Dengan Cinta, Dalam Diam, Rindu Itu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 2 January 2017

Dear Mama, ini hitungan ke 365.
Mama sedang apa? Rintik pertama hari ini tepat mengenai pipiku. Pipi yang sama pada 365 hari yang lalu. Aku mulai menikmati hujan walau sendiri. Hari ini kutemui bapak penjual dawet itu lagi. Dia menanyakan mama. Lalu kujawab dengan senyum termanisku. Tenang saja, aku sudah belajar untuk tersenyum ikhlas.

Oiya mama, laki-laki itu menemaniku lagi. Dia menggandeng tanganku mesra. Dia juga membelikan satu tangkai mawar untuk mama. Nanti aku berikan ya. Mama tunggu aku datang.

Mungkin nanti aku sedikit terlambat. Karena hari ini hari pertamaku mengajar di sekolah itu. Sekolah yang selalu mama tunjuk-tunjuk itu. Mama senang kan? Bukankah ini impian mama? Aku jadi guru termuda disana. Sekarang sudah lebih banyak anak yang belajar disana mama. Dan mereka sangat lucu. Seperti yang mama katakan.
Sudah dulu ya ma. Nanti kita bertemu. I love you.

Hari ini adalah hari paling menyenangkan untuknya. Ratna, gadis 21 tahun yang menjadi tetanggaku selama 21 tahun. Dan selama itu pula kami belum pernah berkenalan secara langsung. Aku hanya dapat mengamatinya dari balik jendela rumahku. Dan pagi tadi pukul 08.00 WIB, kulihat mobil sedan parkir di halaman rumahnya. Mobil yang sama, pasti supir yang sama, dia Eki.

Selama tiga bulan terakhir ini aku sering melihat dia mengunjungi Ratna. Mereka juga sering pergi berdua dan pulang larut malam. Selama tiga bulan itu juga Ratna tak pernah berhenti tersenyum. Sekali-kali kudengar obrolan mereka berdua yang duduk di teras. Ratna bahagia, menceritakan kisahnya dan kisah tentang mamanya. Eki pula yang membangkitkan gairah bahagia Ratna.

Setahun kemarin, orang-orang di komplek menganggap Ratna menjadi frustasi. Dia pemurung, pendiam, dan pemarah. Tiap orang yang mengenalnya hampir selalu dia marahi tanpa sebab, termasuk aku.
Tapi kedatangan Eki merubah semuanya. Ratna menjadi periang kembali, seperti dulu. Pertama kali Ratna sembuh dari kegilaannya, dia langsung mengecat rumahnya dengan warna biru langit. “Ini warna kesukaan mama,” katanya padaku. Dan kubalas dengan senyum. Aku juga ikut membantu mengecat pagar rumahnya dengan warna hijau pupus. Dia berkata lagi, “Kalau itu kesukaan Eki. Perpaduan yang bagus bukan?”

Lalu tak terasa sudah tiga bulan berlalu semenjak Ratna memperbarui warna rumahnya. Kulihat Ratna yang memakai dress warna peach dengan rambutnya dikepang menuju mobil yang dibawa Eki. Kuikuti mereka dengan meggunakan motor kesayanganku. Hari ini Ratna terlihat lebih manis dari hari-hari kemarin. Lesung pipitnya serasa menggodaku untuk mencubitnya, tapi aku tahu dan cukup yakin bahwa aku tidak akan pernah bisa melakukan itu.

Mobil itu tiba-tiba berhenti di pekarangan sebuah yayasan pendidikan. Kulihat Ratna turun dari mobil dan masuk ke sebuah ruangan. Disana dia disambut banyak anak. Ratna mulai tersenyum bahagia. Hari ini pukul 09.00 WIB, dia mulai menjadi guru bagi anak-anak di yayasan itu. Dia mulai menyanyikan sebuah lagu yang samar-samar kudengar. Lalu dia mulai mengajarkan matematika dasar pada anak didiknya.

Matahari mulai tergelincir. Kutunggu dia di warung depan yayasan itu. Tiba-tiba, Ratna sudah duduk manis di sebelahku. Aku gugup dan salah tingkah, aku takut Ratna tahu bahwa aku mengikutinya. “Hai! Kebetulan ya kita bisa bertemu disini”, katanya sambil memegang bahuku. “Eeh… hehe. Iya nih kebetulan,” jawabku malu-malu. “Kita sering kebetulan bertemu ya. Aku sendiri heran. Dan secara kebetulan juga kita bertetangga,” dia tersenyum manis, “aku permisi dulu ya.” Mobil sedan yang tadi sudah bertengger di depan gerbang. Dengan senyum, Ratna menghampiri mobil itu.

Mereka kembali pergi tepat pada pukul 12.08 WIB. Kembali kubuntuti mobil itu. Ini adalah pekerjaanku sehari-hari. Mobil itu menuju jalan besar yang lumayan ramai pada siang ini, dan membuatku menjadi sedikit susah mengikuti laju mobil sedan itu. Entah mereka akan kemana. Yang jelas lumayan lama kuikuti mereka. Hingga terik matahari mulai menggerogoti kulitku. Hampir dua jam kuikuti mereka. Dan akhirnya mereka berhenti di sebuah bukit yang terdapat restoran sekaligus pemandangan yang indah.

Dear Mama
Mama, andai saja mama ikut denganku. Aku sedang memandang langit biru dengan awan putihnya mama. Ini kesukaan mama. Aku sedang bersandar pada bahu laki-laki yang sama. Kami berdua memesan es sekoteng dan duduk di atas bukit.
Tadi aku mengajarkan anak-anak yang amat lucu itu bernyanyi dan berhitung. Mama tahu lagu apa yang aku ajarkan pada mereka? Mama pasti tahu, itu lho ma lagu yang biasa mama nyanyikan untukku. Ambilkan Bulan Bu. Mama tidak lupa kan?
Ma, tadi juga sudah kupajang foto mama di jajaran foto pengajar disana. Foto mama terletak di samping foto Ibu Eti Suketi, guru yang paling besar di sekolah itu. Anak-anak mengatakan bahwa mama sangat cantik. Aku jadi senang mendengarnya. Mama juga pasti senang. Andai kita dapat mengajar bersama.
Aku lupa ma. Hari ini aku akan lebih terlambat lagi. Maaf mama, hari ini aku akan ke taman di tengah danau itu. Yang ditumbuhi bunga warna-warni. Yang mama sebut bunga itu bunga kertas. Tidak apa-apa kan? Tunggu aku sedikit lebih lama ya.
Sudah dulu mama. I love you.

Dia bersandar lagi di bahu Eki dengan laptop di tangannya. Sudah pasti dia sedang menulis catatan untuk mamanya. Entah apa yang dia pikirkan sampai dia tidak pernah berhenti menuliskan semua kisah itu, yang ia tujukan untuk mamanya. Aku tahu, Eki seperti merasa kurang senang pada kebiasaan aneh Ratna. Dia hanya berpura-pura menyukai tulisan-tulisan itu. Aku melihat dari raut muka tidak senangnya, jika ia melihat Ratna menyalakan laptop dan mulai menulis.

Gerimis tiba-tiba datang. Awan berganti warna menjadi abu-abu. Ratna dan Eki mulai beranjak dari tempat itu. Memasuki restoran yang mulai ramai didatangi orang yang kehujanan. Aku duduk memata-matai Ratna. Kupesan coklat hangat. Kuamati dia yang sedang mengobrol dengan Eki. Tapi tak sedikitpun dapat kumaknai gerak mulutnya itu.
Hujan turun mulai ramai. Suaranya bergemuruh mendatangankan dingin yang kian lama menyergap tubuh. Eki mulai membalut tubuh Ratna dengan peluk. Iri aku melihat mereka. Ratna juga tampak nyaman dalam dekapan Eki, hingga tak sedikitpun senyum beranjak dari bibir tipisnya.

Setengah jam aku duduk tanpa mendapat informasi apapun. Kuputuskan untuk duduk lebih dekat dengan meraka. Pelan-pelan kudekati mereka. Dan duduk tepat di meja belakang Ratna. Mulai kupasang kuping dengan seksama.
“Mama pasti akan bahagia mendengar kabar ini. Aku perlu menulis catatan lagi untuknya,” kata Ratna gembira. Eki mengusap rambut hitam Ratna, “tidak usah, toh kalau nanti kita sudah menikah kamu tidak perlu menulis catatan-catatan itu untuk mama. Siapa yang akan membacanya. Itu terlihat aneh. Orang-orang yang tahu kebiasaanmu ini juga pasti akan menganggap kamu orang aneh,” katanya. Ratna sedikit kecewa, tapi tetap saja dia tersenyum.

Sudah kukatakan Eki memang tidak pernah suka melihat kebiasaan Ratna. Tapi Ratna tetap saja memandang bahwa Eki itu benar-benar mencintainya, bukan sekadar jatuh cinta. Hujan mulai reda seiring berhentinya lamunan di benakku. Kulihat punggung Ratna mulai menjauhi pandanganku. Akan pergi kemana lagi gerangan.
Kulihat jam ditangan, pukul 14.35 WIB. Ekor mata Eki melirik ke arahku. Pura-pura kubetulkan ikatan tali sepatuku untuk menghindari pandangan matanya yang mulai mencurigai keberadaanku.

Eki merangkul pinggul ramping Ratna dengan lembut, dan mereka berjalan agak tergesa menuju mobil. Masih ada gerimis malu-malu, tapi mereka tetap saja pergi. Dengan berat hati harus aku ikuti walau dingin masih menyelimuti.
Jalanan sedikit legang sore ini, membuat pekerjaanku lebih mudah. Kuikuti mobil sedan yang melaju cepat itu. Mereka berhenti di sebuah danau yang luas. Ratna buru-buru turun dari mobil dan berlari menuju taman di tengah danau itu. Dia terlihat amat senang. Sesekali dia menjerit sedikit tertahan meluapkan kebahagiaannya. “Mama… Andai mama disini bersamaku. Lihatlah danau ini mama. Bunga kertas sedang bermekaran,” teriaknya.

Dear Mama
Aku berada di taman bunga kertas sore ini. Ini kedatanganku pertama kali bersama laki-laki itu. Dia menggantikan posisi mama sekarang. Hujan tadi membuat udara disini menjadi segar mama. Harum tanah basah menyambut datangku. Kulihat bunga kertas disini bermekaran. Ada titik-titik air bekas hujan di tiap kelopaknya.

Di pojok taman sudah ada kedai baru yang menjual kopi dan sosis bakar. Aku ingin mencoba kopi disana, bersama laki-laki itu. Pasti enak merasakan ekspresso hangat saat udara sedang dingin seperti ini. Andai kita dapat minum kopi ini bersama. Tapi aku sudah tahu jawaban mama, “jangan terlalu banyak, kasihan lambungmu.” Selalu saja begitu.
Oiya ma, aku duduk di bangku yang sama. Bangku tempat kita selalu menghabiskan waktu bersama. Bangku yang paling dekat dengan kumpulan bunga-bunga kertas berwarna merah dan biru. Tapi sekarang sudah ada laki-laki itu yang menggantikan mama. Aku amat senang hari ini. Aku dapat mengulang kebahagiaan kita selama dua puluh tahun kemarin. Berkat laki-laki yang menawarkan cinta semanis madu itu.

Tapi maaf mama. Mungkin esok aku sudah tidak dapat menuliskan semua ceritaku lagi. Mama tak perlu merindukan catatan-catatanku. Akan aku curahkan setiap akan tidur. Akan aku ceritakan hari-hariku lewat curhatan dalam bisikan hatiku.
Aku sudah berjanji pada laki-laki itu, bahwa aku akan berhenti menulis catatan ‘aneh’ untuk mama. Karena satu bulan lagi kami akan menikah. Aku akan menjadi seorang pengantin. Seorang yang akan didandani layaknya putri. Seperti kata mama. Jika mama ingin melihatku menjadi putri. Datanglah diam-diam dalam tiap hembusan angin.
Aku akan merindukan saat-saat menuliskan semua yang aku rasakan. Aku akan amat merindukanmu mama.
Sampai jumpa nanti. I love you.

“Sudah aku katakan, berhentilah menulis dan berkhayal mama akan membacanya. Kamu sudah cukup dewasa untuk menyadari tulisan konyol ini.” Dengan berat hati kulihat Ratna menutup laptopnya. Jika aku menjadi Eki akan kubiarkan dia tetap menulis. Karena aku tahu dia sangat menyayangi orang yang dia panggil mama. Tapi siapalah aku. Hanya penguntit yang selalu ingin tahu apa yang Ratna lakukan.

Ratna sedikit tertunduk dengan wajah murung. Tapi semenit kemudian dia sudah kembali tersenyum dan mencubit pipi Eki. “Ayo pergi. Mama pasti sudah menunggu kita datang. Mama juga pasti tidak sabar untuk bertemu dengan kamu,” kata Ratna sambil beranjak dari duduknya dan menarik tangan Eki untuk bangkit. “Mau kemana lagi mereka. Hari ini cukup melelahkan untukku,” bisikku dalam hati.

Pukul 16.48 WIB. Mereka pergi dari danau dan pergi dengan laju mobil dengan cukup kencang. Hari ini baru beranjak sore, tapi mereka sudah mengunjungi banyak tempat. Bensinku hampir habis dan aku mulai was-was jika motorku mogok di tengah misiku mengikuti Ratna. Tapi beruntunglah aku karena mobil sedan itu akhirnya berhenti. Di sebuah tempat yang cukup aneh. Pemakaman. Mereka menuju satu gundukan tanah yang tertulis disana sebuah nama yang indah. Elisa Marwati. Nama yang tidak asing bagiku.

“Bisakah aku menuliskan catatan lagi untuk mama? Aku ingin mengakhiri catatanku untuk mama. Tidak apa-apa ‘kan?”, kata Ratna. Eki sedikit bergumam, tapi akhirnya mengiyakan permintaan Ratna, walau dengan berat hati. Ratna benar-benar aneh. Dia tetap tersenyum melihat tampang Eki yang tidak mengenakan itu. Apa dia belum sadar bahwa Eki hanya jatuh cinta padanya, bukan mencintai dirinya.

Dear Mama, pada sore yang amat indah ini.
Tadaaa, lihatlah mama. aku telah sampai. Kubawakan bunga mawar hadiah dari laki-laki itu. Lalu kubawakan hadiah spesial untuk mama, baju rajutan ini. Yang belum sempat mama selesaikan. Aku belajar merajut. Awalnya sangat sulit, hingga jariku selalu saja tertusuk jarum. Tapi hari-hari berikutnya menjadi sangat mudah. Menurut mama apakah ini terlihat bagus?

Maaf mama aku harus datang sesore ini. Aku ingat setahun yang lalu mama meninggalkan aku dalam kehampaan. Aku hampir bunuh diri saat itu tapi ada seorang yang menahanku. Mama ingat tetangga kita yang bertingkah aneh itu? Dia yang menyadarkan aku. Walaupun akhirnya dia kumarahi habis-habisan. Akhir-akhir ini aku sering bertemu dia secara kebetulan. Dan dia…

Dengan tiba-tiba Eki menutup paksa laptop Ratna. Dan wajahnya sudah menunjukkan raut kemarahan. “Sudahkah menulisnya? Aku bukan patung yang harus menungguimu menulis! Mamamu itu sudah meninggal. Lihatlah! Kita duduk di pusaran kuburanya! Aku ingin kamu sadar. Kamu tidak perlu menulis catatan-catatan aneh ini lagi! Seperti orang gila!”. Berkali-kali Eki membentak Ratna. Kudengar Ratna mulai menangis. Isaknya sedikit tertahan. Aku tahu saat itu dia tidak ingin menangis. “Kamu menangis? Cengeng! Sebentar lagi kita akan menikah, dan kamu belum bersikap dewasa!”, lanjut Eki membentak Ratna.
Aku tak tega melihat pemandangan tak enak itu. Di depan kuburan orang yang paling Ratna sayangi mereka bertengkar. Mungkin lebih tepatnya, Ratna dibentak-bentak oleh laki-laki yang menemaninya selama tiga bulan terakhir ini. Tiba-tiba kulihat tangan Ratna digeret dengan kasar menjauh dari kuburan itu. Tak kuat aku melihat perlakuan Eki itu. Lalu aku tidak sadar aku sudah ada di hadapan mereka berdua.

“Andre, ada apa?”, Ratna menyapaku dan menghapus sedikit air mata itu. Dan tiba-tiba aku bertindak, “apakah ini cinta? Apa anehnya jika menuliskan catatan untuk mama, untuk orang yang paling Ratna sayangi? Jika kamu benar mencintai dia ini tidak akan aneh untukmu. Kamu hanya jatuh cinta padanya, bukan mencintai! Kamu biarkan dia menangis di depan kuburan mamanya. Harusnya kamu hapus air mata itu. Air mata itu sempat turun setahun yang lalu. Saat pemakaman mamanya. Lalu sekarang saat setahun berlalu, di hadapan kuburan mamanya dia harus kembali menangis? Apa kamu tidak sadar?” kataku dengan geram. Entah setan apa yang merasukiku hingga aku berani muncul di hadapan mereka.

Eki tampak keheranan melihatku. Ratna semakin menjadi dengan tangisnya. “Aku sebenarnya sudah tahu, bahwa orang ini sering mengikuti kita. Aku tahu dia menyukaimu,” kata Eki sambil menunjuk-nunjuk ke arah wajahku, “tapi sayang, cintanya bertepuk sebelah tangan! Mampus!” Kulihat matanya yang mulai melotot, dan tangan Ratna digenggam erat. Aku tahu Ratna mulai kesakitan dan ketakutan. Kuputuskan untuk menarik tangan Ratna. Setelah berhasil, kubawa Ratna menjauh dari Eki. Tapi tidak segampang itu. Dari belakang Eki menarik kaos yang aku pakai, dan tiba-tiba memukul wajahku. Ada sedikit darah menetes di ujung bibir bawahku. Ratna menjerit. Ingin rasanya kubalas pukulan keras di wajahku itu. Tapi tidak akan pernah kulakukan. Aku takut Ratna makin histeris. Kupeluk tubuhnya dan kugiring dia menuju motorku. Eki hanya berdiri terpaku disana.

Senja mengiringi kepergian kami. Kutanya Ratna yang masih terisak, “kamu ingin pulang? Atau kamu ingin mengunjungi suatu tempat?” Dia hanya terdiam., namun beberapa menit kemudian dia berkata, “ke Jalan Gading.” Aku sedikit tersentak. Disana adalah tempat orang yang amat Ratna sayangi meninggal. Setahun yang lalu ada kecelakaan beruntun yang menewaskan tiga orang, yang salah satunya adalah mama Ratna. “Baiklah”, kuturuti dia dengan ragu.

Setibanya di Jalan Gading, di tempat yang sama ketika mamanya menghilang dari keadaan nyatanya. Ratna berdiri disana. Tiba-tiba butir air mata sudah turun membentuk garis lurus di pipi mulusnya. Dan hujan mulai turun mengiringi isaknya. Lalu kupeluk dia dari belakang, dan dia menyambut pelukku dengan tangis yang semakin deras layaknya hujan yang turun.

Cerpen Karangan: Salsa Tsabita

Cerpen Dengan Cinta, Dalam Diam, Rindu Itu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Why Do We Break Up?

Oleh:
Hari begitu gelap. Sang surya telah kembali ke peraduannya. Tak ada satu pun sinar bintang terpancar dari langit malam. Hanya terdengar suara petir yang menyambar, disusul suara guntur yang

Ngidam Yang Aneh

Oleh:
Kebahagiaan adalah saat dimana kau merasa bunga-bunga bermekaran dengan indahnya bahkan di musim gugur sekali pun. Semilir angin pun seakan berteriak gembira padamu. Walau sebenarnya angin sedang tidak bersemangat.

Ve

Oleh:
“Ve!!!” teriak pak Dendi yang kelelahan akibat mengejar Ave “Rasain” Ujar Ave kepada Pak Dendi dan kemudian berhasil meloloskan diri dari kejaran guru BP itu dengan melompati pagar sekolah.

Tia ku

Oleh:
Langit Jakarta sore ini tampak menguning, tapi tak seperti kuningnya daun yang menua. Mentari pun sudah terlalu lelah setelah seharian bercokol di atas langit. Ranum senja yang kini menyamarkan

Rain

Oleh:
Seperti biasa, aku memandangi serpihan tetes hujan yang turun dengan derasnya tik..tik..tik. Ditemani secangkir cokelat panas, suasana sendu dicampur dengan kehangatan yang menyelimutiku. Sesekali, diriku menatap dirinya yang sedang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *