Different Faith

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 5 March 2018

“Pokoknya ibu enggak mau tau, kamu putusin hubungan dengan lelaki itu atau kamu bakal kehilangan ibu”
“Bu! Apa-paan sih? Aku cinta sama Rio bu! Ibu nggak bisa ngehalangin Desi begitu aja, pokoknya apapun yang terjadi Desi nggak bakalan ngelepasin Rio, kita saling mencintai bu, kita juga udah berkomitmen kalau di antara kita ada yang mau ngalah, dia nggak sejahat dan sebejat ayah bu dia nggak seperti yang ibu kira!” PLLAAKK!! Tamparan penuh amarah mendarat mulus di pipi Desi dan berhasil membuat pipi desi merah sama seperti hatinya saat itu merah, marah, menahan amarah. Arrgghh!

Cinta memang mudah jika dibayangkan, di sana ada makhluk yang saling mencintai dan dicintai lalu menjalin hubungan yang harmonis di antara keduanya, tapi tidak mungkin juga jika cinta diisi dengan hal yang selalu membahagiakan, bukan? Tentu saja di dalamnya ada Pro dan Kontra yang bisa dipecahkan atau tidak. Jika bisa dipecahkan otomatis hubungan tersebut berlanjut dan jika sebaliknya tidak bisa dipecahkan otomatis juga hubungan tersebut berhenti sampai di situ saja. Yaa memng jika dibayangkan saja terdengar sangat mudah. Tapi sayang tidak semua masalah berakhir begitu saja, ada yang masih menyimpan cinta setelah semua berakhir, dan ada juga yang melupakan dengan mudahnya. Semua tergantung pada diri sendiri.

“Des?” Suara nan lembut serta tangan mulus terasa ada menyentuh pundaknya lantas membuat lamunan gadis manis tersebut buyar seketika. Gadis yang diketahui bernama Desi Prawita Aulia itu pun membalikkan badannya menghadap sahabat yang disayanginya lalu tersenyum menggengam jari jemari yang menyentuh pundaknya tadi.
“Des? Jangan kebanyakan ngelamun. Udah jangan diinget-inget lagi di sini kan ada aku yang selalu ada buat kamu” hanya senyuman pahit yang menjadi jawaban dan pelukan hangat seorang sahabatlah yang kini menjadi obat penenangnya tak lupa juga bulir-bulir kesedihan sudah hinggap di pelupuk mata Desi Dan kenangan pahit itu pun berputar kembali di memori.

Cerita dimulai ketika Desi melamar pekerjaan di sebuah perusahaan kelapa sawit ternama di daerahnya. Ia ditempatkan sebagai Kerani yang lebih dikenal dengan Sekretaris yang mengurusi segala hal administrasi dan pencatatan pengeluaran serta pemasukan di perusahaan tersebut. Lain cerita dengan Rio lebih tepatnya Rio Agusta yang bekerja sebagai Asisten manajer.

Hari itu Rio diperintah oleh Manajer untuk mengambil data pemasukan dan pengeluaran untuk bulan ini ke Sekretaris. Karena Rio sudah akrab dengan mbak Nunung (sekretaris lama), ia pun langsung ngeloyor masuk ke ruangan karyawan yang di dalamnya ada meja sekretaris. Karena belum tau bahwa ada pegawai baru yang menggantikan kedudukan mbak Nunung (Karena mbak nunung mengundurkan diri sebab tidak diizinkan sang suami untuk bekerja lagi).

“Mbak Nunung, bos minta data bulan ini” sambil menjawil dagu Desi. Karena Desi duduk membelakangi meja kerjanya dan Rio kira si Desi itu mbak Nunung yang biasa dijahilinya.
“Apaan sih, pegang-pegang maaf ya saya bukan cewek murahan!” Desi yang merasa tidak terima atas perlakuan Rio langsung membalikkan badannya menghadap orang yang baginya tidak menghargai perempuan sama sekali. Rio pun kaget karena ia salah mengerjai orang, dan malu sendiri. Lalu ia meminta maaf dan menjelaskan sebab ia melakukan itu.
Setelah kejadian yang tak terduga itu, Desi dan Rio sering terlihat berdua dan 2 bulan setelah mereka dekat, mereka pun menjalin hubungan.

“Des, aku sayang banget sama kamu, aku mau kita serius ngejalanin hubungan ini. aku mau serius sama kamu, Des” sambil mengusap pelipis desi dan memainkan rambut Desi yang tergerai indah di pangkuannya. Karena saat ini mereka ada di taman duduk santai sambil menikmati dinginnya malam yang terasa hangat bagi insan yang sedang dimabuk asmara itu.
“nggak segampang itu yo, kita beda. kita nggak mungkin bersama kecuali di antara kita ada yang mengalah”
“Sayang, kamu bicara apa sih? Kita akan tetap bersama, selamanya. Kamu ingat itu” sambil mencubit hidung Desi yang bangir. Desi hanya tertawa mendengar kata-kata yang diucapkan kekasih pujaannya tersebut. Mereka tidak tahu akan ada bahaya mengancam jika mereka terus bersama.

Seiring berjalannya waktu, orangtua Desi dan Rio sudah tahu tentang hubungan anak mereka, sedangkan Rio sudah banyak memberikan harapan dan janji kepada Desi untuk segera meminangnya. Sampai pada suatu masa, waktu itu Desi baru saja menginjakkan kaki di rumah, baru pulang dari kantor dan ibu Desi tidak seperti biasanya menunjukkan wajah yang seolah-olah ingin memakannya saat itu juga.

“Ibu kenapa bu?” seolah-olah tidak menghiraukan wajah ibunya yang merah padam menahan amarah
“Kamu putusin hubungan dengan lelaki itu!” Tiba-tiba saja ibunya memerintahkan hal yang tidak bisa ia lakukan sebelumnya
“Maksud ibu?” Pura-pura tidak tahu
“Jangan pura-pura nggak tau kamu, Des. Ibu udah tau semuanya tentang laki-laki itu”

“Memangnya apa salah Rio bu, sampe ibu semarah itu ke dia, bukannya selama ini ibu seneng sama Rio?” Sangkal Desi. Ya, memang Desi sering mengajak Rio ke rumahnya, memperkenalkan ia dengan ibunya dan kelihatannya ibunya juga menyukai Rio, lalu apa yang menjadi permasalahan ibunya saat ini?
“Ya! Memang iya ibu dulu suka sama Rio, tapi sekarang enggak!”
“Kenapa bu?”
“Kamu tau agama dia apa, Des?” Desi pun langsung terpegun menekur lantai mendengar pertanyaan ibunya, tak berani berkata sedikitpun. Memang dari sebelum Desi mempunyai kekasih pun ia sudah diperingatkan oleh ibunya supaya tidak memilih pasangan yang berbeda keyakinan karena dulu ayahnya juga merupakan seorang non-muslim dan menikahi ibunya ketika dia sudah menjadi seorang mualaf lalu pada saat Desi berumur 2 bulan ayahnya meninggalkan Ibunya dan Desi begitu saja, setelah selang 5 bulan kemudian dikabarkan ayah Desi telah menikah dengan perempuan lain dan sedang mengandung, yang lebih menyanyat hati lagi ayah Desi kembali lagi pada agama kelahirannya. Maka dari itu ibu Desi sangat trauma dan tidak ingin kejadian yang menimpa dirinya terulang kembali menimpa anak semata wayangnya. Dan oleh sebab itu Ibunya marah besar pada Desi saat tahu kalau Rio adalah non-muslim.

“Pokoknya ibu enggak mau tau, kamu putusin hubungan dengan lelaki itu atau kamu bakal kehilangan ibu”
“Bu! Apa-paan sih? Aku cinta sama Rio bu! Ibu nggak bisa ngehalangin Desi begitu aja, pokoknya apapun yang terjadi Desi nggak bakalan ngelepasin Rio, kita saling mencintai bu, kita juga udah berkomitmen kalau di antara kita ada yang mau ngalah, dia nggak sejahat dan sebejat ayah bu dia nggak seperti yang ibu kira!” PLLAAKK!! Tamparan penuh amarah mendarat mulus di pipi Desi dan berhasil membuat pipi desi merah sama seperti hatinya saat itu merah, marah, menahan amarah. Arrgghh! Dan saat itu juga ia berlari ke kamar membanting pintu sekeras-kerasnya dan menangis terisak-isak disebalik daun pintu. Ia tak pernah mengira kalau ibunya semarah itu dan tega melakukan ini padanya karena seumur hidupnya ia mendapat perlakuan yang baik sekali dari ibunya, ibunya tidak pernah sekalipun berucap kata-kata kasar apalagi sampai berlaku kasar padanya dan pada hari ini ibu sangat berbeda. Hikkss hikkss…

Pagi-pagi sekali Desi keluar dari rumah, lebih tepatnya minggat dan pergi ke rumah Yulia satu-satunya sahabat yang pastinya tahu dan mengerti akan keadaannya saat ini ia juga membawa koper besar, nampaknya ia tak main-main dengan keputusan yang diambilnya, tak lupa juga ia meninggalkan surat yang sengaja ia taruh di meja rias kamarnya.

Dua minggu sudah sejak kejadian itu Rio juga tak kunjung menampakkan dirinya, di kantor keterangan ia tidak masuk kerja hanya “urusan keluarga” lalu apakah selama itu sampai-sampai tak masuk kerja dalam kurun waktu 2 pekan? Dan apakah sepenting itu sampai-sampai tidak ada waktu sedikitpun untuk menghubungi Desi? Hari itu kekhawatiran Desi pun memuncak lalu ia putuskan untuk menemui Rio ke rumahnya setelah mendapat info alamat rumah Rio kepada teman sejawatnya, karena belum pernah sekalipun Rio mengajak ataupun sekedar memberitahukan di mana rumahnya kepada Desi. Sebenarnya apa yang disembunyikan Rio darinya?

Desi berlari sekuat yang ia bisa, ia tak mau menoleh ke belakang lagi sudah cukup untuk dirinya mengelami penderitaan ini, sudah cukup!
“Aku dijodohkan sama orangtuaku Des, maafin aku” ucap pria yang berumur seperempat abad itu dengan raut muka bersalah, saat itu mereka sedang duduk di kursi taman dekat rumah Rio.
“Tapi kenapa yo? Kenapa kamu mau haa! Kenapa!” Tanya Desi dengan tatapan kosong seolah-olah kenyataan sudah menghancurkan segala harapannya.
“Ini terpaksa aku lakuin karena mama, Des. Mama pengen aku menikah sama Sandra karena Mama aku sama Mamanya Sandra udah sepakat ngejodohin aku sama anaknya. Aku nggak ada niat sedikitpun buat ninggalin kamu, aku mencintaimu Desi!” ucap Rio sambil mendekatkan tubuh Desi menghadap dirinya. Lalu pantas saja tangan Desi menepis tangan Rio yang menghampiri kedua belah pundaknya.

Hingga langkahnya terhenti di jalan setapak menuju rumah ia dan ibunya tinggal, ia pun tidak sadar sudah berlari cukup jauh meninggalkan Rio dan kenangan bersamanya, saat ini yang diinginkannya hanyalah memeluk ibunya dan meminta maaf yang sebesar-besarnya, ia benar-benar sangat menyesal dengan apa yang telah ia perbuat kepada ibunya selama ini. Lalu ia memutuskan untuk berlari menelusuri jalan setapak yang sudah lama tak ia lalui semenjak 2 minggu terakhir ini, di tengah perjalanan ia teringat akan ibunya yang setiap ia pulang kerja selalu menanyakan kabarnya di kantor dan apa yang dilakukannya seharian penuh di tempat kerja, biasanya mereka duduk santai di sofa sambil menonton televisi. Bahagia bukan?. Dengan penuh linangan air mata penyesalan yang teramat-sangat kepada ibunya, ia melangkahkan kakinya kehalaman rumah tapi tunggu! orang-orang sangat ramai di dalam maupun di luar rumahnya, ia tidak sadar bendera kuning sudah berkibar di depan rumahnya. Oh Tuhannn…

Kulangkahkan kakiku perlahan-lahan diatas lantai rumah yang sangat kurindukan ini, mataku nanar mencari sosok wanita yang setia menemaniku selama ini, terlihat di ruang tamu orang-orang sedang membacakan surah yaasin untuk orang yang terbujur kaku di hadapan mereka, ITU IBUKUUU!!!. Seketika tangisku pecah, memecah keramaian alunan syahdu orang-orang yang sedang mendoakan ibuku. Segera kupeluk jasad ibu yang pucat pasi dan kuciumi keningnya untuk yang terakhir kali.
“Maafin Desi bu, desi banyak salah sama ibu. Desi anak yang durhaka bu, desi tega ninggalin ibu yang renta hanya demi kesenangan desi semata” air mataku berlinang tiada hentinya sambil memeluk ibu, ternyata ibu benar-benar menepati janjinya untuk meninggalkanku kalau sampai aku masih menjalin hubungan dengan si brengsek itu, tetapi semua sudah terlambat, sesal tiada guna, sementara Yulia sahabatku tiada henti-hentinya juga menghiburku dengan kata-kata motivasinya.

Ba’da dzuhur proses pemakaman ibu Desi selesai, sementara Desi hanya bisa meratapi nasibnya disela-sela itu air matanya terus mengalir tak dapat dibendung seolah-olah tidak percaya kalau ibunya pergi secepat itu meninggalkan dirinya. Penjelasan tetangga yang membuatnya semakin berdosa ialah selama ia kabur dari rumah, ibunya suka sakit-sakitan malahan penyakitnya sering kambuh. Memang ibunya desi mempunyai penyakit Hipertensi dan tidak boleh dibawa stress, mungkin karena dia ibunya seperti ini. Inilah yang membuatnya dirundung penyesalan yang tak berkesudahan. Kini dunia terasa lebih kejam dari sebelumnya, orang yang dicintainya dalam sekejap mata meninggalkannya dengan begitu saja.

Cerpen Karangan: Wirantiarumts
Facebook: Wirantiarum
Assalamu’alaikum, perkenalkan namaku Wiranti Arumtia Sari sekarang aku duduk di kelas XI Smkn 1 Sukadana (Kal-Bar) ini adalah kiriman pertama aku di Cerpenmu.com, jika ada kritik dan saran silahkan komen yaa.

Cerpen Different Faith merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Si Pipit Genit

Oleh:
Saat itu, si pemburu itu, dia berjalan sendirian. Dia berjalan pada jalan yang memang sudah sering dilaluinya. Dia tahu ini pekerjaannya, hobinya, yang memang begitulah dia. Dan saat dia

Mengerti

Oleh:
“Dari dulu aku selalu penasaran dengan pertanyaan-pertanyaan seperti… kenapa kita gak bisa terbang kayak burung, atau kenapa bulan berubah-ubah bentuknya, atau yang paling pingin kutanyain itu kenapa bumi berputar,”

Ajari Aku Teori Cinta (Part 2)

Oleh:
Aku adalah sosok yang dikenal dengan imej baik tanpa skandal apapun walaupun satrio selalu menggangguku tapi biasanya aku hanya diam tak peduli. Tapi entah kenapa rasanya sudah tak tahan

Jodohku Ternyata Kakak Kelasku

Oleh:
Sebut aja mawar, walaupun cuma sebatas julukan orang-orang iseng di sekitar dia.. Mawar.. mmm dia adalah sosok wanita periang, lugu, ramah, penyabar, humoris, apa adanya, tidak memilih dalam berteman

Ketika Senja Bertemu Fajar

Oleh:
Hari senin yang ceria yang mungkin saja menjadi bahagia, dimana tepat hari ini adalah hari pertamaku mengenakan seragam berwana putih abu abu, ya di SMA. “Ibu, Senja berangkat dulu.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *