Destiny


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 1 January 2013

Malam ini tak seindah malam malam yang lalu. Sunyi. Sepi. Tak ada warna yang menghiasi malam ini kecuali. Hitam! Warna yang amat kelam.

“Chici, makan dulu sayang entar sakit lho” tak ada jawaban dari putrinya wanita paruh baya itu kembali berguman “Chici”

“aku sudah sakit ma. Aku benci semua ini ma, kenapa ini semua terjadi padaku?” gadis remaja itu terus histeris. Mama nya langsung memeluknya untuk menenangkannya. Andai kejadian itu tak terjadi pada putrinya!

“ini takdir sayang! Kamu jangan menyalahkan takdir. Kamu harus terima keadaanmu yang sekarang” wanita itu terus menangis selaras dengan pemberontakan chici.

“tapi ma … kenapa harus chici ma, kenapa?

“mama yakin sayang, pasti tuhan punya rencana indah untukmu”

Kelumpuhan? buta?

Hei, orang mana yang mau merasakan itu. Tapi takdir memilih chici gadis remaja yang periang yang mengalami kejadian tersebut!
Jika chici disuruh memilih. Hidup atau mati? Mungkin chici akan memilih mati untuk melupakan semua hal di dunia ini dan satu orang yang membuatnya seperti ini. Rio!

Flashback~

“Chici? Lihat ini” panggil rio yang berlari menuju ke arah Chici. Chici menunggu Rio mendekat. Diberikannya Rio senyum

“apa?” dilihatnya kotak bergambar Minnie Mouse. Kartun kesukaan nya. “gak mau buka. Ah!”

“ayolah Chi, buka aja. Demi aku”

Ditatapnya Rio, tatapan Rio tatapan serius kemudian diliriknya kotak tersebut. Dia sudah kapok atas kejailan Rio. Dibukanya perlahan kotak tersebut

“huaaaaa Rio itu kodok .. Rio kamu jahat, Rio bawa pergi hewan itu. Rio cepet bawa pergi hewan menjijikan itu” chici berteriak histeris. Dia menangis, loncat sana sini. Sedangkan rio? Dia tertawa lepas karena berhasil mengerjai chici. Setelah dipungutinya kodok kodok itu rio masih saja tertawa

“Rio aku gak mau temenan lagi sama kamu! Kamu jahat” Chici pergi

“Chici tunggu!” namun sayang Chici sudah jauh dipandangan mata digaruknya tengkuknya. Diangkat bahu nya “yaelah dok, kodok! Kalau mau nakutin kira kira dong jangan keluar semua! Mana kalian itu gede gede lagi!” Rio berbicara pada kotak itu, seakan kodok didalamnya bisa diajak bicara.

“Rioooo …..” Rio tersentak kaget dilemparnya kodok kodok itu

“aaaaaaaaaaaaa Rio saya kasih kamu hukuman. Aaaa kodok!”

“maaf bu, saya bener bener gak sengaja! Hmm maaf yak bu” Rio lari menjauhi omelan guru killer disekolah itu!

“Riooooo !! jangan lari kamu. Hush hush hush!

“Jangan kesini huaaaaa” guru cantik + killer itu hanya histeris menghadapi kodok kodok itu sendiri. Kodok tersebut sukses membuat guru itu pingsan!

-skip-

Didalam kelas Rio celingak celinguk mencari chici namun sayang chici tidak ada dalam kelas. Kemudian dia bertanya pada alvin. Sepupu chici!

“vin, liat chici gak?”

“oh, chici? Dia tadi nangis. Mungkin dia di gedung atas tuh!”

“separah itu kah?” batin rio

“kenapa Yo? Nyari chici? Loe yang buat chici nangis yak?” alvin sudah siap mengepalkan tangannya.

Siapa saja yang menyakiti chici akan berhadapan dengan alvin. Rio menelan ludah melihatnya dia hanya tersenyum miris

“enggak vin … enggak .. emmm gue pergi dulu yak?” Rio lari hingga menabrak beberapa anak yang berjalan

“tuh anak kenapa kesurupan apa yak?” ucap alvin lirih

Rio berlari hingga ujung tangga menuju gedung atas. Diaturnya napasnya. Pasalnya dari tadi dia hanya mendapat kesialan

“hari ini apes banget gue! Si chici marah. Guru killer sejagat raya tadi kelempar kodok. Alvin hampir aja bunuh gue! Apes apes” diliriknya tangga itu

“mending gue naik deh”

“Chici” teriak Rio

“ngapain kamu kesini? Mau ngerjain aku lagi? Pergi sana!”

“yahh,chi kok kamu marah sih? Kalau marah kamu gak cantik lagi lho” rayu Rio

Pipi chici bersemu merah. Dia menundukkan kepala. Yess! Kali ini rio menaklukan chici. Dia juga ingat wajah serem alvin sepupu chici tadi!

“udah gak marah lagi kan?”
Chici menggeleng, “enggak”

“janji?” rio menaikkan jari kelingkingnya

“janji” chici menyaut jari tersebut

“Yo …” ucap chici lirih tapi masih terdengar sampai kuping rio

“hmmm”

“kamu … kamu gak bakal ninggalin aku kan?”

“kok kamu ngomongnya gitu? Kita kan sahabat chi”

Sahabat?

Jadi selama ini rio nganggep chici sahabat? Padahal chici berharap lebih. Kedekatannya dengan rio membuat sebagian orang menyangka mereka pacaran namun nyatanya tidak!

“sa … ha .. bat?” ucap chici terbata bata

“iya .. emang kenapa chi?” chici menggeleng.

Ketakutannya memuncak. Dia takut dia sangat takut jika dia akan kehilangan orang terpenting di hidupnya!

-skip-

“muka loe kenapa ditekuk gitu?” Alvin adalah sepupu chici yang tinggal serumah dengan chici. Diapun satu kelas dengan chici. Dia mendapat amanah dari papa nya chici untuk menjaga chici. Makanya jangan berani berani sama chici! Kalau berani? Berhadapan langsung aja sama alvin

“galau” ucap chici asal

“weitsss cewe kaya loe bisa galau juga. Ckck! Galau kenapa?”

“mau tau aja sih loe, vin?”

“siapa tau aja gue bisa bantu” dimakannya cemilan yang baru saja dibeli sama tante Zahra –mama nya chici-

“BBM? Dari siapa nih?” diliriknya chici dengan tatapan jahil “ wow BBM dari Rio” teriak alvin penuh penekanan

“hah? Rio? Kenapa?”

“kata nya dia abis kecelakaan pas mau kesini?” ucap alvin serius

“apa? Vin, serius? Teruss keadaannya?” tanya chici panik!

“hahahahahha” tawa alvin meledak. Chici memanyunkan bibirnya “ cieee yang suka Rioo? Ahhhaha”

“apaan sih?” chici memukul alvin “orang dia bilang sahabatan aja?”

“ciyeee berarti ngarep ditembak nih? Bilang ke rio enggak yak?” alvin menggoda chici lagi.

“alvin, udah dong!” pinta chici

“hahahaha merah tuh muka! Jujur ama gue?” chici nampak berpikir kemudian menatap alvin

“loe bisa dipercaya kan vin?” alvin mengangguk

“jujur! Gue suka rio sejak dulu tapi …..”

“rio cuma nganggep loe sahabat kan?” potong alvin. Chici mengangguk. “oh ini to yang bikin sepupu gue galau” dirangkulnya chici diacaknya rambutnya dan pergi begitu saja

“ah. Alvin rese! Rambut gue kan berantakan!”

-skip-

Pagi ini sekolah chici dihebohkan dengan kedatangan murid baru. Yang katanya sih cantik dan mampu menghipnotis setiap kaum adam! Dan kelas yang beruntung menerima anak baru itu adalah kelasnya chici, rio, alvin

“anak anak hari ini kita kedatangan murid dari Jakarta. Perkenalkan dirimu, nak!” pinta guru itu
Berbagai pujian terlontar pada anak baru itu. Utama nya yang cowo cowo. Tapi sindiran terlontar pada mulut murid cewe. Rio menatap murid baru itu! Chici yang disampingnya hanya mendengus kesal

“apa sih cantiknya tuh cewe ampe bikin rio cengo gini liatnya” batin chici

“perkenalkan nama saya Alyssa saufika umari. Kalian boleh panggil aku ify. Ada yang mau bertanya?”

“Fy, boleh minta nomernya? Pin BB?” celetuk alvin

“maaf, saya gak pake BB. Tapi iPhone” jawab Ify.

Tawa anak satu kelas mentertawai alvin.

“songong amat sih” cibir chici. Rio langsung menengok ke chici

“tadi kamu bilang apa chi”

“eh, eng … eng… nggak ngomong apa apa?” jawab chici gugup

“baik ify kamu ingin duduk dengan siapa?” ify tampak melihat lihat siswa satu kelas itu tapi mata nya tertuju pada ….

“aku ingin dengan dia bu!” ify menunjuk rio. Rio tersenyum. Chici berdiri!

“enggak bisa gitu dong, bu! Saya sama rio kan ……”

“tapi saya mau nya sama dia!”elak ify

“tapi ….”

“Chi, udahlah kita masih bisa bertemu kan? Biarin dia duduk disini!” rio menepuk bahu chici

“terserah!” bentak chici kini dia menuju bangku alvin. Senyum sinis terungkir dari wajah ify.

“sabar chi!” suport alvin “kalau jodoh gak kemana kok!”lanjutnya

-skip-

Waktu yang dinantikan oleh murid manapun tiba. Istirahat! Chici menuju bangku rio, dia ingin mengajak rio ke kantin namun dihalangi oleh ify.

“Yo, temenin aku keliling sekolah yah? Aku kan anak baru, aku gak ngerti!” pinta Ify

“tapi kan ….”

“ayolah Yo, masa kamu tega, biarin aku keliling sendiri! Kalau kesasar gimana?”

“ya .. ya udah deh” rio pasrah menghadapi ify. ify tersenyum kemenangan. Ify menggandeng tangan rio dihadapan chici!

“sorry …” ucap rio lirih didepan chici.

“loh chi, rio mana? Biasanya juga ama loe?” tanya cakka anak kelas sebelah yang memang sahabat dekat alvin.

“diambil orang!” ucap chici jutek

“eh busyeett lagi dapet yah chi? Jutek amat ama gue!”

“bodo!” bentak chici tepat di wajahnya!

Ketakutannya kali ini akan terungkap. Alvin yang baru saja masuk ke kelas diherankan dengan tingkah chici dan cakka.

“eh vin, sepupu loe lagi dapet yak? Galak amat!” ucap cakka to the point

“cemburu ama rio kali” jawab alvin ceplos “upss” segera dia membungkam mulutnya

“hah? Chici suka ama rio? Serius loe vin?” tanya cakka setengah berteriak. Dengan cepat dia membungkam mulut cakka

“asdfghjkl” entah apa yang dikatakan cakka

“diem loe! Kepo banget sih!”

-skip-

“Vin, anterin ke taman yuk!” rengek chici
Alvin yang sibuk main PS hanya menjawab tanpa melirik chici “ biasanya loe ama rio!”

“gak usah bahas itu deh! Ayolah lagi pengen ke taman!”

“ke taman aja sendiri!” mata alvin masih tertuju pada layar tv. Chici mendengus kesal. Diraihnya jaket yang berada di samping alvin

“ya udah deh ketaman sendiri” Ucap chici sembari pergi
“eh tuh anak serius mau ketaman sendiri? Ikutin ah!” batin alvin

Ditaman chici hanya berjalan sambil melamun mengenang kenangan bersama rio disini. Biasanya dia beli es cream bareng, lari larian gak jelas, bahkan tak akan lupa ritual rio. Menjahili chici! Sungguh indah memang namun itu telah menjadi kenangan! Namun langkahnya terhenti karna melihat seseorang yang sepertinya dia kenal. Rio!

“Riooo !!” teriak chici. Rio menoleh ke sumber suara. Ditatapnya chici lekat lekat, ditundukannya kepala biarkanlah chici mendekat. “Yo. .”

“Chici loe disini? Hmmm” rio nampak kebingungan, chici mengerutkan kening

“Loe? Yo, sejak kapan kamu manggil aku pake kata ‘loe gue’? sejak kapan?” chici menggocangkan tubuh rio, rio tak berani menatap chici “ selama ini kamu kemana yo? Aku kangen kamu dulu?”

“eh, biasa aja dong! Drama banget sih?”sela ify

“DIEM KAMU!” mata chici beralih ke rio “aku kecewa, kamu bener bener ngingkarin janji kamu!”

Chici berlari entah kemana, ditengah perjalanan dia menabrak alvin, ditahannya tangan chici.

“chi, loe kenapa nangis?” chici menggeleng dan sempat melihat ke arah rio dan ify, alvin melihat apa yang dilihat chici. Kesempatan untuk Chici meloloskan diri dari alvin

“eh” kini tatapan nya berubah menjadi ganas tentu saja ke arah rio
Bukk!

“brengsek loe yo! Loe apain sepupu gue?” ify hanya diam melihat kejadian didepan matanya “demi cewe ini loe tega ninggalin chici? Cowo apaan loe?”

Rio tak melawan dia menyadari kesalahan terbesarnya!

-skip-

“Chi …” panggil rio lirih. Chici hanya terdiam dia menyibukkan diri dengan buku buku yang ada dihadapannya ini “gue mau eh maksudnya aku ….”

“lanjutin aja ‘gue loe’ nya” sindir chici

“chici, a .. aku minta maaf”

“jam 7 di taman biasa” ucap chici sembari pergi

-skip-

Rio mengemudikan mobil sport yang baru saja didapatkannya dari pápanya dengan kecepatan sedang. Pikirannya kacau. Dia selalu merasa bersalah atas chici. Dia merasa kesepian tanpa chici disampingnya. Entah ini hanya perasaan sahabat atau sudah cinta?

“tepat!” dibukanya pintu mobil itu. Pandangan beralih ke rio namun rio hanya cuek karna tujuannya dia disini untuk meminta maaf pada chici.

“makasih udah datang” chici berbicara saat rio tepat dibelakangnya “ini tempat waktu LOE ama IFY kan?”

“maaf”

“gak usah minta maaf, gue Cuma mau pamit …. gue mau ke Paris” dibalikannya badannya, ditatapnya rio. Mau gimanapun rio adalah cinta pertama chici

“ENGGAK CHI!” jelas rio. Chici tersentak “kita gak boleh pisah!”

“loe udah punya ify. Buat apa gue disini?”

“ikut aku!” rio menarik tangan chici, chici hanya meronta merasakan sakit tangannya ditarik rio

Saat ini dia dan rio berada dalam mobil rio. Saat chici ingin membuka pintu lagi rio sudah mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi

“rio kamu gila, berhenti. Kita bisa mati!” teriak chici histeris

“biarin. Daripada kamu ninggalin aku! Lebih baik kita mati bersama! Aku bakal berhenti jika kamu mengungkapkan 1 kalimat yang bisa bikin aku tenang!”

“berhenti, rio”

“enggak”

“Okey, dari awal aku suka kamu. Kamu cinta pertama aku rio!”

Rio menoleh, kecepatannya mulai menurun. Dunia seakan milik mereka saat ini!

“Rio awas” teriak chici ketika sebuah truk dihadapannya

“aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa” teriak mereka. Rio membanting setir hingga menubruk sebuah pohon. Mobil mereka terbalik, rio sempet sadar dan mengucapkan
“aku juga suka kamu, chici”

-skip-

“sayang, kamu jangan mengingat yang lalu. Kamu makan yah” bujuk mama chici

“enggak! Alvin, vin” panggil chici

“iya chi” ucap alvin terngah engah

“anter aku ke makam rio sekarang?” alvin menatap tante Zahra, tante Zahra hanya mengangguk. Alvin memutar kursi roda chici.

@Dimakam

“rio, maafin aku waktu itu. Andaikan egoisku tak memuncak kamu masih hidup” chici mengusap batu nisan bertuliskan Mario Stevano A H

“semoga kamu tenang disana, rio”
Anggin sepoi sepoi pun datang menusuk tulang chici dan alvin

“ini pasti kamu, rio” batin chici.

Chici bisa marasakan kehadiran rio walau dia tak bisa melihat normal tapi dia bisa merasakan . kecelakaan itu membuat semua semakin kelam.

-The end-

Cerpen Karangan: Jubaidah
Facebook: Jubaidah Fatmawati Marfuah Maimunah
Namaku Jubaidah, biasa dipanggil jubai, aku kelas 8, hobby ku menyanyi, membuat cerita dan membaca cerita, aku bercita2 menjadi seorang dokter, orang yang sukses, sutradara :D hehe banyak yak cita2ku. .aku udah 2kali mengirim cerpen ku kesini ..makasih :)

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Cinta Cerpen Persahabatan

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply