Dinda (Cinta Yang Terpendam)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 27 January 2018

Bel bunyi masuk kuliah berbunyi, aku lari pontang-panting karena memang aku telat memasuki kelas dari dosen killer yang bisanya cuma pasang wajah masam yang membuat jengkel seisi kelas. Hari itu aku telat dengan mahasiswi paling pintar di fakultasku.

Aku melihatnya begitu ngos-ngosan yang sepertinya juga lari-larian demi masuk ke kelasnya Pak Surahono yang super killer.
“Huuuh.. Hoooh.. tumben kamu telat Din,” sapaku yang heran melihatnya terlambat datang ke kampus.
“Lho masnya juga satu kelas sama aku? Kok gak pernah kelihatan yah?” jawabnya dengan nafas yang terengah.
Jleebb rasanya menusuk di jantungku, sudah hampir UTS dan dia tidak menyadariku kalau setiap hari aku satu kelas sama dia. Bagaikan tidak dianggap senior sama dia, kan sungguh menyebalkan sekali rasanya.

Tok… tok… tok… bunyi pintu kelas si dosen killer. Pletakk… muka terkena lempar penghapus sesaat tepat aku membuka pintu kelas. Kesal rasa di dadaku, tapi aku pastikan harus meminta maaf ke dia, karena memang ini kesalahanku. “Maaf pak saya terlambat, habisnya tadi saya kehabisan bensin Pak,” ucapku sambil menundukkan kepalaku.

Dia tidak menggubrisku sama sekali dan langsung menatap tajam ke arah Dinda yang berdiri tepat di sampingku dan tertunduk takut. Pak Surahono langsung mendatangi kami berdua dengan jalannya yang tegas dan gagah, ia langsung berteriak dengan kerasnya.

“KELUARRRR”. Aku mendengarnya berkata seperti itu pada Dinda, aku langsung maju ke hadapan Pak Dosen agar tidak mematahkan semangat dari penerus bangsa yang berpotensi.
“Pak maaf, tunggu sebentar, kalau saya yang keluar kelas tidak masalah Pak. Maafkan Dinda yang juga telat Pak, karena dia tadi bantu saya mendorong motor saat kehabisan bensin, izinkan dia masuk,” ucapku santai.
“BENAR ITU DIN,” teriak dosen itu tegas.

Dinda langsung terkejut dengan ucapan yang keluar dari mulutku dan berani melawan dosen killer di fakultas. Ia masih bingung dan langsung aku senggol lengannya untuk memberi kode.
“I.. i.. iya Pak, maafkan saya Pak,” ucap Dinda yang sedikit linglung.
“Ya sudah kamu masuk Din, Kamu keluar sana, dasar pemalas!!!”

Aku pun langsung keluar dan menuju ruang tata usaha fakultasku untuk melanjutkan skripsiku yang sudah aku tunda beberapa bulan terakhir ini. Dua jam lewat aku sudah ada di Tata Usaha Fakultasku yang memang memiliki koneksi WiFi super cepat dan aku juga tidak lupa untuk mendownload lagu-lagu hits.

Tiba-tiba si Boni salah satu teman sekelasku datang dan telah selesai mengikuti mata kuliah Pak Surahono. Ia menghampiriku dengan caranya seperti biasanya yang berisik dan sangat mengganggu, meski ia berisik dia ini tetap sahabat terbaik selama ini.

“Woooi Rik.. Erik.. kamu gila ya, mengorbankan bolos satu mata kuliah itu demi Dinda,” ucapnya yang meluap-luap.
“Heh, gimana ya Bon, habisnya sayangkan kalau anak pintar dan niat kuliah seperti Dinda bolos kelas cuma gara-gara telat beberapa menit saja, lagian aku yakin si Killer itu juga baru masukkan?”
“Tapi kamu kan sudah semester terakhir my bro, apalagi kamu sudah dua kali gagal di mata kuliah Pak Surahono,”

“Sudahlah Bon, bolos satu kali tidak akan mempengaruhi nilaiku nantinya, apalagi kuis kemarin aku bisa mendapat nilai yang cukup baik di kelas hehehe,”
“Congkak amat, padahal ya nyontek aku hahaha, ayo pulang, waktunya main Dota ini,” ajaknya.
“Sebentar bro, aku mau ngumpulin skripsiku dulu ke Dospemku, mumpung dia datang ke kampus,”

Aku dan Boni berjalan keluar dari ruang tata usaha, kemudian aku masuk ke ruang dosen pembimbingku dengan sedikit ragu mengenai skripsiku. Dan aku terkejut ternyata ada Dinda yang sedang bertemu dengan Dosen pembimbingku, kutunggu hingga mereka berdua selesai mengobrol.

Dinda mengejutkanku dengan tiba-tiba menarik tanganku yang sedang sibuk membuka setiap lembaran skripsiku. “Eh.. Eh.. Eh.. Din ada apa? Sebentar aku mau ngumpulin skripsiku ke Bu Yeti. Bu.. Bu.. ini skripsinya mohon diperiksa dengan teliti, sudah 4 bulan lo Bu’ saya revisi berkali-kali,” ucapku langsung meninggalkan ruangan Bu Yeti.
“Mas, kamu tadi ngapain sampai kayak gitu demi aku biar dapat izin kelas?”
“Heh? Aku cuma gak mau aja, mahasiswa pintar dan cerdas kayak kamu dihukum hanya karena telat beberapa menit hehehe” ucapku sambil mengusap kepalanya.

“Mas aku akan balas budi sama kamu, aku akan mengajari mata kuliah Pak Surahono sampai kamu bisa lulus di mata kuliahnya,” ucapnya dengan semangat.
“Apa sih Din, nggak usah, kamu itu…,”

Plakkkk… tangan seseorang bersarang di wajahku, aku memegangi pipiku yang sudah membekas merah. Lha kok tiba-tiba si Teresia tiba-tiba di depanku dengan mata melotot dan ekspresi wajah yang keliatannya begitu marah.
“Oh gitu, dua hari gak ada kabar, ternyata sekarang sudah dapat gebetan baru,” ucap Teresia dengan nada tinggi.
“Kamu apa sih Ter? Sakit tau!!!”
“Sudah berani ya elus-elus rambut cewek lain di depanku, jadi ini pacar barumu,” ucapnya marah dengan menunjuk-nunjuk muka Dinda.

“Heh.. tunggu dulu kamu salah paham Ter, dia adik kelasku doang kok,”
Plakkkkk.. “Dasar Playboy, katanya mau berubah, tapi tetep aja seperti itu, kita putus,” ucapnya langsung pergi.

“Mas maaf ya gara-gara aku kamu jadi putus sama cewekmu,” ucap Dinda yang ketakutan.
“Sudah Din, kamu jangan ngomong lagi, cukup ajari aku saja mata kuliah si Killer itu, jangan pedulikan Teresia yang gak jelas itu,” ucapku sambil memegangi kedua pipiku yang masih panas karena tamparan si Tere.

Setelah aku putus dengan Tere, bisa dikatakan aku bisa langsung dekat dengan Dinda, namun aku dekat dengan Dinda bukan karena bermaksud untuk memacarinya, melainkan aku harus bisa menembus targetku untuk lulus tahun ini. Segala cara dilakukan Dinda demi aku agar bisa cepat memahami mata kuliah yang super rumit itu.

Semua mata kuliah yang menjadi tanggunganku sudah lulus semua kali ini, aku dan Dinda pun tetap berteman baik, bahkan terkadang kita juga melakukan dating, ya karena kita sama-sama jomblo jadi ya it’s okey dong kalau jalan-jalan bareng. Meskipun banyak cowok lain yang iri, karena aku bisa jalan dengan cewek pintar yang cantik. Saat aku jalan berdua dengannya tiba-tiba dia menyeletuk sebuah kata yang membuatku kaget.

“Mas, kata temen-temen kamu itu playboy ya hehehehe, kok bisa ya jelek gini jadi playboy hehehe,” canda Dinda menyindir.
“Gimana ya Din, wajar dong aku kan berkharisma hahaha, lagian itu masa lalu Din, buktinya sekarang jomblo Din hehehe, emang gak boleh apa jelek-jelek gini jadi playboy hahaha,”
“Sombong amat sih kamu mas hahaha emang sekarang kenapa jomblo?”
“Sekarang aku jomblo, kenapa ya? Hmmm ada dua alasan sih, pertama aku harus mencapai targetku, yaitu lulus tahun ini, dan yang kedua aku lagi jatuh hati sama seorang cewek tapi gak bisa bilang ke dia,”

“Ciiiiie hari gini playboy bisa jatuh cinta, hahaha mitos itu mas, mitos hahaha,” ejeknya.
“Bukan mitos itu, tapi fakta yang aku rasakan. Sebenernya aku ini kalau sudah jatuh cinta sama seseorang, membuat dia menangis itu dosa besar buatku, maka dari itu setiap aku bener-bener jatuh cinta aku gak mau ngomong ke orang itu, karena aku sudah di cap playboy dan gak mau nyakitin hatinya,”.
“Widiiih, dalem banget ngomongnya mas, seriusan itu mas hahaha? Emangnya mas suka sama siapa? Hmmm atau jangan-jangan sama aku ya? Hayoo ngaku!!!”

“Eh nggak kok nggak, GR banget sih kamu, nanti pas aku wisuda aku bakal ungkapin perasaanku ke cewek spesial itu,”
“Hahaha lagian kalau kamu suka aku lo ya akunya yang gak mau mas hehehe. Wooo sespesial apa dia mas, semoga dia orang yang baik mas, karena kalau penilaianku kamu itu orang baik mas, selama kita kenal beberapa waktu ini,”

Mendengar ucapannya yang polos itu, memang mungkin aku tidak pantas untuk mendapatkan wanita sehebat Dinda, karena sejujurnya aku sudah jatuh hati padanya sejak dia mulai ikhlas membantu orang bodoh sepertiku ini mengenai kuliah. Aku tidak akan menyesal nantinya jika aku harus berpisah dengannya setelah lulus kuliah, apalagi aku kan bukan siapa-siapanya dia dan hanya hari kelulusanku itulah kesempatanku untuk ungkapkan isi hatiku.

Akhir bulan Maret datang, waktu serasa berputar begitu cepat hari-hariku bersama Dinda akan segera berakhir setelah aku ungkapkan isi hatiku hari ini. Dadaku begitu cepat berdetak bukan karena aku akan menerima ijazah, namun kalimat apa nanti yang akan kutakan saat diatas panggung untuk ungkapkan isi hatiku.

Setiap nama mahasiswa mulai dipanggil satu persatu dari setiap fakultas masing-masing, kegugupanku sudah mencapai puncaknya, bahkan aku tak mendengar namaku saat dipanggil. “Rik.. Erik.. woooi, namamu dipanggil itu, cepat naik sana, sebagai yang terbaik di fakultas kamu harus memberi sambutan,” panggil Boni yang duduk disampingku.

Kulangkahkan kakiku ke atas mimbar sambutan, aku sedikit bingung dan tidak tahu mau mengatakan apa. Sesampaiku di mimbar aku menghela nafas sejenak untuk menenangkan hatiku yang benar-benar kacau ketika melihat Dinda ada di belakang bangku para wisudawan.
Terdengar suara pembawa acara mempersilahkan aku untuk memberikan sepatah dua patah kata untuk mengungkapkan perasaan lulus.

“Cek.. cek.. Selamat siang, saya bangga bisa lulus dengan nilai terbaik. Saya ucapkan terima kasih pada seluruh dosen, jajaran dekan, sampai jajaran rektorat yang telah mengizinkan saya untuk bisa lulus tahun ini. Dan yang jelas untuk orang-orang yang telah membantu dan mensupport saya, terutama mbah google hehehe. Dan satu lagi, aku ucapkan terima kasih banyak kepada orang yang selama ini aku sayang dan aku cinta, terima kasih karena selalu membantuku dengan penuh semangat, Dinda,”

Setelah kuucapkan semua apa yang ada di otakku, aku melihat ekspresi Dinda dari atas mimbar yang seakan terkejut dan tak percaya dengan ucapanku ini. Namun janjiku setelah ungkapkan perasaanku adalah untuk pergi menjauh darinya agar dia tidak tersakiti olehku yang sudah di cap buruk oleh kebanyakan wanita.

Seusai aku turun dari mimbar dan kembali ke tempat dudukku, aku memutuskan untuk langsung keluar dari acara dan meninggalkan upacara wisuda secara diam-diam agar Dinda tidak menunggu di luar setelah acara selesai. Kali ini aku lepaskan orang yang paling aku sayang demi kebahagiaannya, apalagi aku bukanlah tipe pria yang diidamkan olehnya.

Setelah lulusan selesei aku sudah siapkan handphone yang sudah terisi dari daftar teman-temanku dan memutuskan untuk mematikan kartu perdana yang diketahui oleh Dinda. Mungkin banyak orang yang mengatakan bahwa aku adalah pecundang, tapi sayangnya aku tidak peduli. Aku berpikir hal ini adalah terbaik untuk Dinda dan berdoa agar dia bisa mendapatkan seseorang yang diinginkan.

Pasca kelulusan Aku dan Boni pun mendapatkan pekerjaan di perusahaan properti ternama di Jakarta, kami juga kebetulan ditempatkan di satu tim sehingga kami pun juga kompak dalam penjualan properti dan furniture, karena kami bekerja sebagai sales marketing.

“Tumben kamu ganti nomer Handphone Rik, kan kamu paling anti sama ganti nomer,” tanya Boni.
“Iya Bon, habisnya paketan internetnya mahal sih, jadi ya aku ganti yang baru saja kan banyak promo hehehe,”
“Seriusan? Ini gak karena menghindari Dinda kan?”
“Itu salah satunya Bon, aku gak mau ganggu dia yang sekarang lagi skripsi dan sebelum aku ucapkan perasaanku di mimbar waktu itu, dia juga sudah ngomong kalau dia gak bakalan memiliki rasa sama aku,”

“Ah ya sudahlah, gak usah dibahas, kamu harus cepat move on Rik,”
“Inshaallah deh Bon, dipikirin nanti aja soal itu, yang penting kita target dulu dalam penjualan rumah biar cepet dapat bonus dari Pak Bos hehehe,”
“Siap komandan hehehe,”

Selang tiga tahun kami bekerja, Boni pun akhirnya menikah duluan dari pada aku yang dulunya sering gonta-ganti pacar, dan yang lebih kerennya lagi dia bisa menaklukan manajer kami yang super cantik dan seksi. Aku datang ke pesta pernikahan sahabatku yang super mewah itu sendirian dan aku begitu bangga padanya.
“Boniii my best friend, selamat ya Bon, aku turut senang kamu bisa nikah duluan dari pada aku hahaha,” ucapku sambil memberi salam dan pelukan.
“Thank You Bro, Rik… kamu akan terkejut jika menoleh ke belakang, ternyata gandengan dari anak bos kita itu Dinda,” bisik Boni yang melihat ke pintu masuk acara.

Saat Boni berkata seperti itu sontak aku langsung menoleh ke belakangan dan membuktikan ucapan dari Boni, ya benar apa yang dikatakan Boni dan aku lihat. Bos Indra datang dengan orang yang selama ini aku sayang, bahkan bangkit dari move on pun aku tak sanggup. Gadis cantik nan elegan itu pun juga melihat ke arahku dengan terkejut dan sepertinya kecewa terhadapku.

Aku memalingkan pandanganku dan pergi ke halaman luar untuk meratapi nasib sialku yang bisa dikatakan menyebalkan, aku pun menyesal dengan apa yang terjadi padaku tapi itu lebih baik untuk Dinda.

Saat aku mengambil minuman, tiba-tiba gadis pujaanku itu menghampiriku dan plakkk. Aku ditampar olehnya, mungkin karena kesalahanku yang tiba-tiba mengatakan cinta padanya.

“Kok aku ditampar? Sakit tau!!!”
“Itu karena kamu gak jujur sama aku!!! Plakkk”
“Kok ditampar lagi?”
“Itu karena kamu pengecut dan menyebalkan, tiba-tiba hilang begitu saja dasar playboy,” ucap Dinda sambil meneteskan air mata.

“Din.. jangan nangis dong, aduh gimana ini, banyak orang Din!!!” rayuku agar Dinda menghentikan tangisnya.
“Kamu jahat Rik.. Kamu jahat… Kamu gak peduli sama perasaan yang aku pendam selama itu ke kamu,” umpatnya sambil memukuliku.
“Sudah jangan nangis, ayo kita ke balkon aja, kan sepi itu,”

Kami berdua pun menuju balkon dari pintu belakang rumah Boni yang sudah aku hafal sejak aku menambahi desainnya saat pembangunan.

“Sudah kita duduk dulu di sini Din, tenangin dirimu dulu, kamu marah dulu atau sekarang itu sudah tidak ada gunanya Din,” ucapku membuka omongan dengan tenang.
“Maksudmu apa? Kamu tiba-tiba hilang, di telfon tidak bisa, sosial media juga off semua!!! Katanya sayang… cinta… tapi tiba-tiba pergi ninggalin aku, apa itu namanya sayang sama orang spesial,”
“Aku akan menjelaskan kejadian waktu itu, aku memutuskan menghilang darimu bukan untuk menyakitimu, melainkan aku tidak ingin kamu sakit hati karena aku. Aku juga belum lupa sama apa yang kamu bilang saat kita jalan-jalan terakhir kali sebelum aku wisuda,”

“Memangnya aku ngomong apa waktu itu?”
“Sudah hapus air matamu dulu Din, jelek kamu kalau menangis. Makeupnya luntur tuh hehehe,” sambil melap air mata Dinda aku berkata.
“Biarin, kan semua ini gara-gara kamu,” ucapnya dengan air mata yang masih keluar.

“Waktu itu aku mempertimbangkan ucapanmu yang selalu terngiang di telingaku, kamu bilang kalau kamu gak bakalan suka sama aku meskipun aku suka kamu, hal itu yang membuatku berpikiran lebih baik aku pergi dari hidupmu dan tak lagi mengganggumu,” sambil melihat indahnya malam aku berkata.
“Aku cuma bercanda waktu itu, lagian aku suka sama kamu semenjak kamu menolongku dari marah besar Pak Surahono, maka dari itu aku mau bantu kamu dan bermaksud untuk lebih dekat sama kamu,”

Aku terdiam sejenak dan memikirkan bagaimana caranya untuk menyelesaikan drama masa lalu yang sudah tidak penting untuk dibahas. Bahkan aku tidak mendengarkan apa yang dikatakannya dengan tangis yang semakin menjadi-jadi.

“Din, berhenti ngomongin masa lalu, kamu sekarang sudah jadi milik orang lain dan hal semacam ini bisa menghancurkan hubunganmu sama anak bosku sendiri,” ucapku sambil melangkah ke balkon.
“Kamu tahu, kenapa aku datang di pernikahan Boni? Kakakku Indra yang mengajakku kesini dan ingat kalau Boni yang ada diundangan itu adalah sahabatmu semasa kuliah, aku berharap saat hari ini tiba aku bisa dapat informasi tentangmu, tapi aku sangat bersyukur bisa langsung ketemu sama kamu di sini,” ucap Dinda yang terus meneteskan air mata dan memelukku.

Terdengar suara langkah kaki yang tidak aku pedulikan dan mungkin itu hanya salah satu orang yang ingin berselfie ke balkon milik Boni. tiba-tiba orang itu berkata pada kami berdua.
“Itu benar Rik, papa juga tahu kok kalau Dinda itu tidak pernah bisa move on dari kamu, apalagi di seluruh kamarnya yang terpajang hanya foto selfie kalian disetiap momen yang sudah kalian habiskan bersama-sama,” sahut Indra sambil menyalakan rokok.
“Bos, maaf bos telah bikin Dinda nangis kayak gini,”
“Sudah, Kalian cepat nikah, 2 tahun Dinda habiskan waktu yang alasannya untuk mengambil S2 diluar negeri itu palsu, dia hanya berharap agar bisa melupakanmu tapi nyatanya sepulang dari Korea, malah setiap hari mencarimu hingga keseluruh teman-temanmu, eh nyatanya kamu dekat banget dengan keluarga kita,” ucap Indra.

Setelah kejadian dramatis itu, aku dan Dinda pun akhirnya memutuskan untuk menikah akhir tahun, karena bagi orang tua Dinda lebih cepat lebih baik.

Cerpen Karangan: Sahaq Alby
Facebook: facebook.com/bhie.allbee

Cerpen Dinda (Cinta Yang Terpendam) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Confused

Oleh:
“Felly, kenapa harus kayak begini, sih? Emang nggak ada cara lain untuk mencapai keinginan kita dulu, hah?!,” tanya Arka dengan sorotan mata yang penuh dengan kekecewaan. “Maaf. Aku nggak

My Doctor is My Love

Oleh:
Namaku Belva Erly Christyna, aku memang gadis tunarungu, tapi kebahagiaan yang ku dapat begitu indah dan bertambah indah setelah aku bertemu dengannya, Deva Jonathan, seseorang yang membuatku dapat mendengar

S pangkat 2 (SS)

Oleh:
Saat ini Aku sedang duduk di kelas 6 SD. Tetapi, pengertianku akan cinta begitu dalam. Beberapa kali Aku dekat dengan cowok. Sekarang Aku sedang sangat dekat dengan adik kelasku

Dia Istimewa

Oleh:
“Inara.. kamu tahu nggak? Dia tadi nyapa aku. Aaa…” ucap Aila. “La.. biasa aja ah. Orang baru sekali juga.” sahutku acuh tak acuh. “Memangnya, siapa yang kamu suka itu?”

Cinta Tanpa Restu

Oleh:
Pada tanggal 27 Desember 2015, aku dijemput oleh teman gerejaku, sebenarnya aku belum terlalu kenal sih dia itu siapa, walau aku sering lihat dia. Nah karena ada ibadah di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *