Desember 12 (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 21 November 2015

Kulitnya yang kelabu, serta tubuhnya yang hanya ditutupi oleh koteka sangat menegaskan bahwa pria itu berasal dari daerah cendrawasih. Dilihat dari parasnya, pria itu tidak terlalu menawan, namun sepertinya hal itulah yang membuat seorang gadis Jawa berdarah ningrat seperti Lembayung Gendis Jayadiningrat, justru semakin asyik menikmati wajah pria tersebut melalui bingkai foto yang saat ini sedang dipegangnya.

Saat Gendis menatap pria tersebut melalui bingkai foto, Gendis nampak begitu bahagia, namun terkadang butiran air mata juga mengalir dari bola matanya, dan juga sering diiringi oleh jeritan yang histeris. Dan kini, perasaan pilu bercampur rindu menyelimuti hati Gendis, bahkan pikiran Gendis pun teringat pada Desember 12, yah itulah tanggal yang mempertemukan Gendis dengan sosok pria tersebut. Perkenalan Gendis dengan sosok pria tersebut, seolah membuka kembali lembaran kenangan manis Gendis dengan pria tersebut.

2009, Desember 12.
Semburat cahaya jingga yang muncul di ufuk timur sangat menghiasi kanvas angkasa kala itu. Rumput yang bergoyang mengiringi senandung dari kicauan burung, serta langkah kaki warga Saubeba telah mengusik tidur Gendis. Walaupun sedikit tertatih, namun ke dua bola mata perempuan berambut lebat itu akhirnya terbuka juga. Perempuan itu hanya mencuci wajah manisnya, maklum daerah di sana masih kekurangan pasokan air kala itu. Setelah membasuh wajahnya, perempuan itu lekas berganti pakaian tidurnya dengan baju bermotif batik khas kota pelajar.

Gendis hendak pergi dari rumah kepala desa yang semalam ia singgahi, namun sebelum ia pergi, kamera Polaroid segera dia masukkan ke dalam ransel yang motifnya tak jauh beda dengan baju yang dia kenakan saat itu. Sebenarnya Gendis ingin meneliti kebudayaan desa Saubeba untuk bahan skripsinya, namun lantaran Gendis belum bisa berbahasa Papua dengan benar, jadi Gendis butuh seseorang untuk membatunya berkomunikasi. Peneas Lokbere yang menjadi kepala desa di sana menyarankan agar Gendis menunggu seorang pemuda yang nantinya bisa membantu Gendis.

Satu jam Gendis menunggu kedatangan sosok pria tersebut, namun pria yang disebut-sebut bisa membantu Gendis pun belum terlihat juga, karena terlalu lama akhirnya Gendis hendak pergi sendiri, namun sayang rencana Gendis untuk pergi sendiri pun gagal, lantaran sosok pria yang masih menggunakan koteka tersebut akhirnya menampakkan dirinya di hadapan Gendis. Mata Gendis tak berkedip sedikit pun ketika dia melihat sosok pria tersebut.
“Kamu wanita yang bernama Gendis?” tanya pria tersebut.
Gendis diam seribu bahasa, lalu pria tersebut mencoba memegang tangan Gendis.
“Ayo cepat hari sudah mulai siang” ujar pria tersebut dengan logat Papuanya.

Tersadar tangannya sedang digenggam oleh pria tersebut, tiba-tiba saja Gendis melepaskan tangannya dari genggaman pria berambut keriting itu.
“Ehm.. i..iya aku Gendis, tapi kamu siapa?” tanya Gendis dengan tatapan yang sinis.
“Dia adalah orang yang saya bilang bisa membantu kamu, namanya Yoku Morinta Kharell” ujar Pak Peneas Lokbere yang tiba-tiba ke luar dari dalam rumahnya.
“Apa? dia bisa bantu saya? dia saja masih memakai koteka Pak, bagaimana bisa dia membantu saya?” ujar Gendis tak percaya.
“Walau dia masih mengenakan koteka, tapi dia orang sangat dikenal oleh masyarakat di sini, jadi saya kira dia pasti sangat membantu kamu, lagi pula Yoku juga lancar berbahasa Nusantara” ujar Pak Peneas dengan khas logatnya.
“Tapi pak?”
“Sudahlah kasihan Yoku menunggu, hari juga mulai siang,” ujar Pak Peneas.

Akhirnya Gendis dan Yoku pun pergi meninggalkan Pak Peneas. Sepanjang perjalanan Gendis bertanya-tanya seputar kebudayaan dari desa Saubeba, cukup banyak yang diketahui oleh Yoku, terlebih lagi sikap Yoku yang sangat ramah terhadap Gendis, membuat Gendis ingin mengambil foto Yoku melalui kamera Polaroid yang ia bawa. Gendis yang awalnya beranggapan bahwa Yoku adalah sosok yang terbelakang, kini justru menganggap bahwa Yoku adalah sosok pria yang menyenangkan. Namun karena langit sudah nampak merekah kemerah-merahan, akhirnya Yoku dan Gendis memutuskan untuk kembali ke rumah Pak Peneas.

“Ehm.. aku ingin sekali melihat penyu belimbing” ujar Gendis sepanjang perjalanan pulang.
“Kalau Gendis ingin melihat penyu belimbing, bagaimana kalau besok saya dan Gendis pergi ke Jamursba Medi, di sana Gendis bisa melihat penyu belimbing bertelur” ujar Yoku dengan logat bahasanya yang kental.
“Sungguh kamu ingin membawa aku ke sana?” tanya Gendis.
“Tentu, mengapa tidak?”
“Kalau begitu aku tunggu kamu di rumah Pak Peneas jam 3 sore ya?” ujar Gendis tersenyum manis.
“Saya janji akan datang,” ujar Yoku dengan semangat.

Langit yang tadi merekah kemerah-merahan kini berubah jadi gelap, dan Gendis pun baru memasuki rumah Pak Peneas setelah Yoku melambaikan tangannya. Keesokan harinya tepat pukul 3 sore, Yoku sudah menampakkan dirinya di hadapan Gendis, namun tidak seperti sebelumnya, kali ini Yoku tidak memakai koteka melainkan Yoku memakai baju seperti orang kebanyakan.
“Sudah menunggu dari tadi?” tanya Yoku.
“Yah begitulah, tapi mengapa hari ini penampilanmu berbeda?” ujar Gendis balik bertanya.
“Ehmm.. saya hanya ingin tampil beda saja, ah.. sudahlah lebih baik kita segera pergi” ajak Yoku.

Yoku dan Gendis pun pergi menuju ke Jamursba Medi. Selama perjalanan Gendis masih bertanya kepada Yoku seputar kebudayaan dari Desa Saubeba, dan tak terasa waktu cepat berlalu, akhirnya Yoku dan Gendis pun tiba di Pantai Jamursba Medi. Setibanya di sana, mata Gendis langsung dimanjakan oleh pemandangan pantai pasir putih Jamursba Medi yang membentang sangat indah. Pertama kali kaki Gendis menyentuh permukaan pasirnya, Gendis langsung bisa merasakan halusnya butiran pasir Jamursba Medi, terlebih lagi bayi-bayi penyu belimbing yang sedang merangkak menuju lautan seakan menyambut kedatangan Gendis dan juga Yoku. Hari mulai senja, namun Gendis seperti tak ingin beranjak pergi dari Jamursba Medi. Sementara itu, Yoku yang masih setia menemani Gendis di Jamursba Medi hanya bisa menatap wajah ayu Gendis.

“Sore hari di sini begitu indah sekali, rasanya aku tak mau pergi dari sini, tapi sayang besok aku harus balik ke Yogya,” ujar Gendis.
“Yogya?” tanya Yoku.
“Iya Yogya, tempat asalku,”
“Maksud Gendis, besok Gendis sudahlah tidak ada di Sauseba lagi?” tanya Yoku kembali.
“Iya” jawab Gendis sambil mengangguk.
Yoku diam sesaat setelah mendengar perkataan Gendis.

“Yoku, kenapa kamu diam?” tanya Gendis
“Ah tak apa, saya hanya tak menyangka secepat itu Gendis pergi,” ujar Yoku tak semangat.
Yoku dan Gendis saling diam, namun wajah dua insan itu jelas menunjukkan bahwa ada sebuah cinta yang tak mampu untuk dideskripsikan. Dan seiring senja yang mulai menua, bibir Yoku pun secara perlahan mulai menyentuh bibir merona Gendis. Pantai Jamursba Medi seakan menjadi saksi bisu cinta mereka.

Satu tahun kemudian.

2010, Desember 12.
Gendis yang hanya seorang diri bersepeda menyusuri jalan Malioboro, terlihat begitu ayu dengan senyum manis yang terlukis di wajahnya. Namun sayang, senyum manis yang menghiasi parasnya itu tidak berlangsung lama, raut wajah Gendis mendadak panik tak karuan, dikarenakan rem sepeda Gendis mendadak blong, hingga menyebabkan Gendis terjatuh dan hampir menabrak seorang pria.
“Awasss…” teriak Gendis.
Gendis jatuh dari sepedanya, sementara itu pria yang hampir ditabrak oleh Gendis selamat. Tersadar bahwa Gendis terjatuh, pria itu pun segera menghampiri Gendis.

“Kamu tidak apa-apa?” tanya pria tersebut.
“A..a..duh, kaki aku,” ujar Gendis merintih kesakitan.
“Kaki kamu kenapa?” tanya pria tersebut kembali.
“Kaki aku..” ujar Gendis sambil menatap wajah pria tersebut.
Dan ketika Gendis menatap wajah pria tersebut, tiba-tiba saja Gendis membisu, seakan tak percaya bahwa apa yang dilihatnya itu nyata.

“Gendis” ujar pria tersebut terkejut.
Gendis masih diam.
“Gendis, ini saya Yoku?” ujar Yoku kembali.
“Yoku..” ujar Gendis.
Sontak Gendis menangis dan langsung memeluk erat tubuh Yoku. Yoku terdiam, namun tangan kanannya membelai rambut hitam Gendis. Sentuhan lembut dari jemari Yoku, perlahan mulai menyeka butiran air mata Gendis.

“Aku tak sangka, kita bisa bertemu lagi di Desember 12, tanggal yang sama ketika kita pertama kali bertemu di Saubeba” ujar Gendis sambil mengusap bola matanya yang sembab.
Mendengar Gendis berkata seperti itu, Yoku hanya membalasnya dengan sebuah senyum manis yang terpancar di wajah cerahnya, namun sayang cerahnya wajah Yoku, tak secerah langit di Malioboro kala itu. Langit kala itu nampak kelabu, pertanda butiran air hujan akan jatuh ke bumi, dan ternyata benar rintikan hujan mulai membasahi mereka.
“Hujan.. ayo segera kita berteduh” ujar Yoku sambil beranjak berdiri.

Gendis berusaha berdiri, namun kakinya yang terkilir tidak bisa menopang tubuhnya.
“Aduh..” ujar Gendis yang terjatuh saat berusaha berdiri.
“Kaki kamu terkilir?” tanya Yoku.
“Iya” ujar Gendis mengangguk.
“Kalau begitu kamu naik di atas punggungku, biar ku gendong!” ujar Yoku sambil membungkukkan tubuhnya.
“Kamu sungguh ingin menggendongku?” tanya Gendis kaget.
“iya, ayo cepatlah naik ke punggungku!” ujar Yoku sambil menolehkan wajahnya.
Dan Gendis pun menaiki punggung Yoku.
“Pegangan yang erat, kita akan berlari bersama!” ujar Yoku.

Akhirnya Yoku berlari sambil menggendong Gendis. Gendis yang berada di atas punggung Yoku pun nampak begitu bahagia, dan tak berapa lama kemudian Yoku memilih sebuah kedai kopi untuk tempat berteduh.
“Kita sementara di sini dulu ya, sampai hujannya reda” ujar Yoku sambil menurunkan Gendis.
“Iya gak apa-apa, oh ya kamu kenapa ke Yogya?” tanya Gendis.
“Saya ke sini karena Pak Peneas yang menyuruh, katanya saya bisa banyak belajar di sini,” ujar Yoku sambil membuka sebuah buku yang dibawanya.
“Oh.. jadi begitu ya”

Selama mereka menunggu hujan reda, Yoku membaca buku tersebut, sebuah buku yang tak dikenal oleh Gendis.
“Itu buku apa?” tanya Gendis bingung.
“Ini bukan buku, tapi ini Kitab”
“Kitab apa?” tanya Gendis kembali.
“Injil”
“Injil? Itu berarti kamu?”
“Aku nasrani” ujar Yoku sambil menunjukkan kalung salibnya.

Mendengar pernyataan Yoku sebagai umat Nasrani, Gendis tiba-tiba terdiam, bibirnya seakan kelu.
“Gendis kamu kenapa?” ujar Yoku bingung.
“Ah, aku gak apa-apa kok, tapi kalau boleh tahu kamu sejak kapan jadi umat nasrani?”
“Sejak kamu meninggalkan Saubeba, dan semenjak saat itu saya menjadi manusia yang sering marah-marah, tapi saya bersyukur Pak Peneas mengajarkan saya tentang keikhlasan dan juga kasih Tuhan, dan saat itulah saya jadi lebih dekat dengan Tuhan Yesus, kamu masih ingat dengan Pak Peneas kan?”
“Iya aku ingat kok, oh..ya hujannya udah reda, aku pergi dulu ya” ujar Gendis.

“Kalau begitu saya antar ya” ujar Yoku sambil menutup kitab injilnya.
“Gak usah, rumah aku dekat kok dari sini”
“Tapi kaki kamu?” tanya Yoku.
“Di ujung jalan ada andong kok, kaki aku juga sekarang gak terlalu sakit sih, buktinya aku sekarang bisa berdiri”
“Ehm.. ya sudah kalau kamu inginnya begitu, tapi kamu yakin kaki kamu tidak kenapa-kenapa?” tanya Yoku kembali.
“Iya kaki aku beneran gak kenapa-kenapa, ya udah kalau gitu aku duluan ya” ujar Gendis.

Dan Gendis pun berjalan menuju ke sebuah andong di ujung jalan, namun saat Gendis sudah berada di ujung jalan dan segera ingin menaiki andong tersebut, tiba-tiba Yoku berteriak
“Gendis!” teriak Yoku.
Mendengar teriakan Yoku, Gendis hanya menoleh dengan tatapan wajah yang bingung.
“Sa Cinta Ko” teriak Yoku dari kejauhan.
“Apa?” ujar Gendis yang juga ikut berteriak.
Yoku sempat diam sesaat, namun matanya mengarah ke sebuah papan reklame dekat kedai kopi tempat ia berteduh, dan setelah melihat tulisan di papan reklame tersebut, Yoku kembali berteriak.

“Saya Tresno Karo Kowe” teriak Yoku kembali.
Mendengar perkataan Yoku seperti itu, sontak Gendis langsung berlari menuju Yoku, dan saat Gendis berada tepat di hadapan Yoku, secara tiba-tiba Yoku langsung memeluk erat tubuh mungil Gendis.

“Saya cinta kamu” ujar Yoku sambil memeluk Gendis
“Aku tahu itu, oh.. ya tadi kalimat yang pertama kamu katakan, itu bahasa apa? kok aku gak pernah dengar ya”
“Maksud kamu Sa Cinta Ko?
“Iya, itu apa maksudnya?”
“Itu bahasa Papua, yang artinya saya cinta kamu”
“Oh gitu, terus kamu kenapa ngucapin untuk yang kedua kalinya dalam bahasa Yogya? kamu tahu dari mana?”
“Saya tahu dari situ” ujar Yoku sambil menunjuk ke sebuah papan reklame.
“hahaha..” ujar Gendis yang tertawa.

Dan Gendis pun tertawa saat melihat papan reklame untuk pertunjukan ketoprak yang ditunjuk oleh Yoku.
“Loh, kamu kenapa ketawa? memang ada yang lucu?”
“Gak apa-apa kok,” ujar Gendis sambil menahan tawa.
“Ehmm.. ya sudah kalau begitu kamu sekarang mau saya antar?” tanya Yoku kembali
“Iya aku mau” ujar Gendis sambil mengangguk.

Bersambung

Cerpen Karangan: Nola Dewanti
Hallo nama aku Nola Dewanti, aku berharap sekali cerpen aku bisa dipublikasikan. Kalau mau lihat cerita aku yang lain, bisa di liat di sini:
Facebook: www.facebook.com/noladewanti
Twitter: www.twitter.com/nola_dewanti
Blog: www.salahmencet.blogspot.com

Cerpen Desember 12 (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


This Is My Love Story

Oleh:
Saat itu aku sedang menunggu sahabat kesayanganku dan tiba-tiba ada seseorang yang turun dari mobil lalu menghampiriku. Dari situlah awal cintaku… “Hai”, sapanya “Hai”, ucapku membalas sapanya “Ngapain disini?”,

Persahabatan Kita (Part 1)

Oleh:
Kini tepat di sore hari aku duduk di depan rumahku menanti kedatangan mereka, tak lama ku menunggu mereka datang juga akhirnya. “Rafa, tara kalian lama sekali tadi, jadi nggak?”.

Sahabat Atau Lebih

Oleh:
“Kamu mau nggak jadi pacarku?” kata-kata itu masih terdengar jelas di telingaku dan terus berputar-putar di kepalaku dan seakan akan mengganggu sistem kerja otakku, atau mungkin aku yang bersikap

Sapu Tangan Merah

Oleh:
Sore itu aku bersiap-siap akan mengikuti turnamen di daerah tempat tinggalku, kebetulan aku membawa motor sendiri mengikuti rombongan anggota kesebelasanku. Di tengah perjalanan, kira-kira di dekat perbatasan masuk kota

Catatan Harianku

Oleh:
Catatan Harianku, Minggu 30 Mei Badannya tinggi kurus. Body – nya seksi seaduhai gitar spanyol. Ngalahin aktris Hollywood si Angelina jolie yang katanya punya bibir yang seksinya nggak nandingin.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *