Dasar!

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Lucu (Humor)
Lolos moderasi pada: 10 April 2019

Aku menepis asa yang telah lama kupendam selama ini. Aku selalu berharap Tuhan dapat menjodohkan aku dengannya namun ini terlihat seperti semacam pukulan kecil yang menyadarkan aku dari mimpi panjangku selama hampir sebulan ini.

Mereka memang serasi. Keduanya asik bercanda, keduanya saling menatap dibarengi senyum, dan sesekali tertawa kecil.
Aku terus mencuri pandang sambil sesekali memainkan game di handphoneku. Semakin lama aku berada di tempatku semakin besar pula rasa cemburu yang menaungiku. Kuteguk secangkir kopi yang ada di atas mejaku. Minuman itu kumuntahkan begitu saja karena rasa panasnya yang langsung menyeruak di dalam lidah. Betapa ini suatu kebodohan yang amat memalukan, dan malah menjadi pusat perhatian semua orang yang berada di kafe.

Mereka juga (kedua pasangan yang membuatku cemburu) memalingkan wajah ke arahku sebentar kemudian melanjutkan obrolan mereka kembali.
Sial! Kataku dalam hati.

Muncul pelayan yang mengantar kopi tadi.
“Ada yang bisa saya bantu?”
“Oh, tidak apa-apa. Saya cuma kaget saja karena panas.” Kataku mengelap-elap meja dengan tisu yang telah tersedia di atasnya.

Si pelayan mengeluarkan serbet dari dalam sakunya. Serbet yang memang telah disediakan sebelumnya untuk kejadian yang tidak diharapkan seperti yang terjadi padaku ini. “Maaf ya?” Dengan cekatan ia mengelap mejaku yang basah.
“Ada pulpen dan secarik kertas.”
“Sebentar.” Kata pelayan itu. Tak lama kemudian ia kembali dari meja kasir dengan secarik kertas dan pulpen.
“Boleh saya pakai sebentar?” Ia mengangguk tersenyum kemudian pergi.

Setiap kali aku melihat si pelayan, aku selalu terpesona dengan dasi kupu-kupu hitam yang menutupi lehernya. Jarang sekali kulihat ada pelayan yang seperti ini kecuali orang-orang luar negeri. Tapi dia menarik dan cukup berbeda dari para pelayan lainnya yang bekerja di kafe ini.

Mataku kembali tertuju pada pasangan itu.
Sungguh sulit menemukan wanita seperti dirinya, namun kali ini aku benar-benar kecewa karena ia telah memiliki pasangan. Mungkin lain kali aku bisa menemukan orang yang cocok untuk kujadikan pacarku lagi. Langka memang. Matanya bulat indah, seolah ia begitu jujur menerima orang asing yang ramah padanya, namun sialnya mereka kini semakin bertambah mesra saja, dan saling memegang tangan satu sama lain.

Untuk memastikan kalau memang mereka adalah pasangan, maka aku mendekati keduanya.
“Pacarnya ya?” Kataku penuh percaya diri.
“Iya, memangnya kenapa?” Jawab si pria dengan padangan kurang suka.
“Oh, saya pikir adiknya.”
“Ya nggaklah…!” Tekanan suaranya berubah lebih berat.
“Maaf kalau saya mengganggu.” Aku langsung meninggalkan keduanya dan sempat terdengar helaan panjang dari si wanita sedangkan si pria mengumpat jijik. Telingaku sempat menangkap perkataannya, “Ada ada saja orang itu…”

Sudah menjadi kebiasaanku sebelum meninggalkan meja dengan meletakkan uang di atasnya bila hanya memesan secangkir kopi yang sudah kuketahui harganya. Kali ini aku bukan saja meninggalkan uang tapi juga kertas yang telah kutulis.
Cuaca saat ini begitu mendung, namun tanda-tanda hujan turun belum kelihatan. Aku menyeberang jalan dan berhenti sejenak menatap tulisan Bass Gym di atas papan nama sebuah ruko. Begitu memasuki tempat itu, aku disambut dengan senyum hangat oleh Reno si kasir berbadan kekar.

“Bagaimana?”
“Sudah ada yang punya, padahal sudah saya niatkan untuk saya jadikan…”
“Pacar tapi bukan isteri.” Potong Reno dibarengi tawa.
“Ini serius.” Aku mendelik menyakinkan. “Ini serius. Kukira dia tipe saya sekali, tapi untuk yang sebelumnya kebanyakan matre.”
“Darimana kamu tahu kalau dia bukan cewek matre?”
“Sudah hampir sebulan ini dia datang sendiri, dalam seminggu seingat saya biasanya cewek itu datang saat hari senin, rabu, dan kamis. Selalu datang jam tiga dan pulang jam lima. Seperti saya yang pulang kerja jam tiga. Dia selalu membawa novel, tidak tahu apa judulnya. Ia selalu berjalan kaki. Ia sederhana dengan kacamata. Kutu buku juga bisa dibilang. Matanya benar-benar indah sekali. Setiap kali melihatnya, pokoknya belum pernah saya alami kegugupan yang luar biasa seperti sekarang ini.”
“Itukah yang membuat kepercayaan dirimu luntur untuk menggodanya?”
“Tepat sekali. Dan hari ini saya dikecewakannya, dengan kehadiran pacarnya. Seorang laki-laki dengan motor keluaran lama.
“Kesimpulan lain yang mengatakan dirinya tidak matre.”
“Ya.”
“Dan sekarang dikecewakan.”
“Ya.”
Reno tertawa mengejek. “Carilah wanita disini.”
“Saya tahu, tapi mereka suka lelaki berotot seperti kamu. Saya hanya lelaki kurus yang malas berkeringat.”
“Jadi apa selanjutnya.” Kata Reno sambil menguap.
“Saya sudah mengirimkan sinyal cinta pada seseorang…”
“Maksudmu?”
“Kamu itu terlalu cepat menanggapi, santai saja dan dengar dulu cerita saya. Dia itu wanita yang berbeda seperti kebanyakan wanita lainnya. Saya suka wanita yang berbeda sendiri. Melihat wanita yaitu dari salah anggota tubuhnya yang saya anggap cukup menarik, itulah saya. Kalau yang ini senyumnya selalu memukau saya. Ia begitu ramah sekali, suaranya kecil, lucunya suara itu seperti suara yang dibuat-buat, namun saya suka. Wanita yang menarik.”
“Saya pun menulis surat padanya. Saya katakan di dalam surat itu, Jarang sekali saya bertemu wanita yang memiliki senyum natural seperti Anda. Setiap kali hendak berbicara, senyum Anda tidak pernah ketinggalan. Senyum Anda seperti sebuah pintu, pintu yang terbuka untuk siapa saja. Seandainya Anda belum ada yang memiliki, maukah Anda membuka pintu hati Anda untuk saya. Kira-kira begitulah isi surat saya padanya.”
“Wah, kamu memang mahir dalam merangkai kata-kata. Maukah kamu mengajari saya. Saya ingin mengambil hati para wanita yang datang kesini.”
“Tidak.”
“Ah, sudah kuduga kamu memang pelit.”
“Bukan begitu, saya akan mengajari kamu bila wanita itu benar-benar telah menjadi milik saya.”
“Saya doakan.” Ujar Reno langsung memalingkan wajahnya ke atas.

“Siapakah wanita yang kamu sukai itu?”
“Kamu mau tahu…”
“Tentu, saya ingin sekali.” Reno menggosok-gosokkan kedua tangannya. “Bila kamu tidak keberatan ceritakan sekarang juga.”
“Kamu tahu pelayan yang berada di kafe?”
“Tentu, ada empat orang. Salah satunya ya?” Reno memain-mainkan telunjuknya. “Saya tahu sekarang.”
“Benar.”
“Boleh saya tebak?”
“Tidak masalah.”
“Berambut panjang, hitam manis, dengan sepatu ket kuning.”
“Salah.”
“Oh, saya tahu. Rambut pendek dengan pita merah.”
“Salah.”
“Haa…” Reno menggeleng. “Jangan bilang kalau kamu suka sama yang berkacamata itu. Hei, itu sudah punya dua anak, suaminya seorang tukang bangunan.”
“Sudah pasti yang mirip pelayan luar negeri itulah.” Aku membuat alisku naik turun. “Cocokkan sama saya. Senyumnya itu…”
“Cukup!” Mendadak Reno memukul meja kasir dengan keras. Ketiga pelanggan tetapnya menoleh kaget, begitu pula aku yang tidak menyangka dengan sikapnya yang seperti itu. “Aku tidak menyangka ternyata kamu juga menyukai orang seperti itu.”

Kumasukkan jari telunjukku untuk mencari kotoran hidungku. “Hei, kamu cemburu ya?”
“Bodoh. Bagaimana mungkin saya cemburu dengan laki-laki…”
“Laki-laki?” Aku mendapatkan kotoran hidungku dan kujatuhkan begitu saja ke lantai. “Ya, jelas kamu memang cemburu pada laki-laki seperti saya ini yang setahun saja bisa memiliki tiga pacar.”
“Wanita yang kamu maksud itu laki-laki. Apa kamu tidak tahu?”
Aku kaget bukan main dan menggeleng tidak yakin sama sekali dengan perkataan Reno barusan. “Masa?”
“Kamu pelanggan tetap di kafe itu kok bisa tidak tahu sih. Kemana saja selama ini.”
“Benar, tidak tahu kalau dia…” Wajahku terasa panas dingin dan mulai mati rasa.
“Kamu tahu tidak, setahun lalu dia datang kemari menanyakan kerja pada saya. Awalnya saya tidak percaya melihat penampilannya yang berbeda sekali dengan KTP-nya. Dia mengenalkan dirinya namanya Ana, tetapi di KTP namanya adalah Anang Kurniawan. Dia butuh sekali perkerjaan, katanya untuk membayar hutang yang akan ditagih bulan depan. Kalau tidak, maka keadaannya akan terancam berbahaya. Lantas saya bilang, kebetulan sekali kalau kafe di depan sedang membutuhkan pelayan. Nah, sejak itulah dia menjadi perkerja di sana. Kamu tahu kalau dia sebenarnya adalah bekas pekerja luar negeri. Dia pernah bekerja di Kota Pattaya, Thailand. Kamu tahu tempat apa itu kan? Dasi yang dia pakai itu cuma untuk menyembunyikan jakunnya. Saya pikir-pikir cocok juga buat kamu, lumayan cantik juga dia?” Reno langsung tertawa terbahak-bahak. Ketiga pelanggannya menoleh lagi dengan pandangan heran. “Dia akan langsung jatuh hati setelah membaca surat kamu…”
Aku menghela muram dan langsung keluar dari tempat itu. Aku menggeleng, “Dasar.”

Cerpen Karangan: Choco Haya
Blog / Facebook: Kokoandrian[-at-]ymail.com

Cerpen Dasar! merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


About Seventeens

Oleh:
Cuaca hari ini sangat mendukung kegiatan Fian untuk menjelajah hobinya. Saat ini ia telah sampai puncak bukit, yang tidak jauh dari rumahnya. Ia memang sering menghabiskan waktu liburannya untuk

PSPH (Part 2)

Oleh:
“Bos!” “Napa Ga?” “Lu belum denger ya?” “Belum, apaan?” “Si Reza, katanya dia malming kemaren jalan bareng sama Tiara.” “Tiara kelas 11 IPS-3?” sahut Acuy yang baru saja tiba

Kenangan Yang Tertinggal (Part 2)

Oleh:
Nata sangat merasa tidak enak pada Dion. Bagaimanapun juga dia hanya menganggapnya sebagai teman biasa. Walaupun menyakitkan itu lebih bukan dengan jujur terhadap perasaanya? Kalau dilihat dari luar tentu

Dirimu Adalah Rinduku

Oleh:
Dia adalah Chamel, seorang lelaki berusia 46 tahunan, yang tinggal di kampung pinggiran bersama keluarganya yang sudah 28 tahunan. Kehidupan rumah tangganya terlihat harmonis tanpa ada nampak persengketaan serta

Scratch Teens (Part 2)

Oleh:
Inikah akhir kisah persahabatanku? Berakhir dengan luka kebohongan Persahabatan yang kami rajut sejak lama Dengan mudah rusak karena kebohongan Haruskah aku menyalah kan Diny? Atau kah Vina? Kurasa tidak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *