Dear Rosi (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 23 January 2017

Keesokan paginya saat yang masih terlelap Raka menghubungi melalui telepon. “halo” jawabku. “halo Ros coba keluar deh ada yang pengen gue tunjukkin sama lo” ujarnya. Aku keluar dari kamar dengan wajah ngantuk menggunakan jacket merah kesayanganku dan Raka sudah menunggu di depan pintu kamarku. Dia tersenyum melihatku lalu menarik tanganku. “eh ini apa-apaan ini main tarik aja” ujarku melepas tanganku. “lo lupa ya kalo kita udah jadian kemarin?” tanyanya. Aku teringat dengan keputusan yang sudah kubuat kemarin, “terus ini kita ngapain pagi-pagi begini?” tanyaku. “gue pengen nunjukkin sesuatu sama lo. Ayo naik, gue boncengin” ujar Raka sambil mengambil sebuah sepeda tua.

Fajar sudah mulai menyingsing udara pagi ini terasa segar, pemandangan sawah–sawah yang berada di samping kanan dan kiri jalan sangat menyegarkan mata. Raka memberhentikan sepedanya di pingggir jalan lalu kami berjalan menyusuri sawah lalu berhenti di tengah-tengahnya. “kenapa kemarin lo terima tawaran gue?” tanyanya. Aku menjelaskan alasan sesungguhnya. “gue minta maaf kalo gue manfaatin lo” ujarku. Raka terdiam mendengar penjelasanku, lalu aku pun bertanya “lo kenapa bisa punya pikiran kayak kemarin dan nanya ke gue pula?” “menurut gue lo orang yang seru dan liburan ini pas banget buat lo untuk nenangin perasaan lo, that’s it” jelasnya. “Gue tipe pencemburu loh, tapi lo tenang aja itu gak bakal berlaku buat lo kok karena kita cuman buat seru-seruan. Jadi lo tetep bisa deketin cewek yang lo taksir” jelasku dan dia hanya tersenyum.

Pagi ini Ata dan Kia sudah siap untuk berangkat kerja. Hari ini rencananya aku dan Raka akan membantu pak Wayan membersihkan gudang. “ini fotonya siapa pakde?” tanyaku pada pak Wayan. “itu fotonya nak Raka waktu berumur 3 tahun” jelas pak Wayan melihat foto Raka yang “jadul”. Saat aku sedang membereskan beberapa benda tiba-tiba tempat penyimpanan koran bekas yang ada diatas lemari belakangku jatuh namun Raka menahannya dengan tangannya.
“ka lo gak apa-apa?” tanyaku. “nak Raka gak apa-apa?” tanya pak Wayan menghampiri kami. “gak apa-apa pakde, mungkin cuman lecet sedikit di sini” ujarnya sambil memperlihatkan sikunya yang berdarah. “pak Wayan dimana kotak P3Knya?” tanyaku. “di tembok dapur non” jawabnya. Aku pergi mengambil kotak P3K lalu kembali. “lo kenapa jadi sok pahlawan gini?” tanyaku saat membersihkan luka Raka. “gue spontan aja Ros” jawabnya. “lo kan bisa teriak biar gue menghindar gak perlu sampe kayak gini” jelasku. “ya gue kan cuman pengen nyelamatin cewek gue” ujarnya. “yee.. sok romantis lagi lo” ujarku. “auu.. pelan dong, perih tahu” ujarnya. “itu biar lo gak usah sok pahlawan lagi” kataku saat membalut lukanya. “ini perbannya diganti setiap 4 jam sekali biar lukanya cepet kering dan sembuh” jelasku.

“kalian udah pulang?” tanyaku pada Ata dan Kia. “iya dan sore ini kita mau jalan-jalan dulu” ujar Ata senang. “cie yang mau kencan” goda Raka saat keluar dari dalam rumah. “iya dong, selamat kerja yah buat kalian. Yang semangat yah” ujar Ata semangat. Aku dan Raka hanya tersenyum melihatnya. “Kalian berdua hati-hati ya di jalan” ujar Kia. “iya” jawabku. “Gimana tangan lo?” tanyaku saat kami berjalan menuju halte. Raka tersenyum lalu aku memandangnya dengan selidik lalu dia berkata “lo khawatir sama gue ya?” “lah lo kan.. lo kan temen gue” jawabku kikuk dan Raka kembali tertawa. “Gue gak apa-apa dan lagi gak mungkin gue biarin lo berangkat kerja sendirian” jelasnya. Aku berjalan duluan meninggalkannya.

“senengnya bisa kerja bareng pacar sendiri” ujarnya saat kami selesai mengganti pakaian kami dengan seragam. Aku hanya tersenyum lalu meninggalkannya menuju pelanggan yang sudah datang. “Mas Tomy aku izin 15 menit ya” pintaku pada manajer kafe mas Tomy. Aku kemudian melihat Raka yang berjalan ke belakang. “ikut gue sebentar” ujarku sambil menarik tangan kirinya. “duduk sini” ujarku sambil mengeluarkan kotak P3K. Aku membuka perban yang lama kemudian membersihkan luka Raka dan mengganti perban yang baru. “kenapa Kevin bisa ngelepasin cewek kayak lo?” tanya Raka. “mungkin dia ketemu sama cewek yang lebih baik dari gue” jawabku. “finish, kita bisa balik kerja lagi” ujarku.
Gak terasa kami sudah menghabiskan waktu selama satu bulan lebih. Sekarang kami hanya memiliki waktu 2 minggu sebelum kembali ke Bandung. “guys hari ini ada pameran buku di UGM pada mau dateng gak?” kata Raka saat kami sedang sarapan. “iya gue mau dong” ujarku. Raka tersenyum ke arahku lalu berkata “kalian gimana?” “kita ikut” jawab Kia. “Hari ini kita izin kerja ya, gue pengen jalan-jalan” ujar Ata. “gimana kalo kita ke Malioboro? Gue pengen beli oleh-oleh ni” jelasku. “ok kita malioboro, sorenya kita ke UGM” sambung Raka.

Aku dan Ata sangat bersemangat hingga melupakan kehadiran Raka dan Kia. “semangat banget sampe gue gak dilihat” ujar Raka saat aku sedang melihat beberapa suvenir. Aku berbalik ke arah lalu tersenyum dan berkata “dimaklumin aja yah.” “sini gue bantuin” ujar Raka membantu membawakan plastik belanjaanku yang tidak banyak, “makasih” kataku. Raka menggandengku saat kami berjalan di lorong toko.

Sorenya kami berempat sudah siap pergi ke pameran buku. “Hai ka ketemu lagi di sini” ujar Rena. Kami masuk dan ternyata Rena adalah salah seorang panitia yang bertanggung jawab dalam pameran ini. Aku berkeliling sambil melihat koleksi buku yang disediakan dalam pameran itu. Raka menghampiriku “serius banget sih bacanya” ujarnya. “Ata sama Kia mana ya?” tanyaku sambil menolehkan kepalaku kanan kiri.

Ada seorang cewek cantik datang menghampiri aku dan Raka “hai ka apa kabar? masih inget gak sama aku?” tanya cewek itu pada Raka. “ehm Mita ya, kuliah di sini Mit?” Sapa Raka. “gak sih cuman kebetulan aja di sini” jawabnya. “kamu sama siapa kesini?” tanyanya lanjut. “aku sama temen-temenku. Kenalin ini..” sebelum Raka melanjutkan ucapannya aku langsung berkata “gue Rosi temennya Raka.” Raka tertegun mendengar ucapanku dan menatapku. Aku mencoba untuk tersenyum namun tidak dengan Raka. “Mit gimana kalo kita liat-liat yuk” ajak Raka. “Boleh, Rosi gimana?” tanya Mita. “Dia tadi lagi serius baca jadi gak usah diganggu. Yuk..” jelas Raka. Raka dan Mita berjalan meninggalkanku, Raka tak sedikitpun menoleh ke arahku. Aku bingung dengan sikap Raka, tiba-tiba saja hpku bergetar ternyata Kevin mengirim sms.

Kevin : ak liat km ditinggl prgi cwokmu sma cwek lain

Sontak aku kaget membaca smsnya lalu saat kuangkat kepalaku ternyata Kevin berdiri beberapa meter dari hadapanku. Entah bagaimana ceritanya Kevin bisa ada di tempat ini aku sendiri tak tahu. “bisa ngomong bentar Ros” ujarnya. Aku dan Kevin berjalan ke luar. Ata dan Kia melihat kami.

“kamu mau ngomong apa?” tanyaku saat kamo berada di sebuah taman. “aku pengen balikan sama kamu. Aku tahu perasaan kamu masih ada buat aku, iya kan?” jelasnya. “vin, aku tegasin sama kamu kalo aku udah gak punya perasaan apa-apa sama kamu. Jadi ayo kita sama-sama dewasa dan mengakhiri semuanya ini dengan baik-baik” ujarku. “apa kamu mau maafin cowok yang udah ninggalin kamu tadi?” tanyanya. “Dia temenku dan dia cowok baik-baik” jelasku. “aku tahu kok siapa dia, dia tu playboy Ros, perasaan kamu bakal dimainin sama dia” ujar Kevin. “seenggaknya dia gak kayak kamu yang munafik” ujarku kesal. “aku gak pengen berdebat sama kamu jadi tolong gak usah ada pembahasan kayak ini lagi. Selamat malam” kataku sambil berjalan ke dalam meninggalkan Kevin.

Rasanya aku ingin sekali berteriak. Kulihat Ata dan Kia cemas menatap ke arahku. Aku menghampiri mereka dan berkata “gue pengen pulang.” “Raka mana?” tanya Kia. “Dia lagi asik ngedeketin gebetannya” ujarku kesal. “wah Raka keren udah dapat gebetan aja di sini” ujar Kia, sontak Ata lalu memukul bahunya. “lo kesel karena Kevin atau karena Raka?” tanya Ata padaku. “tau ah, gue pengen pulang. Kalau kalian masih mau di sini gue bisa pulang sendiri” ujarku. “eh.. eh.. iya ayo bareng pulangnya” kata Ata. “si Raka gimana?” tanya Kia. “ya udah lo kasi tahu aja kalo kita pulang duluan kalo gak lo sms aja deh” jelas Ata.

Keesokkan paginya aku sengaja bangun lebih awal karena ingin menghirup udara pagi. Tanpa sengaja aku bertemu dengan Raka di teras namun dia berjalan seolah tak melihatku. Aku pun terus berjalan tanpa menyapanya. Setelah beberapa hari saat berada di kafe pun Raka tak mengajakku berbicara. Aku kaget melihat Kevin datang minum di kafe tempatku bekerja tapi aku mengacuhkan kehadirannya. “mba pesen lattenya satu ya” ujar Kevin padaku. “ok ditunggu ya mas” jawabku lalu meninggalkan Kevin. “eh mba bentar ganti deh” ujarnya. Kevin melakukan hal ini hingga ketiga kalinya dan saat yang ketiga Raka datang dan mengambil menunya dari tanganku. “ada yang bisa dibantu Mas?” tanyanya pada Kevin. Kevin menatap Raka begitupun sebaliknya, lalu menyebutkan pesanannya. “masih ada tambahan lagi?” tanya Raka, Kevin menggeleng. Raka berbalik ke arahku lalu berkata “lain kali jangan fokus sama satu pelanggan aja” lalu pergi meninggalkanku.
“apa sih maksudnya Raka?” batinku kesal saat aku pulang dari Kafe. Kulihat Mita menunggu Raka sebelum kafe ditutup. Mereka berdua kemudian pulang bersama, aku merasa kesal entah karena Kevin yang tadi datang atau karena Raka. Tanpa disadari besok adalah hari terakhir aku bekerja di kafe ini. Aku sudah berpamitan pada Mas Tomy dan berterimakasih karena sudah mengizinkanku untuk bekerja di kafe.

“lo sendirian aja ta?” tanya Kia saat aku tiba di rumah. “iya, kenapa memangnya?” tanyaku balik. “Raka mana? Kok gak bareng?” tanya Ata yang keluar dan duduk di teras bersama kami. “Lagi ngedate” jawabku singkat. “lo gak cemburu kan Ros” tanya Ata lanjut. “gak lah..gue mau mandi dulu mau packing. Tiketnya udah pada lo pesen kan?” tanyaku, mereka berdua mengangguk.

Paginya kami berpamitan pada pak Wayan. Aku sama sekali tak melihat sosok Raka. “pak makasih banyak yah buat semuanya” ujarku sambil menyalami tangan beliau disusul Kia dan Ata. “loh Raka gak ikut pulang pak?” tanya Ata. “gak non Ata. Dari semalam nak Raka belum pulang” jelas pak Wayan. Aku merasa khawatir dengan Raka, namun saat kuingat kejadian semalam saat dia pulang bersama Mita membuatku kembali merasa kesal. Selesai sarapan kami bersiap untuk ke stasiun diantar oleh pak Wayan sendiri.

Setibanya di stasiun kami berterimakasih sekali lagi pada pak Wayan. Sebelum meninggalkan kami pak Wayan memamnggilku “nak Rosi boleh bapak bicara sebentar berdua” ujar beliau. “Oh silahkan pak ada apa?” tanyaku. “ini ada surat dari nak Raka buat nak Rosi” ujar pak Wayan sambil memberikan sebuah amplop berwarna merah. “semalam nak Raka yang memberikan ini pada Bapa” jelas pak Wayan. Aku sedikit kaget dengan surat itu lalu kubuka dan kubaca.

“Dear Rosi..
Ini kali pertama aku nulis surat buat cewek. Sorry kalo style sedikit tradisional. Rosi, aku pengen kamu tahu kalo aku seneng banget selama 2 bulan ini bisa bareng-bareng sama kamu. Awalnya aku emang kasihan sama kamu karena kebahagiaan kamu tertahan karena belum bisa move on. Tapi saat kamu nerima tawaran aku buat jadi pacar aku selama kita di Jogja aku kaget dan seneng juga. Kagetnya karena cewek sedrhana kayak kamu bisa ngambil keputusan kayak gitu dan senengnya karena aku bisa kenal kamu lebih jauh. 2 bulan emang waktu yang singkat tapi gak sama Cinta yang bisa datang kapan aja. I’m in love with u Rosi. Entah kamu percaya atau gak tapi ini yang aku rasain. Kalau kamu mau dan kamu bisa, datang ke tempat pertama kali kita datengin bareng aku tunggu kamu disana.”
Raka

“guys kayaknya gue gak bisa pulang hari ini, ada urusan yang mesti gue selesaiin” jelasku pada Ata dan Kia. Mereka berdua tersenyum lalu berkata “hati-hati yak” teriak Kia. “kita tunggu di Bandung” ujar Ata. Aku menghampiri pak Wayan yang sepertinya sudah sengaja menungguku. “pakde bisa tolongin anterin saya ke kafenya mas Tomy?” ujarku. Pak Wayan tersenyum lalu mempersilahkan aku masuk.

Seampainya di kafe ternyata sepi. Aku baru sadar hari ini adalah hari minggu. Aku membuka pintu depan ternyata pintunya tidak dikunci. Kulihat tidak ada yang berbeda dari interior kafe itu. Tiba-tiba saja sebuah layar LCD diturunkan dan ditayangkan fotoku saat tidur di kereta, saat berdiri di gerbong kereta hingga saat aku bekerja di kafe. Kulihat bayangan Raka muncul dari belakang layar tanpa senyuman di wajahnya.

“ini apa?” tanyaku sambil mengambil amplop merah berisi surat darinya. “kamu gak tahu ya kalo aku kesal sama kamu” ujarnya. “emang kamu pikir aku gak kesal sama kamu. Kamu tiba-tiba diemin aku” kataku tak mau kalah darinya. “aku tahu aku emang dikenal playboy apa karena itu kamu gak mau ngakuin aku sebagai cowok kamu? Kenapa waktu di pameran kau bilang kamu itu temen aku?” tanya dengan nada yang benar-benar kesal. “apa kamu gak pernah ngerasain kalo perasaan aku tulus ke kamu?” suaranya sedikit mengeras.
Aku menutup mulutku ternyata dia marah karena hal itu. “ya itu karena aku pikir kamu bakal ngedeketin cewek itu dan lagi hubungan kita gak serius” jelasku. Raka mendekat ke arahku “Rosi, apa di surat itu kurang jelas. Aku jatuh cinta sama kamu” ujarnya tepat di hadapanku. Dia menudukkan kepalanya di depanku lalu berkata “tolong jangan liat aku sebagai seorang playboy karena aku udah jatuh cinta sama kamu.” Aku mengambil lengannya yang pernah terkilir karena menolongku, kulihat lukanya sudah sembuh lalu kembali menatap Raka. “makasih yah buat perasaan kamu, lain kali jangan diemin aku kayak kemarin. Aku gak bisa kalo kamu diemin kayak gitu” ujarku.
Kulihat raka tersenyum lalu dia berkata “jadi itu artinya kamu terima perasaan aku?” aku mengangguk sambil tersenyum. Raka lalu menarik tanganku dan memelukku dan aku tersenyum dalam pelukkannya.

THE END

Cerpen Karangan: Oky Andriana
Blog / Facebook: httpstoryofmylife.blogspot.com / andriana oky

Cerpen Dear Rosi (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Forever For You

Oleh:
Pagi yang cerah, aku terbangun dari mimpiku. Menurutku itu adalah mimpi yang indah. “Semoga mimpi itu tercapai!” seruku dalam hati. kemudian aku masuk ke kamar mandi dan bersenandung riang.

Kamulah Duniaku

Oleh:
LDR? Yup, Long Distance Relationship. Begitulah hubungan yang dijalani oleh Luna dan Andrian 6 bulan terakhir ini. Andrian yang berprofesi sebagai seorang model menuntutnya untuk menjadi profesional. Andrian ditempatkan

Luluh

Oleh:
“Slekk.” Fasha menatap Tami yang berjalan ke arahnya dengan sangat tajam. Hingga Tami hanya diam mematung tanpa kata. Ish! Kenapa sih nih anak ngelihatin gue begitu banget. Gumam Tami

Cinta Yang Dulu Kini Kembali

Oleh:
Sebuah kamar berwarna biru laut terlihat seorang gadis sedang menatap pemandangan di luar jendela. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu lalu gadis itu bangun dan membuka pintu kemudian masuklah seorang

Cinta di Dunia Maya

Oleh:
“Although we have never met… but you were able to make me comfortable… I guess I’m fall in love…” Begitu statusku di fb. Namaku Indah, aku adalah seorang gadis

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *