Dan Biarkanlah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 28 October 2017

“Kenapa semua ini terjadi padanya? Kenapa dia bisa seperti ini? Siapa yang tega melakukan ini padanya?”
“Aku tau kok apa yang kau rasakan.” Rena mencoba menenangkan Davin yang tak kuasa melihat Ana tak sadarkan diri dan terbaring lemah.
“Aku seharusnya tak meninggalkan dia sendirian. Seharusnya aku menjaganya dengan baik. Seharusnya aku ada saat dia membutuhkan aku.” Air mata Davin mengalir begitu saja. Rena tau apa yang dirasakan Davin. Pasti saat ini Davin tengah cemas dan memikirkan Ana.
“Sudahlah Dav. Dia pasti baik-baik saja”
“Semoga saja”

1 jam kemudian. Dokter keluar dari ruangan dan mengatakan apa yang terjadi.
“Nggak mungkin dok, Ana nggak mungkin, dia nggak mungkin…” Davin segera masuk ke ruangan tempat Ana dirawat. Dengan wajah yang pucat Davin segera memeluk Ana. Ana hanya memandang dengan tatapan kosong.

“Kenapa kamu jadi seperti ini sayang. Katakan padaku siapa yang telah tega membuatmu seperti ini, ayo sayang katakan siapa?” Tanya Davin namun Ana tak mau menjawab dan hanya memandang kosong ke depan. Davin memukul tangannya ke tembok “aaaaahhh…”

Rena segera menenangkan Davin. Rena tau apa yang membuat Davin seperti ini. Ia pun tau bahwa tak mungkin Davin menghadapi ini semua sendiri.
“Aku tau apa yang kau rasakan saat ini Dav. Tapi apakah kamu tau Ana benci jika melihatmu seperti ini” ucap Rena membuat Davin tertunduk lemas.
“Apa yang harus kulakukan Ren apa? Ana seperti ini pasti gara-gara aku, jika kemarin aku tak mengajaknya pergi pasti dia” Rena menghapus air mata Davin. “Aku tau tapi, apa kamu tak kasihan melihat Ana.”
“Tapi aku…”
“Sudahlah. Lebih baik kita jaga Ana baik-baik” senyuman Davin mengembang kembali. Davin mencoba membuat Ana kembali seperti dulu, namun semakin Davin mencoba semakin hari Ana tak menunjukan reaksi apa-apa. Diam dan diam.

“Na, apa kamu tau ini adalah tempat favorit kita berdua. Kita sering jalan-jalan kemari. Kamu lihat pohon itu? Kamu lihatkan Na, biasanya kamu jahilin aku jika aku ketiduran, apa kamu inget?” Davin mendorong kursi roda Ana sampai ke pohon yang rimbun itu. Davin memandang ke arah Rena. Rena tersenyum dan dari kejauhan Cinta datang lagi. Dengan langkah yang penuh keberanian Cinta menghampiri Davin dan Rena.

“Apa yang kamu lakukan di sini? Apa kamu kurang puas? Apa kamu mau mencelakai Ana lagi?”
“Aku cuma mau jelasin soal”
“Soal apa? Aku tak mau mendengar apa yang ingin kamu katakan. Aku tak percaya lagi omong kosongmu” tegas Davin yang seakan kehadiran Cinta hanya akan menambah kacau saja.
“Ana” Cinta sedikit menunduk. Cinta melihat Ana yang diam tak berkata.
“Dia kenapa?”
“Kenapa kamu masih tanya dia kenapa? Kau yang telah menabraknya dan sekarang kamu lihat! Lihatlah! Lihat! Apa yang kamu perbuat padanya. Apa?” Cinta hanya menunduk dan tak bisa mengeluarkan kata-kata.
“Ya aku salah tapi!”
“Tapi apa? Lebih baik kamu pergi, sebelum aku mengusirmu. Pergi” teriak Davin membuat Cinta segera meninggalkan ketiganya.

“Apa yang kau lakukan di sini, pergi kataku pergi, jangan menyentuh Ana” teriak Davin yang melihat Cinta ingin melakukan sesuatu pada Ana.
“Tapi aku mau minta maaf sama Ana dan kamu. Aku memang salah. Aku yang salah, aku sadar bahwa selama ini aku memang salah. Aku yang berusaha memisahkan kalian berdua. Tapi kali ini saja dengarkanlah aku. Aku cuma ingin meminta maaf pada kalian. Kamu memang benar. Tak selayaknya aku berada di sini tapi, biarkanlah aku meminta maaf pada Ana, karena selama ini aku telah begitu jahat padanya. Aku hanya mementingkan diriku sendiri. Tolong berikanlah aku satu kesempatan”
Davin memandang Ana.

“Baiklah aku akan memberimu satu kesempatan. Tapi, setelah itu kamu harus pergi dari sini.”
“Baiklah.” Cinta mendekati Ana kembali.
“Maafkan aku Na, maafkan aku! Aku memang salah. Aku memang tak tau malu. Kamu benar Na. Kamu memang benar. Seharusnya aku dapat berfikir. Bukan dengan nafsu tapi dengan fikiran. Kenapa kamu hanya diam Na! Kamu marah padaku! Kamu masih marah sama aku. Kamu bisa memarahiku sekarang. Ayo Na marahi aku. Jangan diam saja. Katakan padaku Na katakan. Katakan Na.” Air mata Cinta mengalir begitu saja.

“Cengeng banget sih kamu Cin! Aku nggak marah kok ke kamu. Kamu cuma belum dewasa aja. Dodol banget sih kamu berbuat nekat. Kalau aku mati gimana?”
Mendengar reaksi yang tak terduga Cinta segera memeluk Ana. “Maafin aku Na. Aku janji nggak akan seperti anak kecil lagi. Aku janji padamu.”

Cerpen Karangan: Sri Ambar
Facebook: Sri mulmul

Cerpen Dan Biarkanlah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Long Distance Relation OH NO!

Oleh:
Hari ini telah siap diriku dengan dress batik dan pita coklat yang menghias di rambut. “Anggun” Mungkin kata itu yang tepat untukku di tanggal 25 juni ini. Pasti kalian

The Pending Gift

Oleh:
Resti Sellaria atau kerap dipanggil sella merupakan sosok perempuan yang cuek dengan gaya yang terkesan berantakan serta urak-urakan dan gaya bicara yang acuh, gadis 24 tahun itu tiba-tiba saja

You Is Mine

Oleh:
Dedaunan kering memenuhi halaman kelas 11B, membuat Indah yang sedari pagi sudah tiba di Sekolah harus bekerja keras menyapu halaman tersebut. “Rajin sedikit tak apalah, lagian ini tugas piketku”

Pertemuan yang Tak Bisa Kuhindari

Oleh:
“Aku tertegun melihatnya kembali, seseorang yang sudah lama kuhindari. Aku memang masih punya janji kepadanya, tapi aku memang tak bisa menepati. Perpisahan karena emosi terjadi karena pemikiran kilatku, aku

Hadiah Buat Mama

Oleh:
Suatu hari saat Ina baru saja pulang sekolah, dia dikagetkan oleh suara mamanya yang memanggil namanya. “Ina… ina…” “iya ma ada apa?” Jawab Ina dengan sopan. “kamu itu lagi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *