengulanginya setiap hari.

Saat itu bertepatan dengan ulang tahunku yang ketujuh, itu adalah hari terakhirku tinggal rumah yang lama, rumah yang bersebelahan dengan rumah Ivana dan akan pindah ke blok sebelah karena ayahku beli rumah lebih besar dan luas dan cocok dijadikan sebagai tempat bermain. Di saat pesta ulang tahunku itu tiba-tiba Ivana mendatangi ayahku yang sedang makan dan menarik-narik bajunya.

“Om…om… apa Eman juga ikut pindah?” dengan wajah polos ia bertanya.
“Iya dong cantik, kenapa?” jawab ayahku dengan senyum.
“Ipan ndak bisa main sama Eman lagi dong?”
“Lho, ya bisa dong sayang, kan Edman cuma di blok sebelah,”
“Oh dekat ya om?”
“Iya dong sayang,”

Setelah mendengar jawaban dari ayahku, Ivana yang imut dan lucu itu berlari ke arahku dan memberikan kadonya kepadaku.
“Eman, ini hadiah buat Eman dari Ivana,” dengan ceria memberikan kadonya padaku.
“Terima kasih ya Ipan hehehe,”
“Eman bakal sering main kesini kan? Ipan ndak mau jauh dari Eman,”
“Iya, Edman janji tidak akan meninggalkan Ipana dan pasti akan terus berada di sisi Ipana,” jawabku dengan senyum.

Glodakk.. Gluoodaakk.. Gloodakk.. Suara ember jatuh di dalam kamarku dan teriakan Ibu yang membuatku terbangun dari impian tentang masa laluku.

“Mama berisik sekali, ini masih jam berapa?” ucapku marah-marah.
“Ini sudah sore, dasar anak males, kamu gak sholat ashar apa, tidur mulu!!!”

Dalam umpatku, aku merasa kesal dengan Ibuku namun dalam hati aku merasa sedih, karena ucapan masa kecil itu takkan lagi diingat oleh Ivana yang kini sudah menjadi gadis populer dan idaman pria di kampus.
Siapa yang tidak suka padanya, tuturnya yang ramah dan sopan, membuatnya mendapat nilai plus dari segala sudut pandang bahkan aku sebagai sahabatnya hanya bisa menjaganya dari jauh tidak untuk mendapatkan hatinya.

Jam kuliah kembali bergulir, sudah seminggu aku tidak bertemu dengan Ivana sejak terakhir aku mengantarnya pulang dan baru kali ini si pembuat onar tidak menampakkan batang hidungnya padaku meski kami tidak bertengkar.
Aku merasa ada yang kurang dalam hidupku dan memutuskan ke rumahnya sepulang kuliah, namun rumahnya tidak ada orang sama sekali dan anehnya Ivana tidak bisa dihubungi sama sekali.

Kesepian mulai menjalar ke sekujur tubuhku dan aku pun tak tahu harus berbuat apa jika saja kemudian dia tak lagi kembali ke kehidupanku. Aku masih belum siap jika sesuatu yang berharga tiba-tiba hilang dari kehidupanku dengan sekejap mata.

Saat di kampus banyak mata yang memandangku dan hampir semua cowok yang naksir Ivana selalu bertanya-tanaya padaku, kemana Ivana dan kenapa tidak masuk kuliah lebih dari 2 minggu. Tak ada jawaban yang keluar dari mulutku, karena aku sendiri juga merasa kehilangan saat tiba-tiba Ivana hilang tanpa jejak.

“Wooei bro, Ivana kok gak ada kabar ya tiba-tiba?” tanya Benny.
“Waduh, ini juga termasuk pertanyaan yang aku tanyakan bro, karena dia memang tiba-tiba hilang dan rumahnya pun kosong,”

Aku pun merasa despresi saat Ivana tiba-tiba pergi dan tak kembali, namun suatu ketika kucoba cek facebooknya yang kebetulan saat itu aktif dan aku pun ingin menanyakan keberadaannya dimana saat ini.
Saat aku buka profilnya, aku yang juga memiliki rasa padanya langsung mengurungkan niatku untuk bertanya, karena dia banyak upload foto-foto bersama cowok bule korea dan semua foto yang diupload hanya dengan orang itu saja.
Aku pun tak menanyakannya dan menyerah untuk mendapatkan hatinya, karena status hubungannya pun sudah berpacaran dengan si bule Korea itu.

Dua tahun berselang sejak kejadian itu, aku sudah tak lagi menjadi stalker di media sosial tentang cinta pertama yang tak mungkin bisa aku dapatkan. Kini aku sudah bekerja di salah satu perusahaan advertising terbesar di Surabaya sebagai desainer web, aku salah satu orang yang pekerja keras dan hampir tidak mempedulikan mengenai hal percintaan.
Di tempat kerjaku ini, tidak sedikit wanita yang menaksirku, karena memang saat aku memutuskan untuk membuang masa lalu pahitku, aku juga merubah semua hidupku termasuk style yang kini lebih dewasa dan lebih trendy. Sejenak aku melepas perkenalanku, tiba-tiba ada teman karyawan yang sungguh rupawan dan cantik mendatangi meja kerjaku.

“Siang ganteng, makan siang bareng yuk, ini kan sudah jam makan siang,” ajak Defina untuk makan siang.
“Sebentar ya Def, aku selesaikan satu bait dulu nih, nanggung soalnya,”
“Okey, aku tunggu ya di mejaku,” ucapnya.

Setelah sepuluh menit aku menyelesaikan tugasku, aku pun mendatangi Defina untuk menepati janjiku akan makan siang bareng dia. Kami berangkat dan menuju di kafe yang tidak jauh dari kantor, supaya bisa menghemat waktu. Saat duduk berdua, kami pun ngobrol dan Defina mengucapkan kalimat yang langsung membuatku terkejut dan bingung harus bilang apa.

“Ed, aku mau ngomng sesuatu yang penting padamu hari ini,”
“Emang mau ngomong apa Def, ngomong aja,” jawabku sambil senyum.
“Aku suka sama kamu Ed, kamu mau nggak menjadi pacarku?”
“Uhuk… uhuk… kok bisa?” Jawabku yang terkejut.
“Sejak kamu masuk perusahaan ini, aku selalu memperhatikanmu dan mempelajari dari jauh, dan sifat baikmu itu membuatku tertarik dan akhirnya aku pun jatuh hati padamu,” ucap Defina menggenggam tanganku.
“A…a…duuhh, gimana ya Def, aku bingung mau jawab apa?”

Tiba-tiba suara pintu kafe terbuka, aku pun tak sengaja menoleh ke arah pintu itu dan masuklah sesosok gadis cantik yang kukenal, yaitu Ivana. Ia datang dan langsung menghampiriku saat tanganku masih berpegangan dengan Defina.

“Hai mancung kesayangan, udah lama ya kita tidak bertemu, bagaimana kabarmu?” Ucapnya ceria.
“Ba..ba..ba..ik kok,” jawabku terkejut.
“Siapa dia Ed?”
“Hmmmm ini pacarmu sekarang Cung? Hehehehe ya sudah maaf mengganggu, oh iya ini oleh-olehku dari Korea Cung, jangan lupa dipakai ya,” ucap Ivana yang tersenyum dan beranjak pergi.

Aku hanya terdiam dan tidak bisa menjawab ucapan dari Defina yang mengutarakan isi hatinya padaku. Dan di saat yang bersamaan, aku tidak menyadari kalau Ivana keluar dari kafe itu dengan tetesan air mata di pipinya.

“Hai Ed, kamu baik-baik saja?”
“Ah iya Def, maaf ya, cewek yang tadi itu sahabatku dari kecil, dia baru pulang dari Korea,”
“Oh sahabat? Hmmm baguslah,”
“Hah? Apanya yang bagus?”
“Oh tidak kok, jadi gimana jawaban dari pertanyaanku tadi?”
“Sebentar Def, aku masih kaget sahabatku pulang dari Korea hehehe. I promise You, besok aku akan jawab pertanyaanmu, maaf belum bisa jawab sekarang, ya soalnya aku masih kaget, ternyata kamu ada perasaan terhadapku,”
“Oh iya, aku tunggu ya besok,” ucap Defina penuh pengharapan.

Cerpen Karangan: Sahaq Alby
Facebook: facebook.com/bhie.allbee

Cerpen Come Back (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Prasangka

Oleh:
Peluh rasanya sudah membuat sekujur tubuhku basah, seragam putih yang kupakai mungkin sudah beraroma tak karuan asamnya. semua ini gara-gara pak Budi yang tanpa rasa kasihan terus saja menyuruhku

Ditengah Derasnya Hujan

Oleh:
“itu orangnya?” bisik ziara menggebu. aku mengangguk pelan. “sudah berapa lama suka?” “dua tahun” “dari lo SMA?” “dari gue SMA sampe kuliah” “elo emang gila banget risya” aku menunduk.

Begitulah Cinta

Oleh:
“Hey, penulis! Cinta itu apa?” Deny tiba-tiba datang dan menodong Priska dengan pertanyaan itu. Sesaat Priska terlihat kaget, kemudian wajahnya kembali tenang dan mulai menjawab. “Cinta itu kebahagiaan alami

Hening Yang Indah

Oleh:
Aku larut dalam lamunan heningku yang indah. Indah dalam hening itulah yang aku lamunkan. “Ayo pergi” ucap seseorang yang membuyarkan lamunan indahku. “Kau melamun lagi baisotei-chan?” Tanya yamashita-chan yang

Khayalan Si Bungul 1 (Sebuah Nama)

Oleh:
Namaku adalah Jimmy Sujana. Aku orang yang paling terkenal di seluruh kota. Aku seorang yang tampan, baik hati, dan kaya. Tepat hari ini, aku berjalan di sebuah taman dimana

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *