Di Antara Mimpi


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 3 May 2013

Cerita ini menceritakan kisah cinta yang rumit. Kisah cinta di cerita ini ditulis khususnya untuk remaja yang sudah mengenal arti cinta sesungguhnya.

Saya menulis cerita ini karena terinspirasi dengan teman teman saya yang kebanyakan pacaran. Tapi sering putus nyambung putus nyambung. hehehe. Tapi saya juga ingin menyajikan kisah cinta yang sesuai dengan usia remaja. Tanpa merusak moral.
Di cerita ini saya ingin menyelipkan makna. Bahwa Cinta tidak harus dengan memiliki. Tapi Cinta harus dengan pengorbanan dan rasa Rela.

Ucapan Terimah Kasih

Dengan ini saya patut mengucapkan syukur kepada Allah swt. Karena jika dia tidak memberiku kesehatan maka tak mungkin aku bisa menuangkan karyaku di lembaran putih ini. Dengan penuh ucapan syukur saya benar benar berterimah kasih kepada Alloh. SWT.
Terimakasih kepada Bundaku yang mengajariku cara membuat Cerpen, Novel dan karya tulis lainnya. Ku ucapkan terimakasih kepada SMP Negeri 2 Purwodadi Karena sekolah itu yang membuatku suka menulis dan membaca.
Saya tahu ucapan terima kasih ini hanyalah sebuah kata kata. Tapi sangat berarti buat saya karena tanpa dukungan semua. Saya tidak akan berani menciptakan sebuah cerita yang bertema cinta ini.
Semoga experimentasi ini bisa sedikit memberi arti bagi dunia tulis menulis dan menjadikan kita insan insan yang bermutu bagi nusa dan bangsa. Selamat membaca..
PASURUAN 19 Desember 2012
ALVAN. M. A

Prolog

Matahari terbit dari timur dengan cahaya merah kekuningan yang indah. Menambah semangat baruku untuk bersekolah. Betapa senangnya aku. Karena aku akan di pilih menjadi osis.
Perkenalkan sobat. Namaku Indah Nur Maulidiah. Agar lebih mudah kalian bisa memanggilku Diah atau Nur. Aku baru kelas VII smp. Aku bersekolah di SMPN 1 MALANG. Rumahku di Jl Arjosari blok 6A. Aku adalah anak dari tiga bersaudara. Yang pertama adik laki lakiku yang bernama Saiful. Dia masih kelas enam Sekolah Dasar.
Kemudian adik terakhirku yang bernama Safira. Dia masih TK. Akulah kakak perempuan yang paling tua.
Orang tuaku bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil. Ibuku seorang guru Bahasa Indonesia di SMA.
Sementara Ayahku menjadi Guru Seni budaya di sekolahku. Aku masuk sekolah ini pada tahun 2010. Kini sudah tanggal 2 agustus. Sebentar lagi akan ada lomba di sekolah ini.
Hobbyku adalah menulis, Membaca, Nonton Film dan mengkoleksi Bros melati. Kadang aku bikin sendiri.
Dua hari lagi akan ada kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDKS). Seperti yang lain aku juga punya sahabat terbaik di sekolah ini. Namanya Maria. Dia adalah sahabat yang teramat dekat denganku. Kita saling mengobrol untuk menceritakan kehidupan kita di rumah.

Bagian 1
Siapa Dia?

Keesokan harinya pada hari jumat. Aku semangat banget pergi ke sekolah. Sebelum berangkat aku mencium kening adikku yang bernama safira. Dia sangat lucu dan menggemaskan. “Fira kakak berangkat yaaaa. Cium dong.” Saat itu mungkin dia lagi males makanya dia gak mau mencium aku. Aku cium pipinya yang ngembung dan menggemaskan itu.
Aku tidak sempat sarapan. Aku berangkat dengan Ayah menuju sekolah. Aku berangkat terlalu pagi.
Di gerbang sekolah ada bapak Widi yang menyambut. Dia adalah bapak kepala skolah di sekolah ini. Ku salami beliau dan kucium tangannya seperti murid murid lain.
Aku lari menuju kelas. Oh iya aku berada di kelas VII. C. Kelas ini berda di ujung paling barat. Kelasku ini juga pernah mendapat penghargaan kelas terbersih di sekolah. Itu saat aku belum sekolah di sini. Setiap hari kami melaksanakan Upacara Apel pagi. Pak kepala sekolah menjelaskan tentang Latihan Dasar kepemimpinan yang akan kita laksanakan besok.
Kami semua di suruh membawa perlengkapan yang penting saja.
Apel pagi sudah selesai. Pelajaran telah di mulai. Di sekolah aku duduk di bangku paling depan sebelah kanan. Aku duduk dengan Maria.
Maria adalah sahabat dekatku. Dia juga sekaligus tetanggaku. Walao waktu SD dulu aku tidak sekolah bareng dengan dia. Tapi kami teramat dekat.
“Nur?” Tanya Maria. “Apa, Aku lagi konsentrasi ulangan sejarah nih.” Jawabku dengan sedikit mercing.” Iya tapi ini loh tolong bantuin ku napa” Kata Maria sedikit cemberut. “Ia yang mana?” Tanyaku. “Yang sejarah manusia berevolusi. Nih apa namanya kalau fosil manusia purba yang ukuran kepalanya lebih besar.” Gerutunya. Aku segera member tahu dengan amat pelan. “Jadi fosil yang ukuran kepalanya lebih besar berarti dulu dia orang yang paling cerdas. Itu juga namanya Homo Sapien.” Jawabku dengan berbisik.
Maria kembali mengerjakan tugasnya. Besok ada ulangan matematika. Karena aku akan Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa. Tak sabar aku menunggu hari esok. Karena hari saptu Aku ada LDKS. Maka untuk pelajaran bisaanya aku diliburkan.
Di malam hari aku mempersiapkan untuk besok. Aku membawa selimut, Bantal, handuk, sabun, sikat gigi, pasta gigi dan lain lain. Ayah dan Ibu sudah kuberi tahu bahwa aka nada LDKS. Aku tidur tanpa mimpi dan keesokan harinya. Puku enam pas, setelah sarapan aku menonton film kesukaanku. Harry Potter. 2 jam kuhabiskan untuk bersantai.
Waktu tak terasa sudah siang dan jam 15:00 aku harus sudah berada di sekolah dengan pakaian pramuka lengkap. Aku mandih dengan bersih dan mungkin terlalu bersih. Aku pamit kepada kedua orang tuaku. Mereka memberiku uang Rp 25000. Karena mereka juga tahu kalau nanti di sana aku akan mendapat makan.
Sesampainya di sana. Bapak Imam atau wakil kepala sekolah kita melantik kita semua untuk latihan baris berbaris. Di sana aku melihat seorang laki laki berkulit putih berambut hitam pekat dan wajahnya cukup tampan. Kelihatan sekali kalau dia anak baik baik. Aku heran siapa dia.
Tidak sengaja saat baris balik kanan ia melihatku kemudian pandangannya beralih tegak kedepan. Ia memakai topi SMP berwarnah hitam. Sudah pasti dia adalah kakak kelasku. Tapi Siapa dia.
Rasa penasaran dan getaran hatiku menjadi satu. Padahal aku baru kenal teman teman baruku ini. Di sini aku sudah banyak kenal kakak kelas dan teman sabayaku. Tetapi aku lebih akrab dengan gadis cantik yang bernama Desi. Dia lebih tinggi dariku.
LDKS juga mengajarkan agar kami tidak meremehkan orang. Oleh pak Widi. Kami semua diajarkan menyanyi. Lagunya berjudul LDKS.
Awalnya kami disuruh mencatat liriknya kemudian kami semua di suruh bernyanyi bersama.

LDKS
Dulu Aku becita cita menjadi seorang pemimpin.
Berdiri tegap penuh wibaawa, Tunaikan tugas yang mulia.
Kini aku sedang di Tempa di dalam diklat LDKS, Lupa sanak lupa saudara.
Lupakan Itu semunanya.
Aku Tahan sakit sakit untuk mencapai yang baik.
Aku tahan menderita walaupun aku ditempa.
Gembira gembira selamanya.
Itulah lagunya dan aku cepat sekali hafalnya.

Bagian 2
Jantungku Berdegup Kencang

Di sini kami disediakan makan nasi bungkus dengan lauk daging sapi dan telor ceplok. Setelah perutku terisi kini kami semua mulai dilantik kembali untuk berbaris.
Lagi lagi saat menghadap kiri di lapangan sekolah. Mataku beradu pandang dengan laki laki yang memakai topi smp berwarna hitam itu. Entah kenapa aku jadi pingin ngeliat dia terus saat ada kesempatan.
Setelah baris berbaris selesai kami di persilahkan untuk beristirahat.
Di malam hari aku tidur bersama 2 cewek yang udah mulai akrab denganku. Yang di pinggir kananku bernama Lisa, dan di sebelah kiriku bernama Tika.
“Ih banyak nyamuk disini.” Gerutu Lisa.” Ia nih disini panas. Tau gitu aku gak ikut LDKS.” Kataku. Tapi si Tika malah menjawab.” Kita disini itu dilantik agar bisa jadi pemimpin.”
“Yaaa kita harus terima tantangannya. Lagian besok ada Out bond. Kita bakal menikmatin.” Nasehat Tika.
Kami bertiga tidak bisa tidur. Kami hanya ngobrol smbil makan makanan ringan. Selain itu aku juga minta nomor telephone mereka. Kami ngobrol terus sampai jarum jam menunjukkan pukul 00:30. Akhirnya kami lelah dan tertidur pulas.
tidur di dalam aula yang dingin tidak membuatku terganggu. Aku sudah tidur terlalu pulas. Aku bermimpi aneh malam itu.
Di jalan setapak aku terpeleset karena gerimis. Tangan putih bagai batu pualam dan agak pucat mngulur ke depan wajahku.
Aku mendongak ke atas dengan perlahan. Badannya dengan memakai kaos olah raga yang berwarna kuning orange itu telah menatapku. Dia adalah laki laki yang dari tadi sore aku lihat. Pandanganku mulai memudar dan suara azan subuh berkumandang. Tika mengoyak ngoyak tubuhku agar segera bangun. “Nur, Nur udah subuh.” Aku melihat lampu di kelas masih menyala. Rasa ngantukku sudah mulai hilang.
Kami solat berjamaah. Setelah solat subuh kami semua disuru memakai seragam olah raga kami. Matahari sudah mulai naik. Cahaya merah dan sejuknya angin pagi bersatu. Langit yang tadi hitam kini sudah mulai membiru dan lama kelamaan awan awan yang menggumpal di atas mulai terlihat.
Kami semua senam dan kemudian kami lari pagi. Saat berlari aku terlalu cepat dan tanpa kusadari juga secara tidak sengaja aku berlari di samping cowok itu. Mulutku serasa bisu. Jantungku berdegup dengan kencang.
Padahal tau namanya saja tidak. Aku sangat gemetar melihat dia lari di sampingku. Hanya saja akhirnya dia lebih cepat dan aku kini memperlambat gerakanku.

Bagian 3
Keberanian.

Setelah olah raga. Sarapan sudah datang. Aku memakannya dengan amat lahap.
Perut sudah kenyang. Aku dan teman teman akhirnya memulai Out bond. Pertama kami semua di bagi menjadi 5 tim dengan syal yang berbeda.
Aku berada di tim 4 dan secara tidak sengaja juga aku satu tim dengan cowok itu. Benar benar membuatku terpukau. Dia orang yang pendiam dan jujur saja meski aku gak kenal sama dia. Dia pasti orang baik.
Beberapa jam setelah permainan yang mengasyikan. Kami semua di tantang untuk manjat tali dan menaiki Flying Fox. Kalo cumin naik fying fox nya saja sih aku berani.
Tapi yang paling sulit adalah memanjat talinya itu loh. Sampai kakak Pembina Out bond itu menyuru timku untuk membantuku. Aku melihat Cowok itu yang memakai topi hitam berlabel smp sedang memegangi talinya agar lurus tak bergoyang goyang. Dia memgangi tali itu agar aku tidak jatu.
Setelah turun aku memberanikan diri untuk berbicara dengannya. Jantungku berdegup kencang. “Terima kasih
yaaa.” Kataku dengan sunyum. Ia membalas senyum dengan amat memukau. “Hmm. Kitakan 1 tim. O iya Nur. kalau manjat kakinya jangan di gelantongin di tali. Itu yang bikin kamu gak kuat.” Nasehatnya.
Aku heran, bagaimana mungkin dia sudah tahu namaku sementara aku saja belum tahu namanya. Aku terlalu gugup untuk bertanya siapa dia.
Tak lama Acara Out bond hampir selesai. Dia duduk di sebelah bunga mawar di depan kelas VIII A.
Sepertinya dia capek dan kelelahan. Aku hanya melirik dia sebentar. Kemudian aku segera pergi ke toilet untuk berganti baju pramuka. Akhirnya upacara penutup LDKS telah selesai. Sesampainya di rumah aku hanya mengucap salam kepada keluarga. Hari minggu yang melelahkan.
Aku segera mandi dan langsung ambruk di kasur.
Keesokan harinya di sekolah. Aku mengerjakan ulangan matematka. Aku mengerjakan ketertinggalanku itu dengan teliti.
Setelah mengerjakan tugasku aku keluar dari kantor. Aku dan Maria menuju kekantin. Di kantin amat ramai. Tempat duduknya saja penuh. Jadi kita cumin mau beli gorengan. Aku melihat cowok itu sedang makan bakso. Karena sesak, Aku tidak sengaja meneggol punggungnya hingga baksonya tumpah ke celananya. “Maaf maaf aku gak sengaja.” Mohonku. Tapi dia hanya mendongak kemudian dia berkata denga suara yang agak serik itu. “Oh gak papa.” Dia kemudian lari menuju toilet.
Aku benar benar merasa bersalah kemudian aku memberanikan diri untuk menanyakan siapa namanya. “Siapa dia?” Tanyaku. “Dia namanya Stevan.” Jawab Maria. Aku mengangguk.
Sepulang sekolah. Aku menulis semua isi hatiku.
Sekolah hari ini. Adalah sekola yang memberi kesan tersendiri padaku.
Dia hadir seperti dalam mimpiku. Aku sudah tahu namanya. Namanya melekat dalam fikiranku.
Sudah 2 hari aku bertemu dengannya. Entah kenapa aku ingin setiap ada kesempatan bisa berbicara dengannya.
Selasa 12 agustus 2010.
Sore hari sedang hujan. Deras, Aku membantu Ibuku melipat pakian. Kami mengobrol masalah liburan bulan depan.

Bagian 4
17 Agustus Hud Kemerdekaan

Beberapa hari telah berlalu. 17 Agustus ini di sekolah diadakan lomba Mendongeng, Membaca Puisi, Kebersian kelas, Mading, Ben, Balap Karung, Menulis Cerpen, Pidato dan sepak bola.
Aku mengikuti lomba Puisi dan mendongeng. “Baik lomba mendongeng pada 17 agustus 2010 akan di mulai. Bagi peserta yang tidak datang saat di panggil dalam hitungan ke lima. Maka akan didiskualifikasi.” Kata panitia. “Saya panggil namanya. Nur Maulidia, Ilham Wahyu, Ainun Widia, Sofian Safarudin, Febri Rizal,”
Aku giliran pertama. Aku mendongeng. Awalnya aku gugup. Apa lagi saat Stevan menatapku seperti itu. Hatiku jadi berdegup kencang. “Jangan kecewakan 7c Nur.” Teriak Maria dengan lantang. Banyak anak anak yang ramai.
Aku mendongeng kisah yang berjudul Rupertilskin. Siapa coba yang gak kenal dongeng asal itali ini. Ceritanya sangat bagus. Bukunya sih sudah rapu. Maklum dulu Ibuku suka banget mendongeng saat aku akan tidur.
Aku bahkan sampai hafal ceritanya tanpa melihat bukunya. Setelah aku membaca dongenggnya aku membungkuk sebagai tanda penghormatan. Kemudian aku turun panggung.
Peserta yang lain juga mulai tampil. “Wah Nur. Kamu hebat banget deongengnnya. Faseh banget kamu hampir kayak dalang cerita.” Puji Maria. “Makasi ya.” Kataku.
Dua jam kemudian lomba membaca puisi sudah di mulai. Aku peserta urutan nomor 6. Aku di panggil. Kini aku mulai membaca puisi. Puisi ini ibuku yang buat. Judulnya Bunda. Aku sangat meresapi hingga tetesan air mata mulai jatuh.
Bahkan para panitia ikut menangis mendengar dan menyimak puisiku. Aku sama sekali tidak gugup walau Stevan melihatiku seperti itu.
Di akhir puisi akhirnya aku turun. Setelah turun tenggorokanku terasa kering jadi aku membeli Es The di kantin bersama Maria.
Di kantin yang bisaa ramai kini agak sepi karena murid murid yang lain sedang menikmati acara di Aula besar.
Beberapa jam kemudian. Acara akan di tutup oleh anak Extra Band. Awalnya anak kelas IX yang menyanyi.
Karena bosan aku meuju kelas untuk menulis isi hatiku di buku harianku.
Dia Melihatiku dengan tatapan yang indah. Dia memakai batik berwarna biru.
Pesonanya tidak pernah hilang dari mataku. Mata coklatnya sangat indah.
Aku jadi bertambah semangat.
17 agustus 2010.
Di kelas teramat sepi. Hingga pintu mulai terbuka dan ternyata itu Maria. Segera aku tutup bukuku dan aku masukkan kedalam ransel. “Heee kamu gak liat penutupan acara?” Tanya Maria dengan senyum. “Ohh sudah di mulai. Yuk.”
Kami menuju Aula dan tidak menyangka. Stevan menyanyi di panggung. Ternyata dia ikut Extra Band.
Dia duet dengan Rizky. Suaranya berpadu menjadi bagus. Alunan lagunya membuatku terharu. Cocok banget dia kalau jadi artis.

Bagian 5
Perubahan

Dia menyanyi dengan alunan lembut. Air mataku mulai turun. Awalnya mataku berkaca kaca. Kemudian aku terbatuk batuk.
Tak lama kemudian dadaku terasa sakit. Sakit sekali. Rasanya seperti di cakar cakar. Agak gatal juga. Kemudian aku mentutpi hidungku karena aku akan bersin. Tak kusangka yang aku lihat di telapak tanganku adalah cairan merah yang kental seperti ingus. Darahku telah membasahi tanganku.
Mungkin itu hanya aku yang sensitive karena berdesak desakan dengan teman teman yang menikmati konser kecilku ini. Ku usap darah di hidungku dengan tisyu.
Sepulang sekolah karena terlalu capek dan agak pusing. Aku segera ambruk di ranjang.
“Tok tok” Suara ketukan pintu. “Masuk saja.” Suruhku. Ternyata Ibu datang. “Nur, Kamu makan dulu nak. Ni tadi waktu dari kerja Ibu mampir ke kedai kuwe langganan kita.”
“Nih Ibu bawakan Lumpya sama Resoles kesukaan kamu.” Aku segera terbangun. Aku terlalu senang. Ibu memberikan kardus putih persegi yang berisi empat lumpya dan resoles
kesukaanku. Segera kumakan dan kemudian aku kekamar mandi untuk mandi. Huuh rasanya rileks banget saat gayung yang berisi air aku tuangkan ke tubuhku yang agak lengket karena keringat. Setelah mandi aku meliahat jarum jam sudah menunjukkan jam 13:30.
Aku segera Sholat duhur kemudian aku belajar di kamarku. Saat belajar. Pintu kubiarkan terbuka. Kemudian Adikku yang bernama Safira datang dengan lucunya. “Kak Nur. Antarin Fira ke took Bude dong. Fira pingin beli Es krim.” Pintanya. Sebenarnya aku merasa tergangu karena aku harus belajar untuk pelajaran besok. Tapi karena adikku ini lucu dan bikin aku gemes yaudah aku turutin aja.
Kami berjalan kaki lewat pinggir jalan pafing. Di gang 6 dekat rumah Pak Nungki. Sepeda silfer dengan gaya anak muda datang. Matanya menatapku tajam tajam.
Aku yang menuntun adikku tiba tiba berhenti. Jantungku berdegup kencang. Stevan sedang bergoncengan dengan Wildanz. Kayknya dia akan ke Kota. Waw tanganku terus menerus mengeluarkan keringat dingin. Hanya sekejap dia berjalan lewat depanku.
Kemudian aku dan Adikku melanjutkan perjalanan. Akhirnya aku sampai juga di Toko Bude Ten. Akhirnya adikku merasa puas dan kami pulang.
Sesampainya di rumah aku melajutkan mengerjakan Pekerjaan Rumah. Kemudian aku keluar dan menonton TV bersama keluarga. Ibuku sangat suka sinetron. Lebih khususnya sinetron Putri yang Ditukar . Ih bosen banget aku. Aku menuju kamar dan membuka Laptop. Aku membuat cerpen yang berjudul Wajahmu Alihkan Duniaku. Tidak kerasa aku tertidur pulas.
Di pagi hari saat akan pergi ke sekolah Ayah kayaknya dapat Rezeki. Dia memberiku uang Rp25000 untuk di tabung. Aku senang sekali. Aku akan tabung uang ini untuk membeli Novel. Di sekolah aku dan Maria duduk di kelas 8A. Karena hanya di sana tempat duduk yang nyaman. Ternyata Stevan berada di kelas 8A. Dia bahkan mulai mngubah penampilannya. Penampilan yang tadi seperti anak baik baik kini lebih bergaya Maskulin. Rambutnya di tata Jabrik kaku. Bajunya agak longgar karena memakai lengan panjang. Celananya berukuran seperti celana Levis.
Kini rasa Gilaku padanya semakin menjadi jadi. Sudah pasti akan banyak cewek yang suka padanya. Tapi caranya berbicara masih sama. Lembut dan tidak sombong.

Bagian 6
Piket

Tepat pukul 11. 00 WIB. Di sekolah terdengar pengumuman dari kesiswaan. “Bagi para Osis. Kini Piket sudah mulai Aktif. Jadwal Piket sudah di temple di Mading ruang Osis.”
Aku segera berlari menuju Kantor Osis. Wah seneng banget nih kalau punya kantor sendiri. Piketku kebetulan hari saptu. Sementara Stevan piket pada hari Rabu. Aku nyesel. Andai saja aku satu piket dengan Stevan.
Aku satu piket dengan Fida, Kaka Soleh, Fadah, Wildan dan Reza. Kami semua sudah Akrab banget.
Di kantor kecil ini kami semua berbagi cerita. Tugas kami adalah meng Rekap data siswa yang melanggar peraturan sekolah.
Beberapa Hari kemudian. Tepatnya Hari Rabu aku dan Maria akan pergi ke kantin. Perjalanan kekantin jelas melewati Kantor Osis. Stevan sedang menyetempel nama pelanggaran yang sedang di lakukan oleh seorang siswa. Dia amat serius dan terlihat makin tampan saja. Dia menatapku kemudian mendongak. Dia menyapaku tanpa kata. Hanya mendongakkan kepalanya kepadaku. “Hei.” Katanya. “Iya” Kataku.
“Waw kalian rupanya sudah saling akrab.” Kata Maria sambil berjalan. “Ya begitulah.” Bisikku dengan malu malu.
Di rumah. Lagi lagi aku menulis kebahagiaanku di sekolah.
Dia bekerja dengan ulet. Dia menyapaku dengan senyuman. Andai sja aku satu piket dengannya. Mungkin kami akan lebih dekat.
Aku menulisnya tanpa kuberi tanggal dan datanya. Ku tulis kembali untuk melanjutkan ceritaku yang berjudul Wajahmu Alihkan Duniaku. Diluar sudah mulai Hujan lebat. Gemericik air menciprati emperan rumah. Kaca jendela juga basah oleh air hujan.
Beberapa bulan telah berlalu. Kini sudah mulai tahun baru. 2011. Tepat bulan januari. Di sekolah ada istighosa tahun baruan. Agar tahun baru ini tidak ada bencana yang menimpa tanah pertiwi ini.
Stevan duduk di barisan tengah. Dia tidak memakai kopia karena mungkin takut rambutnya rusak. Aku mencuri pandang dengannya. Dia tidak menyadari kalau aku melihati dia dari belakang.

Bagian 7
1 Tahun kemudian

Tak terasa kini aku sudah kelas VIII Smp. Stevan berada di kelas IX A. Stevan sudah kelas IX. Kemanakah dia akan melanjutkan sekolahnya. Hanya tinggal beberapa bulan lagi aku akan naik kekelas IX.
Hatiku sedih dan gunda. Aku ingin sekali memutar waktu. Teringat saat Mos tahun kemarin. Aku menjadi Osis dan memimpin anak anak Mos yang masih Junior di sekolah. Saat itu aku akan makan Mie di kantin. Aku dan Stevan sudah akrab banget.
Dia menjailiku. Dia menyembunyikan mangkukku yang masih berisi bumbu. Karena saat itu Mienya masih direbus. Dia menyembunyikanya. Aku menariknya hinggal dia jatuh bersamaan denganku.
Secara tidak sengaja aku terjatu tepat di dadanya. Detak jantungnya berdenyut dengan cepat. “Maaf.” Katanya dengan bangun. Gak papa kok.” Dia akhirnya menggantikan Mieku dengan membeli lagi untukku. Kami makan bersama.
Terlebih lagi aku ingat saat Aku, Wildan dan Stevan sedang berjalan menuju lapangan untuk Latihan Baris Berbaris (LBB). Dia
jalan disampingku. Dia merangkulku dengan berjalan. Aku dianggapnya seoerti seorang sahabat. Tanagannya memegangi pundakku. Saat Maria lihat. Kulepaskan Rangkulannya. “Nur ayok. Sudah ditunggu oleh Pak Yusuf.
Masa masa itu tadi tidak akan terlupakan. Aku baru sadar kalau selama ini aku mencintainya. Benar benar mencintainya. Terkadang orang bilang kalau anak seusiaku sedang jatuh cinta. Itu namanya Cinta Monyet.
Tapi aku tidak peduli. Setiap hari dia muncul dalam mimpi, nyata dan Diantara Mimpiku.
Tapi saying. Kenangan itu telah hilang sudah. Semenjak Stevan kini sudah menjadi playboy kelas kakap. Dia memang amat mempesona bagi wanita wanita disini. Karena itu pacarnya banyak banget. Aku tahu siapa saja nama pacarnya.
Bahkan aku juga baru tahu kalau Maria juga sedang jadian dengan Stevan. Hatiku perih sekali saat dia curhat hal itu padaku.
Didalam kelasku saat aku sedang duduk dan membaca novel Maria datang. “Hee Nur. Kamu tahu enggak, Besok aku sama Stevan bakalan ke Kebun Raya bareng.” Katanya. “Tapi dia itu Playboy. Kamu mau dimainin dia terus.” Kataku dengan agak membentak. “Aku tahu itu. Tapi dia juga janji gak bakal PlayBoy lagi.” Bentaknya untuk membalas. “He kamu itu sahabat aku. Aku gak ingin kamu sedih nantinya.” Dia sepertinya tidak mau mendengarkan perkataanku.
Saat Maria akan kekelas. Aku lari menuju toilet. Aku menangis disana. Hatiku benar benar hancur.
Pertama Stevan telah menjadi playboy kelas kakap yang sangat memikat.
Kedua Orang yang aku cintai telah dimiliki sahabatku sendiri. Aku juga tidak tahu apakah Stevan benar benar cinta dengan Maria apa tidak. Aku bingung. Aku menangis hingga terbatu batuk. Aku terbatu batuk hungga kututupi hidungku dngan tangan. Saat aku melepasnya ada darah ditanganku. Entah apa yang terjadi. Mungkin aku sensitive terhadap lingkungan.
Aku segera menghapus air mataku. Aku keluar dan di kelas seperti bisaa. Aku dan Maria sudah akrab kembali. Kami mengerjakan tugas bahasa inggris.

Bagian 8
Perpisahan

Beberap bulan telah berlau. Kini telah mencapai bulan mei. Satu minggu lagi kelas 9 akan lulus dan aku tidak akan bertemu stevan lagi.
Waktu Study Tour. Aku berhasil memiliki fotonya. Dia memakai kaos hitam. Foto itu kudapat dari temanku yang bernama Ananda. Ibunya bersekolah disini menjadi Tata Usaha Sekolah ini.
Kebetulan aku lumayan akrab dengannya. Dia laki laki yang baik. Hanya saja dia orangnya tidak terlalu suka keramaian. Hingga setiap hari dia hanya da dikelas.
Aku akan tampil saat perpisahan kelas 9. Aku tampil membaca pidato, menyanyi, teater, dan pidato bahasa inggris. Aku dan Maria akan berpidato bahasa inggris bersama.
Di rumah. Aku mengcas Laptopku dan kemudian aku membukanya. Aku melihat foto foto yang diberi Ananda. Aku melihat foto Stevan sampai air mataku melelh.
Kumasukkan fotonya dalam Facebook. Ayah masuk kamar. Karena takut dia tahu kalau aku menyimpan foto Stevan. Segera aku Cencel fotonya. “Apa Ayah.?” Tanyaku
dengan gemetar. “Kamu lihat kemeja Ayah yang berwarna merah. Soalnya kemarin kamukan yang melipat lipat pakaian yang sudah dicuci.” Tanyanya. “Lho kemarinkan sudah Nur bilang. (Ayah Pakaian ini aku gantung di lemari Ibu yaa.)” Kataku mengingatkan kemarin. “Ooo kalo begitu ayah cari dulu.”
Lega rasanya saat Ayah keluar dari kamarku. Aku melanjutkan melihat foto fotoku.
1 minggu telah berlalu. Kini saatnya aku tampil. Dia duduk dibarisan kedua. Memakai kemeja putih, Celana hitam dan memakai dasi hitam. Karisma ketampanannya sungguh memikat.
Saat akan turun tangga di Gedung sekolah tepatnya di tangga ruang masuk. Maria duduk sendirian. Kelihatannya dia sedang menangis. “Ada apa Maria?” Tanyaku dengan mengelus ngelus punggungnya dari samping. “Nuuur.” Panggilnya dengan menangis terseduh seduh. “Kamu benar. Stevan ternyata hanya menjadikanku sasaran. Dia saingan dengan Wahit untuk dapetin aku.” Aku segera memluknya. Kasihan sekali aku melihat sahabatku ini.
Kusuru dia mengusap air matanya karena sebentar lagi kita akan tampil.
Kamipun tampil dengan indah. Tapi saat aku melihat kearah
penonton. Stevan melihatku dengan tajam. Dia melemparkan senyum dengan menawannya kepadaku. Akupun juga mencuri pandang kepadanya. Mengingat sahabatku telah disakiti aku berganti tidak menolehnya. Melainkan menoleh semua penonton. Setelah penampilan kami. Kamipun turun. Stevan terus terusan melihatiku.
Acara berlangsung cukup lama. Seusai acara itu aku menatap Stevan lekat lekat. Berusaha mengingat masa indah mengenalnya. Aku teringat saat Akupulang jalan kaki. Diajak sama dia. Aku bergoncengan dengannya.
Tapi masalah tentang dia menyakiti sahabatku masih tak bisa kulupakan. Kenapa dia tidak mau hilang dari fikiranku. Aku sudah berusaha melupakannya tapi Sangat sulit.
Menjalani sekolah tanpa melihatnya lagi membuatku teringat masa lalu dengannya.
Kini keadaan sudah berubah. bisaanya aku melihatnya duduk di depan gerbang Mussollah. Kini yang aku lihat hanya Kenangan yang Indah. bisaanya dia berjalan didepan Kantor dengan teman temannya. Kini hanya murid lain yang jalan. Setiap malam aku bermimpi buruk tentangnya. Setiap hari aku menangis di toilet sekolah karena aku tidak berjumpa lagi dengannya. Meski aku tahu persis sifat kejelekannya. Tapi mengapa aku tidak bisa mudah melupakannya.

Bagian 9
4 TAHUN KEMUDIAN

Kini umurku sudah menginjak 20 tahun. Aku sudah bisa dibilang dewasa. Tidak kerasa. Dari TK. kini aku sudah akan masuk kuliah.
Aku masuk dalam jurusan Biologi. Pendaftaran akan dilakukan bulan July sampai Agustus. Aku berencana akan masuk jurusan BIOLOGI.
Kini rumahku panda di kepanjen. Rumahku dekat kantor pos kota. Yaaa. Kami pindah hanya sementara. Karena Ayahku dialih tugaskan untuk mengajar Seni Budaya di SMA NEGERI 2 KEPANJEN.
Selama tidak sekolah. Aku membuat usahaku sendiri. Yaitu menulis. Beberapa bukuku telah diterbitkan. Buku pertama yang aku terbitkan adalah. Lily Jasmine DAN MAHKOTA KRISTAL JASMINE. Itu adalah cerita fantasi yang aku buat sendiri. Kutulis cerita itu semenjak kelas 3 SMP. Tapi baru ku kirim ke penerbit saat aku sudah kelas 2 SMP. Awalnya banyak penerbit yang menolak novelku. Tapi karena tak mau menyerah aku mencari penerbit di daerah Surabaya. Akhirnya aku menemukan Gramedia.
Novelku di terima dan pada tanggal 22 maret. Novelku terbit dan kini telah menjadi novel bestseller. Sudah 5 kali terbit.
Oke aku tidak mau menyombongkan hal ini.
Meski sudah lama. Aku masih kanget sama Stevan. Aku sering sekali mencari info tentangnya. Aku tahu kalau waktu SMA. Dia bersekola di SMK SINGOSARI.
Terkadang aku secara tidak sengaja bertemu dengannya. Denger denger semenjak masuk sma. Stevan sudah tidak playboy lagi.
Tapi aku masih berharap kepadanya. Selama ini yang ku bawa dan aku simpan adalah rasa kepadanya.
Pernah suatu kali saat hujan. Stevan baru saja lulus SMP. Dia dan seorang cewek bergoncengan. Aku sedang berjalan kaki saat itu. Tapi dia hanya menoleh tajam padaku. Walau hanya sesaat. Hatiku senang tiada tara walau hanya dilihat olehnya.
Beberapa menggu telah berlalu. Aku akan mendaftar di kulia UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH.
Saat di depan meja daftar. Aku pusing banget karena antri. Aku terdorong dorong. 1 jam berlalu. Kini akhirnya aku dapat daftar juga.
Tak lama kemudian. Aku melihat orang di barisan ke tiga. Jantungku berdegup kencang. Itu adalah Stevan. Dia juga satu kampus denganku.
Aku mencoba menyapanya. “Hee.” Kataku dengan menepuk punggungnya. “Apa. Kita pernah kenal yaa sebelumnya.?” Tanyanya karena bingung. Mungkin dia sudak tidak kenal diriku lagi. “Ini aku Nur.” Sautku. “Oooo Nur yang jadi adik kelas aku saat SMP.” Sautnya juga karena terkejut. Kami akhirnya ngobrol bersama.
Makin lama obrolan kami makin akrab saja. Kini aku sudah tidak malu lagi berbicara dengannya seperti dulu. Aku seneng dan baru tahu kalau Stevan juga ikut jurusan Biologi.
Tapi meski seperti itu. Jantungku serasa mau copot setiap dekat dengannya.
Di kelas aku duduk di sebelahnya. Lama kelamaan kami tambah akrab seperti sahabat. Tapi di dalam hatiku yang paling dalam aku ingin hubungan kami lebih dari sekedar sahabat.
Setiap pulang dari kampus aku menulis Harianku di buku Harian yang sudah menemaniku selama 8 tahun. Banyak sekali catatan tentang diriku dibuku tebal ini. Dari yang bahagia sampai yang sedih.

“Dia orangnya yang aku cintai dari dulu telah kembali. Membuat hidupku lebih bermakna dan penuh dengan warna. Kesedihanku yang dulu menyiksa kini telah mencapai ujung bahagia. Kapankah aku bisa memilikinya.
Dia selalu ada. Di mimpi, Kenyataan bahkan Di Antara Mimpiku. Aku benar benar tergila gila padanya. Dia semakin memukau membuatku ingin memilikinya. Rasanya ingin sekali menyentuh pipinya yang putih seperti batu pualam itu”
7 july 2017.
Kini aku hidup dalam Kost. Aku pulang setiap liburan. Aku di Kost ini tidak sendirian. Ada Gita sahabat baruku, Neneng yang sudah aku anggap adikku sendiri.
Kami membayar biaya Kost ini bersama. Saat ini sedang sepi di kost.

Bagian 10
Apa Ini?

Azan magrib berkumandang di tengah kota yang ramai. Saat aku akan menulis tiba tiba aku terbatuk batuk.” Uhuk Uhuk.” Kulihat ditanganku ada darah. Setelah aku menatap cermin darah itu keluar dari hidungku.
Apa ini?Aku bingung. Setiap satu bulan sekali aku selalu batuk dan mengeluarkan darah. Bagian dadaku terasa perih. Aku meng hembuskan nafasku perlahan karena dadaku sakit. Terutama di bagian kanan. Rasanya sakit sekali. Lima menit berlalu kemudian Sakitnya mulai hilang. “Tuhan. Apa yang terjadi padaku Tuhan. Berilah jawabannya.”
Kemudian aku menangis.
Keesokan harinya aku memasuki kampus dengan penuh bahagia. Karena ada dia. Aku sedang berjalan dengan Neneng untuk ke perpustakaan. Aku meminjam buku yang berjudul
HABIBIE DAN AINUN. Yaa aku lebih suka bukunya dari pada filmnya.
Siapa coba yang gak kenal kisah romantis presiden ke 3 ini. Aku gak menyangka Novel karyaku yang berjudul Ibuku Adalah Pahlawanku juga tersedia di kampus ini.
Seneng banget aku rasanya. “Nur. Jadi kamu itu juga seorang penulis rupanya?” Tanya neneng dengan membawa salah satu buku karyaku. Aku tidak mau menjadi orang yang sombong. Aku hanya tersenyum tipis.
Aku membawa 6 buku yang aku genggam. Di Koridor aku harus naik lif. Setelah keluar dari lif ke lantai 3 aku tidak sengaja menabrak seorang laki laki yang sedang memakai Hetset.
Bukuku berjatuhan. Dia membantuku membenahi bukuku. “Terimah Kasih.” Jawabku. “Dia menoleh ke arahku kemudian aku menoleh. Si menawan. Dia adalah Stevan. “Sama sama.” Dia menjawab dan menatap mataku lekat lekat. “He apa kamu mimisan.” Dia membuyarkan lamunanku. “Apa.” Aku bingung kemudian aku merabah hidungku. Tanganku berdarah. Tak lama aku terbatuk batuk kemudian darah juga keluar dari mulutku. Semua pandanganku tiba tiba menjadi gelap.
Tak lama kemudian Aku berada di rumah sakit
Muhammadiyah. Disini juga menyediakan Rumah sakit. Aku melihat sekelilingku. Ada keluargaku. “Ibu dimana Aku?” Tanyaku. “Kamu sudah sadar rupanya nak. Kamu berda di rumah sakit. Temanmu yang membawanya.” Katanya. “Siapa?” Tanyaku. “Kalau tidak salah namanya Stevfan sama Rio.”
“Kenapa aku di rawat disini?
Ibu kemudian diam sejenak. Hudungnya memerah dan matanya berkaca kaca. “Oleh dddok, dokter. Kakakakakkammu.” Katanya dengan gugup. “Kamu di vonis kena kangker paru paru stadium 3. Dokter bilang umur kamu tidak lama lagi.” Terus terang aku merasa terpukul.
Membayangkan sebentar lagi akan pergi untuk selamanya adalah hal yang sangat membuatku takut.
Apakah ini akhirnya? Saat keluargaku keluar dari ruangan ini aku segera mengambil bukuku di rak meja sebelahku.
“Aku sungguh terpukul. Setelah mengetahui bahwa aku terkena kangker paru paru.
Aku sungguh sedih saat tahu kalau hidupku takkan lama lagi
Aku ingin menangis karena aku tidak akan pernah memiliki Stevan.
Aku akan meronta didalam hati. Kenapa diberi cobaan seperti ini?
Wahai yang kucintai. Aku memang tidak pernah memilikimu, Aku memang tidak pernah menjadi milikmu.
Tapi ingatlah. Aku mengingat masa masa indah bersamamu semenjak smp. Aku ingat saat kau jahil menyembunyikan mieku saat kita di kantin.
Bagaimana tentang saat kau menolongku saat akan manjat tali di waktu LDKS.
Semua kenangan bersamamu akan aku simpan baik baik.
Stevan. Laki laki yang ku cinta.
2017.
Setelah menulis surat itu. Aku menutup bukunya tapi aku tak sadar sesuatu yang basah dan kental keluar dari hidungku. Bukunya terkena tetesan darahku.
Keesokan harinya oleh dokter aku boleh pulang. Aku harus minum obat. Keesokan harinya di kantin bersama Neneng aku makan Mie. Stevan sedang makan juga di sebrang mejaku. Kemudian matanya yang indah menatapku meski kepalanya agak merunduk. Aku jadi malu karenanya.

Bagian 11
Kecelakaan

Sepulang dari kampus aku membaca novel kemudian mengerjakan uugas tugasku. Aku tidak bisa tidur. Aku hanya memikirkan. Apakah aku siap untuk dipanggil oleh yang maha kuasa?
Di kost sedang sepih. Aku menonton dvd. Tak terasa akupun mulai tertidur.
Di sebuah lorong yang panjang aku terus maju sampai aku akhirnya berada di tempat yang putih. Tidak ada apa apa disini benar benar kosong.
Sebuah bunga tiba tiba muncul di depanku. Itu bunga mawar yang mengeluarkan wangi kesemua tempat.
Sesosok cahaya terang muncul. “Ayo pergi Nur. “Kata cahaya itu.” Aku hanya terperangah. “Kemana?” Tanyaku dengan bingung.” Menuju pintu itu. “Sayangnya aku tidak bisa menolak.
Ada dua pintu disitu. Yang pertama pintu megah, indah seperti gerbang dan yang kedua adalah pintu Kayu yang sudah tua dan hampir lapuk. “Pilihlah.” Suruhnya. Tapi entah mengapa naluriku mengatakan aku harus masuk ke pintu yang tua itu. “Aku akan masuk pintu yang itu.” Kataku menunjuk pintu tua itu. Diapun
menyuruhku membukanya dan kemudian ku membuka mata. “Nur kamu sudah sadar.” Ayah mengatakan itu disampingku. Bibirnya hampir menyentuh telingaku.
Aku melihat tempat ini seperti rumah sakit. Hidungku diberi kabel seperti infus. Tanganku diberi jepitan. Semua tubuhku dipenuhi alat kedokteran. Dadaku juga seperti ada sesuatu. “Ibu sudah tahu nak. Kamu mencintai seseorang yang bernama Stevan.” Ibu mengucap nama itu. Air mataku meleleh. “Kamu gak sadar sudah dua hari.” Kata Ayah.
Aku hanya diam. “Stevan akan kesini untuk kamu.” Kata ibu dengan menangis. “Ibu bilang padanya. Ternyata dia juga menyimpan perasaan kepadamu nak.” Lanjutnya. Air mataku melelh. Ternyata Stevan juga punya rasa yang tulus.
Hening sejenak. Kemudian telephone berbunyi dari tas Ibu. “Halo.” Kata Ibu. “Apa?” Dia terlihat kaget. Ibu dan Ayah kemudian pergi keluar sementara adikku yang menjagaku.
2 Jam kemudian Ayah dan Ibu kembali. Mereka member kabar buruk. Stevan kecelakaan saat akan kerumah sakit.
Ibu juga bilang kalau Mata stevan buta. Dia butuh donor mata. Aku menangis. Dia hanya pergi untuk menyusulku tapi dia juga telah mengalami musibah.

Bagian 12
Pengorbanan

2 Hari sudah berlalu. Saat keluargaku keluar. Aku bangkit dan duduk di kasur rumah sakit. Aku menulis sebuah surat.
“Hidupku tak lama lagi. Aku ingin kepergianku memberi hidup pada orang lain.
Jika aku pergi. Aku tidak akan lagi memilikimu. Karena Itu Mataku akan kudonorkan kepadamu.
Karena Mata ini. Aku tahu kamu, Karena Mata ini aku mencintaimu. Mata ini telah melihat semua mimpi, kenyataan bahkan Diantara Mimpiku tentang dirimu.
Aku akan pergi untuk selamanya. Biarkan pengorbananku ini menjadi arti bagimu.
Aku akan sangat senang nanti bilah aku pergi dengan meninggalkan cinta untukmu.
Stevan. Aku ingin mengatakan langsung padamu agar tidak terlambat. Aku mengagumi, Mencintai dan menyayangimu setulus hatiku sejak SMP.”
Nur.
Setelah menulis surat badanku lemas semua. Paru paruku terasa perih seperti dicabik cabik.
Keluargakupun masuk kedalam Ruangan. Aku tak sanggup lagi untuk bicara. Mataku melirik kekanan. Merekapun melihat surat itu. “Nur. Kamu benar benar yakin nak?” Tanya Ibu sambil menangis. Bibirku mulai sanggup bicara. “Itulah permintaan terakhirku.” Kataku.
Tak lama badanku terasa lemas dan lelah. Ingin sekali aku istirahat. “Aku akan pergi.” Kataku kepada keluargaku dengan suara lemah. Ayah kemudian menggengam tanganku. “Ikuti kata kata Ayah. ASHADUALLAA ILLAHA ILLALLOH. WAASHADUANNA MUHAMMADORROSULLULLAH.” Tuntunnya.
Aku mengikutinya. Kemudian tubuhku lelah dan lemas. Badanku terasa dingin sekali. Akupun akhirnya memejamkan mata. Kini aku berdiri di depan pintu yang tadi. Pintu yang tua tadi telah retak. Kini cahaya itu menyuruhku untuk masuk pintu megah itu. Aku telah pergi dari dunia. Biarkan Stevan melanjutkan Hidupnya. Setiap air mata mereka akan selalu menjadi arti cintanya padaku. Biarkan semuanya menangis karena kepergianku. Karena aku bahagia. Pergi dengan damai dan tenang. Aku telah memberi pengorbanan yang amat besar kepada orang yang aku cintai.

SELESAI

Cerpen Karangan: Alvan
Facebook: ALVAN RAILFAN http://www.facebook.com/alvan.asegaf

Saya adalah 2 saudara kembar yang memiliki Karakter dan HOBBY yang berbda. Saya mulai suka menulis sejak kelas 1 smp.
Cerita ini diangkat dari kisah nyata sebagian. Tapi ada yang saya karang sendiri.
Cerita yang saya buat ini pernah saya cetak dalam bentuk naska dan terbaca oleh 32 siswa dan mereka menyatakan bahwa cerita saya itu bagus. Walau banyak salah ketik.
Di Website ini saya ingin mempublikasi cerpen saya agar dapat dinikmati orang.
Cerita yang saya buat saya tulis untuk memberi tahu kepada kita semua bahwa Cinta Tidak Harus selalu Memiliki.

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Cinta Cerpen Cinta Sedih

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

8 Responses to “Di Antara Mimpi”

  1. Eliz says:

    Ceritanya memang tidak romantis.Tapi ceritanya memberi makna yang mendalam

  2. diyya says:

    Sosweet banget.Aku sampai terharu.Apalagi pengorbanan si Nur kepada cinta sejatinya si Stevan.

  3. alvin says:

    KaKak MemAng Hebat.MuDah2aN bisa jdi PnULIS Novel…. :D

  4. defa says:

    Waaah BgUs2 Critax BiKiN 41r M4T4 Q M3l3l3h….

  5. rina says:

    sosweet.. :-)

  6. Chika says:

    Keren banget (?????????) . Sedih banget bacanya sampai aku mau nangis loh ka :’) . Thx ya ka :D (y) moga jd pnlis yg terkenal! (Y)

  7. widi says:

    wahh,critanya bagus skali!dapat menyentuh hati sampai” aku meneteskan air mataku,dan critanya memiliki arti yg sangat dalam!

  8. alvan says:

    Tanks atas komentatornya yaaaa.

Leave a Reply