Confused (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 27 March 2018

Sementara Ferdy juga kebingungan mencari Debby. Ia mengajak si Aldy untuk menemuinya.
“All, Debby gue ke mana?. Gue cariin dari tadi nggak ada, ke mana sih dia?” ujar Ferdy pada sahabat karibnya.
“Tadi gue suruh si Rendy cariin Debby, mungkin dia masih di tenda.” sahut Aldy kemudian.
“Ya udah, kita kesana. Gue takut ada apa-apa sama Debby!!” tegas Ferdy lagi.
“Oke, ayo kita ke sana sekarang!!” sahut Aldy kemudian.

Mereka berdua sampai di tenda, mereka melihat si Debby yang tertidur pulas di pangkuan Rendy yang juga tidur pulas serta tangannya masih berada di kening Debby.
“Romantis ya Fer!!” ujar Aldy pada Ferdy.
“Iya, mereka memang romantis. Tapi lo tahu nggak?. Gue panas nih lihat mereka nempel terus. Gue curiga ada yang disembunyiin dari mereka!!” tegas Ferdy lagi.
“Jangan asal tuduh gitu Ferr!!. Lo tahu kan, kita itu hadir di antara mereka belum lama. Sementara mereka hampir 8 tahun bersama!!. Lo tahu itu kan!!. Minggir, gue mau bangunin Rendy!!” Aldy sedikit emosi lalu menghampiri Rendy.
“Mau ngapain sih loo!!” ujar Ferdy berbisik.

“Renn, Rendyy!!. Broo, bangun!!!” Aldy berusaha membangunkan Rendy.
“Lo Alll, sorry ya. Tadi gue nggak balik, juga gue ketiduran di sini.” kata si Rendy penuh rasa bersalah.
“Iya, nggak apa-apa kok. Kenapa si Debby?” tanya Aldy dengan santai.
“Tadi dia kegigit ular, tapi alhamdulillah baik aja. Cuma dia merasa pusing, dan lemas banget.” ujar Rendy dengan tegas.

“Ada siapa Ren?. Gue kayak dengar suara si Aldy.” ujar si Debby yang terbangun dari tidurnya.
“Iya Deb, dia hampirin kita. Lo udah enakan?” tanya Rendy penuh perhatian.
“Lumayan, makasih buat susunya. Aldy, kamu bisa sampai sini?. Kamu khawatir ya sama aku?” tanya Debby dengan senyuman manisnya.
“Iya donkk, gue khawatir banget sama lo Deb. Gimana?, lo udah mendingan kan?” terlihat wajah Aldy yang khawatir.
“Iya, alhamdulilah udah mendingan Al. Si Ferdy kemana Al?. Dia tadi ikut kamu kesini kan?” tanya Debby lagi dengan wajah pucatnya.
“Ferdyyy!!!. Sini Ferrr!!!” panggil si Aldy dengan nada khasnya.

Tak lama kemudian, Ferdy pun datang menemui mereka.
“Deb, gimana?. Kamu udah enakan?” tanya Ferdy perhatian.
“Iya Fer, alhamdulilah gue udah mendingan. Maaf ya, Rendy jadi nggak balik-balik karena gue. Dia udah perhatian sama gue, dan kalau kalian semua tahu. Dia itu seperti pahlawan gue di manapun gue butuh. Makasih Rendy.” terlihat si Debby memeluk erat Rendy dengan senyuman manis.
“Sama-sama Deb, makasih juga kamu selalu mengisi hariku.” terlihat wajahnya penuh rasa haru.

“Cukupp!!!!. Cukup semuanya. Gue muak sama romantisan kalian berdua!!. Gue tanya sama lo Rendy!!. Jawab jujur!!. Apa lo sama si Debby pacaran?” tanya Ferdy penuh rasa emosi.
“Apaaa?. Pacaran?, jangan ngaco lo!!. Kita itu sahabatan udah 8 tahun, jadi wajar kalau gue peduli sama dia!!. Bahkan gue sayang dia sebagai sahabat!!. Jangan bikin suasana panas gini deh!!.” tegas Rendy juga bercampur rasa emosi.
“Okee!!. Gue pegang perkataan lo Rendy!!. Mulai sekarang lo nggak boleh jatuh cinta sama si Debby, karena gue dengar dari mulut lo. Lo Cuma sayang dia sebagai sahabat, dan jangan nyesel kalau nanti gue dapetin Debby. And bikin dia jatuh cinta sama gue!!” tegas si Ferdy pada Rendy dengan cukup keras.
“Oke!!, gue nggak akan jatuh cinta sama Debby!!. Sampai kapanpun!!. Puas lo?” tegas Rendy lagi.
“Apaan sih kalian ini, lo juga Fer!!. Apaan sih lo bentak-bentak Rendy gini?. Gue nggak mau, lihat sahabat gue berantem kayak gini. Rendy, minta maaf sama Ferdy. Dan lo Ferdy, lo minta maaf ke Rendy!!. Ini perintah gue, kalau kalian nggak mau. Gue nggak mau lagi jadi sahabat kalian lagi!!” tegas si Debby dengan rasa kecewa pada kedua sahabat karibnya.

“Oke, Rendy. Gue minta maaf sama lo, karena gue udah emosi sama lo.” ujar Ferdy dengan memberikan satu acungan tangan.
“Gue terima maaf lo, tapi jangan lakuin ini lagi ke gue. Karena lo udah gue anggap keluarga gue sendiri, dan lo harus ingat. Kalau lo nggak boleh paksa Debby buat cinta lo, kalau memang dia nggak cinta sama lo.” tegas si Rendy kembali.
“Oke, gue akan ingat perkataan lo. Dan gue nggak akan paksa Debby, buat jatuh cinta sama gue kalau itu nggak tulus dari hatinya.” sahut Ferdy yang emosinya mulai mereda.

Hari berikutnya, mereka telah selesai berkemah. Dan hari ini kuliah mereka libur, itu artinya hari ini adalah hari free day school.
Waktu menunjukkan pukul 05. 00 WIB, dan handphone Debby berdering.
“Pagi Debby cantik, udah mandi belum?. Apa baru bangun?. Gue udah di depan rumah lo nih!!” ujar seseorang cowok via telepon yang nomernya asing.
“Oh My God, ini siapa?. Jam segini?, dia udah stand by di depan rumah. Mana gue belum solat lagi!!” ujar Debby yang baru saja terbangun dari tidurnya. Ia lalu mengambil air wudlu, dan menunaikan kewajiban solat subuhnya. Setelah selesai, dia langsung berlari ke depan gerbang rumahnya. Dan membuka pintu gerbang itu.

“Surprizeee!!!. Happy birthday to you Debby sayang, wish all the best.”. Tanpa sedikit pun dia duga, itu adalah Rendy. Sepagi ini dia datang, hanya untuk merayakan ulang tahunnya. Matanya berkaca-kaca, tanpa sempat ia berkata. Dia langsung memeluk Rendy.
“Makasih Rendy, makasih buat kejutan ini. Gue seneng banget, Lo emang sahabat terbaik gue. Makasih Rendy, makasih untuk semua ini.” Debby memeluk erat Rendy, dan mencium pipinya.
“Sama-sama Debby, sekarang ucapkan apa keinginanmu dalam hati. Dan tiuplah lilin ini.” ujar Rendy kemudian.
“Huuuuzz (suara angin), udah. Semoga, keinginan aku bisa kesampaian.” ujar Debby dengan tersenyum manis.
“Aminnnnnnn, oh ya. Gue boleh masuk ke rumah lo?. Gue mau numpang mandi, soalnya gue belum mandi.”
“Apaa? belum mandi?. Ihh, jorok amat sih kamu. Ya udah lo mandi di kamar gue aja, lagian rumahku kosong. Mamah, sama papah gue lagi ke Singapore biasa bisnis. Gue cuma sama pembantu gue, jadi santai aja. Yukk!!. Sekali lagi makasih Rendy,”

Rendy pun sampai di kamar Debby yang berada di lantai atas.
“Lo mandi duluan aja Ren, biar gue nanti aja.” ujar Debby dengan senyuman.
“Oke, makasih ya Deb!!” ujar Rendy kemudian.

Setelah Debby selesai mandi, tentunya juga telah selesai berpakaian. Mereka pun memutuskan untuk sarapan bersama.
“Bi, ikut makan aja bareng kita Bi. Dia sahabat aku Bi, namanya Rendy.” ujar Debby pada pembantunya.
“Oh iya Non?, perkenalkan Den. Saya Bi Inah, pembantu non Debby. Saya pembantu baru Den, dan saya kerasan banget disini. Keluarga non Debby pada baik ke saya Den. Termasuk sahabat non Debby,” sapa pembantu baru Debby.
“Maksud Bibi?, saya gitu?. Makasih Bi, ayo Bi makan bareng kita. Kalau di rumah juga kita makan semeja sama asisten rumah tangga keluargaku Bi. Jadi, nggak usah sungkan Bi.” ujar si Rendy pda pembantu Debby.
“Makasih Non, Den. Tetapi saya tidak biasa sarapan, jadi malah perutnya nggak enak.” ujar pembantu Debby kembali.
“Kalau begitu terserah Bibi aja,” ujar Debby dengan manisnya.

Akhirnya Rendy, dan Debby sarapan berdua dalam satu meja. Setelah selesai, mereka pun meninggalkan rumah untuk menuju puncak.
“Bi, mohon izinnya Bi. Saya mau mengajak Debby, pergi ke daerah puncak. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kita berdua selalu rayain ulang tahun di sana. Apa boleh aku membawa Debby Bi?” ujar si Rendy dengan begitu santun.
“Tentu saja Den, silahkan. Hati-hati ya Den, Non.” pesan pembantu Debby yang sementara menjadi orangtuanya.
“Ya Bi, kita pergi dulu ya Bi. Assalamu’alaikum!!!” ujar Debby, beserta sahabatnya itu.

Lama perjalanan, mereka berdua akhirnya sampai ke kawasan wisata puncak.
“Woahhhh, ademmm. Segar banget udaranya Renn, sejuknyaa.” kata Debby dengan melemparkan senyum lebarnya.
“Iya Deb, ademm. Enak nih kalau buat pacaran, hehe.” kata si Rendy dengan menatap Debby.
“Yeee, lo mikir pacar mulu. Gua aja masih ngejomblo ampe sekarang nih!!” keluh si Debby dengan santainya.
“Ya lo, bener jones banget sih. Emang nggak ada gitu yang naksir lo?” ledek Rendy sambil berjalan pelan setelah ia memarkir mobilnya.
“Naksir?. Banyak kalii, cuma kan gua nggak cinta mereka. Masa iya, gua harus ngejalanin hubungan tanpa cinta?. Lagian, mereka aja baperan. Bukti kan, kalau nggak cuma cewek aja yang baper.” curhat Debby dengan raut bahagianya.
“Cowok itu baper karena ceweknya tukang php. Lo nggak nyadar kan?, secara nggak langsung lo itu udah deket sama mereka. Bahkan mungkin, lo kasih perhatian lebih ke mereka-mereka.” sahut Rendy yang masih berjalan berdampingan dengan Debby.
“Mereka?. Emang lo tahu siapa aja yang deket sama gue?” kata si Debby sedikit penasaran karena dia tahu kalau sahabatnya nggak urusin percintaan orang.
“Gua tahu dong!!. Ada Evan, Aldo, Fangga, Leon, Gino, and Deon. Bener kan?” tanya Rendy dengan sedikit mendesak.
“Iya, tapi tak ada satu pun dari mereka yang bisa gantiin someone itu di hati gua. Aku hanya berharap someone aku bisa melihat aku, berbalik menatapku, serta menyayangiku seperti dia menyayangi orang yang dia tunggu.” sedikit Debby membayangkan orang yang dicintainya.
“Aku berharap juga, kamu bisa bersama dia suatu saat Deb. Jangan sedih dong, ada aku di sini.” Terlihat Rendy merangkul sahabatnya.

“Kita mau ke mana sekarang Rendy?.” tanya Debby yang penasaran.
“Kita ke tempat favorite kamu Debby, di atas rumah pohon. Serta tertanam di atas bukit.”
“Serius kita ke sana?. Beneran Rendy?.” terlihat raut wajah yang berbeda pada Debby.
“Iya, ayo kita ke sana.” Rendy menggenggam tangan Debby dengan senyuman.

Beberapa menit setelah mereka mendaki, mereka berdua pun sampai di atas rumah pohon.
“Debby, kamu inget nggak pertama kali kita ke sini?.” Rendy memulai pembicaraan.
“Waktu itu, kita masih duduk di bangku SMP. Lo tahu, karena waktu itu aku benci banget sama kamu. Kamu cowok yang paling nyebelin sedunia, lo kerjain gua. Lo gantung sepatu gua di samping pohon ini. Gua sampai kehabisan ide, gimana lagi gua harus ambil sepatu gua yang lo gantung itu. Sampai gua kepikiran panjat rumah pohon ini, dan gua nggak dihukum karena sepatu gua keambil.” senyuman indah Debby pun terpancar menginggat kenangan.
“Gua dulu emang benci banget sama lo Deb, sama kayak lo benci gua waktu itu. Karena kenapa?, gua ditolak Kelly karena dia sangka gua pacaran sama lo. Padahal gua nggak tahu lo sama sekali, cuma karena kita pernah di kantin semeja. Itu doang dibilang pacaran, sampai gua sadar lo itu orang yang pas buat sahabat gua.” Rendy tersenyum manis, dan menatap Debby dengan senyuman.
“Lo inget juga nggak Deb?, waktu itu kita kebetulan masuk SMA yang sama. Kita satu kelas, dan satu-satunya tempat duduk tersisa. Kita duduk di sana, dan trauma gua yang nggak bisa ilang sampe sekarang sama lo ada satu.”
“Trauma apa Rendy?, apa gua lakuin kesalahan?” tanya Debby yang nggak tahu maksud Rendy.
“Waktu kita SMP, waktu kemping. Waktu di kamar mandi?” tegas Rendy lagi.
“Kenapa dengan kamar mandi?” tanya Debby lagi.
“Tanpa sengaja lo masuk kamar mandi cowok, dan lupa kamar mandi nggak aku kunci. Dan lo masuk kamar mandi saat gue lagi mandi, dan lo secara langsung udah liat punyaku tanpa sengaja.” tegas Rendy dengan sedikit malu.
“Maaf gua nggak sengaja, gua malu banget Ren waktu itu.” terlihat raut Debby yang malu akan kenangan itu.
“Nggak apa-apa, cuma gua jadi waspada dari pengalaman itu.” Rendy terlihat tersenyum meledek.
“Rendy, nggak kerasa kita udah kuliah sekarang. Lama banget kita sahabatan, aku nggak bisa bayangin kalau suatu saat kita akan menikah. Kita punya anak, apa kita masih akan tetap sahabatan seperti sekarang?.” Debby mulai meneteskan air mata.
Dengan lembut Rendy menghapus air mata Debby.
“Kamu jangan sedih Debby, aku akan menjadi sahabat kamu. Selamanya,” Rendy memeluk Debby dengan erat.
Malam pun tiba, mereka memutuskan untuk pulang.

Namun saat akan pulang, mereka bertemu seorang cewek yang tak kalah cantik dengan Debby.
“Kamu Rendy Ferdinant kan?” tanya seorang cewek secara tiba-tiba yang tanpa sengaja berpapasan dengan mereka.
“Iya bener, kamu siapa?” tanya Rendy dengan spontan.
“Gua, gua Alya Anisa. Lo inget nggak?. Gua anak IPS.” ujar si Alya pada Rendy.
“Lo Alya?. Ini bener lo?, gimana keadaan lo?. Terus sekarang kamu kuliah di mana?” tanya Rendy secara sontak.
“Aku sehat, aku ambil akuntansi di salah satu perguruan tinggi di Bogor. Dia pacar kamu?” tanya Alya pada Rendy sambil menatap ke arah Debby.
“Dia Debby, sahabat aku. Dia ambil prodi kedokteran, sama denganku.” ujar Rendy dengan perasaan bahagia.
“Oh ya?, kamu makin tambah cantik sekarang Debby. Dulu kamu jadi idola di SMA, kamu cewek paling cantik di sekolah.” kata si Alya dengan senyuman manisnya.
“Makasih, kamu juga cantik Alya. Aku seneng bisa liat kamu sekarang ini, semoga kita ketemu lagi.” ujar Debby dengan ramah.
“Amin, iya. Aku juga seneng banget, di semester tiga ini aku balik ke Bogor. Satu tahun aku sekolah di Kalimantan, aku ikut orangtua. Tapi sekarang aku balik kesini lagi untuk menemani nenek aku sambil kuliah di sini.” ujar Alya sambil menceritakan pengalamannya.
“Wah, hebat ya kamu. Ayo Alya, kita duduk sebentar.” Debby mengajak Alya untuk duduk bersama dengan mereka.
“Iya, baik Deb. Btw nih, kalian tinggal dimana?” tanya Alya yang penasaran
“Aku disini aja kok Deb, kapan-kapan main atuh ke rumah aku.” ujar Debby dengan senyuman.
“Kalau kamu Rendy?” tanya Alya dengan manis.
“Aku juga di Bogor aja kok, kamu makin cantik Alya. Kamu kesini sama siapa?” tanya Rendy penasaran.
“Aku kesini sama keluarga, soalnya sampai saat ini belum ada yang temenin aku.” ujar Alya dengan manis.
“Masa sih cewek secantik kamu belum punya pacar?” tanya Rendy untuk memastikan pada Alya.
“Bener lah Ren, ngapain juga aku ngeboonk?. Toh nggak ada gunanya juga kan?” sahut Alya dengan santainya.
“Kalau begitu, boleh donk aku minta pin/wa/nope kamu?” ujar si Rendy dengan bahagia.
“Tentu Ren, ini nope aku sama dengan nomer wa.” Alya memberikan nomer pada Rendy.
“Oke, makasih Alya. Ya udah ya, aku dan Debby mau balik rumah dulu nanti keburu malem.” ujar Rendy pada Alya.
“Iya, kalian hati-hati ya.” ujar Alya kemudian.

Cerpen Karangan: Ambarwati
Facebook: Ambar Wathie
Namaku Ambarwati, terlahir dari sebuah kota kecil bernama Kutoarjo, Purworejo, Jawa Tengah pada 20 Mei 1998. Sejak kecil aku sudah hobi menulis cerpen, puisi, maupun menggambar. Kini saya duduk di bangku perkuliahan di STIKES Muh Gombong prodi D3 Keperawatan. Sekian profil singkatku, dan Selamat Membaca!!!

Cerpen Confused (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dibalik Hijabku (Part 1)

Oleh:
Hembusan udara sejuk dipagi itu membuat butiran-butiran bening di daun keladi menjadi bersatu layaknya magnet yang menarik benda-benda besi di sekitarnya. Adzan subuh yang telah berkumandang sedari tadi, belum

Cinta Dibalik Selai Stroberi

Oleh:
Lia dan babe (ayah) berjalan menuju motornya yang dipenuhi keranjang berisi toples kaca selai stroberi yang akan ia jual ke kota, ia pamit pada babe. “Hati hati nak”. Pesan

Saat Cinta Tak Terbalas

Oleh:
Mulai dari pukul 19.00 sampai 23.00 aku melepas rindu bersamanya. Aku tau dia bukan kekasihku. Aku sadar dia adalah milik sahabatku. Aku tak berarti apa-apa di matanya. Aku bukan

Bergulir Kembali

Oleh:
“Tak ada yang bisa, mengantikan cintamu.. Tak ada yang bisa, membuat diriku, jauh darimu..” sambil memetik gitar bolong pemberianku, Yuda menyanyikan lagu yang sangat kami sukai, sebagai hadiah ulang

Love At First Sight

Oleh:
Aku terburu-buru berangkat ke sekolah. Baru kali ini aku bangun kesiangan, lebih sialnya lagi papa juga tidak bisa mengantarkan aku ke sekolah dikarenakan papa sudah berangkat ke kantor. Jam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Confused (Part 2)”

  1. Mery Ananta says:

    6_6 ceritanya bikin penasaran bgt. mkin lama aku hrus menduga duga .buat part 3 nya ku baca besok 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *