Come Back (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 3 June 2020

Jam makan siang pun selesai dan kami berdua kembali ke kantor bersama-sama dengan menggunakan mobil kantor yang biasa dipakai oleh staf marketing untuk berkeliling. Aku dan Defina pun merasa canggung saat berduaan di dalam mobil, bahkan kami berdua hanya diam sampai di dalam kantor.

Sesampainya di kantor kami pun langsung ke meja masing-masing, namun aku dikejutkan dengan berderingnya telepon di meja kerjaku. Drrriiiiiinggg.. Drrriiiiinggg… Drrriiiiingggg…
“Halo Edman, bisa ke kantor saya sebentar,” ucap Pak Indra di telpon.
“Siap Pak Indra,” jawabku lalu menutup telepon dari Pak Indra.

Aku bingung dan panik, karena bos memanggilku tiba-tiba dan sangat tidak biasa, apalagi aku tidak melakukan kesalahan apapun. Harap-harap cemasku langsung hilang setelah aku membuka pintu kantor Pak Indra dan melihat Ivana berada di depan mejanya.

“Oh silahkan duduk Ed,” ucap Pak Indra ramah.
“Iya pak, ada yang bisa dibantu?”
“Gini ed, ini Ivana anak sahabat saya, dia karyawan baru disini dan dia ini juga bekerja di satu divisi denganmu, dan jelasnya dia adalah anak buahmu. Dan satu lagi, Defina saya pindahkan satu divisi dengan Robby supaya bisa mengajari anak baru itu,” penjelasan panjang Pak Indra.
“Ehmmm… tapi apa ini sudah ada persetujuan dari Defina dan Robby? Kalau saya sih tidak ada masalah Pak,” jawabku dengan nada datar.
“Mereka sudah setuju sejak kemarin,”
“Baiklah kalau begitu Pak,”
“Mohon bimbingan dan kerjasamanya ya Pak Edman,” ucap Ivana sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman dan aku hanya mengangguk dan tersenyum.
“Ya sudah Pak, saya permisi dulu,”

Setelah aku berpamitan ada sesuatu yang mengganggu dalam otakku dan selalu bertanya-tanya dan terus bertanya dengan kondisi yang kini aku alami. Tapi aku pun mencoba menjalankan kehidupanku yang normal dengan pikiran yang lebih santai dan rileks.

Jam sudah menunjuk tepat ke arah jam 5 sore dan itu juga bersamaan dengan pulang kerja, tidak hanya itu saja jam-jam segini juga waktunya keramaian dan kepadatan kota terus memanggil dan melambai-lambai seakan mengajak pulang. Untuk hari ini aku masih duduk di meja kerja dan memutuskan untuk tidak pulang dulu dan menunggu malam agar tidak terjebak macet.

“Ed, kamu tidak pulang?” sapa Defina.
“Nanti aja Def, masih macet dan lebih baik aku selesaikan pekerjaan untuk besok pagi biar besok gak kelabakan waktu presentasi,” jawabku.
“Oh gitu, aku duluan ya Ed, jangan lupa besok yah,” ucapnya sambil melambaikan tangan.

Aku yang begitu serius dengan pekerjaanku tak menyadari jika Ivana sudah duduk di meja yang ada di seberangku, dan ia pun mendatangiku dengan wajah cantiknya yang sumringah.

“Serius amat sih bapak senior yang satu ini hehehe,” ucap Ivana menyapaku.
“Eh… Kamu Van, ada yang bisa dibantu?” jawabku dengan wajah serius menatap komputer.
“Nggak ada sih, cuma ada yang beda aja saat pertama kali aku melihatmu sejak aku pergi dua tahun lalu,”
“Oh, pas dapat kerja disini aku mulai memperbaiki penampilan dan gaya hidupku, ya untung aja si Mila menjadi desainer pakaian yang trendy dan keren dan setiap style yang kupakai pasti diperhatikan sama dia,”
“Oh Mila, wah hebat ya adikmu, jadi ngiri bisa menggapai mimpinya dari kecil kayak adikmu,”
“Iya kamu bener, Oh iya pekerjaanku sudah selesai aku pamit pulang dulu, bye,” ucapku sedikit menghindar.

Ketika aku berdiri dan melangkahkan kakiku untuk pergi, tiba-tiba Ivana menarik tanganku untuk menahan kepergianku. Aku sontak terdiam dan sedikit melirik ke belakang, kulihat wajahnya yang cantik itu merah dan murung.
“Cung, kamu kok gak ada kabar sama sekali, bahkan nomer handphonemu sudah tidak aktif saat aku mencoba menghubungimu, kamu mau ninggalin aku?”
“Kamu ngomong apa sih Van, ini sudah jam setengah 8 malam, waktunya pulang,”
“Kali ini aku gak bakalan melepasmu lagi,” ucap Ivana yang tiba-tiba memelukku dari belakang.
“Kamu ngomong apa sih dari tadi, hmmmm pakek acara peluk-peluk segala, Van lepasin gak baik tau’ dilihat satpam. Aku pergi dulu ya, sudah ada janji sama teman-teman kuliahku,” ucapku yang kemudian pergi.

Aku tidak berani menoleh ke belakang, karena jika aku melakukan itu mungkin akan seakan menghinanya dalam diam, aku pun langsung menuju pintu keluar, sesaat aku memegang gagang pintu, tiba-tiba aku mendengar Ivana teriak.

“Emaaannn… Apa kamu lupa dengan ucapan yang kamu ucapkan saat masih kecil, saat kamu bilang kalau kamu tidak akan meninggalkanku, dan akan terus disampingku,” teriak Ivana yang terurai air mata.

Aku sontak terdiam dan mengingat saat kalimat itu terucap dari bibir mungilku waktu itu, aku dihantarkan dua pilihan yang tiba-tiba bersarang di otakku. Pertama aku harus kembali dan menenangkan cewek yang dari kecil memang penakut dan cengeng dan pilihan kedua yang tersemat di dalam otakku adalah aku akan pergi dan melupakan ucapan masa kecilku, karena dia sudah bahagia dengan orang lain saat di Korea.

Berat aku pertimbangkan kedua pilihan itu dengan singkat, aku pun memilih keluar dari pintu dan membiarkannya menangis di kantor. Kepalaku terasa begitu pusing, karena banyak sekali masalah yang tiba-tiba datang menghampiriku.
Di dalam keragu-raguanku itu, aku pun kembali masuk ke kantor dan menjemputnya untuk mengantar pulang.

“Ayo pulang, tidak baik kalau orangtuamu tahu kamu pulang larut malam,” ucapku menghampirinya.
“Eman,” ucapnya dengan wajah yang sumringah dan senang.

Saat di atas motor bututku dia bercerita banyak tentang kisah hidupnya di Korea yang sangat menyenangkan baginya, walaupun aku tidak peduli ucapan-ucapan itu masih saja masuk ke gendang telingaku dan sangat mengganggu.

“Cung, kita pergi ke tempat biasa yuk, kita kan sudah lama gak ketemu,”
“Gak ah, ngapain kesana buang-buang waktu aja,”
“Cung kamu kenapa sih, sudah 2 tahun gak ada kabar sekarang jadi cuek banget sama aku, kamu sudah punya pacar ya? Hmmmm apa yang di kafe tadi siang itu pacarmu? Cantik ya? Keren banget,” ocehnya yang mengganggu perjalanan.

Aku tak bicara sepatah kata pun dan menjawab pertanyaannya, dia pun kesal dan meminta berhenti untuk memintaku turun sebentar. Tak kusangka dia malah menggantikanku menyetir.

“Heh Van, apa yang kamu lakukan?”
“Sudah kamu diam saja!!!”
Aku yang lelah dan pusing ini pun menurut saja dengan apa yang dilakukan oleh Ivana, tiba-tiba ia membelokkan setir motorku ke arah tempat favorit kita dulu, ia pun turun dan menarikku ke pinggiran sungai yang penuh taman bermain sejak masih kecil. Dia mengajakku jalan dan duduk kemudian duduk di tempat duduk favorit kita saat melihat balap perahu naga.

“Kenapa kamu mengajakku ke tempat ini?”
“Aku tidak ingin saat kita berjalan-jalan disini dulu hanya menjadi sebuah kenangan,”
“Hah? Kamu ngomong apa lagi ini, hmmmm dari tadi kamu nggak jelas,”
“Baiklah, tuan jenius yang kuliahnya cum laude, aku tahu kamu pasti kesel saat aku tiba-tiba pindah ke Korea tanpa memberitahumu kan?”
“Hmmmm, sok tau,”
“Oke, aku jelaskan,”

Ivana menjelaskan padaku kalau dia bukan sengaja untuk tidak memberitahukan kepindahannya padaku, namun suatu telepon dari atasan ayahnya yang benar-benar urgent yang harus membuatnya seluruh keluarganya pergi ke Korea Selatan dan menetap disana.
Namun dia pun tetap memutuskan untuk menjadi warga negara Indonesia yang melanjutkan kuliah disana, dia juga bercerita betapa tersiksanya dia setelah tidak pernah memberitahukan hal itu dan dia juga tidak berani menyapa bahkan saat di Facebook, karena takut aku marah. Setelah mendengar penjelasannya aku hanya mengangguk dan tidak peduli.

“Yah, aku memaafkanmu, sudah cukup ceritanya apa masih ada lanjutannya?” ucapku dengan ekspresi yang mendatar.
“Aku sudah cukup, tapi masih ada yang menjanggal hingga kali ini di hatiku, kenapa kamu tidak mencariku bahkan menyapaku di facebook?”
“Baiklah aku akan beri alasannya, aku merasa kecewa waktu itu dan hingga saat ini,”
“Kecewa kenapa? Kan aku sudah menjelaskan semuanya barusan,”
“Nggak apa kok, lupakan dan aku sudah memaafkanmu, ayo pulang,” jawabku menyembunyikan fakta yang sebenarnya.
“Aku tidak mau, kamu masih menutupi sesuatu dariku,”
“Tidak ada yang aku tutup-tutupi, ayo,”
“Mancung!!!! Aku mengenalmu dari semua orang yang kamu kenal, setiap kamu menghindar begini pasti ada rahasia yang kamu sembunyikan,” bentaknya terhadapku.
“Heh… tenang Bu’, ayo pulang, kalau kamu gak mau pulang ya terserah,” ucapku memalingkan badan dan berjalan menuju tempat parkir.

Dia masih ingat dengan jelas kebiasaanku yang tidak pernah hilang sejak dulu, bahkan dia mampu memojokkanku dengam kata-katanya. Saat masih melangkah dia langsung menarikku dan menyadari sesuatu yang langsung ia ucapkan padaku.

“Aku tau, kenapa kamu mendiamkan aku terus dari tadi?” ucapya sambil memegang erat tanganku.
“Kamu ngomong apa sih?” jawabku mencoba menghindar.
“Kamu pasti pernah melihatku berfoto mesra dengan orang Korea dan melihat status hubunganku yang berpacaran dengannya bukan?”
“Lantas apa masalahnya denganku Van, itu kan hakmu untuk memilih pasangan hidup, sudah lepaskan tanganmu, gak enak dilihat orang, kayak kita ini orang pacaran yang lagi berantem aja,” ucapku untuk mengelak semua ucapannya.

Aku mempercepat langkahku dan bergegas meninggalkannya agar dia tidak lagi menggapaiku, karena bagiku hal itu tidak akan merubah segalanya. Meski aku juga merasakan bahwa perasaan sayangku ke dia tidak akan pernah hilang lebih baik aku menjauh, karena aku dan dia sudah dibatasi dinding sangat tinggi yaitu persahabatan. Keputusanku sudah bulat dan bisa melihatnya bahagia saja sudah cukup bagiku.

“Hei orang yang paling nyebelin, apa kamu masih saja membodohi perasaanmu hingga saat ini?” teriaknya sambil menitihkan air matanya.
“Hah?” sambilku menoleh kearahnya.
“Apa kamu terus berpura-pura acuh soal perasaanmu ke aku hah?”
“Heh jangan nangis, dilihat banyak orang ini loo,” ucapku sambil mencoba menenangkan.
“Biarin!!!! Pasti kamu juga gak tau apa alasannya menolak semua cowok yang pengen jadi cowokku?” ucapnya sambil terus menangis.
Tak banyak berkata, aku pun memeluknya agar dia lebih merasa tenang.
“Bodoh, banyak yang lihat itu lo, kamu gak malu apa?”
“Aku menolak semua cowok itu, karena memang kamulah satu-satunya orang yang ingin kujadikan pasangan di sisa hidupku,”

Aku masih memeluknya dan tetap terdiam hingga tak mampu mengungkapkan secuil kalimat sedikitpun. Dalam diam langsung kitarik dia dan kuajak kembali pulang. Susah untuk diungkapkan dengan kata, tiba-tiba malam itu kami resmi menjadi sepasang kekasih dan keesokan harinya akupun memutuskan untuk menolak Defina.

“Def, maaf aku gak bisa sama kamu, akhirnya aku sudah mendapatkan kembali pasangan tulang rusukku yang pernah hilang beberapa waktu lalu. Maaf banget Def, aku juga bukan pria yang pantas bagi wanita secantik kamu, diluar sana masih banyak kok yang lebih baik dariku,”
“Hmmmm… jika itu memang keputusanmu aku terima kok,” jawab Defina yang langsung pergi dengan linangan air mata.

Kini aku sudah tak lagi terbebani dengan jawaban yang telah kulontarkan dengan rapi dan aku pun mencoba menjalani hidup baruku dengan wanita idamanku yang telah kembali lagi di sisiku.

Cerpen Karangan: Sahaq Alby
Facebook: facebook.com/bhie.allbee

Cerpen Come Back (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ganda

Oleh:
Namaku Reyhan. Lengkapnya kau tidak perlu tahu. Hanya seorang mahasiswa biasa di sebuah Universitas biasa. Begitulah kehidupanku, terdengar membosankan. Memang, aku selalu merasa jenuh dengan apa yang ku lakukan

Separuh Bagian yang Hilang

Oleh:
Ini adalah bagian titik lelahmu telah hadir sepenuhnya. Bukan karena sepanjang waktumu perihal seputar dengan pekerjaan. Bukan juga pada banyaknya tuntutan yang kamu selalu ambisikan. Namun kepada lebih ke,

Sekarang Aku Bersamamu

Oleh:
Namaku Nawa, cowok berumur 20 tahun di bulan agustus tahun ini. Saat ini aku tinggal dengan kedua orangtuaku dan adik perempuanku yang cerewet mirip ibu, kadang bikin kesel juga.

Friendship or Friendzone

Oleh:
“Nira..” Cewek yang merasa namanya dipanggil mencoba mencari suara bass yang memanggilnya. Seketika senyumnya mengembang setelah melihat siapa yang memanggilnya tadi. “Dave, Aaaa…” tiba-tiba saja Nira memeluk cowok yang

Seribu Tahun

Oleh:
“Non. Non Kiran, bangun Non! Sudah jam 7, Mas Bian sudah jemput ada di bawah,” suara Bi Yuki membangunkanku pagi itu. “Iya Bi, aku bangun, bilang Bian tunggu setengah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Come Back (Part 2)”

  1. ciwikk says:

    kesepian yang aku rasakan saat mbaca vlog cerpenmu ..
    jika hidup semudah cerpenmu,mungkin aku merasa bahagia sekarang…

  2. Coumand says:

    Keren ceritanya, cuman terlalu cepat di putusin ceritanya sob. Klimaksnya yang harusnya dapat jadi terhenti gitu, hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *