Dia Yang Telah Kembali

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penantian, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 18 January 2016

Cit, cit, cit,

Sinar mentari memasuki sela-sela jendela kamarku, ketika aku mendengar suara burung-burung bersiul di ranting pohon yang terdapat di samping jendela kamarku.
“Hoaaaamm,” Aku bangun sambil merentangkan tangan-tanganku yang terasa pegal. Lalu ku lirik ke samping tempat tidurku, di sana terdapat jam yang menunjukkan pukul 06.30. Aku terpaku untuk sesaat, sebelum akhirnya mataku membulat sempurna. “Apa? Jam 6 lewat 30 menit, gue telat!!” teriakku sambil turun dari kasur dan berlari ke arah kamar mandi.

Dengan tergesa-gesa aku berlari melewati gerbang sekolah, sebelum gerbang itu ditutup oleh guru piket. Ugh penderitaanku hari ini bertambah di kala ku ingat siapa guru piket hari ini, yaitu guru paling menyeramkan di sekolah. Ouh, tamat sudah riwayatku hari ini. Akan tetapi, betapa senangnya aku ketika mengetahui pintu gerbang belum ditutup sempurna, dan guru piket pun tidak hadir. Alhasil, aku melenggang dengan santai menuju ke kelasku. Sesampainya di kelas, aku melihat Adel, teman sebangkuku, sudah berada di bangkunya dengan ponsel di tangannya.

“Cih, apa-apaan dia, bukannya pagi-pagi pegang buku, ini malah hp yang dipegang!” gumamku. Ouh aku hampir lupa, aku adalah Upi, salah satu siswi di SMAN 5 Kab.Tangerang, siswi kelas XII Ips. Tahun ini adalah tahun pelajaran terakhirku di sekolah tercinta ini. Aku berjalan, lalu duduk di samping si Adel itu.
“Ouh, lo baru dateng, pi?” tanyanya ketika ia melihatku yang baru saja duduk. Aku menengok ke arahnya, “Menurut lo?” tanyaku balik, tetapi dia hanya nyengir yang menampilkan sederet giginya. Tak lama setelah kami mengobrol sedikit, guru bahasa indonesia pun datang. Karena hari ini pelajaran pertama kami adalah pelajaran bahasa indonesia, pelajaran paling membosankan.

“Tik, Tok, Tik, Tok.”

Ku perhatikan lagi dan lagi, jam yang terpasang indah di lengan kiriku, lalu ku tatap nanar benda itu. “Heoh, kenapa waktu lama sekali berlalu—” jeritku dalam hati.
“Akhirnya selesai…” teriakku tertahan ketika pelajaran sudah selesai. Adel, ia menatapku, lalu ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kayaknya lo seneng banget pi, pelajarannya selesai.” komentarnya.
“Atuh jangan ditanya del, ah gue laper del, ke kantin yok?” ajakku, Adel hanya mengangguk.

“Pi,” panggilnya, ketika aku sedang menikmati esku.
“Ya, kenapa, del?” tanyaku.
“Gue bingung deh sama lo,”
“Bingung kenapa del?”
“Kenapa dari sekian banyak cowok, cowok yang lo suka cuma si Adam? Adek kelas yang gak jelas keberadaannya.” jelasnya. Aku pun menatap Adel dengan tatapan santaiku. Lalu aku mengangkat bahuku. “Entahlah, gue juga bingung del, padahalkan dia cuma adek kelas gue, tapi kok gue suka banget ya, sama dia.” jawabku, ku lihat Adel menghela napas.

“Nih ya pi, kalau misalnya lo ketemu lagi sama si Adam yang lo suka itu, apa yang bakal lo lakuin setelahnya?” tanya Adel dengan nada penasarannya.
“Gue bakal bilang kalau gue suka sama dia.” jawabku polos.
“Serius lo, pi?” tanyanya dengan ekspresi tak percaya. Aku hanya mengangguk. “Eh lo tahu gak pi?” Aku menggeleng. “Katanya ada murid baru loh di kelas sepuluh tiga.”
“Lah, terus apa hubungannya sama lo?”

“Bukan sama gue, tapi sama lo!”
“Lah, kok jadi gue sih ? Emang apa hubungannya sama gue?” tanyaku jutek.
“Aish, gini loh, lo kan suka tuh sama berondong, siapa tahu lo tertarik sama tuh berondong. Gue denger sih dia orangnya manis.” Aku hanya ber-Oh- ria. “Kan bagus tuh buat pengganti si Adam lo yang gak jelas itu.” lanjut Adel. Ugh, kadang-kadang gue kesel deh sama nih anak, nyebelin!! Ucapku dalam hati.

Jam pelajaran ketiga hari ini adalah Matematika! Kelasku yang berada di lantai dua, dapat dengan mudah melihat ke sudut mana pun di lantai bawah, kecuali bangunan yang berada di bawah dan sejajar dengan kelasku. Selama kami menunggu bel pelajaran dimulai, mataku terus memperhatikan murid-murid di bawah sana yang sedang olahraga. Aku memperhatikan mereka satu persatu, hingga akhirnya mata ini tertuju pada satu orang, yaitu seorang pria kecil dan manis.

“Del, del,” panggilku segera pada Adel.
“Apaan sih pi? Kenapa?” tanya Adel sambil berjalan malas ke arahku.
“Lo kan banyak tahu tentang adek kelas, lo tahu gak dia itu siapa?” tanyaku sambil menunjuk pria tadi.
“Yang mana?”
“Yang itu, itu loh, cowok yang kecil itu.” ucapku sambil masih menunjuk pria itu.
“Mana sih?”
“Itu loh, yang itu tuh!”

“Ouh, itu. Kenapa, lo suka pi?” tanyanya ketika ia sudah tahu pria yang ku maksud.
“Gak apa-apa sih, gue mah cuma nanya doang kok.” jawabku datar.
“Bilang aja, lo suka kan pi? Gue tahu lo suka sama tuh berondong!” Aku hanya nyengir kuda. “Dia itu murid baru yang gue ceritain tadi.” Aku mengangguk.
“Terus namanya siapa?”
“Mana gue tahu,” jawab Adel jutek.
“Ok, terima kasih ya del, gue bakal nyari tahu sendiri siapa namanya!” ucapku penuh tekad, ku lihat Adel hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Sinar mentari memasuki kamarku ketika ku sudah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah, setelah semalaman mencari tahu sebuah nama. Ah beruntungnya diriku, karena aku punya teman bernama Evi di kelas sepuluh tiga. Ya sudah, ku tanya saja padanya tadi malam. Sebelum pergi, aku sarapan terlebih dahulu, karena perutku ini sudah terbiasa diisi sebelum pergi.

Tik, Tok, Tik, Tok, Tik, Tok

“Eh tumben pi, lo udah dateng.” ucap Adel ketika ia baru sampai. Aku yang sedang membaca novel, mengintip dirinya sebentar. “Gimana, udah tahu namanya?” tanyanya kemudian. Ugh ganggu banget sih nih anak! Batinku. Akhirnya aku pun menutup novelku, lalu menatapnya lekat.
“Udah dong!” jawabku bangga.
“Ouh, yang bener?” tanya Adel lengkap senyuman menyepelehkannya, aku pun mengangguk. “Siapa?”
“Adam, namanya Adam.” ucapku. “Tapi…” lanjutku menggantung.
“Tapi kenapa pi?”

“Tapi kayaknya dia Adam yang gue suka deh!” akan tetapi, Adel hanya tertawa ketika aku mengatakannya. “Kenapa lo?” tanyaku sinis.
“Ouh ya ampun, Upi, Upi. Gue tahu lo suka banget sama tuh anak! Tapi gak mungkinlah ini tuh Adam yang sama, sama Adam yang lo suka!”
“Kok lo ngomongnya gitu sih?” tanyaku merengut.
“Gini aja, lo pikir, mana mungkin si Adam yang udah lama gak lo lihat, tiba-tiba ada di depan mata lo?”
“Yah, mungkin aja kan?” tanyaku tak mau menyerah.

“Ya, ya terserah lo aja deh pi, gue tahu kok lo itu orang yang gak pantang menyerah untuk berharap dan lo juga orang yang gak akan pernah lelah menunggu.” oceh Adel.
“Ya, lo bener del, gue gak akan pernah lelah menunggunya, walau harus menunggu seribu tahun lamanya.”
“Ya ampun Upi, omongan lo drama banget.” Aku nyengir kuda.
“Hehehe, maklum del, efek drama korea.” Aku menghela napas. “Eh tapi, gue mau buktiin ah, kalau dia itu emang bener Adam yang gue maksud!”
“Maksud lo?”
“Ya, entar gue mau nanya langsung ke dianya.”
“Demi apa lo, pi?” Aku hanya tersenyum penuh arti.

Jam Istirahat. Sekarang aku sedang berdiri di dekat pintu salah satu kelas, lebih tepatnya kelas sepuluh tiga. Aku tidak sendiri, karena Adel juga ada di sini.
“Hei, ayolah pi, udah yuk balik aja pi,” ajak Adel. “Gak mau!” jawabku kekeh. Adel yang frustasi, ia hanya menghela napasnya dengan berat.
Cukup lama kami menunggu sebelum akhirnya murid sepuluh tiga ke luar meninggalkan kelas mereka. Dan mataku langsung tertuju pada pria yang akan berjalan ke arahku.

“Emm, maaf?” ucapku yang mengakibatkan segerombolan siswa sepuluh tiga berhenti. “Kamu Adam kan?” tanyaku sambil menunjuk pria itu. Dia mengangguk.
“Iya, Kak Upi kenapa?” tanyanya, dan sebagian siswa yang tadi berhenti, sudah melanjutkan jalan mereka kembali.
“Loh, kok kamu tahu nama Kakak?” tanyaku terkejut, ku lihat Adel juga sama terkejutnya denganku. Kemudian aku lihat Adam yang cemberut, di wajahnya tersirat kekecewaan.
“Kakak gak inget Adam? Adam kan adek kelas Kakak waktu di SMP dulu!” ucapnya.

“Ouh, jadi bener kamu itu Adam adek kelasnya Kakak?” tanyaku memastikan, ia mengangguk. Lalu ku tengok wajah Adel, dan kemudian ku tampilkan senyum yang penuh kemenangan di bibirku untuknya. Dia hanya mendengus.
“Iya Kak, awal kita akrab kan waktu di warnet itu kak!” ucap Adam menyakinkanku. Aku mengangguk.
“Iya dek, Kakak inget kok. Tadi Kakak cuma takut salah orang aja dek, hehehe.” jawabku sambil terkekeh. Ku lihat Adam tersenyum.

“Ouh ya dek, ada yang ingin Kakak katakan!”
“Apa Kak? Ngomong aja.”
“Naega Neomu Joaheyo.” ucapku dengan bahasa korea, yang sukses membuat orang yang mendengarnya melongo seketika, termasuk Adam.
“Aish, Upi, Upi. Sekali aja gue mohon sama lo, gak usah ngomong bahasa korea di sini! Kasihan kan tuh adek kelas pada melongo gitu!” komentar Adel, aku hanya nyengir kuda.

“Udah yuk pi, kita balik ke kelas!” ajak Adel, aku mengangguk.
“Ye, bawel!” ucapku pada Adel. “Dek, Kakak balik dulu ya, maaf udah ganggu waktu adek.” ucapku pada Adam. Adam tersenyum padaku.
“Iya Kak, gak apa-apa kok.”
“Iya udah, daaaah Adam.” ucapku sembari meninggalkan Adamku tersayang. Tak lupa aku melambaikan tanganku padanya yang mendapat balasan berupa senyuman dari Adam.

Di Perjalanan menuju kelas kami.
“Tuh kan bener!”
“Iya, iya lo bener deh pi.”
“Hehehe,” nyengirku. “Yeay akhirnya penantian gue telah usai, akhirnya aku melihat dia yang telah kembali!” teriakku ketika kami sampai di depan pintu kelas.
Penantian yang tak sia-sia. Lima tahun menunggu hingga akhirnya aku bisa melihat dia, dia yang telah kembali ke kehidupanku.

Adam, Saranghae…

The End

Cerpen Karangan: Upi Hwang
Blog: kpopfafindo.blogspot.com

Cerpen Dia Yang Telah Kembali merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penantian Sekar Kala Senja

Oleh:
Ketika senja tiba, gadis berambut panjang itu segera berlari ke luar rumah. Ia meninggalkan semua pekerjaannya yang masih berantakan. Tidak peduli dengan omelan bundanya, dia terus saja berlari melewati

Mau Tak Mau

Oleh:
Mendung terlihat dari aura wajahku setelah melihat nilai uts di raport yang tidak memuaskan dengan beberapa nilai merah di beberapa mata pelarannya. “kapan nilai kamu bisa bagus nay?” kata

Penantianku Bersama Hujan

Oleh:
Tiga tahun yang lalu kita pernah bertemu, kita pernah saling mengenal, kita pernah saling mengukir kisah suka dan duka walau kutau itu tak akan lama dan hanya sekejap kurasakan

Pria Di Alun Alun Kota

Oleh:
Pria itu masih mematung di dipan berwarna coklat berkarat, di alun-alun kota, senja sudah meranum, pria itu masih tak bergeming, dia telah duduk sejak siang tadi, kira-kira bakda luhur

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *