Dimensi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 23 August 2018

“Tapi sekarang aku cinta sama kamu Na” Arfan berkata agak keras karena Runa berada agak jauh darinya.

Runa hanya diam. Memandang Arfan sebentar.

“Jangan pergi” Arfan lari, tapi tiba-tiba cahaya silau menyergap tubuh Runa. Runa menghilang.

Siang itu, di pojok lapangan, Arfan melamun sendirian di bawah pohon waru. wajahnya murung. Dalam kepalanya berkali-kali terngiang tentang apa yang terjadi padanya.

“Kalian kenapa sih nggak pernah sadar, ada Arfan” ujar Arfan disuatu senja. Senja yang suram. Di antara kedua orangtuanya yang sedang bertengkar panas.

“Kalo gitu cerai” kata-kata yang menghancurkan Arfan seketika. Tangan Arfan diperebutkan, tapi Arfan memberontak lalu lari. Pergi.

“Puas kalian” Teriak Arfan di depan orangtuanya yang berusaha mengejar, selang sebentar, samar samar Arfan mendengar ada cek-cok lagi. Ada salah satu yang menangis sambil berlari.

Sebenarnya, tidak terbesit sedikit pun Di pikiran Arfan untuk kabur. Dia menyayangi kedua orangtuanya, keduanya. Lengkap. Karena mereka menyakiti hati Arfan, sehingga Arfan tidak bisa melihat apapun selain keegoisan yang Arfan benci.

Itu terjadi kemarin, sampai sekarang, belum ada siapapun dari kedua orangtua Arfan yang berhasil menemukan Arfan, memang Arfan berada di tempat agak jauh dari rumahnya, dan belum pernah dia datangi sebelumnya. Entah kenapa, tapi dia tertarik berada di tempat itu. Di lapangan luas dengan pohon waru di salah satu sisinya.

Selang beberapa waktu, hujan turun, awalnya Arfan masih dapat dilindungi daun daun waru yang berbentuk menyerupai hati itu, Arfan tersenyum getir, dia memang punya masalah dengan hati, seiring dengan daun daun itu yang mulai melemah. Sudah tidak mampu memayungi Arfan lagi.

Petir terus berkumandang, menghujat gendang telinga Arfan berkali-kali. Sampai ada satu petir yang sangat keras, menghantam tepat di tengah lapangan. Anehnya, petir itu menyisakan gadis cantik tergeletak pingsan.

“Kamu siapa, kok bisa muncul dari petir sih, aneh” gadis itu sadar, dan kata itu yang langsung meluncur dari Arfan. Arfan tadi manidurkan gadis itu di pangkuannya. Dan membawanya berteduh di bawah pohon waru yang tadi menjadi tempat Arfan.

“Kamu yang siapa? Aku ada di mana?” gadis itu mencoba bangun “kamu bilang aku muncul dari petir?”
“Iya…”
“Nama aku Runa, tapi siapa aku, aku juga manusia. Tapi bukan dari sini, tempatku nggak kaya gini. Beda jauh. Lebih bagus segala-galanya ketimbang di sini, dan…” kata-kata Runa menggantung, tatapannya murung.

“Kok jadi sedih, dramatis banget”
“Nggak ngaca ya? mata kamu tuh bendul abis nangis. Kamu sama aja”
“Udah lah nggak usah dibahas” Arfan memalingkan wajahnya, menyembunyikan air mata yang jatuh.

“Aku salah ya?”
“Aku bakal cerita sama kamu” Arfan menceritakan semuanya, tanpa ada canggung sedikitpun, walaupun dia sedang menceritakan hal yang sangat Private kepada orang yang baru dia kenal beberapa menit yang lalu.

“Kamu tau apa penyebab mereka berantem? kamu tau kesalahannya di siapa?” Runa langsung menyambar, Arfan menggeleng. Arfan memang tidak tahu, Karena saat cek-cok semua persoalan jadi meluas, Arfan selalu menutup telinganya dan menangis. Tapi ada satu kata yang remang-remang dapat Arfan cerna. ‘Apa kurangnya aku sih mas! Kamu kok tega sih’

“Perempuan mana juga nggak bakal terima, kalo menurut aku sih, kamu nggak perlu kabur, harusnya kamu dukung ibu kamu. Nggak ada yang perlu dijauhin. Yang dijauhin itu sikap ayah kamu. Nggak boleh ditiru sama sekali”
“Mereka udah membangun komitmen, mereka egois” Arfan masih belum mengerti
Runa terdiam, menunggu beberapa saat “kamu masih beruntung, daripada aku, orangtuaku udah nggak ada. Gara-gara….”
“Apa?..”
Runa masih diam, susah untuk menjelaskan semua, dia masih terpukul.

Perlahan-lahan waktu mengalir, sudah seminggu semenjak kehadiran Runa, Runa sudah meluluhkan hati Arfan, Arfan tinggal bersama ibunya. Ayahnya? Dia menikah lagi. Walaupun sebenarnya Arfan masih belum terima, tapi apa daya, itu yang terjadi. Semua akan adil seadil adilnya. Bagi arfan, bersama Runa dan ibunya sudah cukup. Runa sangat membantunya.

“Kamu pinter ya, kaya anak ajaib tau nggak”

Runa memang sering mengeluarkan alat yang tak terduga, seperti dalam dunia dimana teknologi sudah sangat maju.

“Ini mah biasa di dunia aku”
“Emang kamu dari mana? Udah deh nggak usah kebanyakan ngayal” Arfan terkekeh “mungkin kamu kesamber petir, terus kebawa deh sampe lapangan. Udah 2017 kali”
“2017? Bukan 3017?” Runa berhenti “jadi ini masa lalu, dan dunia aku itu masa depan!” Arfan melongo “aku bakal cerita. jadi gini, dunia aku, maksudnya masa depan itu teknologi udah berkembang pesat. tapi ricuh. Nuklir itu udah jadi senjata lumrah, pokoknya nggak terarah deh” nada suara Runa melemah “orangtua aku meninggal gara gara itu” Runa menunduk, sekedar menyeka air matanya. “Teknologi membantu, atau membunuh” “jadi semua harus dibenahi dari sekarang, walaupun nggak bisa dicegah gitu aja”

“Jadi tindakan kamu ngenalin alat-alat itu ke kita salah dong”
“Aku cuma pake teknologi ramah lingkungan. Dan cuma buat bantu pekerjaan sehari hari. Kamu pikir aku bakal pake teknologi yang sembarangan walau udah tau akibatnya?” Runa tidak terima “Tapi kabar bahagianya bukan itu, sekarang aku udah ngerti apa masalahnya, jadi itu mesin waktu. Aku bisa balik lagi” Runa girang
“Balik lagi?” Nada suara Arfan melemah “kenapa? bukannya aman di sini”
“Karena keharusan aku buat balik lagi, ini nggak bener Fan, nanti dunia bisa timpang, lebih nggak keatur. Bayangin aja kalo aku di waktu yang lain juga melakukan hal sama, bakal ada berapa aku di satu waktu?”

“Aku harus balik” Runa pergi,
“Tapi sekarang aku cinta sama kamu na” Di lapangan. Beberapa detik, sebelum Runa menghilang.

“Makasih ya na! Aku seneng kamu udah pernah ada di hidupku, semoga aku bisa nemuin kamu lagi” Arfan tersenyum getir. Mencoba iklas.

“Plakkk…”
Ada sesuatu yang menipuk kepala Arfan
“maaf! Nggak sengaja”
“Runa?”
“Rena, nama aku Rena. Kamu tau namaku dari mana? emang sih nebaknya salah, tapi hampir meleset dikit” “eh ya kamu anak sini kan? temenin jalan jalan yok, soalnya aku baru di sini, jadi pingin kenalan sama tempat ini”

“Dari?”
“Bandung”
“Bukan 3017?”
“Nggak usah ngayal deh, udah 2017 kali”
Arfan terkekeh
“Ayok…”

Karena cinta tidak pernah salah -Arfan dan Rena(Runa)- Yang salah adalah ketika salah mengenali cinta -orang tua Arfan-

Cerpen Karangan: Aghnia Nur Anisa
Blog / Facebook: Aghnia Nur Anissa
saya berharap kalian menyukainya. kalo udah baca dilanjutkan komen ya.

Cerpen Dimensi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Secret Necklace

Oleh:
Hai teman-teman, perkenalkan namaku Restyana Audrey Veretta dipanggil Retta. Aku anak 1 dari 2 bersaudara, nama adikku Veronisa Putri Kelsey dipanggil kelsey. Kami bersekolah di Jeorgenia High school, aku

Manja

Oleh:
“Ayo Bay sms aku” gumam Deby pelan. Jam yang menempel di dinding kamar Deby menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Matanya sudah tak kuasa menahan kantuk. Deby sengaja tidak tidur

Persimpangan

Oleh:
Persimpangan itu terdengar seperti “banyak jalan yang harus kau pilih dengan tepat”. Sekali kau berbelok ke arah yang salah, susah untuk kembali lagi. Hal seperti itu yang aku alami

Pangeran 15 Menit

Oleh:
“Tidak ku sangka 15 menit yang cukup singkat menjadi detik – detik terakhir orang itu. orang yang ku tempatkan di tempat khusus di hatiku. Dialah Pangeran 15 Menit…” Namaku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *