Dia Mencintai Ku (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 27 February 2016

Namaku Amel, usiaku 16 tahun, sekarang aku duduk di bangku SMA kelas dua. Aku memiliki 3 sahabat yang selalu setia menemaniku, Sariani, Nor dan juga Regas. Karena kekompakan dan kebersamaan kami, kami pun membentuk Geng yang bernama RANS singkatan dari nama kami berempat (Regas, Amel, Nor, Sariani). Suatu hari di sekolah saat jam istirahat, seperti biasa kami berempat duduk di belakang kelas dan bercanda gurau. Ada seseorang pria bertubuh kurus, tinggi, dan memiliki warna kulit khas orang Indonesia, datang dengan tertawa terbahak-bahak ke arah kami.

Aku yang melihatnya sangat tidak menyukai pria seperti itu, karena menurutku pria yang tertawa terbahak-bahak seperti itu tidaklah sopan. Aku tak mengenal dirinya, tapi aku sangat benci dengan perilakunya yang tidak sopan itu. Pria itu mendekati kami dan dia langsung berpelukan kecil dengan sahabatku Regas. Mereka pun berbincang kecil karena sudah beberapa lama mereka tidak saling jumpa karena ini baru awal semester. Aku yang sedari tadi tidak menyukai perilaku pria itu hanya duduk dan berbincang dengan kedua sahabatku Nor dan Sariani. Kami asyik berbincang mengenai liburan kami masing-masing. Regas lalu mengenalkan temanya pada kami.

“Teman-teman, kenalkan ini Maxi,”
“Nor,”
“Sariani,”
“Maxi,” sambil mengulurkan tangan kepadaku.
“Amel,” aku mengulurkan tanganku dengan tidak ikhlas hanya karena untuk menghargai dan dengan wajah yang masih tidak suka dengannya.

“Jangan pasang wajah seperti itu nona manis, tidak enak dilihat,” Kata Maxi yang sontak membuatku kaget, karena pria ini sangat tidak sopan dengan wanita yang baru dikenalnya beberapa menit. Aku tambah memasang wajah cemberut yang membuatnya tambah tertawa karena melihat wajahku. Lewat perkenalan singkat itu aku mengetaui bahwa dia adalah kakak senior satu tingkat di atas kami.

Semenjak itu hari-hari pun sering kami berlima habiskan bersama, walau aku akui dia sangat menyebalkan karena sering mengejek dan metertawakan kelemahanku, tapi dia ternyata teman yang cepat bergaul dan asyik diajak ngobrol. Dia lebih dekat denganku ketimbang kedua sahabatku, entah kenapa tapi dia sangat suka menggangguku dan mengejekku. Suatu hari kami sedang duduk di dalam kelas. Aku duduk di kursi dan menghadap kepadanya yang sedang duduk di kursi depanku, sedangkan ketiga sahabatku sedang menyalin pekerjaan rumah yang sudah aku kerjakan dari rumah di meja samping.

Aku duduk dan berbincang dengannya, karena salah bicara dia mulai mengejekku dan menertawakanku dengan tawa khasnya yang terbahak-bahak dan terpingkal-pingkal. Sampai teman satu kelas yang sibuk mengerjakan tugas melihat ke arahku dengan pandangan yang sinis, jengkel, dan bingung. Aku melihat mereka satu per satu dan merasa ada butiran hangat yang mulai menetes di pipiku. Aku mulai berlari ke luar dan menangis di belakang kelas dengan penuh kesedihan karena harga diriku sudah dilukainya. Dia yang sedari tadi menertawakanku mulai diam saat melihatku menangis dan berlari keluar kelas mengikutiku dari belakang, dia langsung meminta maaf karena membuatku menangis. Dan karena aku tak menggubris permintaan maafnya dia langsung pergi. Karena merasa bersalah.

Keesokan hari di rumahku, pria bertubuh besar dan tampan yang selalu aku panggil ayah mengetuk pintu kamarku, “Amel, Amel keluar dulu Ayah ingin bicara,”
Iya, Ayah.. Bentar.” sahutku. Tak lama kemudian aku lalu membuka pintu kamarku dan menemui ayahku di ruang tamu. “Kenapa Ayah?” tanyaku.
“Ayah ingin kita pindah Nak, mengikuti Kakek dan Nenekmu karena mereka sudah tua dan tak ada yang menjaga mereka, sekaligus Ayah bisa bekerja di sana dan kamu juga akan bersekolah di sana. Bagaimana menurutmu?”
“Iya Ayah,” aku langsung menyetujuinya karena yang aku pikirkan adalah bertemu dengan kakek dan nenek yang sudah beberapa tahun tidak pernah bertemu lagi.

Bel pun berbunyi tanda jam istirahat pertama. “Ayo ke kantin,” ajakku.
“Malas ah, aku lagi pengen di kelas,” Nor.
“Sariani ayo ke kantin,” ajakku lagi.
“Aku belum menyelesaikan tugasku, aku sedang sibuk sekarang,” Sariani.
“Ayo Amel, aku antar ke kantin, sekalian aku sedang ada janji dengan temanku,” Ajak Regas yang terlihat agak tergesa-gesa.

“Tapi tidak enak bila mereka berdua tidak ikut serta,” keluhku dengan nada manja yang lembut.
“Mungkin mereka sedang tidak punya mood atau mereka sedang tidak punya uang,” jawab Regas dengan nada sindir dan sedikit tertawa. “Kalau begitu baiklah, kali ini aku yang traktir,” Kataku dengan nada yang mantap meyakinkan ketiga sahabatku ini.
“Oke,” jawab merek bertiga serentak dan bangun dari tempat duduk mereka.
“Kalian memang menjengkelkan, ditraktir baru mau,”
Serentak mereka bertiga berkata. “Iyalah,” kami pun tertawa dengan tingkah kami.

Sampai di depan kantin orang pertama yang kami temui adalah pria yang selalu membuatku jengkel. “Hei nona manis,” godanya yang sedang duduk dengan teman-teman gengnya di kantin dan membuatku semakin jengkel dengan sikapnya itu. Aku dan ketiga sahabatku berjalan terus mendekati kantin dan cuek dengannya lalu memesan apa yang ingin aku beli bersama sahabatku. Dia lalu muncul di sampingku, “Mbak, aku ambil yang ini, nanti dibayar oleh wanita yang manis ini,” sambil mencubit pipiku dan sambil tersenyum puas. Hal ini membuatku semakin jengkel dengan sikapnya ini, aku ingin berteriak dan mengigit tangannya yang telah memegang pipiku dengan sengaja tapi aku tak bisa karena ini di depan umum, aku hanya memasang wajah cemberutku yang terparah.

“Mukanya jangan begitu nona manis,” katanya dengan penuh jaim lalu tertawa, ia lalu mengajak Regas dan teman-teman yang lain dan pergi dari kantin sekolah itu.
“Iihh…, Maxi menjengkelkan bangeett,” teriakku dengan gemas kepada kedua sahabatku yang sedari tadi di sampingku. Mereka berdua hanya tertawa dengan tingkahku.
“Ayo bayar, bentar lagi jam istirahat selesai,” kata Nor.
“Iya, kita harus cepat ke kelas, masih ada tugas yang belum selesai aku kerjakan,” Sahut Sariani.
“Yee, kamu memang selalu terlambat mengerjakan tugas,” kata Nor dengan nada mengejek dan melihat ke arah Sariani.

Kami bertiga pun tertawa dengan tingkah Sariani yang memang selalu terlambat dalam segala hal. Aku lalu membayar makanan kami bertiga dan kami bertiga lalu beranjak pergi dari kantin. Tetapi mbak penjaga kantin memangil kami bertiga kembali dan bertanya tentang makanan yang diambil oleh Maxi tadi, karena dia belum membayarnya.
Dengan cueknya aku berkata, “Mbak, kan dia yang ambil nanti dia saja yang bayar,”

“Tapi mbak tadikan dia bilang Mbak yang bayar,”
“Itu urusan Mbak sama dia, bukan urusan saya dong Mbak,”
“Tring.. tring.. tring,” bunyi bel.
“Mel, bayar aja,” pintah Sariani yang sudah terlihat resah.
“Tapi…”
“Mumpung sedekah dikit gitu,” kata Nor.
“Iya Mel, anggap ajah sedekah,” timpal Sariani.
“Tapi aku kan..”

Sariani lalu berkata dengan cepat dan memotong perkataanku, “Ayolah Mel, sudah bel tandanya masuk, aku belum selesai menyalin tugasku,” Nor lalu mengambil uang yang ada di genggamanku dan membayar kepada mbak penjaga kantin dan menarik aku dan Sariani keluar dari kantin. “Ayo kita pergi, kita sudah terlambat masuk ke kelas,” Kami bertiga pun beranjak ke luar dari kantin dan pergi ke kelas bersama. Akhir semester satu pun tiba, ini adalah hari terakhir final kami. Setelah final kami berlima pulang bersama, jalan menelusuri jalan trotoar yang menghantarkan kami ke rumah kami masing-masing.

Sambil bercanda gurau dan bercerita tentang pengalaman yang lucu. Maxi yang sedari tadi jalan dengan Regas di depan kami berhenti, ia lalu berjalan di sampingku. Kedua sahabatku Nor dan Sariani langsung berjalan di depanku dengan Regas. Aku tak mengerti dengan sifat mereka yang seolah-olah ingin menyatukanku dengan pria yang aku benci ini. Maxi berjalan di sampingku dan mengajakku ngobrol dengan lembut, sikapnya yang berubah lembut membuatku sedikit geli dan merasa lucu melihatnya, tak seperti biasa pria ini menatap dan berbicara lembut padaku.

“Tadi bagaimana di kelas, kamu bisa menjawab semua soalnya?”
“Alhamdulillah, walaupun aku gak yakin dengan jawabannya,”
“Pasti benar semua,” jawabnya dengan yakin.
“Kenapa kamu yang yakin dengan jawabanku? Aku saja tidak yakin,” jawabku.
“Karena kamu memang pintar Mel, ketiga sahabatmu saja mengakui kehebatanmu,” Sambil mengacukan jempol padaku.
“Ah.. tidak seperti itu, mereka bertiga hanya berlebihan,” jawabku sambil tersenyum.

Maxi juga tersenyum menatapku dengan lembut, yang membuat jantungku berdetak kencang tak seperti biasanya, mungkin karena pertama kali dia senyum kepadaku. Desisku. Sejenak kami berdua diam, sementara tiga sahabatku berjalan jauh meninggalkan kami di depan. Maxi lalu kembali membuka percakapan kami.
“Liburan ini mau ke mana?”
“Aku akan pindah sekolah,” jawabku dengan acuh.

Ia lalu diam dan berjalan tertunduk, senyum yang ku lihat darinya tadi langsung hilang seketika. Perasaan bersalah langsung menyuat di hatiku, entah apa salahku, tapi yang aku tahu aku tak berbuat salah. Aku ingin berbicara dan menjelaskan tapi melihat raut wajahnya rasanya aku tak ingin bercerita lebih lanjut. Kami berdua hanya berjalan dalam diam. Sampai di pertigaan jalan ketiga sahabatku sedang menunggu kami berdua. “Ayo kita pulang,” ajakku ke Sariani dan Nor. “Iya,” serentak Nor dan Sariani menjawab. Kami bertiga lalu berpisah dengan mereka berdua di pertigaan.

Keesokan harinya di kamarku, Sariani dan Nor mendekatiku di tempat tidurku. “Amel, ayo katakan dengan jujur, kenapa kemarin kakak Maxi pulang dengan wajah cemberut seperti ingin mati,” Kata Sariani.
“Apa yang kau katakan padanya? ayo katakan,” Nor bertanya padaku dengan wajah penasaran. Pertanyaan mereka menggangguku, aku yang merasa tidak berbuat salah langsung menjawab mereka dengan pertanyaan balik. “Kenapa kalian bertanya padaku? Memangnya apa yang telah aku lakukan padanya?” Tanyaku yang membuat kedua sahabatku yang kepo ini semakin penasaran dengan kejadian kemarin.

“Inilah yang ingin kami tanyakan kepadamu, apa yang terjadi?” Nor. “Iya,” timpa Sariani.
“Baiklah-baiklah,” sambil mengangkat tangan tanda menyerah, aku lalu bercerita tentang kejadian kemarin dari awal. Pertama mereka berdua tertawa mendengar curhatku, tapi pada akhirnya mereka pun turut sedih dan memasang wajah seperti yang dipasang Maxi kemarin.

“Hei kenapa kalian berdua?” Tanyaku dengan heran.
“Kenapa kau katakan kau ingin pindah pada saat seperti itu?” Nor.
“Iya, kenapa?” timpal Sariani dengan nada yang agak menekan.
“memangnya kenapa? Apa salahku? Aku kan memang akan pindah, jadi apa salahnya jika aku memberitahu dia lebih awal, toh pada akhirnya juga dia akan tahu kan,” Jawabku dengan berusaha membela diri. “Tapi kenapa pada saat seperti itu? Kau kan bisa mengatakannya nanti, bukannya kemarin,” Nor yang tidak puas dengan jawabanku terus bertanya seperi ingin memintah jawaban lebih dariku.

“Sudahlah Nor, kita tidak perlu bertanya lagi, mungkin ini bukan saat yang baik,” Bela Sariani yang berusaha menenangkan kami yang sudah mulai emosi. Aku hanya mengangguk dan cuek dengan pertanyaan Nor. sedangkan, Nor yang masih dengan rasa penasaran membuatnya sedikit marah dan sibuk sendiri dengan Hp-nya.
“Hai teman-teman,” sapaan khasnya yang aku tahu itu adalah Regas, dia masuk ke kamarku dan mengambil kursi yang ada di samping tempat tidurku dan duduk di samping kami. “kenapa kalian semua diam?” tanyanya dengan heran karena yang ia tahu kami bertiga tidak pernah diam dalam keadaan apa pun.

“Di mana Maxi? Kenapa dia tidak bersamamu?” Tanya Nor yang sontak membuatku melihatnya dengang heran. Dalam hatiku hanya bertanya-tanya kenapa Nor sangat perhatian dengan Maxi sedari tadi, sampai-sampai dia menanyakan keberadaan Maxi, jangan-jangan dia menyukai Maxi. Tapi kenapa aku harus pikirkan? Itu kan urusan mereka.
“Dia tidak datang, padahal tadi aku mengatakan kalau ingin bertemu kalian bertiga, tapi dia bilang ada sedikit urusan,” Jelas Regas. ‘Dia ada urusan? Urusan apa? Dia kan bukan orang penting. Tidak biasanya dia tidak menemuiku dalam sehari.’ keluhku dalam hati karena Maxi tidak datang hari ini.
“Mungkin dia tidak ingin datang karena gadis di samping,” Sindir Nor sambil melihatku. Aku yang tahu dia menyindirku hanya diam dan sibuk dengan pikiranku sendiri.

Hari-hari pun berlalu, kami mulai jarang bertemu karena kami tidak belajar lagi. Kami hanya mendengar kabar satu dengan yang lain dari sms dan telepon. “Dring.. Dring.” getar HP-ku yang menandakan ada pesan masuk. Aku mengangkat HP yang aku taruh di atas meja dan mulai membuka pesan. Saat melihat pengirim pesan aku pun tersenyum. Aku membuka pesan satu per satu dan tertawa. Redaksi pesan mereka sama, “Hai apa kabar teman-teman, semoga keadaan kalian baik-baik saja. Ada info dari wali kelas bahwa hari sabtu ini kita akan menerima raport, jadi datanglah dan bawa orangtua kalian, TTD, Ketua kelas.”

“Kalian bertiga ternyata baik, membantu ketua kelas menyebarkan sms, hehehe,” balasku kepada mereka bertiga. Mereka pun membalas dengan tertawa dan mengatakan karena aku sudah mulai malas berkumpul dengan mereka dan jarang ke sekolah. Aku terdiam sejenak setelah membaca pesan mereka, bukannya aku tak ingin bergabung lagi dengan mereka, tetapi perasaan tidak enak dan rasa bersalah pada Maxi yang membuatku masih sulit untuk bertemu dengannya, apalagi mengingat kejadian terakhir kali yang mungkin membuatnya sedih. Pikirku dalam hati.

Bersambung

Cerpen Karangan: Amalia
Facebook: Amel Djamiri Amel
Nama: Amalia Temarwut
TTL: Dobo 31 Januari 1998
Status: Mahasiswa
Universitas: Iain Ambon
Jurusan: Pendidikan Matematika
Semester: Empat (IV)

Cerpen Dia Mencintai Ku (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Sejati

Oleh:
Di sebuah gang yang tampak kumuh. Abi yang dikenal sebagai anak yang bermoral bejat dan durhaka sedang asyik-asyikan berpesta mir*s bersama dua kawannya, Iwan dan Danu. Botol-botol besar berisi

Teman Saja

Oleh: ,
Hari ini adalah hari 1 syawal 1437 tahun hijryah, Dimana semua umat muslim merayakan dengan kebahagiaan dan saling bermaafan. “Ma, Dewi ke rumah Lian dulu ya”. “Iya, hati-hati pulangnya

Eksperimen Cinta

Oleh:
“Sejak kapan dia jadi kayak gitu?”. “Udah dua tahun Yan.” “Sabar yah, nanti aku nanya-nanya dia. Tapi kok kamu gak kasih tahu aku dari dulu?”. “Aku takut repotin kamu”.

Cinta Yang Datang Cepat

Oleh:
Libur panjang tahun baru 2016, rencananya aku dan keluarga berlibur ke Ciater, Subang selama dua hari. Sebentar lagi kami akan berangkat menuju Ciater. Di perjalanan kami berhenti di daerah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *