Detik yang Pergi (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 10 April 2019

Tiga bulan berlalu. Kehidupan Franky terasa hambar tanpa kehadiran gadis yang dulu selalu menyambut kedatangannya di rumah. Setiap ia pulang kerja ia selalu memanggil Leah, tetapi saat itu juga ia segera menyadari bahwa gadis itu tidak lagi bersamanya. Ketika ia memasuki kamarnya bayangan Leah selalu menghantui pikirannya. Ia benar-benar merasa kehilangan. Ia selalu memandangi poster Leah yang terpampang di dinding kamarnya guna melepas rindu. Ia selalu berharap suatu hari nanti Leah kembali ke rumahnya dan mendengar canda tawa darinya meski itu sulit terwujud.

Sementara itu Leah kembali disibukkan aktivitas kesehariannya. Jadwal pemotretan dan syuting beberapa iklan begitu padat tiap harinya. Ia juga sering melakukan perawatan tubuh setiap minggu demi menunjang kariernya. Tak lupa olahraga ringan pun rutin dilakukannya. Di sela-sela kesibukannya ia selalu ditemani Devin untuk melepas penatnya. Saat ada waktu luang ia tak lupa mengajak Devin jalan-jalan. Namun di dalam lubuk hatinya ia merasa hampa. Ada bagian kecil yang hilang dari hidupnya. Ia sering kali melamun saat pemotretan. Bahkan pengambilan gambar untuk iklan harus diulanginya beberapa kali. Terkadang ia merasa kehadiran Franky begitu mempengaruhi hidupnya. Ia selalu berusaha menepis bayangan Franky dari pikirannya meski itu sulit.

Suatu hari Devin dan Leah pergi ke acara pesta pernikahan yang diselenggarakan di sebuah hotel. Leah tak hentinya memandangi sepasang pengantin yang duduk di pelaminan. Ia selalu berharap dapat membina rumah tangga bersama Devin suatu hari nanti. Namun di dalam hatinya masih ada cinta untuk Franky. Tanpa ia sadari ia membayangkan dirinya dan Franky sedang duduk di pelaminan. Ia tersenyum kecil larut dalam angan-angan tak bertepi. Ketika Devin menghampirinya ia pun segera sadar dari lamunannya.

“Ya ampun. Apa yang aku pikirkan ini? Apa aku masih berharap untuk hidup kembali bersama Franky? Ah, tidak… tidak! Di depanku ada orang yang sangat mencintaiku. Bagaimana bisa aku memikirkan lelaki lain? Terkutuklah aku!” gumam Leah dalam hati.

“Leah, ikut aku! Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu,” ajak Devin memegang tangan Leah.
“Ke mana?”
“Tak usah banyak tanya. Pokoknya ikut aku. Aku punya suprise buat kamu.”

Leah menuruti keinginan Devin. Ia penasaran dengan kejutan apa yang akan diberikan Devin. Pikirannya membayangkan Devin akan memberikan hal yang romantis. Ia juga sangat berharap Devin melamarnya malam itu. Namun ketika mereka hendak keluar meninggalkan ruangan pesta mereka tak sengaja berpapasan dengan Franky yang memakai blazer hitam dengan kemeja putih di dalamnya. Leah seketika terkejut melihat Franky di tengah kerumunan tamu undangan. Begitu juga dengan Franky yang tidak percaya dapat berpapasan dengan Leah di acara itu. Langkah Devin dan Leah begitu cepat sehingga Franky tak sempat menyapanya. Leah mengelak bahwa lelaki yang dilihatnya bukanlah Franky. Ia yakin Franky tak mungkin hadir di sana.

Setelah tiba di atap hotel Leah masih penasaran dengan kejutan apa yang akan diberikan Devin. Ia tidak menemukan apa pun di sana. Devin tersenyum sinis menatap Leah yang kebingungan menanti sesuatu yang hendak ditunjukkan olehnya. Tanpa menunggu lama ia mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya dan memperlihatkannya pada Leah. Leah terkejut dan bertanya-tanya apa yang hendak Devin lakukan dengan pisau itu.

“Kenapa kau menatapku seperti itu? Tenang saja aku hanya ingin mempermudah jalanmu untuk pergi ke surga dan bertemu dengan kedua orangtuamu,” ucap Devin mendekati Leah sambil memainkan pisau lipat itu di tangannya.
“A-apa yang akan kau lakukan padaku? Kau mau membunuhku?!” tanya Leah tercengang.
“Tidak, Sayang, aku tidak akan melakukan hal sekejam itu. Aku hanya ingin membantumu untuk bertemu kedua orangtuamu di surga. Bukankah itu hal baik untukmu?” jawab Devin semakin mendekati Leah.

Leah berjalan mundur berusaha menyelamatkan diri dari Devin. “Lelucon macam apa yang kau katakan itu? Sama sekali tidak lucu!”
“Tidak lucu? Santailah sedikit! Bagiku ini sangat lucu haha…” ujar Devin tertawa terbahak-bahak.
“Kau gila, Devin!” bentak Leah.

Leah berlari menuju pintu yang mengarah ke bawah hotel. Devin tak ingin kehilangan korbannya. Ia mengejar Leah sekencang mungkin. Kedua kaki Leah lemas karena ketakutan besar yang menyerang dirinya. Ia tak sanggup berlari lebih kencang lagi hingga membuat Devin mudah menangkap dirinya. Tangan Leah gemetar saat Devin memegangnya dengan erat. Leah tak ingin menyerahkan nyawanya begitu saja pada Devin. Ia memberontak dengan memukul tubuh Devin sekuat tenaga. Ia pun mencoba berteriak berharap ada seseorang yang menolongnya.

“Tolong! Tolong aku!” teriak Leah sekencang-kencangnya.
“Percuma saja kau berteriak. Tidak akan ada yang dapat menolongmu di tempat seperti ini. Akulah malaikat penolongmu saat ini,” ujar Devin memegang Leah dengan kasar.
“Tidak! Kau jahat! Kau tak layak menjadi malaikatku. Kau pembunuh!” bentak Leah berusaha melepaskan genggaman Devin.
“Oh, begitu ya. Seburuk itukah pandanganmu terhadapku? Baiklah aku akan membuatmu bungkam untuk selamanya,” ujar Devin kesal.

Devin pun mulai menusukkan pisaunya ke perut Leah. Leah sangat ketakutan dan mencoba menghindar dari serangan Devin. Ia memejamkan mata dan berteriak sekuat tenaga. Saat pisau itu hendak menusuk perut Leah, ada seseorang yang telah berdiri di depan Leah. Pisau lipat yang dipegang Devin tidak melukai tubuh Leah sama sekali. Pisau itu menusuk perut seorang penolong hingga darahnya bercucuran. Devin kesal karena korban utamanya gagal dilenyapkan.

“Sial! Siapa kau? Berani-beraninya kau menghalangiku,” gerutu Devin dengan tatapan penuh amarah.
“Kau tidak perlu tahu siapa aku. Orang macam apa kau sampai tega membunuh kekasihmu sendiri? Kau hanya memikirkan nafsu dan egomu, bukan cinta. Cinta tidak akan mungkin membuatmu tega melukai kekasihmu. Paham?” bentak seorang lelaki yang tertusuk pisau.

Mendengar suara dan perkataan lelaki itu Leah kembali membuka matanya. Seketika matanya terbelalak melihat orang yang telah menolongnya.

“Franky?! K-kau?” ucap Leah terbata-bata.

Franky menoleh sambil tersenyum. Wajahnya tampak meringis kesakitan. Leah tak kuasa menahan air matanya. Kesedihannya tumpah ketika mendapati pisau yang menusuk di bagian perut Franky. Ia dengan sigap mendekap Franky dan membaringkan tubuhnya di pangkuannya. Devin tampak kesal melihat keduanya.

“Pemandangan macam apa ini? Kalian tidak sedang syuting film romantis. Cih, aku tak suka ini,” gerutu Devin.
“Enyahlah kau, Devin! Kau bukan manusia!” bentak Leah geram.

Devin mencengkeram lengan kanan Leah dengan kasar, “ke sini kau! Kau tak usah mengurusi orang itu. Urusan kita belum selesai.”
“Tidak! Aku tidak mau!” ujar Leah mengelak.

Tak berapa lama kemudian beberapa orang penghuni kamar hotel berdatangan melihat mereka. Leah merasa bersyukur karena kedatangan mereka mampu membatalkan tindakan Devin selanjutnya. Devin tampak gelisah dan mencoba melarikan diri dari tempat itu. Leah masih merasa kesal terhadap tindakan Devin di luar dugaannya.

“Tangkap dia! Dia telah melakukan pembunuhan!” teriak Leah sambil menunjuk ke arah Devin.

Tiga orang di antara penghuni hotel yang mendatangi mereka mengejar Devin sedangkan yang lainnya membantu Leah membawa Franky. Darah yang keluar dari perut Franky tak hentinya bercucuran. Isak tangis Leah tak hentinya mengiringi Franky.

“Bertahanlah Franky. Bertahanlah! Aku tak mau kehilanganmu,” ucap Leah terisak-isak.

Franky langsung dilarikan ke rumah sakit setelah pihak hotel mengetahui kasus pembunuhan itu dan menelepon rumah sakit terdekat. Leah tak hentinya mendoakan Franky meski air matanya tak bisa ia tahan. Dalam lubuk hatinya ia menyimpan penyesalan besar karena telah membenci Franky dan tidak mempercayai perkataannya. Ia mengutuk prasangka buruknya pada Franky. Rasa bersalah pun menghantui dirinya.

Seminggu berlalu, Devin akhirnya ditangkap setelah cukup lama buron. Sedangkan Leah dengan sabar selalu menunggu Franky siuman dari tidur panjangnya. Setelah cukup lama ia memohon kesembuhan Franky akhirnya Tuhan menjawab kegundahan hatinya. Franky menggerakkan jemarinya dan membuka kedua matanya perlahan. Leah yang selalu memegang tangan kanannya setiap hari merasa bahagia saat menyadari Franky mulai siuman. Air mata bahagianya jatuh membasahi pipinya.

“Leah? Kenapa kau menangis?” tanya Franky lirih sambil menyentuh pipi Leah dengan tangan kanannya.
“F-franky… syukurlah kau sudah siuman. Aku senang sekali bisa mendengar suaramu lagi. Aku sangat merindukanmu,” ujar Leah terisak-isak.

Franky tersenyum dan memegang tangan Leah. Rasa haru terlihat jelas dari matanya. “Kau tahu ? Aku selalu merindukanmu setiap waktu. Sejujurnya aku merasa hampa dan kesepian sejak kau pergi dari hidupku.”
“Franky, maafkan aku yang dulu meninggalkanmu. Aku menyesal karena tidak percaya padamu. Prasangka burukku telah membutakan hatiku dan tak mau mendengarkan penjelasanmu. Franky, aku pun merasa ada yang kurang saat kau tak bersamaku. Kenangan tentang kebersamaan kita tak pernah hilang dari ingatanku,” ucap Leah penuh penyesalan.
“Leah, aku selalu berharap kau kembali lagi ke dalam hidupku dan menjalani hari bersama-sama seperti dulu. Tapi rasanya itu tidak mungkin. Bukankah detik yang pergi tak akan pernah bisa kembali?” ucap Franky lesu.
“Kenapa kau bicara seperti itu? Kita bisa menjalaninya lagi bersama-sama. Tak ada yang tak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak. Hubungan dokter dan pasien memang berakhir, tapi bisakah kita lanjutkan lagi dan mengubahnya menjadi hubungan yang lebih kompleks seperti pernikahan? Ups,” Leah buru-buru menutup mulutnya dengan kedua tangannya, pipinya merah menahan malu.
Franky tertawa kecil, “kenapa tidak? Kita bisa hidup bersama dalam satu atap sebagai pasangan suami istri. Kau juga tak usah khawatir dengan pandangan sinis tetangga jika kita sudah terikat dalam pernikahan. Bukankah itu lebih baik?”
Leah mengangguk tapi kepalanya tetap menunduk menahan malu.

“Leah, bolehkah aku bertanya padamu? Ini mungkin terlalu cepat, tapi… aku benar-benar tak bisa menahan pertanyaan ini untukmu,” ucap Franky gugup.
“Pertanyaan apa? Katakanlah!” ujar Leah kembali menatap Franky.
“M-maukah kau menikah denganku?” ucap Franky gugup.
“M-menikah? Ap-apa kau bersungguh-sungguh ingin menikahiku?” tanya Leah dengan mata penuh rasa bahagia.
Franky mengangguk dengan segaris senyum di bibirnya. Leah merasa bahagia sekaligus terharu dengan pernyataan Franky. Ia langsung memeluk Franky dengan penuh kasih sayang.

“Tentu saja aku mau. Aku sangat ingin menikah dan hidup bersama denganmu. Aku tak pernah sebahagia ini, Franky.”

Franky membalas pelukan Leah. Ia sangat bersyukur gadis yang sangat dicintainya kembali kepadanya. Detik yang pergi memang tak bisa kembali, tetapi takdir mampu membawa cinta sejati kembali.

Cerpen Karangan: Ira Solihah
Blog / Facebook: Ira de Sundanische

Cerpen Detik yang Pergi (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gadis di Jendela

Oleh:
Tangan putihnya yang tanpa noda itu kembali menyapu kaca jendela kamarnya. Mencoba untuk menghapus sisa embun setelah hujan semalaman yang kini menghalangi pandangannya keluar kamar. Setelah dapat dilihatnya pemandangan

Bianglala

Oleh:
Ketika hati berkata iya maka tidak mungkin mulut berkata tidak. Seperti katamu padaku “ Hati itu tak bisa dibohongi, jangan menyakiti perasaanmu sendiri. Katakan apa yang ingin dikatakan hatimu.

Senja Bersamamu

Oleh:
Embun pagi telah menyusuri celah rumah rita yang masih terlelap. Suara nyaring dari jam alarm tepat di sebelah tempat tidurnya belum mampu membangunkan orang yang dikenal dengan tukang tidur

Maafkan Aku

Oleh:
Ku buka jendela melihat sang rembulan dan bintang yang menyinari malam ini, mengingat sesosok lelaki yang selalu menemani ku dan mencintai ku dengan sepenuh hatinya. dia nafasku dia lah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *