Cowok di Balik Jendela

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 14 November 2012

Rintik hujan kembali membasahi kota Bandung. Langit menangis tiada henti-hentinya. Ku tatap jendela kamar di depan sana. kosong. Jam segini biasanya dia sudah keluar dari kamarnya, menenteng bola basket dan memantulkannya lalu bermain di lapangan apartemen. Bersama kakak dan juga teman-temannya. Mungkin karena hujan dia tidak kelihatan. Meski hatiku berharap ingin melihat wajahnya walau hanya sesaat. Tapi aku tidak bisa memaksa kemauan Tuhan. Dialah yang merencanakan, dan aku? hanya bisa berharap. Semilir angin berhembus bisu. Menyeruak aroma mint di kamar biruku. Aku kembali membuka buku. Di temani sekuntum mawar diatas jendela.

Seminggu yang lalu. Saat aku pulang sekolah dimana langit juga masih menangis pilu. Aku berjalan di trotoar, menyusuri tapak menahan rintikan hujan. Bulan November, Kota Bandung terus di guyur hujan. Menyebalkan atau menyenangkan? Entahlah. Tapi hujan kukira cukup memberiku peluang untuk lebih dekat dengannya. Aku duduk dihalte menunggu jemputan. Arloji menunjuk pukul 14:35 Wib. Aku belum shalat Ashar, tapi kakakku tidak juga kunjung datang. Tidak ada angkutan, tidak ada tumpangan.

Cowok di Balik Jendela

“ Boleh ikut duduk!” ketus seseorang berdiri tak jauh dariku. Tanpa menoleh aku memberinya ruang. Lalu aku melengosnya. Di-dia?

Seketika jantungku berdetak tidak beraturan, darah mengalir deras dan kacau. Salah tingkah? Mungkin. Ku tatap pendar wajah remaja itu. Dia basah kedinginan, seragam SMA-nya kuyup. Dengan jelas aku melihat dada bidangnya yang mengagumkan. Dia memang tampan. Alisnya tebal, hidungnya mancung, dan bibirnya…tipis menawan.

“ Nunggu siapa?” tanyanya kemudian.

“ Kakak-ku.” Lirihku seraya menyodorkan handuk kecil. Aku biasa membawanya di musim hujan. Remaja itu menerimanya dan berterima kasih.

“ Kalau nggak salah, kita satu kelas ‘kan?” Aku mengagguk.

Namanya Fahri. Dia anak baru di kelasku. Dan ini hari pertamanya. Kami sama-sama duduk di bangku kelas XI IPA 3. Kami memang belum lama saling mengenal, tapi aku dan Fahri sudah sempat berbincang di ruang guru tadi. Kebetulan kami berdua terpilih mengikuti Olimpiade Fisika Nasional. Suatu kebetulan.

“ Namamu siapa tadi, aku lupa?” lirihnya hendak menyalamiku.

“ Nisa. Nisa Al-Latif.” Sahutku sembari mengatupkan kedua telapak tangan didada. Agaknya Fahri mengerti kalau kami bukan muhrim. Dia tersenyum agak malu. Pandanganku beralih pada buku yang ku genggam. Aku pun membacanya.

Hampir setengah jam kami duduk menjauh dan saling diam. Matanya menatap gedung yang berdiri di seberang jalan. Sebisa mungkin aku menata hati dan pura-pura tidak memperdulikannya. Padahal, hasrat hati ingin mengenalnya lebih jauh.

***

Selepas shalat Isya di Masjid aku langsung pulang. Aku izin pada Ustazah Maimunah karena tidak bisa mengikuti pengajian, karena mbak Fia akan pulang ke Semarang. Aku pun pamit. Malam ini cuaca cukup terang. Bulan dan bintang serasi di balut selimut langit malam. Udara semilir hangat menepis wajahku. Aku berjalan mempercepat langkah. Sesampainya di depan pintu, aku melihat mbak Fia berbincang dengan seseorang. Siapa?

“ Asalamu ‘alaikum?” ketusku kemudian.

“ Wa ‘alaikum salam.” Jawab mbak Fia dan orang itu serempak.

“ Fahri?!” lirihku terkejut.

Remaja itu tersenyum ramah. Mbak Fia berdiri dan menghampiriku.

“ Maaf Nisa, mbak terburu-buru. Sekarang mbak harus berangkat. Kamu jaga rumah baik-baik. Oh ya, Fahri datang ingin mengajakmu kerumah pak Wardi. Katanya kalian ada tugas. Kalau begitu mbak langsung pamit yah.” cerocosnya lalu memelukku.

“ Malam ini juga berangkatnya, mbak?” tanyaku.

“ Ya, Nisa. Ada tugas dari kantor untuk mbak berangkat kesana. Mbak pergi yah?”

“ Hati-hati ya mbak.”

Mbak Fia mengangguk. Setelah menenteng koper ia kemudian berlalu dan menuruni tangga menuju lantai dasar.

“ Sudah lama nunggunya?” tanyaku pada Fahri. Jujur, aku tampak blushing saat ia menatapku dalam. Entah apa arti tatapan itu.

“ Nggak kok, belum ada sepuluh menit. Kita langsung berangkat ‘kan?”

“ Ya. Aku ganti baju dulu.”

“ Kalau begitu aku nunggu diluar.”

Setelah Fahri keluar aku segera masuk kedalam kamar. Memakai pakaian sesopannya. Semua badan tertutup rapat. Kerudung putih panjang sebahu ku kenakan. Tanpa make up lebay, sekarang aku berdiri didepan cermin. Berdandan? Tentu. Hanya pelembab dan lip gloss yang aku sematkan. Biar nggak tampak kering. Aku juga mengenakan parfum tanpa alkohol khusus wanita. Harumnya tidak terlalu menyengat. Aku suka wangi parfum yang lembut dan teduh.

***

Kalau bukan karena tugas dimalam hari, sebenarnya aku tidak mau di bonceng Fahri. Aku takut mengundang fitnah ibu-ibu apartemen. Mereka punya mulut seribu yang bisa ngegosip sewaktu-waktu. Nggak pagi, nggak siang, nggak malam. Hobinya Cuma ngerumpi. Begitu suami mereka pulang ngantor. Baru deh ngiprit lari ketakutan. Tidak heran sih, punya tetangga yang mayoritas ibu rumah tangga berkepala tiga. Sukanya gosip. Seandainya saja mereka tahu, kalau ghibah itu bisa di ibaratkan dengan memakan bangkai manusia yang sudah mati. Menjijikan bukan? Pasti mereka tidak akan mau memakannya. Tapi namanya setan. Suka mengoles madu di setiap bibir penggunjing. Dan terasa manislah apa yang sedang di gunjingkan.

***

Sore itu aku pulang belanja. Dengan tergopoh dan susah payah aku menenteng dua bungkusan kantong plastik yang lumayan berat. Peluh membasahi tubuhku. Ku seka keringat dengan sapu tangan putihku. Aku kembali berjalan dan melewati lapangan basket apartemen. Fahri bermain bersama seorang lelaki lebih muda. Kalau tidak salah namanya Dimas. Dia masih SMP. Tinggal di Apartemen gedung III. Saat hendak menaiki tangga. Atagfirullah. Sentakku terkejut karena cangkingan plastik ditangan kiriku putus. Buah dan sayur yang ku beli tumpah dan berserakan. Segera aku menuturi dan memasukkan buah yang masih bagus itu kedalam palstik.

Serrrrr.

Aku tersentak. Entah kapan tibanya, Fahri membantuku memunguti buah dan sayur itu. Mata kami sejenak berpandangan. Cessss. Dingin? yah. Aku merasa hatiku yang kering seakan ditetesi embun pagi yang menyejukkan. Fahri tersenyum padaku. Aku blushing. Kurasa pipiku merona saat itu.

“ Perlu aku bantu mengantar ke apartementmu?” lirihnya menawari pertolongan. Lidahku kelu. Tidak tahu harus menerima atau menolak. Tapi..

“ Um..nggak usah. Aku bisa sendiri.”

“ Nggak apa-apa kok. Kasian ‘kan kalau perempuan seanggun kamu bawa belanjaan seberat ini.”

“ Jangan!” sentakku. Fahri terkejut. ”Aku bisa sendiri. Aku tidak mau merepotkanmu.”

“ Ayo dong, kak Fahri. Masa tega lihat pacarnya bawa belanjaan sendirian, naik tangga pula!” tiba-tiba Dimas nyeletuk dan sukses membuat kami berdua shock. Pacaran? Kembali mata kami beradu. Hatiku seketika berdesir nyaris tak kuasa menahan rasa ini. Wajah Fahri tampak kikuk. Serta merta kami tertawa kecil. Bisa-bisanya Dimas bilang kami pacaran. Ada-ada saja anak itu.

“ Biar aku yang bawa.” Lirih Fahri lalu menjinjing bungkusan itu.

“ Nggak usah Fahri, aku bisa…”

“ Sudah, tidak apa-apa.” Tanpa banyak bicara Fahri berjalan lebih dulu didepanku. Aku menunduk dan berjalan mengikuti. Dari sini aku mencium aroma maskulin remaja itu. Harumnya seperti..ahh entahlah. Tapi aku menikmati sensasai itu. Dia semakin membuatku kagum dan menyukainya. Suka? Aku suka atau, jatuh cinta?

Tidak, tidak, tidak. Kau tidak boleh mencintainya Nisa. Dia tidak layak untukmu. Sadarlah siapa dirimu. Kamu hanya gadis biasa. Sedangkan dia? Anak orang berada.

***

Jam 09:15 WIb.

Bunyi bel istirahat berdering. Teman sekelasku ngacir dan bubar. Seperti anak domba yang dilepas dari kandangnya. Berlarian keluar dengan bersorak ria. Seperti menang dari perang. Aku masih duduk dikursiku, menyalin catatan di papan tulis.

“ Nis, kamu nggak ke kantin?” celetuk Maya mengejutkanku.

“ Duluan aja, aku masih ada tugas.” Sahutku.

“ Tuh, aku bilang apa. Jangan mau jadi ketua OSIS. Sibuk ‘kan jadinya.”

Aku pun tersenyum. Kita beda prinsip Maya. Aku mau jadi ketua OSIS karena aku juga ingin membuktikan bahwa, wanita itu tidak lemah. Dan masih bisa menjadi pemimpin. Buktinya? Aku masih bisa ‘kan mengendalikan remaja nakal di sekolah ini. Dan mengurus event berdampak positif. Juga kegiatan bermanfaat lainnya. Maya dan Rina pergi meninggalkanku. Mereka sempat bertanya aku mau nitip apa? Aku jawab tidak perlu dan terima kasih atas tawarannya.

Di kantin hanya tinggal beberapa orang. Mereka dari kelas lain. Aku pesan nasi goreng dan es teh. Kemudian duduk di meja paling sudut. Suasananya enak. Setelah makan aku beranjak menuju kasir. Tampak seorang lelaki menggaruk-garuk kepala seperti kebingungan. Aku mendekatinya. Dia tampak cemas. Kenapa ya?

“ Kalau belum ada uangnya, besok juga nggak apa-apa nak Fahri. Nggak usah pusing-pusing. Ibu percaya kok sama kamu.” Lirih bu Rusmi pada Fahri.

“ Ini bu, sekalian sama punya Fahri.” Sergahku seraya menyodorkan uang lima puluh ribu kepada bu Rusmi. Fahri melengosku kaget.

“ Nggak usah Nisa. Biar aku bayar sendri aja. Aku udah telefon kak Rama kok. Dia bentar lagi datang bawa dompetku.” Dengusnya kikuk.

“ Nggak apa-apa. Hitung-hitung sebagai ucapan rasa terima kasihku kemaren sore.”

“ ? “

***

Seminggu kemudian.

Malam ini adalah malam dimana hatiku hancur berkeping-keping. Jiwaku serasa melayang dan hilang ditelan awan. Aku menangis karena Tuhan sepertinya tidak mengizinkan aku mencintai dan memilikinya. Di saat aku ingin berterus terang padanya akan rasa cintaku yang mendalam. Fahri akhir-akhir ini malah terlihat dekat dengan Nadia. Tetangga baru kami yang tinggal satu lantai dengan Fahri. Mereka dekat. Dekat sekali. Semenjak kehadiran Nadia, aku merasa Fahri menjauhiku. Malah aku dengar Nadia dan Fahri berpacaran. Ya Allah, Engkau pasti tahu ‘kan? Hatiku sakit.

Jam delapan malam Fahri SMS. Dia ingin menemuiku di taman apartemen. Aku tidak menggubrisnya. Aku merasa dia menyakiti dan mempermainkanku. Ia menelfon tapi aku malas mengangkat telefonnya. Kata mbak Fia dia datang ke apartemen. Kebetulan malam itu aku memang sedang di Rumah Maya. Aku menangis setelah curhat padanya.

“ Sabar Nis. Kalau jodoh, nggak kemana? Mana Nisa yang dulu. Yang kuat, yang tabah, yang selalu anggun jika tersenyum. Ini malah cemberut. Jelek tahu.” Kritik Maya tanpa menghiburku. Aku masih menangis.

Tepat jam sepuluh malam mas Reno, Kakak Maya mengantarku pulang. Maya memeluk dan memberiku semangat. Aku mencoba tersenyum meski hatiku masih sakit. Mobil mereka pun berlalu. Aku menuju halaman apartemen.

“ Nisa tunggu!” teriak seseorang dari kios di seberang jalan. Aku menolehnya.

Fahri?! Ia berlari mengejarku. Aku mempercepat langkah.

“ Nisa!” teriaknya di tengah-tengah halaman. Ku percepat langkah. Ia semakin mendekat di belakangku. Tappp. Fahri meraih tanganku sontak membuat tubuhku berbalik melihatnya.

“ Tunggu Nis. Kamu kenapa?” tukasnya menatapku. Aku diam. Hatiku miris hendak menangis. Hanya mataku yang berkaca-kaca.

“ Kenapa selama ini kamu menjauhiku? Apa salahku?”

Aku masih diam.

“ Nis. Ngomong dong, jangan diam aja.”

“ Aku capek Fahri. Aku mau masuk. Mbak Fia sudah menungguku.” Tanpa banyak bicara aku langsung meninggalkanya seorang diri. Air mataku tumpah.

“ Nisa. Ka-kamu.” Suara Fahri tidak terdengar lagi. Aku segera masuk kedalam kamar dan menangis sejadi-jadinya. Hatiku sedih Fahri. Seharusnya aku yang bertanya. Kenapa kamu meninggalkanku. Apa karena Nadia?

***

“ Hayo!” Ketus mbak Fia mengagetkanku. Sontak aku cemberut karena kesal.

“ Kamu ngapai ngelamun di depan jendela?” lirihnya. Hanya diam yang kuberikan.

“ Ohhh, mbak tahu. Pasti lagi ngintipin Fahri, yah??”

“ Apaan sih, sok tahu kamu mbak.”

“ Halahhh. Nampak dari mukamu kok. Dari tadi mbak lihat kamu melototi jendela apartementnya Fahri. Kamu nunggu cowok itu datang ‘kan?”

“ Ihhhh apaan sih mbak, udah ahh, aku lagi nggak mau bercanda nih. Malas tahu.”

“ Cieeeeeh, yang lagi kasmaran, nunggui sang pangeran datang. Tenang aja. Hari ini dia pasti pulang, kok. Tadi Rama kasih kabar keaku. Paling nanti sore mereka sampai.” Celoteh mbak Fia setelah itu dia berlalu.

Mendengar kabar tersebut sontak mataku membulat, ada secerah harapan bisa lagi bertemu dengan wajah rupawan Fahri. Jujur. Aku masih mencintainya setelah aku tahu bahwa Nadia itu adalah adiknya Fahri yang sengaja datang dan mengabarkan bahwa ibu mereka sedang sakit. Jadi, tidak ada alasan untukku cemburu padanya. Hahahaha. Ternyata selama ini aku termakan cinta karena cemburu buta.

Hujan masih menetes diatap apartemen. Udara dingin menyelinap terasa menusuk kulit dan tulangku. Ku tutup buku yang belum selesai aku baca. Mataku menatap sesuatu dibalik sana. Kaca kamarku mengembun seiring angin basah berhembus memburamkan pandangan.

Wahai engkau sang pangeran. Adakah engkau mendengar isi hatiku?

Sejak aku menyebut namamu. Ada rindu yang menggebu.

Bilakah engkau datang dan menemuiku? Sekedar melepas penat dan rindu.

Aku masih menunggumu. Pangeranku.

Samar-samar aku menatap sosok di balik jendela. Lelaki yang kukenal berdiri menatapku tajam. Benarkah itu dia? Fahri?! Ternyata benar itu Fahri. Dia sudah datang? Air mataku tak terbendung lagi. Ada rasa rindu dan cinta yang membuncah. Aku berdiri di balik jendela. Begitu juga dia. Mata kami saling berpandangan terpisah jarak antara enam meter. Dia tersenyum padaku. Aku tersipu malu.

TAMAT

Cerpen Karangan: Jibril
Facebook: Jibril Al Muhliesh Zhien
Twitter: @almuchliesh2

Cerpen Cowok di Balik Jendela merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pantaskah

Oleh:
Terlahir dari keluarga yang sangat sederhana membuatku terbiasa hidup terasingkan juga penuh caci, mencoba menghadapi rintang kehidupan dengan genggaman tangan keluarga. Merasakan hidup lebih dari sekedar susah telah ku

Modus Tipis

Oleh:
“Nik, aku denger-denger dari temen-temenku, Arga kemarin kecelakaan lho,” beritahuku kepada Nikka, sahabatku yang menyukai Arga. “Hah? Apa? Kapan? Di mana? Kok bisa?” tanya Nikka dengan segala kekhawatirannya. “Kemarin.

Tentang Lo dan Gue

Oleh:
Seorang cewek menangis di tepi tempat tidurnya, entah apa rasanya hatinya saat ini, dia hanya bisa mengeluarkan air matanya. Seorang itu bernama gladis putri rahayu, keturunan orang indonesia asli.

Hiraukan Rasaku

Oleh:
“Kenapa! Kenapa masih aku yang disalahkan, aku sudah mengikhlaskan dia untukmu jadi untuk apa lagi kau menginterogasiku, menjadi stalker di hidupku sedangkan ku sudah tak ada urusan dengan dia

Just About Time

Oleh:
“Kau tahu, hari ini akan ada peresmian CEO baru. Jadi, tidak mungkin kalau kita bakalan di forsir kerja,” ucap Bram dengan memakan mie ramennya. “Lo tahu darimana, Bram?,” tanya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *