Dia Yang Kini di Hatiku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 12 April 2014

Namaku Tanti, begitu populernya nama ini di kalangan kakak kelas dan adek kelas. Aku seorang anggota Osis dan atlet, banyak cowok yang menyatakan cintanya, namun aku ini seorang yang sangat plin plan. Baru ada satu cowok yang ku terima namun hubungan ini pun tak bertahan lama, banyaknya gosip beredar tentang diriku yang bukan bukan, sudah menjadi keseharian. Itulah resiko menjadi orang populer.

“Tan, ada adek kelas tuh tanyain nomer lu namanya Kania katanya dia ngefans buanget sama lu!” Ucap Fika menghampiriku. “Oh Gitu ya.” Balas ku malas malesan, entah sudah berapa banyak orang yang meminta nomer ponselku. “Lu sih sukanya nebar kacang! kasian tuh yang pengen akrab sama elu.” “Haha.” Kata ku meringis. “Kapan ya gue bisa sepopuler lu Tan?” “Ah biasa aja, lu berlebihan!” Timpalku. Perlu diketahui sifat burukku dari dulu sampai sekarang yaitu egois dan cuek. Jangan ngira kalau aku sombong, kenyataannya memang enggak.

Di kelas saat pelajaran, tiba tiba aku pusing. Yogi pun mengantarku ke UKS, di depan pintu UKS kami bertemu dengan Kevin, seorang adek kelas yang ganteng, pandai pula. “Kak Tan, kamu sakit?” Tanyanya padaku. “Iya dek, kenapa kamu jam pelajaran kok gak masuk ke kelas?” “Jam kosong nih kak, aku bisa nunggu kakak di UKS kok.” katanya. “Ah elu modus dek.” Ucap Yogi pada Kevin. “Kenapa jadi yang sewot gitu?” “Ya gue nggak sewot eh.” Ujar Yogi. “Udah deh nggak usah berantem, gue tambah pusing entar.” Kataku melerai mereka. “Eh kakak baring aja di UKS.” “Iya dek.” “Gimana kalau aku yang nunggu kamu disini Tan?” tawar Yogi. “Udah biar Kevin aja.” kataku padanya. “Awas kau Vin!” kata Yogi sambil mengepalkan tangannya pada Kevin. Kevin membalas dengan juluran lidahnya maksudnya adalah mengejek Yogi. “Lu jangan macem macem!” bentak Yogi pada Kevin. “Kagak lah!”

Kevin menungguiku agak lama, dia yang menemaniku ngobrol. Dia bertanya banyak tentangku, begitu pula aku. Aku kelas 8, dia kelas 7. Namun pemikirannya sudah dewasa. “Kakak udah punya pacar belum sih?” Tanya Kevin membuyarkan lamunanku. “Eh pacar? belum.” “Sama dong.” Ngapain dia nanya kayak gitu, aku jadi agak GR gitu, batinku dalam hati.

“Cewek populer kayak kakak kenapa nggak punya pacar?” “Hahahaha belum ada yang bisa naklukin hati gue dek.” “Kata katanya itu lho ckckck.” “Wkwkwkwkw.” “Ayo kita pulang kak!.” “Emang ini jam berapa?” “Udah jam 2, temen temen kita udah pada pulang.” “Oke.”

Kami pulang bersama jalan kaki, dan sampai pertigaan, aku belok kiri, dia belok kanan menuju ke terminal bus. Dia pulang dengan mobil umum. Di sekolah kami ada larangan siswa mengendarai sepeda motor, mobil ke sekolah maupun pulang sekolah.

Malam harinya kudapati sms dari nomor tanpa nama:

Good Night, Have a nice dream!

Aku pun membalasnya:

Aku belum mau tidur kok :p kamu siapa?

Tak lama kemudian dia membalas:

Eh maaf kak. Aku Kevin

Kamu tau nomerku dari siapa?

Aku tanya sama guru pembina osis kak, udah dulu ya kak aku mau tidur dulu

Esok harinya aku bertemu dengan Yogi, “Lu harus jauhi Kevin!” “Ngapain lu ngatur ngatur gua Gi?” “Kelihatannya mukanya gak meyakinkan.” “Halah bawel lu ah, gue mau masuk kelas.” Aku pun berlari meninggalkan Yogi yang menungguku. Saat mau masuk kelas, banyak sekali yang menyapaku. Ya memang seperti itu setiap harinya.

“Tan, lu suka sama Yogi ya?” Tanya Kania. “Enggak lah, gue itu suka sama…” Eh apa apaan gue, apa gue suka sama adek kelas itu, pikir gue dalam hati. “Siapa?” Kania semakin penasaran. “Suatu saat nanti lu bakal tau sendiri.” “Pelit lu ah, gak mau bagi rahasia!.” “Ya namanya rahasia itu emang gak boleh diumbar umbar.” Kataku mantap.

Sewaktu istirahat ada adek kelas perempuan yang menghampiriku dan berkata “Kak temenku ada yang suka sama kamu lho!” “Ah biar” jawabku singkat.
“Yakin gak kecewa kalo gak kusebutin?” “Hmmm” Balasku sambil beranjak meninggalkannya. “Cuek amat sih lu Tan!” Bentak Kania. “Gue sih cuek!!” timpalku. Pelajaran setelah istirahat adalah Matematika, mengapa aku gak konsen dan malah memikirkan Kevin.

“Bu saya izin ke belakang.” “Iyaa.” Balas Bu Tika yang mengajar matematika sambil terus menulis di papan tulis. Aku pergi ke belakang bukan untuk buang air, namun aku ingin menghirup udara segar. Kulihat di kelas Kevin, kelas 7c Kevin sedang menengok ke jendela, dia ternyata melirikku, dan senyum padaku, lalu kubalas senyumannya.

Setelah selang 5 menit, bel tanda istirahat berbunyi, aku pun pergi ke kantin. Di belakangku, kulihat Kevin berjalan menyusulku, aku pun berhenti sejenak. Kami berjalan ke kantin bersamaan, dan dia mentraktirku nasi goreng. Nasi goreng adalah makanan kesukaannya, begitu pula denganku. “Andaikan ada seseorang yang menyatakan perasaannya ke kakak, apakah kakak mau menerimanya?” “Aku hanya ingin mempertimbangkan!”
“Temenku banyak yang naksir sama kakak, salah satunya Ken, katanya dia mau nembak kakak.” “Oh Gitu” Jawabku kecewa. Kirain kamu yang bakal nembak aku dek, batinku dalam hati. Harapanku putus seketika.

Hari selanjutnya, benar apa yang dikatakan Kevin, Ken menembakku. Namun aku menolaknya. Aku sadar aku suka sama Kevin. Namun aku tak bisa, dan sangat gengsi kalau harus mengungkapkannya duluan. Hari itu Kevin menghindariku. Aku semakin merasa terpuruk. Malamnya kukirimkan pesan singkat kepadanya. Namun ia tak membalasnya.

Esok harinya aku menemukannya di depan kelasnya, dia berlari, aku pun mengejarnya. Semua yang melihat pemandangan itu mungkin terheran heran. Kubuang rasa gengsiku. Akhirnya kutemukan ia di bangku taman sekolah, Tak basa basi lagi ku menghampirinya. “Kenapa kakak menyusulku?” Tanyanya sambil menyembunyikan air matanya yang menetes sedikit. “Kamu nangis Vin?” “Enggak kok kak, kenapa kakak kesini apa kakak enggak takut pacar kakak marah?” “Pacar yang mana?” “Ken itu pacar kakak kan? kemarin kalian jadian?” Tanya Kevin setengah membentakku. “Aku menolaknya Vin!” “Apakah semua orang yang pernah menembak kakak selalu kakak tolak? Mau berapa banyak lagi cowok yang sakit hati gara gara kakak? apa itu memang kemauan kakak menyakiti semua hati mereka?” Bentak Kevin padaku.

“Teganya kamu bilang seperti itu padaku Vin! Memangnya aku harus menerima orang yang tak ku cintai? Itu hakku menolak!” Balasku padanya, tak terasa air bening mengalir di pipiku. “Maafkan aku kak aku tak bermaksud begitu, hanya saja jika aku melakukan hal yang sama apakah kau juga akan menolakku?” Ujarnya padaku. Deg! Kata kata itu! sudah cukup ku mengerti perasaannya padaku. “Cukup Vin!” “Aku cinta sama kakak, aku sangat ingin jadi pacar kakak! Sudah itu saja yang ingin ku katakan, terserah padamu jika kau ingin menolakku juga!”
“Apa?” “Aku cinta sama kamu kak!” “Sebenernya aku menolak temanmu karena aku cinta sama kamu Vin, sekarang kamu ngerti kan?” “Aku nggak percaya kakak mengucapkan itu juga padaku.” “Eh? jangan panggil kakak dong nggak enak banget didengar. “Iya Say *eh!” Tak terasa air mata bahagia mengalir deras di pipi kami. Kami berdua saling mengusap air mata.

Cerpen Karangan: Lena Sutanti
Blog: lena-sutanti.blogspot.com

Nama: Lena Sutanti
Kelas: 8
FB: Lena Sutanti (add ya 😉

Cerpen Dia Yang Kini di Hatiku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bad Anniversary

Oleh:
Malam ini hujan tak henti-hentinya membasahi atap rumahku. aku yang termenung menatap hujan di balik jendela kamarku dan tak sadar bulir-bulir air mata jatuh di pipiku. Drrrtt drrrrtttt… Well

Takut Melangkah

Oleh:
Pagi yang malang. Di saat manusia lemah itu menyeruput kopi pahitnya dengan perasaan bimbang. Sudah lama dia tidak merasakan getaran yang dia rasakan saat ini. Getaran yang membuatnya seperti

Jadikanlah Aku Lebih Dari Teman

Oleh:
“Hayooo… Lagi ngelamunin siapa?” Tiba-tiba suara Rini membuyarkan lamunan ku… dengan sedikit gelagapan aku mencoba mengalihkan perhatiannya.. “ah… gak ngelamunin siapa siapa… aku lagi dengerin musik kok.. ini dengerin

Genangan

Oleh:
Musim hujan tiba lagi. Setiap hari mataku akan melihat bulir-bulir air langit yang turun berkejaran. Air-air yang menciptakan genangan hampir di seluruh jalanan desa. Air-air yang membawaku pada kenangan

Pangeran Bunga Sakura

Oleh:
Kringgg.. Suara jam wekerku berbunyi nyaring dan sukses membangunkanku pagi ini. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali untuk membiasakan mataku menatap silaunya cahaya sang mentari. Pagi yang indah dan cerah.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *