Detik yang Pergi (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 10 April 2019

“Jasmine! Aku bawakan sop buah untukmu,” ujar Franky dari balik pintu.

Tak ada sahutan balik dari dalam rumah. Franky kembali didera rasa cemas. Ia membuka pintu yang tidak dikunci. Suasana rumah begitu gelap dan sepi. Kali ini ia meyakini bahwa Jasmine benar-benar tidak ada di rumah. Wajahnya seketika pucat mengingat bahaya yang akan menimpa kehidupan Jasmine di luar sana. Franky menaruh tasnya di ruang tamu dan berlari menuju taman tempat terakhir Jasmine mengabarinya.

Setibanya di taman Franky tidak menemukan siapa pun. Ia mulai kebingungan harus mencari Jasmine ke mana lagi. Ia yakin bahwa Jasmine tidak mungkin berada di rumah tetangganya karena hubungannya dengan warga sekitar tidak begitu baik dalam enam bulan terakhir. Ditengah kegundahannya seseorang mencoba menjahilinya dengan menutup kedua mata Franky.

“Hai Dokter over protective! Ayo tebak siapa aku!” suara seorang gadis di belakangnya.
Franky melepaskan kedua tangan gadis itu, “Jasmine, sudah hentikan! Kau ini benar-benar membuatku khawatir.”
“Jasmine? Tidak… tidak! Mulai hari ini kau bisa memanggilku Leah!”
Seketika hati Franky tersentak mendengar nama itu. Ia berbalik dan menatap gadis yang menjahilinya dengan kesal.

“Mengapa kau menatapku seperti itu? Bukankah kau senang jika ingatanku pulih kembali?” tanya Jasmine tersenyum.
Franky mencoba mengontrol emosinya dan bersikap tenang. Ia benar-benar terkejut dengan kenyataan yang ia hadapi saat ini.

“Haha… kau pasti bercanda kan? Ayo kita pulang! Aku bawakan sop buah untukmu,” ujar Franky tertawa kecil berusaha menenangkan dirinya.
“Aku tidak bercanda. Seseorang telah membawaku ke suatu tempat hingga aku mengingat siapa diriku. Percayalah padaku! Ingatanku sudah pulih.”
“Siapa orang itu? Mengapa kau tidak mengabariku sebelumnya kalau kau pergi dengannya?” tanya Franky sedikit membentak.
“Namanya Devin, ia mengatakan bahwa aku ini kekasihnya yang hilang dan dia menceritakan banyak hal tentangku. Maaf kalau aku tidak memberitahumu sebelumnya. Aku takut kau tidak mengizinkanku pergi dengannya,” ucap Jasmine dengan wajah memelas.

Devin. Nama itu mengingatkan seseorang yang pernah Franky temui di taman kemarin sore. Franky terkejut bukan main. Hatinya benar-benar tidak tenang apalagi setelah mengetahui gadis yang harus ia jaga telah bertemu dengan lelaki yang berpikiran licik seperti Devin. Franky pun segera membawa pulang gadis itu memastikan lelaki bernama Devin itu tidak mengetahui dimana Jasmine tinggal.

“Mulai hari ini kau tidak boleh keluar rumah sampai aku pulang. Kau belum tahu betapa liciknya orang-orang yang kau temui. Kau jangan mudah percaya dengan orang yang baru saja kau kenal, bisa jadi dia hanya mengambil keuntungan darimu. Mengerti?” jelas Franky geram.
“Baiklah, dokter Franky. Tapi aku heran saat dia mengatakan bahwa aku kekasihnya, aku tak merasakan apa pun yang membuatku nyaman berada di dekatnya. Bukankah seharusnya sepasang kekasih dapat merasakan suatu getaran hati dan ketertarikan satu sama lain? Dan mengapa aku justru begitu nyaman saat bersamamu?”
“Itu karena kau belum begitu akrab dengan orang baru seperti dia. Jika kau merasa nyaman bersamaku itu karena kita cukup lama bersama-sama,” jawab Franky ketus.
“Begitu ya. Mungkin kalau aku selalu bersama dengan dia rasa nyaman pun akan muncul seperti kenyamananku padamu. Bukankah begitu?”
“Tidak! Kau tidak akan pernah merasa nyaman dengannya. Cukup denganku saja kau merasakan hal itu,” gerutu Franky kesal dan menghentikan langkahnya.
Jasmine pun terkejut mendengar apa yang dikatakan Franky. Ia kembali menatap Franky dengan tatapan penuh tanya.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Franky ketus.
“Mengapa kau berkata seperti itu, Franky? Apa kau cemburu jika aku berada bersama lelaki itu?”

Seketika Franky merasa gugup saat ditanya tentang apa yang dirasakannya saat ini. Rasa sayang yang mulai tumbuh di lubuk hatinya tak bisa dibohongi. Secara tidak langsung ia menyadari bahwa ia takut kehilangan Jasmine dari hidupnya. Ia berusaha menutup perasaannya pada Jasmine rapat-rapat. Dipegangnya lagi tangan kanan Jasmine tanpa banyak bicara. Ia mempercepat langkahnya hingga tiba di rumah.

“Franky, ada apa denganmu? Mengapa kau marah padaku? Maafkan aku jika aku sudah menyakiti hatimu. Tapi kumohon, jangan membenciku karena hal ini. Aku berjanji untuk tidak menemui lelaki itu lagi,” ucap Jasmine terisak-isak.
Franky berbalik dan menyeka air mata Jasmine, “tidak, aku tidak membencimu. Hanya saja…”

Jasmine memeluk Franky begitu erat, “tidak apa-apa. Aku tahu kau tidak suka jika aku berjalan bersama lelaki lain. Tapi percayalah padaku, aku tidak akan pernah menjauhimu meski aku harus kembali menjalani kehidupanku yang sebenarnya. Kau satu-satunya lelaki yang aku cintai, tidak ada orang lain sebaik dirimu yang membuatku nyaman berada di sisimu, jadi bagaimana bisa aku meninggalkanmu untuk lelaki lain?”
Jantung Franky berdebar kencang saat Jasmine mengatakan hal itu, “apa kau bersungguh-sungguh mengatakan itu? K-kau mencintaiku?”

Jasmine tiba-tiba gugup dan melepaskan pelukannya dari Franky. Pipinya mendadak merah menahan malu. Ia segera berlari ke kamar dan menyembunyikan diri di balik selimut. Ia tidak menyangka bahwa perasaan yang ia pendam sekian lama akhirnya terucap begitu saja. Rasa malu meliputi dirinya hingga ia enggan bertemu dengan Franky. Sementara itu Franky hanya tersenyum. Ia tidak menyangka gadis yang disayanginya mengucapkan perasaan hatinya lebih dulu dibandingkan dirinya. Namun ia tidak memungkiri hatinya begitu gembira mengetahui hal itu.

Seminggu berlalu, Franky dan Jasmine menjalani kehidupan seperti biasanya meski rasa canggung kerap kali menghalangi komunikasi di antara keduanya. Tetapi Franky selalu mencoba menyampaikan perasaannya di setiap kesempatan walaupun akhirnya selalu gagal. Suatu hari ia mengajak Jasmine untuk makan di sebuah restoran dekat Franky bekerja usai Franky menyelesaikan pekerjaannya. Franky berniat untuk menyampaikan isi hatinya dan memastikan bahwa cinta yang dirasakan Jasmine tidaklah bertepuk sebelah tangan.

Setelah Franky pergi bekerja Jasmine menemukan sebuah majalah di ruang tamu. Ia membuka majalah itu untuk melepas rasa bosannya yang seharian penuh dihabiskan di dalam rumah. Ketika ia membuka pertengahan majalah ia menemukan foto dirinya dalam sebuah berita. Kecelakaan mobil yang pernah diceritakan oleh Devin pun dibahas dalam berita itu. Jasmine mulai meyakini bahwa Devin tidak berbohong tentang jati diri Jasmine yang sebenarnya. Ia yakin bahwa ia adalah Leah. Seorang model yang sedang naik daun kemudian hilang di tengah perjalanan kariernya. Prasangka buruk akan Franky perlahan meracuni pikiran dan hatinya. Ia mulai tidak mempercayai Franky.

Malam telah tiba. Jasmine memenuhi ajakan Franky untuk makan malam di sebuah restoran. Ketika ia memasuki restoran itu terlihat Franky yang sedang duduk di satu meja melambaikan tangan ke arahnya dengan wajah gembira. Jasmine tidak memberikan tanggapan apa pun. Ia terus berjalan menghampiri Franky tanpa ekspresi. Ia berusaha menahan amarahnya agar tidak meledak di depan umum. Jasmine menghela napas kemudian duduk menghadap Franky.

“Sudah kuduga kau akan datang. Aku senang sekali kita bisa makan di luar seperti ini. Kau mau pesan apa?” ucap Franky ramah.
“Terserah kau saja,” jawab Jasmine ketus.
“Baiklah,” ucap Franky menatap heran.

Franky memanggil pelayan dan memesan beberapa makanan. Sementara itu Jasmine mengambil sebuah majalah dari dalam tasnya. Ia membuka halaman yang memuat berita tentang kecelakaan mobil enam bulan lalu. Ia menyimpan majalah di atas meja dan menunjukkan berita itu ke hadapan Franky. Seketika Franky terkejut olehnya. Ia tak menyangka kalau berita yang seharusnya ia rahasiakan akhirnya terbongkar.

“Kenapa kau terkejut seperti itu?” tanya Jasmine ketus.
“B-bagaimana bisa kau menemukan majalah itu?” tanya Franky gugup.
“Aku menemukannya di meja ruang tamu. Jelaskan padaku! Mengapa kau sembunyikan kebenaran ini dariku?” ujar Jasmine geram.
“Ak-aku hanya tidak ingin kau…”
“Kau tidak ingin aku pergi kan? Aku tidak habis pikir kau tega menyembunyikan hal sebesar ini dariku selama enam bulan. Apa yang kau inginkan lagi dariku? Kau ingin memanfaatkan popularitasku supaya dikenal sebagai malaikat penyelamat Leah, bukan? Orang macam apa kau ini? Kau benar-benar licik! Aku membencimu!” bentak Jasmine bersungut-sungut.
“Bicara apa kau ini? Tenanglah dulu, dengarkan aku baik-baik. Aku bisa jelaskan semuanya,” ujar Franky berusaha meredam amarah Jasmine.
“Tenang? Bagaimana bisa aku tenang? Aku sangat muak melihat kenyataan yang aku terima saat ini. Kau pernah berkata bahwa aku tidak boleh percaya dengan orang lain, bukan? Kau tahu? Hal terbodoh yang aku lakukan adalah mempercayai dan mematuhi segala keinginan orang licik sepertimu. Kau pembohong! Bagaimana bisa aku mempercayai semua penjelasanmu?” gerutu Jasmine meluapkan amarahnya.
“Jasmine, kumohon dengarkan penjelasanku dulu. Aku yakin kau akan mengerti dengan apa yang aku katakan.”
“Cukup, Franky!” bentak Jasmine menggebrak meja, melepaskan seluruh amarahnya ke hadapan Franky. “Aku tak mau mendengarkanmu lagi. Kau boleh saja mengenalku, tapi kumohon jangan tahan aku untuk kembali ke duniaku yang sebenarnya. Sudah cukup aku hidup dalam kebohonganmu. Aku harus pulang. Masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan setelah enam bulan terabaikan. Permisi.”

Ia pun bergegas pergi meninggalkan Franky. Langkahnya dipenuhi rasa kesal dan amarah yang tak kunjung reda. Sedangkan Franky benar-benar merasa bersalah. Tanpa ia sadari rahasia itu menjadi bom waktu yang membakar dirinya. Tanpa henti ia terus menyalahkan dirinya. Menyalahkan sikapnya, menyalahkan kebodohannya, dan menyalahkan cintanya. Cinta dan rasa takut akan kehilangan telah membuatnya semakin jauh dari gadis pujaan hatinya. Kini ia hanya bisa melihatnya dari jauh dan memastikannya terhindar dari rencana busuk Devin.

Franky menyusul Jasmine ke rumah. Saat tiba di sana ia mendapati Jasmine sedang mengemas barang-barangnya. Franky memberanikan diri mendekatinya. Ia yakin emosi Jasmine sedikit berkurang dibandingkan saat di restoran tadi.

“Jasmine, kumohon dengarkan aku sekali ini saja. Aku bisa jelaskan. Aku tidak berbohong tentang kebenaran ini,” desak Franky menegaskan.
“Penjelasan apa lagi? Bukankah semua yang kulihat sudah sangat jelas? Ah, dan kumohon panggil aku Leah. Aku sudah cukup muak mendengar kau memanggilku dengan nama itu,” ucap gadis berambut kecokelatan itu.
“Baiklah, Leah. Sekarang aku tidak peduli kau mau mendengarnya atau tidak. Aku ingin menjelaskan semua rahasia yang kusembunyikan darimu akhir-akhir ini.”

Franky menjelaskan semua saat majalah itu pertama kali ia temukan bahkan rencana jahat Devin pun ia ungkapkan. Sejenak gadis yang kini dipanggil Leah itu tercengang. Tapi sekali lagi Leah tak ingin mendengarkannya. Ia tetap pada pendiriannya dan meyakini bahwa Devin tidak mungkin berbuat buruk padanya. Tanpa menatap Franky, ia bergegas pergi dari rumah Franky menuju apartemennya. Devin sempat memberikan alamat apartemennya saat bertemu. Ketika ia hendak keluar dari rumah itu Franky memegang tangannya.

“Lepaskan aku!” ujar Leah memberontak.
“Kau boleh saja pergi dari sini. Tapi kumohon tatap aku sekali ini saja untuk terakhir kalinya,” ucap Franky lirih.
Hati Leah perlahan luluh mendengar permohonan Franky. Ia berbalik dan menatap Franky dengan kesal, “sekarang apa?”
“Untuk pertama dan terakhir kalinya aku ingin kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu dan akan selalu mencintaimu. Aku akui rasa cinta yang kumiliki telah menahanmu cukup lama, tapi aku punya alasan mengapa aku melakukan itu. Aku hanya ingin melindungimu dan hidup bahagia bersamamu. Tapi sekarang… sekarang kau memilih untuk pergi dariku. Baiklah, aku terima itu. Aku hanya bisa berdoa agar kau selalu diberi keselamatan dalam hidupmu. Kau tahu? Cinta sejati tidak mungkin melukaimu bahkan menginginkanmu celaka, ia akan selalu memberikan sesuatu yang terbaik dalam hidupmu,” jelas Franky menatap Leah dalam-dalam.

Kedua mata Leah berkaca-kaca menahan air mata. Hatinya terenyuh akan perkataan Franky. Setitik cahaya kepercayaan muncul di tengah prasangka buruknya. Ia menghela napas dan menutup mata menahan luapan kesedihannya. Tetapi pendiriannya untuk pulang tak bisa dibatalkan. Ia benar-benar harus kembali menjalani kehidupannya yang sempat terabaikan. Leah kembali membuka mata dan menatap Franky yang tampak berat melepas kepergiannya. Tak bisa dipungkiri air matanya jatuh membasahi pipinya meluapkan perasaan yang mengganjal hatinya.
Franky memegang kepala Leah dan mencium keningnya. Leah hanya bisa memejamkan mata dan terisak-isak.

“Jaga dirimu baik-baik. Aku akan selalu merindukanmu,” ucap Franky lirih.

Leah menyeka air matanya dan bergegas pergi dari hadapan Franky tanpa berkata-kata. Ia tak mau larut dalam kesedihannya untuk waktu yang lama. Meski begitu ia tak bisa membohongi dirinya bahwa ia juga sangat mencintai Franky. Isak tangis mengiringi langkah Leah meninggalkan rumah yang selama enam bulan ia huni. Kini hubungan dokter dan pasien sudah selesai. Pasien diizinkan pulang saat ia benar-benar sembuh.

Cerpen Karangan: Ira Solihah
Blog / Facebook: Ira de Sundanische

Cerpen Detik yang Pergi (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Just For You Dika

Oleh:
Gini deh nasibnya “seorang jomblo”, hhhmmm.. sudah sendirian tak ada teman yang di ajak ngobrol pula. Membosankan. Ku pandangi handphoneku, tak ada sms apalagi telfon. “Enaknya ngapain ya?” Akhirnya

Rahasia Hujan

Oleh:
“Yeeayyyy hujannnn” ucap naila girang “Heeh kamu jangan ujan-ujanan” larang kak andre “Dih suka-suka napa” ucap naila sambil berlalu meninggalkan kak andre “Dasar anak kecil” gumam andre sambil menggelengkan

Suratku Untuk Ku

Oleh:
Hari itu, hari Selasa siang. Sepertinya matahari tak mempunyai cukup sinar untuk menerangi bumi pada hari Selasa itu. Rintik air hujan berirama berjatuhan turun dari langit, diiringi nada-nada gemuruh

Si Bunga Merah

Oleh:
“Nyonya Hana, Anda sudah siap?” tanya seorang kru pada wanita berambut panjang bergelombang, Kim Hana, yang duduk menyandar di kursi rias. Wanita itu duduk tegak seraya mengangguk, memberitahu ia

Beginilah Akhirnya

Oleh:
Vina adalah anak yang bisa di bilang paling KECE, CANTIK, dan PINTAR di kelasku. Vina Syifa Az-zahra nama aslinya. Vina mempunyai 2 apartemen yang sangat terkenal di kota ini.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *