Dilema Antara Cinta dan Persahabatan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Pengalaman Pribadi
Lolos moderasi pada: 12 August 2017

Kicau burung pipit di samping jendela kamar terdengar bahagia menyambut sang mentari yang mulai nampak malu-malu menunjukan keperkasaannya. Aku terbangun dan menyimak suara kicau burung pipit itu. Aku menerka-nerka apa yang sedang dikatakan burung pipit melalui kicauannya bila saja dia merangkai kata perkata, ataupun mungkin kicauannya dapat aku mengerti.
“Selamat pagi manusia. Lihatlah ke luar melalui jendela kamarmu. Hari ini sungguh indah…” Mungkin begitu yang dikicaukan pipit mungil itu. Mungkin juga burung pipit itu sedang berdo’a mengucap syukur kepada Sang Khalik? Aahhh sudahlah tidak usah dipikirkan. Bagaimanapun, suara kicauannya membuktikan bahwa ciptaan Tuhan itu sempurna.

Aku mulai termenung saat burung pipit itu terbang meninggalkan tempat peraduannya. Aku terhenyak dari lamunanku dan merasakan situasi yang berbeda. Aku merasa kesepian. “Apakah mungkin burung pipit tadi pejantan yang tidak memiliki pasangan atau mungkin ditinggal kekasihnya..?” Gumanku dalam hati. Akkhhh nasib burung itu tak jauh berbeda dengan keadaanku sekarang.

Sweety, merupakan sosok wanita yang spesial di mataku. Dia mampu mengendalikan emosinya saat marah, mampu menempatkan dirinya di manapun dan dengan siapapun, tegar dalam menghadapi setiap masalah, sikapnya yang lembut, tangguh serta dewasa, membuat aku luluh begitu saja. Dia wanita biasa seperti wanita lainnya dan dia juga sahabatku. Semua orang di lingkunganku, tahu akan hal itu, tetapi aku merasa berdosa, telah mengkhianati persahabatan kami. Dia sahabatku dan aku sahabatnya tapi rasa sayang dan cintaku pada dirinya, telah membutakan mata hatiku.

Aku tak tahu, apakah dia tahu perasaanku terhadapnya ataukah tidak, ataupun mungkin tahu tapi tak peduli sama sekali. Aku mencoba menerka-nerka dan mencari tahu namun tak ada tanda atau pun hal lain yang menunjukan dia merasakan hal yang sama. Sikapnya yang santai dan misterius, membuat aku takut dia meninggalkanku, karena rasaku padanya pasti akan merusak persahabatan kami. Tapi apa yang salah dengan rasa itu? Rasa sayang yang memang tumbuh dari hati bukan rasa yang dibuat-buat. Tapi aku takut untuk mengungkapkannya.

Kini aku sudah meninggalkan kota asalku dan juga Sweety, wanita yang sangat aku dambakan sebagai gadisku. Meninggalkan semua yang kenangan indah saat bersama dirinya. Sejak pertama bertemu, ada getar di hati walau hanya sekejap. Saat saling mengenal telah membingkai kenangan manis. Meski tak bisa bersama tapi bayangnya menghiasi hari–hariku. Meskipun jarak memisahkan tapi rasa sayang tetap ada walau hanya di hati saja.

Tak terasa mentari pagi sudah mulai menyengat kulitku yang sedikit gelap, menyadarkan aku dari lamunanku. Aku pun meninggalkan kasurku dan menuju kamar mandi untuk membasuh wajah. “Aaahhh segarnyaa…” gumanku. Percikan air di wajahku, memberikan semangat dan harapan untuk memulai aktifitas di pagi hari. Pekerjaan rumah yang biasanya dilakukan seorang wanita seperti mencuci, menyapu, memasak dan lain sebagainya aku lakoni tanpa malu-malu. “Sudahlah, dikerjakan saja. Hitung-hitung untuk bantu tugas istri jika nanti sudah beristri..” Gumanku. Hari-hari kulewati dengan penuh rasa hambar. Ini dikarenakan aku ditempatkan di kota baru, jauh dari dari kota di mana aku dan sahabatku Sweety, sering menghabiskan waktu bersama.

Aku merasa asing berada di tempat yang baru meski di dunia yang sama sebagai seorang perangkai kata dan gambar untuk memberi informasi kepada masyarakat. Tugasku sebagai seorang jurnalis, terkadang membantuku melupakan rasa kesepian itu. Meski kadang ada bayangnya saat sedang meliput. Entah kenapa rasa itu bisa hadir. Sering ku bertanya, mengapa harus dia yang jadi sahabatku. Mengapa rasa ini begitu berbeda antara dia dan temanku yang lain. Apakah mungkin ini jalan Tuhan untuk mengajarkanku arti cinta dan sahabat?

Entah dia merasakan kesepian yang sama atau tidak. Kadang pertanyaan itu muncul saat aku melihat kembali saat-saat bersama dulu di galeri android milikku. Sudah seminggu berlalu aku berada di tempat tugas yang baru namun belum ada satupun pesan melalui whats app ataupun short message service (sms) untuk sekedar menanyakan kabar atau hal lain. Aku pun berinisiatif untuk menghubunginya sebanyak tiga kali dan semua pesan yang aku kirim, selalu dibalasnya.

Berbeda saat masih bersama di satu kota dulu, yang sering saling menghubungi baik siang maupu malam. Apakah dia juga memiliki rasa yang sama? “Ahh gila.. Itu tidak mungkin.. Dia tidak sejelek aku yang mengkhianati persahabatan kami..” Gumanku lagi. Aku pun mencoba menghilangkan rasaku padanya dengan mencoba fokus pada tugasku sebagai seorang jurnalis namun dunia yang sama ini membuatku tak berdaya. Semakin kucoba, rasa itu semakin membuat ku tak berdaya. Aku pun melarikan diri ke minuman beralkohol, meski bukan seorang alkoholik, aku pun menenggak minuman setan tersebut. Dalam keadaan sempoyongan dan mabuk akibat minuman keras, namanya kupanggil berulang kali. Ahhh aku mungkin sudah mulai gila.

Hari-hari pun berlalu. Aku mulai sadar, bukan alcohol jalan keluar yang terbaik. Aku berserah kepada Sang Kuasa. Aku tahu, Tuhan pasti punya rencana untuk mempertemukan kami. Kini aku sudah terbiasa tanpa rasa tentang dirinya. Aku sudah mulai menikmati tugasku di tempat baru. Belajar untuk tetap menganggapnya sebagai sahabat membantuku membunuh rasaku padanya. Ditambah lagi, sahabatnya dari sahabatku juga terkadang menemaniku ngobrol walau hanya melalui via short message service (sms) ataupun bbm. Aku mengenalnya dengan baik. Banyak hal yang kami bicarakan.
Bahkan sudah beberapa kali bertemu dan diundang juga ke ulang tahunku dulu. Sebelum ke tempat tugas yang baru juga sempat menghabiskan waktu bersama. Obrolan kami hanya di saat selesai mengerjakan tugas kami. Biasanya pukul 7 malam, kami saling mengabarkan keadaan kami usai seharian bekerja. Harus kuakui, hanya dia yang menemani hari-hariku walaupun hanya sekedar saling menanyakan kabar. Walaupun demikian, dia membuatku merasa nyaman.

Rasa percaya diriku mulai tumbuh kembali. Entah sejak kapan rasa itu muncul, aku pun jatuh cinta pada sahabat dari sahabatku. Dengan sedikit bercanda agar dia tidak tersinggung ataupun marah, aku memintanya untuk tetap seperti statusnya sekarang yang masih sendiri. Seperti kata pepatah, gayung bersambut, dirinya juga mengiyakan permintaanku itu. Hari-hariku mulai berbeda. Aku merasa seperti kembali menemukan jalanku untuk mencintai seorang wanita meski dia sahabat dari sahabatku, wanita yang pernah memberi warna tersendiri dalam kisahku.

Pikirku, long distance relationship (LDR) atau hubungan jarak jauh bakal kujalani bersama dirinya. Ini akan menjadi pengalaman baru dan suatu pembelajaran ujian kesetiaan bagiku. Suatu kisah yang sempurna jika lulus menghadapi ujian cinta ini. Aku berjanji akan melamar dirinya jika aku pulang nanti. Dirinya juga mengiyakan. Betapa bahagianya membaca pesan balasanya itu. Kurasakan darahku berdesir cepat mengitari tubuhku melewati setiap urat syaraf dan nadiku. Sebegitu cepatnya dia mengiyakan permintaanku membuat aku begitu bahagia dan tak ingin menanyakan lebih jauh soal kisah cintanya bahkan lupa jika jawabannya terlalu cepat.

Suatu ketika, disaat malam minggu, tak sabar aku ingin mengobrol bersamanya.. Kukirimkan pesan singkat melalui operator andalan kami, Indosat. Namun kondisi tempat tugasku yang belum menangkap dengan baik jaringan indosat, membuat pesan singkat yang kukirim padanya, sedikit terhambat diterimanya. Jarum jam menunjukan pukul 10 malam. Ponselku berdering. Kulihat nama si pengirim pesan, hatiku kegirangan. “Dimp” itu nama special yang kuberikan untuk kontaknya di ponselku. Nama yang kuberikan sesuai dengan paras wajahnya cantik dan juga karena sebuah lubang imut di pipi kirinya. Senyumannya seperti sebuah undangan buat imajinasiku, untuk terbang sejauh-jauhnya, berkembang seliar-liarnya. Kata SETIA bisa terwujud di dalam hubungan kami ini jika ada sikap saling berkomitmen dan saling mengerti dari awal.

Terkadang air mata adalah tanda kebahagiaan yang tak mampu di ucapkan, dan senyuman terkadang adalah tanda rasa sakit yang mencoba untuk kuat. Lagi-lagi aku jatuh cinta. Aku jatuh cinta pada sahabat dari sahabatku sendiri. Berjalannya waktu dan jarak kami yang terbentang jauh, dia mulai mencintai pria lain yang juga temannya sewaktu masih duduk di bangku sekolah. Ia sendiri yang menceritakan hubungan mereka padaku. Tak ada yang disalahkan baik aku, dia, waktu maupun jarak, dan aku tak bisa menolak hubungan mereka, toh aku pun belum jadi kekasihnya juga. Tapi hal itu membuatku kembali merana. Dosa apa yang telah aku lakukan sehingga mereka yang berada di dekatku, yang menjadi bagian dalam hidupku, seolah selalu meninggalkanku saat ada rasa cinta yang tumbuh.

Dengan semua dilema yang ada, aku memutuskan untuk kembali ke kota asalku, dimana semuanya berawal meski kesempatan untuk karirku sebenarnya terbuka lebar di kota ini. Keputusan yang sangat beresiko namun aku telah siap sekalipun harus memulai semuanya dari awal lagi. Rutinitasku sebagai seorang jurnalis, masih aku lakoni di kota asalku, aku kembali berbaur dengan semua yang aku tinggalkan. Meskipun demikian, ada rasa yang berbeda. Aku tidak se-energik dahulu seperti sebelum meninggalkan kotaku ini.

Tak kusangka, kejatuhanku tidak cukup sampai disitu saja. Seorang wanita yang aku kagumi saat pertama kali aku masuk ke dalam dunia jurnalis, mulai menjalin hubungan pertemanan denganku setelah aktifitas kesehariannya, aku buatkan dalam sebuah video. Dia menyukai video itu. Aku pun tertarik padanya. Entah mungkin hanya sekedar menjadi pelarian atau apa pun itu, aku tak peduli. Aku mencari tahu semua hal tentang dirinya, masa lalunya, kehidupannya dan semua tentang dirinya.

Kisahnya berbeda dengan dua wanita yang ada dalam hidupku sebelumnya. Dia ditinggalkan oleh suaminya. Meski statusnya sudah pernah menikah, namun aku jatuh cinta padanya. Getaran di hatiku yang lama haus akan belaian seorang wanita seperti saat dulu ada yang membisikan kata ‘aku cinta padamu’, aku merindukannya. Akhirnya, dari seorang teman sesama jurnalis, dia mendapat informasi jika aku menyukai dirinya.
Namun keberanianku untuk mengungkapkan rasa cinta itu sepertinya sudah hilang. Aku takut mengungkapkan rasa itu pada dia yang aku panggil “Heartbreak girl”, seperti kisah hidupnya. Aku takut tak mampu menyaingi gaya hidupnya. Apalagi aku dari keluarga yang sederhana. Aku takut dia seperti yang lain, juga akan meninggalkanku. Banyak ketakutanku yang membuat aku tak berani jatuh cinta lagi. Aku tahu, memendam perasaan cinta adalah sebuah kejahatan. Karena aku telah membunuh sesuatu yang punya kesempatan untuk hidup dan tumbuh dengan indah.

Aku pun tersadar semua hanya sebagai pelarian, perasaanku pada sahabatku yang awalnya sudah berhasil aku hilangkan, perlahan tumbuh kembali. Aku tak mampu lagi menyembunyikan perasaan itu. Wajahnya kembali selalu terbayang saat mentari pagi mulai menampakan silaunya dengan setitik embun pagi yang bergantung di dedaunan.

Aku tahu cinta itu seperti angin. Kamu tidak akan pernah bisa melihatnya. Tetapi akan merasakannya, disetiap detak jantung, di setiap helaan nafas, di setiap aliran darah. Karena cinta itu ada dalam dirimu. Memberikan seluruh cintamu kepada seseorang bukanlah jaminan dia akan membalas cintamu. Jangan mengharapkan balasan cinta, tunggulah sampai cinta berkembang di hatinya, tetapi jika tidak, berbahagialah karena cinta pernah tumbuh di hatimu. Cinta masih bisa berjalan merayap, di satu tempat di mana air sudah tidak bisa mengalir. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Dan aku pun kalah, namun ini untuk kebaikan semua. Aku merelakan perasaanku demi persahabatan kami. Aku tahu, semua sudah diatur oleh Sang Kuasa. Aku memberanikan diri, mengungkapkan perasaanku pada sahabatku sendiri di malam terakhir penghujung tahun. “Sahabatku, terima kasih telah menganggapku sebagai seorang teman, sahabat, maupun saudara. Maaf untuk semua yang telah terjadi di tahun 2016 jika ada hal yang telah membuatmu kecewa ataupun marah. Terima kasih untuk semua pengertian, perhatian, teguran, maupun teguran serta hal positif lain yang telah membangun. maafkan juga telah mengkhianati semua dengan adanya rasa cinta ini…” meski hanya diungkap lewat sebuah pesan WhatsApp, namun aku merasa lega sudah melawan ketakutanku sendiri.

Meski bukan sebagai kekasihku, namun aku ingin dekat dirimu, sampai tak ada jarak yang memisahkan, sampai bercampur tetes air mata bahagia, sampai selamanya. Saat pertama kali bertemu, dirimu selalu hadir dalam hatiku. Waktu berjalan bersama bayangmu, inginnya selalu dekat denganmu. Cinta adalah saling memiliki. Kasih sayang adalah saling memberi. Cinta adalah kejujuran. Mencintai bukan untuk saling menghianati. Saat hujan, lihatlah ke luar jendela. Coba hitung titik air yang jatuh dari langit, sebanyak itulah aku merindukanmu.

Seandainya bisa, aku ingin menulis namamu di bintang, agar semua orang tahu, bahwa aku selalu mencintaimu sahabatku. Seperti kata pujangga, janganlah mencintai seseorang seperti bunga, karena bunga mati kala musim berganti. Cintailah mereka seperti sungai, karena sungai mengalir selamanya. Cinta tak harus berakhir bahagia, karena cinta tidak harus berakhir.

Untuk apa bicara cinta, jika hatimu tak terbuka. Untuk apa bicara cinta, jika matamu tak bercahaya. Untuk apa bicara cinta, jika hanya membuatmu menderita. Bagiku, dirimu adalah sang cinta aku ingin dekat dirimu. Sampai tak ada jarak yang memisahkan. Sampai bercampur tetes air mata bahagia, sampai selamanya.

Dulu aku pernah bilang bahwa aku mencintaimu. Itu semua bohong. Karena sekarang aku baru menyadari, bahwa ternyata aku sangat mencintaimu. Aku tahu aku mencintaimu. Tepat ketika aku menyadari, bahwa tidak ada orang lain yang bisa membuatku tersenyum, menangis, dan membuatku mengingat semua itu dalam waktu yang sama.

Jikalau hanya luka yang kau dapat dari cinta? maka matikanlah cinta itu!!! tapi kau tak perlu mati bersamanya. Mencintai bukanlah tentang memberikan yang terbaik dalam kelebihan, tetapi memberikan yang terbaik dalam kekurangan. Cintaku padamu memang tak akan berakhir bahagia, karena yang kutawarkan untukmu adalah cinta yang tak punya akhir SAHABATKU.

Cerpen Karangan: Efron Suna
Facebook: Naru To Efron
Nama: Efron Suna
TTL: Uibua, 10 April 1988
Alamat: Jalan Kecapi RT 009 RW 005, Kelurahan Nunbaun Delha, Kota Kupang, NTT

Cerpen Dilema Antara Cinta dan Persahabatan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cecilia Drawing

Oleh:
Sepertinya aku harus berimajinasi! Setidaknya untuk memberikan sedikit pencerahan pada saraf otakku yang sama sekali tidak berfungsi untuk menemukan ide baru dalam mengatasi masalahku. “Huuhh…,” aku menghela napas panjang,

Dia

Oleh:
Terkadang aku bertanya, “Siapakah dia sebenarnya?” Dia yang sering membuatku tertawa, marah dan sedih. Dia yang memberi warna dalam hari-hariku yang kelabu. Dia dengan segala perhatian dan sikap over

Kuihat Lirihan Suara

Oleh:
Diandra. Di tengah lesung pipit manismu yang teraba, mendamaikan setiap senyap yang merambati dinding-dinding hati. Di sisi maya aku bisa melihat, meski hanya mimpi yang takkan pernah menjadi nyata.

Kepercayaan

Oleh:
Namaku Nela, seorang mahasiswi semester 4. Kurang lebih satu tahun belakangan ini aku menjalani hari-hariku seorang diri, tanpa adanya orang yang begitu spesial. Aku bahagia dan tidak merasa kesepian

Welcome Exam I am Ready!

Oleh:
malam kian larut waktunyatarik selimut angin berhembus lembut ,malam yang sunyi, hanya deru kendaraan roda 2 dan roda 4 yang terdengar, lampu2 di setiap rumah masih menyala hanya pintu2

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *