Di Bawah Naungan Orion

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 10 December 2018

Rhea menatap langit yang berpendar oleh taburan cahaya bintang. Alnitak, Alnilam, Mitaka dan si bintang tua Betelgeuse yang berwarna kemerahan berkumpul dengan bintang lainnya membentuk Rasi Orion yang terlihat jelas di ufuk timur.

Rhea menghirup udara malam yang dingin dan menghembuskannya perlahan. Aroma pewangi dari pakaian yang baru saja ia jepitkan di kawat jemuran menyapa hidungnya lembut.

Rhea memandang ke segala penjuru. Pot pot tanah liat yang berisi berbagai macam tanaman berjajar rapi membentuk sebuah pagar yang melindungi tempat itu. Hanya satu pot yang dibiarkan kosong tanpa tanaman di dalamnya. Pot itu seakan melambai ingin disentuh olehnya.

Sebuah bangku kayu bertengger angkuh di antara pohon mawar yang diantaranya telah berbunga. Lea menatap bangku kayu itu dengan mata yang berkabut. Malam itu begitu cerah bermandikan cahaya purnama limabelas. Rhea menapaki tangga kayu yang bilah bilahnya terlihat mengkilat tergerus tapak kaki. Ember berisi pakaian di tangan kanannya terasa sangat berat, yang membuat langkahnya sedikit terbebani. Bagi Rhea malam adalah waktu yang tepat untuk menjemur pakaian. Ketika semua teman kosnya berleha leha menikmati waktu istirahat. Rhea dengan sadar memanfaatkan waktu senggangnya itu.

Nafasnya sedikit tersenggal ketika Rhea sampai di atas. Ia meregangkan jemari letihnya. Angin malam membelainya mesra. Rhea merapatkan cardigan hitamnya segera. Ia memandangi bulan dengan cahayanya yang mengalahkan sinar lampu TL. Nini anteh selalu sendiri di atas sana. Kesendirian yang melahirkan keindahan.

Tiba tiba Rhea dikejutkan oleh suara tawa lirih. Bulu kuduknya meremang seketika. Siapakah gerangan yang tertawa? Tak mungkin nini anteh di atas sana kan? Suara itu kembali terdengar, dengan jantung berdegub kencang, Rhea melayangkan pandangannya ke empat penjuru mata angin dengan segera.

Di antara pot pot yang tertata rapi ada sebuah sosok yang tengah terduduk lemas di bangku kayunya. Sinar bulan mendadak meredup ketika awan menghalanginya. Tanpa pikir panjang Rhea menuruni tangga kayu itu. Berlari untuk menyelamatkan diri. Rhea mengetuk pintu kamar Miko dengan kencang, nafasnya memburu. Seorang pemuda berkacamata keluar dari kamarnya.

“Mik, itu ada orang aneh di sana.” Rhea bercerita dengan panik.
“Di mana? Di kamar kamu? Sini biar ku hajar.” Miko menaikan lengan kemejanya sambil berlalu di depan Rhea.
“Mikoo, bukan di kamarku. Tapi di atas sana.”
Miko menaikan kacamatanya yang melorot.
“Heuh kirain ada yang masuk kamar kamu, udah serius gini.”
“Ini juga serius Mik, ada orang mencurigakan di tempat jemuran.”
“Laah, itu mah gak mencurigakan.”
“Kok?”
“Oh iya aku lupa, kamu kan baru pindah ya.” Miko tertawa.
“Jadi itu beneran orang?”
“Laah iya lah.”
“Terus ngapain dia di sana? Bikin kaget aja tau gak.”
“Itu Bara. Anak Ibu kos.”
“Haah?”
“Gak usah kaget gitu lah.”
“Lantas ngapain dia di sana?”
“Laah biasa, mencari kesenangan untuk dirinya sendiri. Udah kamu cuek aja, dia gak bakalan ganggu kamu kok.”
Rhea menggaruk kepala tak gatalnya.
“Udah percaya aja sama aku, sana lanjutin jemurnya. Mau aku temenin?”
Rhea merengut dan menggeleng.
“Lagian nyuci malem malem, masuk angin baru tau rasa.” Miko ngeloyor masuk ke dalam kamarnya.

Rhea kembali menapaki tangga kayu itu satu persatu. Pelan tapi pasti ia menengok ke arah dimana ia menemukan sosok tadi. Dia masih di sana, diam tertunduk lesu. Rhea menjemur bajunya dengan waspada. Ia tidak ingin tiba tiba sosok itu menerkamnya.

Akhirnya tugas Rhea selesai juga, dengan mengendap endap ia tinggalkan tempat itu. SesekalI ia menoleh ke belakang.
Sepanjang malam itu, Rhea tidak dapat nemejamkan matanya. Pikirannya berkelana kemana mana.

Malam berikutnya, Rhea kembali menemukannya di sana. Kadang bergumam, kadang tertawa. Rhea melihat itu semua dari sudut matanya. Ada apa dengan orang itu? Apakah dia Gila? Mengapa Ibu kosnya yang tinggal Beberapa ratus meter dari tempat ini tidak pernah mencarinya? Banyak sekali pertanyaan yang berkecamuk di pikiran Rhea. Semua teman kosnya hanya tersenyum dan menggeleng ketika Rhea mengajukan pertanyaan itu. Mendadak semua menjadi bisu.

Purnama telah berlalu, menyisakan bentuknya yang menyabit di atas sana. Rhea melirik pemuda bernama Bara itu. Duduk di atas bangku kayu dengan kepala terkulai lemas. Mendadak Rhea menjadi sangat penasaran. Dalam diam ia memperhatikan Bara. Bara memegangi perutnya, sesekali ia terlihat akan memuntahkan sesuatu dari mulutnya. Rhea terkejut, dengan sigap ia menghampiri pemuda bertubuh kurus itu.

“Kamu gak apa apa?”
Bara menatapnya dengan tatapan yang menyeramkan.
“Siapa kamu?” Bara bertanya yang membuat tubuh Rhea menjadi terasa kaku.
“Aku… Aku… Rhea, aku ngekos di sini.”
Bara terlihat kepayahan.
“Pergi sana, jangan ganggu aku. Aku gak mau kamu ada di sini.”
“Tapi kelihatannya kamu sakit…”
“Gak usah sok perhatian lah, PERGI.”
Rhea terkejut dengan bentakan Bara. Belum pernah ia dibentak seperti itu oleh orang yang tak dikenalnya. Rhea pun pergi meninggalkan pemuda yang penampilannya jauh dari rapi itu.

Rhea bergegas menaiki tangga kayu itu. Matahari telah berada di ufuk barat. Lelah telah membuat tidur siangnya melebihi batas. Pakaian di kawat jemuran itu terombang ambing di tiup angin sore. Rhea memandang beberapa tanaman yang berada di pot. Mereka terlihat layu. Diraihnya selang yang terhubung dengan kran air. Rhea mulai menyirami tanaman itu.

“Kamu boleh menyiram semua tanaman di sini, tapi jangan pernah menyentuh yang ini.” Rhea terlonjak mendengar suara yang datang tiba tiba di telinganya. Selang air di tangannya menjadi tak terkendali.
“Hei, Kenapa kamu jadi nyiram aku. Aku kan bilang tanaman ini.” Bara menyimpan sebuah pot tanaman baru di samping bangku kayu.
“Eh maaf, gak sengaja.”
Bara meliriknya sekilas dan pergi meninggalkan Rhea.

Rhea menatap tanaman baru itu, yang ia sendiri tak tahu berjenis apa.
“Hmm pasti dia yang telah menanam semua tanaman ini. Menarik” Gumam Rhea.

Malam ini Rhea tidak mencuci tapi tetap saja ia menapaki tangga kayu itu. Bangku itu kosong tanpa penghuni. Rhea pun mendaratkan tubuhnya di sana. Tanaman baru itu bergoyang goyang di tiup angin malam. Rhea Berjongkok, memandangi tanaman berdaun runcing runcing itu. Ia mengerutkan dahinya, baru saja ia akan membelai daunnya. Sebuah suara berteriak lantang dari arah belakangnya.
“Jangan sentuh itu. Aku kan sudah bilang, kamu boleh menyentuh semua tanaman di sini kecuali yang satu itu.”
Rhea terlonjak kaget ia langsung berdiri dengan kaku dan mundur Beberapa langkah.
“Memangnya kenapa aku gak boleh menyentuhnya? Itu tanaman langka?”
“Apakah harus selalu ada alasan untuk sebuah larangan?”
“Tentu saja.”
Bara tersenyum sinis dan duduk di bangkunya.

“Tapi mereka tidak.”
“Mereka? Maksud kamu?”
“Kedua orangtuaku.”
“Memangnya mereka melarang apa?”
“Melarangku untuk bertanya ada apa dengan mereka.”
“Pasti mereka punya alasan untuk tidak mengatakannya.”
“Mereka hanyalah orang orang yang egois.”
“Mungkin itu demi kebaikan kamu.”
“Kebaikan? Ketidakpedulian tepatnya. Tinggalkan aku sendiri. Angin malam gak baik buat kamu.”
Rhea pergi dengan langkah yang berat.
Ternyata pemuda itu bisa bicara selain tertawa.

Hampir setiap malam Rhea bertemu Bara di tempat itu. Seperti biasa kadang Bara tertawa sendiri, tapi terkadang mengajaknya bicara. Rhea kerap menatap matanya yang dingin dan sepi. Mata coklat yang membuat Rhea selalu ingin menatapnya.

Malam itu Rhea terbelalak mendapati tanaman milik Bara, daun daunnya terlihat gundul. Rhea sangat panik. Siapa yang berbuat ini? Pasti Bara akan marah besar kepadanya. Selama ini Bara hanya melihat Rhea yang selalu ada di sana. Ia harus menyelamatkan diri, Rhea pun mempercepat pekerjaan menjemurnya. Belum selesai ia menjepiti pakaiannya, Bara telah datang, seperti biasa duduk di bangku kayunya. Rhea melirik pemuda itu, penampilannya rapi tidak seperti biasanya. Bara mengeluarkan sebuah Kotak yang terlihat seperti Kotak rokok dari saku kemeja hijau army nya. Meletakan benda itu dengan asal di sampingnya. Rhea menjadi sangat penasaran dibuatnya, ia memandangnya secara diam diam di antara pakaian yang masih meneteskan air secara berkala.

“Rhe…” Bara memanggilnya.
Rhea membeku, pasti Bara akan bertanya tentang tanamannya.
“Sini.” Bara menepuk ruang kosong di sampingnya.
Rhea masih saja diam di tempatnya. Bara bangkit, menarik lengan Rhea untuk duduk bersamanya. Sebuah desiran halus menyapa perasaan Rhea. Bara menghembuskan nafasnya pelan.

“Rhe, aku ingin kamu menjadi saksi yang nantinya dapat menceritakan kepada dunia tentang seorang Anak yang tidak lagi dipedulikan oleh orang orang yang dikasihinya.”
“Ceritakanlah bahwa seorang Anak berhak untuk mendapatkan apa yang menjadi haknya.” Bara mengeluarkan sesuatu dari saku celana jeansnya dan mulai menggerakan benda kecil itu ke pergelangan tangannya. Rhea terkejut, sebuah cutter menempel di pergelangan tangan Bara. Tanpa aba aba, Rhea merebut cutter bergagang hitam itu lalu membuangnya entah kemana.
“Apa yang kamu lakukan?” Rhea berteriak panik. Setitik darah segar keluar dari luka gores yang sempat Bara buat. Dengan sigap Rhea membuka cardigannya dan menjadikan lengan cardigannya untuk menutup luka di lengan Bara.
“Kenapa kamu gak biarin aku aja Rhe. Bukankah kamu juga gak suka dengan kehadiranku di sini?” Bara menatap Rhea dengan matanya yang mulai memerah.
“Aku lelah Rhe, Hidup hanya membuatku menjadi orang yang tak berarti. Tidak ada yang peduli denganku. Lebih baik aku pergi.”
“Pergi tidak akan menyelesaikan masalah Ra. Kepergianmu hanya akan menambah masalah baru bagi orang orang yang mengasihi kamu.”
“Gak ada orang yang peduli denganku apalagi mengasihi aku. Semua orang membenci kehadiranku, menjauhiku, memandangku bagai anjing kudisan yang tidak layak untuk cintai.”
Rhea memandang pemuda yang kini menatap langit malam itu.

“Kamu salah Ra, masih ada seseorang yang peduli dengan kamu, seseorang yang selalu menantikan kehadiran kamu.”
Bara mengalihkan pandangannya dari langit ke wajah Rhea.
“Seseorang yang akan mendukung kamu dan menemani kamu. Seorang teman yang ingin menggantikan posisi benda ini.” Rhea mengacungkan kotak yang tadi Bara letakkan di sampingnya.
“Aku peduli dengan kamu Ra. Jangan pernah meragukan gadis yang menjemur pakaiannya di malam hari.”
Bara menatap Rhea, jauh ke dalam matanya, tersenyum, tertawa lalu menangis menumpahkan semua perasaan yang selama ini menggumpal dalam hatinya.

Rhea duduk di bangku kayu itu, menatap kembali pot tak berpenghuni milik Bara.
Tanaman itu telah dicabut oleh pemiliknya sesaat sebelum ia pergi dan tak pernah kembali hingga kini. Lima belas Hari telah terlewati, Rhea mendadak menjadi sangat khawatir. Dia tidak pernah tahu apa yang terjadi dengan Bara selama ini. Rhea melayangkan pandangannya ke langit yang luas dan mulai mencari.

“Apakah si tua Betelguese terlihat jelas?” Tiba tiba Bara telah duduk di samping Rhea.
Jantung Rhea seakan berhenti berdetak. Ia telah kembali. Ada Rasa lega yang menyelimuti Hati Rhea.
“Ya, sebagai tanda agar seseorang dengan mudah untuk menemukan Orion.”
“Tapi aku tidak ingin lagi mencari si tua itu untuk menemukan Orion. Karena kini aku telah menemukan bintangku sendiri, bintang yang sinarnya lebih cemerlang dari bintang manapun. Dan berharap dia bersedia membentuk sebuah rasi baru denganku.”

Rhea menatap jauh ke dalam mata pemuda itu. Mata itu kini tidak lagi terasa dingin dan sepi. Mata itu memancarkan cahaya kemilau yang menariknya untuk berkata iya.
Di bawah naungan rasi bintang Orion, ada dua bintang yang kini mulai saling menyinari satu sama lain.

Cerpen Karangan: Ika Septi
Facebook: Ika Septi

Cerpen Di Bawah Naungan Orion merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Truth

Oleh:
“Serius lo, Gi?” Yogas menatap Egi geram. Seakan tak percaya dengan apa yang baru dikatakan sahabatnya barusan. Egi pun berusaha menatap Yogas dan perlahan mengganggukan kepalanya. “Gi, lo bebal

Dariku Untukmu

Oleh:
Bagaimana perasaanmu ketika sahabatmu telah menemukan seseorang yang dicintainya? Akankah kau takut ditinggalkan olehnya? Tetapi, sebagai sahabat yang baik kau akan tetap ada untuknya seperti apa pun dia bukan?

Fate Of Two Sorcerer (Part 1)

Oleh:
Dareen tersenyum melihat Adora yang sedang berlari-lari mengejar seekor kupu-kupu yang terbang kesana-sini seolah-olah sedang menggodanya. Siang sudah berubah menjadi senja, kedua remaja itu belum beranjak dari padang rumput

Forever Yours

Oleh:
Namanya Amie. Seru, cerewet, nggak jelas, agak berantakan, tapi keren, penyayang dan cantik. Cita-citanya jelas sudah, sebagai penulis novel. Tidak mengherankan kok. Malahan sudah nampak banget. Amie bisa menulis

Never Ending

Oleh:
Sahabat, kata sahabat tak pernah ada sebelumnya di kamus seorang perempuan bernama Jeje Emeli Wijaya. Perempuan yang selalu menganggap tak ada seorangpun yang tulus berteman dengannya. Tapi tidak sebelum

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *