Di Penghujung Gang Argabel

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 16 October 2018

Di gang yang tak begitu semarak, di gang penuh coretan abstrak. Di gang itu cintanya tergeletak. Tak bisa mengelak, pasrah terinjak kenangan yang congkak.

Di penghujung harapan semu.
Ia menunggu kepastian yang dulu.
Dahulu dia mengingatkan kalau cinta itu bukan suatu hal yang dirasa tetapi apa yang diterima.

Wanita itu, wanita bermata bulat kecoklat-coklatan, wanita berkulit terang. Wanita berparas berseri-seri dan rambut hitam mengkilat dipangkas sebahu.

“Ah, ingatan itu menyeretku lagi”

Sudah lama ia mengenalnya, sudah lama pula ia…
Ia menahan ucapan, tak pantas! Sepagi ini menggali kenangan yang terkubur di dalam liang harapan.
Namun, kenangan itu bak mayat hidup keluar dari dalam kubur memaksa untuk mengingat janji yang sudah melebur.

Ia menerawang jauh, sesekali menyeruput teh hangat di dalam cangkir, ia pikir cinta tak mungkin berakhir. tapi takdir punya rencana lain, cinta yang menyingkir, kan ada pula cinta yang hadir.

Asap putih masih mengepul di atas cankir. Hawa panas ibarat rindu yang tak pernah tuntas.
Ia rindu dengan wanita yang memiliki bola mata coklat bulat sempurna. Yah, elin. Namanya yang sering ia panggil kala dulu. Ketika cinta masih bersahabat dengan mereka.

“Andai saja cinta dan rindu tidak disepakatkan oleh tangan pertemuan, mungkin aku gak ingin bertemu dengannya lagi” di bangku kayu itu ia mulai berimajinasi. Sembari menunggu ponsel berdering.
Pikiranya berkelana jauh mengulang semua rasa sakit yang tak terbayang di dalam cerita.

Ia mengangkat dagu mentap ke atas langit, Awan putih berlarian tersapu angin dari barat. Digantikan awan hitam gelap pekat mengerubung jadi satu menutupi semburat cahaya mentari. Suara guntur terdengar dari arah ke jauhan.
Kilat menyambuk awan putih menjadi potongan-potongan kecil yang kekeh tak ingin pergi.

Tak selang beberapa lama, gerimis tiris mulai turun. Membasahi perkarangan rumah yang tak begitu mewah. angin menampar dedaunan hingga mendesis lirih.

“Walaupun hujan turun. Tetap saja rindu ini tetap kering dan tandus” gumamnya seraya ia beringsut dari tempat duduknya. Ia berdiri tepat di depan teras rumah, tangan kirinya mengenadah merasakan rinai hujan yang jatuh. Hujan dan cinta mungkin saudara kembar keduanya bisa membuat kesejukan.

“Kriiing” ponsel yang ia taruh di saku clana jeans melenguh. Bergegaslah ia mengangkatnya.
“Aku di beranda stasiun, tolong jemput aku”
“Ya!”
Sesimpel itu ia berbicara, tetapi mempunyai makna panjang yang tak mungkin sanggup ia ukur seorang diri. Ia melangkah diawali kaki kiri kemudian disusul dengan kaki kanan. Ia menyusuri gang yang tak begitu besar, tubuhnya meliak-meliuk menghindari orang-orang yang berlarian. Memang tak begitu jauh Jarak stasiun dari rumahnya. Cuma memakan waktu lima belas menit.

Hujan semakin deras ia menghalau hujan dengan payung rindu yang kasat mata. Ia terus menyusuri gang yang penuh coretan abstrak. Bahwasanya gang yang ia lalu ada trobosan langsung menuju stasiun.

Ia memincingkan tatapannya memandang lurus. Dari arah kejauhan ia melihat ada yang berlalu-lalang menerobos hujan, ada pun yang meneduh dengan wajah jenuh. ditingkahi hujan yang semakin gaduh.

Di depan gang matanya membola, mencari elin, kedua tangan mendekap tubuhnya yang menggigil. Dingin. Ia memperhatikan satu persatu wajah-wajah jenuh itu.

“Hey aku di sini”

Suara terikakan nyaring meling tidak asing di telinganya, suara yang sering ia dengar, Suara pengobral seribu janji, Asal suara terdengar di pojok loket karcis. Seketika Ia memalingkan padangannya kearah elin berdiri menyilangkan tangannya mendekap tas berwarna hitam pekat.

Elin melekukkan bibir terlumur gincu merah puyas. Di dirinya semua masih sama tak ada yang berubah, ia membalas senyuman elin. melepar senyum sumringah, rindu yang sedari mengembang kini telah pecah.

“Gak ada yang berubah ya, dari kamu?!” elin membuka percakapan lebih dulu.
“Iya, semuanya masih sama. gak ada yang berbeda termasuk cinta.”
“Apa cinta?!”
“Iya, aku tau kamu gak mungkin menarik cinta, cinta yang bersanding di hatiku”
Elin diam membisu seribu bahasa, menahan ucapan yang mewakili curahan hatinya.

“Kenapa diam?! Ayuk kita pulang, kita lanjutkan obrolan di rumah”

Elin mengangguk isarat tubuh mengiyakan ajakannya. Mereka berjalan beriringan, hati kecilnya masih menyimpan sesuatu yang ingin elin ledakan.

Hujan deras telah pergi, gerimis tiris serupa salju jatuh perlahan kedahan pohon yang tertanam di samping gang. Mereka berjalan sejajar ketika satu langkah lagi memasuki gang namun.

“Tunggu!” elin menarik pergelangan pria yang kuyup itu.
Mereka berhadapan sekarang tepat di samping gang di bawah pepohonan rindang.

Seketika Airmata elin berkaca-kaca, ia berupaya membendung airmata yang ingin meleleh di pipi. Tanpa aba-aba Elin memeluk dengan tangan yang lemah, Tangisan elin pecah di dalam pelukan. Hati kecil elin terisis mengingat janji yang belum elin gubris.

“Aku mengingkari janji, aku minta maaf” air mata elin membasahi kemeja corak bergaris-garis.
“Cinta itu suci, aku gak ingin mengotori cinta dengan dendam, aku memaafkanmu”
Mendengar ucapan itu Elin melepaskan dekapan, melepas pelukan. Elin mengusap air mata yang meleleh di pipinya.

“Kamu sanggup menjemput cinta yang kuberikan, tapi?!”
Elin menahan ucapannya bibir yang di poles gincu mengigil. Air mata kembali melelah entah sudah berapa banyak air mata yang tumpah di tanah.

“Tapi apa?! Katakan elin, aku siap menerima takdir yang tuhan berikan”

Elin menarik nafas dalam-dalam. Sesak dan menghembuskannya ke udara.
“Aku pernah bilang, kalau cinta itu bukan suatu hal yang dirasa tetapi apa yang sudah diterima ”
“Aku pergi”

Mereka pergi meninggalkan cinta yang tergeletak di depan gang. Mereka tak sanggup mengelak tergilas kenangan yang congkak.

Cerpen Karangan: Faisal Fajri
Blog / Facebook: Twitter: @xfaisal_fajriex

Cerpen Di Penghujung Gang Argabel merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senyuman Yang Menyakitkan

Oleh:
“Lihat! Mereka bertiga!” Tunjukku yang sedang berada di lantai dua sekolahku. “Kalo sudah lihat terus ngapain?” Jawab polos temanku dengan Eyww ingus cap one nya tepat berada di terowongan

Sang Proklamator

Oleh:
Memang, dia bukan laki-laki gagah tampan nan rupawan, bukanlah laki-laki berotot besi seperti gajah mada, dia bukanlah sangkuriang yang dapat memindah bendungan air dalam waktu semalam sebelum matahari terbit,

Antara Kita dan Taekwondo

Oleh:
Awal mulanya aku masuk organisasi taekwondo, aku disitu kenal banyak temen, salah satunya Mitsalina yang sekarang sudah ngelanjutin perguruan tinggi negeri di Malang. Kita awal latihan taekwondo itu semangat

Akhirnya Balikan Lagi

Oleh:
Banyak orang yang sering mengatakan “Akhirnya Balikan Lagi cha”, kata itu entah menyindir atau memang sekedar ucapan selamat padaku. Singkat cerita saat itu aku berpacaran dengan Elang, hubungan kami

Bahagiamu Untukku

Oleh:
Di dalam sebuah kamar yang sunyi, sepi tanpa suara, perlahan… samar-samar mulai terdengar sebuah petikan gitar dan diiringi dengan suara yang bernyanyi mengikuti nada gitar tersebut. Tujulah tempat yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *