Dia Yang Selalu Ada (Part 4)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 26 June 2017

Pukul 20.30 tampak para tamu undangan banyak yang sudah berdatangan dan setengah jam lagi acara akan dimulai tapi Raka belum datang yang membuat Shintia terus bertanya-tanya.
Shintia mulai melirik kekanan dan kekiri tapi tidak juga ia dapatkan sosok yang sedang ia cari. Tepat pukul 21.00 acara dimulai dan mc membacakan susunan acara serta memulai acara pada malam hari ini.

Shintia semakin gelisah karena Raka belum juga muncul padahal Shintia pengen Raka ada di sampingnya malam ini. Tiba saatnya peniupan lilin akan tetapi, tiba-tiba lampu mati dan seluruh tamu menjadi terdiam. Tiba-tiba terdengar suara dari mic.
“Happy birthday Shintia.” Suara perempuan yang tidak asing untuk di dengar Shintia akan tetapi ia tidak tahu suara siapa itu?
“Sekarang ulang tahun kamu yang ke-17 tahun. Jadi sekarang kamu benar-benar menjadi seorang gadis yang cantik dan dewasa. Di usia ke-17 tahunmu ini, tolong maafkanlah jika ada orang yang kamu anggap nggak pernah peduli kepada keadaanmu.” Suara itu menghilang dan lampu kembali menyala.
“Happy birthday to you sayang. Maaf jika selama 5 tahun kamu ulang tahun, mama sama papa nggak ada di samping kamu.” Ucap ibu Shintia seraya memeluknya dan Shintia tidak menyangka semua ini akan terjadi.
“Pa..pa mana ma?”
“Papa di sini sayang.” Ucap Ayahnya berjalan bersama Raka dan yang sedang mendekat ke arahnya. “Raka? Apa hubungannya dengan dia? Mama sama papakan nggak kenal sama dia?” Tanya Shintia dalam hati.
“Happy birthday ya sayang.” Ucap Ayah Shintia mengecup kening Shintia dan tampak Raka mendekat.
“Kamu kok bisa sama papa aku dan kamu kan nggak kenal sama mereka.” Tanya Shintia heran.
“Udah nanti aku jelasin semuanya. Happy birthday ya Shintia. Kamu jangan nangis karena malam ini adalah malam yang indah dan saatnya kamu tiup lilin dan berdoa.” Ucapnya menghapus air mata Shintia dan menyalakan lilin yang berangka 17.
“Ya Allah hamba memohon Kepada-Mu semoga mama sama papa hamba nggak akan pernah ninggalin hamba lagi dan berikanlah jalan yang terbaik untuk hamba aamiin.” Ucap Shintia dalam hati seraya meniup lilin.
“Sekarang potong kuenya dan kasih orang-orang yang kamu sayang.” Ucap Raka kepada Shintia.
Shintia memotong kue yang pertama dan ia memberikannya ke mama dan papanya dan Shintia memotong kue yang kedua untuk mbok Iyem orang yang merawatnya selama ini dan potongan yang terakhir untuk Raka orang special baginya.
“Ini buat kamu.” Ucap Shintia malu-malu.
“Buat aku?” Ucap Raka tidak percaya.
“Kenapa, kamu nggak mau?”
“Ya maulah.” Ucap Raka seraya melahap kue yang Shintia berikan dan Raka menyuapinya di depan orangtua yang membuat para tamu bersorak serta bertepuk tangan yang membuat orangtuanya tersenyum melihatnya.

Setelah acara selesai Shintia membantu Raka yang sedang sibuk memasukkan kado ke dalam kamarnya dan setelah semuanya selesai tiba-tiba Raka memberinya kado yang berukuran kotak kecil yang dihiasi pita ping dan surat serta setangkai bunga mawar.
“Kalo kamu mau buka kado ini ntar tunggu aku pulang dan harus di depan mama sama papa kamu.” Ucap Raka yang membuat Shintia menjadi semakin bingung dan ia hanya mengiyakan permintaan Raka walau aneh baginya.
“Hey sebentar, kata kamu mau jelasin semuanya sama aku?” Ucap Shintia ketika Raka mau pulang.
“Oh ceritanya panjang. Kemarin aku ketemu mama sama papa kamu dan mereka minta aku buat perayaan ultah kamu dan tanpa memberitahu kamu kalo mereka sudah ada di Indonesia.” Jelasnya kepada Shintia.
“Oh makasih ya kamu udah banyak berjasa dalam hidupku dan selalu perhatian sama aku.”
“Yah namanya juga aku sayang sama kamu.” Ucap Raka yang membuat Shintia terkejut dan tampakknya Raka baru menyadari apa yang barusan ia katakan.
“Apa? Kamu bilang apa barusan?” Tanya Shintia seolah-olah ia tidak mendengar apa yang Raka katakan.
“Enggak itu tadi aku bilang kalo kamu itu sahabat terbaik aku. Iya, sahabat terbaik aku.” Ucapnya tidak mengakui apa yang sebenarnya ia rasakan.
“Oh ya sudah! hati-hati ya? Dahhh.” Ucap Shintia seraya melambaikan tangan dan tersenyum kepada Raka.

Saat Shintia ke ruang tamu Ibunya bertanya.
“Sayang, cowok itu siapa? Pacar kamu ya?” Ucap Ibunya dengan seulas senyum manis yang sudah lama tidak pernah Shintia lihat.
“Bukan ma, dia itu sahabat aku dan selama ini dia selalu perhatiin keadaanku dan pokoknya dia sahabat yang paling baik yang pernah Shintia kenal.”
“Oh, tapi kamu sama dia cocok jadi sepasang kekasih.” Ucap Ayahnya menambahi
“Nggak ah pa, Shintia kan mau kuliah dulu.” Ucapku karena besok adalah pengumuman kelulusan dan rencananya aku pengen kuliah.
“Ya udah tapi kamu mau kuliah di mana?” Tanya Ibunya kepada Shintia.
“Terserah aja sih ma. O iya ma pa.” Ucap Shintia seraya megeluarkan kado yang diberi Raka kepadanya.
“Itu apa sayang dan dari siapa?”
“Oh ini dari Raka ma cowok tadi.” Shintia membuka kado yang Raka berikan dan betapa terkejutnya Shintia saat melihat isi dalam kotak kecil itu ternyata, sepasang cincin dan ia membaca surat dari Raka.

Hay Shintia happy birthday ya
Sebenarnya aku udah lama ngerasain rasa ini tapi aku hanya pendam sendiri
Di malam ultah kamu aku beraniin buat nulis ini surat
Shintia aku bukan seorang pria yang sempurna tapi aku pengen hidup bersama kamu agar kita menjadi sempurna saling menyayangi satu sama lain
Saat ini aku nggak tau apakah kamu juga merasakan hal yang sama seperti aku
Yang jelas aku sayang sama kamu dan aku pengen kamu jadi pendamping hidupku
Shintia maukah kamu bertunangan denganku?
Aku janji setelah kita selesai kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang tetap serta mempunyai usah sendiri aku akan datang melamar kamu demi cinta suci ini
Jika kamu mau tunangan sama aku maka kamu harus ngasih satu cincin ini ke aku dan apabila kamu nggak mau maka kamu kasih ke aku kotak beserta cincin ini dengan surat balasan yang sekiranya tidak membuat persahabatan kita hancur dan aku nggak mau kamu pergi dari hidupku
Raka Aditia Putra
Yang menyayangimu

Tiba-tiba air mata Shintia mengalir bukannya sedih tapi ia terharu dan ia menyerahkan kotak cincin serta surat kepada mama dan papanya.
“Sayang jika kamu merasa nyaman dan aman berada di sisinya jadi apa salahnya kamu balas perasaannya.” Ucap Ibu Shintia meyakinkan putrinya.

Hari ini hari pertama Shintia kuliah bersama Raka dan mereka berdua sengaja memilih kuliah yang sama dan selalu berduaan. Shintia megembalikan kotak cincin kepada Raka yang membuat Raka terkejut dan berpikir bahwa Shintia tidak menerima tunangannya.
“Buka sekarang.” Ucap Shintia memaksanya dan Raka akhirnya membuka kotak cincin itu dengan jantung yang berdetak lebih cepat dan betapa terkejutnya ia ketika melihat hanya ada satu cincin di kotak itu karena satunya lagi sudah Shintia pakai di jari manisnya.
“Jadi kamu mau tunangan sama aku, makasih ya Shin.” Ucap Raka seraya memeluk Shintia.

Waktu terus berputar dan tidak terasa sebentar lagi Shintia dan Raka wisuda. Hari ini Shintia tidak ada jam kuliah tapi ia sengaja pergi kuliah karena ingin ketemu Raka.
Shintia mulai melangkahkan kakinya menuju tempat dimana Raka sering berkumpul bersama teman-temannya dan langkahnya terhenti saat melihat sosok seseorang yang tidak asing baginya bersama seorang perempuan dan tampak sedang menggenggam tangan perempuan itu.
Shintia mendekat menuju dua orang di taman kampus yang menarik perhatiannya itu, dan saat ia melihat dari depan ternyata orang yang mampu menarik perhatiannya itu adalah Raka dan Cika sahabatnya sewaktu SMA tapi pindah sekolah saat kenaikan kelas XII karena orangtuanya pindah keluar negeri untuk mengejar bisnis dan sekarang dia kembali bahkan satu kampus bersamanya dan saat ini sedang menggenggam tangan tunangannya.

“Raka kamu.. aku nggak nyangka ternyata kamu selama ini.” Ucap Shintia tertahan karena air matanya terus mengalir.
“Shin tunggu dulu, aku akan jelasin semuanya.” Ucap Raka menahan Shintia.
“Kamu mau jelasin apa lagi? Semuanya udah jelas. Aku sudah lihat dengan mata kepalaku sendiri kalo kamu lagi bermesraan bersama cewek lain dan asal kamu tahu Cika itu sahabat aku dan kamu tega nyelingkuhin aku sama dia, kamu nggak punya hati dan aku nggak percaya lagi sama kamu. Aku benci sama kamu.” Ucap Shintia dengan air mata yang mengalir seraya berlalu dari hadapan Raka tanpa memperdulikan apa yang ia katakan.

”Tok tok tok” terdengar suara pintu kamar Shintia diketuk. “Non, Non, Non Shintia.” Panggil mbok dari luar.
“Iya mbok, ada apa?” Jawab Shintia dari dalam kamar.
“Itu Non, ada nak Raka di ruang tamu lagi nunggu Non.”
“Raka? Dia ngapain sepagi ini ke rumah? Tanya Shintia dalam hati.”
“Non.”
“Iya mbok sebentar, Shintia mau mandi dulu.” Ucapnya menuju kamar mandi. Setelah selesai ia menuju ruang tamu dimana Raka berada.
“Ehemm, kamu ngapain sepagi ini mau ketemu aku?” Tanya Shintia ketus.
“Aku mau jelasin kejadian kemarin, agar kamu nggak salah paham.” Ucapnya dengan tatapan penuh harapan.
“Iya aku akan dengerin tapi aku mau bikin sarapan dulu.”
“Non mau ke mana? Mbok sudah buatin sarapan buat non Shintia dan nak Raka.” Ucap mbok seraya menyajikan dua gelas coklat hangat dan dua piring roti bakar kesukaan Shintia dan Raka.
“Ayo sarapan dulu.” Ucap Shintia menuju ruang makan.
“Makasih ya mbok. Mbok mau ikut kita sarapan?”
“Silahkan non, mbok nanti saja soalnya mbok mau nyirap tanaman dulu.” Ucap mbok seraya meninggalkan Shintia dan Raka di ruang makan.
“Kamu mau ngomong apa?” Tanya Shintia seraya menikmati sarapan.
“Nanti aja tunggu kita selesai sarapan.”
Sarapan pagi ini begitu asing bagi Shintia. Berbeda dengan waktu sarapan yang lalu.

“Shin sebenarnya apa yang kamu lihat itu nggak seperti apa yang kamu bayangin.” Ucap Raka memulai pembicaraan.
“Maksudnya?”
“Asal kamu tahu, Cika megang tangan aku itu karena dia lagi butuh sandaran.” Ucap Raka yang membuat Shintia terdiam.
“Terus apa masalahnya sama aku?”
“Cika baru saja kehilangan orang yang dia sayang dan masalahnya sama kamu karena kamu berfikir kalo aku itu selingkuh.”
“Cika kehilangan orang yang dia sayang?” Tanya Shintia bingung.
“Maksudku nyokap sama bokapnya kecelakaan dan nyawanya tidak bisa diselamatkan lagi dan semua itu terjadi disaat mereka diminta Cika untuk pulang ke Indonesia. Di tengah perjalanan, pesawat yang ditumpangi orangtuanya terjatuh dan banyak memakan korban jiwa termasuk nyokap bokapnya dia.” Jelas Raka membuat Shintia mengerti atas kejadian kemarin. Ternyata apa yang ia lihat tidak seperti apa yang ia bayangkan. Ternyata Raka tidak selingkuh tapi ia sudah mengira Raka adalah cowok playboy.

“Kenapa bengong?” Tanya Raka seraya menggenggam tangan Shintia yang membuat ia kaget.
“Emm maafin aku, ternyata aku yang salah.” Ucapnya menyesali apa yang sudah ia lakukan.
“Kamu nggak perlu minta maaf karena kamu nggak salah.” Ucap Raka seraya merangkul pundak Shintia.
“Aku sayang sama kamu dan aku takut kehilangan kamu.” Ucap Shintia dengan air mata yang mengalir dipipinya.
“Iya aku ngerti. Aku juga sayang sama kamu.” Balas Raka seraya menghapus air mata Shintia dan menariknya ke dalam pelukannya. Air mata Shintia semakin deras bukan karena sedih tapi bahagia.

“Mau ikut aku nggak?” Tanya Raka.
“Ke mana?” Shintia balik bertanya.
“Kamu maunya kita ke mana?” Raka kembali bertanya kepada Shintia.
“Whatever.” Seraya tersenyum.
“Ke rumah aku aja, gimana?” Ajak Raka membalas seyuman Shintia.
“Boleh, ayo.” Ucap Shintia menarik tangan Raka menuju parkiran.
“Ayo naik.”
“Iya.” Ucap Shintia seraya memeluk Raka.

Sesampainya di rumah Raka, ia dan Raka menuju ruang tamu. Shintia terkejut melihat orangtuanya dan orangtuanya Raka yang sedang ngobrol.
“Ehh nak Shintia, sini sayang.” Ucap ibu Raka dengan seulas senyum yang ramah.
Shintia mendekat menuju tempat duduk ibu Raka dan ia melihat ibunya dengan tanda tanya yang hanya dibalas dengan seulas senyum manis dari ibunya. Shintia semakin bingung dengan semua ini.
“Nak Shintia. Apakah kamu bersedia untuk menikah?” Ucap Ayah Raka kepadanya yang membuat ia sulit untuk berkata. Melihat Shintia yang tidak ada reaksi Raka menghampirinya seraya duduk berlutut di depan Shintia.
“Kamu mau ngapain?” Tanya Shintia kepada Raka.
“Apakah tuan putri mau menikah denganku?” Ucap Raka yang membuat Shintia meneteskan air mata bahagia karena kata-kata itu yang ia harapkan keluar dari bibir Raka.
“Iya.” Ucap Shintia seraya menggenggam tangan Raka.
Orangtua mereka tertawa bahagia melihat anak mereka yang sebentar lagi menjadi keluarga.

“Jadi kapan pernikahannya?” Tanya Ayah Shintia kepada Raka.
“Secepatnya om.” Ucap Raka.
“Bagaimana kalo minggu ini?” Tawar Ayah Raka.
“Boleh, tapi tuan putri mau nggak?” Tanya Raka kepada Shintia.
“Iya.” Jawaban Shintia membuat Raka lega.

Setelah waktu pernikahan ditentukan dan semuanya akan diurus Raka dengan bantuan dari keluarga akhirnya mereka izin pamit untuk pulang.
“Shin, boleh nggak kalo aku yang antar kamu pulang?” Tanya Raka dengan nada yang lembut.
“Boleh, ayo.” Jawab Shintia seraya menarik tangan Raka.
Dengan mengendarai sepeda motor Raka dan Shintia menembus kemacetan jalan raya.

TAMAT

Cerpen Karangan: Zahra
Facebook: Zahra

Cerpen Dia Yang Selalu Ada (Part 4) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Nayang (Part 3)

Oleh:
Pagi-pagi sekl gue udah bangun, gue segera turun ke meja makan, yang gue lihat mama sama ayah udah ada di meja makan “pagi mah…!!” sapa gue “pagi sayang.. tumben

Merindukan Mu

Oleh:
Aku merindukanmu. Merindukan ranselmu, merindukan gulungan lengan baju hitammu, merindukan sunggingan bibirmu, merindukan sapaan pagi harimu: ‘Morning sunshine’. Dan aku terus merindukanmu. Waktu itu seharusnya aku tidak usah membalas

Sebuah Cerita dari Sepasang Mata

Oleh:
Merah pada tangkup bibirnya boleh jadi tiada bergeming. Namun kelopak retinanya, lihatlah. Atau lebih tepatnya, dengarlah. Ia tengah bercerita. Tengah mengibaratkan dirinya sebagai sepasang kekasih. Dalam hal ini mungkin

Because You My Dream

Oleh:
“Hah? Lo serius, Fel?,” tanya Bram tersentak tidak percaya setelah mengetahui berita yang ada di majalah mingguan remaja adalah fakta. Felly hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab pertanyaan dari Bram.

A Second Chance

Oleh:
Memberikan kesempatan kedua, mungkin mudah bagiku karena aku berpikir setiap orang pasti bisa melakukan kesalahan yang disengaja maupun tidak dan aku sebagai manusia akan memberikan kesempatan itu untuk memperbaikinya,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Dia Yang Selalu Ada (Part 4)”

  1. rahmayani says:

    Cerpennya bgus dan kerennn…..
    Tetap semangaat y buat cerpen lainny

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *