Dibalik “Cadar”

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Cinta Islami, Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 10 April 2013

Aku Nurul, Nurul Azkiya (Cahaya bagi orang yang bersih hatinya) itulah nama lengkap pemberian Abah dan Ummiku. Aku tumbuh dan besar dalam lingkungan “Aktifis Dakwah”, Abah dan Ummi sering keluar daerah untuk berdakwah, menegakkan panji–panji islam di tanah yang masih “primitif”. Jiahh…! ^_^

Semenjak masuk SMP, tak ada yang mau berkawan denganku, itu semua karena selepas SD aku memutuskan memakai burqa atau CADAR. Masuk SMP pun aku sempat menjadi bagian dari agenda rapat penerimaan siswa baru.. :’( Awalnya aku tidak di terima tapi karena IQ–ku yang 200, akhirnya aku di terima masuk sekolah, (bukannya ane sombong nih, afwan ya ikhwah fillah, hehehehe…

Aku bingung dengan mereka semua. Salah gak sih kalo’ aku pake Cadar? Arrgh*^##@
Selepas SMP, yups… ketika di SMA pun aku mengalami hal serupa, Nasib.. nasib,!
Dan hingga aku berusia 19 tahun, aku masih kagak punya temen!
Inilah awal semua kebalikan dari nyata dalam hidupku, Let’s Check This Out..!
Aku dikuliahkan di salah satu Universitas swasta di suatu daerah tempat nenekku menetap. Awalnya aku ragu dengan keputusan itu, Tapi kumantapkan hatiku untuk menerimanya. Apa aku bisa diterima?
Dan benar saja! Di kampus aku selalu dipandang sinis oleh kawan yang lain. Terlebih semenja aku masuk LDK (Lembaga Dakwah Kampus). Memang! Di dalam pikiran mereka kata cadar telah diidentikkan dengan yang namanya teroris. Padahal gak ada sangkut pautnya!
Aku sungguh merasa di diskriminasi oleh senior dan oleh teman satu anggota LDK.

***

Di dalam kamarku yang mungil aku hanya bisa menangis, menangisi hidupku yang kontroversial. Dalam benakku yang halus terbersit keinginan untuk menanggalkan cadar yang selama ini aku kenakan. Tapi… aku tak bisa! Apa yang harus aku katakan pada abah dan juga Ummi.. terlebih kepada sang ilahi robbi, bagaimana aku harus menjelaskannya?
Ku coba memupus keinginan bodoh tersebut. Buatku burqa bukan hanya pelengkap berhijab tapi bagian dari jiwa dan pribadi. Satu komponen hijab yang tak ada, akan memberikan nilai minus untuk suatu kesempurnaan berbusana juga beribadah.

Dalam tahajjud yang hening “Ku sujudkan seraut wajah tak berharga ini Ya Allah, hanya padaMu aku meminta jawaban dari segala Tanya” “Tuhan, apa yang harus aku lakukan?”
Bulir hangat yang mewakilkan semua beban-beban ini terus mengalir hingga ku tak sadar aku terpejam.
Ku telepon Abah dan Ummi bermaksud menyampaikan segala sangkutan dalam hati.
“Assalamu’alaikum..” . “Wa’alaikumussalam.. Nurul!” suara teduh dari seberang sana. Sejenak pikiran yang kalang kabut menjadi tenang.
“Ummi, Nurul ingin bicara tentang suatu hal.”
“Ada apa nak?”
Kuutarakan semua maksud hati dan tujuanku, ternyata abah mendengarnya, Abah begitu geram ketika abah mengetahui bahwa aku akan menanggalkan cadar ini.
“Apa! Tidak salah? kau ingin menanggalkan cadarmu?!” abah yang dengan geramnya
“Abah, Nurul harus beradaptasi dengan semua hal baru yang ada saat ini.”
“Jadi dengan alasan bodoh itu kau mau menanggalkan hijabmu!?”
“Astagfirullahaladzim… Abah, sekalipun tiada niat hati ini untuk menanggalkan tameng yang sudah mendarah daging ini. Nurul hanya akan menanggalkan cadar saja! Untuk menanggalkan Hijab Nurul tidak akan pernah.. sekali–kali tidak akan pernah..!” terangku pada abah.
“Nurul, apapun alasannya kau tidak boleh menanggalkan hal yang sangat luar biasa itu…” Dan seterusnya abah tidak akan pernah mengizinkan aku untuk melakukan hal yang mungkin menurut abah diluar toleransi.

Sungguh, aku bingung! Baru kali ini aku merasakan dilemma yang teramat sangat. Satu dari bagian hijabku akan kutanggalkan, apa yang akan kukatakkan kelak kepada tuhan. Walaupun insya’Allah tak akan berpengaruh terhadap Iffah dan Izzah tapi perasaan yang menolak atas keputusan yang telah kubuat.
Oleh karena kebimbangan yang teramat sangat kutelepon kakaku yang lucu tapi bijaksana. Khaerul Umam (Pemimpin yang baik, moga aja bener…! yang biasa ku panggil “bang Yoli” ^_^
082145356*** nomor yang kupencet.
“Hallo! Assalamu’alaikum, napa dek?” bang Yoli
“Wa’alaikumussalam… bla.. bla..” kuutarakan semua maksud hatiku. Ternyata Bang Yoli juga sedikit tidak setuju akan hal itu. Bagaimana kalau hal itu berpengaruh terhadap dakwah yang ku jalani, aku takut kalau nantinya aku dbilang munafik! Na’udzubillah…

***

Malam yng hening, bertemankan rembulan dan bintang-bintang. Sungguh maha karya sang pencipta. Ba’da tilawah, ponselku ber-tlit-tlut tanda sms masuk. Dari mbak Nisa.
‘Assalamu’alikum.. ukh, anti jangan lupa ya.. besok jam 8.00 pagi Qta rapat LDK di Asian Resto, ane jemput ya!’
‘Na’am, Syukron katsira tas infonya.. ya Ukh!’
Baru kali ini aku akan rapat di salah satu restaurant Elit, bukankah yang namanya dakwah itu.. kita harus menanamkan sikap zuhud di dalam diri? Apakah dakwah sekarang sudah terpengaruh gaya Hedonis yang jauh dari sikap dan rasa zuhud! Astagfiriullahaladzim..
Mbak Nisa, Zahiratunnisa! Akhwat cantik yang sangat care kepadaku, kakak tingkat.. ngambil jurusan sastra Arab.. rencananya beliau mau nyusul orang tuanya di Makkah Al-Mukarromah, menjadi Syeikh, Wah luar biasa..!
Kalo aku insya’Allah, pengen nerusin S.2 di Madinah dan nyelesein S.3 di kairo., dengan jurusan yang sama dengan mbak Nisa, aku berharap menjadi lulusan terbaik di kedua Universitas terhormat itu. Amiiin.

Pukul 3.00 dinihari ponselku berdering, ada telepon dari Zahrani.
“Assalamu’alaikum,” suara indah mengalun pelan dan lembut di sepertiga malam terakhir.
“Wa’alaikumussalam, Da apa ukh?”
“Antum da kegiatan gak besok?”
“Ya ni, ana jam 8 pagi ada rapat, gak tau slesenya kapan.!”
“Gini, Umminya Zah, ngundang antum Ukh, ke pengajian di gedung Muslimah Center.”
“Jam berapa?”
“Ba’da Shalat Asar koq! Antum bisa?”
“Insya’ Allah.. akan ana usahain, syukron ya!”

***

Matahari mulai muncul, dengan senyum damai yang selalu merekah di setiap pagi memberikan energy-energy postif untuk insan di seluruh jagad raya ini. Oh betapa indahnya pagi.
Pukul 7.30 pagi, masih ada waktu untuk Dhuha’. Ba’da shalat Dhuha jam wekerku menunjukkan pukul 7.40 segera kubuka lemari pakaian, dan pilihanku tertuju pada abaya coklat dan cadar yang senada. Ketika ku berjalan ke perempatan, mbak Nisa membunyikan klakson speda motornya dan berhenti.
“tit…tit…tit…!”
“Assalamu’alaikum, bareng Yuk..!” Mbak Nisa sambil menarik lenganku.
“Wa’alaikumsalam..” tanpa banyak Tanya segera aku duduk selonjoran di belakangnya.
Ah.. ada-ada saja yang dilakukan para mujahidah, emang dasar Mujahidah!

Sesampainya kami di Asian Resto, sudah beberapa kawan yang hadir.. Ukhty Reni, Ukhty Yuyun, Ukhty Syifa’ dan beberapa ikhwan lain yang tidak bisa ku lihat karena aku harus menundukkan pandanganku. Mata ini terasa kasat untuk melihat makhluk yang namanya ikhwan dan kepala ini terasa begitu berat untuk ku tegakkan dihadapan mereka.
Dalam islam kita juga diwajibkan menundukkan pandangan, apalagi ketika bertemu lawan jenis atau yang bukan mahrom. Nah dari sanalah kita bisa mengukur sejauh mana sepak terjang para ikhwan dan akhwat. Tapi hanya sebagian kecil alias minoritas saja yang mampu melakukannya. Yach..!
Tak lama kemudian,
“Assalamu’alaikum Warahmatullahi wabarokaatuh..!” Akh Ilham sudah datang dan memulai rapat.
Akh Ilham sangat terkenal di kampus, apalagi di kalangan para akhwat, saingan beratnya para ikhwan, pujaannya masyarakat, pemimpin yang paling dihormati di LDK, mahasiswa kebanggaan pak Marwan.. Sepak terjangnya dalam dunia dakwah sudah tidak diragukan lagi. Oh betapa indahnya ukuwah, dan karena itu semua yang menyebabkan hatiku terasa berdesir ketika nama itu terdengar oleh telinga ini.
Ah, aku tak ingin serius menanggapi perasaanku ini, aku hanya sekedar kagum ya… Walaupun masih bertahan dua tahun terakhir, ^_^

Kami membahas masalah rencana pengajian di desa atau lebih tepatnya di perkampungan yang cukup tertinggal. Oleh itu juga merupakan ladang dakwah yang luar biasa besarnya.
Saat akh Ilham bilang, “Ada yang gak setuju?”
Aku mengangkat tangan,
“Afwan sebelumnya.. sebenarnya ana kurang setuju dengan tempat ini, terlalu mewah dan berkelas, kita terkesan sebagai pendakwah gaya Hedonis. Harusnya sikap Zuhud yang kita tanam dalam masing-masing diri. Kalau untuk sekedar rapat, kita tidak perlu menyewa ruang meeting di restoran khusus eksekutif begini, jujur ana merasa kikuk berada disini.” Terangku.
Akh Rudi mengacungkan tangan sepertinya tanda tak setuju terhadap apa yang aku utarakan.
“Afwan Ukh… apa maksud antum kita ini terkesan Hedonis? Na’udzubillah untuk yang satu itu, boleh aja donk sekali-kali kita rapat di tempat yang seperti ini, Sekaligus refreshing! Gak salah kan?”
“Lho, koq antum seperti itu! Dakwah bukanlah refreshing, dan ma’af kalo aku menyinggung Hedonis dalam cara organisasi ini.” Aku yang sambil mengernyitkan dahi.
“Benar kata Ukhty Nurul, harusnya kita sederhana saja, bukankah dalam setiap dakwah kita, kita selalu menekankan yang namanya sikap Zuhud dan Qona’ah..!” Mbak nisa mencoba membelaku.
“Sudah.. sudah.. antum semua benar, kita memang perlu mengubah sedikit kesan kita yang terlalu serius, oleh karenanya kita memang perlu sedikit membubuhkan yang namanya refreshing dalam setiap dakwah kita tanpa mengurangi rasa zuhud dan qonaah serta tanpa mendekati suatu sikap Hedonis.” Akh Ilham mencoba menengahi.
Memang Akh Ilham adalah sosok panutan yang betul-betul luar biasa. Ikhwan yang begitu kharismatik. Haduuuh… Kenapa aku terlalu memujinya, harusnya aku tidak boleh begitu.
Terlepas dari itu semua, aku jadi ingat akan artikel bebas karya seorang Akhwat yang bernama Ratna Naomi Nasution, seorang aktifis anti narkoba. Didalam artikel tersebut membahas tentang Emansipasi wanita, yang diurainya mulai dari dampak negatif hingga positif.
Memang semenjak nafas Emansipasi behembus wanita jadi luwes dengan lincahnya meretas dan mengukir prestasi dalam kehidupannya. Tapi sayang karena itu semua wanita kebanyakan lupa bagaimana kodrat mereka sebenarnya. Banyak dari mereka beranggapan bahwa kedudukan mereka setara dengan laki-laki, sehingga banyak yang kita ketahui perempuan menjadi Kenek Bus, tukang Ojeg, dan menjadi wanita karier di berbagai profesi. Tapi masalahnya, emansipasi dalam pengertian masyarakat adalah keberanian untuk menentang, makanya banyak wanita malah menjadi pembangkang dan keras kepala. Itu semua berawal dari emansipasi wanita.
Tidak salah memang, tapi persepsi yang ditorehkan pada “emansipasi” memang sudah terpengaruh dengan pemberontakan perempuan itu sendiri. Mungkin kebanyakan wanita menganggap bahwa aturan yang membuat langkah mereka menjadi terbatas. Apalagi dalam aturan agama, sungguh tidak ada aturan yang merugikan. Tapi sebagai penerimalah yang terkadang menyalahi makna yang ada didalamnya.
Bukan hanya itu, sekarang pemahaman akhwat tentang jilbab telah terbagi dua. Pertama, biarlah memakai jilbab yang sedang-sedang saja tetapi iffah dan izzah tetap terjaga . Nah yang kedua justru beranggapan bahwa memakai jilbab lebar merupakan upaya atau peluang untuk meningkatkan derajat iffah dan izzah selaku muslimah.
Bukankah perbedaan keduanya bagaikan air dan minyak? Memang beda dan sangat beda. Anehnya sikap ketidak kompakan ini terus berlanjut, bahkan pendirian terhadap hijab pada Akhwat masa kini telah mengalami pengoroposan. Betapa tidak, banyak akhwat yang mulai memendekkan jilbabnya karena alasan yang tidak wajar, misalnya.. kerja di swalayan lah, toko kaset lah, bahkan sekarang ada akhwat bongkar pasang dengan alasan tuntutan pekerjaan yang mengharuskannya menggunakan pakaian yang seadanya (itu mah, menurut ane) yups.. katanya bekerja di toko alat kosmetik emang harus gitu.
Dasar…! Betapa miris hati ini melihatnya. Hanya dengan sedikit mencicipi dunia social yang lebih bebas saja keteguhan hati berangsur-angsur ambruk. Jilbab yang semula terulur panjang kini semakin naik.. naik.. naik.. dan akan sampai melilit leher. Fa aina tazhabuun?
Bagaimana kelak kedepannya, manset, kaos kaki, gamis, jilbab lebar juga tak keinggalan seperti yang aku kenakan Burqa mungkin akan tidak mereka kenali, akankah masa jahiliyah kan terulang? Jahiliyah di masa modern, Ah.. sungguh Na’udzbillah.!
Sedih rasanya mengingat itu semua, bagaikan percikan api yang menyentuh kulit lembutku.

***

Udara yang panas menerpa wajah ini, setidaknya cadar yang ku kenakan sedikit mengurangi rasa panas yang mendera. Aku masuk ke rumah, nenek sedang di dapur, kuhampiri beliau yang tengah memasak dengan bibi’.
“Asslamu’alaikum Jaddaty…! Maa dza ta’maliina?
“Wa’alaikumussalam…! Eh, Nurul.. makanan kesukaan nurul. Plecing kangkung sambal terasi!”
“pasti enak!” rayuku pada nenek sambil menyergap makanan yang telah ngasoy di meja makan.
Selepas tilawah ba’da maghrib.. ponsel ku berdering.
Tralala…trilili…
“Assalamu’alaikum..!”
“Wa’alaikumussalam..”
Waduh, suara sorang ikhwan yang cukup familiar.
“Afwan, Antum siapa ya?” Tanya ku.
“Ukh, ana Ilham, apakah antum ada waktu barang sejenak saja. Ada hal penting yang ingin ana katakan pada antum.”
Hah… akh Ilham menelpon, dia dapat darimana ya nomor ponselku. Hatiku berdegup kencang. Astagfirullah…
“Baiklah, lantas kita bertemu dimana?” tanyaku.
“Ana tunggu antum di Daun Café ba’da shalat Isya’.”
Aku semakin dag-dig-dug, ada hal apa ya! Kurasa sangat penting, sampai-sampai dia menelpon pula!

Sekitar pukul 7.15 malam, aku meluncur ke Daun Café bersama skuter matic Ammu Hasan, pamanku. Aku meluncur sendirian, ya hanya sendiri. Di sepanjang jalan hatiku tidak tenang. Istigfar terus menerus terucap. Aku seperti akan dikhitbah saja! ^_^
Sampailah aku di Café yang cukup ramai. Daun Café, Café nya para generasi dakwah, emang café ini terkenal sebagai basecamp-nya Akhwat dan Ikhwan untuk “meeting” (kalo’ bilang “Hang-Out” ma’nanya kurang pas).
Dipojok dekat jendela, seorang ikhwan berbusana baju koko warna biru. Ah, Akh Ilham apakah dia mengetahui kalo’ aku penggemar warna biru..? pertanyaan itu muncul ketika mata memandang sosok teristimewa di hati ini. Disampingnya seorang gadis cantik berbusana rapi dengan jilbab coklat yang begitu rapi, membuatnya terlihat begitu manis. Segera ku hampiri mereka!
“Assalamu’alaikum warahmatullah…!” salamku pada mereka berdua sambil merapatkan kedua telapak tangan ke dada.
“Wa’alaikumussalam warahmatullahiwabarokatuh..!” jawab mereka hampir berbarengan.
“Eh.. antum dah dateng! Silakan duduk Ukh!” Akh Ilham mempersilakan aku duduk dengan lembutnya.
Akh Ilham pun menyampaikan maksudnya mengajakku ke tempat tersebut.
“Begini Ukh! Ana denger-denger antum memiliki kelebihan dalam pengetahuan. Nah maksud ana nih, bersediakah antum menjadi guru Bimbel Untuk adik ana ini, jujur ana terlalu sibuk untuk dia minta pertolongan membimbingnya memahami suatu pelajaran, itu sih kalau antum tidak begitu sibuk dan bersedia.!”
“Suatu kehormatan bagi ana menjadi guru Bimbel bagi adik yang manis ini, Insya’ Allah Akh selama ana mampu ana sanggup!”
“Syukron Ukh! Perkenalkan, adik saya Masyita Maysarah!” Akh Ilham memperkenalkan gadis cantik yang ternyata adiknya.
“Panggil Sarah aja mbak!” pinta Sarah.
“Jadi kapan ana bisa mulai?” tanyaku.
“bagaiman kalau langsung saja besok, di rumah ana ini alamatnya!” Akh Ilham sambil menyodorkan secarik kertas berisikan alamatnya.
“O ya! Antum dapat info dari mana mengenai ana?” tanyaku basa basi.
“Ana banyak dapet info mengenai antum dari Ummi. Ummi tau banyak soal antum.. kata beliau antum deket sama Ustadzah Ayya (Ustadzah Laily Tsurayya, Umminya Zahrani yang suka kupanggil Ummi), kebetulan Ustadzah Ayya adalah bibi’nya ana!”
“Wah, kebetulan sekali, ana gak nyangka..!”
Percakapan yang sangat kekeluargaan sekali. Tak ada keraguan atas jalinan kata yang telah terucap. Hijab membuat semuanya terkontrol, terutama perasaan yang membuncah dihati ini, terasa getaran istimewa meletup-letup sepnjang pertemuan yang luar biasa ini.

Hari pertamaku mengajar Bimbel Sarah, sebelum Sarah pulang aku diminta Akh Ilham untuk datang. Karena itu aku Dzuhur-nya di rumah Akh Ilham, Abah Akh Ilham yang menjadi Imamnya. Serasa keluarga sendiri, Ups..!
Ba’da shalat Dzuhur aku duduk diteras bersama Ustadzah Husniah dan juga Ustad Farhan (Orang tua Akh Ilham), sedang Akh Ilham harus ke Kampus karena ada mata kuliah. Ummi Husniah mengajakku berbincang-bincang ringan.
“Nak, antum tinggal sama siapa?” Tanya Ummi
“Ana tinggal sama Jaddaty, bibi’ juga Ammy!”
“Abah dan Ummimu?”
“Abah sama Ummi ada di Jogja.”
Ringan dan penuh kekeluargaan, tak lama kemudian Sarah pulang. Selepas dia Shalat kami mulai belajar. Kami belajar tentang Bahasa Inggris terlebih dahulu. Setelah selesai belajar dan Shalat Asar, aku pamit pulang. Karena harus masuk kampus!

Malamnya, aku benar-benar ngantuk sekali. Mungkin terlalu kecape’an. Pantas saja! Sepulang dari rumah Sarah aku harus Talaqqi bersama seorang Hafidzah cantik di kampus, Ustadzah Qonita. Setelah itu pergi ke perepus nyari referensi buat tugas tentang Makalah Dasar dan Hakikat Mu’amalah. Ya, aku harus menjadi insan yang aktif.
Lagu Haroki menemaniku yang tengah tidur ayam. Lagu Haroki dari Sayid Hasyim membuat semangat untuk dakwah tumbuh lagi. Aku terpejam seiring waktu yang berlalu, terbang melayang menari bersama mimpi yang penuh fantasi, yang merupakan refleksi dari kenyataan dan fikiran yang ada. Benar-benar dunia yang tak dapat ku definisikan.
Hingga aku bangun pukul 3.45 dini hari, untung saja aku segera bangun kalau tidak, bisa kelewat ntar Qiyamullailku.
Ba’da Shalat Subuh Ustadzah Qanita mengirim sms padaku,
‘Assalamu’alaikum, Nurul. Kyknya talaqqi hri ini di undur jadi minggu dpn, tapi surahnya yang agak panjangan ya!’
aku hanya tersenyum membaca sms dari ustadzah Qanita. Berarti ada waktu santai untuk relaks di rumah. Hm.. betapa nikmatnya menjadi anak Rumahan.

Selesai mengantar nenek ke pasar, aku mampir ke warung baksonya Mas Wahid (BMW = Bakso Malang mas Wahid). Ada-Ada saja, ya begitulah. Eh.. yang aku lihat tak salah kan!
“Ummi!” ujarku.
“Eh, Nurul…!” ustadzah Ayya mempersilakanku duduk.
“Ummi dah lama disini?” tanyaku.
“Baru aja koq! Seneng bisa ketemu antum disini!”
Ketika baksoku baru separuh mangkok, Sarah menelpon.
“Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikum salam mbak!”
“Ada apa Sarah?” tanyaku menyelidik.
“Gini mbak, Sarah kan pulang sekolahnya agak pagian hari ini, nah.. Sarah mau ketemu ma mbak! Ada yang pengen kenalan mbak!” jelas Sarah.
“Kenapa gak ntar sore aja, kan ba’da Asar mbak mau ke rumahnya Sarah! Nah ketemunya disana!”
“Jadi Mbak gak bisa?” tanyanya balik.
“Bukannya gak bisa, tapi kenapa nggak ntar sore aja sekalian.”
“Ntar sore kan kita mau belajar, takutnya waktu belajarnya jadi terpotong. Soalnya ada yang mau kenalan ama mbak!”
“Mbak ada tes satu jam lagi, trus ada mata kuliah juga ntar siang! Gimana dong?”
“Ya udah deh, ntar sore aja.”

Ba’da shalat Asar, aku ke perempatan hendak menunggu angkot menuju rumah Sarah. Tiba-tiba sebuah mobil Range rover sport warna hitam berhenti di depanku, dan pelan-pelan pintu mobil sebelah kanan terbuka. Seorang yang sangat ku kenal keluar dari dalamnya. Akh Ilham.
“Ukh, antum mau ke rumah ya? Yuk barengan, ana juga mau pulang.” Ajaknya.
“Terimakasih Akh, tapi saya mau naik angkot aja!”
“Ah, antum ini. Kan kita mau ke tempat yang sama, jadi barengan aja! Ntar ana jadi gak enak.”
Aku pun menurut saja. Di dalam mobil hanya kami berdua, sungguh aku takut sekali. Berkhalwat atau berikhtilat atau yang lebih kita kenal dengan berdua-duaan sangat aku hindari terlebih bersama bukan mahrom. Aku takut akan godaan Syaitonirrojim. Ya jadilah, sepanjang jalan tak ada pebincangan, hening tiada bergeming.

Diteras depan rumahnya Sarah duduk bertemankan seorang gadis cantik yang mengenakan seragam sekolah tapi tak berjilbab?
“Eh, mbak barengan ya?” Tanya Sarah sambil menjabat tanganku.
Aku hanya tersenyum, tapi sayang Sarah tak dapat melihat senyum manisku dibalik cadar ini. Sedang Akh Ilham hanya berlalu.
“Kenalkan mbak, ni temen Sarah.. namanya Eugene, ya… Sarah sih biasa manggil dia Jeni.” Sarah memperkenalkan gadis di sampingnya.
“Hallo mbak, Jeni” Jeni sambil menjabat tanganku.
“Nurul!”
“O ya, ada apa ni sampe-sampe tadi pagi Sarah nelpon?” Tanya ku pada Sarah.
“Gini mbak, sebenarnya aku yang minta Sarah untuk mempertemukan aku dengan mbak Nurul, ya.. aku sedikit penasaran dengan yang namanya mbak Nurul, aku sering diceritain ma Sarah tentang Mbak.”
“O ya!” aku hanya mengangguk.
“Aku hanya ingin sedikit kenal mbak kayak Sarah, siapa tau kita bisa jadi Best Friend!” pintanya.
Aku hanya tersenyum simpul dibalik cadar yang menghiasi hijabku. Oh betapa indahnya ukuwah!

***

Sang rembulan kembali hadir, tersenyum memberikan salam sejuta damai dan sejahtera untuk insan yang tengah Happy terlebih yang lagi Galau (Bahasa kerennya Badmood). Oh indahnya, bersama gugusan bintang yang setia menemani sang rembulan walau seburuk apapun cuaca diatas sana. Sesekali terlihat oleh mata bening ini, pasangan muda-mudi yang tengah menikmati indahnya Je-Je (Jalan-jalan gituuu…) dibawah benderangnya cahaya rembulan.
Hati ini terasa damai, bebas tugas, tak ada beban yang berarti. Dendangan syair dari Sherina menemaniku. “Jalan Cinta” , lagu yang juga mengambil sett film Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El-Shirazy; novelis kondang yang menjadi salah satu idolaku dalam dunia tulis menulis.
Film Ayat-Ayat Cinta yang merupakan adaptasi dari novel dengan judul yang sama. Begitu mengagumkan, dan Salah satu tokohnya memiliki nama yang sama denganku, Ya Nurul Azkiya! Sosok Nurul Azkiya yang diceritakan dalam novel tersebut memiliki kisah yang mungkin tak akan banyak Akhwat yang bisa menerima kenyataan jika hal seperti Nurul Azkiya alami mereka alami juga.
Cinta suci yang lahir dari hati yang begitu bersih, hati Nurul Azkiya kepada Fahri Abdullah Siddik. Menjadi kisah cinta Akhwat yag bertepuk sebelah tangan. Hanya karena malu mengungkapkan perasaannya, sang bidadari pun kehilangan Sang Mujahid-nya.

Bukankah Bunda Siti Khadijah telah mengajarkan kepada kita bagaimana bersikap. Bukankah di dalam sejarah telah tercatat bagaimana tatacara bunda Siti Khadijah menyampaikan maksud hatinya. Tentunya beliau tidak mengutarakannya langsung, melalui perantaraan Murobbi donk pastinya! Tapi sayang kisah Nurul Azkiya, malah sang Bidadari tersebut terlalu lama menyampaikan perihal perasaan kepada sang murobbi maka Sang Mujahid yang luar biasa itu pun menjadi pangeran bagi princess Aisha.

Entah kenapa fkiranku melayang melambung dan menjadi khayalan, bagaimana jika kisahku sama seperti Nurul Azkiya di novel Ayat-Ayat Cinta. Ah, ku tidak ingin melebihkannya, perasaan ini belum tentu sama seperti yang dirasakan Akh Ilham. Lebih Baik ku fokuskan diri untuk mengejar cita-cita ku ke Madinah dan Mesir, bertemu bersama Mahaguru, duduk bersama teman seperjuangan dakwah, menggapai mimpi menjadi seorang Muslimah sesungguhnya, muslimah yang kaya akan ilmu, muslimah tangguh menerjang semua aral yang ada. Allahu Akbar.
Sedalam samudra akan ku selami setinggi langit dia angkasa akan ku arungi

***

Tlit..tlut..tlut..tlit.. SMS masuk.
‘halo Mbak, ni sy Jeni! Mbak Nurul kan?’
Kubalas
‘oh. Jeni, iya ni Mbak Nurul!’
Cukup lama kami saling berbalas pesan, ternyata Eugene Faradhilla atau yang ku kenal adalah Jeni adalah seorang penganut Protestan yang taat, setiap ikut kebaktian dia tak pernah absen. Maklumlah orang tuanya kan juga aktifis Gereja! (Wajar tau…) Tapi anehnya, Jeni malah lebih banyak menanyakan hal tentang Islam, mulai dari bagaimana rasanya mengenakan Cadar, trus bagaimana cara islam memperlakukan wanita. Malahan katanya dia lebih banyak begaul dengan teman-temnnya yang muslim seperti Sarah. Mungkin ini akan menjadi sebuah pertanda baik.

***

Tuhan, terimakasih atas waktu yang telah Kau berikan untukku, kini sebentar lagi cita-citaku akan terwujud. Dua minggu lagi aku akan di wisuda, dan setelah wisuda aku akan terbang menembus batas menuju cita-cita ku..! Madinah… tunggu kedatangan Bunga yang Merajut Asa ini ya!
Sepulangku bertemu dengan Ustadzah Qonita, Ummi Ayya menelpon.
“Assalamu’alaikum Nak!” suara teduh Ustadzah Ayya menyapa diri yang tengah bahagia ini.
“Wa’alaikumussalam.. ada apa Ummi?” tanyaku balik.
“Nurul lagi dimana itu?”
“Lagi dijalan nih OTW ke rumah!”
“Sore- sore gini koq jalan-jalan, mau magrib nih!”
“Yeee… Ummi, jangan salah! Ana baru aja ke rumahnya Ustadzah Qonita.” Terangku.
“O.. bilang donk dari tadi! Gini nak, kemaren ada seorang ikhwan yang mengajakmu untuk berta’arufan, bagaimana menurutmu?”
(pause)
“M…m..gi, gimana ya Ummi, kayaknya ana..”
“Tolonglah…! Ini sebagai hadiah terindah dari tuhan untuk wisudamu.!”
“Insya’Allah dah Ummi, gimana-gimananya besok nurul kabarin ya! Assalamu’alaikum,”
“Alhamdulillah, makasih ya nak! Wa’alaikumussalam..”
Sepanjang jalan, hatiku berdebar tak tenang. Siapa ya ikhwan yang dimaksud Ummi? Apakah aku mengenalnya? Pertanyaan itu muncul seiring angkot meluncur kencang menerobos jalan raya, jalan tol.
Ku baca kumpulan firman Allah, bermaksud menenangkan hati yang tengah tak menentu ini.
Thaaha.
Maa anzalna ‘alaikal Qur’aana li tasyqa
Illa tazdkiratan liman yakhsya.
Satu persatu ku coba pahami, ‘Thaaha‘, ‘Thaaha’ tak memiliki arti di dalam terjemahan al-Qur’an, itu merupakan rumusan rahasia tuhan yang di balik semua itu tersimpan makna yang agung. Rumusan yang tersimpan rapi di Mega Silver “Lauhil Mahfudz”.
Sama seperti ‘Thaaha’, hidup kita adalah rahasia tuhan yang entah kebaikan apa di balik makna terpendam itu. Entah siapa yang akan ku temui esok, entah apakah cita-citaku akan terkabulkan. Semua itu memang rahasia.
Dalam buaian bibi, aku mencurahkan semua perasaan yang ada. Alhamdulillah, aku sedikit merasa damai. Bibi memang begitu mengerti aku, gak salah paman Hasan menjadikan bibi Rasmi menjadi permaisurinya. Ummi juga, Ummi adalah wanita so beautiful so wonderful yang pernah ada. Dan Ummi hanya diperuntukkan kepada sang Pangeran ter-handsome ter-Wonderful juga yaitu Abah.
Dan dalam tahajjud, kuluapkan semua perasaanku hingga perasaan itu tumpah berbuah bulir bening yang keluar beriring do’a yang terucap, semoga apa yang menjadi misteri akan berakhir bahagia.

***

Eh… Matahari muncul lagi, buatku sinar matahari hari ini begitu berbeda! Begitu tegang dan membuat hatiku dag-dig-dug. Pukul Sembilan pagi Ummi Ayya menelpon memintaku segera datang, sebelum sang mujahid tiba. Ya, Ummi Ayya adalah Murobbiku emang.

Ba’da Dhuha’, aku segera memilih dan memilah busana mana yang akan aku kenakan. Dan… setelah lama menimbang dan mengolhanya pilihanku jatuh pada gamis biru yang gak terlalu muda, jilbab lebar warna putih dan cadar yang senada, sandal selop warna abu-abu juga tak ketinggalan tas cangklongku yang antik, harus ikut donk.
Karena ini moment berharga, aku pun mengajak paman Hasan yang kebetulan lagi free dari tugasnya sebagai insinyur (sbenernya cuti sih hehehe…)
Bersama skuter matic Yamaha Mio Sporty Merah Marun milik paman hasan kami meluncur walaupun tersendat karena jalanan agak sedikit macet… macet gimana… gitu. Dan so pastilah, perasaanku tak tenag lagi, 1000 pertanyaan menggentayangiku, mencoba ku menengkah hati ini dengan Dzikrullah.

Sesampainya kami di rumah Ummi Ayya, kaki ini begitu terasa berat untuk melangkah, ingin rasanya balik lagi. Tapi tak mungkin, karena Ummi Ayya telah menyambut kami dengan penuh snyuman.
“Akhirnya datang juga! Ya walaupun agak sedikit telat, pi gak apa –apa lah!” ujar Ummi Ayya.
Aku diajak Ummi ke teras belakang, sebenarnya disaat seperti ini aku ingin Zahrani ada bersamaku. Dia cukup mahir menenangkanku. Tapi sayang dia lagi sekolah.
Hatiku semakin tak tenang, serasa malaikat maut datang mengancam, ku lihat arlojiku terus menerus, dan…
‘Ning Nong!’
Bel rumah berbunyi.
“Eh, antum dah dateng!” suara Ustad Hafid membuatku semakin dag-dig-dug.
Serasa jantung ini berhenti berdegup, urat-uratku rasanya korslet, aliran darah rasanya berhenti dan membeku. Ustadzah Ayya dan aku berjalan menuju ruang tamu, kakiku terasa berat melangkah, oh sepertinya lumpuh! Kupaksa demi bertemu dengan sang pangeran.
Sesampainya kami di ruang tamu, aku tak dapat menegakkan kepala, sampai aku duduk pun, aku tak tau siapa pangeran yang handak mengajakku berta’arufan itu.
Dan,
“Nak Ilham, ini dia yang namanya Nurul Azkiya. Selebihnya mungkin antum telah melihat album foto yang telah saya berikan beberapa hari yang lalu!” Ustad Hafid membuka percakapan.
Hah, jadi yang ingin berta’aruuf denganku itu Akh Ilham, lidahku kelu mendengar nama itu disebut. Entah bagaimana ekspressiku saat itu.
“Ya Ustad, ana sudah melihatnya, walaupun itu fotonya Ukh Nurul waktu masih kanak-kanak, tapi lucu juga!” akh Ilham sambil tersenyum.
“Lho bagaimana bisa album itu ada di antum Akh?” tanyaku keheranan,
“Ustad Hafid yang memberikannya beberapa hari yang lalu.”
Lalu proses ta’aruf dimulai, dengan beberapa pertanyaan dariku untuk Akh Ilham begitupun sebaliknya. Suasana yang membuatku tak dapat berkata apa-apa! Ketika kami semua berbincang-bincang, secara tak sengaja mata ini mencuri-curi perhatian, dan ces… Ketika mata kami saling bertemu. Bagaikan angin syurga datang menghampiri, membawa embun yang membasahi ubun-ubun ini. Ku lihat Akh Ilham yang agak sedikit salting.

Seminggu kemudian, dua hari sebelum wisudaku. Akh Ilham datang untuk mengkhitbah, dan tentunya jauh sebelum Akh Ilham datang mengkhitbah Abah dan Ummi juga bang Yoli datang. Hati ini riang sekali. Ketika itu rencana perkawinan telah ditentukan, yups.. sebelum wisuda, pernikahan akan di gelar, aku ingin yang sederhana.
Keesokan harinya, setelah semua siap, dan beberapa undangan juga kawan-kawan LDK hadir, ijab Kabul pun dimulai, tepat pukul 9 pagi di musholla rumah Akh Ilham. Mungkin Akh Ilham agak sedikit grogi, sehingga ijab Kabul harus diulang hingga tiga kali. Tapi Alhamdulillah ya sesuatu, Akh Ilham untuk yang ketiga, betul-betul lancar mengucapkannya. Tangis haru pecah ketika pak penghulu mengatakan sah dan bero’a. terutama Akh Rudy yang pernah aku tolak ajakan ta’arufnya dulu. Tapi sayang, mbak Nisa tidak hadir. Entah aku tidak tahu apa alasannya, sms undanganku tak dibalasnya, ucapan selamat pun tidak, sampai acara selesai ku hubungi nomornya, tapi tak nyambung.
Aku merasa ini adalah mimpi yang berubah menjadi kenyataan, Akh Ilham yang dulu hanya ku kagumi dengan cinta sepihakku kini dia adalah suamiku. Oh Sang putri kini menemukan tambatan hatinya. Bahagia tiada terkira, aku hanya bisa mengucap syukur yang tiada terperi kepada sang Ilahi Robbi.

***

Waktu Wisuda pun tiba, aku berdiri kini dengan mengenakan pakaian wisuda, dengan topi wisuda. Beriring Abah, Ummi, Suami tercinta, nenek, paman Hasan, Bibi Rasmi, Ustadzah Ayya, Ustad Hafid, Zahrani, Bang Yoli, dan tentunya mertua tersayang. Aku melangkah pasti menuju rektor ketika namaku dipanggil. Lulusan terbaik yang kudapatkan membuat pak rektor bangga, Alhamdulillah!
Mataku ini tertuju pada mereka semua, orang-orang terkasihku.
Ketika acara wisuda selesai, yang pertama menghampiri adalah suamiku tercinta.
“Istriku, selamat ya! Kau memang bidadari istimewa dari Allah! Sungguh tak salah aku memilihmu!” bisiknya.
Aku hanya tersenyum mendengarnya.

Selepas acara foto-foto, banyak teman-teman mengucapkan selamat pada kami yang tengah berbahagia, tapi sayang mbak Nisa tampaknya tak hadir dalam wisuda ini. Padahal aku sudah mengirimkan mesej untuk berharap kehadirannya.
Ukhty Reni dan Ukhty Desi menghamipiri kami. Dalam raut mereka ada sedikit kegelisahan. Ukhty Reni dan Ukhty Desi mengajak ku ke halaman belakang, sepertinya ada sesuatu yang ingin mereka ungkapkan.
“Ukh! Apa antum tidak tahu kalau Ukhty Nisa …” ujar Ukhty Reni.
“Ukhty Nisa…? Ukhty Nisa kenapa?” tnyaku.
Berdasarkan keterangan Ukhty Reni, Ukhty Nisa sedang dirawat dirumah Sakit karena mengidap kanker. Dan ada satu lagi keterangan yang sungguh belum aku mengerti, dan Ukhty reni memintaku menanyakannya pada Ukhty Nisa.
Ba’da Shalat Isya’, aku dan suami pergi ke rumah sakit, Mbak Nisa di rawat di ruang Jasmine no 4. Ketika kami masuk, sudah ada Ayah dan Ibu Mbak Nisa. Lantas ada satu hl yang membuatku agak sedikit mngernyitkan dahi. Ya.. mbak Nisa terus saja menyebutkan nama Suamiku, “Il..ha,m..”. batin sedikit bertanya ada apa dengan semua ini?
Lalu, ibunda mbak Nisa mengajak kami ke tman rumah sakit, dan menjelaskan tentang mbak nisa. Ternyata mbak Nisa sudah lama menaruh hati kepada mas Ilham suamiku. Ibunda mbak Nisa menceritakan bagaimana mbak Nisa memuji suamiku. Kata ibunda mbak Nisa, Mbak Nisa selalu curhat perihal suamiku. Tak terasa air mata hangat membasahi pipiku.

Kami pulang, dalam mobil aku masih menyeka air mataku, jujur aku cemburu dan merasa bersalah atas semua ini, tau begini aku tidak akan menerima mas Ilham menjadi suamiku. Dalam mobil dengan penuh air mata, aku bertanya kepada suamiku.
“Mas, apa mas sayang kepadaku?”
“Tentu saja, hal itu tidak perlu kau tanyakan!”
“Apa mas mau berkorban apapun demi kebahagiaanku?”
“tentu apapun itu, bahagiamu adalah hidupku Adindaku! Senyummu adalah jantung ini.”
Lama aku diam dan,
“Menikahlah dengan mabak Nisa!” ujarku setelah lama diam.
“Apa!” … shreeet sheet! Suara mobil yang berhenti mendadak. Aku yang terjungkal kedepan dan belakang. Untung ada sabuk pengaman dan juga kondisi jalan yang tidak begitu ramai.
“Maksudmu apa?” Tanya mas ilham dengan nada yang agak keras.
“Aku tidak bisa melihat nbak Nisa terbaring lemah, tersiksa karena cintanya yang ku rebut. Aku ingin kau menikah dengannya demi kebahagiaanku.!” Terangku.
“Tidak mungkin, sungguh aku akan lebih tega jika melakukan hal itu. Menyakiti seorang anak manusia. Aku tidak akan mungkin membagi cintaku sedang yang kau berikan seutuhnya, haruskah balasannya dengan setengah-setengah? Lagi pula yang aku cintai hanya engkau tak ada yang lain.”
“Tapikan cinta itu tumbuh karena intensitas pertemuan.”
“sekali-kali tidak akan pernah aku menikah untuk yang kedua kalinya.!” Jelasnya dan aku diam membisu. Tak dapat berkata apa-apa!

Sungguh aku beruntung mendapatkan suami seperti mas Ilham, yang memang mencintaiku karena Allah dan setulus hati. Sama seperti rasulullah dulu, ketika beliau bersama siti Khadijah beliau tidak pernah poligami. Namun sepeninggal siti khadijah barulah rasulullah berpoligami.

Mungkin ceritaku pendek saja, semoga ada manfaatnya..
Akkhirul kalam, wallahul muwaffiqu wal haadi ila syabiilirrosyad
Wassalaamu’alaikum warahmatullahiwabarokaatuh.

Cerpen Karangan: Baiq Rahmayanti Masruri
Facebook: Baiq Rahmayanti

Cerpen Dibalik “Cadar” merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pangeran 15 Menit

Oleh:
“Tidak ku sangka 15 menit yang cukup singkat menjadi detik – detik terakhir orang itu. orang yang ku tempatkan di tempat khusus di hatiku. Dialah Pangeran 15 Menit…” Namaku

Suddenly You Changes My Life (Part 1)

Oleh:
Drrrttt drrrttt drrrttt, getar handphone gadis itu berbunyi. “Assalammu’alaikum. Ran?” suara laki-laki dari ujung sana. “Wa’alaikumssalam, ayah ada apa?” ucap gadis dengan nada mengantuk. Rani Ramadhani adalah seorang gadis

Rain and Rainbow

Oleh:
“Pelangi butuh hujan untuk menjamah indahnya dunia. Begitu juga hujan, ia butuh pelangi untuk menyicip manisnya dunia dengan warna indah yang mampu menutup semua tangisnya … ” ‘TAP TAP

Randa Tapak (Dandelion)

Oleh:
Seperti dandelion, wanita itu rapuh. Seperti dandelion, wanita ingin diperhatikan. Seperti dandelion, wanita ingin dilindungi. Seperti dandelion yang tertiup angin, terombang ambing tak tentu arah. Fina. Gadis jelita penyuka

Always Happy Ending

Oleh:
Alarm ponsel telah berbunyi, pertanda pagi akan menyapa. Pelan-pelan kubuka kelopak mata yang masih lelah ini. 5 menit telah berlalu, dan aku masih berada di atas ranjangku. Ku paksakan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

7 responses to “Dibalik “Cadar””

  1. Imania hafni says:

    Crita_a bgus s’kli,
    qu sngat-sngat ska.

  2. Syariffah says:

    bgus bnget crta’ny..
    mrip dngan novel AAC..
    v yg ini k’blikan’ny,, Nurul d sni tdk m’nglami nsib yg sma dngn yg d novel..

    trus berkarya ya.. 🙂

  3. sri says:

    Assalamualaikum,Mau nanya ni ukhty bgimana cara pake cadar ketika wisudah?sy bingung :'(

  4. siti nuryah says:

    Assalamu’ alaikum ukhty
    Saya begitu tersentuh ketika membaca cerpen buatan ukhty ini … sungguh mengharukan …. semoga ukhty diridhai oleh Allah SWT

  5. fadlilah hidayah says:

    ini ceritanya bagus,tapi sayangnya terkesan plagiat sama novel ayat-ayat cinta.so,buat cerita yang belum pernah di buat orang donk!SEMANGAT!!!!!!

  6. aprilia tri wahyuni says:

    ceritanya cukup menginspirasi, terima kasih banyak ya ukh udah membagi cerita bagus kayak gini. semoga allah membalas kebaikan kalian dengan kebaikan, aamiin..

  7. Siti fatimah says:

    Ceritanya menyentuh banget membuat baper saya, terus semangat dalam berkarya coba cerita ini dibuat novel, saya mau deh beli novelnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *