Delapan Belas Hari Berujung Sendu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 27 June 2013

Teet, bel tanda pulang sekolah berbunyi. Aku langsung keluar kelas dan menuju ke kelas Cintia. Seperti biasa, kami selalu pulang bersama.
“Putri, tunggu!” teriak Cintia dari dalam kelasnya. Kawanku yang satu ini memang agak aneh. Ia selalu mengajakku pulang bersama, padahal sebenarnya arah jalan kami untuk pulang ke rumah berbeda.
“Eh, tunggu Nita dulu ya, dia lagi apel,” kata Cintia.
“Iya deh, Cinta,” jawabku. Cinta itu panggilan sayang untuk sahabatku, Cintia.

Kami memutuskan menunggu Nita di meja piket. Di sana aku melihat Kak Dika dan Kak Uya. Mereka adalah senior dari salah satu ekskul di sekolah kami. Tapi, heii! Aku melihat Kak Uya sedang memperhatikan Cintia.
“Cinta, ada yang lagi ngeliatin kamu,” bisikku pada Cintia. Cintia mengangkat salah satu alisnya yang berarti “Siapa?”
“Tuh, Kak Uya,” jawabku lirih sambil memasang bibir manyun ke arah Kak Uya.
Cintia mengalihkan pandangannya ke arah Kak Uya. Dan, walla, ada yang SalTing alias “Salah Tingkah”.
“Ahayy, kayaknya sahabatku lagi di taksir sama kakak kelas nih,” gumamku. Aku terkekeh. “Ckckck,” kata Cintia.
Aku memberi kode pada Kak Dika, beruntung ia langsung mengerti. Lalu Kak Dika membisikkan sesuatu pada Kak Uya.
“Dorr!” Nita mengejutkan kami dari belakang. Ternyata apelnya sudah selesai.
“Udah selesai?” tanyaku.
“Udah lah,” jawab Nita.

Aku, Cintia, dan Nita berjalan ke arah parkiran. Kak Dika dan Kak Uya mengikuti dari belakang. Cintia dan Nita terus ke parkiran, sementara aku menunggu di gerbang bagian dalam.
“Dek, siapa nama temennya yang pake tas pink tadi?” tanya Kak Uya padaku.
“Oh, yang itu namanya Cintia kak. Kenapa? Naksir ya!” kataku sambil menggoda Kak Uya.
Ia tersenyum, “Punya nomornya gak, dek?”
“Ada, tapi gak hafal kak. Besok aja ya,” jawabku.
Cintia datang dengan mengendarai motornya, “Duluan ya,” katanya. Setelah Cintia pulang, barulah Kak Uya pulang.
Yang tersisa hanya aku dan Kak Dika.
“Kak Dika, pulang yuk,” ajakku.
“Ayo deh,” jawabnya.
Kami berjalan beriringan. Ya, rumah kami memang berdekatan.

* Keesokan paginya *
“Assalamualaikum, Cintaaa!” teriakku sambil menghampiri Cintia ke kelas X.6.
“Apa sih, Put?! Heboh banget kayaknya,” tanyanya dengan wajah yang bingung.
“Kak Uya minta nomor kamu kemarin, kamu mau ngasih gak?” ujarku.
“Kak Uya minta nomor aku? Kapan ya?” katanya dengan nada yang heran dan seperti tidak percaya.
“Kemarin, waktu kamu sama Nita lagi di parkiran ngambil motor,” aku menjawab.
Cintia berpikir sejenak, “Ya udah, kasih aja,” katanya menyetujui. Cintia langsung menuliskan nomor hapenya di secarik kertas.
“Nih nomornya,” kata Cintia sambil memberikan secarik kertas tadi. Aku tersenyum.

Setelah kertas itu berada di genggamanku, langsung aku mencari Kak Uya. Dan, ketemu!
“Kak Uya,” aku memanggilnya dengan suara yang cukup keras. Dia menoleh ke arahku, aku menghampirinya.
“Nih nomornya kak,” kataku sambil memberikan secarik kertas yang ku pegang.
“Cepet banget dapetnya, dek,” kata Kak Uya keheranan.
“Hebat kan! Hehe,” ucapku sejadinya sambil mengedipkan mata. “Udah kan? Aku langsung balik ke kelas ya, kak.”
“Oh, iya deh. Mmh, makasih ya dek,” kata Kak Uya. Aku hanya tersenyum.

Hari terus berganti. Aku merasa ada sesuatu yang aneh. Sepertinya Cintia dan Kak Uya semakin, lengket (Eeeuww, lengkeet). Mereka juga sering terlihat jalan bersama. Di sebuah kesempatan, aku menanyakan hal itu pada Cintia.
“Cinta, kayaknya akhir-akhir ini ada yang beda deh,” kataku.
Raut wajahnya berubah, seperti seseorang yang sedang ketakutan dan merasa terdesak karena rahasianya mulai diketahui.
“Kenapa, put? Apanya yang beda?” tanya Cintia pura-pura tidak tahu.
“Hayoo ngaku, pasti kamu sama Kak Uya ada apa-apanya nih. Makin hari makin nempel aja,” ucapku asal.
Cintia tidak berkomentar. Tetapi selang beberapa saat, ia mengakuinya.
“Iya, sebenernya aku sama Kak Uya udah jadian dua hari yang lalu,” kata Cintia.
“Heeh..?! Kalian udah jadian terus aku gak di kasih tahu! Iih, tega yaa,” jawabku dengan bibir yang manyun.
“Maaf deh, habisnya kata Kak Uya jangan bilang sama siapa-siapa dulu. Kak Dika yang sahabat deketnya aja juga belum tahu,” ujarnya membela diri.
Aku diam, aku sedikit tidak percaya terjadi secepat itu. Tapi, tetap saja aku sedih, karena tidak satupun dari mereka yang memberitahuku, setidaknya memberi tanda.

Hubungan mereka terus berjalan manis. “Mmh, sepertinya aku merasa sedikit iri. Tapi mereka kan orang-orang terdekatku, seharusnya aku gak boleh iri kayak gini,” gumamku dalam hati.

Di hari Selasa pagi yang tidak terlalu cerah, Cintia datang mengatakan hal yang dapat membuat jantungku lepas dari kedudukannya.
“Put, aku pengen putus,” ujar Cintia memulai pembicaraan.
“Hah, putus..?! Gara-gara apa?” tanyaku dengan mata yang membelalak.
“Aku gak tau kenapa, Put. Tapi aku ngerasa ada sesuatu yang bikin aku gak nyaman,” kata Cintia sedih.
Aku bingung harus jawab apa. Di satu sisi aku tidak ingin hubungan mereka berakhir, tapi di sisi lain aku tidak bisa memaksakan Cintia untuk mengikuti keinginanku.
“Coba deh diomongin baik-baik dulu,” bujukku pada Cintia.
“Aku gak bisa, Put. Aku tetep pengen putus, gak apa-apa kan?” katanya dengan nada yang terdengar sedikit ragu. Tak ada yang kuucapkan.
Malam harinya aku mendapatkan sebuah pesan singkat dari Kak Uya.
“Dek, Cintia mutusin kakak,” begitu isi pesannya.
Aku menarik nafas panjang, aku sangat menyayangkan hal ini. Aku balas pesan dari Kak Uya, “Olala, udah selesai ya?”
“Iya, Cintia mutusin kakak tadi sore. Kakak gak tahu kenapa, adek tahu gak?” tanya Kak Uya dalam balasan pesannya.
“Aku harus bilang apa? Kayaknya aku gak usah ikut-ikutan deh,” pikirku.
“Maaf kak, aku juga kurang tahu kenapa Cintia kayak gitu. Soalnya dia gak cerita apa-apa,” aku menjawab pertanyaan Kak Uya.
Percakapan lewat pesan singkat antara aku dan Kak Uya terus berlanjut.
“Dia juga kayak gak mau ketemu sama kakak gitu, setiap ngeliat kakak dia selalu menghindar,” balas Kak Uya.
“Heeh, Cinta kenapa? Kok segitunya sih,” gumamku.
Aku kembali membalas pesan dari Kak Uya tadi, “Aneh, kak. Gak biasanya dia kayak gini. Dia gak mau ketemu kakak dan dia gak cerita apapun soal hubungan kalian ke aku.”
Aku melamun, tidak mengerti dengan perubahan sikap Cintia. Tiba-tiba lamunanku pecah karena hapeku bergetar. Kak Uya membalas pesannya.
“Dek, tolong bilangin sama sahabatnya, besok kakak mau ketemu dia sebentar aja. Kakak cuma mau ngelurusin semuanya. Kakak kan masuk baik-baik, jadi keluarnya juga harus baik-baik,” begitu isi pesannya. Itu adalah pesan terakhir yang dikirimkan Kak Uya.
“God, ini rasanya seperti hujan meteor. Huft..” gumamku.

Pagi-pagi sekali aku datang ke sekolah dan segera mencari Cintia, sahabatku yang sekarang lagi aneh. Aku ingin menyampaikan pesan dari Kak Uya.
“Cinta, ada yang mau aku kasih tahu,” kataku.
“Tentang apa, Put? Penting gak? Kalo gak penting atau tentang Kak Uya mending gak usah deh,” ucapnya seolah-olah tidak peduli.
“Ini tentang Kak Uya dan ini penting!” ujarku dengan nada yang agak sedikit menyentak.
“Aku cuma mau ngasih tahu permintaan terakhir dia, itu aja. Dia mau ketemu kamu untuk yang terakhir, cuma buat memperjelas semuanya. Dia kan masuk baik-baik, jadi keluarnya harus dengan baik-baik juga,” lanjutku.
Cintia membisu, lalu dia meninggalkanku. “Heii! Apa yang terjadi dengan anak itu?! Aku benar-benar tidak mengerti. Tingkah lakunya, aneeh.”

Aku menceritakan kejadian tadi pada Kak Uya. “Ya udah dek, makasih karena udah banyak bantuin kakak. Soal ini, biar nanti kakak aja yang nyelesain pas pulang sekolah,” tanggapnya singkat.

Sepulang sekolah aku berdiri di suatu tempat, memperhatikan sesuatu yang akan terjadi dari kejauhan. Aku melihat Kak Uya, dan Kak Uya juga melihatku. Aku mengarahkan jariku ke salah satu arah, memberitahu kalau Cintia akan keluar. Kak Uya bersembunyi.
“Cintia,” ia memanggil dari arah belakang.
Cintia menoleh ke arah belakang, dan ia mendapati Kak Uya yang tadi memanggilnya. Cintia tampak bergegas, tapi sayang Kak Uya lebih cepat darinya. Aku masih memperhatikan.
“Dek, kakak mau nanya,” ujar Kak Uya.
“Apa?” tanyanya singkat. Ternyata suara mereka masih terdengar jelas dari tempatku berdiri.
“Sebenernya apa alasan adek mutusin kakak?” Kak Uya benar-benar ingin tahu.
“Adek ketahuan ortu, kak. Makanya adek gak bisa ngelanjutin,” jawab Cintia.
”Cinta ketahuan?! Aku gak percaya, itu alasan yang sepele. Kalo cuma karena itu seharusnya dia mau cerita sama aku, dan itu gak sesuai sama yang dia ceritain waktu itu,” gumamku.
“Cuma itu?” Kak Uya meyakinkan. Cintia hanya mengangguk.
“Ya udah, kakak minta maaf kalo selama delapan belas hari kita jalan kakak punya salah. Mulai dari sekarang kakak lepasin adek,” itu kata-kata terakhir yang diucapkan Kak Uya. Mereka berpisah.
“Aaargghh, saus kacang! Aku gak kuat ngeliat ini,” ucapku ketika melihat adegan terakhir yang mereka lakukan.
Selepas dari hari itu, aku melihat dua makhluk Tuhan yang baru saja terpisah menjalani harinya masing-masing. Tapi aku lebih memperhatikan Kak Uya, ia tampak murung. Kasihan Kak Uya. Benar-benar delapan belas hari yang berakhir dengan sendu.

Cerpen Karangan: Destia Eka Putri
Facebook: Destia Eka Putri Azhar

Cerpen Delapan Belas Hari Berujung Sendu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Di Balik 13

Oleh:
Semilir angin malam menyapu debu-debu kusam halaman apartemen wiraswara No.13 jalan Ahmad Yani jakarta timur itu. Pohon-pohon bergetar dan dan menjatuhkan daun daun kering. Beberapa kali terdengar suara lolongan

Ego

Oleh:
Seorang gadis berjalan tergesa menyusuri koridor sekolah. Suara genderang perang seolah mengiring derap langkah. Terlihat otot-otot pada tubuh gadis itu menegang. Ada aura hitam bercampur merah yang menyelimuti jiwanya.

Boarding Love On (Part 1)

Oleh:
Ini adalah langkah awal bagiku untuk kembali menata dan merancang masa depanku, dan ini adalah saatnya aku untuk menghabiskan masa remajaku dengan berjuta cerita yang akan menjadi memori terindah

Jeanoky Vanjaya

Oleh:
Di malam hari gue yang sedang galau, galau banget hanya bisa berdiam diri di taman belakang rumah gue sambil menatap bulan. Gue sebut aja nama gue Chia kata temen

Arwah, I Love You

Oleh:
Disinilah aku saat ini, menangis sendirian di sebuah lorong belakang sekolah, mencoba menyendiri dan menenangkan diri. Apa salahku? Mereka selalu saja membullyku, tidak ada yang membelaku sama sekali. Oh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Delapan Belas Hari Berujung Sendu”

  1. Nida says:

    Sedih sih, tapi konyol juga.. Asik-asik.. Lanjut nulis aja deh,, aku juga salah satu penulis cerpen remaja bertema romance, comedy, dan Mellow, aku juga salah satu big fabs nya Mbak esti kinasih dan Donatus A. Nugroho. kapan-kapan aku upload deh cerpen aku.. Ayo maju terus cerpen-cerpen Indonesia!! yang baru aku baca keren juga..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *