Dipenghujung Senja

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Lingkungan, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 8 June 2013

Gadis ini menghentikan dentingan piano yang sedari tadi dimainkan, ketika lamat-lamat dia merasakan ada seseorang yang memperhatikannya sejak tadi. Gadis itu beranjak hendak meninggalkan piano di sudut ruangan itu, tak memperdulikan tatapan yang sedari tadi mengintainya.

Waktu berjalan, gadis itu tengah duduk bersandar di bangku tepi danau dengan pakaian kusut dan mata yang sendu menatap kosong pada titik cakrawala tempat terbenamnya matahari. Gadis itu pasti datang dengan kemeja putih, di tambah syal merah muda yang menempel di leher, dan rok panjang ala gadis Eropa.

Dia selalu datang untuk menemani kicau burung dan kepak sayap kupu-kupu di hamparan bunga-bunga, terkadang dia memetiknya, dan dilemparnya pada ikan-ikan yang mengira sebagai umpan, atau menemani sepasang angsa yang tak jemu mengelilingi danau. Dia selalu membayangkan rasanya menjadi seperti mereka, hidup bersama dengan bebas, menikmati ketenangan, dan menjadi bagian keindahan di mata setiap orang. Gadis itu, gadis tanpa nama yang tak pernah absen menikmati jatuhnya matahari kemerah-merahan menuju pekat yang menyambar-nyambar. Gadis yang tak henti-hentinya meneteskan air mata di antara kerikil dan rerumputan.

“Kenapa kamu menangis?” suara asing menggema di telinga gadis itu. Dia hanya menggeleng, tanpa menatap sumber suara sedikitpun.

“Aku Ilham, siapa namamu?” gadis itu tetap diam, mengabaikan suara laki-laki bernama Ilham itu. Dia baru menoleh, ketika Ilham menyentuh bahu kanannya.

“Aku tak punya nama” ungkap gadis itu sembari menundukkan kepalanya.

“Baiklah, aku akan panggil kamu ‘fairy’ yang berarti peri, kamu adalah peri tempat ini.” gadis itu menatap Ilham dengan mata berkaca-kaca, bibir mungilnya sedikit menyunggingkan senyum manis.

“Terimakasih.”

Ilham mensejajarkan posisi duduknya dengan gadis yang diberinya nama ‘fairy’ ini.

“Jadi, apa yang membuatmu selalu ke tempat ini?” Ilham bertanya pada Fairy, yang tengah menatap lurus pada senja di atas langit.

“Aku suka senja, apalagi jika melihat burung-burung terbang ke arah barat. Seakan-akan rumah mereka adalah senja.” Fairy menjawab dengan suara lembutnya.

“Tapi aku ngga begitu mengerti senja. Bagiku tak ada sekat antara sore dan malam, antara sisa-sisa cahaya siang dan datangnya potongan-potongan malam.” Fairy tersenyum mendengar ucapan Ilham.

“Apa kamu tidak pernah bermain di pantai saat sore hari? ketika kamu lihat langit menggaris merah dan beberapa perahu berlayar lurus hanya menyisakan layarnya yang berkibar. Seperti sangat dekat dengan garis dunia itu, seakan bersandar pada cahaya senja.”

“Tidak, aku hanya tau pantai yang panas dan sore hari aku pulang untuk beristirahat.”

“Jadi kamu tidak pernah melihat senja?” Fairy menatap Ilham dengan rasa aneh.

“Aku bisa melihatnya dari foto-foto.”

“Foto itu tidak hidup, semuanya diam. Seperti dunia tanpa waktu” bantah Fairy lembut.

“Kalau begitu berikan aku video yang merekam senja” pinta Ilham

“Tidak, aku tidak punya. Aku saja jarang menikmati senja yang utuh, kadang setahun dua kali, setahun sekali, bahkan sering tidak sama sekali.”

“Lalu dimana kamu melihat senja yang utuh?”

“Aku hanya melihatnya saat pulang ke rumah orang tuaku di desa, disana ada bukit luas yang jarak pandangnya sampai ke pantai. Dan ketika sore hari tak ada yang menghalangi pemandangan terbenamnya matahari termasuk senja itu.”

“Aku akan membawamu ke sebuah tempat di kota ini yang bisa melihat senja setiap hari” ucap Fairy lagi.

“Thanks Fairy.” Ilham tersenyum menatap Fairy yang sedang memainkan rerumputan di tempat ini.

Senja memang barang langka di kota Jakarta. Gedung-gedung bertingkat dan lampu merkuri telah menghilangkan sisa cahaya setelah tenggelamnya matahari. Belum lagi lampu kota menyinari jalanan dimana mobil-mobil berkejaran dengan waktu. Orang-orang disini tak pernah peduli apakah matahari telah tenggelam atau terbit dari arahnya.

“Kemana kita pergi?” Ilham bertanya pada gadis disampingnya, Fairy.

“Ya seperti janjiku, melihat senja.”

“Jangan bercanda, di kota seperti ini mana ada tempat untuk melihat senja.”

“Kalau begitu biarkan aku bercanda, aku akan membawamu ke daerah sedikit terpencil, tapi aku pernah sampai kesana sewaktu berkeliling kota. Dan aku sampai tempat itu menjelang terbenamnya matahari.” Ilham hanya menggeleng, sesekali menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Kamu benar-benar gadis aneh, tapi istimewa” batin Ilham menatap Fairy.

Mobil melaju kencang, jalanan semakin sepi, hanya komplek perumahan yang berdempetan. Setelah perjalanan satu jam melewati hiruk-hiruk kota, Ilham dan Fairy sampai juga di taman ini tepat menjelang malam.

“Ini tempat biasa aku melihat senja.”

“Bukankah ini tempat kemarin pertemuan kita.” Ilham nampak bingung, Fairy mengangguk.

“Dan sekarang coba lihat didepanmu”

“Gila, ini benar-benar senja!” Ilham berteriak kegirangan, menatap langit merah keemasan seolah tak berkedip, sementara sekeliling taman hanya rerumputan, pohon, bunga, dan danau.

“Tapi kenapa sangat sepi? apa tidak ada yang tertarik dengan senja?” Ilham bertanya pada Fairy, tanpa mengalihkan pandangan nya dari langit senja.

“Setiap orang lelap dalam kesibukannya. Tidak ada waktu untuk datang melihat tempat seperti ini.” jawab Fairy. Memang seperti tak ada kehidupan di taman seindah ini, kecuali rumah mungil dekat jalan raya, yang berpenghuni seorang kakek dan ketiga cucunya yang masih kecil.

Suasana menjelang malam yang sempurna, tetapi segala sesuatu yang terasa indah itu ternyata tidak berulang.

Keesokan harinya Fairy mengajak Ilham mengunjungi tempat yang sama -dan Ilham selalu menyempatkan waktunya untuk menikmati kebersamaan dengan Fairy melihat fase pergeseran matahari tersebut- Fairy terkejut melihat puluhan yang bertumpuk di tempat tersebut.

“Mengapa tiba-tiba banyak orang?” raut wajah Fairy tampak heran. Dia menduga, mungkin karena dia dan Ilham menikmati senja kemarin. Dan si kakek pemilik rumah kecil itu mengomersilkan taman yang dirawatnya. Tapi Fairy tidak melihat loket pembayaran pintu masuk, atau karcis parkir.

“Entahlah, padahal aku hanya memberitahu beberapa sahabatku bahwa ada senja di daerah sini”

Dugaannya meleset, rupanya kabar ini menyebar karena Ilham.

“Bagus sekali ya! ayo di potret.”

“Di rekam saja!” suara orang-orang itu terdengar jelas di telinga Fairy.

Kebanyakan dari mereka datang bersama kekasihnya, ada juga yang membawa anak-anak kecil, membiarkannya berlarian di jalanan penuh kerikil, mendekati sepasang angsa di danau, bermain air jernih dengan pantulan cahaya senja.

“Padahal aku hanya ingin menunjukkan senja ini spesial hanya untukmu” ucap Fairy berbisik pada Ilham didekatnya

“Aku juga tidak menyangka akan banyak orang datang kesini, tapi setidaknya ini bukti bahwa mereka masih mau menikmati pemandangan senja. Ya kan?”

Fairy menatap Ilham dengan tersenyum, wajah tampan nya yang teduh itu membuat Fairy urung untuk kecewa. Walaupun sepertinya Ilham membaca gurat kekecewaan di wajah Fairy yang murung.

“Kalau begitu aku ingin kamu melakukan sesuatu untukku, sekali lagi. Sesuatu yang spesial dan tak ada satu orang pun yang bisa menirunya.” Ilham berkata tiba-tiba.

“Apa itu?”

“Menjadi senja.”

Bagaimana caranya menjadi senja. Apakah harus mengikuti burung-burung yang terbang ke arah terbenamnya matahari di titik cakrawala sambil memakai baju merah keemasan? kalau saja Fairy bisa bertanya kepada penyair dan penulis cerita yang suka membawa obyek senja, mungkin mereka tau, mungkin mereka pernah beberapa kali menjadi senja. Sehingga senja selalu hidup dalam tulisan mereka. Tetapi itu tidak mungkin.

“Kamu yakin ingin aku menjadi senja?”

“Tentu, aku yakin kamu dapat melakukannya. Dan mereka di taman ini tak dapat menirunya”

Fairy berfikir, otak nya berputar keras. Tidak mungkin dia bertanya pada semua orang, pasti mereka menertawakannya. Pertanyaan paling konyol yang kembali keluar dari mulut seseorang yang sebenarnya tengah jatuh cinta pada taraf akut.

“Pasti ada caranya, setidaknya harus ada. Di dunia ini ketidak mungkinan sudah hampir punah, segala sesuatu dapat dilakukan walaupun hakikatnya semu dan jauh melenceng dari kenyataan” gumam Fairy sembari memandangi cahaya putih pantulan sinar matahari yang terhalang gorden jendela di sudut kamarnya.

“Tunggu aku, besok aku menjadi senja untukmu”

Angin sore menerpa deretan pohon cemara, beberapa bangku masih tak berpenghuni, Fairy datang lebih awal. Belum ada siapapun di taman ini, hanya sepasang angsa yang tengah memainkan ekornya membentuk riak-riak kecil. Tetapi, ikan-ikan tak pernah takut pada keduanya, mereka seperti bersimbiosis mutualisme, saling menyiratkan pemandangan keindahan taman ini.

Beberapa daun kering jatuh dipangkuan Fairy yang tengah duduk, sebagian jatuh ke rambutnya yang basah menjuntai melewati bahu. Terbalut kaos putih dan syal merah muda.

“Aku akan datang ke taman, untuk melihatmu menjadi senja” Fairy kembali membaca pesan singkat yang dikirimkan Ilham pagi tadi. Kemudian tersenyum manis menatap senja yang mulai menghiasi atas langit.

“Maaf, sudah buat kamu menunggu” suara yang ditunggu-tunggu itu terdengar di telinga Fairy, ya! suara milik Ilham. Fairy bangkit berdiri mensejajarkan tubuhnya dengan Ilham.

“Jadi, bagaimana kamu menjadi senja?” Ilham menatap lekat Fairy yang tampak canggung sedari tadi.

“Aku memang tak bisa menjadi senja seindah senja di atas langit itu, dan aku bahkan tak bisa menjadi setitik awan di langit bersama mentari. Tapi ijinkan aku terus menulis tentangmu, senja yang selalu hadir dihatiku, karena kamu senja yang tak kudapati di bumi manapun.” ucap Fairy, matanya berbinar menatap bola mata Ilham yang juga menatapnya.

“Dan izinkan aku menjadi sekawan burung yang berbaris indah menghias senja itu. Dan menjadi langit tempat senja itu bersandar indah.” balas Ilham, sembari menarik Fairy dalam pelukan hangatnya. Kemudian dilepasnya lagi, dan merangkul Fairy lembut.

“Biarkan di ujung senja ini menjadi saksi awal kisah kita, semoga seindah senja di atas langit sana.” ucap Fairy sambil menunjuk langit senja.

“Jangan pernah lupakan bagaimana perkenalan kita, pertemuan di satu titik rapuh. Ketika itu kamu adalah wanita ahli kata-kata yang selalu merangkai cerita tentang senja. Kamu mengenalkan aku keindahan senja, keindahan yang awalnya aku kira tak ada yang istimewa. Kamu benar-benar Fairy! peri cantik yang Tuhan kirim untukku. Aku sayang kamu”

“Aku lebih menyayangimu” balas Fairy, Ilham menarik Fairy dalam pelukannya lagi. Menikmati keindahan ujung senja yang menjadi saksi, awal kisah indah mereka. Burung-burung berterbangan di antara mereka berdua, dan suara gemericik air danau menambah suasana kebahagiaan di tempat itu, karena inilah keindahan senja yang nyata untuk mereka berdua.

END !!!

Cerpen Karangan: Fitri Annisa R
Facebook: http://facebook.com/vhitrilili.a.liciput

Cerpen Dipenghujung Senja merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


SMS Harapan

Oleh:
Sore ini hari tidak begitu bersahabat, selepas asar, tiba-tiba aku dan muhayir tak bisa pulang ke rumah karena hujan. Sehingga kami menunggu di masjid hingga hujan reda, Alhamdulillah tidak

July in Love

Oleh:
Waktu menunjukkan pukul 12.00 WIB dini hari saat aku terbangun dari lelapnya tidur malam ini. Suara penggorengan yang beradu dengan spatula milik abang nasi goreng saat itu yang membuat

Mystery Of Love (Part 1)

Oleh:
Apakah cinta itu harus seperti alam ghaib yang kita tahu itu ada namun sangat misterius, kenapa sangat misterius karena cinta datang tiba-tiba kemudian pergi tanpa sebab, dia hadir tanpa

Cerita Baru Dimulai

Oleh:
Saat itu aku berpikir bahwa di dunia ini benar-benar tak ada yang adil. Banyak hal yang membuatku harus jatuh, jatuh dan jatuh. Hingga aku harus bangkit kembali. Di sepanjang

Cinta Di Balik Pulau

Oleh:
Rumput hijau bermandikan embun, sewarna dengan pepohonan hutan nan asri, aku masih kesal pada ayah kenapa aku diajak hidup di hutan seperti ini. “Nay, kamu mau ikut nggak?”, “Kemana,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *