Dio Maaf, Aku Mencintaimu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 16 December 2017

Aku berjalan dengan semangat sambil bibir terus mengukir senyum menuju tempat pemberhentian bus di sepulang sekolah hari ini untuk menemui seseorang. Seseorang yang akan kutemui itu sudah berhasil membuatku jatuh cinta padanya tanpa peduli bagaimana keadaannya. Seseorang yang juga sudah membuatku seperti orang gila karena suka tersenyum sendiri bila mengingat wajahnya.

Seminggu lalu, masih dipulang sekolah tidak sengaja aku menabrak seseorang yang sedang berdiri di tepi jalan dekat minimarket. Seorang laki-laki berseragam putih abu-abu sama sepertiku yang kelihatan juga baru pulang dari sekolahnya. Aku tidak terlalu memperhatikan jalan yang ada di sekeliling saat itu karena terus menunduk sambil mendengus kesal mengingat kejadian di sekolah.

Laki-laki itu jatuh tersungkur akibat tabrakan tersebut. Aku langsung meminta maaf karena sudah menabraknya. Namun, ia tidak mengindahkanku, ia terus meraba-raba jalan seperti mencari sesuatu. Aku tak tahu ia mencari apa. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling agar mengetahui apa yang ia cari. Sampai akhirnya mataku terbelalak melihat sebuah tongkat berada tidak jauh dari depannya.

Dengan secepat mungkin aku bersegera mengambil tongkat itu untuk diberikan padanya yang sedang kesulitan mencari. Namun, langkahku terhenti ketika melihat anak perempuan yang datangnya entah dari mana langsung mengambil tongkat tersebut dan membantunya berdiri.

“Kakak tidak apa-apa, kan?” Gadis berseragam putih biru dengan rambut terurai panjang berkata sambil memberikan tongkat tersebut.
“Kakak tidak apa-apa kok, Dik.” Jawab laki-laki yang kutabrak itu yang ternyata kakak darinya.

Mataku kembali terbelalak dengan mulut menganga karena melihat matanya hanya memandang lurus ke depan tanpa melihat sang adik yang ada di samping kanannya. Ternyata ia tidak bisa melihat, dan dengan menggunakan tongkat itu dapat membantunya melangkah untuk mengetahui arah yang akan ia lalui.

Seusai kakak beradik itu bercakap-cakap aku berjalan perlahan menghampiri mereka untuk kembali meminta maaf. Anak perempuan itu menoleh ke arahku ketika sadar akan adanya diri ini.
“Maaf ya. Aku tak tahu kalau ada kamu di depan. Maaf sudah buat kamu terjatuh.” Aku berkata dengan penuh penyesalan.
“Tidak apa-apa, kok. Seharusnya saya yang minta maaf karena menghalangi kamu dengan berdirinya saya di pinggir jalan.” Ia menjawab sambil tersenyum lebar. Senyumnya manis sekali dengan warna merah di bibirnya.

Aku terus memandanginya tanpa pernah mengedipkan mata. Selain senyumnya yang manis, wajahnya juga tampan, sampai-sampai bibirku mengukir senyum melihatnya. Selama beberapa saat memandanginya, aku pun tersadar ketika mendengar suaranya yang berkata untuk meminta izin pulang terlebih dahulu.
“Saya dan adik duluan, ya.”
“Iya, hati-hati. Sekali lagi maaf, ya.” Ia tersenyum sambil menganggukkan kepala menjawabnya.

Kemudian, sang adik menggandeng tangannya dengan maksud untuk menuntunnya berjalan agar tidak terjatuh karena sesuatu yang menghalangi langkahnya di jalan. Sebelum itu, ia juga memberikan senyum yang sama seperti sang kakak kepadaku.
Aku belum meneruskan jalan. Aku masih memperhatikan mereka dari belakang sampai akhirnya kakak beradik itu masuk ke bus yang akan mengantarkannya pulang ke rumah.

Semenjak saat itu, laki-laki bertongkat tersebut membuatku gelisah di setiap malam karena dirinya selalu terbayang di pikiranku. Berharap aku bertemunya lagi agar bisa melihat senyum dan wajahnya yang tampan. Sampai akhirnya Tuhan mempertemukan kami kembali, masih sama seperti waktu itu, dipulang sekolah bersama adiknya.
Aku merasakan sesuatu hal yang berbeda di pertemuan kedua itu. Sesuatu rasa yang membuat jantungku berdebar-debar bila dekat dengannya. Rasa itu semakin kuat ketika kami bertemu, bertemu, dan bertemu hingga benih-benih cinta itu tumbuh di dalam hatiku.

Kini, setelah sekian lama menyimpannya, aku akan mengungkapkan rasa yang mengganjal di dalam hati ini padanya. Tinggal beberapa langkah lagi aku tiba di pemberhentian bus, tempat biasa kami bertemu sepulang sekolah. Hingga akhirnya senyum yang sedang terukir di bibirku berubah setelah melihat seorang lelaki yang tidak lain adalah dirinya sedang duduk bersama perempuan yang tidak kukenal.

Surat yang berisi ungkapan cinta itu terlepas begitu saja dari genggamanku. Surat yang semalam kutulis hampir tiga puluh menit lamanya dalam aksara braille, aksara yang diperuntukan seseorang yang tidak bisa melihat sepertinya. Sejak mengenal dirinya aku mulai belajar aksara tersebut agar bisa mengatakan sesuatu padanya ketika mulut ini tidak bisa mengatakan langsung karena rasa malu yang melekat pada diriku.

Pandanganku yang sedang melihat mereka seketika kabur karena air mata sudah membendung di kelopak ini. Aku tidak melanjutkan langkah menuju sana dan memutar balik untuk segera pulang dikarenakan hatiku sakit melihat seseorang yang sudah kutaruh cinta padanya berdua dengan perempuan lain.

Aku menumpahkan tangis yang sedari tadi kutahan di dalam kamar. Kenapa cinta rasanya menyakitkan seperti ini? Kenapa tidak seperti saat pertama kali aku merasakan jatuh cinta yang selalu membuat hatiku berbunga-bunga? Kenapa cinta tidak seperti yang aku lihat pada kebanyakan orang lain yang bisa tertawa bahagia, bukan malah mengundang air mata seperti yang aku alami ini?

Aku menghentikan tangis ketika ponsel yang ada di atas meja belajarku berbunyi. Aku mengernyitkan alis setelah tahu ada satu panggilan masuk dari Dia, adik lelaki tersebut.
“Kak Cinta, kakak sakit. Kakak terus memanggil Kak Cinta. Kak Cinta datang ke sini, ya. Aku takut terjadi sesuatu sama kakak.” Dia langsung berkata sebelum kumengatakan sesuatu yang membuat mata ini terbelalak. Aku sedikit panik. Apa? Ia sakit? Kenapa? Tadi siang terlihat baik-baik saja.
“Kakak kamu sakit? Dia memanggil kakak terus? Memangnya dia masih peduli sama kakak? Bukannya dia sudah punya perempuan lain?” Tanpa sadar aku berkata demikian karena masih kesal dengan apa yang kulihat sepulang sekolah tadi.
“Tidak, Kak. Kak Cinta salah. Perempuan itu sepupu kami. Ia menemani kakak untuk bertemu Kak Cinta. Aku tidak bisa menemaninya seperti biasa karena ada tugas. Kakak cintanya sama Kak Cinta, bukan yang lain. Kakak ingin mengatakannya, tapi kakak terlalu takut Kak Cinta menolak karena keadaannya yang seperti itu. Kak Cinta harus tahu, tadi siang kakak terus menunggu Kak Cinta datang seperti biasanya sampai langit mulai mendung dan menurunkan hujan. Sepupu kami sudah mencoba mengajak kakak pulang, tapi kakak tidak mau karena ia yakin Kak Cinta akan datang. Sayangnya, Kak Cinta tak kunjung datang. Kakak kehujanan dan menjadi sakit seperti ini. Kak Cinta cepat ke sini, ya. Tolong kakak. Di rumah hanya ada aku, ibu sedang pergi. Aku tak mau terjadi sesuatu pada kakak, aku sayang dia.” Dia menjawab sambil menangis menjelaskan semuanya yang membuat air mata turun dengan deras di pipiku karena merasa bersalah sudah berpikiran buruk padanya.
Aku menutup telepon tanpa menjawab lagi dan langsung bersegera menuju rumahnya sambil terus menangis. Ternyata perempuan itu sepupunya, bukan seseorang yang harus kucemburui.

Setiba di rumahnya, aku langsung masuk ke salah satu ruangan yang tidak tertutup pintunya yang merupakan kamarnya. Terlihat Dia sedang menggenggam tangan sang kakak yang tengah berbaring di kasur dengan selimut tebal sambil mulutnya memanggil namaku meski matanya terpejam. Melihat itu, air mata kembali turun dengan deras di pipi ini.

“Iya Dio, aku di sini. Maafkan aku, aku mencintaimu.” Dengan parau aku berkata di telinganya. Ia masih memejamkan mata, tidak merespon ucapanku. Jika saja aku tidak langsung berburuk sangka padanya, pasti ini tidak akan terjadi.
Aku kembali berkata dan berkata hingga akhirnya ia membuka mata. “Cinta?” Ia berkata sambil meraba wajahku. Memegang hidung, bibir, dan daguku seperti biasa ketika ia mengenaliku.
“Jangan menangis!” Katanya kemudian. Bukannya berhenti, tangisku semakin menjadi-jadi. Dio memelukku setelah tahu aku begitu.
“Dio maaf, karena aku kamu menjadi seperti ini. Sebenarnya tadi siang aku datang, tapi aku kembali lagi ketika melihat kamu berdua dengan perempuan itu. Aku cemburu, Dio. Aku tak suka kamu dengan perempuan selain aku. Dio maaf, aku mencintaimu.” Kataku yang mengungkapkan perasaan ini padanya.
“Tidak Cinta, ini bukan salah kamu. Aku mengerti mengapa kamu begitu. Seharusnya aku yang minta maaf karena tidak langsung mengungkapkan rasa ini ke kamu. Cinta, aku cinta kamu.” Dio berkata sambil mengelus lembut rambutku.
“Iya Dio, aku juga cinta kamu.” Aku menjawab dengan mengeratkan pelukkan tubuhku hingga dingin yang sedang ia rasakan perlahan-lahan hangat.

Selesai

Cerpen Karangan: Siti Mariyam
Facebook: Siti Mariyam
Namaku Siti Mariyam. Lahir di Tangerang pada 2 Januari 1999. Hobi membaca dan menulis cerita. Cita-cita menjadi penulis.

Cerpen Dio Maaf, Aku Mencintaimu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Diary

Oleh:
Dia seorang gadis berumur 17 tahun, baik hati dan sangat penyabar. Namanya Nina. Pagi ini Nina berjalan seperti biasanya, senyum terhadap semua orang dan belajar seperti biasa. Jam istirahat

The Pending Gift

Oleh:
Resti Sellaria atau kerap dipanggil sella merupakan sosok perempuan yang cuek dengan gaya yang terkesan berantakan serta urak-urakan dan gaya bicara yang acuh, gadis 24 tahun itu tiba-tiba saja

Sesederhana Cinta Adikku

Oleh:
Sepulang sekolah, aku bergeges masuk ke kamar. Viola, ternyata ada di dalam sedang mengambil sesuatu di lemarinya yang tidak berpintu. Tidak aneh lagi bagiku melihat barang miliknya berantakan di

Selamat Tinggal

Oleh:
Rasa marah dalam hatiku masih menggelora. Betapa tidak? Sahabatku sendiri, sahabatku satu-satunya, mengkhianatiku. Ia pergi meninggalkan diriku dengan janji-janji palsunya. Percuma saja, selama 3 tahun terakhir, aku berteman dengannya,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *