Dear Rosi (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 23 January 2017

“Rosi.. rosi.. bangun nak.. kamu udah baikan sayang?” Teriak ibuku dari balik pintu kamarku. Samar terdengar suaranya, pikiranku teringat kembali dengan kejadian semalam dimana aku melihat cowok yang menjalin hubungan denganku selama 4 tahun bermesraan dengan cewek lain. Kepalaku kembali pusing dan hatiku masih saja merasa sakit. Singkat kata aku lagi dalam fase galau.
Aku bangun dan membuka pintu kamarku “Iya ma, Rosi baik-baik aja kok” jawabku sambil tersenyum. “ya udah kalo gitu kamu siap-siap gih ke kampus, ada kuliah kan hari ini” kata ibuku.

“Eh Ros gimana keadaan kamu?” tanya Ata sahabatku yang datang bersama pacarnya Kia. Kami bertiga adalah mahasiswa di fakultas teknik semester 4. “Udah mendingan” jawabku. “gila ya, Randy yang gue kira cowok baik-baik ternyata sifatnya kayak gitu. Dasar manusia serigala berbulu domba” Ujar Ata kesal. “Udahlah ta gak usah emosi gitu yang penting Rosi udah pisah sama cowok itu” kata Kia menenangkan ceweknya. Aku hanya tersenyum melihat mereka berdua, setidaknya aku masih punya orang-orang baik seperti mereka dalam hidupku ini.

“Ros, makan bareng yuk” ajak Ata dan Kia saat selesai kegiatan praktikum. “Eh ki ikut dong makan barengnya” ujar Raka tiba-tiba. “tanya aja sama Ata dia yang ngajakin soalnya” jawab Kia. Kia dan Raka berbalik ke arah Ata “ya udah lo boleh ikut, tapi lo yang traktir ya” ujar Ata. Aku dan Kia menahan tawa rupanya Ata sengaja mengerjai Raka. “Yah.. ya udah deh gue yang traktir.”
“tumben banget lu mau makan bareng kita, cewek lo mana?” tanya Kia pada Raka saat kami sedang menunggu pesanan kami. “Udah gak lagi” jawabnya singkat. “trus cewek lo yang di Jakarta, gimana?” lanjut Kia. Aku dan Ata saling berpandangan lalu Ata berkata “emang ya playboy cap kabel lo, punya cewek dimana-mana.” “Gue bukan playboy ta, gue cuman pemuja wanita. Kalian wanita pantas dipuja. Sadar gak sadar kalian itu mahkluk ciptaan Tuhan yang paling indah” jelas Raka. “Udah kayak lirik lagu aja kata-kata lo Rak” ujar Ata. “Pasti lo cuman ngelirik cewek yang cantik aja, bener gak?” tanyaku. “Cantik menurut kalian tuh yang kayak gimana sih Ros, gue tanya sama lo? Cantik itu relatif menurut gue, kalo orangnya enak diajak buat bergaul dan seru-seruan bakal gue deketin” jawab Raka. “bener-bener dah kata-kata lo ka, pantas aja temen cewek lo banyak” ujar Kia. Spontan Ata melotot ke arah Kia, kia hanya tersenyum. Aku dan Raka tertawa melihat tingkah mereka.

“Liburan semester nanti pada mau kemana? Masa mau di Bandung terus” ujar Raka saat kami selesai makan. “Belum punya planning gue” jawab Kia dan Ata. “Gue pengen magang, lumayan tu ada liburan 2 bulan. Cuman buat nyari pengalaman aja sih” jawabku. “Gue punya ide, pertama gue setuju sama idenya Rosi, tapi biar gak mainstream gimana kalo kita nyari jobnya di kota lain. Jadi kita bisa sekalian liburan sambil kerja, gimana?” tanya Raka. “kota lain, contohnya? Trus gimana kita disananya maksud gue tempat tinggal dan lain sebagainya?” Tanyaku. “Gini, om gue punya Kedai kopi di Jogja dan dia baru buka 2 cabang baru disana whicis pasti butuh tenaga baru dan kita bisa tinggal di rumah lama om gue yang kosong. Gak kosong sih sebenarnya ada yang negajagin juga karena om gue udah tinggal di Jakarta” Jelas Raka. Mendengar penjelasan Raka kami semua sepakat untuk berlibur ke Jogja.

Beberapa waktu berlalu, semua kegiatan kampus dimulai dari perkuliahan, tugas, pengumpulan laporan, ujian prkatikum hingga ujian semester telah selesai. Aku sudah memberitahu orangtuaku tentang rencanaku yang akan berlibur ke jogja bersama Ata dan yang lainnya. Mereka mengizinkanku dan kebetulan juga ada keluarga ibuku disana.

Kami berempat bertemu di stasiun. Kami mengambil jadwal perjalanan sore. “Ready guys?” tanya Raka. Kami mengangguk, aku dan Ata saling menatap sambil tersenyum. “Gue kira lo bakal ngajakin cowok lo Ros buat ikut” kata Raka. Aku berhenti begitupun dengan Ata dan Kia yang kaget dengan pertanyaan Raka. Raka berbalik lalu aku berkata “Gue kira lo bakal ngajakin cewek lo ka buat ikut. Ahh gue lupa, lo kan pasti punya gebetan juga ya di Jogja” jawabku sambil berlalu pergi menuju gerbong kereta, Ata mengejarku. “Lo apa-apaan sih nanya kayak gitu? Rosi baru putus sama cowoknya 3 bulan yang lalu. Dan dia lagi anti banget ngebahas soal ini” jelas Kia. “mana gue tahu Ki. Jadi maksud lo Rosi udah putus sama pacarnya yang 4 tahun itu?” tanya Raka lagi. “iya, udah gak usah dibahas lagi” jawab Kia.
“Lo gak apa-apa kan?” tanya Ata saat kami sudah duduk di dalam kereta kelas ekonomi. Aku mengangguk, kulihat Kia dan Raka datang. Kami duduk saling berhadapan aku mengalihkan pandanganku keluar jendela. Kereta mulai berjalan dan hari sudah gelap. “Gue tidur duluan yah” ujarku. Saat semua yang dikereta terlelap, aku sadar dan kulihat jam di tanganku menunjukkan pukul 2 pagi. Aku mengambil buku jurnalku dan menempelkan tiket kereta di dalam buku itu, lalu aku kembali tidur.

Tepat pukul 5 pagi kami memasuki daerah Jogja. Sinar keemasan mulai nampak di langit. Kulihat Kia dan Ata masih terlelap, namun tidak dengan Raka yang sudah bangun di depanku. Dia juga sedang menatap keluar jendela. Raka beralih menatapku lalu bertanya “mau liat yang lebih indah?”. Sebelum menjawab Raka sudah menarik tanganku untuk mengikutinya. Kami berjalan agak cepat menuju gerbong yang paling belakang. Kami berdiri di pagar penahan bagian belakang kereta, lalu melihat pemandangan sawah hijau yang terbentang di samping kanan dan kiri jalan. Sang surya dengan gagah mulai naik ke peraduannya dan membiaskan cahayanya sampai menyentuh sawah-sawah itu.

“Gue minta maaf atas perkataan gue kemarin. Gue beneran gak tahu” Ucap Raka yang tetap melihat ke depan. Aku mengangguk dan juga meminta maaf. “sebagai teman gue cuman mau bilang jangan biarin rasa sedih lo hancurin kebahagiaan lo dalam liburan disini” sambung Raka. Aku berbalik ke arah Raka yang masih menatap ke depan dan mengucapkan terimakasih. Raka yang saat itu mengenakan kaos putih dibalut dengan jaket navy terlihat tampan dengan postur tubuhnya yang lebih tinggi dariku ditambah bias dari sinar matahari membuat kulit putihnya bersinar, membuatku sedikit terpana dengan pemandangan itu tapi segera kualihkan pandanganku darinya.

“kita sampai guys” ujar Raka saat kami tiba di sebuah rumah. Rumahnya tampak sederhana dan suasananya sangat kental dengan budaya jawanya, halamannya rindang membuat udara di sekitar terasa sejuk. Seorang pria paruh baya menyambut kami, pria itu bernama pak Wayan tetapi lebih akrab dipanggil pakde. Malamnya Raka memberitahukan bahwa mulai besok kami sudah mulai bisa bekerja. Ata dan Kia mendapatkkan shift pagi, sedangkan aku dan Raka mendapatkan shift malam. Hal ini sudah menjadi ketentuan dari omnya Raka.

Hari ini adalah hari pertama kami bekerja, Ata dan Kia sudah berangakat ditemani Raka untuk menunjukkan lokasinya. Aku di rumah membantu pak Wayan sebisaku. Saat membantu pak Wayan kulihat ada sebuah kotak besi yang terlihat jadul bentuknya namun bersih. Di dalamnya terdapat beberapa amplop yang sudah terlihat kusam bertandakan prangko dulu. Pak Wayan bercerita bahwa surat-surat itu adalah peninggalan dari almarhum kakek dan nenek buyutnya Raka. “yah maklumlah nak zaman dulu orang berkomunikasi melalui surat termasuk hal mengutarakan perasaan” jelas pak Wayan padaku.

Pukul 5 sore aku sudah siap. Kulihat ketiga temanku pulang. Ata dan Kia tampak kelelahan namun tidak dengan Raka. “katanya baru buka kok udah rame aja yah kafenya” ujar Ata yang langsung merebahkan tubuhnya di sebuah kursi kayu. Aku tersenyum sambil memberikan mereka air, “bentar ya gue mandi dulu” ujar Raka padaku. Selesai mandi aku dan Raka lalu berangkat menggunakan transjogja. Sore itu penumpang sedang ramai sehingga bus yang kami tumpangi penuh jadi kami tidak mendapatkan tempat duduk. Aku yang berada dibagian belakang bus sedang mencoba mencari pegangan yang kosong dan berdesakkan dengan beberapa orang tiba-tiba saja tanganku ditarik Raka ke arahnya. Posisi berdiriku sangat dekat dengan Raka. Hal ini membuatku sedikit tidak nyaman.

Setibanya di kafe ternyata memang ramai. “zaman sekarang banyak ya demen minum kopi” ujarku. Raka melihat ke arahku sambil tersenyum lalu menarik tanganku. Baginya mungkin menarik tanganku sudah kebiasaan jadi segera kulepaskan “makasih, tapi gue bisa jalan sendiri” ujarku. Raka menjelaskan padaku menunya, tugasku adalah menulis dan mengantarkan menunya sedangkan Raka berada di bagian pembuatan kopinya. “ka ini pesanannya” saat kuberikan menu pesanan. “semangat banget Ros” ujarnya dan aku hanya tersenyum.
Tepat pukul 10 kafe ditutup aku dan Raka pulang menggunakan taksi, kami berdua patungan membayarnya. Awalnya Raka yang ingin membayarnya namun aku menolaknya.

Kegiatan ini berjalan seterusnya. Setiap bekerja kulihat beberapa orang gadis yang duduk untuk melihat Raka membuatkan kopi untuk mereka sambil tersenyum pada mereka. Kami mendapat libur di hari sabtu sehingga kami berencana untuk jalan-jalan. Saat kami sedang menyusun rencana untuk berlibur, handphoneku bergetar dan ternyata itu dari Kevin mantanku dulu. Aku segera mematikannya, “siapa?” tanya Ata. “Bukan siapa-siapa” jawabku.
“Gue pengen ke prambanan dong” ujar Kia. “iya gue juga” sambung Ata. “Prambanan? Kalian belum pernah kesana?” tanyaku. “Belum, lo nanya kayak udah pernah kesana aja” ujar Kia. “Ye emang gue udah pernah kesana waktu SMA dulu” jawabku. “kok gue gak diajak?” tanya Ata. “Waktu itu ada acara keluarga disini makanya lo gak diajak” jelasku dan Ata memanyunkan bibirnya cemberut marah tidak diajak. “jadi lo udah pernah kesana Ros?” tanya Raka yang baru datang sambil membawakan minuman bersama pak Wayan. Aku mengangguk menjawab pertanyaan Raka.
“ya udah minum dulu kopi buatan gue, hati-hati masih panas. Kalian belum pernahkan minum kopi buatan gue” jelasnya. Hpku terus saja bergetar, saat hendak mengambil hpku tiba-tiba saja “aduh.. panas” teriakku saat kopi panas itu tumpah mengenai tanganku. Semua kaget melihatku, “ceroboh banget sih, udah dibilangin panas juga” ujar Raka yang mengambil tisu dan mengeringkan tanganku sambil meniupnya. Aku, Ata dan Kia hanya melihat Raka bingung. “Bentar kuambil obat dulu” ujar Raka sambil masuk kedalam. “Aku? Itu tadi barusan apa? Kenapa sikapnya gitu?” Ujar Ata melihat ke arahku dan membuat aku dan Kia kaget. Aku menggeleng sebagai responnya. Raka kembali dengan membawa pasta gigi ditangannya. Dia berniat mengoleskannya untukku. “ehm.. ka gue bisa sendiri” ujarku.
Ata dan Kia melihat ke arah Raka dan aku secara bergantian. “Udah? Masih perih gak?” tanya Raka. “udah gak lagi kok, makasih” jawabku. Aku melihat tatapan Ata yang penuh selidik. “fix besok kita ke prambanan seterusnya biar gue yang ngatur anggap aja gue tourguidenya, oke?” tanya Raka. Kami sepakat dengan keputusan Raka.

Keesokkan harinya kami siap untuk berangkat. Rambutku kugerai karena baru keramas walau sudah kukeringkan dan dipaksa oleh Ata karena aku jarang membiarkan rambutku terurai. Kami menggunakan mobil milik omnya Raka. Raka terlihat seperti tourguide sungguhan, dia mampu menjelaskan sejarah Prambanan dengan baik. Ata dan Kia sedang berfoto ria.

Aku menempelkan tiket masuk di buku jurnalku. “Lo cantik hari ini” ujar Raka mengagetkanku. “kelihatan banget modus lo” jawabku sambil merapihkan jurnalku. “hmm.. gue anggap itu sebagai terimakasih. Udah kemana aja lo?” tanyanya sambil duduk di sampingku. “maksud lo?” aku balik bertanya. “itu buku tentang perjalanan dan tempat-tempat yang pernah lo datengin kan” jawabnya aku hanya tersenyum meresponnya.
“lo pasti sering ke sini ya?” tanyaku. “sering sih gak, tapi beberapa kali” jawabnya. “mesti ngajakin cewek lo, ya kan?” godaku. Dia tertawa lalu berkata “gak juga sih ya walaupun ada beberapa.” Jawabannya membuatku tertawa. “Walaupun gue udah beberapa kali kesini, di satu momen tempat ini jadi spesial karena gue datang dengan seseorang yang spesial” ujarnya. “maksud lo?” tanyaku. “bukan apa-apa” jawabnya berbalik menatap ke arahku. Kami saling memandang tiba-tiba saja “guys, kalian ngapain. Yuk balik cari makan laper nih gue” teriak Kia mengagetkan.
“Ros lo mesti hati-hati sama Raka dia tu playboy. Lo tahu kan?” ujar Ata saat kami berada di sebuah warung makan. Kia dan Raka sedang ke toilet. “Ta gue gak ada apa-apa sama Raka” jelasku. “iya gue percaya sama lo tapi gak sama dia. Keliatan banget dia ngedeketin lo” jelasnya lagi. “gue lagi gak peka sama yang kayak begituan, udah mati rasa gue. Lagi malas buat ngebahas soal ini, ok” ujarku.

Saat sedang makan, seorang gadis cantik menyapa Raka. Raka yang awalnya kaget namun kemudian tersenyum. Mereka sangat akrab sampai saling mencium pipi. “kenalin nih temen-temen gue” ujar Raka pada gadis yang bernama Rena. Raka mengantarkan Rena ke parkiran untuk pulang.

“gebetan lo ka?” tanya kia. “bukan, cuman temen lama kok” jawabnya. “Emang dasar playboy lo” sela Ata membuat Raka tertawa. “lo pesen apa Ros” tanya Raka padaku. “samain aja sama Ata” jawabku yang sedang melihat hpku. “lo modus ya sama Rosi? Awas aja lo ngapa-ngapain temen gue” ujar Ata. “ngomong apaan sih lo ta” selaku kaget. “haha, gue gak modus kok. Ros biar sahabat lo gak salah paham kita jadian sekalian aja biar dia gak panik?” ujar Raka. Aku tersedak begitu juga dengan Ata dan Kia yang juga kaget lalu kami tertawa.

“gue baru tahu bro kalo lu busa bercanda gini juga” ujar Kia dan Raka hanya tersenyum. “jangan mau Ros sama playboy kayak dia, gak bakal bisa dipercaya” kata ata sambil meminum minumannya. Aku hanya tersenyum dan melihat ke arah Raka. “Gimana Ros, mereka berdua pacaran gimana kalo kita juga. Kalo lo mau kita bisa jadi kayak friends with benefit gitu tapi dalam artian yang positif selama kita di sini” jelasnya serius menatapku, Ata dan Kia terdiam. Kulihat hpku terus bergetar dan muncul nomor kevin di layar hpku, sesaat aku berpikir lalu berkata “deal, gue terima. Tapi inget cuman di sini aja” ujarku. Sontak mereka kaget mendengar perkataanku. “lo lagi gak sakit kan Ros?” tanya Ata. “Gue baik-baik aja” ujarku lalu menatap ke arah Raka.

Kami langsung kembali ke rumah setelah makan. “lo yakin sama keputusan lo?” tanya Ata saat kami berada di kamar, aku mengangguk. “lo pasti punya alasan kan?” tanyanya lagi. “ta, Kevin masih ngehubungin gue dan sepertinya gue butuh Raka untuk bisa menghadapi Kevin. Gue bakal bilang ke Kevin kalo gue udah punya cowok jadi dia gak perlu ngehubungin gue lagi” jelasku. “jadi lo cuman manfaatin Raka?” lanjutnya. “lah emang itu kan yang dia bilang friends with benefit dan hubungan hanya berlaku saat kita di sini” jelasku.

Cerpen Karangan: Oky Andriana
Blog / Facebook: httpstoryofmylife.blogspot.com / andriana oky

Cerpen Dear Rosi (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cintaku Nyangkut di Kantong Kresek

Oleh:
Desiran angin menggerak-gerakkan benda itu, butiran tetes air hujan satu persatu jatuh dari benda yang kami sebut kantong kresek yang sebenarnya adalah sebuah kantong plastik hitam. Benda itu sesekali

You Belong With Me

Oleh:
FLASHBACK ON (Diana P.O.V) Namaku Diana Spica Bellatrix, biasa disapa Diana atau Spica. Sebenarnya nama panggilanku adalah Diana, namun berhubung di kelasku banyak yang bernama Diana, akhirnya teman-temanku memutuskan

Keyakinan

Oleh:
Kring… Telponku berdering pagi-pagi buta, sudah aku duga itu missed call dari David kekasihku, aku langsung mengirim pesan singkat padanya “ada apa yank jam segini miscal?”. “Gak papa cuma

Epilog

Oleh:
6 April 2012. Siang yang terik. Siti menyusuri jalan dengan langkah gontai. Derap kakinya yang pelan tidak senada dengan detak jantungnya yang berdegup kencang. Sebutir keringat pun menetes dari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *