Dibalik Jeruji Besi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Islami (Religi), Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 1 August 2017

Terlihat seorang Mahasiswi yang baru pulang setelah melakukan PKL berupa melakukan sensus penduduk di Desa Sayang kecamatan Jatinangor. Perempuan berkacamata itu bernama Nisa Nurguspadita, seorang Mahasiswi jurusan Statistika Universitas Padjajaran. Dia pulang sekitar pukul setengah tujuh sore seorang diri. Ketika di perjalanan dia melihat sebuah rumah tua tak berpintu, Nisa lalu mendekat dan membaca sebuah tulisan “Dilarang Masuk, Berbahaya”, dari pagi dia memang ingin masuk ke rumah ini, untuk menyelesaikan tugas menyensus penduduk, tapi dia tak berani, tiba-tiba dari arah belakang, terdenar langkah kaki mendekati Nisa

“Lama gak ketemu yah Nisa” ujar orang yang ada di belakangnya, Nisa yang kaget langsung membalikan badannya
“Siapa kamu?” tanya Nisa penuh curiga
“Dasar pelupa” mendengar itu Nisa menilik-nilik lelaki tersebut
“Ib..Ibnu, ngapain kamu di sini”
“Pertanyaan yang gak sopan, gue baru aja dari Majalengka mau ke kosan di Bandung, di sini gue cuman mau numpang shalat di Masjid sana, eh ngeliat lo. Nah lo lagi ngapain malem-malem di rumah tua ini”
“Aku lagi PKL sensus penduduk, tapi dari tadi pagi aku mau masuk ke rumah ini, tapi takut”
“Ya udah tinggal masuk”

Ibnu kemudian masuk mendahului Nisa, dia kemudian menyiapkan pisau yang sering dia bawa setiap kali berpergian jauh, terdengar dari dalam rumah sebuah suara “Siapa yang Masuk” mendengr suara itu Ibnu semakin siaga dengan menyaipkan sebilah pisau miliknya, ketika masuk ke sebuah ruangan, Nisa dan Ibnu melihat seorang manusia dipenjara di rumah ini.
“Mau apa kalian ke sini?”
“Aku mau sensus penduduk” Jawab Nisa, Ibnu lalu kembali menaruh pisaunya ke dalam tasnya
“Kenapa kakak dipenjara?” tanya Nisa lagi
“Gue dipenjara karena menurut orang-orang desa, gue berbahaya”
“Berbahaya?”
“Ya, gue punya kelainan, banyak yang bilang gue seorang psikopat, gue bisa ngebunuh siapa aja tanpa sebab, itulah kenapa gue dikurung”
“Ih Kasian banget, emang gak bisa disembuhin”
“Entahlah”
“Oh iya nama kamu siapa?”
“Reza”
“Reza Fauzy Akbar?” ujar Ibnu
“Bukan, nama gue Reza Ramadhan”

Nisa kemudian melihat jam tangannya, dan sudah menunjukan pukul 7 malam, dia harus pulang, begitu juga Ibnu, Ibnu meneruskan perjalanannya ke kos-kosannya yang berada di Kota Bandung, Nisa juga pulang ke kos-kosannya yang berjarak 3 km dari desa Sayang.
Rasa penasaran Nisa terhadap Reza semakin menguat, ia begitu penasaran, bagaimana mungkin keluarganya setega itu melakukan hal tersebut kepada Reza, Nisa berencana akan mengunjungi kembali Reza pada esok hari.

Pada keesokan harinya dia melihat sorang kakek tua keluar dari rumah Reza, setelah kakek itu keluar, Nisa kemudian masuk ke rumah itu, dia melihat Reza sedang makan dengan lahapnya. Selesai Reza makan, Nisa lalu menghampirinya

“Assalamu’alaikum”
“Walaikumsalam, kenapa lo kesini lagi?”
“tenang za, aku gak bakalan jahat kok, oh iya tadi kakek tua yang barusan ke sini siapa?”
“Entah, tapi dia sering sekali bawain gue makanan, pas ditanya dia itu siapa, si kakek itu cuman diem aja, sekarang lo mau apa lagi ke sini?”
“Aku cuma penasaran sama kamu”
“Alasan yang bodoh, oh iya siapa nama lo?”
“Nisa, Nisa Nurguspadita”

Tidak terasa waktu telah menunjukan pukul setengah empat sore, adzan ashar berkumandang di Masjid sana, ketika Nisa mengajak shalat Reza, rupanya Reza tidak pernah shalat, Reza tidak pernah diajari oleh orangtuanya shalat, karena dari umur 5 tahun, dia sudah dipenjara, yang orangtuanya sumbangkan hanya baju-baju dan hebatnya di umur 5 tahun dia sudah bisa hidup mandiri.

Nisa lalu mengajarinya tata cara beragama yang baik, seperti shalat, membaca al qur’an, berwudhu dan sebagainya. Selama sebulan ini sudah menjadi kegiatan rutin bagi Nisa untuk selalu menunjungi tempat dikurungnya Reza, dan baru diketahuilah ternyata IQ Reza diatas rata-rata, hanya dalam beberapa contoh mengaji, dia sudah pandai mengaji dalam kurun waktu tiga bulan, beberapa buku pemberian dari Nisa juga semua isi-nya hafal

Nisa yang semakin penasaran dengan Reza, mencoba melakukan test pada Reza, dia membawa soal olimpiade matematika yang dia punya, lalu Nisa meminta Reza menyelesaikan soal itu, dalam waktu satu jam 10 soal olimpiade berhasil diselesaikan dengan nilai yang sempurna.

Allah SWT menciptakan makhluknya dengan kelebihannya masing-masing, ketika dia cacat dalam suatu keahlian, maka dia berbakat dalam keahlian lainnya, manusia hanya ahli dalam sedikit hal, tapi tidak ada yang ahli dalam segala hal, tapi pernyataan yang digaris bawahi tidak berlaku bagi beberapa tokoh sinetron di Indonesia

Sering bertemu membuat Nisa menjadi jatuh cinta terhadap Reza (Bukan Reza Fuzy Akbar), memang kalau dilihat-lihat wajah Reza memang lumayan ganteng walaupun dengan penampilan yang amburadul karena dikurung di penjara dan memakai baju yang seadanya. Semenjak bertemu Nisa sisi gelap Reza semakin menipis, jiwa Psikopatnya semakin pudar.
Untuk membuktikan itu, Nisa memanggil ahli psikolog, dan ternyata benar, dari serangkaian tes yang dijalani Reza, Reza positif sembuh dari gangguan Psikologi Psikopat, menurut dokter, sebenarnya penyakit Reza ini bisa disembuhkan andaikan dia mendapat kasih sayang yang layak dari orangtua, dan menurut dokter yang berhasil membersihkan jiwanya dari Psikopat adalah lantunan ayat al qur’an.
Nisa beberapa kali mengatakan untuk melepaskan Reza dari kurungan penjara itu karena sudah negatif Psikopat, tapi orangtua dan penduduk desanya tidak percaya, mereka takut Reza akan mengamuk dan membunuh dengan cara membabi buta.

Pada hari ini Nisa berencana untuk main ke temapat sahabatnya Ilma, dan tentu saja dia tidak akan berkunjung ke rumah kurungan Reza. Ilma merupakan teman sekelas bahkan sebangku Nisa ketika SMA, dia berkuliah di ITB Sekolah Tinggi Elektro dan Informatika (STEI) dengan program studi Teknik Informatika
Kos-kosan Ilma memang agak jauh dari kampus karena sudah tidak kebagian, dia kos di Dago, kira-kira 5 km dari kampus ITB, Ilma berencana menjemput Nisa di depan kampus ITB. Dari kejauhan Nisa bisa melihat sahabatnya sedang berdiri menunggu dirinya, namun nasib berkata lain, ketika hendak memutar arah tiba-tiba Nisa tertabrak sebuah mobil, dan mobil itu langsung pergi entah ke mana

Nisa kemudian dilarikan ke rumah sakit terdekat, yakni R.S. Santo Borromeus yang berada di jalan Ir. H. Juanda, Nisa kemudian harus dirawat setelah mengalami benturan yang sangat keras di kepalanya. Ilma yang bingung harus berbuat apa, segera mengabari orangtua Nisa yang ada di Majalengka, Ilma juga meenghubungi Reza (Ini baru Reza Fauzy Akbar), yang berkuliah di Tel-U (Telkom University), dan beberapa teman SMA lainnya yang kuliah di Bandung, seperti Ibnu, Apriandi, Nurfitiani, dan Adam. Akan tetapi hanya Reza saja yang mengangkat telepon dari Ilma

“Za za, Nisa Nisa” ujar Ilma dengan panik
“Walaikumsalam, maaf salah sambung, gue Reza, bukan Nisa” balas Reza yang hanya terdengar kata Nisa saja di telepon
“Reza gue serius, Nisa kecelakaan, sekarang ada di R.S St Borromeus”
“Ya terus gue harus ngapain, gue kan bukan dokter, gue kan mahasiswa elektro, Si Nisa mau gue setrum?”
“Reza tolong za, lo jangan becanda mulu, gue takut sendirian, gue takut ada apa-apa sama Nisa, lo temenin gue di Rumah Sakit”
“Oke, oke gue ke sana, dasar ganggu mimpi aja” ujar Reza yang baru bangun karena tidak ada kuliah
“Emang lo ngimpi apa sih?”
“Gue ngimpi jadi agen, dengan nama samaran Eder Saklitnov, yang berhasil menguak dan menangkap gembong narkoba di suatu kota”
“Udahlah gak penting”
“Eh kampret bukannya lo yang nanya duluan” setelah itu Ilma mematikan teleponnya.

Reza segera berangkat dari daerah sukapura, jaraknya memang cukup jauh dari R.S St Borromeus. Setelah mengalami kemacetan akhirny pukul 12 siang Reza sampai di R.S Borromeus, Reza melihat Ilma begitu sedih melihat Nisa sedang kritis
“Il, emang temen-temen lain yang ada di Bandung gak ada”
“Gak diangkat”
“Ibnu?”
“Handphonenya mati”
“kita coba telepon lagi”

Reza kemudian menelepon Ibnu, sudah tiga kali tapi masih tidak diangkat, pada percobaan keempat akhirnya diangkat
“Assalamu’alaikum Nu”
“Walaikumsalam Za, ada apa?”
“Nisa kecelakaan nu”
“Innalillahi, Nisa mana?”
“Di R.S Borromeus”
“Maksud gue Nisa yang mana?”
“Lo sih intonasinya salah, Nisa 12 MIPA 5”
“Iya Nisa yang mana kan ada 2”
“Nisa nisa, Nisa Rizkia”
“Loh bukannya dia kuliah di Yogya, kok bisa kecelakaan di Bandung”
“Oh berarti Nisa Nurgus, emang darimana aja sih lo, ditelepon Ilma gak diangkat sok sibuk”
“Gue lagi ngejalanin hobi za”
“Emang hobi lo apaan?”
“Remid Za”
“Gobl*g Sia”

Cukup lama memang menunggu Ibnu datang, maklum arah antara kampus UPI Bandung dengan R.S, Borromeus memang rawan macet, padahal kurang dari dua puluh menit juga bisa sampai ke R.S. Borromeus. Tak lama kemudian Nisa memanggil nama seseorang
“Reza, Reza, Reza” Ujar Nisa dengan mata yang masih tertutup
“Za za manggil lo za” Ujar Ilma
“Nis gue di sini nis, tenang, tenang, tarik nafas dalam-dalam” Ujar Reza
“Reza Ramadan”
“Tenang Nis, tenang, ini masih Robiul awal, Ramadan masih lama”
“Reza Ramadan, Reza Ramadan, Reza Ramadan”
“Pfffft, bukan Reza lo” Kata Ilma menahan tawa
Reza dan Ilma kebingungan, siapa itu Reza Ramadan, mungkinkah dia pacar Nisa?, pertanyaan itu terjawab setelah Ibnu datang, Ibnu menerangkan bahwa Reza Ramadan adalah seorang Psikopat yang dikurung oleh kedua orangtuanya karena berbahaya, Ibnu mengatakan bahwa Nisa sering sekali bahkan setiap hari sering berkunjung ke Rumah kurungan Reza

“Nu, kita harus bawa dia ke sini, demi kesembuhan Nisa” Ujar Reza
“Oke, kita coba” balas Ibnu
“Rumah kurungannya di mana?” tanya Reza
“Di Desa Sayang”
“Heh kamret jijik gue, apa-apaan lo manggil gue sayang, gue gak maho”
“Emang namanya Desa Sayang”

Reza dan Ibnu kemudian pergi ke Desa Sayang yang ada di Kecamatan Jatinangor. Singkat cerita mereka telah sampai di Desa Sayang dan meminta izin kepada kepala desa untuk membawa Reza Ramadan keluar dari kurungannya demi kesembuhan Nisa, masyarakat kebanyakan menolak permintaan Ibnu dan Reza, namun muncullah seorang kakek tua yang selalu mengurusi Reza di dalam penjara, Kakek Tua itu menjadi jaminan jika terjadi apa-apa, setelah mendapat jaminan akhirnya Ibnu dan Reza diberi kunci pembuka jeruji besi tersebut.

“Lo, kalau gak salah lo temen Nisa kan?” ujar Reza Ramadan
“Iyah, sekarang Nisa sedang berada di Rumah Sakit, Nisa sedang mengalami kritis, dia butuh lo sekarang”
“Apa?, Nisa kritis, terus gimana keadaannya sekarang”
“Udah, jangan kebanyakan drama, ini bukan sinetron, jalan!” Ujar Reza sambil membukakan pintu penjaranya

Ketika di mobil Reza, Ibnu mengatakan tidak akan segan-segan memukuli Reza Ramadan jika dia menunjukan jiwa psikopatnya, Reza kemudian mengatakan bahwa dirinya telah 100% pulih dari gangguan psikis tersebut berkat Nisa dan Al Qur’an.

Sesampainya di Rumah Sakit, Reza Ramadan lalu menghampiri Nisa, ketika itu Nisa masih menyebut nama Reza Ramadan, ajaib, setelah Reza datang, Nisa langsung siuman, apakah ini kekuatan cinta?, entahlah, tapi biasanya seperti itu kalau di sinetron-sinetron Indonesia, untung Nisa gak sampe lupa ingatan.
Ketika orangtua dari Nisa datang, mereka begitu akrab dengan Reza Ramadan, beberapa orang seperrti Ibnu, Reza dan Ilma tidak mengatakan kalau Reza mempunai gangguan jiwa berupa psikopat yang katanya sudah 100% sembuh.

Seminggu kemudian Nisa kembali sembuh, tapi dengan tangan yang masih diperban, Orang tua Nisa juga sudah kembali pulang, namun sayangnya Reza Ramadan masih harus kembali dikurung, karena masyarakat Desa Sayang takut Reza membunuh semuanya.

Hari sabtu menjadi hari yang sangat berbahagia bagi Nisa dan Reza Ramadan resmi berpacaran, kalau biasanya orang pacaran, ngobrol di taman yang indah, yang penuh bunga warna-warni dan ada kursi panjang, Nisa dan Reza lain lagi mereka pacaran di sebuah tempat yang menakutkan, ditambah lagi Reza yang dikurung dibalik jeruji besi.

Musibah kembali datang kepada Nisa, sebulan setelah berpacaran ketika berkunjung ke tahanan Reza, tiba-tiba Reza merasa sesak di dada bagian kirinya, dia terus memegangi dada kirinya dimana di situ letak jantung berada, Reza kemudian tiba-tiba pingsan, beberapa kali Nisa meminta tolong tapi tidak ada yang mendengar, mungkin ada yang mendengar tapi mereka takut masuk ke tahanan Reza. Nisa kemudian berlari untuk meminjam kunci tahanan yang ada di orangtuanya, awalnya tidak diizinkan tapi karena Nisa memaksa akhirnya diberikan kunci itu kepada Nisa
Ketika dibuka, pintu tahanan tersebut, ternyata Reza sudah tidak bernyawa, dia sudah meninggal terkena serangan jantung, Nisa begitu syok, bahkan sampai Reza meninggal pun tidak ada yang peduli terhadap Reza, kecuali kakek tua yang selalu mengurus Reza yang tidak lain adalah kakek dari Reza.

Malang sekali nasib Reza, tidak ada yang ingin memandikan jenazahnya, tidak ada yang ingin menyolatinya, bahkan para ahli agama juga tidak mau mengurusi jenazah Reza. Ketika itu yang mengurusi jenazah Reza Ramadan hanya Kakeknya, Ibnu dan Reza.

Cerpen Karangan: Ibnu Fadlillah
Blog: pensil-pendek.blogspot.com

Cerpen Dibalik Jeruji Besi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Always Happy Ending

Oleh:
Alarm ponsel telah berbunyi, pertanda pagi akan menyapa. Pelan-pelan kubuka kelopak mata yang masih lelah ini. 5 menit telah berlalu, dan aku masih berada di atas ranjangku. Ku paksakan

Now I Hate You

Oleh:
Aku duduk di belakang, meninggalkan tempat duduk yang biasa. Karena sebuah coklat tergeletak di sana. Tak perlu kusentuh apalagi buka coklat yang dihiasi pita berwarna merah marron itu. Sudah

Kebahagiaan Singkat

Oleh:
Ini kisah tetang alasan dibalik nama gue. Nama gue boleh lo panggil Randy. Gue siswa salah satu SMA di Jakarta. Dari gue kecil gue selalu di tanya arti nama

My brother, My Boyfriend

Oleh:
“Kenalkan, namaku Irna. Aku pindahan dari SMA 52 Jakarta. Semoga kita dapat berteman.” Ucap murid baru itu memperkenalkan diri. Semua siswa-siswi bertepuk tangan riuh. “Dia cantik.” celoteh Nela langsung

Stasiun Juanda

Oleh:
Hatiku berdebar debar seraya ingin lepas dari tempatnya, kakiku tidak henti-henti nya bergerak kesana kemari menandakan kegugupan yang melanda diriku saat ini. Dengan sebatang coklat coki coki yang sudah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *