Dia Dani Dengan Scooternya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 18 October 2017

Sebelum kuceritakan tentang Aku dengan kebersamaan Dani, mungkin aku akan memperkenalkan diri saya dulu. Namaku, Dini Setia Ningsih. saat itu umurku 17 tahun, lahir di Bandung. Aku ingin sekali mengulang kembali masa remajaku, yaitu di masa SMA yang sangat indah menurutku, yaitu dimana aku bisa kenal Dani. Rasanya aku ingin sekali mengulangnya, mengulang tentang Dani, tentang segalannya yang ada pada dirinya, Dani yang kusayangi, dani yang kucintai. Mungkin dengan Sedikit kuceritakan Kenangan Aku bersama Dani. Mudah-mudahan bisa menutupi rasa rinduku. Sebelum waktu semakin larut malam dan aku ngantuk. langsung saja kuceritakan Dani, Dia Dani dengan Scooternya yang kusayang.

Entah di mana aku memulai membicarakan Dani. Dia yang selalu pakai baju yang longgar, celana yang sobek-sobek terlihat asik tapi apa adannya. Yang kusuka dari Dia bukan karena dia memakai baju longgar, celana sobek-sobek dan yang lainnya. Melainkan yang kusuka dari Dani yaitu, dia selalu bisa membuatku tersenyum terus saat dia berada di sisiku, itulah yang membuatku rasanya ingin sekali selalu ada di sampingnya, Terus di sampingnya. Dia Daniku, Dia adalah laki-laki yang pertama kutemui selain Ayahku waktu Aku pindah dari Bandung ke Subang. Aku pindah karena Ayahku dipindahkan tugas.

Pertama Aku Kenal Dani dia sedang memperbaiki scooter tuannya yang sering mogok.
“Hai neng” Saut Dani sambil membetulkan Scooternya yang mogok.
“Hai” Jawabku sambil ku tersenyum.
“Baru pindahan yah?”
“Iya, ini baru pindah kak” Jawabku lagi, sambil memasukkan tas-tasku ke dalam.
“Dari Jakarta yah mba?” Dani seolah pengen tau dan sok tau. Menurutku Itu sok taunya Dani terasa ingin tawa karena sok taunya dia. Mungkin dia bilang Aku dari Jakarta dia lihat mobil Ayah yang plat mobilnya B (Jakarta). Sedikit ingin tawa, Aku langsung jawab.
“Gak kak, aku dari bandung”.

Sampai selesainya Aku mengakat barang-barang ke dalam rumah, Dani masih sibuk memperbaiki scooter tuannya. Ini adalah pertemuan dan percakapan kami yang pertama. Rasanya Aku ingin sekali berlama-lama berbincang-bincang barengmu, membahas segala hal apapun, asalkan terus di sampingmu. Entah bagai mana Aku bisa akrab dengan Dani, yang kuingat Dani menawariku pulang bareng saat sepulang sekolah. Seperti tak mau menolak ajakan dani, Aku pun langsung mau saja dengan ajakan Dani, tidak seperti ajakan temen laki-laki lain yang kutolak semua. Bukan karena dia pake Scooter, atau apa. kalau karena Scooter banyak temen laki-laki yang lain bawa Scooter lebih bagus dari Dani, dan mungkin tidak suka mogok seperti Scooternya Dani.

“Ouh iya siapa namanya neng, belum kenalan nih. Padahal rumah kita berdekatan, kita belum kenalan sama sekali” kata Dani, dengan tangan menjulurkan seperti ingin berjabatan tangan.
“Iya, namaku Dini kak. Dini Setia Nigsih” kujawab.
“Namamu sediri” sambil tangan berjabatan, ku langsung berbalik bertanya.
“Dani setia selalu”
“Iya Dan” sambil tehan tawa, Aku tau namanya bukan itu, dia hanya becanda dan nama aslinya ialah Dani Septa Aji. Aku tau karena aku sekelas dengannya dan dari absen kelas. Di kelasku setiap pergantian pelajaran suka diabsen ulang biar tahu siapa yang mengikuti pelajarannya.
“Mau pulang bareng?”
“Ee… boleh” Rasanya berat ingin menolak ajakannya.
“ayo, naik.”
“iyah dan”

Sepanjang jalan Aku dan Dani terus ngobrol dengan dibarengi candaan, terus ku berbincang-bincang di atas scooter sambil melaju. Hampir tak sadar seolah-olah Aku dan Dani telah kenal lama, tidak seperti kita baru kenal. Di tengah jalan Scoter yang kunaiki bareng Dani tiba-tiba saja berhenti.
“Aduh din kayaknya Vespa nya mogok nih, boleh turun dulu.”
“Iyah Dan, gimana ini Dan?” Aku seolah bingung, harus gimana.
“Kamu duduk aja Dulu din” Dani menyuruhku tuk duduk karena di samping jalan ada tempat istirahat yang disediakan oleh desa untuk para pejalan kaki beristirahat.
“Iya Dan”

Selesainya Dani memperbaiki vespanya, ia langsung menghampiriku yang duduk di kursi
“Sudah bener scooternya?” tanyaku
“Udah bener, maaf yah? Vespanya mogok segala, jadi gak enak, maklum motor tua tapi percaya kok aku gak tua.”
“hahhaha” kita berdua tertawa karena denger ucapannya.
“Iya, gak papa. Itung-itung pengalaman aja Dan” kujawab sambil sedikit tersenyum.

Kita berdua duduk sambil istirahat dengan tangan dani kotor berlumuran oli, karena tadi memperbaiki Scooternya yang mogok. Kita terus ngobrol dan menceritakan aku saat di Bandung, karena dani menayakan. Setelah Selesai, kita lanjutkan perjalanan menuju rumah. Itu pertama Aku kenalan dengan dani secara resmi mungkin, sekaligus pertama kali Aku pulang bareng Dani. Mungkin pertama juga aku memakai scooter dan sekaligus mogok.

Sesampainnya di rumah, kira-kira di dekat pagar rumahku yang tidak jauh dari rumah Dani yang tehalang satu rumah oleh rumahnya Bu H. iim. Tetangga aku dan Dani.
“Besok mau berangkat sekolah bareng gak” Saut Dani langsung mengajak sambil tangannya memegang gas Scooternya. Yang kalau dilepas gasnya Scooternya mati dan akan sulit lagi dihidupinya kalau Scootenya sudah mati.
“Iya Dan, tapi mogok lagi gak Dan?” kujawab sambil tersenyum, tapi itu hanya bercandaanku, mungkin Dani juga tau kalau itu bercanda dengan ditandainya Dani tersennyum saat dengar omongan Aku.
“Ok, Dini yang nyamper aku atau Kamu yang nyamper Aku?” Dani sambil siap-siap pergi.
“yaaa, kamu ajalah yang nyamper”
“Oke, nanti Aku besok nyamper” Dani sambil pergi.

Esok harinya ku bangun pagi banget, kulihat jam menunjukan pukul 5:15 pagi. Pagi itu cuaca cukup dingin sekali bekas semalam turun hujan, dan rasanya tak ingin beranjak dari tempat tidurku.
“Din, bangun udah pagi nih, ayo cepet mandi” teriak Ibu membangunkanku dari lantai bawah.
“iya bu, ini udah bangun kok” kujawab sambil bangun dan mengambil anduk untuk mandi.

Selesai mandi, kulanjut memakai seragam sekolahku dan ambil tas yang sudah kusiapkan semalam dengan bukunya untuk pelajaran hari ini. Setelah siap semua langsung ku turun dari kamarku untuk sarapan bareng Ayah dan Ibuku.
“Din, mau diantar sama ayah gak?” Ayah memulai pembicaraan saat kita sedang sarapan.
“Gak yah, Aku mau berangkat Sekolah bareng Dani” kujawab ayah, sambil ragu tuk mau pergi bareng Dani, takut Ayahku tak mengizinkannya.
“Ouh, Dani yang Anak tetangga itu, yang pake motor Vespa, kalu pake celana yang robek-robek terus itu?” Seolah ayah tau, dan ingin memastikannya, dan bertannya kepadaku.
“Iya yah, Boleh kan yah. Dani baik kok Orangnya Cuma penampilannya kayak gitu doang yah.” Ucapku sambil memohon, agar Ayah mengizinkanku berangkat bareng Dani.
“Iya boleh, tau kok Ayah juga kalau Dani Orangnya baik, cuman gayanya gitu doang. Biasa anak Vespa kali, Ayah juga waktu muda sama kok” sambil tersenyum, Ayahku mengizinkan Aku berangkat bareng Dani, seolah Ayahku mengingat masa mudannya melihat Dani.
“Bener boleh ni, yah?” aku coba memastikan lagi kalau Aku boleh berangkat bareng Dani.
“iya”

Ternyata Ayah dan Ibu sering meminta bantuan Dani untuk mengatar Surat-surat Ayah yang tertinggal di rumah tuk mengantarnya ke kantor Ayahku. Tak lama kemudian saat Kami sedang sarapan, terdengan suara Scooter Dani dari kejauhan menuju rumahku. Kudengar suara Scooter Dani Semakin dekat, segera kuhabiskan sarapannya lalu ku siap-siap tuk berangkat bersama Dani tak lupa pamitan kepada Ayah dan Ibu. Scooter Dani terdengar jelas di depan rumaku, Dani turun dari Scooternya dan masuk ke rumahku.

“Asalamualaikum, permisi, Diniii… Din…” memanggil-manggil namaku beberapa kali sambil tanganya mengetuk pintu depan rumahku.
“Iya, tunggu sebentar Dan” menyauti panggilan Dani, Aku berlari menuju pintu depan. Aku buka pintu depan saat pintu terbuka Dani langsung bertanya.
“Ayo, jadi kan berangkat bareng?” sambil tersenyum, dia ingin memastikan Aku, apakah jadi berangkat bareng atau tidak.
“Iya jadi” Sambil ku pakai sepatuku
“Ayo”
“Ayo, tapi ku izin dulu ke Ibu dan Ayahmu. Buu, Paa aku Berangkat dulu yah, Assalamualaikum” Sambil teriak di depan pintu Dani meminta pamit pada kedua Orangtuaku.
“Iyah Dan, ati-ati yah?” saut Ibu dan Ayah kepada dani.
“Iya Bu” saut Dani sambil jalan menuju Scootrnya.

Di perjalanan kita terus berbincang-bincang membahas segala hal dengan biasa dipenuhi canda dan tawa. Rasanya tak ingin cepat berakhir. Hari-hariku terus jalan dengannya. Dimana yang paling berkesan bagiku, saat Dani mengajakku ke sebuah tempat, dimana tempat itu yang paling indah menurutku. Dengan hamparan sawah yang hijau, pohon-pohon yang rindang dan derusan merdu air terjun yang berjatuhan menyejukan badan. Dani pun mengatakan cinta kepadaku secara resmi, yaitu ia ingin mengajakku untuk menjalani hubungan yang lebih dekat lagi. Ia mengatakan dengan penuh romatis. Rasanya hatiku ingin sekali meledak.

“Din? maukah kamu jadi pacarku?” Tiba-tiba saja Dani bicara gitu, Aku kaget rasanya bagai tak percaya Dani bicara gitu. Dani sambil menujunkukan selembaran kertas dengan tulisan.
“Din, apakah kamu mau jadi pacarku dengan restu yang dibawah ini yang telah menandatangani persetujuan” dengan persetujuan tandatangan, Orangtuaku dan Orangtua dani, Entah bagaimana dia bisa meyakinkan kedua orangtuaku untuk mengizinkanya.
Bahkan kepala sekolah kita ikut tertera juga, bagaimana dia memintanya, bagaimana dia bicaranya saat meminta tandatangannya untuk merestui itu. Aku sungguh tak tau tapi sunguh rasanya hatiku terus berdebar kencang saat ia membacakan selebaran kertasnya.

“Din? Apahkah kamu mau jadi pacarku?” Dani mengulang perkataannya, karena aku diam saja bagai tak percaya.
“hee..” Aku menjawabnya dengan mengaggukkan kepalaku, tapi Dani tau maksudnya, Aku juga mau pacaran dengannya.

Rasannya tak percaya namun itu terjadi. Aku sekarang telah resmi berpacaran dengan Dani, rasanya hari-hariku sungguh sempurna dengannya. Berangkat dan pulang sekolah kita selalu bersama dengan obrolan canda yang membuatku selalu ingin bersamanya terus. Aku tak ingin kamu pergi karena sekarang aku bahagia denganmu. Janganlah kamu buatku rindu karena ku tak bisa.

Cerpen Karangan: Indra Wijaksana
Blog: Scorpion

Cerpen Dia Dani Dengan Scooternya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gadis Berpayung Senja

Oleh:
Senja di langit Sidoarjo, awal bulan september entah tahun ke berapa… Kau tau, mendung di kala senja itu selalu saja membuat otakku menambahkan kayu untuk memanaskan tungku perapiannya, setidaknya

Suamiku

Oleh:
Seiring dengan berjalannya waktu, tak terasa aku sudah 4 bulan menjalani hubungan dengan seorang laki-laki bernama Arnold, ya dia adalah pacarku dan aku sangat menyayanginya. Dia baik, tampan dan

Pacarku Pemain Futsal

Oleh:
Malam ini aku masih tak bisa tidur nyenyak, aku pun masih duduk termenung di teras depan rumahku sambil menatap indahnya suasana malam ditemani dengan suara-suara binatang malam yang mulai

Don’t Say Goodbye

Oleh:
Dengan berbangga hati, kulangkahkan kakiku untuk berjalan ke sekolah, hari ini adalah hari yang sangat istimewa bagiku, kalian tau kenapa?, Karena hari ini aku akan menjadi kakak kelas tujuh

Cinta Sahabatku Untukku

Oleh:
Namaku Dina Azizah Rasdipati. Aku akrab di panggil Dira. Ada pula yang memanggilku Dina dan ada pula memanggilku Mbak Rasti. Tapi yang memanggilku Mbak Rasti, Cuma teman-teman terdekatku doang.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *