Definisi Cinta (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 31 December 2013

Malam begitu terasa sepi. Ingin rasanya aku memiliki seorang kekasih. Seorang pria yang mampu membuatku nyaman. Memberiku perhatian. Dan tentunya melindungiku. Dulu memang aku tak mengenal apa itu cinta. Dan tak pernah terpikir dalam kepalaku untuk mencintai seorang lelaki, yang kudambakan di setiap mimpi-mimpiku.

Namun sekarang aku melihat betapa besar kekuasaan Allah yang menciptakan sebuah rasa yang bernama cinta. Menyatukan dua orang berlainan jenis untuk saling memberi. Saling menyayangi. Dan sekarang rasa itu tengah menghampiriku. Menghampiri seorang gadis yang bodoh tentang cinta. Yang tak tahu harus berbuat apa.

Kutatap sendu pada langit hitam di hadapanku. Sebuah lukisan malam yang terbingkai sebuah jendela bertirai kain sutera biru, warna kesayanganku. Terlihat bintang-bintang kecil serta bulan tersenyum menatapku. Mencoba membawaku ke alam mimpi.

“Seandainya aku adalah engkau bintang, aku akan melukiskan wajahnya di langit malammu. Tetapi aku bukan engkau bintang. Seandainya aku adalah engkau bulan, aku akan menghiasi malamnya. Tapi aku bukanlah engkau bulan.”

Diam-diam aku menatapnya. Mencuri pandang, meski ia tak pernah melihat ke arahku. Bisa melihatnya, membuatku merasa bahagia. Dan aku tahu, aku tak mungkin bisa bersamanya. Meski sebesar dunia ini aku mencintainya. Seluas samudera aku merindukannya. Tapi itu tak akan menjadi jalan untuk mempertemukan kami.

“Mia!” seseorang menepuk bahuku dan berteriak memanggil namaku di dekat telingaku. Membuat gendang telingaku sakit saja. “Sedang apa elu di sini?”

Aku menoleh pada sosok Alia. Alia adalah sahabat terbaikku. Ia gadis yang cantik, pintar, supel dan kaya. Banyak cowok yang mendekatinya dan berusaha untuk mendapatkan cintanya. Tapi entah apa alasannya, Alia selalu menolak cinta para cowok-cowok tampan yang mendekatinya.

“Ehm… Aku…” Kataku terbata-bata, seraya melirik ke arah kiriku, dimana seorang cowok tampan tengah berdiri di antara para gadis cantik dan terkenal di sekolahku. Juno, cowok blasteran Indonesia-Cina itu emang jadi Idola sekolah saat pertama masuk. Selain tampan, dia juga supel dan pintar dengan berbagai piala juara pertama akademik maupun non akademik berhasil ia sandang. Ia juga murid kesayangan SMU SANTA PERSADA. Dan ia menjadi ketua OSIS di sekolahku.

Alia ikut-ikutan melirik ke arah Juno, detik berikutnya ia kembali memandangku dan berdehem.

“Eh-ehm! Gue tau apa yang sedang elu lakuin di sini.” Ucapnya sambil matanya bermain nakal menatapku.
“Sudahlah Alia. Kau jangan menatapku seperti itu.” Ketusku dan berjalan menjauh dari ruang OSIS.
Alia mengejarku dan merangkul bahuku.
“Kenapa sih elu gak bilang sama dia, kalau elu suka sama dia?” tanyanya padaku dan kubalas tatapan tajamku.
“Jangan ngomong ngaco kamu.” Seruku yang hampir mirip bisikan.
“Habis elu selalu kucing-kucingan kalau pengen ngelihat dia. Kesannya kan elu kayak maling yang mau ngerampok rumah seorang Jenderal”
“Iya. Jenderal tampan.” Sahutku asal dan berjalan cepat meninggalkan Alia.
“Eh tunggu, Miaaaaa!” Alia mencoba menjajari langkahku.

Lima tahun kemudian.
Sudah dua hari semenjak Mama memutuskan untuk menjodohkan aku dengan anak dari temannya. Aku memang sudah menolak perjodohan itu. Tapi Mama selalu mengancam kalau aku tak mau menerima perjodohan itu, maka aku tak akan bisa melihat Mama lagi. Karena Mama mengancam akan bunuh diri. Sebenarnya yang membuatku penasaran adalah, mengapa Mama begitu ngototnya menjodohkan aku dengan anak dari temannya? Apa lelaki itu sangat tampan dan bisa dibanggakan? Mengingat Mama tak pernah sembarangan menyukai orang, apalagi seorang lelaki yang akan menjadi suamiku.

Mama adalah seorang wanita berusia 44 tahun. Dan ia seorang single parent selama kurang lebih sebelas tahun, yakni setelah kepergian Papa karena kecelakaan naas. Waktu itu, kehidupan Mama tak sebaik kehidupannya yang sekarang. Punya rumah mewah, butik, beberapa perusahaan elektronik dan restoran. Dulu Mama adalah wanita yang berkehidupan cukup tanpa bisa bermewah-mewah apalagi jalan-jalan keluar negeri.

Selepas meninggalnya Papa yang hanya meninggalkan warisan rumah sederhana dengan uang pensiunan pegawai sipil, sempat membuat kehidupan Mama terpuruk dan nyaris dicap gelandangan. Kalau saja tidak datang seorang laki-laki yang menawarkan dirinya untuk menjadi suami Mama, mungkin aku tak akan bisa menjadi seorang Mia yang berkelulusan Sarjana.

Yeah, Mama menikah lagi dengan Om Radit, seorang pengusaha wiraswasta elektronik. Dan dua tahun setelah menikah dengan Mama, perusahaan Om Radit berkembang pesat, mengubah kehidupan kami yang semula hidup pas-pasan menjadi keluarga yang hidup berlebihan. Namun kebahagiaan Mama tak bertahan lama. Lima tahun pernikahan Mama dan Om Radit tak bisa memberi kebahagiaan abadi untuk Mama. Karena Om Radit meninggal akibat sakit jantungnya. Dari pernikahan Mama dan Om Radit, tak memberiku seorang adik. Dan tetap menjadikanku anak tunggal Mama.

Untuk itulah aku tak bisa menolak keinginan Mama untuk dijodohkan. Karena kalau aku menolak permintaannya, itu berarti aku harus bersiap-siap untuk hidup sebatang kara tanpa keluarga.

Namun hatiku kembali menangis ketika aku menyadari satu hal. Hal yang tak pernah terlupa dari kepalaku. Cinta masa SMA-ku. Meski sudah lima tahun tak melihatnya, tapi aku masih tetap menyukainya seperti dulu.

Dan rasa itu tak akan pernah sirna dari hatiku walau apapun yang terjadi, kecuali Allah menghendaki kami berpisah.

“Mia, gue denger dari nyokap elu, katanya elu mau dijodohin ya?” Tanya Alia dengan mulut penuh kentang goreng. Dan sekarang kami sedang berada di mall. Tepatnya kami tengah makan siang.

“Ehm.” Sahutku tak bersemangat. Sudah setengah jam, tanganku terus menerus mengaduk jus jeruk di hadapanku. Kentang goreng yang kupesan sudah habis separuh dimakan Alia. Sedangkan kentang goreng miliknya sudah habis sepuluh menit yang lalu.
“Terus?” tanyanya lagi, masih dengan kegiatan mencomot kentang gorengku.
“Terus aku mesti gimana?” tanyaku balik.
“Ya kalau elu sayang nyokap elo. Elu harus mau dijodohin.”
“Kalau enggak?” tanyaku lagi.
“Berarti elu harus siap-siap jadi anak durhaka dan hidup sebatang kara karena nyokap elu bunuh diri.”
“Aaaaaaargh.” Jeritku sambil menundukkan kepalaku pada meja. Aku benar-benar frustrasi. Aku bingung. Harus menerima perjodohan itu, yang artinya aku harus menikah dengan lelaki yang tak pernah aku cintai, apalagi tak aku kenal. Atau menolak perjodohan itu, yang artinya aku harus siap-siap dicap anak durhaka dan menjadi sebatang kara. Aku benar-benar bingung. Aku mengangkat kepalaku dari atas meja dan menggeleng pasrah.
“Apa yang harus kulakukan?” tanyaku sambil menatap kosong pada arah eskalator yang membawa orang-orang untuk naik ataupun turun. Tetapi detik kemudian wajahku berubah cerah dan tersenyum lebar.

Melihatku tiba-tiba tersenyum dan berubah drastis, Alia lantas menghentikan acara mencomot makananku dan menatapku serius.
“Mia! Elu kenapa? Kok tiba-tiba kayak orang kesambet sih?” tanyanya panik.
Aku masih tersenyum dan menatap ke arah eskalator.
“Elu tau gak, kalau gue udah nemuin jalan keluarnya?” ucapku memanggil Alia dengan sebutan ‘elu’.
Alia memicingkan matanya dan menempelkan punggung tangan kanannya ke atas keninggku.
“Elu demam ya? Sejak kapan elu ber’elu’ dan ber’gue’?”
“Sejak satu detik yang lalu.” Sahutku lantang dengan senyum yang masih menghiasi bibirku. “Lihat deh siapa yang aku lihat?”

Alia menoleh ke arah yang kutunjuk. Sejenak ia diam. Mungkin ekspresi kaget Alia, sama yang kurasakan satu menit yang lalu saat melihat sosok itu tengah berdiri di samping eskalator.
“Astaga! Itu kan Juno?!” seru Alia dan membekap mulutnya.

Yeah yang kulihat sedari tadi adalah sosok Juno, cowok yang kusukai sejak SMA. Cowok yang lima tahun lalu pergi ke Aussie untuk melanjutkan studinya. Dan sekarang sosok Juno malah sedang berdiri di samping eskalator dengan beberapa temannya yang bule-bule.

“Apa dia sudah balik dari Aussie?” tanyaku tanpa sengaja.
“Sepertinya begitu.” Sahut Alia. “Eh lihat! Siapa gadis itu?!” Alia menunjuk pada seorang gadis bule cantik yang bergelayut mesra di dalam pegangan Juno.
“Entahlah.” Sahutku tak bersemangat.
Apa mungkin ia sudah memiliki seorang kekasih? Yang artinya, aku menjadi patah hati sebelum bisa merasakan bagaimana dicintai?
“Sebaiknya kita pulang saja. Wajah elu pucat banget. Mungkin elu kecapekan setelah berkerja seharian.” Tukas Alia sembari membayar bon. Dan aku bangkit dari dudukku dengan rasa malas.

To Be Continued…

Cerpen Karangan: Mia
Facebook: www.facebook.com/der.laven3

Cerpen Definisi Cinta (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Destiny

Oleh:
Kehidupan yang kita jalani takkan selamanya tetap. Bisa berubah menjadi lebih baik ataupun sebaliknya. Kata kehidupan identik dengan sebuah takdir yang tertulis sebagai sebuah tangan nasib. Takdir seseorang itu

Asmara Di Asrama

Oleh:
Orang bilang, asmara di asrama itu menyenangkan dan sangat indah. Tetapi kayaknya tidak, buktinya aku tidak tertarik sama sekali untuk mencobanya. Drap, drap, drap. Suara kaki para siswa asrama

Kado Dua Belas Jam

Oleh:
Hari yang menyebalkan bagi Rafa. Ia harus membatalkan double datenya demi menjemput seseorang yang merepotkan. Safa, gadis keriting berkulit putih yang merupakan saudara kembarnya. Baru beberapa bulan yang lalu

7 Years of Love

Oleh:
Ku pandangi langit malam ini yang menyembunyikan indahnya cahaya rembulan melalui jendela kamar ku yang ku biarkan terbuka, terdengar sayup lantunan lagu Kyu Hyun “7 Years Of Love” dari

Cinta Di Jam 11.00 Malam

Oleh:
Di malam itu, di tempat Rico kost. Sedang ada sebuah acara makan-makan oleh seluruh penghuni kost, karena salah satu teman Rico sedang berulang tahun hari itu, mengetahui adanya acara

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *