D, Tinta Merah (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 14 April 2017

‘Jangan kau pikirkan apa yang telah terjadi. Jangan pernah. Karena itu hanya akan membuatmu terpuruk pada masa lalu.’

10 tahun yang lalu …
Hidupku berbalik 180 derajat akibat tinta merah itu. Seseorang yang telah menuliskan satu angka berarti di dalam hidup. Seseorang yang menggoreskan tinta merah di selembar kertas ujianku. Ya, orang itu adalah Pak Nafa. Lelaki yang sudah berkepala tiga dan memiliki 2 orang istri itu adalah seniorku.

“Ini kesempatan terakhir, dan kau … masih saja seperti ini.” Dia menasehatiku dengan tatapan lekat. Kantung mata dan wajah yang lumayan berminyak itu menandakan ia sangat lelah. Wajar saja, mengurus dan menafkahi 2 istri dan 6 orang anak sekaligus bukanlah pekerjaan ringan.

Seandainya saja mata kananku tetap dalam keadaan sehat seperti dulu, kejadian ini takkan pernah terulang lagi. Bahkan sampai berkali-kali. Mata kanan yang buta ini menjadi penyebab utama mengapa jiwa penyendiri ada di dalam diriku. Semua orang menghindar. Ya, mereka bajingan. Pengkhianat. Habis manis sepah dibuang.

Semua orang heran melihat sikapku dua bulan belakangan ini. Ng, lebih tepatnya heran dan juga takut. Aku ini korban tabrak lari. Bagian yang terluka hanya lengan dan mataku. Saat itu, aku bersyukur sekali karena masih bisa menghirup nafas segar.
Tapi, kenyataan memang pahit. Ketika siuman, kudapati ibu yang sedang menangis tersedu-sedu, menjadi pusat perhatian pasien lain. Jari-jari kasar akibat sering bekerja itu mengusap mata kananku perlahan. Saat itu juga, aku merasa dadaku begitu sesak, jantung untuk sesaat seakan lupa berdetak.

“Ibu …” Aku mendesah pelan, nyaris tak terdengar.
“Ya, Sayang?” Ibu menyeka bulir-bulir air mata yang membasahi pipi tirusnya, lalu tersenyum.
“Mata kananku … ada apa?” tanyaku tanpa menatap wajah ibu. Sungguh, aku tak berani melihat wajahnya yang sedih, apalagi karena aku. Aku merasa seakan-akan menjadi orang paling berdosa di dunia.
“Ma-mata kan-”
“Sesuai yang tertulis di laporan ini, kau mengalami luka serius di kedua lengan dan juga matamu. Kedua lenganmu itu bisa ditangani dengan 12 jahitan, namun saya selaku dokter yang menanganimu sungguh minta maaf. Kau terpaksa melihat hanya dengan mata kiri saja, Dik.” Seorang perempuan sebaya ibu datang dan berdiri tegap di hadapanku. Ia mengatakan itu dengan tegas dan langsung pergi ke ruangan lain.

“Hei, Daffa! Apa kau bisa melihat ini?” Cisa mengayun-ayunkan tangan mungilnya tepat di hadapanku.
“Tolong jangan menggangguku, Cisa. Aku mohon.” Mendengar itu, Cisa menepuk bahuku ringan dan langsung pergi entah ke mana.

Pak Nafa. Seharusnya hari ini aku menemuinya karena ingin membuktikan bahwa muridnya dulu yang sering mendapat nilai nol ini berhasil menjadi psikolog anak. Ini memang bukan cita-citaku. Tapi, seseorang yang buta sebelah takkan diterima menjadi polisi.

Keputusan Tuhan memang siapa yang tahu. Kemarin malam, Cisa memberitahuku bahwa Pak Nafa meninggal karena darah tinggi. Memang penyakit tua yang wajar, namun tak terduga. Rasanya baru seminggu yang lalu aku bertemu dengannya ketika sedang kencan dengan pacarku.
Aku ingat sekali. Waktu itu, Pak Nafa melihat pacarku dalam keadaan setengah mabuk sambil memelukku. Wajah Pak Nafa memerah, seakan ingin menampar saja. Dari dulu, ia memang tak pernah mau muridnya menjadi korban pergaulan bebas.
Tapi, itu bukan aku. Minuman beralkohol bukan favoritku. Minuman itu hanyalah favorit pacarku. Aku tak pernah meminumnya, meskipun didesak. Lebih baik lidahku putus daripada harus minum minuman itu. Kalimat itu pernah kudengar oleh seorang gadis yang satu bus denganku 2 tahun yang lalu.
Aku merindukan wajahnya yang sering memukul meja dan papan tulis kelas. Kumis yang tebal, bahkan rambutnya yang sudah memutih.

Lagu I Would’nt Mind terdengar di telinga kananku. Panggilan masuk. Aku sangat menyukai lagu itu. Mulai dari liriknya, bahkan sampai iramanya.
“Ya. Ada apa?” Pembicaraan lewat telepon dimulai.
“Ah, Daffa! Sudah lama ya! Jam 7 malam hari ini, di rumahku. Bisakah?” Suara wanita itu nyaring sekali. Ini bisa merusak gendang telingaku. Sepertinya dia sedang dalam keadaan senang. Entah apa hal yang membuat wanita yang jarang senyum itu bisa sesenang ini.
“Tunggu aku nanti, Itha,” jawabku datar, mengakhiri obrolan singkat ini.

6 jam aku berdiam di sini, hanya ada 2 orangtua yang membawa anaknya ke ruanganku. Setidaknya, aku bersyukur karena semakin hari semakin sedikit anak-anak yang memiliki masalah pada pikiran ataupun jiwanya. Memang sudah sepatutnya anak-anak itu belajar di sekolah, bermain di taman, membuat boneka salju, bahkan mungkin beberapa di antara mereka mulai menyukai teman lawan jenis yang menarik perhatiannya.

Jarum pendek di arloji emasku berada tepat di angka 7. Tidak, ini gawat. Itha mungkin akan sangat marah jika aku belum juga bergegas.
“Eh, eh! Mau kemana kau? Jam kerja masih 2 jam lagi!” tegur Cisa sambil menarik telingaku ke belakang.
Aku menepis, mengabaikannya. Jika dia memang rekan kerja yang baik, ia pasti akan mengerti alasanku pulang lebih awal.
‘Sherry lagi ya, Daffa?’

“Ah, Itha! Maaf …, maaf. Aku terlambat.” Aku menarik nafas pelan, mengisi rongga dengan oksigen ketenangan.
Itha hanya menaikkan sebelah alisnya. Kebiasaan. Kuakui alisnya memang sangat indah, tapi tak seharusnya ia menatapku seperti itu. Sangat lekat.
“Berdiri di situ sampai ayam berkokok? Ayo duduk!” Itha menarik tangan kananku ke arah sofa empuk berwarna tosca.
“Lalu, apa kau tak mau bertanya kenapa aku mengajakmu bertemu sini, huh?” Aku merasa suara Itha mulai sedikit menantang. Apalagi ditambah dengan wajah kakunya yang jarang tersenyum itu.
Aku mengangkat kedua bahu. Hanya itu. Tanpa mengatakan sepatah kata pun. Takutnya nanti perkataanku menyakiti hatinya. Biarpun cuek, Itha juga wanita yang sensitif terhadap banyak hal.
“Kita ‘kan teman SD. Selama 6 tahun kita bersama-sama. Harusnya kau sering mengabariku dong!” Raut wajahnya berubah seketika. Terlihat sedikit lebih manis.
“Stop!”
“Huh?”
“Pertahankan wajah itu. Kau jadi terlihat lebih manis,” ujarku.
Itha tertawa kecil, menganggap perkataanku tadi hanyalah sebuah gurauan. Ia memang seperti itu.
Itha selalu mencari bahan pembicaraan lebih cepat daripada aku. Ia menceritakan semua masalah yang dihadapinya padaku, tanpa rasa segan sedikit pun. Mungkin bisa dibilang kami ini sahabat.

O8.30
Tak ada lagi suara ayam jantan yang berkokok dengan lantang. Tak ada lagi suara Paman Roy yang berteriak menaruh koran pagi di halaman rumah. Bahkan tak ada lagi suara alarm yang dari dulu selalu membangunkanku. Alarm itu hadiah dari ibu pada saat aku mendapatkan Juara 1 Try Out se-kecamatan. Kecil sih, tapi besar kenangannya.

Saat masih kecil, kunamakan alarm itu Timie. Nama itu berasal dari kata time yang iseng-iseng kuselipkan huruf ‘i’ di tengahnya.
Timie rusak kira-kira sebulan yang lalu karena pacarku. Aku memang tak bisa menyalahkannya. Karena ia tak sengaja. Yang patut disalahkan adalah lampu padam yang membuat pacarku menjatuhkan alarm itu. Waktu itu, ia memutuskan untuk liburan ke sini karena bosan bekerja. Alasan sederhana, namun sering dipakai pekerja lainnya.

Lantunan lagu I Wouldn’t Mind terdengar lagi. Kali ini dengan suara yang samar-samar. Aku mencari asal suara itu dan menemukannya di dalam laci lemari pakaian. Aku tak ingat kenapa aku menaruhnya di sana. Padahal sebelumnya ibu pernah mengatakan kalau ia tak bisa membuka laci itu selama bertahun-tahun. Kuncinya hilang dan tak ada duplikatnya.
“Ah, mungkin waktu itu ibu hanya bercanda agar aku tak mengambil uang di laci itu.” Aku bicara pada diri sendiri sembari membuka lock screen. Ternyata hanya pesan dari paman Roy yang mengingatkanku untuk mengambil korannya. Haha.
‘Hanya gurauan semata ya?’

Prang …!
Vas bunga kesayanganku terjatuh. Meninggalkan kenangan, suara pecahan 1yang begitu keras dan menyiksa.
“Siapa di sana?” tanyaku sambil memeriksa. Telinga kiriku mendengar suara langkah seseorang yang tengah berlari.
“Siapa di sana?! Siapa kau?!” Aku mengikuti sumber suara aneh itu. Kuikuti terus dan akhirnya …
“Akh!!”

“Hei bodoh! Bangunlah! Hei lelaki pemalas! Buka matamu. Ayo!”
“Ng …?”
“Aha! Bangun juga kau. Bagaimana? Tidak apa-apa?”
Ternyata Itha. Ya, dia lagi. Apa dia tidak bosan melihatku sedangkan aku sendiri mulai bosan melihatnya selalu muncul di hadapanku.
“Kau tidak bosan denganku? Hm, maksudku, apa tunanganmu tidak marah? Kudengar, ia mengenalku,” jelasku panjang lebar.
Itha tersenyum. Lebar sekali.
“Oh ya, soal yang kemarin …”
“Huh? Yang mana?”
“Itu lho. Saat aku bilang wajahmu yang manis itu. Itu bukan candaan. Aku serius, Itha.”

Pintu yang berdecit membuat obrolan kami terputus. Ada seseorang yang menjengukku.
“She-Sherry …!” Itha yang tadinya duduk manis langsung berdiri, menjaga jarak dariku.
Aku mengerti. Sherry, pacarku ini sedikit cemburu pada Itha. Ia juga tidak senang jika aku dekat dengan Cisa. Padahal kami hanya sebatas rekan. Ya, rekan kerja.
Itha menoleh ke arahku. Mata cokelatnya itu mengatakan kalau ia akan keluar sebentar, memberiku waktu untuk bicara sebentar pada Sherry.
Itha melangkahkan kakinya ke luar ruangan, lalu menutup pintu dengan hati-hati.

“Kau seharusnya tidak perlu ke sini, Sher,” ucapku sambil meraih tangan mungilnya.
“Kau juga. Seharusnya tak perlu mengejar orang itu. Kau tak tahu bahaya apa yang akan mendatangimu,” jelas Sherry panjang lebar.
Sherry melepaskan genggamanku. Ia memeriksa isi tasnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil. Berwarna biru laut.
“Ini hadiah dariku. Jangan dibuka jika ada orang lain yang melihatnya.” Sherry langsung bicara sebelum aku menanyakan isi kotak itu. Aku tahu maksud dari kata ‘orang lain’ itu, pasti Itha ataupun Cisa.
Ia menutupi separuh tubuhku dengan selimut putih ala rumah sakit. Ia mengatakan kalau besok akan kembali ke tempat ia bekerja, Osaka.
Sherry tersenyum kecil, lalu keluar dari ruangan ini. Kumenunggu sosok Itha yang akan masuk kembali, tapi tak datang jua.

“Boleh aku bicara sebentar denganmu?”

30 menit sudah berlalu semenjak Sherry meninggalkan ruangan ini. Sekarang, aku sendiri. Ya, aku memang sudah terbiasa seperti ini. Di rumah sendiri, di rumah sakit pun sendiri. Hanya ada beberapa orang yang menjadi temanku. Dihitung 5 jari pun takkan sampai. Kedua orangtuaku sudah meninggal dan aku juga tak punya saudara. Ibu dan ayah juga anak tunggal dari orangtua mereka. Bisa dibilang aku hidup sebatang kara, saat ini. Seharusnya, umurku saat ini sudah sangat matang jika ingin menikah. Tapi, Sherry selalu saja menolak. Alasannya, ia masih ingin fokus dengan karirnya di Osaka.

“Ada orang tewas di dalam lift …!” Seorang pasien paruh baya berteriak. Aku mendengarnya. Begitu keluar, dokter dan suster yang bertugas saat ini langsung berlari menuju lift. Aku mengikuti mereka, penasaran dengan orang itu.

Dia Itha. Ya, dia korbannya. Bisa dikatakan kondisinya sangat mengenaskan. Tapi, tak ada darah yang berceceran di lantai lift. Setetes pun tak ada.

“Benar-benar! Ini bisa membuat para pasien takut dan shock! Bagaimana kalian ini?! Siapa yang tadi ada di dekat lift?!” Seorang dokter muda membentak para suster yang tengah menunduk, menahan rasa sedih dan juga takut yang bercampur aduk.
Aku mati rasa. Kelopak mata seakan tak berkeinginan lagi untuk menutup. Ku menahan air mata agar tak membasahi pipi. Itha, dara manis tak bersalah itu mampus di dalam lift. Tanpa ada saksi mata. Tanpa ada penyebab yang pasti.

Siang begitu terik membakar ubun-ubun tanpa mengenal lelah. Suster-suster mulai berkeliaran di setiap ruangan untuk membagikan makan siang pada seluruh pasien.
Pikiranku masih kacau karena Itha. Setelah kejadian itu, aku tak dapat melakukan apapun selain menangis. Mengeluarkan beberapa tetes air mata kesedihan, kehancuran, dan kehilangan. Aku benar-benar merasakan rasanya kehilangan seseorang yang berharga dalam hidup ini. Kehilangan sosok seorang anak tunggal dari Pak Nafa. Kehilangan sosok seorang sahabat yang rutin menertawaiku saat nilai nol dari tinta merah ayahnya berkali-kali mewarnai kertas ujianku.
Itha, kematianmu adalah salah satu kematian yang paling tak kuinginkan di dunia ini.

Chapter 1: Finish
“Thanks For Reading! Don’t Be Silent Readers!” -Ramf-

Cerpen Karangan: Rachmi Muti’ah Fadillah
Facebook: Rahmi Mutiah Fadillah
IG: 31rahmi
2Nd IG: ramf31_
Gamsahamnida~

Cerpen D, Tinta Merah (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hanya Cerpen Kok

Oleh:
Perkenalkan namaku Dian, aku bekerja di sekitar daerah Kabupaten Bekasi. Pagi ini sama seperti kemarin, aku lagi malas naik motor sampai ke tempat kerja, makannya aku berangkat lebih pagi

Kau Terindah

Oleh:
Seiring berjalannya waktu aku yang pernah terluka oleh masa lalu yang begitu pahit untuk dikenang, mungkin setelah kejadian itu aku tidak akan pernah bisa menerima seseorang lelaki di hatiku

Just For You Dika

Oleh:
Gini deh nasibnya “seorang jomblo”, hhhmmm.. sudah sendirian tak ada teman yang di ajak ngobrol pula. Membosankan. Ku pandangi handphoneku, tak ada sms apalagi telfon. “Enaknya ngapain ya?” Akhirnya

Sebuah Penantian

Oleh:
“We never know what will happen today, tomorrow and tomorrow again nothing impossible.” Menurut gua itulah kalimat yang cocok buat sepasang kekasih ini, cerita berawal dari masa SMA, Wenny

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “D, Tinta Merah (Part 1)”

  1. eSHaeR says:

    Bingung gimana alurnya. Hm, entahlah…

  2. AnisaAF says:

    Ditunggu kelanjutan nya ya

  3. Lulu Mahmudah A says:

    Sukaaa!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *