Dania

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 17 June 2013

Di sana, di balik kaca yang berembun aku masih melihat bayangan wajahmu, Dania. Kereta Sriwedari yang kutumpangi kini merapat di Stasiun Purwosari. Dua belas menit memisahkan kita, masihkah kau berdiri di sana? Pulanglah, ini sudah malam. Apalagi yang kau tunggu? Aku harap kau tidak sedang berdoa agar kereta ini berbalik arah demi dirimu. Ah, tentu saja kau tidak ada di sana saat ini. Tidak seperti saat kau mengantar kepergianku tiga tahun lalu. Hari ini aku bahkan hanya melihat lambaian tanganmu di pintu rumah itu.

Ah, Dania, tak tahukah kau bagaimana rupa hatiku saat ini? Bolehkah aku beritahukan padamu bagaimana perasaanku saat ini? Rasanya perih namun aku bahagia. Ya, aku sungguh-sungguh bahagia, Dania.

Kau ingat bagaimana pertama kali kita bertemu, Dania? Ah, sebenarnya aku begitu malu jika mengingat awal pertemuan kita. Bahkan hingga saat ini aku belum mengembalikan dua ribu rupiah itu ke tanganmu. Dua ribu rupiah untuk ongkos bis kota yang kutumpangi pagi itu. Bukannya aku tak hendak membayar utangku itu, tapi kau yang selalu menolaknya. Sudah kucoba segala cara untuk menyelipkannya di dompetmu, tapi selalu gagal. Aku hanya tak ingin merasa rendah diri di depanmu gara-gara dua ribu rupiah itu, Dania.

Pagi itu kau sungguh jadi penyelamat mukaku di depan seluruh penumpang bis kota. Saat aku hampir tak bisa menahan layangan tinjuku pada sopir bis dan kondektur itu, kau meraih tanganku yang terkepal dan mengulurkan empat lembaran berwarna biru ke tangan kasar si kondektur yang memaki-makiku. Dengan santainya kau mengiringiku turun di halte depan kampusku seolah kita telah lama saling mengenal bahkan sempat ku dengar orang-orang di bis kota itu mengira kita adalah sepasang kekasih. Ah, hatiku rasanya tak karuan Dania. Berharap itu sungguhan meski nyatanya kita asing satu sama lain.

Sejak hari itu aku tak pernah lagi membolos ke kampus. Bis kota itu menjadi langgananku karena kehadiranmu. Bis yang sama, sopir yang sama, kondektur yang sama, bahkan bangku yang sama. Hanya saja aku heran mengapa sopir dan kondektur itu mendadak ramah padaku sejak aku selalu bersamamu. Bisa jadi karena mereka kagum pada raut wajah ramah milikmu atau mungkin sinar matamu yang teduh itu menawan siapa pun yang menatapnya. Tak pernah kutemui orang semenyenangkan dirimu. Mungkinkah jurusan Psikologi yang kau tempuh menjadikanmu seperti itu? Ataukah sifat itu memang bawaanmu sejak lahir?

Dua tahun sisa waktu kuliahku sebelum di-drop out ku lahap dengan cepat setelah pertemuan kita. Andai kau datang lebih awal tentu lebih cepat lagi aku melampauinya. Entah sihir apa yang kau miliki, tapi kau benar-benar membuatku berubah. Tidak hanya aku, tapi orang tuaku juga. Tak lagi aku jadi anak bandel di mata mereka. Ah, makin hari aku makin sayang kau, Dania.

Hari ini aku kembali ke kotamu setelah tiga tahun lamanya ku pendam rindu dalam dada kala menimba ilmu di negeri orang. Tiga tahun, apakah itu terlalu lama bagimu untuk menunggu, Dania? Kau tidak salah, karena bagiku pun itu teramat lama. Sejujurnya tak hanya ilmu itu yang ku cari, melainkan perlahan kuberanikan diri untuk berbisnis demi masa depan yang kita impikan bersama. Kau sendiri yang pernah bilang kan untuk apa menimba ilmu sebanyak-banyaknya dan sejauh-jauhnya jika akhirnya yang di dapat hanya selembar ijazah? Aku tidak seperti itu, Dania. Berbekal sebuah kotak yang ku dapat dari ilmu yang ku cari jauh-jauh itu aku mengetuk pintu rumahmu hari ini.

Kotamu masih sama seperti saat terakhir aku meninggalkannya. Di setiap jengkal city walk sepanjang jalan Slamet Riyadi yang kulalui aku mengenang saat-saat itu. Saat kita berjalan bergandengan dan tertawa-tawa setelah mengusili petugas yang duduk-duduk santai di pos jaga. Masih ku ingat betapa wajah para petugas itu memerah ketika kau tanyakan pada mereka mengapa banyak sekali mobil parkir di sepanjang jalan khusus pejalan kaki ini, sementara di belakang mereka terpampang tulisan besar-besar “Dilarang Parkir di Kawasan City Walk”. Sempat aku duduk sejenak di depan Taman Sriwedari, tempat favorit kita menghabiskan waktu sore bersama para remaja lainnya. Aku sengaja berjalan kaki dari Stasiun Balapan untuk sampai ke rumahmu, Dania. Meski berkilo-kilo jarak yang harus ku tempuh, bagiku itu perjalanan yang singkat demi bertemu denganmu.

Seorang laki-laki dengan senyum ramah dan muka menyenangkan seperti milikmu membukakan pintu untukku. Hampir saja aku mengiranya sebagai saudara laki-lakimu jika tak segera kusadari bahwa kau tak pernah punya saudara laki-laki. Duniaku serasa runtuh melihatmu menggandengnya mesra di hadapanku saat kau perkenalkan ia sebagai belahan jiwamu. Sakit hati ini, Dania. Tak tahan rasanya aku duduk berlama-lama di rumah mungilmu itu. Padahal kalau boleh jujur aku menyukai suasana rumah itu dan keramahan penghuninya. Laki-laki itu benar-benar membuatku iri, Dania. Meski berulangkali kau mengatakan bahwa betapa beruntungnya dirimu menjadi miliknya, aku yakin bahwa ia yang lebih beruntung mendapatkan cintamu.

Dania, harus kuapakan cincin bertahtakan mutiara dalam kotak ini? Apakah aku buang saja ke Laut Kidul tempat dulu kita berkejar-kejaran dengan ombak dan melambaikan salam perpisahan pada mentari yang terbenam? Ataukah aku menitipkannya pada wanita lain yang kelak menggantikan dirimu? Ah, aku tak yakin ada yang bisa menggantikan dirimu, Dania. Bagaimana kalau ku simpan saja cincin ini dan menunggu pemiliknya kembali? Itu juga tak mungkin, bukan? Kau sudah terlanjur bahagia dengan pria itu dan selamanya menutup hatimu untukku. Lalu aku harus bagaimana?

Kereta kembali menjerit membuatku tersadar dari lamunan. Tak terasa aku telah tiba kembali di tanah pelajar, tanah budaya, tanah kelahiranku. Dari balik jendela, aku saksikan orang-orang berjajar menunggu kereta berhenti sempurna. Aku telah pulang, Dania. Gerombolan manusia tak sabaran yang mendesak masuk itu menghapus wajahmu dari jendela. Dania, kereta ini akan kembali menghampiri kotamu. Haruskah kutitipkan salam pada orang-orang ini untukmu? Tapi dari sekian banyak orang ini siapa yang akan bertemu denganmu?

Aku berjuang melawan arus manusia yang mendesak masuk ke dalam kereta. Aku tak menyangka masih memiliki sisa tenaga untuk melawan tubuh-tubuh kekar bermandikan keringat itu.

“Aduh…”

Rintihan lemah itu menarik perhatianku. Seorang wanita muda berbaju hijau terjatuh di depan pintu masuk gerbong. Mungkin saja tubuh mungilnya tak mampu bersaing dengan para kuli yang mendesak kasar tadi. Kuulurkan tanganku demi membantunya berdiri.

“Terima kasih,” ujarnya seraya tersipu.

“Apakah kau akan masuk?” tanyaku. Pintu gerbong telah tertutup rapat. Kasihan wanita ini, pikirku.

“Tidak, aku baru saja turun,” jawabnya. Untuk pertama kalinya mataku terpaut dengan matanya. Dania, kau tahu bagaimana degup jantungku saat ini? Aku tak tahu apakah mata ini telah mengkhianatimu. Tapi sungguh, aku melihat sesuatu dalam matanya; sesuatu yang tak aku mengerti dan tak dapat kujelaskan bahkan padamu.

Dania, sekali lagi aku ingin bertanya, apa yang harus kulakukan dengan cincin ini?

Mei 2013
sepanjang perjalanan Solo – Jogja

Cerpen Karangan: Nurul Handayani
Facebook: http://www.facebook.com/nh.dyni
mahasiswi Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Cerpen Dania merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Putus

Oleh:
“Putus?” “Iya, kita putus. Sepertinya kita sudah mulai tak cocok.” “Apa maksudmu kak?” “Maafkan aku, Nur,” dia memegang erat tangan Nur lalu pergi begitu saja. Sejak hari itu Nur

Bunga Abadi

Oleh:
“Ra..” bisik lelaki dengan air mata yang mulai mengalir. Ia tak mampu lagi menahan rasa sakit karena ditinggalkan. Lelaki itu sangat mencintainya. Sangat. Bahkan, lelaki itu terus saja berbisik

Tuhan… Siapa Jodohku?

Oleh:
Entah kenapa… Entah apa yang ada di benak ku ini sehingga begitu menginginkan pernikahan itu ada, mendambakan dan menginginkan hadirnya suara tangis dan tawa bayi. Mengurus rumah tangga, menjadi

HTS (Hubungan Tanpa Status)

Oleh:
“Bagaimana rasanya, Put?” Tanya Tari menatapku. “Coba kau rasakan sendiri, biar tahu” kujawab menatapnya dengan senyum. Tari mengerutkan keningnya “Aku tidak mau, itu pasti rasanya sakit”. Aku terdiam dan

Tabir di Balik Cintaku

Oleh:
Malam tampak sunyi, kegelapan menutupi batas cakrawala. Bulan tak menampakkan sinarnya. Bintang-bintang entah kemana rimbannya, yang membuang gelisah seorang gadis mungil. Sesekali terdengar suara katak yang mengiringi hujan yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *