Dan Hanya Bebas

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 13 March 2017

Atas perintah Mamanya, di pagi yang cerah, seorang gadis cantik nan baik hati bernama Nury pergi ke pasar untuk belanja sayur-mayur dan beberapa keperluan lainnya. Tubuhnya yang mungil begitu lincah menelusiri pasar dari satu penjual ke penjual lainnya, menyalip di keramaian, dan menebarkan senyumnya pada setiap orang-orang yang ditemuinya di pasar. Sifatnya yang ramah itu menawan hati setiap orang yang melihatnya. Meskipun barang-barang berat yang dibawanya sebanding dengan tubuhnya, dia masih sanggup melompat-lompat dan berlarian. Sampai pada akhirnya kakinya berhenti di pinggiran pasar di depan penjual kopi langganannya.

“Hai, Oom tukang kopi,” sapanya ramah dengan senyum manis.
Penjual kopi itu membalas senyumnya, “Hai juga neng Mungil. Kopinya neng?”
“Hahaha. Iya Oom, seperti biasa ya Om!” sahut Nury sambil mengangkat alisnya.
“Oke neng! Tunggu bentar ya neng.” si penjual kopi itu dengan cepat membungkuskan kopi pesanan Nury.

Nury meletakkan barang belanjaannya, lalu membuka tas selempangnya untuk mengambil dompet kesayangannya, dompet teddy bear corak kotak-kotak warna cokelat, dan mengeluarkan beberapa lembar uang ribuan, “harganya juga masih yang biasa kan Oom?,” tanyanya lagi sambil mengangkat-angkat alisnya dengan tempo yang lebih cepat dari sebelumnya.
Si penjual kopi mengangguk sambil tersenyum. Sebelum sempat Nury membayar kopinya, ia sudah dikagetkan oleh tangan seorang pencopet. Uangnya yang berada di tangan lainnya jatuh berserak, Nury terlalu kaget, terlalu kaget untuk bisa berteriak. Saking kagetnya mulutnya terlalu lambat untuk menyampaikan pesan dari otaknya untuk berteriak.
Sampai akhirnya,
“Copeeeeeeettttt!!!! Cepat kejar itu copet!” sang penjual kopi berteriak dengan lantang memekakan telingan seantero pasar itu.
Nury terkaget untuk yang kedua kalinya, tanpa pikir panjang lagi dia melaju dengan kecepatan tinggi mencoba untuk mengejar si pencopet itu. Tapi, apalah hasil, sang pencopet itu telah hilang dalam keramaian pasar. Tinggallah Nury yang menangis tersedu-sedu sambil berjongkok di depan tempat jualan telur ayam.

“Dek, pencopetnya udah nggak keliatan lagi larinya kemana, mending adek lapor aja sama satpam di sana.” kata seorang bapak-bapak bertubuh besar, “kayaknya isi dompet kamu berharga banget ya, sampai kamu nangis begini sedihnya.”
Nury menahan tangisnya, lalu menatao ke arah orang-orang yang mengerumuninya, “Dompetnya emang tebal, pak. Tapi bukan tebal karena uang. Uang yang ada di situ Cuma sedikit, dua puluh ribu aja nggak ada. Tapi ada banyak yang berharga di situ, pak.” Nury menarik ingusnya yang meleler ke bibirnya.
“Ya ampun, dek. Segitunya kamu?” seorang ibu-ibu gendut mengeleng-gelengkan kepalanya. “Paling juga ntar copetnya balikin dompet kamu. Buat apa juga?” katanya lagi, lalu pergi.
Setelah itu, keramaian itu lenyap. Dengan keadaan galau, Nury kembali ke tempat penjual kopi untuk mengambil barang belajaannya, kemudian pulang.

Masih dalam keadaan galau campur aduk sama kesal, Nury sampai pulang ke rumah dan menceritakan kejadian na’as itu kepada Mamanya. Mukanya yang kusut bak sangkar burung itu membuat ibunya khawatir.
“Sudahlah Nury, jangan terlalu dipikirkan begitu. Yang penting kan dompetmu yang satunya lagi selamat, kan KTP dan lain-lainnya ada di dompet itu. Jadi relakan sajalah dompetmu yang dicopet itu. Toh uangnya juga tinggal recehan.” Bujuk Mamanya dengan perasaan iba. Beliau berpikir Nury beruntung karena saat itu ia membawa dua dompet, dan dompet yang dicopet bukanlah apa-apa.
Tanpa menjawab dengan kata-kata, bibir Nury yang tambah mancung ke depan itu sudah bisa memberikan peringatan pada Mamanya untuk tidak berkata-kata lagi dan meninggalkannya sendiri, hatinya sungguh kesal, “tapiii, di dompet itu tuh banyak benda berharganya, Ma!!” hati Nury menggerutu tak bisa merelakan dompetnya begitu saja.

Hari-hari berikutnya dilalui Nury dengan perasaan galau karena kehilangan dompet yang berisi kenangan-kenangan indahnya itu,
Galau,
Galau,
Galau,
Sampai akhirnya, di malam minggu saat ia sedang melampiaskan galaunya di warung bakso, tiba-tiba seorang pemuda tak dikenalnya duduk di depannya. Secara otomatis, Nury mengerem sendoknya dan menatap pemuda yang sedang berada di depan hidungnya itu.

“Heh, kamu siapa? Ini meja saya, tuh masih banyak meja lain yang kosong!” tangan Nury dengan sendoknya itu berayun-ayun menunjuk meja-meja kosong di sekitarnya.
Tanpa menghiraukan perkataan Nury, pemuda itu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Nury kaget, pemuda tak dikenalnya itu seperti hendak memukulnya. Segera Nury mempersiapkan ancang-ancangnya untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, ia memejamkan matanya, menunduk dan mengepalkan tangannya erat-erat.
“Mbak, pesan baksonya satu!!” kata pemuda itu kepada pelayan yang berdiri di belakang Nury.
“Oke, mas!” jawab pelayan itu sambil melenggang pergi ke tempat baksonya.
“Huuuufffttt…” Nury membuka matanya dan menghembuskan napas paniknya tadi kencang-kencang, bahkan mungkin bisa menerbangkan botol kecap di hadapannya. Dia telah berprasangka buruk sekali.

Baru saja ia mengela napasnya dan merasa lega, ia dikagetkan lagi dengan munculnya dompet teddy bear coklatnya yang hilang beberapa hari lalu.
“Hah!! Oh, dompetku, dompetku kembali. Hore, hore!! Hahaha..” dengan riang gembira kepalang riang Nury melepaskan kerinduannya itu dan memeluk dompet itu.
“Ini mas, baksonya.” pelayan meletakkan satu mangkok bakso pesanan pemuda itu.
Nury tersadar dari keasyikannya memeluk dompetnya, lalu menatap pemuda di depannya dengan tampang sinis seperti mau menerkam. “Berarti, dia ini nih pencopetnya!!” hati Nury berbicara, “Tapi, kok berasa aneh gini ya?”
Si pemuda itu terlalu asyik dengan baksonya, membiarkan Nury menatapnya dalam diam. Begitu sadar ia sedang diperhatikan, ia menghentikan makannya dan menatap balik gadis mungil di hadapannya, “Iya, gue copet yang kemaren itu. Tuh, dompetnya gue balikin, masih utuh sama sampah-sampahnya!” seperti bisa membaca pikiran Nury, pemuda itu menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran Nury.
“Hah! Ooohh, jadi kamu!!” Nury kaget sampai ia tak bisa mengontrol volume suaranya, alhasil seluruh mata di tempat itu menatap mereka.
Menyadari hal itu, sang pemuda menatap mata Nury dengan tajam seolah-olah mengatakan, “Lo mau gue bunuh di sini??”. Tatapan tajam nan menyeramkan itu berhasil membungkam mulut Nury rapat-rapat.

Lama mereka terdiam, pemuda aneh itu dengan santainya melanjutkan menyantap habis bakso di hadapannya.
Dengan perasaan jengkel yang dibarengi perasaan takut, Nury memberanikan diri membuka mulutnya, “Nama kamu siapa?”, bukannya menanyakan hal yang seharusnya dipertanyakan, Nury malah mengajaknya berkenalan.
“Jadi ceritanya, Lo ngajakin pencopet kenalan?” bisik pemuda itu dibarengi dengan tawa. “Gue Dino. Dan lo, Nury, si penyimpan sampah di dalam dompet teddy bear coklat! Iya kan? Hahaha” tawa pemuda bernama Dino itu tertawa semakin kencang.
Nury hanya diam, dia menggenggam dompetnya erat. Diamnya Nury itu membuat Dino sedikit salah tingkah.
“Buat apa sih sampah-sampah di dompet Lo? Gue kira tebal gitu isinya duit, ternyata…” kepala Dino menggeleng.
Saat itu juga hati Nury nyeri. Dengan sembrono, tangan Dino menyambar dompet Nury dari tangannya.
Nury hanya diam menatap dompetnya, “Itu bukan sampah, Dino.” katanya dengan suara lembut.
Dino membuka seluruh isi dompet itu dan mengeluarkannya satu per satu. “Gue pengen tau apa maksud Lo nyimpen barang-barang aneh ini?”

Nury memperhatikan setiap benda yang dikeluarkan Dino, “Itu foto aku sama adek-adek manisku, ada juga foto waktu di monas, foto anak-anak di yayasan kanker. Nah, itu permen pertama yang aku dapat dari seorang anak di yayasan kanker tuh. Kalau itu permen yang ada tulisan ‘senyum adalah ibadah’ dari pacar pertamaku, lumayan kenang-kenangan.” Nury tertawa, Dino pun ikut tertawa. “Itu ada surat dari adikku yang paling kecil buat mamaku. Trus, itu pembatas buku kesukaanku, stiker dari pamanku, kartu pelajar masa SMP dan SMA, hasil tes darah, hmm…” alis Nury mengkerut melihat uang recehan seratus duaratus perak yang dikeluarkan Dino dari dompetnya. Dia mencoba- meingat-ingat darimana dia mendapatkannya. “Itu… uang recehan yang aku dapat dari adik kecil yang ada di warung dekat pasar di samping tukang jual telur ayam tuh. Hahaha, aku suka uang receh, sekarang kan uda jarang dipakai orang-orang. Apalagi, adik kecil itu bilang aku cantik, hmmm, jadi kangen dia. Uda lama nggak liat dia.” Cerita Nury panjang kali lebar. Dia tergelak geli mengingat hal itu. Tanpa ia sadar, pemuda yang baru dikenalnya itu hanya diam. Nury terheran-heran. Dan untuk waktu yang cukup lama mereka hanya diam, Nury terlalu takut untuk berbicara lagi, dia hanya bertanya-tanya dalam hati dan mengajak otaknya mengobrol, membahas tentang apa yang sedang terjadi, apakah ia salah kata? Entahlah.

Dino menghela napas, “Dia uda meninggal karna sakit beberapa hari lalu.” Mata Dino terasa panas, ia menahan air matanya.
Hati Nury tersentak, “Dia adikmu?”
Dino hanya menganggukkan kepalanya sekali, namun anggukan itu sudah mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi otak Nury. “Berarti dia itu mencopet buat berobatin adiknya yang sakit. Sakitnya pasti parah, berarti juga, Dino nggak punya kerjaan, dia juga orang yang kurang mampu, makanya dia terpaksa nyopet. Duh, kasihan si Dino.” hati Nury membatin turut bersedih atas apa yang terjadi pada Dino, ia tak sanggup berkata-kata lagi, ia takut ia akan menangis karena terharu.
“Nih,” kata Dino sambil menjulurkan tangannya beserta dengan dompet Nury. “Ayo pergi dari sini, kita udah kelamaan di sini.” Kaki Dino melangkah keluar warung bakso setelah membayar baksonya.
Langkah Dino disusul dengan langkah Nury di sampingnya, “Hei, daripada nyopet, gimana kalo kamu kerja aja? Aku ada kerjaan bagus buat kamu!” kata Nury menawarkan dengan mengangkat-angkat alisnya untuk lebih meyakinkan Dino.
Dino tergelak, ia hanya diam dan meringis, matanya seakan-akan mengatakan “emang tampang gue cocok banget ya jadi copet?”
Sekali lagi Nury bisa membaca reaksi Dino tanpa ia bertanya terlebih dahu, “ehehehe, sorry, hehehe. Hmm, pamanku baru buka café di sebelah sana, dan aku diangkat jadi manager, kebetulan sekarang aku lagi rekrut karyawan buat jadi pelayan di café itu, dan aku mau kamu bisa terima tawaran aku. Gimana?”
Kali ini Dino melirik Nury dan menatap langsung ke mata Nury, “gue pikir-pikir dulu ya.”
Mendengar itu, Nury hanya mengangguk pelan. Perlahan ia teringat sesuatu dan mengeluarkan selembar sapu tangan warna cokelat dari dompetnya. “hey, kamu belum ngeluarin ini tadi!”
Kata-kata Nury menghentikan langkah Dino, tiba-tiba hatinya berdegub kencang, matanya menatap mata Nury. “Apa itu?”
“Ini saputangan dari orang yang aku nggak kenal, dia ngasih saputangan ini sekitar satu tahun lalu. Malam itu aku duduk sendirian di gazebo dekat pasar sana, aku nangis karena masalah dengan temanku. Dia datang, duduk di sampingku, dan ngasih saputangan ini. Aku ingat banget apa yang dia katakan malam itu. Tiap aku nangis, saputangan ini kasih aku kekuatan, ngebebasin aku dari rasa sakit. Sayang banget, aku nggak kepikiran kenalan sama dia malam itu. Dia pergi gitu aja setelah ngasih saputangan ini. Lagian mana ada juga ya orang nangis kepikiran buat kenalan, hahahahaha.”
Tawa Nury terasa hambar di telinga Dino, yang ia lakukan hanya menatap Nury dalam diam. Merasakan kecanggungan itu, Nury pun ikut terdiam.
Sunyi, sampai akhirnya Dino melengkungan bibirnya dengan indah. Senyuman itu menyentuh hati Nury, tubuhnya seakan membeku oleh senyum Dino yang baru pertama kali dilihatnya itu.
“Balikin saputangan gue!” dengan cepat, Dino meraih saputangannya dari tangan Nury.
Nury sangat kaget mendengar kata-kata Dino barusan, waktu seakan-akan berhenti dan berputar cepat membawa ingatannya kembali pada masa lalu,

Seorang gadis mungil terduduk di bangku dekat warung kecil di pinggir pasar, tubuhnya menunduk dan bergetar, ia menangis dalam diam. Ia merasa hatinya tersakiti oleh keadaan yang baru saja dikenalnya, ia merasa kesulitan dan hampir berputus asa.
Tiba-tiba seorang pemuda tak dikenal duduk di sebelahnya sambil mengulurkan tangannya tepat di depan wajah gadis mungil itu,
“Hei, cewek kecil, nggak malu nangis di sini? Sendirian pula. Emang nggak takut?”
Gadis kecil itu tetap menunduk dan tidak menjawab, ia hanya melihat saputangan berwarna cokelat yang ada di genggaman pemuda itu. Tangannya meraih saputangan itu dan menghapus air matanya. Tapi sekali pun ia menghapus air matanya, tetap saja matanya tak berhenti mengeluarkan air mata.
“Yaah, nangis lagi. Kamu kenapa?” Pemuda itu tau pertanyaannya tak akan dijawab, tapi ia tetap saja berbicara. “Hmmm, didengar dari cara kamu menangis, sepertinya kamu lagi… hmm, apa ya…?” pemuda itu berusaha mendapat perhatian si gadis. Kali ini kepala gadis itu bergerak sedikit, tapi kemudian ia menunduk lagi.
Reaksi itu membuat si pemuda semakin berusaha untuk menghentikan tangisan si gadis yang tadi datang ke warung kecil miliknya. “Kamu lagi sakit hati ya? Karna apa? Karna perlakuan buruk atau kata-kata yang kasar?” Pemuda itu hanya bertanya-tanya sendiri. Ia menyandarkan tubuhnya pada bangku, berusaha menciptakan suasana santai antara mereka. “Kamu bebas..”
Kepala gadis itu kembali bergerak, tapi tak sepenuhnya menatap wajah pemuda itu dan tetap saja menunduk, ia hanya melirik sedikit saja. Si pemuda mengetahui hal itu, tapi ia tak menghiraukannya dan pura-pura tidak tahu. “Ya, kamu bebas, kita bebas. Bebas ngapain aja. Seperti sekarang inilah, kamu bebas buat nagis sepuas-puasnya, bebas ngerasain sakit hati, dan bebas nentuin kapan hatimu sembuh dan bisa tersenyum lagi. Aku juga bebas. Bebas duduk di bangku ini dan bebas ngomong apa aja untuk kamu. Dan setelah ini kamu tetap bebas, mau dengar kata-kataku atau tetap menagis dan sakit hati. You’re free! Jangan bebani hati dan pikiranmu, lakuin apa aja yang kamu mau, yang kamu suka. Gunain hati nuranimu sebaik-baiknya.”
Kata-kata pemuda itu menyentuh dasar hati si gadis dan berhasil membuat si gadis berhenti menangis. Melihat hal itu, si pemuda tersenyum manis dan merasa bangga pada dirinya karena telah menghentikan tangisan seorang gadis.
“Hahahaha, aku sok bijak ya. Aku jadi malu. Aku pulang dulu ya, kamu hati-hati. Bye!” kata pemuda itu seraya melangkahkan kakinya. Belum seberapa jauh, ia berbalik dan berteriak, “oh iya, namamu siapa?”
“Nury…”

“Hei, gadis mungil!”
Kata-kata Dino mengembalikan pikiran Nury yang telah melayang-layang. Nury hanya diam dan menatap wajah Dino. Tatapannya dipenuhi berbagai pertanyaan.
“Hahaha, iya, gue cowok yang punya saputangan ini.” Dino tertawa girang sambil mengelus lembut kepala Nury. Lalu mengulurkan tangannya pada Nury, “Hei, ibu manager, aku terima tawaran kerjamu dengan senang hati!”
Uluran tangan itu tidak disia-siakan Nury, dengan cepat ia menggapai tangan Dino dan berjabat tangan dengan lelaki yang membuatnya jatuh cinta satu tahun lalu itu.

Setelah hari itu, Dino menjadi orang yang lebih baik. Ia bekerja sangat giat di café tempat ia dan Nury bekerja. Café itu sukses, begitu juga dengan kehidupan Dino. Ia bahkan dengan cepat menempati jabatan yang bagus di café itu dan mendapatkan kesempatan untuk kuliah. Tidak hanya itu, setelah ia menyelesaikan kuliahnya, bersama Nury, Dino membentuk yayasan kanker anak-anak di lingkungan tempat ia tinggalnya. Hal itu dilakukannya sebagai bentuk kepeduliannya terhadap anak-anak yang bernasib sama dengan adiknya dulu.
Begitulah kehidupan Dino dan Nury seterusnya,
Bebas…

Dan hanya bebas…

Cerpen Karangan: Elda Br. Siagian
Facebook: Evalina Elda Br. Siagian
batak, cerewet tapi asyik diajak bercerita

Cerpen Dan Hanya Bebas merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jodoh Rahasia (Part 3)

Oleh:
“Dia temanmu waktu di mana dong?” “Waktu Aliyah.” Haa? Siapa? Wah, jangan-jangan aku kenal, meskipun kemungkinan tidak, Fani kan memang banyak kenalannya. Bisa saja itu di pramuka, atau rohis,

Sambal Pedas Bikin Pulas

Oleh:
“Setahun kita bercinta, suka duka bersama, sejuta asmara penuh pesona… Kau regukan madu cinta, hatiku terlena akan manisnya cintamu getarkan jiwaku… Senyummu adalah laraku, tawamu adalah lukaku, manisnya janjimu

Diary ku Tersenyum

Oleh:
Senyum itu dan aku hanya menatap, terdiam dan betah serasa isyaratkan dan mengartikan bahasa di jiwa, mengertikan cinta yang ingin menjadi keharusan. Keharusan selalu berada di setiap detik berdenting,

Pelangi

Oleh:
Sore hari itu, ku duduk di sofa dekat jendela. Terdengar jelas rintik hujan di luar sana. Diiringi gemuruh dan angin yang membuat suasana semakin mencekam. Aku terlalu malas untuk

My Diary Love Story

Oleh:
Perkenalkan nama lengkapku Muhammad Husein Albana. Aku adalah salah satu siswa di sebuah sekolah yang cukup popular di Jakarta Selatan yaitu SMKN 6 JAKARTA atau yang sering disebut PRODJOST.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *