Daffodil (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 12 August 2017

Deretan fajar yang indah mengingatkanku akan saat itu. Saat dimana kau siramkan air garam pada luka hati yang masih menganga ini. Berulang kali telah kucoba menghapus semua yang berkaitan denganmu dari otakku. Namun bukannya hilang, malah semakin sering bayangan-bayangan itu muncul dalam benakku. Aku bingung. Mengapa kisah pahit itu tak henti menghantuiku.

Setahun lebih telah berlalu. Tak kunjung juga kutemukan jalan keluar dari dalamnya jurang penyesalan ini. Rasa hati bak gunung yang dikuliti kemarau panjang di bulan Oktober. Yang hanya menyisakan seonggok tanah tandus bergejolak ketika di dera angin yang menderu. Tak kunjung dihinggapi setetes embun. Gersang, kosong, menyedihkan, mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan.

Dalam ruang berukuran tiga kali tiga meter ini, setiap hari aku berkutat dengan sepi. Entah sudah berapa banyak kalam pujangga aku tulis, entah sudah berapa banyak goresan cat aku lukis. Bahkan sudah tak terhitung berapa kali cord minor yang aku mainkan untuk menghibur diriku sendiri. Juga entah tak terhitung banyaknya puntung dan bungkus rok*k yang berhamburan di sana-sini. Terkadang aku bertanya, mengapa dengan diri ini? Namun entah, tak kunjung ada jawaban ku temui hingga saat ini.

“RANDI!!!”
“Iya!!!”
“BELIIN GARAM DI WARUNGNYA BU SUTI!!”
“Iya buk!”

Hampir seperti inilah keseharianku. Menjadi seorang pemuda pengangguran yang hanya bisa luntang-lantung tak karuan. Hidup seperti cucian kotor di bak di sudut kamar. Dipandang menjijikan, didekati memuakkan, dipakaipun tak berguna.
Dulu aku pernah menjadi berguna. Hidup membanggakan dengan beberapa prestasi yang pernah kuraih. Penghargaan sebagai juara olimpiade Fisika tingkat provinsi, juara lomba menyanyi, dan beberapa penghargaan sebagai sastrawan muda berbakat. Namun setelah peristiwa pahit itu, hariku berubah.
Kini aku hanyalah pemuda pengangguran yang tak memiliki tujuan. Bahkan aku sendiri sudah lupa, apa cita-citaku dan harapanku dulu. Semua itu hanya karena dia.

“CEPETAN RANDI!!! KEBURU GOSONG IKANNYA!!!”
“Iya-iya buk!”
OK, kita sambung nanti…

Langkahku gontai menuju warung bu Suti. Pandangan mataku tak tentu arah. Pikiranku pun tak tahu pasti apa yang ada di dalamnya.
Aku berjalan terus menuju warung bu Suti. Tepatnya sekitar limapuluh meter dari rumahku. Berada tepat di pojok tikungan jalan di kampungku. Anak-anak muda kampungku biasa menyebutnya warung pojok. Tak jarang juga mereka nongkrong-nongkrong di sana ketika hari menjelma malam. Aku tak pernah sekalipun ikut nongkrong dengan mereka. Karena entah mengapa, ketika aku bersama mereka aku selalu merasa beda. Semua yang mereka anggap lucu, bagiku itu menyedihkan. Semua yang mereka anggap menyenangkan, bagiku itu menyebalkan…

Tiba-tiba kakiku terhenti. Telingaku memeka karena ada sebuah suara yang tak asing hinggap di sana. Setelah kudengarkan dengan seksama, ternyata bunyi dari ponselku. Kulihat ternyata ada sebuah panggilan masuk. Dari teman sekelasku dulu di SMA.
“Halo.” Suaraku menjawab telpon.
“Halo Ndi, lo lagi di mana?” Suara si penelpon terdengar dari seberang.
“Di jalan.”
“Mau ke mana lo?”
“Mau ke warung beli garam. Emang ada apaan?”
“Jadi gini Ndi…”
Si penelepon yang tak lain dan tak bukan adalah teman sebangkuku waktu SMA dulu, Robi namanya, dia mulai menjelaskan maksud dan tujuannya meneleponku. Aku tak terlalu mendengarkannya. Sebab aku tengah berkonsentrasi melaksanakan tugas dari malaikat penjagaku yang dikirim tuhan dari surga untuk merawatku. Ibuku.
Aku tak terlalu paham betul dengan apa yang dijelaskan Robi pada pembicaraan kami melalui telepon. Yang kutahu hanya dia ingin mengajakku pergi keluar besok. Entah untuk apa, dan entah mau ke mana. Aku kurang begitu paham akan maksudnya. Tapi karena dia sahabatku, aku pun mengiyakan saja ajakan darinya. Toh, lumayan buat cari hiburan.

Hari yang biasa-biasa saja kini telah menjelma menjadi malam. Sinar mentari yang tadinya begitu garang menantang bumi, kini telah terselimuti oleh pekatnya kegelapan malam.
Seperti biasa, setelah sholat maghrib ku dirikan, aku kembali pada ruangan tiga kali tiga meter yang biasa orang menyebutnya kamar. Namun bagiku itu bukanlah kamar. Melainkan penjara sunyi yang membelengguku dan melumatku dalam penatnya rasa hampa yang kurasakan. Setelah kepergiannya.

Kuraih gitar tuaku yang mulai usang. Karena benda inilah yang selama ini dapat menghiburku. Tangan kiriku mulai membentuk pola yang orang sebut sebai CORD (kunci gitar). Tangan kananku mulai memetik perlahan senar-senar gitar tuaku yang mulai berkarat. Aku mulai menyeandungkan sebuah lagu sendu dari Alegria. Judulnya Kutunggu Dirimu.

Aku tahu, kau mencintaiku
Kurasakan perasaan itu
Namun apa daya, diriku tak kuasa
Memilikimu
Karena kau telah dengannya
Kan ku tunggu, dirimu ku tunggu
Hingga saat nanti, sampai nafasku terhenti
Kan kusimpan, cintaku disini
Kan ku jaga slalu, rasa cintaku untukmu
Sampai matiku, kan tetap menunggu.

Deret air mata selalu ingin keluar dari ujung mata ini ketika lagu itu kunyanyikan. Lagu itu begitu menggambarkan jelas keadaanku yang sekarang. Namun dengan sekuat tenaga aku selalu menahannya. Sebab seorang lelaki pantang untuk meneteskan air mata.

Sayangnya meskipun aku mencoba menahannya sekuat apapun, tetap saja air mata ini menetes dengan sendirinya. Perlahan mengalir dan mulai membasahi pipiku. Ketika itu terjadi, aku hanya bisa pasrah. Aku hanya bisa berserah akan keadaan. Memang sangatlah pedih luka yang kualami. Seumur hidupku, luka itulah menurutku yang paling perih yang pernah kurasakan. Luka akibat kebodohanku sendiri…

Luka ini terjadi karena dia. Ini semua sebenarya telah lama sekali terjadi. Kurang lebih sekitar dua tahun yang lalu.
Dulu setelah lulus sekolah, aku memutuskan untuk mencari pengalaman sebelum melanjutkan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi. Aku pun mencoba mencari sebuah pekerjaan. Aku diterima bekerja sebagai pelayan di sebuah warung makan cepat saji. Dan ketika aku diterima bekerja, saat itu bertepatan dengan berakhirnya hubunganku dengan Vina. Kami sebenarnya telah cukup lama berpacaran. Kurang lebih dari kelas dua SMA kami jadian. Namun bisa dibilang, jika cinta kami dulu hanyalah sebatas cinta monyet. Ketika hubungan kami berakhir, tak ada apaun yang membekas dalam diriku. Hanya kenangan-kenangan yang lama-kelamaan luntur dimakan waktu.

Setelah itu, aku bertekad dalam hati kecilku. Aku tak akan pernah bermain cinta sebelum aku mencapai cita-citaku.
Sayangnya sekenario tuhan tak pernah mampu kita rubah. Bagaimanapun kita telah merancang hidup dengan sangat baik, apabila tuhan berkehendak lain, semua yang telah kita rancang hanyalah akan jadi angan semata.

Waktu itu tanpa kusadari aku telah berhubungan lagi dengan seorang gadis bernama Okta. Rina Oktaviani. Seorang Babysister yang bekerja di rumah mewah yang berada tepat di seberang warung makan tempatku bekerja. Pertemuan pertama kami tak berkesan. Waktu itu dia sedang mengajak anak majikannya bermain ke tempatku bekerja. Tak sedikitpun rasa ingin tahu tentangnya muncul dalam benakku. Aku hanya cuek saja ketika dia berada di tempat kerjaku. Malahan, teman-teman kerjakulah yang silih berganti menggodanya. Setelah itu dia jadi sering main ke tempatku bekerja. Dia pun menjadi akrab dengan teman-teman kerjaku. Namun tetap, tak sedikitpun aku ingin tahu tentang dia.

Hanya selama tiga bulan ia bekerja di rumah mewah itu. Dan selama itu pula, tak pernah sekalipun kami berbincang. Kami hanya saling tahu nama masing-masing. Itu pun bukan karena sebuah perkenalan. Namun karena kami sering mendengar orang-orang yang memanggil nama kami.

Setelah ia pergi, barulah semua itu terjadi. Di suatu malam yang pekat dengan diiringi sebuah lagu Cinta dari SLANK, ponselku menerima sebuah pesan singkat. Aku tak tahu siapa pengirim pesan itu. Karena pesan itu hanya berisikan sapaan ‘HY’ dan nomor pengirimnyapun asing bagiku. Aku pun mulai menyelidikinya. Dan ternyata, itu adalah pesan darinya. Rina Oktaviani. Mantan Bebysister rumah mewah itu.
Dari situ mulailah tumbuh dan bersemi percakapan kami melalui pesan singkat dan telepon. Dan tanpa kusadari, aku telah melanggar tekadku sendiri. Beberapa bulan kami berhubungan, entah tepatnya kapan, kami tiba-tiba saja telah berpacaran.

Anehnya hubungan kami tak seperti hubungan pacaran seperti yang pernah aku laui bersama Vina dan beberapa mantanku yang lain. Hubungan kami hanya sebatas perbincangan melalui pesan singkat dan telepon saja. Tanpa pernah sekalipun jalan, ataupun ketemuan. Namun entah mengapa, aku bisa merasakan sesuatu yang berbeda dengan dirinya. Aku merasa jika yang kurasakan padanya kali ini bukanlah sekedar cinta monyet. Dan aku pun terpikir untuk menjadikannya sebagai teman hidup.

Sayangnya inilah malapetaka yang menjadikan diriku seperti sekarang ini. Di penghujung bulan Oktober, aku masih ingat betul kejadian itu. Aku mengutarakan keinginanku jika aku ingin serius dengan dia. Namun sayangnya, jawaban yang kudapat tak seperti yang kuinginkan. Rupanya orangtuanya tak setuju dangan hubungan kami. Karena menurut kepercayaan mereka, kami tak mungkin bersatu dikarenakan arah rumah kami yang ngalor-ngulon. Dalam kepercayaan mereka, jika kami tetap memaksakan kehendak, maka malapetaka akan menyelimuti kami. Jika tak satu di antara kami yang berakhir naas, pastilah ujung darinya adalah perpisahan.

Mendengar penjelasan darinya, hatiku seakan seperti bongkahan batu di tangan para penggali batu. Hancur dan remuk karena hantaman keras dari palu. Tanpa pikir panjang aku pun menyudahi hubungan kami secara sepihak. Karena aku tak mau terus-terusan berharap…

Beberapa minggu setelah berakhirnya hubungan kami, salah satu teman kerjaku tahu perihal gerak-gerikku yang menyimpan sesuatu. Dia memaksaku untuk menceritakan semua keluh kesahku padanya. Aku pun menceritakan semua padanya.
Hal yang sangat indah adalah tatkala kita menemukan sebuah cahaya ketika tengah berada dalam pekatnya gelap. Seperti itulah yang kurasakan ketika mendapat solusi dari temanku itu. Dia memberikanku sebuah wejangan. Jika adat yang dipercayai orangtua Okta memang benar adanya. Namun ada juga beberapa ritual yang mampu menolak bala itu jika tetap ingin memaksakan untuk bersama. Dari situlah senyumku mulai mengembang lagi. Aku pun mengumpulkan keberanian lagi untuk mengutarakan niatan tulusku pada Okta.

Aku mulai merakit kata pada layar ponselku. Menuliskan niatan tulusku padanya. Dan menjelaskan jika ada sebuah jalan keluar untuk kami dapat bersama. Namun sayang, bukan balasan yang seperti aku inginkan yang kudapat. Melainkan hanya sebuah kata ‘maaf’. Aku menanyakan maksud darinya. Dan setelah dia menjelaskan semuanya, rupanya aku sudah terlambat. Katanya minggu lalu dia telah dilamar oleh seseorang. Dan orangtuanya telah menerima lamaran itu.

Rasa hati tak lagi seperti sebuah bongkahan batu. Namun kini telah berubah menjadi seonggok besi berkarat yang disiram air keras. Luka Yang kurasaka karena kejadian itu membekas hingga sekarang. Aku seolah tenggelam dalam lautan penyesalan. Terbelenggu di dalamnya. Tanpa bisa berbuat apapun kecuali mengumpat dan meratap. Dan semuanya berimbas pada kehidupanku yang sekarang. Aku berhenti bekerja dari warung makan cepat saji itu. Namun aku tak melanjutkan pendidikanku seperti yang telah kurencanakan dulu. Aku solah lupa akan semua tujuan awalku. Yang ada tinggalah rasa sakit dan penyesalan yang tak henti menghantuiku.

Hari yang cerah untuk juwa yang sepi. Sebuah lagu dari grub band yang di awaki oleh penyanyi ganteng bernama Ariel, menemani pagiku yang tetap biasa-biasa saja. Kilau mentari menyembul perlahan dari bukit yang ada di sebelah timur. Kicau burung nan merdu tak henti bersaut-sautan. Embun yang sejuk sedikit demi sedikit mulai memudar. Bagi beberapa pujangga, untuk menggambarkan suasana seperti ini mungkin akan menghabiskan puluhan lembar kertas. Namun bagiku tidak. Cukup hanya dengan satu kalimat saja. “Hari ini tetap kosong” Jam dinding menunjukkan pukul tujuh pagi. Ponselku tiba-tiba berdering lagi. Aku sudah menebak. Jika itu pasti telepon dari Robi. Dan benar saja. Kuangkat telepon darinya.

“Halo Rob.”
“Lo udah siap-siap belum? Gue mau otw ke rumah lo nih.”
“Udah, nih gue lagi telentang di kasur,”
“Lo ngapai telentang di kasur?”
“Siap-siap lah. Kata lo tadi gue udah siap pa belum kan? Iya ini gue lagi siap-siap.”
“Siap-siap buat apaan?”
“Iya siap-siap buat mimpi lah. Sapa tau nanti di mimpi gue bisa nikah sama Luna Maya.”
“Tut-tut-tut.” Telpon pun terputus.
Sebenernya agak males sih buat keluar hari ini. Tapi mau gimana lagi, si Robi tu kalo udah maunya gini, pasti nggak bisa di ganggu gugat…

Selang beberap menit kemudian, aku mulai mengarungi bahtera mimpiku. Namun sialnya, si Robi tiba-tiba ngeloyor masuk gitu aja ke dalam kamarku. Dia berteriak-teriak dengan suara acak-acakannya itu dalam kamarku. Seolah kamarku seperti hutan saja. Tapi nggak salah juga sih. Emang kalo di lihat-lihat, kamarku udah hampir mirip sama hutan.
Aku terpaksa harus bangun dan menunda mimpiku. Karena teriakan Robi yang tak henti membehana dan menari-nari di liang telingaku. Aku pun terpaksa mengikuti maunya. Setelah mandi dan siap-siap menggunakan pakaian paling bagus yang aku miliki, dan parfum paling wangi yang kata orang baunya aja udah bisa bikin gajah dewasa sekarat, aku dan Robi pun berangkat. Tujuannya sih belum jelas, tapi terserah dia aja. Asalkan aku nggak ngeluarin duit, ok-ok aja lah.

Roda-roda sepeda motor matic milik Robi terus melaju. Memecah keriuhan jalanan yang hari ini dipadati oleh kendaraan-kendaraan umum, pribadi, sampai sewaan pun juga ada. Dia menculikku entah kemana. Aku dibawanya melewati gang-gang sempit daerah perkotaan.
Ketika aku bertanya tentang tujuan kita, dia malah balik menyalahkanku. Karena kemarin aku nggak mendengarkan penjelasannya lewat telepon. Saat ini aku hanya bisa pasrah. Semoga saja sahabatku ini tak tega untuk menjualku pada tukang jagal sapi glongongan. Tapi kalo dipikir-pikir, emang laku ya? Tubuh kurus kering begini emang mau tukang jagalnya?

Setengah jam sudah kami berkendara. Akhirnya kami tiba pada sebuah rumah makan bergaya jadoel yang berada di jantung kota. Mataku tak henti mengedarkan pandangan ketika kami berhenti tepat dihalam parkir. Beberapa interior yang menghiasi rumah makan ini membuatku terpesona. Membuatku seperti kembali berada pada tahun sembilan puluhan.
Teriakan Robi menyadarkanku dari imajinasi tahun sembilan puluhanku. Ketika aku mengarahkan mataku padanya, rupanya dia telah berada di ambang pintu masuk. Aku sedikit bersembunyi. Karena dia meninggalkanku sendirian di halaman parkir, dengan berdiri mematung seperti orang blo’on.
Aku segera berjalan menyusulnya. Aku meninju bahunya untuk merefleksikan rasa kesalku padanya. Namun dia malah menertawaiku.
Kami berdua berjalan menuju meja resepsionis. Aku tak henti bertanya padanya, tentang mau apa kita berada di sini. Tapi dia tetap tak mau menjelaskannya padaku. Dia hanya bilang ‘nanti lo tau sendiri’. Sial, aku semakin penasaran dibuatnya.

Ketika sampai di depan meja resepsionis, dia bertanya pada wanita cantik yang berada di baliknya.
“Mbak,” Sapanya. Si mbak-mbak cantik itupun dengan polos menjawab.
“Ada yang bisa saya bantu mas?”
“Mbak bisa bantu cari hati saya? Soalnya saya rasa jatuh deh di sekitar sini.” Mulailah dia ngeluarin jurus gombalan maut. Si mbak-mbak cantik itu hanya tersipu malu dan senyum- senyum sembari menjawab.
“Masnya bisa aja deh..” Sayangnya ni anak memang kurang ajar. Ketika si korban mulai terbuai, dia pasti bikin tu korban kecewa. Setelah itu si Robi pasti bilang…
“Iya mbak, gantungan kunci saya yang bentuknya hati kayaknya jatuh deh di sekitar sini.” Dooong. Itu sudah cukup buat bikin si korban patah hati berat.

Setelah puas menggoda mbak-mbak cantik itu, Robi bertanya padanya tempat meja yang telah di pesan atas nama dirinya. Aku semakin bingung dengan gelagat mencurigakan darinya. Setelah asumsiku terhadapnya salah tentang menjualku ke tukang jagal sapi glonggongan, kali ini aku curiga kalau ada sesuatu yang nggak beres. Soalnya dia pesan tempat di rumah makan mewah, udah gitu ngajakkin aku. Aku mulai membayangkan. Dua cowok makan bareng di rumah makan mewah bergaya romantis. Jangan-jangan…
“Hoe… ayuk!!! Tuh meja kita di sebelah sono.” Ajaknya membuyarkan imajinasiku. Perasaanku mulai kalut. Aku takut jangan-jangan…
“Ayuk ah, buruan.” Dia mulai mendorong badanku.

Kami berdua melangkah menuju meja yang telah di pesan oleh Robi. Meja kotak berukuransatu kali satu setengah meter dengan enam kursi.
Kami berdua duduk saling berjauhan. Bukan karena apa-apa, namun karena aku takut jangan-jangan ada sesuatu yang nggak beres. Robi memberi kode padaku agar aku duduk di sampingnya. Namun aku menolak. Akhirnya dia pun bangkit, lalu menarikku untuk duduk di sampingnya. Perasaanku mulai kalang kabut. Aku bingung. Rasanya ingin lari saja setelah melihat gelagat-gelagat aneh sahabatku ini.

Aku pun mulai menanyakan pertanyaan yang sedari tadi tak dijawabnya.
“Kita mau ngapin sih di sini? Gue mulai curiga nih. Lo ajak gue ke rumah makan bernuansa romantis, udah gitu pake pesen meja segala. Jangan bilang kalo lo…” Sebelum aku selesai berkata, dia memotong perkataanku.
“Jangan bilang kalo lo ngira gue mau aneh-aneh sama lo ya. Gue masih normal kale. Lagian kalo gue kelainan juga milih-milih geblek.”
“La terus ngapai lo ajak gue ke sini?”
“Jadi gini ndi, hari ini tu kita mau rapat soal acara reuni alumni SMA kita. Ketua panitianya kan gue, nah jdi gue ajak lo buat bantuin gue ngurusin nih acara. Lo kan sahabat gue.”
“O, jadi gitu. Kenapa nggak bilan dari tadi?”
“Gue udah bilang dari kemaren geblek. Lo nya aja yang kagak mau dengerin gue ngomong.”
“Hehehe, sory. Terus, yang lainnya mana?”
“Katanya sih masih pada di jalan. Bentar lagi palingan nyampe.”
Lega sudah. Ternyata semua dugaanku salah. Kami berdua pun akhirnya memesan minum sambil menunggu kedatangan teman-teman yang lainnya…

Kurang lebih lima belas menit kami menunggu. Dua puntung rok*k gudang garam dan dua cangkir capucino menemani perbincangan kami menanti kedatangan yang lainnya. Dari ujung pintu masuk mulailah terlihat beberapa sosok manusia yang aku kenal. Melihat kedatangan mereka, Robi langsung memberikan isyarat dengan melambai-lambaikan tangannya. Sekilas, jika dilihat mirip seperti penonton alay yang ada di acara-acara di televisi.

Empat orang itu pun mulai melangkah menghampiri kami. Aku memicingkan mata untuk memastikan siapa saja keempat orang itu. Rupanya dua cewek dan dua cowok. Kedua cowok itu aku ketahui adalah penghuni kelas sebelah dulu. Alfa dan Ridho. Kalau yang cewek, satunya anak sekelasku dulu. Atsna namanya. Tapi yang satunya kelihatannya asing di mataku. Aku terus menatapnya dengan lekat, dan mencoba mengingat-ingat siapa dia.
Hingga mereka sampai dan bergabung bersama kami, mataku tetap tak berpaling memandanginya. Otakku tetap mencoba mencari data ingatan tentangnya. Hingga kata-kata robi mengagetkanku lagi. “Hoe!! Udah kale mandanginnya. Sebegitunya.”
Aku tersipu karena kata-katanya menyindirku telak. Cewek yang asing di mataku ini juga ikut tersipu malu. Terlihat jelas dari rona wajahnya yang mulai memerah.

Aku berbisik pada robi “eh, ni cewek cantik siapa, gue kagak pernah liat dulu.” Robipun malah menjawab dengan suara yang keras.
“Lo tu dulu kutu buku banget ya. Sampe-sampe ama temen sendiri lupa. Dia anak sekelas kita geblek.”
Buset. Aku dibuatnya malu lagi di depan anak-anak. Semua anak-anak menertawaiku sembari mencibirku. Namun aku melirik wajah cewe yang asing di mataku ini. Dia hanya senyum-senyum malu. Tapi kalo dilihat dari dekat, dia begitu menawan. Dia memakai kerudung biru muda dengan ujung yang berenda. Wajahnya terlihat teduh. Matanya terlihat sayu di balik kacamata yang ia kenakan…

Rapat pun akhirnya dimulai. Sebelum rapat, aku sempat berkenalan dengan dia. Namanya Via. Dari namanya tedengar tak terlalu asing di telingaku. Namun wajahnya, sungguh sangat asing di mataku. Otakku terus mencari data potongan ingatanku tentang dia. Karena kata Robi, dia dulu satu kelas dengan kita. Tapi kenapa aku bisa sampe nggak inget sama sekali ya tentang dia. Aneh.

Selama rapat berlangsung aku tak terlalu mendengarkan Robi berbicara panjang lebar mengenai konsep dan lainnya. Otakku hanya tertuju padanya. Via. Cewek anggun yang kurasa membuat diriku detik ini mulai aneh. Aku mencuri-curi pandang untuk mengagumi kecantikannya. Tak jarang mata kami saling bertemu. Namun ketika itu terjadi, aku berusaha memalingkan pandangan mataku darinya…

Sang surya telah berada pada posisi yang agak condong ke arah barat. Waktu menunjukkan pukul dua siang. Kami rapat hampir selama kurang lebih empat jam lamanya. Namun aku tak tahu sama sekali mufakat apa yang telah di sepakati pada rapat tadi. Karena selama rapat berlangsung, aku hanya terfokus pada Via. Entah mengapa. Sepertinya, ketika memandang teduh wajahnya, duniaku seakan berubah. Duniaku yang selama ini kurasa gelap, seketika menjadi terang benderang oleh cahaya pesonanya.

Anak-anak telah bubar. Menyisakan aku dan Robi di halaman parkir. Otakku tetap berusaha mencari potongan ingatanku tentang dia. Namun tetap saja tak kutemui. Aku pun lan tas berpikir. Apakah aku tertaik padanya? Namun Kata-kata Robi menyadarkanku lagi dari lamunanku. Dan anehnya, dia berkata seolah dia bisa menebak apa yang aku pikirkan. Dia berkata,
“Lo suka ya sama Via? Udah mundur aja. Via tu cewenya Alfa. DEG. Mendengar Robi berbicara seperti itu aku merasa kecewa. Entah sebab apa. Namun yang jelas itulah yang kurasakan. Meskipun aku menjawab kata-katanya dengan kata ‘tidak’ namun perasaan ini tak bisa kubohongi.

Bersambung…

Cerpen Karangan: Safrizal Annur Huda
Facebook: Yowes Ngunukui Safrizal

Cerpen Daffodil (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Playboy Jatuh Cinta

Oleh:
Awalnya aku bingung, kenapa harus ada cinta di dunia ini. Karena menurutku, cinta itu tidak begitu penting dan juga cinta itu hanya untuk kesenangan sesaat saja. Tapi entah kenapa,

Dia Yang Telah Kembali

Oleh:
Cit, cit, cit, Sinar mentari memasuki sela-sela jendela kamarku, ketika aku mendengar suara burung-burung bersiul di ranting pohon yang terdapat di samping jendela kamarku. “Hoaaaamm,” Aku bangun sambil merentangkan

Pada Sebuah Kafe

Oleh:
Jarum jam di pergelangan tanganku masih menunjukan angka setengah tujuh malam. Ini berarti masih tersisa waktu setengah jam lagi, waktu yang lebih dari cukup bagiku untuk mencapai tempat tujuan.

Bukan Pertemuan Yang Aku Sesali

Oleh:
Seorang gadis yang akrab dipanggil una, dengan nama aslinya husnah, sekarang duduk di kelas 3 SMA yang merindukan kebahagian, tetapi karena masa lalunya yang begitu pahit dan rumit ia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *