Dera

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 18 October 2017

Pagi ini. Ribuan kicauan burung ikut menemani sang mentari menyinari sebagian belahan bumi. Ini adalah hari pertama aku berangkat ke SMA setelah kegiatan PLS berakhir kemarin. Ya, bisa dibilang aku adalah satu dari puluhan bahkan ratusan siswa-siswi baru di SMA ini. Saat aku berjalan menuju kelas baruku, tiba-tiba langkahku terhenti lantaran sebuah bola basket menggelinding dan tepat berhenti di depan kakiku. Dari kejauhan tampak seorang pemuda memakai kaos berwarna merah dengan nomor punggung 04 tengah berlari ke arahku. Bisa kupastikan bahwa ia adalah satu di antara para pemain basket yang tengah menunggunya di lapangan. Mataku masih terus tertuju padanya hingga ia tepat berhenti di hadapanku. Ia mengambil bola itu dan kini berbalik menatapku. Entah mengapa aku malah tertunduk begitu ia menatapku.

“Sorry…” ucapnya singkat. Tiba-tiba, terdengar suara memanggilnya dari tengah lapangan basket.
“Deffano! Buruan!!”.
“Namanya Deffano.” gumamku dalam hati.
“Iya bentar! Gue ke sana dulu ya.” ucapnya padaku. Entah mengapa begitu ia pergi, bibirku tergerak untuk membentuk sebuah senyuman. Tidak jelas? Memang. Aku kembali melangkahkan kakiku.

Aku tak tahu, sudah berapa banyak tinta yang aku coretkan dalam bukuku dengan kata dan tulisan yang sama. Padahal, jam pelajaran tengah berlangsung. Tanpa kusadari, rupanya teman sebangkuku memperhatikanku. Ia bernama Merry.
“DERA? Hayo, apa itu Dera? Pasti singkatan kan Shir? Ra-nya pasti Shira. De-nya apa Shir?” Merry begitu kepo saat melihatku menulis kata “DERA”.
“Merry!! Mau belajar atau ngobrol?” tegur seorang guru. Merry seketika diam.

Aku berjalan menuju gerbang dengan membawa tas sebab tanda pulang telah berbunyi. Kulihat Deffano tengah berdebat dengan seorang siswi. Namun Deffano berusaha menghindari siswi itu. Sedangkan aku berusaha cuek agar tak terus memperhatikan mereka. Aku mencoba melengos begitu saja di depan mereka. Itu pun kulakukan sebab tak ada jalan lain menuju gerbang.

“Lepasin tangan gue Ngel! Mau sampe kapan sih lo tuh ngejar-ngejar gue? Gue tuh udah ada pacar.” ucap Deffano.
“Siapa Def?” tanya Angel. Deffano celingukan.
“Itu tuh yang pake tas hitam. Itu pacar gue. Gue mau pulang bareng dia. Hey! Tunggu! Yang pake tas hitam! Tunggu!”. Aku mendengar teriakan itu. Tapi, aku tak berhenti melangkah. Sebab, aku sadar bahwa tak hanya aku yang memakai tas berwarna hitam. Mungkin yang ia panggil adalah orang lain. Tapi…
“Hey!!” tepukan tangan di bahuku membuatku cukup terkejut. Rupanya… Deffano. Ia merangkulku seperti kita sudah mengenal lama. Ia mengajakku pulang bareng. Awalnya, sulit kupercaya tentang apa yang terjadi. Untung saja aku tak bawa mobil.

Dari hasil pulang bareng dengan Deffano, ia bercerita mengapa ia mengajakku pulang bareng. Mungkin, agar tingkat kege-eranku tak menjulang ke langit. Hari itu pun menjadi awal perkenalanku dengan Deffano.

Hari-hariku semakin aneh semenjak kejadian itu. Beberapa para siswi menatapku dengan tatapan sinis, memberi ucapan selamat padaku, bahkan ada yang bilang bahwa ia iri sebab aku telah menjadi pacar Deffano. Tak terkecuali Merry.
“Kok lo bisa jadian sih sama Deffano? Lo tahu enggak? Deffano itu cowok paling populer di SMA ini. Gue jadi iri deh sama lo. Eh, tunggu-tunggu! Gue tahu! DERA, Deffano Shira. Iya kan?” tanya Merry. Malas kuakui tapi benar adanya. Tak kusangka, berita kemarin menyebar begitu cepat.

Deffano menjadikanku pacar pura-puranya. Ia lelah dengan sikap para siswi yang terus-terusan mengejarnya. Sedangkan keuntungannya bagiku, ia mengajariku tentang pelajaran di sekolah, sehingga nilaiku terus membaik. Ia juga memberiku sebuah gelang saat aku berhasil mendapatkan nilai 90 pada ulangan fisika. Terdapat tulisan “DERA” pada gelang tersebut.
“Satu buat lo, satu buat gue. Dera itu, Deffano Shira.” ucap Deffano.

Namun, semua berubah saat Deffano telah lulus SMA. Ia menghilang tanpa kabar. Ribuan pertanyaan pun menyerangku hampir setiap pagi. Sekarang aku dituntut untuk bisa mandiri tanpa Deffano lagi dalam hal pelajaran. Itu tak membuatku cukup kesulitan. Hanya saja, terasa ada yang aneh saat ia menghilang.

Setelah lulus SMA, aku melanjutkan kuliah di Bandung. Aku rasa aku butuh refreshing dari padatnya kota Jakarta. Ini adalah hari pertama aku masuk kuliah. Tumpukan buku di tanganku membuatku susah melihat jalan. Rencananya, akan ku taruh di perpus. Tiba-tiba… “Brukk!!”. Buku-buku itu berserakan di lantai. Rupanya, seorang pemuda menabrakku. Aku tahu dan sangat mengenal dia. Deffano. Ia membantuku membawa buku-buku itu. Kami pun mengobrol.
“Lo-nya aja yang enggak pernah tahu tentang gue. Jangan-jangan lo takut kehilangan gue?”.
“Enggak.” entah mengapa aku salah tingkah.
“Buktinya, tuh gelang masih nempel di tangan lo.” segera kusembunyikan tanganku meski percuma.

Akhirnya, tanganku maupun Deffano tak lagi memegang buku satupun. Namun, kini Deffano memegang tanganku.
“Shir, status kita kan selama ini masih pacar pura-pura. Sekarang gue tanya sama lo, lo mau enggak jadi pacar gue? Eh, bukan pacar pura-pura, tapi pacar beneran.”.
“Lo nembak gue?”. Deffano menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya.
“Menurut lo?” tanya Deffano. Aku terdiam beberapa detik. Ekspresiku membuatnya cukup tegang. Hingga…
“Iya, gue mau jadi pacar beneran lo.” jawabku. Deffano senang bukan kepalang. Aku tertawa kecil melihatnya.

Cerpen Karangan: Ria Puspita Dewi
Facebook: Elfa Puspita

Cerpen Dera merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ingatlah Aku

Oleh:
Hari ini SMU tunas bangsa dihebokan dengan kehadiran dua penyanyi terpopuler yaitu ” enhard fransisko dan Wisda natasya”. Dan yang paling menghebohkan adalah bahwa hari ini mereka berdua adalah

Semua Hati Butuh Proses

Oleh:
Aku menanti dalam diam. Dulu dia pernah berjanji akan datang ketika dia melangkahkan kaki ke luar dari rumahku. Ia hanya mengucapkan kata, “Aku akan kembali.” katanya saat terakhir kami

Menanti Karel

Oleh:
Weekend.. yeay! gak ada yang spesial juga sih buat gue, mau weekend, weekday sama aja. Sabtu ini bingung gue mau ngapain dan ke mana. Berhubung kemaren gue kesel sama

Rindu dan Buku Harian (Part 2)

Oleh:
‘Dear buku kesayangan, Kamu tahu siapa pria yang mampu memahat hatiku? Pria yang menurutku sangatlah kurang ajar! Karena dia telah mencuri perhatianku dan begitu pula dengan hati ini. Dia!

Dan Bila Dia Datang

Oleh:
Panggil saja aku saskya, Sekarang aku sedang memasuki semester enam buat menyelesaikan study akuntansiku di suatu universitas terbuka di kota Yogyakarta. Ceritaku berawal semenjak aku mengenal dirinya tanpa sengaja

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *