Dia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 29 June 2013

Sudah lama dia tak pulang, sekalinya pulang, hanya satu hari, setelah itu pergi lagi. Dia biasanya duduk di padang rumput di sana, dan aku setiap hari selalu ada di sana, menunggunya pulang. Namun kalian tahu sendiri, dia tidak pulang-pulang. Jangan bayangkan dia seperti Bang Toyib!

Seperti biasanya, siang ini, sepulang sekolah aku berkunjung ke padang rumput itu. Dan, beruntungnya aku, dia ada di sana. Dengan melangkah setengah berlari, aku menujunya. Dia sedang duduk di tengah-tengah rerumputan hijau itu. Tahu adanya aku, dia melihat ke arahku, lalu tersenyum. Senyuman yang selalu bisa melepas rindu dan membuat rindu.
“Kamu sudah pulang?” Tanyaku seraya duduk di sebelahnya.
“Iya, baru tadi sampai di sini.” Jawabnya.
“Kok nggak kasih kabar?”
“Bagaimana bisa?”
“Telepon? SMS?”
Dia tertawa, “Kamu lupa?”
“Lupa apanya?”
“Aku kan nggak punya telepon.”
Aku tersenyum malu, “Adik kamu bagaimana? Aku rindu sama dia.”
“Dia lagi tidur di mobil.”
“Orang tua kamu?”
“Lagi di mobil juga, nggak tahu lagi apa?”
“Lha kamu nggak di mobil juga?”
“Aku mau di sini, aku suka di sini, aku rindu di sini. Aku rindu sama rumput hijau ini, aku rindu sama angin ini, aku rindu sama awan itu, aku rindu sama langit itu, dan aku juga rindu sama kamu.”
“Aku?”
“Aku tahu, setiap siang kamu selalu ke sini. Maaf, aku jarang pulang.”
Aku tersenyum sejenak, dan mengambil bunga kecil yang ada di sekitarku, “Nggak apa-apa, bukannya ini yang namanya cinta, iya bukan?”
Lalu kami tersenyum bersama, lalu melihat awan.
“Bersama awan itu aku menunggumu, angin, langit, dan rumput ini juga menemani, kamu tahu? Aku tidak akan pernah bosan di sini, bahkan aku pernah berpikir untuk berakhir di sini.” Kataku.
“Kalau begitu, apa gunanya sebuah tempat yang dinamakan kuburan?”
“Di sana seram, suasananya mencekam, aku tidak suka. Sedangkan di sini, begitu damai, aku suka.”
“Lebih baik daripada terkurung di sebuah mobil bukan?”
Kami tertawa, dan setelah berhenti, aku menggenggam tangannya, begitu erat, “Kamu tidak akan pergi lagi, bukan?”
“Jangan begitu, aku pasti akan pergi.”
“Aku nggak mau kamu pergi, aku nggak bisa hidup tanpa kamu. Aku cinta sama kamu.”
“Aku juga cinta sama kamu, tapi aku nggak bisa merasakan kamu yang rela setiap hari ke sini demi aku yang jarang sekali ke sini. Aku nggak tahan merasakan kamu menunggu hal yang nggak akan bisa kamu dapat, aku nggak bisa!”
“Aku nggak apa-apa, aku ikhlas. Bertemu denganmu adalah hal yang memang sangat indah dan berharga, hal yang sangat spesial.”
“Kamu harus mencari yang lain, sayang.”
“Nggak akan ada yang bisa menggantikan posisi kamu di hati aku, sayang.”
“Memang nggak akan bisa menggantikan posisiku, tapi pasti akan tempat yang lain buat mereka yang juga sayang sama kamu.”
“Nggak.”
“Sayang, aku mohon.”
Tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggil namaku, sangat keras. Sampai aku terpaksa melihatnya. Itu, lelaki yang katanya sayang denganku. Lalu dia berlari menuju tempatku terduduk.
“Kamu kenapa di sini?” Tanyanya.
“Aku sedang melepas rindu.”
“Dengan siapa?”
“Dia.”
Lelaki itu mengerti maksudku, dia. Lelaki tadi, yang aku cintai. Yang sekarang, pergi lagi. “Dia sudah tidak ada, sayang.”
“Kamu bicara apa? Dia ada! Tadi, di sini, di sebelahku.”
“Dia sudah tidak ada.”
“Dia ada!”
“Tidak ada.”
“Dia ada! Dia itu ada! Dia tadi di sini!” Aku mulai meneteskan air mata, dan melihat itu, dia memelukku erat, sempat aku meronta, namun apa daya? Tenagaku sudah terkeluarkan bersama air mata ini.
“Sayang, dengarkan aku. Aku sayang sama kamu, dan kita sudah menjalin kasih hampir satu tahun! Tapi aku bosan dengan dia! Dia sudah tidak ada, sayang! Dia bersama keluarganya sudah meninggal 6 bulan sebelum kita pacaran! Dia sudah tidak ada, sayang!”
Kata-katanya terlalu menyayat hati, mengirisnya dengan sembrono sampai menjadi potongan aneh yang berjuta-juta.
“Sekarang kita pulang, ya?” Ucapnya sambil mengusap air mata yang menghiasi kedua pipiku. Lalu dia menggenggam tanganku, dan berkata, “Aku cinta sama kamu.”
“Maafkan aku.” Lalu dia tersenyum, dan kami berdiri, lalu berjalan. Pulang. Meninggalkan cintaku yang lama, bersama angin, rumput, langit, serta awan.

Cerpen Karangan: Wahyu Tio

Cerpen Dia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rela

Oleh:
Kemarin adalah hari selain sekarang. Kemarin adalah hari dimana senyumu terukir indah hanya untukku. Kemarin, kemarin adalah hari dimana kamu masih bersamaku. Tapi, sekarang semua telah berubah. Tempo ‘kemarin’

Stasiun Juanda

Oleh:
Hatiku berdebar debar seraya ingin lepas dari tempatnya, kakiku tidak henti-henti nya bergerak kesana kemari menandakan kegugupan yang melanda diriku saat ini. Dengan sebatang coklat coki coki yang sudah

What’s Wrong With Me

Oleh:
“Pagi, Von,” sapa Farrel. “Lagi apa, sih? kayaknya fokus banget.” “gue lagi ngerjain makalah biologi, nih, harus dikumpulin hari ini. Ugh!” gerutu Ivone. “Oh, mau gue bantu? Kelas gue

Dreams

Oleh:
“Brak!” suara tumpukan benda berat yang sengaja ku jatuhkan. “Huh.. akhirnya selesai juga!” kataku sambil mengelap keringat yang ada di dahiku. “ini akan menjadi malam yang panjang!” Namaku Dev

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *