Cukup Kau Rasakan Saja

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 26 July 2017

“Ini pacar lo? Cantik. Pinter lo milihnya!” decak kagum itu kian mengental. Membuat gadis yang diperkenalkan merasa risih sendiri karena mendapat respon seperti itu.
“Ata, aku malu.” Bisiknya pelan.
“Kamu malu pacaran sama aku?”
“Bukan, tapi-” belum selesai ia mengatakannya, seorang gadis terlihat berjalan ke arah mereka. Resa kembali menegakkan tubuhnya dan memberikan senyuman terbaiknya.
“Ini pacar kamu?”
Kali ini Resa tidak mendengarkan sepatah kata pun keluar mulut Ata. Lelaki itu hanya bungkam dan terlihat tegang.
“I-”
“Bukan. Dia teman aku.”

“Kamu kenapa, Sa?” tanya Ine yang mendapati gurat sedih di wajah teman sebangkunya itu.
“Gak ada apa-apa.”
“Kamu gak pinter bohong. Ada apa?”
“Aku cuman pelarian Ata.”

Langit sedang cerah dan matahari masih bersinar dengan semangatnya saat jam sekolah berakhir. Namun tidak dengan perasaan Resa. Badai tengah melanda hatinya, menyapu rasa bahagia yang semalam menyapanya.

“Resa!”
Gadis ini menoleh dan mendapati Ata menghampirinya dengan langkah panjang. Bahkan nyaris berlari. Resa memilih membicarakannya, ia tidak mau terlalu larut dalam pikiran anehnya. Mungkin gadis semalam anggota keluarga Ata yang tidak memperbolehkan Ata pacaran. Semoga saja begitu.
“Ada apa?”
“Kamu marah?”
“Soal?”
“Semalam.”
“Menurut kamu?”
Kali ini Ata berpikir cukup lama. Ayolah, gadis bodoh mana yang tidak marah kalau pacarnya terang-terangan tidak mengakui dirinya sebagai seorang pacar?
“Aku minta maaf. Bisa kita keluar malam ini sebagai permohonan maafku?”

Tidak ada yang aneh, mereka mengelilingi Mal sambil bergandengan tangan mesra. Ata bahkan beberapa kali menggoda Resa agar gadis itu tidak lagi memikirkan tentang kejadian semalam. Tentang gadis yang telah melukainya.
“Wah! Lagi ada diskon buku.” Jerit gadis di sebelahnya dengan girang. Mata coklatnya langsung beralih menatap Ata yang menyiratkan tanda memohon agar Ata bersedia ke toko buku tersebut.
“Baiklah, tuan puteri. Ayo kita ke dalam.”
Resa langsung tenggelam dalam sinopsis yang menghanyutkan. Sesekali raut wajahnya berubah sedih lalu bahagia karena suasana berbeda yang dihasilkan oleh tiap sinopsis tersebut. Fokusnya terhadap Ata sudah hilang. Bahkan ia tidak menyadari bahwa lelaki itu telah berjalan ke rak buku lain dan mencoba mencari buku favoritnya.
“Ata?”
Suara lembut itu langsung membuat Ata menoleh.
“Grace?”

“Kau tidak perlu repot-repot menjelaskan apapun. Aku sudah mendengar semuanya.” Resa memilih memotong permintaan maaf Ata yang kini terdengar memuakkan di telinganya.
Gadis di pesta, yang membuat Ata tidak mengakuinya sebagai pacar, adalah Grace. Mantan Ata!. Apa lagi yang harus dijelaskan? Ata belum bisa move on, itulah kenyataan pahitnya. Ditambah lagi kenyataan bahwa dirinya hanyalah sebuah tempat pelarian.
“Tapi kamu ha-”
“Cukup! Kau hanya menjadikanku pelarian cintamu bukan? Ketika kau bersamanya, aku bisa melihat sorot cinta di matamu dengan jelas!” kepedihan itu berujung pada bulir bening yang mengalir begitu saja.
Menyesakkan!
“Seharusnya aku tidak mempercayaimu begitu saja. Bagaimana bisa seorang Ata mencintai Fansnya? Ya, kan? Haha aku yang salah. Jadi lupakanlah.”
“Sa, aku-”
“Aku bahkan muak saat kau menyebut namaku.”

Pemuda ini terlalu berada di tepi trotoar. Ia tengah asik membalas chat dari seorang gadis yang tak lain adalah mantannya. Ternyata move on tidak semudah ucapanya.
Hingga sebuah mobil nyaris menyambarnya sebelum seorang gadis mendorong tubuhnya menjauh dari sana.
“Berhati-hatilah!” semprot Resa.

Gadis ini mendorong motor maticnya dengan pelan. Ia kehabisan bensin. Resa tidak memperhatikan garis tangki bensinnya saat terakhir kali membawanya. Pikirannya masih sangat kacau, namun ia berusaha menyembunyikannya dengan baik.
Sebuah mobil CR-V hitam berhenti di depannya, “Motor kamu kenapa?”
Resa tidak menjawabnya, ia mengambil arah lain lalu kembali mendorong motor maticnya. Pemuda tersebut langsung mengejarnya, “Biar aku bantu.”
Gadis ini berhenti sejenak. Menatap nanar ke arah lelaki di hadapannya. “Menyingkirlah.”

Resa. Salah satu dari sekian banyak gadis yang menyukainya di sekolah. Dengan tubuh tinggi dan paras yang tampan, membuat Ata jadi rebutan banyak gadis di sekolah. Lalu ia memilih Resa sebagai pacarnya. Memilih. Hanya memilih, tanpa hati.
Ia kira dengan memiliki seorang pacar, maka bayangan Grace akan sedikit terkikis. Namun pertemuan yang terjadi justru membuat hati yang lain terluka. Hati Resa. Kini gadis itu memilih untuk mengakhiri hubungan mereka. Seharusnya Ata tidak mempermasalahkan tentang penolakan Resa tadi sore, namun kenapa sekarang ia merasa sakit?

“Yes!” jerit Ata girang. Ia kembali memasukkan bola bakset ke dalam ring. Matanya lalu beralih ke tepi lapangan basket. Para gadis sudah menunggunya di sana. Namun, ia kehilangan satu gadis yang selalu menunggunya di sana ddengan air minum dan handuk di tangannya.
Kamu di mana, Sa?

“Bukankah kau pacarnya Ata?”
Resa menoleh, “Bukan.”
“Benarkah? Haha syukurlah. Aku juga tidak percaya ia akan pacaran dengan gadis sepertimu.” Ujarnya dengan nada mengejek. Sementara Resa lebih memilih membalasnya dengan sebuah senyum tipis.
“Bey, jemput aku dong. Aku di Mal nih.” Gadis itu menahan lengan Resa. Meskipun Resa mengatakan bahwa ia bukan pacar Ata, namun Grace cukup pintar untuk tidak mempercayainya.
“Kau tidak keberatan kalau kita mengobrol sebentar?”

Resa sudah menebaknya. Ata yang menjemput gadis bernama ‘Grace’ ini. “Bisa aku pulang sekarang?” tanya Resa datar.
“Bisa. Terimakasih, ya! Yuk pulang, Bey.” Grace langsung menggamit lengan kokoh Ata. Entah kenapa pemuda ini kaget lalu refleks menarik lengannya, sementara Resa telah berjalan jauh dari keduanya.
“Lepaskan.” Ujar Ata dingin.
“Bey-”
“Kita sudah berakhir.”

“Apa ini?” tanya Resa datar sambil menatap undangan di tangannya.
“Ini pesta ulang tahunku. Kamu gak lupa kan?”
“Lalu?”
“Kamu harus datang, sebagai tamu spesialku.” Ujar Ata dengan mata berbinar. Kali ini, ia akan kembali menyatakan perasaan sesungguhnya terhadap Resa. Gadis yang telah ia lukai dan diam-diam telah mengisi hatinya.
“Aku tidak berminat. Terimakasih.” Resa mengembalikan undangan tersebut pada Ata.
“Aku tau kau masih mencintaiku, Sa! Kenapa kau terlalu munafik untuk mengakuinya?”
Langkah gadis ini seketika terhenti, ia menoleh ke belakang. “Seharusnya kau menyadarinya sejak dulu. Perasaan yang sudah kau sia-siakan.”

Resa berusaha membelah kerumunan siswa yang tengah mengelilingi sesuatu. Matanya seketika membola melihat apa yang ada di hadapannya. Ata! Pemuda itu terbaring di aspal sambil merintih dengan darah yang berceceran di tubuhnya.
“Telfon ambulans!” teriak Resa nyaring. Ia meletakkan kepala Ata di pangkuannya.
“Ata.. Ata.. bertahanlah.” Ujarnya sambil menggenggam tangan pemuda itu erat.
“Sa… apa aku sudah di Surga?”
“Bodoh! Kau masih di sini. Jangan berkata yang tidak-tidak.”
“Tidak mungkin. Kau membenciku, bagaimana bisa kau di sini dan mengkhawatirkanku?”
“Diamlah Ata. Kau harus kuat! Ambulans akan datang sebentar lagi.” Ujar Resa gusar, matanya mulai menghangat. Lelaki yang telah melukainya ini masih sanggup membuatnya terluka dengan kondisinya yang seperti ini.
“Kau mencintaiku?”
“Apa yang kau pikirkan? Itu-”
“Katakanlah, Sa. Mungkin untuk te-”
“Ya. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu! Sekarang bertahanlah karena aku sudah mengatakannya!” ujar Resa histeris. Bisa-bisanya lelaki ini menanyakan hal seperti itu disaat yang gawat.
“Berjanjilah satu hal.”
“Apa lagi, Ata? Tidak cukupkah kau menyakitiku dengan kondisimu yang seperti ini?”
“Berjanjilah, kau akan datang ke pesta ulang tahunku.”
“Baiklah, baik. Aku akan datang.”
Kelopak mata Ata terpejam perlahan. “Ata! Ata! Bangun!” Resa mengguncang tubuh tegap yang berbaring di pangkuannya. “Pembohong!!!” jerit Resa histeris. Air matanya tumpah begitu saja.

“Hey, aku hanya ingin tidur sebentar.” Ujar Ata dengan senyum menawannya.
Resa menatapnya kaget, “Kau-”. Resa langsung mendorong tubuh Ata dari pangkuannya.
“Dasar bodoh! Kau kira lucu itu lucu? Kau membuat kita jadi tontonan.” Semprot Resa murka.
Ata menarik gadis cerewet yang telah mengungkapkan isi hatinya terhadap Ata ke dalam rengkuhannya. Membiarkan semua kekesalan gadis itu luruh bersama debaran jantungnya. “Aku mencintaimu, Sa.”
“Kau kira aku akan percaya?”
“Tidak. Tapi cukup kau rasakan saja.”

Cerpen Karangan: Sotia Aulia kamsi
Facebook: @auliasotia
wattpad: @chococot
Hai! Makasih udah mau baca cerita aku. Silahkan baca cerita aku yg lain di wattpad: @chococot / atau di blog: sotiaauliakamsi[-at-]gmail.com / fb: @auliasotia 😉😉

Cerpen Cukup Kau Rasakan Saja merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Long Distance Relationship

Oleh:
09 oktober 2004, Tuhan entah berapa lama lagi hal ini akan ku alami, ku ingin membelai rambutnya, menatap wajahnya, memeluk tubuhnya. Ahh, hubungan ini terasa menyiksaku, sudah 3 tahun

Thanks For My Dear

Oleh:
Malam itu bulan yang bersinar begitu terangnya tak bisa menutupi rasa hancurnya hatiku ditinggalnya. Namun sepanjang langkahku di saat aku bekerja selalu berharap ada orang lain pengganti dia yang

Penantian

Oleh:
Hidup ini adalah sebuah penantian yang harus aku hadapi. Entah akan berakhir happy ending atau sebaliknya, tapi kurasa perjalanan hidup diriku yang tak menentu ini membuat aku ragu akan

Seperti Detektif Conan

Oleh:
“Tak bisakah kau menerimaku? Aku hanya ingin menjadi temanmu!” Kalimat yang selalu terngiang di telingaku. Sebuah kalimat yang terlontar dari mulut pendiam Evan, takkan hilang dari ingatanku. Meski hanya

Apa Ini Mimpi?

Oleh:
Alya berjalan di koridor sekolah yang mulai kosong. Seperti biasa, dia berjalan sendirian tanpa ditemani seseorang. Ya, beginilah nasib orang yang tidak bisa mencari seorang teman, dia hanya bisa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *