Di Bawah Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 11 July 2016

“Ana! Tunggu!”
Aku menghentikan langkahku dan menengok ke belakang. Sahabatku, Tasya, berlari ke arahku. Setelah sampai dia menghembuskan nafas panjang karena kelelahan berlari.
“Cepet banget sih jalanmu! Aku capek ngejarnya.”
“Ada apa tho sampe lari begitu?”
“Kamu tuh, orang udah janji nemenin aku ketemu Mas Indra kok malah pulang. Untung aku cepet balik kelas dan keburu ngejar. Ayo, ikut aku sekarang!”
“Lupa aku kalau udah janji, maafin tho, aku gak ada niat untuk kabur.”
“Yowes pokone ikut aku sekarang!”
Tasya menarikku kembali ke kelas.

Oh ya, namaku Ivana Yohana, aku biasa dipanggil Ana kecuali di rumah aku dipanggil Iva. Sebenarnya aku senang dipanggil Iva, tapi karena ada teman sekelasku yang bernama Ivana juga jadi dia dipanggil Iva dan aku dipanggil Ana. Saat ini aku bersekolah di SMA St Carolus bersama sahabatku Natasya Wijaya. Aku dan Tasya sudah bersahabat sejak kecil dan orangtua kami juga cukup dekat. Entah apa yang terjadi sejak SD sampai sekarang kami selalu satu kelas. Ada rasa bosan sebenarnya tapi ternyata jika kami terpisah beberapa hari rasanya begitu hampa. Pernah saat aku berlibur ke Jakarta sedangkan Tasya berlibur ke Bali, kami berdua merasa sedih. Ibarat sendok dan garpu ketika dipisahkan terasa ada yang kurang. Tasya sekarang lagi pdkt sama kakak kelas namanya Indra atau kita panggilnya Mas Indra. Mas Indra ini cukup ganteng dan baik menurutku, cocok sama Tasya. Sayangnya dia punya riwayat percintaan yang membuat Tasya jadi ragu dan takut hanya dijadikan mainannya. Bayangkan saja, Mas Indra punya selusin mantan dan pacaran yang pernah dijalani Mas Indra paling lama itu hanya enam bulan! Rata-rata Mas Indra yang memutuskan hubungannya dan alasannya itu karena Mas Indra gak suka diatur cewek. Entahlah bagaimana nanti hubungannya dengan Tasya, aku hanya medukung Tasya melakukan hal yang terbaik untuk dirinya sendiri.

“Hai, Sya, maaf ya lama barusan aku abis kerja kelompok dulu. Eh, ada Ana juga.”
Setelah menunggu sepuluh menit di kantin sekolah akhirnya Mas Indra datang juga. Aku sebenarnya malas menemani mereka tapi apa boleh buat Tasya yang minta, dia takut Mas Indra berbuat hal yang aneh. Memang tidak logis tapi ya aku hanya menurutinya supaya dia tenang, bagaimanapun aku sangat menyayangi Tasya dan tidak ingin Tasya mengalami hal yang aneh-aneh.
“Gapapa, Mas, aku sama Ana juga baru dateng tadi kok.”
“Oh ya, nanti Adit mau dateng ke sini gapapa? Dia mau ambil buku di aku, barusan mau aku kasih tapi dia masih latihan basket.”
Aku hanya fokus membaca novelku sedangkan Tasya dan Mas Indra berbincang banyak hal, mulai dari tentang sekolah, hobi mereka yang sama-sama suka film dan lain-lain. Beberapa lama setelah itu Mas Adit, temannya Mas Indra datang. Ini pertama kalinya aku melihat Mas Adit dari dekat. Aditya Hermawan, atlet basket SMA St Carolus yang terkenal itu. Ternyata kalau dilihat dari dekat memang ganteng.
“Saya Adit, salam kenal ya.”
“Hai, Mas Adit, aku Tasya, salam kenal, Mas.”
Aku hanya bersalaman dengannya lalu kembali membaca novelku. Handphoneku bergetar, ada chat dari Tasya.

Tasya: Kamu tuh piye naa!! Cogan gitu cuma disalamin, gila kamu -_-
Ivana: Maumu aku gimana tho? Joget2 depan dia?
Tasya: uh gemes aku sama kamu

Aku tidak membalas lagi chat Tasya. Dia sesekali mencubitku dan aku hanya diam saja tidak menggubrisnya. Mas Adit masih ikut dalam pembicaraan Tasya dan Mas Indra. Jam menunjukkan pukul setengah lima sore, sudah waktunya untuk pulang.
“Kalian pulang naik apa? Biar aku sama Adit yang anter kalian.”
“Kita biasa naik angkot bareng, Mas. Duh jadi ngerepotin, jangan ah, Mas.”
“Sama sekali ndak bikin repot. Udah mendung, lho, daripada nanti kalian keujanan mending pulang sama kita. Ya, tho, Dit?”
“Iya, yuk, kamu sama Indra, temenmu biar aku yang anter.”
Jantungku berdetak lebih kencang. Mas Adit mau anter aku pulang? Apa aku salah dengar?
“Bener nih, Mas, ndak bikin repot? Yowes deh boleh.”
Duh, kok Tasya main iya-iya aja, aku mau nolak juga jadi bingung.
“Tiati ya, Na, kalau dah sampe rumah kabarin. Bye.”
Tasya pergi ke parkiran bersama Mas Indra. Kantin sudah sepi sejak tadi, jadi di sini hanya ada aku dan Mas Adit.
“Nama kamu siapa? Aku belum tau nama kamu.”
“Ivana Yohana, Mas. Maaf ya, Mas, jadi ngerepotin.”
“Gak kok, woles aja. Yuk, Iva, udah sore lho.”
Aku memandangnya. Pertama kali ada yang memanggilku Iva di sekolah. Dia membalas tatapanku dan tersenyum manis. Tanpa sadar tangannya sudah menggenggamku dan menarikku.
“Yuk!”

Seperti biasa, sore hari jalanan macet. Kami berbicara banyak hal selama perjalanan. Untuk menghindari macet panjang Mas Adit akhirnya memilih untuk lewat gang-gang kecil. Langit semakin gelap pertanda hujan besar akan turun. Aku berharap hujan tidak turun sekarang. Jantungku masih berdetak tak karuan. Aku hanya mengelus dada. Hujan mulai turun dan aku selalu benci dengan hujan. Hujan selalu turun beramai-ramai membuat manusia menjadi repot.
“Astaga hujan, kita neduh dulu ya.”
“Iya, Mas.”
Hujan turun dengan derasnya. Aku dan Mas Adit berteduh di pos satpam yang sudah tua. Jalanan begitu sepi dan hanya kami yang berteduh. Entah mengapa aku sedikit takut dengan Mas Adit. Bagaimanapun, kami baru saling kenal dan bukankah laki-laki bisa lupa diri?
“Kok diem, Va? Aku gak akan berbuat hal yang gak baik sama kamu. Laki-laki sejati pasti melindungi perempuannya.”
Perempuannya? Kata itu sedikit ambigu menurutku. Ah, masa dibilang begitu sudah baper.
“Iya, Mas. Gara-gara mau anter aku Mas Adit pulangnya jadi lebih sore. Maaf, ya, Mas.”
“Gapapa kok, Va. Tau gak, hari ini aku seneng banget. Rasanya dari aku bangun sampai detik ini Tuhan kasih aku berkat terus menerus.”
“Berkat Tuhan memang seperti sungai, terus mengalir dan takkan pernah berhenti, Mas.”
“Hehe iya, Va. Tadi pagi ibuku dinyatakan sembuh sama dokter. Mulai sekarang ibu gak perlu kemo lagi. Tadi siang mantanku telepon dan dia bilang dia udah bisa merelakan aku. Tadi sore aku dipertemukan sama kamu. Rasanya bahagia sekali.”
Senyuman Mas Adit makin manis saja. Aku semakin meleleh melihatnya.
“Ibu sakit apa tho, Mas? Mas baru putus dari mantan, kenapa? Ketemu aku kok jadi bahagia gitu?”
“Ibu setahun lalu divonis leukimia. Bulan lalu ibu dioperasi.”
“Puji Tuhan kalau ibu sudah sembuh, salam untuk ibu ya, Mas.”
“Jangan cuma salam dong, kapan-kapan harus ketemu ibuku.”
“Boleh, Mas.”
“Aku baru putusin mantanku sebulan lalu. Kami pacaran setahun dan selama itu buat aku suatu kesalahan. Aku nyesel gak denger omongan ibu. Ibu gak suka mantanku sejak awal aku cerita tentang dia, ibu pengen aku putusin dia. Aku awalnya gak terima dan gak mau dengerin ibu. Bulan kemarin semua alesan ibu terjawab, semua kata-kata ibu terbukti. Mantanku bukan perempuan baik-baik, dia udah tidur sama banyak laki-laki dan aku dengan bodohnya cuma jadi mainan dia selama ini.”
“Apapun yang buruk di masa lalu itu bukan kesalahan, Mas. Untuk bertemu dengan yang terbaik terkadang harus jatuh dulu supaya kita kuat dan bisa meraih yang terbaik itu.”
“Iya, Va. Makasih banyak, ya. Kamu bikin aku jadi merasa tenang.”
“Sama-sama, Mas. Oh ya, maaf kalau lancang, mantan mas kok bisa begitu? Dia apa anak Carolus juga?”
“Dia awalnya tinggal di sini tapi setelah tiga bulan pacaran dia pindah ke Jakarta, dia model. Ya, kehidupan di Jakarta dan lingkungan dia mungkin bikin dia jadi seperti itu. Dia juga barusan jujur kalo awalnya dia cuma main-main sama aku dan lama kelamaan dia bener-bener sayang sama aku. Walau kita LDR dia cuma sayang aku. Aku cuma bilang semuanya udah gak bisa kayak dulu. Waktu baru putus dia sampe dateng ke rumah dan nangis minta maaf sama aku, aku tetep gak bisa kembali sama dia. Barusan dia telepon dia mau nikah bulan depan dia pengen aku dateng ke Jakarta. Aku usahain dateng sih.”
“Apa dia nikah gara-gara…”
“Dia gak hamil sih, waktu kemaren fisik dia normal-normal aja. Dia dijodohin sama orangtuanya supaya berhenti jadi model. Lagian umur dua puluh tiga udah pantes buat nikah.”
Aku terkaget dan meatapnya. Mas Adit tertawa.
“Kaget banget? Haha, mantan aku emang lebih tua dari aku. Kita kenal waktu aku tanding basket di kampusnya. Itu pertama dan terakhir kali aku pacaran sama yang lebih tua, selebihnya gak akan lagi.”
“Yakin, Mas?”
“Yakin kok, kan kamu adik kelasku. Jangan bilang umurmu diatas sembilan belas.”
“Umurku masih enam belas tau! Eh, kok jadi bawa-bawa aku?”
“Enam belas? Bukannya kalau udah kelas dua itu harusnya tujuh belas ya?”
“Aku masuk SD lima tahun. Mulai deh mengalihkan pembicaraan.”
“Pembicaraan yang mana nih aku lupa.”
“Hmm.”
“Hahaha kalo kamu marah gitu jadi tambah lucu deh.”
Aku muncubitnya lalu dia membalasnya. Hujan belum berhenti dan untuk pertama kalinya aku menyukai hujan.

“Makasih ya, Mas.”
“Sama-sama, Va. Makasih juga buat hari ini. Aku pulang ya.”
“Iya, Mas. Hati-hati ya. Tuhan berkati.”
Mas Adit menghilang bersama motornya. Aku masuk ke rumah dan seperti biasa rumah masih sepi. Papa sedang keluar kota dan mama masih di kantor, baru pulang jam tujuh malam. Aku masuk ke kamar dan menyalakan handphoneku yang sejak tadi kumatikan. Ada banyak chat dari Tasya.

Tasya: Anaaaa!!!!
WOY CEPET PULANG JANGAN KEMANA-MANAAA
KU SENENG BGT HARI INI TADI MAS INDRA NEMBAK AKU DEPAN PAPIII
IVANAA YOHANAAA WHERE ARE YOUUU

Gila! Mas Indra berani sekali. Sontak aku langsung menelepon Tasya dan disambut omelannya yang panjang seperti rel kereta api.
“HEH KEMANA AJA KAMU TUH SUMPAH TADI AKU DEG-DEGAN BANGET MAS INDRA MASA MAU KETEMU PAPI EH PAS-PASAN NYAMPE RUMAH PAPI DI DEPAAAN GILAAA GILAAA GILAAA. EH KEMANA TADI SAMA MAS ADIT NAPA BARU HUBUNGIN AKU SEKARANG HUH DASAR NYEBELIN BANGET KAMU TUH MINTA DICEMPLUNGIN KE BENGAWAN SOLO YA HUFT.”
Aku hanya tertawa mendengar ocehan Tasya.
“Gila! Itu asli, Sya? Terus gimana-gimana?”
“Asliii kapan Tasya boong!!! Di jalan itu dia bilang:

Indra: Sya, papi kamu ada di rumah?
Tasya: Iyo, Mas, piye?
Indra: Aku pingin ketemu
Tasya: Ketemu? Buat?
Indra: Mau ijin boleh gak aku jadi pacar anaknya
Tasya: Mas udah gila ya?
Indra: Iya gila gara-gara kamu
Sumpah, Na, gimana gak kesel coba dan pas sampe depan rumah papi ada di depan! Mas Indra langsung turun dari motor terus samperin papi, cium tangan papi gak pake basa-basi langsung aja ngomong ke papi, sumpaaah itu bener-bener hal terdeg-degan!!”
“Hahaha jadi kaliaaan…”
“Iya, Na, papi dengan polosnya bilang boleh, rasanya hari ini itu super aneh tau gak? Sekarang papi masih ngobrol sama Mas Indra di depan. Eh, aku dipanggil suruh turun nih, ntar aku telepon kamu lagi.”
“Ok, daah.”
Tasya benar, hari ini super aneh.

“Makan dulu, yuk!”
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Sudah dua bulan Tasya dan Mas Indra jadian, sudah dua bulan aku dan Mas Adit dekat. Setiap hari aku diantar jemput ke sekolah. Kami sudah beberapa kali pergi berdua, pernah juga berempat bersama Tasya dan Mas Indra. Terakhir kami nonton berempat di bioskop. Mungkin terkesan double date tapi aku tidak peduli dan tidak banyak berharap. Kubiarkan semua berjalan seperti air.
“Selesai makan ikut aku ke rumah ya, ibu mau ketemu kamu.”
Aku tersedak mendengar Mas Adit. Dia langsung memberiku minum. Ayolah, bertemu dengan ibunya? Yang benar saja!
“Kamu gapapa, Va?”
“Gapapa, Mas. Ibu mau bertemu aku, seriusan?”
“Serius banget, Ivana sayang. Malah ibu itu pengen ketemu kamu dari bulan lalu, berhubung kamu sibuk ya aku belum ajak kamu. Ibu gak sabar banget pengen ketemu kamu.”
Aku hanya diam dan menghabiskan minumanku. Satu, aku selalu bingung ketika dia memanggilku ‘Ivana sayang’. Kita bukan pacar dan aku sebenarnya senang dipanggil begitu, perempuan mana yang tidak senang dipanggil sayang oleh seseorang yang dia sayang? Tapi tetap saja aku benci, dia memanggil sayang tapi tidak mengungkapkan perasaannya. Aku merasa bingung dan bodoh jadinya. Kedua, ibunya ingin bertemu denganku. Aku belum pernah pacaran dan belum pernah diajak pria bertemu dengan ibunya. Aku takut ibunya tidak suka denganku. Astaga, aku harus bagaimana?
“Kok diem, Va. Mau ya, ibuku baik kok.”
“Yowes, Mas, ayo.”
Ayo, Iva, kamu pasti baik-baik saja.

Rumah Mas Adit sangat bagus menurutku. Hijau dan tenang. Halaman depan cukup luas, ada taman dihiasi bunga-bunga yang cantik. Ibu Mas Adit tiba-tiba muncul dan mengajakku masuk ke dalam.
“Biasanya Adit bohong sama ibu, kali ini dia benar, Iva cantik sekali, nak.”
“Terima kasih ibu. Maaf baru sempat ke sini, baru diajak Mas Adit, bu, hehe.”
“Gapapa sayang, Adit bilang Iva kemarin lagi sibuk, ibu ngerti kok. Sudah makan?”
“Sudah kok, bu.”
Aku berbicara banyak hal dengan ibu sedangkan Mas Adit sedang pergi, mau beli sesuatu katanya. Ibu ternyata orang yang sangat menyenangkan dan terlihat sekali ibu sangat menyayangi Mas Adit.
“Ibu ingin kamu terus sama Adit ya, kalau dia bikin Iva kesel bilang sama ibu.”
“Iya bu. Mas Adit baik banget kok sama Iva.”
Terdengar suara sepatu memasuki ruang tamu. Mas Adit datang membawa pot kecil berisi tanaman. Dia berlutut sambil memegang tanganku. Aku terdiam, lidahku menjadi kelu. Bibirku seperti dilem. Ibu hanya tersenyum dan mengelusku.
“Iva, mungkin kita memang baru mengenal namun aku tau kamulah yang selama ini kucari. Aku sadar aku bukan orang yang sempurna. Sekarang, di depanmu dan di depan ibuku, aku ingin berjanji bahwa aku ingin menjagamu dengan segenap jiwaku, aku ingin menjadi pelindung untukmu. Aku ingin kamu menjadi wanita terindah kedua dalam hidupku setelah ibu. Would you be my girl?”
Aku menatap ibu dan dia tersenyum.
“Iva adalah perempuan pertama yang ibu suka. Selama ini Adit belum pernah mengajak calon pacar ke rumah. Dia hanya mengajak perempuan jelek yang sudah dia beri status pacar untuk mengotori rumah. Tadi dia mengajak bidadari cantik tapi belum diberi kejelasan nah saatnya sekarang Iva menjawab kejelasan itu.”
“Mas Adit…”
Mas Adit menatapku dalam. Aku sulit bicara, aku hanya memeluknya dan mengangguk.
“Aku sayang banget sama kamu, Iva.”
Ibu mengelus kepala kami. Mas Adit memelukku semakin erat. Tiba-tiba terdengar hujan turun dengan deras. Mas Adit menarikku keluar walau ibu sudah mengomel. Kami berdansa di bawah hujan.
“Bertemu denganmu adalah suatu jawaban terindah dari Tuhan tentang siapa pendampingku. Terima kasih sudah hadir dalam hidupku.”
Mas Adit mencium keningku. Kami berpelukan. Aku bahagia. Ralat, aku sangat bahagia, dan aku mencintai Mas Adit. Aku juga suka hujan. Dibawah hujan semua terasa menjadi lebih indah. Jika bukan di bawah hujan mungkin semua ini tidak mungkin terjadi.
Untukmu yang membenci hujan, semoga kau sadar bahwa hujan salah satu kejadian alam yang begitu indah!

Cerpen Karangan: Helena Yasinta Kartikasari
Blog: officialhelenayasinta.blogspot.co.id
Semoga karyaku bisa membuat readers senang 🙂
LINE/IG/Twitter: helenayasinta
ask.fm/hyasinta

Cerpen Di Bawah Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kejutan Terakhir

Oleh:
Namaku Veronika Shyla, panggil saja Shyla. Aku kini duduk di bangku SMA, kelas 11. Aku adalah seorang remaja putri biasa, bukan siapa-siapa. Aku memiliki seorang sahabat, Priscilla Viona, panggil

30 Menit Tanpa Suara

Oleh:
Hembusan angin membuat debu melayang-layang hingga hinggap di mata seorang gadis. Gadis yang tengah terduduk di atas motor mengucek-ngucek matanya, karena debu hinggap di sana. Membuat sedikit air mata

Bernafas Tanpamu

Oleh:
Andai aku bisa kembali, pasti bahagia yang akan ku dapati. Andai aku tak terkalahkan akan keegoisanku dulu, pasti semua akan baik-baik saja. Mengapa penyesalan selalu datang di akhir? Disaat

Misteri MOS

Oleh:
Hai namaku Lyla Putri baru saja ini aku tamat SMP. Hari ini tepatnya tanggal 10 Juli aku mempersiapkan segala pakaian untuk melakukan mos seperti sepatu sebelah putih sebelah hitam

Lying By Boyfriend

Oleh:
Uh… mama pasti bakal ngomel lagi kalau tahu anak semata wayangnya pacaran, di usiaku yang menginjak 17 tahun ini aku selalu menunggu datangnya panggeran. Aku selalu berharap memiliki kekasih

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *