Daun Di Atas Batu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 4 July 2016

Pada sepotong ranting yang tengah terpukul arus dari pinggiran tebing yang curam, masuk ke dalam pusaran buih-buih gelombang, hanyut terbawa ke tengah laut. Ranting itu sebenarnya telah lenyap. Sebab terlalu deras hantaman ombak yang tiga kali berturut-turut hingga tersedot ke dasar tebing curam yang dihuni beribu-ribu, atau mungkin berjuta-juta ikan. Dari yang ukuran kecil hingga seperti ikan getegete* sampai ke ukuran yang besar yaitu ikan Gorango**.
Namun ada bibir merah seperti ukuran ikan Kerapu, ya mungkin itu Kerapu sebab Kerapu lebih suka hidup bersama batu-batu yang menjadi tempat peristrahatannya; Kerapu itulah yang mengapit sepotong kayu itu dengan kedua belahan bibirnya sehingga sepotong ranting itu tidak membentur karang-karang yang runcing seruncing gigi-gigi Kerapu. Lalu mengapa sepotong ranting itu bisa berada di tengah lautan luas? Karena ikan Kerapu itu melepaskan menjauh dari dinding tebing dan bebatuan karang terjal. Ah, itu hanya kejadian yang secara kebetulan saja. Sebab sang Kerapu itu bukan menyelamatkan sepotong ranting, mungkin dia sedang bermain-main di tengah arus dan ombak. Karena ikan itu dan semua ikan tak mempunyai otak.

Sepotong ranting terombang-ambing di tengah lautan dalam kenestapaan. Tanpa sehelai daun pun. Bila hidup didera, hingga air mata berderai dan selaksa gemuruh hujan dan angin terus menderau tanpa akhir untuk bersendagurau.
“Oneng, hendak kemana kamu. Kelihatannya kamu mau pergi jauh!”
“Saya mau mencoba keluar dari kemelut ini; terima kasih atas pedulimu, Topu sahabatku!”
“Semoga kamu tegar dalam menjalani semua ini, aku sebagai sahabatmu hanya mendoakan saja”.
“Lalu di mana sekarang Sella!” Lanjut Topu
“Sehabis kita bertengkar kemarin, sampai hari ini aku tak melihat dia lagi, mungkin di rumahnya kali”
“Sella orangnya terlalu keras. Kamu berdua masih masa pacaran, tapi kok, udah sering bertengkar, aku tidak habis pikir, Oneng!”
“Ya itulah yang menjadi pertimbanganku nanti, Topu. Sebab masa pacaran, itu kan saling belajar antara dua hati. Apakah dimasa depan nanti akan bahagia ataukah sebuah kehancuran yang kita terima. Dan aku, terus terang tidak mau hal itu terjadi!”
“Sebenarnya sih, Sella harus menyadari bahwa perempuan itu bawaannya lembut. Beda sama kita laki. Iya kan Oneng!”
“Seharusnya seperti demikianlah. Topu!”
“Apa kamu tidak berani mengatakan hubungan kita putuskan saja, biar kamu,” Topu sahabat Oneng mencoba mencari jalan ke luar.
“Tidak bisa rasanya, Topu, Aku sudah terlanjur mencintainya. Oleh sebab itu aku mencoba menghapus bayangan cinta itu di benakku!”
“Aku prihatin dengan hubungan kalian, semoga kamu bisa melewati, ya Oneng!”
Dengan kekalutan yang membenak, tanpa pegangan yang tergenggam. Oneng melangkah pergi. Menjauh dari sebuah cinta yang tak bisa diraih dengan satu petikan saja. Serupa memetik setangkai kembang yang harum. Untuk didekap dengan pelukan dan kehangatan. Rumput-rumput ikut bergoyang mengiringi derap langkah yang tak pernah terjejak. Hanya satu tujuan, menghapuskan cinta yang terdalam dan teramat jauh yakni di lubuk hati.

Bagai sehelai daun tanpa ranting berada di atas batu. Batu yang keras dan tajam. Yang kapan saja meremukan segala apapun. Bila terbentur, sakitnya tak cukup hanya dengan meringis, untuk menghilangkan perih yang membilur.

Tiga hari setelah kepergian Oneng. Senja itu, sehabis mengantarkan kiriman kepada pamannya Sella mampir sebentar di rumah Topu. Topu yang saat itu duduk sambil mempersiapkan peralatan untuk melaut pada malam hari. Bersama istrinya yang sedang menyusui bayi mereka. Mereka keluarga muda namun cukup bahagia.
Sella yang akrab dengan Topu karena mereka sesama teman sebelum menikah. Begitu pula istri Topu, Deha yang masih kerabat dekat dengan Sella.
“Topu, mau melaut!”
“Eh tumben, kok baru kelihatan kamu lla, iya biasalah pekerjaan rutin” Topu menjawab
“Bersama siapa kamu melaut”
“Sendiri aja, lla…”
“Biasanya berdua sama Oneng!” lanjut Sella
“Emang kamu tidak tahu!, Oneng sudah tidak ada di kampung ini!” pungkas Topu.
Biar Sella mengetahui ada apa dengan Oneng yang menjadi pacarnya Sella selama dua tahun.
“Tidak. Ada apa dengan Oneng!” Tanya Sella
“Sehari setelah kalian berdua bertengkar, Oneng telah pergi. Kemana tujuannya aku tidak tahu, dia kecewa dengan sikapmu lla!” Topu menjelaskan
“Tapi, tapi kan kita biasa bertengkar. Hal-hal kecil kok!” sambung Sella.
“Menurut kamu biasa, lla. Tapi Oneng tidak. Dengan yang kecil-kecil bisa menjadi besar. Dengan sering-sering juga bisa menumpuk menjadi bukit! Mencoba Topu mengurai
“Jadi, jadi, Oneng sudah pergi? Kok dia pergi tanpa sepengetahuanku,”
Mata Sella mulai berkaca-kaca.
“Sella, kamu itu perempuan. Seharusnya sikap kamu seperti sekarang ini dengan menangis, kamu tunjukin di depan Oneng. Bukan setelah Ongen tidak ada, baru kamu menangis. Aku dan kita semua teman, hanya prihatin saja sama kamu berdua!”
“Oneng itu kan orang lembut. Tutur kata saja bersahaja dan tanpa amarah. Malahan sebaliknya kamu, lla; Keras tak mau mengalah! Ongen itu ibarat setangkai daun”,
“Iya, lla. Kasihan Oneng. Kamu kok tidak mengerti dia, kamu lla jangan keras seperti batu!” Deha istri Topu memotong perkataan Topu suaminya.
“Sella, maafin ya, kita berdua. Kita cuma prihatin saja dengan hubungan kalian, dan kita lebih kasihan sama Oneng. Orangnya rajin, jujur dan bertanggung jawab!” Lanjut Deha
Sella yang masih terisak-isak di tempat duduknya, hanya diam seribu bahasa. Dia menyadari memang sering berdua Oneng saling bertengkar. Dalam hatinya membenarkan ucapan Topu dan istrinya, Deha. Sella baru terkesiap dengan perginya Oneng. Sepertinya suatu pembelajaran tentang hati yang sepi. Sella baru menyadari bahwa dia dilanda rindu setelah Oneng telah pergi. Ingin dia mengejar tapi tidak tahu Oneng berada dimana. Rindunya telah bergelayut setelah egonya terpasung di antara jejak-jejak yang telah tiada. Sepi itu membuncah ke lorong-lorong hati yang tak pernah dijamah. Setiap malam terkenang dan terbayang dalam mimpi ketika tidur pulasnya hanya sejenak.

Oneng telah melewati beberapa gulungan ombakan. Dia kini berdiri di puncak yang tebingnya sehabis runtuh. Walaupun dengan tertatih untuk melangkah namun penuh niat yang tulus mengikuti hilir air untuk menibakan sebuah kepastian agar bilur-bilur itu terbasuh tak membekas. Namun rasanya sulit untuk menyatukan serpihan yang telah retak. Luka yang telah sembuh akan terkoyak lagi bila serpihan itu tak lagi rekat. Oneng pun melangkah, dan semakin melangkah.

@rskp, 08052016, Jakarta

Getegete)* = Ikan kecil berwarna merah yang suka berkelompok di karang- karang
Gorango)** = Ikan Hiu

Cerpen Karangan: Riecki Serpihan Kelana Pianaung
Facebook: Riecki Serpihan Kelana

Nama Lengkap: Recinston Pianaung
Nama Facebook: Riecki Serpihan Kelana Pianaung (@rskp)
Tempat/tanggal lahiir: Bitung, 28-09-1968
Agama: Kristen Protestan
Warga Negara: Republik Indonesia
Alamat: Jl. Kebon Anggrek No. 22 Cipete, Jak- Sel, Cilandak 12410

Cerpen Daun Di Atas Batu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Singgahan Terakhir

Oleh:
Tempat yang selalu ingin kutuju adalah kamu Naungan terakhir yang ingin aku sambangi adalah kamu Waktu yang ingin kuhabiskan yaitu saat saat aku bersama sama dengan dirimu Well well

Jodoh di tangan Tuhan

Oleh:
“Masih adakah rasa itu untukku?” pertanyaan yang sama itu terus berputar mengelilingi otakku. Aku terbangun dengan mata sembap dan.. ya aku baru ingat aku menangis semalam. “Sudah pagi ya,

You Are My First Potion

Oleh:
“Panggil General Manager dari departement pernikahan!,” ucap Arka kepada skretarisnya Rio. “Baik, Pak!,” kata Rio dengan meninggalkan ruangan kerja Arka. Kemudian, laki-laki itu duduk di kursi putarnya. Mengarakan kursinya

Hujan Membawa Takdirku

Oleh:
Di ruangan yang minimalis dengan susunan ranjang, lemari dan cermin hias yang tertata rapi, membuat suasana kamar ini indah di malam hari. Kupandangi wajah suami yang sangat aku cintai.

Kutukan

Oleh:
Hari kamis yang sangat indah, beginilah anak SMA tiap tidak ada guru di kelas pasti saja ribut kalang kabut, Para perempuan cuat-cuit sana sini, dan Para Lelaki selalu heboh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *