Dia Mencintai Ku (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 27 February 2016

Hari sabtu pun tiba, aku pergi bersama ayahku. Sampai di sekolah, tepat di depan kelasku aku langsung bergabung dengan teman-temanku dan ayahku langsung masuk ke ruang rapat dengan orangtua lainnya. Kami berbincang-bincang seperti biasa. Sekarang waktunya pengumuman juara umum dan ternyata aku dan ketiga sahabatku masuk dalam 10 peringkat umum. Memang ini bukan hal yang membanggakan lagi, tapi kami selalu senang mendengar hasil belajar kami tak sia-sia. Setelah pengambilan rapot selesai, orang tua lainya langsung pulang, begitu pun dengan orangtua kami. Aku meminta izin pada ayahku karena aku ingin mengucapkan perpisahan kepada teman-teman sekelasku. Ayahku langsung mengizinkanku dan beliau pun beranjak pulang lebih dulu.

“Sekarang sudah akhir semester, dan kau akan pergi,” Kata Sariani yang sontak membuatku sedih dan enggan meninggalkan sahabat-sahabat karibku ini.
“Aku tidak pergi untuk meninggalkan kalian, aku hanya pindah sekolah ke luar kota, kalian adalah sahabat-sahabat terbaik yang akan selalu ada di hatiku,” Kataku dengan lembut agar menghibur tiga sahabatku.
“Iya Nor, Ani, kita selamanya akan tetap jadi sahabat. Oke,” kata Regas menenangkan Nor dan Sariani yang ingin menangisi kepergianku.
“Apa yang sedang kalian lakukan? Kalian tidak pulang? Atau kalian ingin bapak guru yang tampan ini mengajar kalian? hahaha,”

Bercanda dan ketawa khas yang datang dari belakang kami membuatku tersenyum dan mengetahui siapa pemilik suara yang merdu ini walaupun belum melihatnya. Kami berempat pun serentak membalikkan badan dan melihatnya. Dia hanya tertawa melihat kami satu per satu dengan wajah jahilnya. Tapi saat tatapan mata kami bertemu aku merasakan jantungku berdetak lebih kencang, semakin aku melihatnya jantung ini semakin berdetak. Aku langsung salah tingkah dibuatnya dan hanya diam. Regas langsung berbicara saat melihat kami semua dalam diam.

“Besok kita ke mana? Amel kan sudah mau pindah sekolah, setidaknya kita buat perpisahan dengannya,”
“Aku setuju,” sentak jawab Nor dan Sariani berbarengan. “Ayo Amel kita buat perpisahan,” sahut Nor.
“Iya Mel,” timpal Sariani. Kedua sahabtku ini menatapku dengan tatapan manja dan kasihan.
“Iya Mel, kita liburan kali ini saja, kamu kan mau pindah, anggap aja ini liburan semester sekaligus perpisahan denganmu,” kata Maxi dengan penuh serius yang mendalam yang seakan menyayat hatiku. “Baiklah kalau kalian maksa, aku akan ikut. Oke,” sambil melihat Maxi dengan senyum tipis. Kedua sahabatku lalu memelukku dan kami berlima berjanji akan bertemu besok di tempat biasa kami kumpul.

Setelah keesokan harinya, kami bertemu di tempat perjanjian kami. Kami sudah siap-siap berangkat ke tempat yang ingin kami tuju. “Aku ingin tahu ke mana kita akan pergi?” Tanyaku dengan penuh penasaran setelah naik ke mobil yang akan menghantarkan kami ke tempat tujuan kami. “Nanti juga kamu tahu.” Jawab Maxi yang terlihat tampan dengan kaus merahnya sambil duduk di kursi pengemudi. Aku yang duduk di kursi belakang dengan Nor dan Sariani tak ingin banyak bertanya walau penasaran. Setelah mobil yang kami naiki meninggalkan tempat tadi, di dalam mobil kami hanya bercerita mengenai hal-hal yang membuat kami tertawa walau kadang-kadang aku melihat ke kaca spion dan melihat Maxi selalu memandangiku dan tersenyum padaku.

Setelah sampai di tempat tujuan kami, Maxi lalu menghentikan mobil dan menyuruh kami ke luar. Aku ke luar dan melihat sekelilingku, tak ada sekata pun yang aku ucapkan, hanya rasa kagum yang mendalam terhadap segala ciptaan Allah yang sempurna ini. Aku menghirup udara sedalam-dalam berusaha menghabiskan seluruh oksigen segar di tempat ini. Kekagumanku belum selesai saat Maxi menarik tanganku dan berlari kecil ke bukit yang ada di samping kami, aku hanya mengikuti langkahnya sambil berlari kecil mengikutinya.

“Lihatlah,” katanya. Sambil menunjuk ke arah laut biru dari atas bukit yang sedikit tinggi dari dataran lainnya di sekitar pantai itu. “Indah, bukan?” katanya.
“Iya, sangat indah,” Kataku. “Iya, seperti kamu,” Katanya.
“Apa? Apa katamu?” tanyaku yang ingin memastikan apa yang ia katakan tadi.
“Bukan apa-apa,” jawabnya sambil tersenyum dan meninggalkanku menuju ke arah teman-temanku yang sudah ada di bawah bukit kecil itu.
“Hei, apa yang kau katakan, jawabku,” pintaku dengan sedikit mengejarnya dari belakang. Ia tak menggubris perkataanku dan berlari menjauh dariku. Ak upun mengejarnya dan kami pun main kejar-kejaran. Kami langsung berhenti tepat saat bertemu dengan ketiga sahabat kami yang melihat kami berlari dan tertawa bersama-sama mereka juga ikut tertawa melihat tingkah kami berdua.

“Ada apa, kenapa kalian kejar-kejaran? “Tanya Sariani yang melihatku dan Maxi.
“Dia tidak memberitahuku apa yang tadi dia katakan,” jawabku dengan wajah yang terlihat kasihan.
“Hahaha.. apa yang kau katakan padanya?” Tanya Nor kepada kaka Maxi. Maxi lalu membisikkannya kepada mereka bertiga.

Mereka berempat lalu memandangku dan tertawa terbahak-bahak tampa malu dengan para wisatawan sekitar. Aku lalu melihat mereka dan memasang wajah yang cemberut, mereka langsung kembali tertawa dan mebuatku semakin jengkel, karena melihat wajah Maxi yang tertawa kegirangan sampai memegang perut dan berlumuran di atas pasir, aku juga turut tertawa dengan mereka. Setelah puas menertawaiku kami langsung mandi. Aku yang tidak tahu berenang ingin mencoba mengejar Sariani dan Nor yang sudah mandi duluan daripada aku.

“Hei tunggu aku,” aku langsung menceburkan diriku tanpa memperkirakan ke dalam air laut yang sedang berombak itu.
“Tunggu,” kataku dan langsung meminum air laut seteguk, dua teguk, dan menyadari bahwa sekarang aku akan tenggelam. “Tol.. lloong,” aku berteriak sebisaku dan terus berusaha mengepak-ngepak tanganku agar bisa meraih sesuatu, berusaha menginjak sesuatu di kakiku sebagai pijakan. Tapi itu nihil karena aku sedang dalam ke dalam air dan yang aku pikirkan saat itu, Matilah aku!

Kesadaranku mulai hilang karena banyak meneguk air masing, dan sulit mendapatkan oksigen, tapi tak lama kemudian seperti ada yang memelukku dari belakang dan berusaha menyelamatkanku. Dia lalu membawaku ke darat dan berusaha menyadarkanku, yang aku lihat hanyalah buram. Aku melihat banyak orang mengurungku dengan penyelamatku, saat aku berusaha melihat, ada seseorang yang aku kenal di sana, saat aku ingin melihatnya aku pun tak menyadarkan diri lagi.

“Amel, Amel, ayo bangun, ayo bangun,” Suara itu terus terdengar di telingaku membuatku ingin segera bangkit tapi tubuh ini tak mau bekerja sama. Entah berapa lama aku tak menyadarkan diri. Saat aku membuka mataku yang aku lihat adalah langit-langit kamar yang aku gambar bintang, aku lalu melihat ke samping dan mendapati kedua sahabatku sedang tidur di sampingku. Aku lalu berusaha agar bisa meraih gelas yang berisi air yang ada di meja samping kiri ranjangku karena yang aku rasa tenggorokanku sangatlah kering, tapi yang terjadi gelas yang berusaha aku raih tergeser, jatuh dan pecah. Mengakibatkan kedua sahabatku Sariani dan Nor terbangun.

“Amel kamu sudah sadar? Syukurlah,” kata Sariani dengan penuh haru dan memelukku.
“Syukurlah kamu sudah sadar mel,” timpal Nor yang aku lihat dia mulai meneteskan air mata. Mereka berdua lalu memelukku. “Hei, apa yang kalian berdua lakukan? Aku tak akan mati dengan mudah, berhentilah.. berhentilah memelukku seperti itu,” Kataku dan memaksa kedua sahabatku agar melepaskan pelukan mereka berdua.
“Baiklah, baiklah. Kami hanya sangat senang kau sudah sadar mel,” Kata Sariani.
“Iya,” timpal Nor.

“Bolehkah aku meminta sesuatu?” Tanyaku.
“Apa? Apa yang kau inginkan, katakanlah,” Sahut Nor.
“Segelas air bisa?”
“Hehe, baiklah aku akan mengambilkannya untukmu,” Kata Sariani dan berjalan ke luar kamarku.
“Aku akan membersikan pecahan gelas ini dulu,” kata Nor dan mulai membersihkan pecahan gelas yang aku pecahkan tadi.

Tak berapa lama kemuadian Sariani masuk ke kamarku membawa segelas air dengan disusul oleh ketiga pria di belakangnya. Salah satunya adalah ayahku, beliau masuk lalu memeluk dan mencium keningku. “Syukurlah kamu sudah sadar sayang, Ayah sangat khawatir denganmu,”
“Aku tak apa Ayah, Ayah jangan khawatir lagi, ya Ayah?” kataku.
“Iya sayang, yang penting kamu sudah sadar,”
“Ini airmu mel,” kata Sariani sambil memberikan airku.
Aku langsung meminumnya sampai habis dan merasa tenggorokanku mulai lega. Aku lalu memberikan gelas yang kosong ke Sariani dan melihat kedua pria yang masuk dengan ayahku tadi, mereka adalah Regas dan Maxi. Aku hanya tersenyum melihat mereka Karena yang terpasang di wajah mereka adalah rasa sedih yang mendalam.

“Mel, Ayah ingin menelepon sebentar di luar kamu dengan teman-temanmu dulu ya,” Kata ayahku.
“Iya Ayah,” Setelah ayahku ke luar sahabat-sahabatku duduk di sampingku dan mulai bercerita banyak hal agar aku senang. Tapi aku hanya melihat kepada seorang pemuda yang masih menggunakan kaus merahnya dan melihatku dengan wajah yang sedih.

“Apa yang kau lakukan? Kenapa memandangiku seperti itu? Cara pandangmu seperti tidak akan melihatku lagi,” Tanyaku kepadanya dengan wajah yang masih terlihat lemah.
“Aku hanya senang kau bisa selamat,” jawabnya dengan penuh keseriusan.
“Hei, aku tidak akan mati dengan mudah tahu,” jawabku dengan senyum.
“Bagaimana kami tidak khawatir? Kau pingsan selama sehari penuh,” Kata Sarini.
“Benarkah?” tanyaku tidak percaya dan Nor mulai menceritakan kejadiannya. Sedangkan aku melihat Maxi berjalan ke luar dari kamarku. Dari paparan cerita kedua sahabatku, barulah aku tahu kalau yang menyelamatkanku adalah Maxi, pria yang selama ini aku benci. Dia tidak pulang ke rumahnya hanya untuk menungguku sampai sadar. Aku ingin berterima kasih padanya.

Tak lama kemudian ayahku masuk dan berkata kepada kami berempat bahwa besok pagi-pagi sekali aku dan ayah akan berangkat dengan pesawat jam pertama. “Maafkan Ayah karena keberangkatan kita dipercepat, karena Kakek dan Nenekmu sangat khawatir tentang keadaanmu dan mereka ingin segera menemuimu,” Jelas ayahku karena melihat aku dan ketiga sahabatku mulai merasa sedih. “Jangan khawatir, kita masih bisa sms dan telepon, apalagi sekarang sudah ada sosmed. Jangan khawatir deh, kalau liburan aku pasti akan kesini lagi,” Jelasku agar tidak membuat sahabtku sedih. “Iya, benar kata Amel, kita akan ketemu lagi,” kata Regas. Nor dan Sariani langsung memelukku. Ayah langsung ke luar dari kamarku dan mengatakan ingin membereskan bawaan yang akan dibawhnya. Sedangkan ketiga sahabatku membantuku membereskan bawaanku sambil bercanda dan tertawa denganku.

Keesokan harinya di bandara, ketiga sahabatku yang sedari kemarin menemaniku mengantar aku dan ayahku ke bandara. “Sebentar lagi pesawatnya akan berangkat, ayo kita harus bergegas,” kata ayahku kepada kami. Saat di tempat pemeriksaan tiket kedua sahabatku Nor dan Sariani mulai menangis dan memelukku, Regas lalu bergabung dan memeluk kami bertiga. “Ayo Mel, cepat berikan tiketmu,” kata ayahku. “Bentar Ayah,” kataku sambil melihat ke sekitar mencari seseorang yang sangat ingin aku temui. Kenapa dia tidak datang? Hari ini kan aku akan pergi, sangat besarkah rasa bencinya padaku sampai ia tak mau menemuiku. Desisku karena Maxi tak muncul, padahal aku ingin berterima kasih padanya.

“Dia tidak akan datang Mel,” kata Regas.
“Memangnya aku sedang menunggu siapa?” kataku dengan sedikit tertawa.
“Dia menitipkan ini padamu,” Kata Sariani sambil memberikan sebuah kotak terbungkus dengan kertas ungu.
“Apa ini? Siapa yang memberikannya?” tanyaku sambil membolak-balik kotak yang diberikan ini.
“Kau akan tahu siapa yang memberikan saat kau membukanya, sekarang pergilah. Jangan lupa untuk menghubungi kami yah,” Kata Nor.
“Baiklah, bye,” sambil melambaikan tangan. Mereka pun membalas lambaian tanganku.

Sampai di dalam pesawat aku memperhatikan kotak yang berukuran kurang lebih seperti kotak sepatu itu, lalu aku menaruhnya di dalam tas ranselku. Pesawat yang kami naiki langsung berangkat meninggalkan kota yang sejak kecil aku tinggali bersama ayahku, karena ibuku meninggal saat melahirkanku. Aku adalah anak satu- satunya karena itu ayah sangat menyayangiku. Rasa sedih menyelimuti hatiku meninggalkan sahabat tercinta dan juga kuburan ibuku. Alasan ayah tak pernah meninggalkan kota selama ini karena kuburan ibu ada di kota ini tetapi karena tuntutan kerja dan permintaan kakek dan nenekku ayah menyetujui pemindahan kami ini. Aku tau ayah sangat sedih meniggalkan kuburan ibu, tapi aku juga sedih karena itu aku tak dapat menghibur ayah seperti biasanya.

Sesampainya di kota tujuan kami, kakek dan nenek menjemputku di bandara. Rasa gembira bertemu dengan mereka menghilangkan rasa sedih aku. Senang rasanya bertemu dengan mereka. Setelah itu kami langsung pergi ke rumah kakek dan nenek yang mulai saat ini akan menjadi rumahku. Setelah beberapa hari di kota baru ini aku mulai belajar beradaptasi dan sosialisasi dengan masyarakat sekitar. Karena atmosfir kota baru ini berbeda dengan tempat tinggalku yang lama membuatku sedikit kesulitan tetapi lama kelamaan aku mulai menyukai daerah ini.

Suatu hari di dalam kamarku aku sedang asik mengobrol lewat telepon dengan kedua sahabatku, Sariani dan Nor. Mereka curhat banyak tentang ketiadaanku yang membuat mereka sedih. Aku juga turut bersedih. Mereka bercerita mengenai kelambatan Sariani, kecerewetan Nor, kepintaran Regas, dan Maxi yang mulai murung tampaku. Mendengar itu aku hanya tertawa dan mengatakan bahwa dia hanya murung karena tidak ada yang bisa diganggunya lagi. Nor lalu bertanya kepadaku mengenai kotak yang ia berikan padaku di bandara. Aku katakan aku belum sempat untuk membukanya.

“Kau harus segera membukanya Mel,” kata Nor di seberang telepon.
“Iya Mel, buka dulu.. aku dan Nor penasaran dengan isinya,” sahut Sariani menambahkan.
“Kenapa kalian sangat ingin tahu isinya? Aku saja tidak pengen tahu,” Jawabku dengan cuek, padahal aku juga penasaran dengan isinya.

Setelah selesai telepon aku mulai berpikir dengan perkataan kedua sahabatku tadi. Aku lalu mengambil ranselku yang aku gantung di belakang pintu dan mulai membukanya di atas tempat tidurku. Aku membuka ransel dan melihat kotak yang dilapisi oleh kertas ungu itu masih ada di tempatnya. Aku mengambil dan membukanya dengan perlahan. Mulai dari pita di atas kotak itu, lalu membuka lapisan kertas ungunya kemudian membuka penutupnya. Saat aku lihat ada kaos berwarna merah dengan gambar love adanya juga tulisan I LOVE U di depannya, setelah aku buka dan melihatnya dengan seksama ada namaku di ujung bawah baju itu. Tulisan di baju itu I LOVE U Amel. Selain baju kaus ternyata masih ada hadiah lainnya ada sebuah kotak kecil yang berisi kalung dengan mainan kalung berbentuk hati, ada gantungan HP boneka beruang dan di bagian dasar kotak aku temukan sepucuk kertas yang rapi berukuran kecil. Ada tulisan yang terselip di kertas putih itu.

“Amel terkasih. Aku meminta maaf atas segala tingkahku yang mengganggumu selama ini. Ini aku lakukan karena aku ingin mengenalmu lebih dekat. Aku tahu kau mungkin tidak akan dengan mudah memaafkanku. Tapi rasanya tidak enak jika kau tak memaafkanku. Dosaku terlalu berat buatmu. Amel. Sekarang aku telah menebus segala kelakuanku. Tetapi selain permintaan maaf ada hal yang ingin aku katakan padamu sejak dulu. Amel. I LOVE YOU! Bersediakah engkau menjadi pacarku? yang malang. Yang terlupakan Maxi. Teman jahilmu.”

Mataku berkejap. Ada sesuatu yang luruh di sana. Semakin jelas terasa sekarang. Ada sesuatu yang bergetar di sana. Haru menyelinap di dadaku telaga mataku mengembang. Inilah pertama kali aku merasakan sakit yang menyayat dadaku. Aku menagis bukan hanya karena sakit di dadaku saja, melainkan karena sudah jauh aku darinya barulah dia mengungkapkan perasaannya. Aku menangis dan memeluk baju dan surat yang diberikan. “I love you to Maxi,” kataku dalam isak tangisku. “Ternyata dia juga mencintaiku.” desisku.

Cerpen Karangan: Amalia
Facebook: Amel Djamiri Amel
Nama: Amalia Temarwut
TTL: Dobo 31 Januari 1998
Status: Mahasiswa
Universitas: Iain Ambon
Jurusan: Pendidikan Matematika
Semester: Empat (IV)

Cerpen Dia Mencintai Ku (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Sejati

Oleh:
Namaku Dinda, dan mempunyai seorang sahabat bernama Sintia. Aku dan Sintia sudah lama bersahabat dari kelas 7 sampai sekarang. Pada suatu hari di sekolah kami ada murid baru yang

Perpisahan Akhir

Oleh:
Jam beker berbunyi tepat jam 06:00 pagi . Saatnya untuk lian bersiap-siap untuk kesekolah , di sekolah lian anak yang bersahabat , memang sih gak pinter pinter amat .

Dipenghujung Penantianku

Oleh:
Nada berganti nada mengiringi langkahku, disaat itu aku sedang dibalut kesepian tepatnya patah hati. Andai Tuhan menyatuhkan dua hati yang berbeda ini, mungkin tiada tangis pilu yang melarat jiwa

I For You

Oleh:
Dina membuang nafas berat, mata cokelatnya menatap gemercik air yang turun dari langit, awan hitam mulai terlihat jelas di mata dina. Air perlahan mulai tejatuh pula dari pelupuk mata

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *