Di Atas Awan dan Di Bawah Langit

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 24 May 2014

“Celaka…!! Sebentar lagi bel masuk pelajaran “mematikan” akan berbunyi terlebih lagi gue belum mengerjakan PR” eluh Aris tampak kebingungan.
“Lah memang kenapa lu belum mengerjakan PR?” tanya Raka.
“Gue baru ingat tadi” jawab Aris.
“Sudah lu nyontek PR gue saja nih” sela Rian sambil memberikan jawaban PR kepada Aris.
“Sini bro gue lihat” ucap Aris.

Sementara Aris mengerjakan PR, suasana kelas masih tampak gaduh dengan papan tulis kelas penuh dengan coretan. Ada juga yang main catur di belakang kelas, ada yang main remi di atas meja, dan ada juga yang sedang main laptop. Ada juga Nalu mengajak pergi ke kantin padahal waktu istirahat sudah selesai.

Dengan cepatnya Aris mengerjakan PR supaya nantinya tidak dihukum di depan kelas. Setelah selesai, tidak lama guru yang “mematikan” itu pun datang. Suasana kelas yang awalnya gaduh layaknya sedang pawai sekejap menjadi sunyi sepi bagai di kuburan. Kelas yang tadi tampak kotor, langsung dibersihkan cepat-cepat.

Pelajaran akan segera dimulai, guru itu pun mulai menjelaskan materi. Sementara itu, Rio dan Martin sedang asyik mengobrolkan anak yang baru pindah di kelas sebelah.
“Bro, lu tahu tidak ada anak baru di kelas sebelah” ucap Rio.
“Siapa namanya?” tanya Martin
“Itu si Arlin namanya” jawab Rio.
“Cakep tidak bro?” tanya Martin lagi.
“Nah luh soal itu mah gue kurang tahu. Makanya gue ini mau ajak lu berkenalan sama tuh anak baru. Mau gak?” ucap Rio.
“Boleh nih” ucap Martin.
Ketika sedang asyik-asyik Rio dan Martin mengobrol, tiba-tiba sebuah spidol membentur kepala Rio kemudian sang guru menyuruh Rio dan Martin maju ke depan kelas!

“Rio, Martin, apa yang kalian bicarakan tadi?” tanya sang guru.
“Ah.. gak ada kok Pak” jawab Martin.
“Hah bohong!” bentak sang guru.
“Bener kok Pak” jawab Rio dengan meyakinkan sang guru
“Ya sudah sekarang hukuman untuk kalian berdua ialah bersihkan kamar mandi laki-laki di seluruh sekolah. Cepat sana!” ucap sang guru.
“Ya elah Pak masa gini doang dihukum sampai kayak gitu.” bantah Rio.
“Sudah sana cepat kerjakan! Atau mau hukuman yang lebih berat lagi?” ucap sang guru.
“Iya deh Pak, iya” jawab Rio dan Martin.
Setelah kejadian ini, suasana kelas kembali gaduh dengan penuh tawa. Akan tetapi itu tak berlangsung lama karena pelajaran itu dilanjutkan kembali.

Sementara itu, Rio dan Martin yang tadi diberi hukuman ternyata malah jalan-jalan di area sekolah. Kebetulan di kelas sebelah sedang tidak ada gurunya, akhirnya mereka berdua masuk dan ingin berkenalan dengan siswi baru.
“Oy, mana anak baru di kelas ini?” tanya Rio kepada Nadia salah satu anak kelas sebelah.
“Ya elah kenapa pada nanyain tuh anak baru mulu sih. Dia lagi gak masuk sekolah hari ini” jawab Nadia.
“Kenapa memangnya?” tanya Martin.
“Kemaren dia mati terlindas truk” jawab Nadia dengan judesnya.
“Serius?” tanya Rio dan Martin dengan terkejut.
“Enggak gue tadi bercanda. Katanya sih dia sakit tifus terus diinfus di Rumah Sakit Keluarga Bahagia” jawab Nadia sambil senyum-senyum.
“Oh ya udah deh” ucap Rio.

Tiba-tiba telinganya Rio dan Martin dijiwir oleh guru yang “mematikan” tadi. Kemudian mereka diskors selama 3 hari karena membandel. Bukannya sedih mereka malahan senang dan berterima kasih kepada guru yang “mematikan” tadi.

Sementara itu, di kelas terdapat Wijaya dan Bernat sedang menyanyi sambil teriak-teriak gak jelas diikuti oleh teman-temannya. Seketika suasana kelas yang telah selesai melewati pelajaran dari guru “mematikan” tadi kembali gaduh.

Akhirnya bel pulang pun berbunyi, semua murid bergegas untuk pulang ke rumahnya masing-masing kecuali Endang. Ia betah di sekolah karena malas untuk pulang. Dengan asyiknnya ia main laptop sampai lupa daratan. Ia bosan ketika berada di rumah karena selalu saja berebut main laptop dengan adiknya.

Keesokkan harinya, karena Rio dan Martin diskors selama 3 hari sehingga mereka memutuskan untuk menjenguk Arlin siswi baru di sekolah mereka. Karena mereka tidak tahu dimana letak Rumah Sakit Keluarga Bahagia, akhirnya mereka bertanya kesana kemari tapi tak mendapat jawaban. Sudah berkali-kali mereka melewati pertigaan, perempatan dan berbagai macam simpangan jalan. Sudah berjam-jam mereka mencari hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pulang saja ke rumah masing-masing.

Di sisi lain, ternyata Nadia bercerita kepada Arlin tentang Rio dan Martin.
“Eh lo tahu tidak, kemarin ada anak kelas sebelah yang mencari lo tuh” ucap Nadia.
“Siapa memang?” tanya Arlin.
“Itu tuh si Rio sama si Martin” jawab Nadia.
“Hm… kira-kira lo tahu tidak kenapa mereka mencari gue?” tanya Arlin dengan heran.
“Mana gue tahu. Mungkin mereka ingin berkenalan sama lo ” jawab Nadia.
“Iya kali iya. Terus sekarang mereka dimana?” tanya Arlin lagi.
“Mereka kan lagi diskors 3 hari sama Pak Jumain gara-gara bader tidak mau melaksanakan kewajibannya.” jawab Nadia.
“Oh begitu.” balas Arlin dengan singkat.

Sementara itu suasana di kelas tampak seperti biasa, gaduh, ricuh dan tampak berantakan. Tampak ada obrolan mengenai siswi baru yang ada di kelas sebelah.
“Sekarang ini hari kamis broh, hari bebas pelajaran” ucap Riki.
“Benar banget broh” sahut Raka.
“Enak bener lah kalau seperti ini terus” sahut Aris.
“Benar broh” jawab Riki.
“Eh ngomong-ngomong lu sudah kenal belum sama anak baru di kelas sebelah?” tanya Raka.
“Lah memang ada anak baru ya?” tanya Herman.
“Beuh lu kudet broh” ucap Raka.
“Siapa memang anak barunya?” tanya Herman.
“Iya siapa?” tanya lagi Riki dan Aris.
“Itu si Arlin” jawab Raka.
“Cakep tidak broh?” tanya Aris.
“Beuh jangan ditanya soal itu mah broh. Cakep lah, orangnya juga kalem, pokoknya perfect lah” jawab Raka dengan meninggi-ninggikan Arlin.
“Boleh nih buat gue” ucap Aris.
“Oy punya gue itu.” sahut Riki.
“Ya elah lu pada tidak tahu malu iya. Dia mah cocoknya sama gue, Herman sedunia.” sahut Herman dengan sombong.
“Oke kita saingan buat mendapatkan Arlin” tantang Aris dengan nada sok keren.
“Oke” jawab Riki.
“Oke. Siapa takut” sahut Herman.
Dengan itu terjadilah persaingan di antara Aris, Riki, dan Herman untuk mendapatkan Arlin.

Akhirnya bel istirahat telah selesai dan berganti ke pelajaran paling membingungkan bagi kebanyakan orang yaitu fisika. Guru pun telah masuk dan tiba-tiba muncullah wajah-wajah jenuh, bosan, galau, bingung, bimbang, ngantuk dan semacamnya.

Karena pelajaran begitu membosankan, akhirnya Junaedi mengeluarkan telepon genggamnya dan berusaha memainkan berbagai macam permainan supaya menghilangkan suasana suntuk dalam kelas. Sementara itu, si Nalu tertidur lelap di lantai di belakang kelas. Endang asyik coret-coret buku. Aris, Riki, dan Herman masih bersikeras membicarakan Arlin. Raka pun sedang asyik mengobrol dengan teman sebangkunya yaitu Rafli. Suasana tampak sibuk sendiri. Akan tetapi, Rudi, Iko, Virgo, Oi, Nara, Jamal, Ben dan Reza tampaknya asyik memperhatikan pelajaran yang dianggap paling membingungkan sedunia ini.

Akhirnya pelajaran fisika pun berakhir, bel pulang sekolah berbunyi. Neraka bagi para pelajar telah lewat, rumah sudah menunggu. Akan tetapi, Aris, Riki dan Herman berusaha berkenalan dengan siswi baru di kelas sebelah.
“Halo Arlin” sapa Aris, Riki dan Herman.
“Masa cuma sapa Arlin doang sih, lah gue tidak disapa” eluh Nadia yang sedang berada di samping Arlin.
“Lah lu mah bodo amat.” balas Riki.
“Huh jahat” jawab Nadia sambil cemberut.
“Emang gue pikirin.” sahut Aris.
“Sudah sudah” sela Arlin.
“Halo Arlin. Kamu tuh cantik banget seperti bidadari yang turun dari langit ketujuh jatuh kepelukan pangeranmu ini yaitu aku” gombal Riki.
“Makasih” jawab Arlin dengan singkat.
“Apaan sih lu goda-godain permaisuri gue” marah Aris.
“Apaan sih lu segala ngaku-ngaku kalau si Arlin itu permaisuri lu” bantah Riki.
“Buset dah lu berdua tidak pada sadar diri ya. Arlin itu calon istri gue.” sahut Herman dengan bangganya.
Sementara itu, Aris, Riki dan Herman adu mulut hingga berantem-berantem kecil hingga akhirnya Arlin pergi meninggalkan mereka semua.

“Ah gara-gara lu juga nih si Arlin ampe pergi begitu. Padahal gue belum kenalan sama dia.” ucap Herman dengan menyalahkan Aris dan Riki.
“Lah kok gara-gara gue. Gara-gara dia juga yang mulai ngegombal.” jawab Aris sambil menyalahkan Riki.
“Ish… apa salahnya ngegombal? Tak ada kan. Lagian lu berdua ngaku-ngaku kalau si Arlin itu permaisuri lah, calon istri lah atau apalah itu.” ucap Riki sambil menyalahkan Aris dan Herman.
“Sudahlah dari pada ribut begini lebih baik kita pulang yuk.” ucap Herman sambil mengajak Aris dan Riki pulang.

Sementara itu, ketika Arlin dan Nadia dalam perjalanan menuju rumah. Mereka berpapasan dengan Rio dan Martin.
“Halo Nadia. Siapa nih gadis manis yang ada di samping lu itu?” tanya Rio.
“Yah lu mah puji-puji dia doang. Masa gue gak dipuji-puji sih” jawab Nadia dengan nada agak kesal.
“Lah lu mah bodo amat” ucap Martin.
“Jahat” ucap Nadia.
“Biarin wooo” sorak Rio.
“Halo. Namaku Arlin” ucap Arlin dengan memperkenalkan dirinya.
“Lah lu bilang Arlin lagi diinfus di Rumah Sakit Keluarga Bahagia” ucap Rio sambil menunjukkan Nadia.
“Hehehe… sorry gue bercanda” ucap Nadia.
“Halo nama gue Rio” ucap Rio sambil berjabat tangan dengan Arlin.
“Woy bro gantian gue lah” bentak Martin kepada Rio.
“Halo nama gue Martin” sapa Martin sambil berjabat tangan dengan Arlin.
“Sudah ya kami mau pulang dulu. Dadah” pamit Nadia.

Ketika Rio dan Martin sudah berkenalan dengan Arlin. Tampak timbul perselisihan di antara mereka berdua untuk memperebutkan Arlin. Akhirnya mereka membuat kesepakatan. “Jika Arlin bisa menjadi milik Rio, maka Martin akan menjadi pembantu pribadi tanpa gaji Rio sampai mereka putus” dan “Jika Arlin bisa menjadi milik Martin, maka Rio harus bersedia membayari uang makan plus uang saku Martin sampai mereka putus”

Berbagai aksi telah dilakukan untuk PDKT dengan Arlin. Aris, Herman, Riki, Rio dan Martin punya berbagai macam jurus jitu untuk mendapatkan Arlin. Karena besok itu hari libur, Aris berusaha menanya-nanyakan alamat rumah Arlin kepada seluruh temannya.

Akhirnya Aris mendapatkan alamat rumah Arlin yaitu di Kp. Melayu RT 01 RW 02 Desa Durian, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. Setelah mendapatkan alamat itu, Aris pun langsung mencari-cari di google maps di Android miliknya itu. Dari pelosok ke pelosok ia cari, sudah lama Androidnya ia kutak-katik. Ternyata alamat itu pun alamat palsu.

Karena kemarin Arlin pulang bersama Nadia, Aris pun langsung menanyakan identitas lengkap Arlin kepada Nadia melalui pesan singkat.
“Oy Nad, lu tahu nomor handphone nya si Arlin gak?” tanya Aris.
“Tahu. Memang kenapa?” tanya Nadia.
“Gue minta dong.” jawab Aris.
“Ah bodo ah tidak gue kasih.” ucap Nadia.
“Duh ileh sama teman sendiri ge pelit banget.” balas Aris.
Tiba-tiba Nadia mematikan handphonenya dan percakapan mereka terputus.

Aris pun merasa jenuh di hari liburan yang hanya seorang diri tanpa teman dan pacar. Sementara itu, Rio sedang bersenang-senang main game di kamarnya sendiri sambil mendengarkan musik yang membuat gaduh isi rumahnya. Martin tampaknya masih tidur-tiduran di awan dalam kamarnya yaitu kasur. Herman sibuk membantu bapaknya menghitung tagihan bulanan. Riki tampaknya membantu ibunya belanja.

Keesokkan harinya, Rio dan Martin sedang jajan di kantin. Ada seorang gadis manis yang membuat Rio naksir kepadanya.
“Beuh ileh bro itu cewek manis juga iya” ucap Rio.
“Mana?” tanya Martin.
“Itu tuh yang tubuhnya mungil” jawab Rio.
“Oh dia. Itu namanya Hesti. Mau gue kenalin gak?” tanya Martin.
“Bolehlah” jawab Rio.
“Eh terus perjanjian kita bagaimana?” tanya Martin.
“Sudah batal aja. Gue kasih dah si Arlin buat lu” jawab Rio.

Rio dan Martin pun langsung menghampiri Hesti dan Rio pun memperkenalkan dirinya kepada Hesti.
“Halo Hesti” sapa Martin.
“Halo” sapa Hesti.
“Kenalin nih temen gue namanya Rio” ucap Martin sambil memperkenalkan diri Rio.
“Rio” ucap Rio sambil berjabat tangan dengan Hesti.
“Hesti” ucap Hesti sambil berjabat tangan dengan Rio.

Setelah Rio dan Hesti berkenalan, tampak mereka semakin lama semakin akrab. Sementara itu, Aris, Riki,dan Herman masih bersaing untuk memperebutkan Arlin. Tapi Riki sudah mulai bosan dan membiarkan Aris dan Herman untuk mendapatkan Arlin.
“Udah ah gue bosen rebutin si Arlin mulu” ucap Riki.
“Hehe… Ris saingan kita berkurang. Peluang gue buat dapatin Arlin bertambah nih” ucap Herman.
“Lo aja masih tak sadar diri aja Man. Arlin itu punya gue” ucap Aris.
“Oke kita lihat saja nanti” ucap Herman.

Kini jam pelajaran berbunyi. Dalam kelas tampak ada percakapan Aris, Herman dan Martin.
“Oke broh. Cuma kita berdua aja yang berusaha dapatin Arlin” ucap Aris.
“Tapi tetap aja Arlin nanti akan jadi pacar gue” ucap Herman.
“Duh ileh pada ngomongin apa ini rebut banget?” tanya Martin.
“Gue sama Herman lagi ngomongin si Arlin” ucap Aris.
“Beuh kayaknya gue dapat saingan baru nih” ucap Martin.
“Duh ileh saingan kita tambah lagi Ris” ucap Herman.
“Iya Man” ucap Aris.

Ketika pulang ke rumah, orangtua Aris memberitahukan kepada Aris bahwa kita akan pindah rumah hari ini. Aris kaget kemudian ia memberitahukan kepada teman-temannya bahwa ia akan pindah dan pamit kepada seluruh temannya.

“Sudah hampir satu tahun, aku bersekolah disini. Entahlah apa yang ku dapat dan apa yang ku beri. Aku bahkan masih berbuat salah. Aku masih membayangkan apa yang akan terjadi 10 tahun selanjutnya. Apakah mereka teman-temanku masih mengenal aku atau mungkin tidak. Apa pun itu kita masih hidup di bawah langit tapi entah sampai kapan. Aku masih merindukan kalian” ucap Aris.

Kini jumlah siswa di kelas pun menjadi 21 siswa dengan kepindahan Aris. Sementara itu, Herman berusaha pulang ke rumahnya dengan hujan yang lebat menimpa bumi. Suasana jalan menjadi remang-remang. Perasaan Herman menjadi tidak enak.

Ketika ia berbelok ke ternyata ada mobil angkot berlawanan arah di depannya. Ia berusaha membelokkan kemudi motornya tetapi ia tergelincir dan kepalanya membentur tiang listrik dengan keras dan gegar otak.
“Inikah akhirnya? Maafkan aku teman-temanku. Terima kasih atas segala perbuatanmu. Tolonglah aku” ucap Herman sambil berpesan kepada teman-temannya melalui ponselnya itu.

Semuanya turut beduka cita atas meninggalnya Herman. Termasuk Martin yang tampaknya terlihat paling sedih. Ketika semuanya pada bubar dari proses pemakaman Herman, tampak Martin seorang yang masih terdiam.

Hujan semakin lama, semakin deras. Nadia berusaha menghampiri Martin dan mengucapkan satu hal kepadanya.
“Semua orang juga nantinya akan pergi. Kau tak usah sedih atau pun takut. Kita semua sama walau pun berbeda. Yang terpenting adalah apa yang kau lakukan selama hidupmu. Bukannya berapa lama kau hidup. Biarlah Tuhan yang akan selalu menemanimu walau pun kau tak melihatnya. Ingatlah kita tak akan pernah sendiri” ucap Nadia.

Hujan mulai reda dan tampak di atas awan terdapat pelangi yang begitu indah bersinar setelah gelapnya langit.
“Ayo kita pulang” ucap Nadia.

Martin dan Nadia pun mulai berbalik dan langkah demi langkah menjauhi makam Herman.

Cerpen Karangan: M. Syarifudin Hidayatullah
Facebook: Syarifudin Emseh

Cerpen Di Atas Awan dan Di Bawah Langit merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Berawal Dari Mata

Oleh:
Kulangkahkan kakiku di sunyinya pagi. Aku mulai melakukan aktivitas sehari-hariku. Yaitu, sebagai siswi di sebuah sekolah menengah atas (SMA). Meski jarak rumahku dengan sekolah tidak terlalu dekat, tetapi aku

Sahabat Baru

Oleh:
Faisal sedang duduk di samping pohon. Aku menghampirinya dengan deva. “Faisal, kamu ngapain di sini?” tanyaku. Faisal tak menjawab “Faisal?” ucapku bingung. Deva menggoyang goyangakan tangannya ke depan muka

Trap (Part 1)

Oleh:
Menyebalkan, dasar menyebalkan! Entah kenapa, dia tidak pernah sadar dengan apa yang sedang kurasakan padanya. Kenapa dia begitu sentimen padaku, sih? Karin terus menerus mengutuk cowok yang sedang berada

Akhir Penantian

Oleh:
“Ra nanti siang temenin gue ke toko buku yang deket kompleks rumah lo yaa” ajak Rinda. “siap nyonya, ntar sekalian gue juga mau cari buku musik terbaru” jawab Rara

Cinta Yang Selalu Terjaga

Oleh:
“BRAAK!!!” Shinee mendongak. “sorry, aku sengaja ha.. Ha.. Ha..” cessa berlalu pergi sambil tertawa puas. Shinee menggerutu sebal sambil menyimpuni bekas-berkasnya yang berhamburan setelah ditabrak cessa. “butuh pertolongan” tawar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *