Diary Di Pantai Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 1 July 2018

Senja berganti malam, riuh keramaian kota tangerang semakin terasa menghilang terbungkus heningnya malam. Membuat seorang remaja kian terhanyut dalam khayalan tingkat tingginya.
Sesekali, ia membolak balikan antara profil dan beranda di akun facebooknya.
“Kutengok lagi beranda yang tetap sama (sepi) tak ada yang menunggu di sana. SELAMAT MALAM HARAPAN YANG TAK KUNJUNG DATANG”
KLIK. Dengan sekali tekan, status itu sukses dibagikan kepada penghuni dunia maya.

Kunang kunang mulai menari di matanya, tanda ia ingin tertidur pulas membawa khayalannya.
Belumlah ia sempat terpejam.
TOK-ToK-TOK. tiga kali terdengar pintu kamarnya di ketok.
“Heuuuh!!, siapa sih malam malam begini bertamu” Gerutu cowok kribo, yang hanya menggunakan kolor warna biru dan kaos abu tua yang disulapnya menjadi lekbong, dengan mata yang sedikit menyempit kemudian ia membuka pintu.
CKREK! tak menunggu lama, pintu kontrakan yang hanya sepetak itu pun terbuka.
“hai, kiboo.. bolehkan gua numpamg nginep di sini?!” pinta seorang gadis yang langsung nyelonong masuk dan membantingkan diri di ranjang bobi.
“Hah? tidur di sini?”
“gila lu ya?”
“kalo nanti digrebek gimana?” Gerutu bobi sambil garuk garuk kepala.
“bodo!!!” sahutnya yang langsung tertidur pulas.
“heuummhss,” bobi menarik nafas pasrah lalu duduk di lantai dengan kepala bersandar ke ranjang.
Saking ngantuknya, kemudian lessss ia langsung masuk ke alam bawah sadarnya.

Sinta namanya, ia sahabat bobi sejak mereka duduk di bangku Sekolah Dasar sampai mereka tamat SMA. Namun semenjak mereka disibukan dengan kesibukan masing-masing, mereka jarang sekali menyempatkan waktu untuk sekedar bertemu. Sekalipun mereka punya masalah yang sekiranya mereka rasa harus berbagi dengan sahabatnya, mungkin hanya lewat Telepon.
Gak heran, saat sinta nyelonong masuk dan tidur di tempat bobi, bobi gak bisa melarangnya karena baik bobi ataupun sinta sudah saling mengenal satu sama lainnya dan sangat faham akan sifat masing-masing.

Pagi hari, biasanya identik dengan ayam berkokok dan udara segar hanya bisa didapati di pagi hari. Namun lain halnya di kota ini, bising dan lalu lalang kendaraan menjadi tanda malam telah berlalu.
“Hah, kibooo!!!” teriak sinta sejadi-jadinya, setelah mendapati jeans yang dikenakannya tadi malam berganti menjadi kolor dengan warna hitap bergaris-garis.
“Napa sih lu?” seketika bobi terbangun dari tidurnya mendengar suara sinta yang begitu mengganggu pendengarannya. Beruntung, taka ada tetangga bobi yang merasa terganggu suara sinta karena mereka sudah lebih dulu berangkat ke tempat kerjanya masing-masing.
“Lu semalem ngapain gua kibooo!!!” Tanya sinta sambil mencengkram rambut bobi dan menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri.
“Ngapain? Apaan maksud lu?” Bobi bingung dibuatnya.
“jeans gua mana? Napa lu pakein gua kolor jelek kek gini?”
“Apa yang udah lu lakuin sama gua semalem?” Tanya sinta sambil merengek.
CTAKK!! sebuah jitakan kecil mendarat di kepala sinta.
“Noh, jeans lu digantung di sono Pea!!” tunjuk bobi.
“lagian, bukannya lu yang maksa buat pinjem kolor gua?!” Sambungnya lagi ketus.
“He he he.”
“iya, yah gua lupa kibo” Sinta selengehan setelah menyadarinya, kalo semalem dia meminjam kolor bobi dengan alasan kepanasan.
“habisnya di sini gak ada kipas sih, kepanasaan gua” dalihnya.

Kemudian bobi bangkit dan langsung nyelonong keluar kamar tanpa cuci muka.
“eh kiboo, mau ke mana lu?”
“Udah lu cuci muka sana. gua mau nyari sarapan di depan” sahutnya dari luar kamar.
Sementara itu, perlahan sinta bangkit dari tempat tidur. Tanpa sengaja ia melihat sebuah buku di atas lemari bobi, tanpa meminta izin terlebih dahulu ia langsung memasukannya ke dalam ransel miliknya.

“Selamat pagi iboo?!” sapa lembut dan genit teh Ceuceu, seorang penjual nasi uduk langgannan bobi.
“Mau beli apa kasep?” Sambungnya sambil mencubit gemes pinggang bobi.
“Biasa teh, nasi” Jawab bobi.
“oya nasinya dua, teh anget sama kopinya juga yah!” tambahnya lagi.
“tumben dua, biasanya satu?” Tanya teh Ceuceu kepo.
“iya teh, lagi ada sodara” jawab bobi singkat.

Setelah mendapatkan pesanannya bobi bergegas kembali ke kontrakan karena ia tak ingin sinta terlalu menunggu lama.
Dua nasi uduk dan dua gelas minuman bobi sajikan di lantai. Lalu mereka pun sarapan bersama.

“Oya, ngomong-ngomong semalem lu abis keluyuran ke mana?” Tanya bobi yang mulutnya dipenuhi makannan.
“Tadinya sih gua mau nginep di tempat temen gua boo.”
“Cowok?” potong bobi sambil menatap wajah sinta.
“Bukan lah!”
“Terus?” potong bobi lagi penasaran.
“gua mau nginep di tempat nopi temen kerja gua, kebetuan semalem si rendi main ke tempat gua berhubung lumayan kan dari pada gua naik angkot or ojek pasti ngeluarin biaya lagi, ya gua terima aja tawaran rendi buat nganterin gua Cuma-Cuma”.
“ouh” Bobi manggut-manggut.
“Tapi pas di pertiggaan, rendi malah bawa gua ke arah yang bukan tujuan gua.”
“dia malah ngajak gua ke tempat tongkrongannya yang saat itu tengah berangsung pesta miras”
“Lalu?!” Tanya bobi semakin penasaran, dengan mata tercengang dan mulut berhenti mengunyah.
“Ya gua risih lah bob, saat rendi asikmenyapa temannya gua lari dan langsung gua ingat di dareah ini gua punya sobat, kibooo!” jelas sinta sambil mencengkram gemas rambut bobi.

Kemudian setelah mereka selesai sarapan, lantas bobi langsung membereskannya. Sementara itu sinta kembali rebahan di ranjang dengan handphone di tangan.
Bobi duduk di dekat pintu sambil menikmati sebatang rokok, dan sesekali melirik ke arah sinta yang tengah senyum-senyum sendiri.

“Oya boo. Emang lu gak kerja?”
“Gak,hari ini gua libur” Jawab bobi sambil melemparkan haduk ke muka sinta.
“Udah sekarang mending lu mandi, selepas itu kita pergi”
“horeee!!” Teriak sinta gembira.
“Emang kita mau jalan ke mana cayaang” Tanya sinta, sambil mengedipkan kedua matanya yang membuat bobi geli sendiri.
“Kerumah lu lah, gua anterin lu balik.”
“yaaaah, gak jadi jalan dong? Gak jadi romantisan dong?” sinta melebarkan bibir bawahnya dan mengerutkan kening karena kecewa seraya berjalan menuju kamar mandi.

Mentari mulai semakin menampakan diri, bobi yang menunggu gadis cantik itu mandi kembali tertidur di ranjang dengan kaki yang menyentuh lantai.
“Bo.. Kiboo” Bisik sinta di telinga sebelah kanan bobi setelah selessai mandi dan rebahan tepat di samping bobi..
“hmm” sahut bobi.
“Katanya lu mau nganterin gua balik, hayu!” ajak sinta.
“Iya hayu”
“mana handuknya?” Tanya bobi lemas.
Tapi sebelum bobi bangkit dari tempat tidurnya, tiba tiba terdengar suara motor besar yang berhenti tapat di depan kontrakannya.

“Sinta!!!” Teriak seorang bapak-bapak berbadan tinggi tegap memanggil dari luar pintu.
“Ayah?” Sinta dan bobi tersentak kaget saat melihat ayahnya tengah berdiri di depan pintu.
“Ayo pulang!” Ajak om Tedy yang tidak lain adalah ayah sinta.

Bobi bergegas bangkit, untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Namun emosi om tedy sepertinya sudah di ujung tanduk dengan taring yang hampir keluar dari sela gusinya.
“Tadinya saya percaya dengan apa yang diucapkan sinta tentang kamu. Dan itu selalu baik. Tapi sekarang, terbukti sudah kelakuan buruk kalian berdua. Memalukan!!” Om tedy sudah benar-benar sangat murka pada keduannya.
“Tapi ayah” Sinta pun mencoba meminta pengertian sang ayah untuk mendengar penjelasaannya, tapi sia-sia.
“Gak ada tapi tapian” Seketika tangan kuat om tedy menggapai lemahnya pergelangan tangan sinta dan langsung menyeretnya ke luar kamar. Sinta yang saat itu masih mengenakan kolor bobi tak bisa berontak dan bobi pun terdiam melihat sinta diperlakukan kasar oleh sang ayah.
Tapi bobi tidak bisa berbuat lebih, dia hanya menatap mata sinta yang sudah tergenang air mata.
“Maaf bob, ini seharusnya tidak terjadi” jerit hati sinta.

Ternyata, setelah rendi sadar kalo sinta tidak bersamanya, dia mulai mencari dan melihat sinta tengah berlari ke arah rumah bobi pada malam itu. Rendi pun membuntutinya tanpa sepengetahuan sinta.
Rendi merasa tidak terima, perempuan cantik yang selama ini ia sukai, bahkan ia tak pernah perduli sekalipun sinta beberapa kali menolaknya ia tetap kekeuh. Tapi malah lebih memilih si kurus kribo itu yang tidak lain adalah bobi sahabat sinta.
Karena terbakar panasnya api cemburu yang mengebu-gebu, rendi menghalalkan segala cara untuk memisahkan mereka berdua. Dan malam itu, adalah kesempatan emas buat rendi.
Rendi pun melaporkan kejadian pada malam itu pada om tedy dengan cerita mengada-ngada.
Hingga om tedy terhasut dan terpropokasi.
Pada saat om tedy menyambangi kontrakan bobi, rendi menontonnya dari kejauhan tanpa sepengetahuan siapapun.

Waktu berganti hari, dua hari sejak kejadian memalukan dan mencoreng nama baik bobi di mata om tedy. Sinta kembali ke kontrakan bobi.
“BOOO? Kiboo?” panggil sinta depan pintu dan beberapa kali mengetuknya. Tapi sinta tak pendapati siapapun di sana. Sedangkan nomor handphone bobi sama sekali tidak dapat dihubungi.
Suasana kontrakan terlihat sepi hening seperti tak berpenghuni. “Ke mana sih lu kiboo?” rengek hatinya
Karena dirasanya bobi tak ada di tempat, akhirnya ia memutuskan untuk mencarinya di tempat dimana biasa bobi nongkrong.

“Jak?” Teriak sinta yang berlari ke araha jak temen tongkrongannya bobi, yang kala itu tengah memperbaiki motor tuanya.
“laah kau ini, membuat aku kaget saja kau” jak tersengkal kaget.
“bobi mana?” Tanya sinta terngah-engah.
“Mana ku taulah, sudah dua hari ini tak kulihat batang hidungnya si kribo”
“Coba kau Tanya saja sama si jono, mungkin dia tau” saran jak dengan logat bataknya.

Sinta pun menghampiri jono yang tengah duduk santai di teras rumah dengan segelas kopi hitam favoritnya dan terselip sebatang rokok di sela jemarinya.
“Jono!” Panggil sinta.
“Hei, apa kabar kau, lama kali kau tak kemari?” sahut jono sembari melayangkan pertanyaan untuk sinta.
“sory, lu liat bobi gak?” Tanya sinta terngah.
“tuggu sebentar kuambilkan minum dulu, tunggu di situ manis” jono masuk ke dalam rumah dan keluar dengan sebotol minuman dingin di tangannya.

“kemarin dia sempat datang kemari, tapi tak lama” jelas jono.
“terus ke mana?”
“dia bilang sih mau kampong halamannya di pandeglang”
“pulang?” Tanya sinta kaget.
“bukannya di sana dia sudah tidak punya siapa-siapa?” lanjutnya.
“setau gua sih iya, tapi katannya ada kerabatnya di sana. Mungkin sekalian cari udara segar selama libur kerja” jelas jono sambil menyeruput kopi hitamnya.
“ok deh,”
“makasih yah jak jon” Sinta langsung pamitan dan berlari.
“Hmm, dasar perempuan!” dengus jono sambil menggelengkan kepala.

Akhirnya sinta tau kemana bobi pergi, sinta sangat mengenal bobi dengan baik. sebelum sinta pindah ke Tangerang, sinta memang satu kampong halaman sama bobi.
Jadi sinta tau saat diman bobi menghabiskan waktu senggang, bahkan saat bobi tengah merasa kecewa, beci, marah sampai galau berat. Dan sintalah yang sering kali menemani bobi pada saat-saat seperti itu, sebagai teman baik.
Sinta memutuskan menyusul bobi ke kampung halamannya.

Sinta menempuh tiga jam perjalannan menggunakan angkutan umum untuk sampai ke citeureup, sebuah desa yang berada di pesisir pantai di daerah Pandeglang-Banten.
Debur ombak dan hembus angina menyambut kedatangan sinta, yang turun dari bus tepat di sebuah jembatan kecil.

Dengan senyum lebar, ia melihat bobi yang tengah duduk di tepi pantai yang beralaskan pasir menatap jauh luasnya lautan seraya menghisap asap rokok dan membuangnya dengan penuh kegaduhan, kekesalan, protes terhadap dunianya.
Kemudian bobi merebahkan tubuhnya yang dipenuhi beban batin di atas hamparan pasir.

“Kibo” Suara terisak menahan tangis itu seketika membuka mata bobi.
“Sinta?!” Bobi pun terkejut saat membuka mata, dan mendapati sinta yang matanya sedikit berkaca, berdiri tepat di kepalanya.
Kemudian bobi kembali duduk sita pun duduk di samping bobi.
“Inget dulu ya BO, saat kita masih sekolah. Kita sering banget ngabisin waktu di sini” perkataan sinta seolah memutar kembali waktu.
Banyak hal yang mereka lalui di pantai itu, terutama bobi. Galau terbesar pernah ia torehkan di pasir pantai itu saat perempuan yang ia sukai sering diantar jemput pria lain.

Sinta, adalah perempuan yang mengisi hatinya sampai saat itu, dan melihat sinta dengan peria lain, hati kecil bobi sebenarnya cemburu. Sekuatnya bobi memendam perasaan yang menurutnya mustahil sinta akan membalas sementara yang dia tahu, sinta hanya menganggapnya sahabat gak lebih dari itu.
Kesediahan, dan kerisauan hatinya selalu ia tuangkan di sebuah buku diary dan selalu menulisnya di pantai itu.
“Ayah kamu gimana?” Tanya bobi menunduk.
“udahlah jangan bahas dia, lagian ayah udah tau yang sebenarnya kok,” jawab sinta.

Lalu kemudian.
“Maafin gua ya bob”
“Selama ini gua hanya mentingin perasaan gua sendiri”
“tapi harus lo tau bob, gua juga sayang sama lo lebih dari sekedar teman bahkan sahabat,”
“Hanya saja gua takut untuk memulai, gua takut berterus terang gua takut perasaan gua yang berlebihan itu malah menghancurkan persahabatan kita” sinta menyodorkan sebuah buku diary milik bobo yang di ambilnya tanpa sepengetahuan bobi, dengan isak tangis sinta yang semakin menjadi, lalu dirangkulnya bobi yang hanya terpaku.
Bobi pun membalas memelukan erat sinta.

“Besok kita kembali ke tangerang” Bisiknya lembut di telinga kiri sinta.

Tak terasa hari makin senja, sang surya tenggelam dan hanya memancarkan warna kemerahan suasana pantai cinta pun semakin indah.
Dan mereka berdua melewati malam bersama di pantai yang dipenuhi Cinta.

Cerpen Karangan: Al Yusuf
Blog / Facebook: 083812895380

Cerpen Diary Di Pantai Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


First Love

Oleh:
Aku adaalah seorang mahasisiwi semester pertama dari salah satu Universitas yang ada di Indonesia. Aku adalah anak yang dibesarkan di keluarga yang sangat disiplin, ayah dan ibuku sangat extra

Relationship Make Stupid

Oleh:
Pacaran. Kadang menyakitkan, kadang bikin melayang. Aku sudah setengah tahun pacaran sama si Mawar. Aku kenal dia karena aku satu sekolah sama dia. Tapi, beda kelas. Dia IPA dan

Hawa-Hawa Berharga

Oleh:
“Wahai Manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri) nya; …….” (An Nisa’, 1). Kepalaku tertunduk kaku

Apa ini Cinta?

Oleh:
Senin pagi yang membosankan. Mataku masih sembab gara gara begadang tadi malam. Aku berjalan dengan malas menuju sekolahku. Memasuki gerbang sekolah, kulihat wajah semua orang berseri dan bermandikan hangatnya

Ku Minta Kau Mendua

Oleh:
“Hatiku yang merasakan kejenuhan ini. Saat ku tak mampu tuk membuatmu bahagia. Pikirku yang tak wajar mengharapkan dirimu. Berbagi cinta dengan yang lain, tak mengapa mungkin hati kan terima.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *